Balada Big Family

Come Back Is Real 2020

Hetalia © Hidekaz Himaruya

Balada Big Family : Come Back Is Real © Bosondeicus

Warning: OC everywhere, typo(s), diksi kaku, humor tandus. Kalau ada peristiwa adegan bersejarah di sini jangan langsung dilahap mentah-mentah ya gais, karena saya belum tentu benar :"

Review kalian adalah penyemangat saya \(^O^)/

# Shingasari

Namanya Tumapel. Ia benci namanya, ia benci bosnya, ia benci semuanya.

Menurut Tumapel, Bosnya—Akuwu Tunggul Ametung—adalah seburuk-buruknya atasan. Dia bekas perampok, kendati sudah menjadi seorang akuwu yang memimpin Negeri Tumapel rupanya sang akuwu masih tidak menghilangkan tabiatnya sebagai perampok.

Ia merampok rakyatnya. Merampok harta dan perawan-perawan muda untuk dihisap sarinya.

Tumapel—sebenci apapun ia dengan namanya, ia tidak memiliki nama lain—tidak menyukai bosnya dan tidak sekalipun menghormatinya. Ia tidak menyukai kelakuannya, bukan berarti Tumapel adalah seorang pahlawan yang tidak sanggup melihat rakyatnya tersiksa di bawah pimpinan Tunggul Ametung.

Tidak, jika Tunggul Ametung biadab namun mampu membawa Tumapel menjadi kerajaan di atas semua kerajaan maka Tumapel tidak akan peduli sebengis apapun kelakuannya. Tapi sayangnya Tunggul Ametung tidak mampu melakukannya, ia setidak berguna itu. Penjilat Sri Kertajaya, pengecut yang membuat Shingasari harus menahan diri untuk tidak segera melumatnya.

Tumapel menahan diri, karena ia tidak merasa perlu mengotori tangannya untuk melenyapkan manusia seperti Tunggul Ametung.

Sri Kertajaya memang terlalu terpincut dengan nafsu dunia sampai tergila-gila dengan ilmu hitam, hal ini membuat para brahmana menjadi resah. Tumapel hanya tersenyum miring, ia tidak peduli jika Tunggul Ametung akan mengikuti jejak Sri Kertajaya selama dia mampu membuat Tumapel menjadi di atas semuanya.

"Tumapel membutuhkan permaisuri," Tumapel berkata, ia menatap Sang Hyang Belangka yang merupakan salah satu penasihat di Tumapel. "tidakkah Eyang setuju?"

"Iya, Ngger." Sang Hyang Belangka menimpali. "Tumapel semakin amburadul, sudah saatnya Akuwu untuk menentukan seorang permaisuri."

Tumapel tersenyum tipis. "Aku dengar Empu Parwa di Panawijen memiliki seorang putri yang kecantikannya sangat luar biasa," katanya memulai, Sang Hyang Belangka yang sudah memahami maksud perkataan Tumapel membungkuk semakin dalam.

Senyum Tumapel semakin lebar, matanya menyipit. "Eyang tampaknya sudah paham maksudku?"

Sang Hyang Belangka membungkuk semakin dalam.

"Iya, Ngger." Katanya lagi sebelum keluar dari ruangan.

Netra Tumapel mengikuti Sang Hyang Belangka, meski brahmana itu sama buruknya dengan Tunggul Ametung setidaknya ia masih bisa dimanfaatkan.

Bukan tanpa alasan Tumapel mengajukan Ken Dedes—putri Empu Parwa—sebagai calon permaisuri. Kabarnya, putri Empu Parwa tersebut diramalkan bakal melahirkan raja-raja besar di Tanah Jawa.

Ia memiliki ambisi, dan ia tahu ia tidak akan mampu mencapai ambisi tersebut jika Tumapel terus berada di bawah pimpinan manusia seperti Tunggul Ametung. Ia harus mencari manusia lain.

Ia ingin seperti Sriwijaya, kerajaan besar di Sumatra sana—tidak, Tumapel ingin lebih. Ia harus bisa melampaui Sriwijaya, ia ingin menjatuhkan Sriwijaya. Ia ingin menguasai Nusantara.

Tumapel masih tersenyum, Ken Dedes adalah permaisuri yang cocok untuk negeri ini. Siapapun rajanya, Tumapel akan membuat Ken Dedes menjadi permaisuri.

# Majapahit

Saat tidak ingin diganggu siapapun, biasanya ia akan bersembunyi di tempat persembunyiannya sampai semua orang kalang kabut karena tidak mampu menemukannya.

Ia tatap buah sebesar kepalan tangan dalam genggaman lekat-lekat. Semakin lama ia lihat, semakin tidak jelas pula perasaan yang ia rasakan. Dari apa yang dikatakan oleh pria bernama Shingasari, ada sebuah kerajaan besar bernama Sriwijaya di tanah Sumatera. Kebesaran kerajaannya sudah tersebar ke segala penjuru, di tanah Nusantara ini hanya sedikit kerajaan kurang kerjaan yang mau memberontak terhadap kekuasaannya.

Tapi kalau tidak salah dengar katanya saat ini Sriwijaya mulai goyah.

'Sriwijaya. Namanya terdengar mengagumkan, pantas disandang oleh kerajaan yang tak kalah mengagumkannya.' Batin anak tersebut.

