—Ketika mata jernih-nya perlahan terbuka, berkedip sesaat, lalu otaknya mulai memproses data ingatan terakhir.
Rasa panas terasa di bagian bawah, ia seakan pernah merasakannya, namun kali ini panas itu datang dari sesuatu yang lembut, bukan benda keras seperti sebelumnya. Dengan mata setengah terbuka, ia melirik ke arah bawah.
Yang dilihatnya ialah suatu yang kuning, tepatnya rambut kuning. Ia mengerjakan beberapa kali, sebelum mata yang tadinya nampak malas, terbuka lebar seketika.
"Na-na-naruto...kun!"
Kepala bersurai kuning itu terangkat setelah ia memanggil si pemiliknya, terlihat wajah tampan dengan lelehan cairan kental di tepi bibirnya. Kaguya tak kuasa menahan rasa malu saat ia sadar, suaminya baru saja menjilati area intimnya.
"Ohayou, Kagu-chan!" Kaguya tak mampu menahan diri untuk tidak menutupi wajahnya yang telah merah padam. Naruto tersenyum singkat, sebelum kembali menatap selangkangan istriya, terlihat lubang vagina Kaguya yang kebanjiran cairan lengket.
"Ne, Kagu-chan... sebagai seorang istri yang baik, seharusnya kau harus lebih disiplin lagi!" Naruto berujar dengan nada aneh bagi Kaguya; suaminya yang biasa tegas, terdengar seperti pria binal.
—Oh memang suaminya binal sih, Kaguya kembali mengingat kejadian semalam.
"Istri tuh harus bangun pagi. Buatin sarapan untuk suami, nyiapin air hangat buat mandi suami, bangunin suami, dan puasin suami jika malam harinya..." Naruto menggantung kalimatnya, lalu merangkak di atas tubuh Kaguya.
—Wajah tampan itu berhadapan dengan wajah cantik. Naruto juga menyingkirkan tangan Kaguya lalu menempelkan kening di kening istrinya.
Bersamaan 'naga kecil' Naruto juga ikut menempel di bibir bawah Kaguya. "...ia tak puas!"
Kaguya menggigit bibir, ia seakan ingin menangis saat ini. Penyebabnya Naruto tanpa henti menggodanya. Ia yang tak biasa diperlakukan seperti ini hanya bisa menitikan air mata.
"Aaano...," Senyum Naruto kaku saat Kaguya mulai terisak; menghirup ingus yang tiba-tiba muncul. Jika para anak buahnya hadir mereka akan bersorak pada Kaguya karena telah berhasil membuat hantu kuning itu gugup. "...Kagu-chan, aku sayang kamu!"
—Hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Naruto saat ini.
"Be-benarkah?"
Wanita itu simpel, ia hanya butuh beberapa pujian agar dapat terbang diangkasa. Seperti Kaguya, yang perlahan senyuman hangat mulai muncul di wajah cantiknya, ekspresinya tiba-tiba girang seketika.
—Tentu saja Kaguya girang, Naruto-nya baru saja mengatakan ia sayang padanya.
"Iya~!" Naruto tersenyum tipis, penisnya yang sedari tadi mencium bibir vagina Kaguya mulai masuk, raut wajah Kaguya kaku seketika.
"Uhk! Naru-kun!" Memang tidak perih seperti semalam, tapi Kaguya masih terkejut saat penis Naruto menerobos masuk, berkat cairan licin vaginanya, penis keras itu masuk begitu mudah sampai ujung.
"Ahhh? Ooohhh!?" Plop. Plop. Plop. Kaguya memejamkan mata saat ia mulai merasa nikmat. Vaginanya merasa meleleh, penis keras itu begitu panas hingga dinding vagina Kaguya terus menghasilkan cairan licin, suara aneh mulai terdengar dari kegiatan mereka.
"Ooh... Kagu-chan, meskipun aku sayang, kamu tetap harus dihukum!" Meskipun gerakan Naruto tak begitu cepat dan kasar, pijatan vagina Kaguya membuat Naruto lupa diri, ia tak menyangka vagina Kaguya begitu hebat melayani penisnya.
Merasa tak tahan, Naruto duduk kembali, kemudian meraih pergelangan kaki Kaguya lalu menekuknya hingga lutut Kaguya menyentuh kasur di sisi kepala istrinya. "Ingatlah ini Kagu-chan! Aku akan terus menghukummu mulai saat ini, jika kau terus kesiangan..." Naruto memacu penisnya dengan tempo kasar.