"Sementara namaku sendiri diambil dari nama buah ini," katanya tidak puas, kemudian mengucapkan namanya lamat-lamat. "Majapahit…"

"Jadi kalau waktu itu Raden Wijaya memakan buah Maja yang manis, namaku jadi Majamanis?" tanyanya kesal.

"Kenapa?"

Majapahit menoleh dengan cepat ke arah suara, tidak menyangka akan ada orang yang bisa menemukannya. Netranya kemudian menemukan pria jangkung yang tampak pucat sedang menatapnya dengan wajah bertanya yang menyebalkan. Majapahit mencebik, kemudian memalingkan wajah tanpa niat untuk menjawab. Pria itu tertawa singkat, Majapahit tidak yakin apakah tawanya tulus atau terpaksa.

Pria itu mendekati Majapahit dan duduk di sampingnya. "Sedang memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan?" tanyanya, nada bicaranya terdengar memanjakan Majapahit. Tanpa sadar, Majapahit cemberut.

"Aku tidak suka namaku," katanya mengadu, pria bernama Shingasari yang baru dikenalnya baru-baru ini mengangguk tanda mengerti. "Majapahit, kenapa Majapahit? Maksudku, sudah banyak nama yang diambil dari buah ini!" katanya kesal sambil menunjukkan buah dalam genggamannya pada Shingasari.

"…kudengar juga alasan namaku Majapahit itu karena Raden memakan buah yang pahit…" lanjutnya menggerutu.

Shingasari mendengus, kemudian menjitak kepala Majapahit keras-keras.

Pletak!

"Aduh!" Majapahit melotot pada pria di sampingnya. "Kenapa memukulku!?" tanyanya berteriak, ia berniat untuk balas memukul Shingasari namun menahannya saat teringat bahwa pria itu sedang tidak sehat.

"Tidak apa-apa," kata Shingasari tidak jelas. Majapahit mengusap kepalanya yang nyut-nyutan dan menatap Shingasari tidak mengerti. "tidak apa-apa jika namamu terdengar bodoh, suatu hari nanti namamu akan membuat musuh gemetar hanya dengan mendengarnya."

Majapahit ingin tertawa karena perkataan Shingasari terdengar seperti omong kosong, meski ia berperawakan anak-anak tetap saja ia tidak sebodoh anak-anak manusia di tanahnya. Namanya hanya nama biasa, seperti Maja dan maja-maja lainnya.

Shingasari tersenyum melihat Majapahit yang tidak menghiraukan ucapannya. Kemudian tangannya bergerak dan mengusap kepala Majapahit.

"Tidak apa-apa, aku akan membimbingmu."

Ia menatap keris dalam genggaman lekat-lekat. Semakin lama ia lihat, semakin tidak jelas pula perasaannya terhadap senjata tersebut. Pikirannya berantakan. Shingasari sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi Tumapel, tidak ada lagi Shingasari. Masanya sudah berakhir. Ia bukan kerajaan lagi. Ia bukan kerajaan lagi.

… Ia bukan kerajaan lagi.

"Lantas apa?" bisiknya.

Ia sudah tahu Jayakatwang akan memberontak, manusia itu tidak akan diam saja. Kertanegara juga mengetahui hal tersebut, maka dari itu ia menyuruh Shingasari untuk melawan bersama Raden Wijaya.

Selanjutnya ia tidak ingat. Ia merasa berada diantara sadar dan tidak sadar. Raden Wijaya mengaku kalah dan mereka mendirikan Majapahit.

Kenapa, kenapa Shingasari masih hidup?

"Kak?"

Lamunannya terhenti. Ia menoleh pada ambang pintu, Majapahit berdiri sambil membawa makanan dan menatapnya bingung. Tanpa alasan yang jelas Shingasari merasa dadanya sakit, kemudian Majapahit mengangkat nampan di tangan dan berkata.

"Ayo makan!"

Shingasari mendengus, kemudian meletakkan keris Mpu Gandring dan melangkah mendekati Majapahit.

"Benar, ayo makan!"


Pertama-tama, aku mau ngucapin terima kasih banyak buat semuanya. Aku nulis ini karena iseng aja dan respon kalian bener-bener di luar dugaanku. Aku ngerasa bersalah karena jarang apdet, dan kalau pun apdet isinya gak berkualitas wkwkwkwk…

Tahun ini adalah tahun yang berat untuk kita semua, di tahun ini juga aku mulai berobat ke psikiater, aku gak tau aku lagi ngomong apa hahaha pokoknya tahun ini melelahkan banget. Aku gak mau ngeluh tapi ya gitu…

Pokoknya makasih banyak buat yang udah ngikutin cerita ini dari lama maupun baru gabung, review kalian kubaca satu-satu meski gak kubales k-karena malu… tapi aku selalu baca review kalian dan review kalian tuh bener-bener jadi penyemangat banget huhuhu

Maaf ya kalau kesannya aku judes atau gimana, aku sayang kalian :(

oh ya, yang mau lihat2 gambar atau draftnya bisa ke link ini aja

drive/folders/178CI17pwrKdJrBglq66Q0RVRGTfWgcxv?usp=sharing


Penuh Cinta,

Bosondeicus.