Kaguya hanya bisa mendesah kuat, kepalanya terus bergerak gelisah menahan kenikmatan. Darah Kaguya berdesir, sekujur tubuhnya menegang, Kaguya yang telah berulang kali merasakan perasaaan ini tersenyum gembira, karena begitu nikmat.
"Ohhh," Kaguya melenguh, gelombang panas keluar dari bagian terdalam, membasahi penis Naruto dan menghangatkan si'naga kecil' tersebut.
Naruto menghentikan tusukan nya, ia merem melek saat vagina Kaguya menyempit, memberinya kenikmatan yang belum pernah Naruto rasakan. "Ss-sial!" Naruto mendesis singkat sebelum cairan spermanya juga ikut tumpah memenuhi vagina Kaguya, bercampur bersama cairan cinta istrinya.
"Uhh," Tenaga Naruto hilang, ia melepaskan kaki Kaguya, membiarkan kaki jenjang itu mengambil posisi normal.
—Lutut Kaguya menekuk.
Naruto merendahkan wajahnya, napas suami-istri itu beradu, saling memanasi wajah masing-masing. Mereka kemudian saling tersenyum lembut.
"Kau begitu nikmat, Kagu-chan!" Naruto tersenyum singkat, sebelum menarik penisnya dengan perlahan yang menghasilkan desisan Kaguya.
—Tapi bibir Naruto menyambar bibir Kaguya, memberikan ciuman kasih sayang padanya.
Kasih sayang Naruto mulai tumbuh seiring waktu berkat seks yang mereka lakukan. Kaguya menikmati ciuman tersebut, ia spontan memegang pipi Naruto dan mengusapnya lembut.
—itu bentuk kasih Kaguya pada suaminya.
Naruto merebahkan tubuhnya setelah puas melumat bibir Kaguya, ia kemudian merengkuh kepala bersurai perak itu ke dalam rangkulan-nya.
Kaguya memejamkan mata, ia dapat mendengar jantung suaminya berdetak kencang.
"Kagu-chan... kau mau ikut denganku? Aku akan kenalkan kau pada seseorang," Bisik Naruto.
"Mau," Kaguya dapat menebak siapa yang dimaksud suaminya, ia juga penasaran siapa yang beruntung menjadi istri pertama pria hebat yang tengah memeluknya.
"Kalau begitu bersiaplah, sekarang udah jam sepuluh lebih-!"
Kaguya terlonjak kaget mendengarnya, ia lalu melirik jam dinding, "Lain kali jangan sampai kesiangan lagi ya, Kagu-chan!" Lirih Naruto.
"Oh ini dia pasangan baru kita," Ketika Naruto dan Kaguya melangkah keluar dari kamar mereka, sebuah suara terdengar. Pria tampan, bersurai hitam panjang berjalan ke arah mereka. "Sepertinya kalian terlalu menikmati malam kalian, bahkan di pagi hari pun masih terdengar suara berisik kalian."
"Aa-yah?!" Kaguya menunduk malu setelah melihat sang ayah.
—Indra Otsutsuki, pemimpin keluarga saat ini. Dan anak pertama dari Hagoromo Otsutsuki.
Indra tersenyum tipis melihat anaknya, kemudian ia menoleh pada Naruto yang berdiri di sisi Kaguya, terlihat Naruto saat ini tengah menggenggam tangan anaknya.
"Aku minta maaf sebelumnya pada kalian, karena tak bisa hadir di acara kemarin."
"Tak usah cemas, paman. Kami baik-baik saja soal itu,"
"Oh, kau masih memanggilku paman setelah menjadi menantuku?"
"Ah, maaf soal itu. Mulutku tidak pernah mengucapkan kata 'ayah' sebelumnya..." Nada Naruto memang tegas tapi ayah dan anak itu dapat melihat setitik raut sedih.
—Naruto dan Otome sama-sama yatim piatu.
"Kalau begitu kami permisi dulu, ayah," Naruto menarik tangan Kaguya, menyeret istrinya pergi. Kaguya hanya pasrah saat tangannya ditarik, mengangguk singkat saat melewati ayahnya.
"Kita langsung pergi?" Kaguya bertanya, soalnya tadi Naruto ingin sarapan berdua terlebih dahulu.
"Ya-!" Naruto kembali menjadi pribadi yang dingin, Kaguya mendesah dibuatnya.
—Ia menganggap mood Naruto hancur ketika bertemu dengan ayahnya.
Namun bukan hal itu yang membuat Naruto kehilangan mood, ini soal Otome. Tiba-tiba saja ia teringat wajah kesepian sang istri ketika mengingat perihal 'ayah' barusan.
Kaguya cukup terpesona oleh keindahan taman saat ia memasuki bagian terdalam dari markas mafia terbesar negeri ini. Rumput hijau, bunga bermekaran, pohon jeruk berbaris rapi, matanya tak berkedip saat memandangi keindahan taman tersebut.
Kaguya semakin terpesona ketika tatapannya jatuh di sebuah pohon rindang di tengah lahan, duduk di bawah pohon terlihat seorang wanita yang sedang asik mendengarkan musik lewat earphone.
Wanita bersurai pirang itu amat cantik, Kaguya merasa kecil di hadapan sang wanita. Pakaiannya yang putih lagi tipis, berkibar di tiup angin sepoi, ia yakin saat ini melihat seorang malaikat.
—Apa dia istri pertama, Naru?
Naruto mengabaikan Kaguya yang berdiri mematung memandangi istrinya, Otome. Ia melangkah mendekat, raut dingin dan cemas yang sedari tadi ada di wajahnya, perlahan menghilang, menyisakan senyum hangat pada sang wanita.
Otome terlihat mengendus ketika Naruto masuk dalam jangkauan lima meter darinya, tubuhnya tampak bergetar.
Naruto hanya tersenyum saat melihat Otome berdiri sesaat kemudian, berlari kecil ke arahnya dan menerjang nya.
—Wanita itu terisak di dalam pangkuan Naruto.
"Su-suami..." Naruto sudah cukup lama tak mendengar suara tangisan Otome, biasanya jika sedih pun Otome tak pernah menangis di hadapan Naruto. Ia merasa semakin bersalah saat sadar bahwa kepergiannya lah yang membuat Otome menangis.
"A-khirnya kamu pulang, suami!" Isak Otome yang semakin merangkul tubuh tinggi Naruto. Suaranya memang serak, tapi Naruto yang telah hidup bersama dengan Otome selama 7 tahun tau bahwa wanitanya tengah menangis bahagia.
"Kangen ya~" Naruto tak akan mau menikmati suasana sedih dan semakin terbenam oleh penyesalan, jadi ia mencoba bergurau sembari mengusap punggung Otome yang masih tampak bergetar.
"I~ya-!" Suara Otome yang manja itu kian memperlebar senyum Naruto.
"Sama... aku juga, sayangku~" Naruto berbisik lirih, menghirup aroma khas tubuh Otome, senyumnya semakin lebar saat hati Naruto mulai tenang. "Terutama aroma tubuh yang khas ini,"
"Su-suami..." Otome mengangkat wajahnya, senyum indahnya merekah dengan kekehan yang sensual. "Kamu tidak akan pergi dariku, kan?"
Naruto menggeleng pelan sebelum mengecup bibir Otome singkat, "I'll always be here for You~!" Bibir mereka kembali bertautan, dalam ciuman penuh kasih mereka tersenyum bahagia.
—Kaguya juga menangis di belakang Naruto, sebelum berbalik pergi meninggalkan keduanya. Ia sadar perlakuan Naruto padanya jauh berbeda daripada yang diberikan kepada Otome.
Seperti, suaminya tak pernah memanggil dirinya begitu mesra.
—Dan berakhirlah part ini. Happy Ending bagi mereka; karakter utama dan heroine.
Lho kok gini aja-?
[Ntar, ada kelanjutannya. Tapi di segmen yang berbeda, Kaguya akan tampil di segmennya, berusaha merebut hati suami dan membuat suaminya membenci Otome.]
Habis ini ya Thor! (Kaguya bersorak dengan ekspresi marah-)
[Nggak dong, saya lagi malas ngetik nama kamu, Kagu-chan. Enaknya mandangin kamu aja~]
Ah Author-san mah... (Wajah manis itu kian memerah)
—Dan begitulah. Untuk part depan saya nyewa female lain aja. Ada saran~?
Thanks for Read my stories!
