Alasan Itachi tidak memberitahu Kisame adanya Jinchūriki lain adalah sisi buruk partner Kirigakure-nya itu yang tidak memahami konsep 'menahan diri'. Kisame tanpa tahu apa-apa, pasti akan meminta Itachi memburu Kyuubi dan memang Jinchūriki dari Konoha itu adalah targetnya. Tapi itu jika Itachi adalah benar-benar anggota Akatsuki, dia bergabung dengan orang-orang suram ini untuk tujuan lain. Dan skema perburuan Kyuubi bukanlah alasannya, malah sebisa mungkin Itachi mengulur Kyuubi diburu oleh Akatsuki.

Lalu ada masalah lain tentang partner-nya itu. Itachi menggagap setidaknya Kisame pria sopan dan tahu jika dirinya adalah tipe yang menyukai ketenangan. Itachi juga menyadari Kisame menaruh penghormatan padanya dan itu sisi keuntungan yang bisa dia manfaatkan. Satu-satunya masalah adalah dengan siapa sebenarnya Kisame bekerja. Jelas Pain adalah pimpinan Akatsuki, tapi hanya sedikit yang tahu ada pria lain yang jauh lebih kuat dari Pain mengendalikan Akatsuki dan Itachi curiga Kisame punya hubungan dengan pria lain tersebut.

Tapi kini Itachi tampaknya membutuhkan lebih dari sekedar keberuntungan. Setidaknya Kisame sedang berurusan dengan Gobi. Itu bisa memberi waktu. Dia sedang memikirkan untung ruginya memburu bocah Kyuubi itu sekarang.

"Hatake Kakashi…" Itachi bicara cukup tenang, melihat kembali senpai yang dirindukan dari Anbu. Muncul bersama tiga anak-anak yang tebakan Itachi adalah murid-muridnya. Pengkhianat Uchiha itu hampir sedikit lagi mendorong batas cucu Tsuchikage, dia tidak bermaksud membunuh, hanya melumpuhkannya saja. Satu dua luka tidak akan mengancam nyawanya. Paling tidak hidup ninjanya hanya akan berakhir lebih cepat dan Onoki kehilangan pewaris teknik jinton kesayangan. Tapi nasib mujur datang ketika Itachi nyaris mendaratkan kunai ke serat tendon kaki yang memberi luka cacat permanen saat jutsu raiton yang tidak pernah dia lupakan menghalangi dan Itachi menghindar mundur ke belakang ketika aliran petir Chidori berbelok ke arahnya. Kakashi dengan sigap membawa cucu Tsuchikage menjauh dan di saat bersamaan murid-murid senpainya langsung membentuk formasi bertahan. Mata sharingan menatap terkejut warisan Yondaime ada disana.

Kakashi dengan kewaspadaan tinggi dan sharingan diaktifkan melindungi keempat ninja muda. Cucu Tsuchikage memberi perlawanan bagus sampai kedatangan mereka. Kakashi salut gadis muda itu masih berdiri tegak, meski wajahnya menunjukkan kelelahan yang sangat.

"Halo Itachi-kun, seperti biasa sorot matamu selalu dingin," sapa Kakashi dengan riang meski Jounin Konoha siap dengan segala serangan. "Ini perjumpaan tidak disangka-sangka bukan? Setelah sekian lama… kamu tambah tinggi."

Itachi dengan wajah tenang mengamati Naruto. Bocah itu jelas target Itachi, tapi umurnya harusnya sembilan sekarang dan itu dibawah standar kelulusan akademi. Kecuali jika tanpa sepengetahuan Itachi, Konoha melihatnya dengan sudut yang berbeda.

Tidak ada perubahan mimik apapun. Tapi siapapun yang melihat Uchiha, sadar jika intimidasi sedang dipertontonkan dan itu bukan level sembarangan. Shiba dan Yukino bergetar meski berusaha tegar. Naruto menatap kosong lawannya dan itu menarik perhatian Itachi.

"A-aku masih bisa bertarung. Jangan remehkan Iwagakure sialan!" suara lelah, tapi ada tekad di setiap kata-katanya. Kurotsuchi menolak dirinya dipermalukan, apalagi sampai tim dari Konoha membantu.

"Kau bodoh! Apa kau tidak tahu siapa dia?" keluh Shiba. "dia sudah membunuh klannya sendiri hanya dalam waktu semalam!"

"Itu Cuma bukti jika desa dan Hokage kalian lemah," kata Kurotsuchi meski setengah pingsan, kata-katanya berani. "jika itu Iwa, kami akan memburu pengkhianat sampai ujung dunia."

"Kamu!"

"Shiba tenang, kita dalam misi," jawab Naruto lalu berbalik ke gadis keras kepala di belakang. "Terima kasih atas perhatiannya Kurotsuchi-san, tapi kuharap kamu ingat aturan dasar ninja tentang bagaimana menilai lawanmu."

Gadis Iwa merengut dan tampaknya bersiap membalas kata-kata bocah pirang, tapi sesuatu yang tidak dia tahu memancar dari bocah itu membuatnya tidak berkata-kata. Bocah pirang Konoha tampak memiliki intimidasi berbeda, tapi cukup untuk menunjukkan siapa dari para genin itu yang paling dominan.

"Kamu punya murid yang bagus, Senpai," kata Itachi.

"Ya… dia lulusan terbaik tahun ini. Ninja yang akan membawa kehormatan di masa mendatang."

"Begitu?"

Tiba-tiba saja, tanah di sekeliling tim Kakashi membentuk dinding di sisi kanan kiri dan dengan cepat tanpa membuang waktu menggencet target. Tabrakan dua dinding membuat ledakan yang melontarkan serpihan tanah dan batu. Asap debu muncul lalu perlahan hilang digantikan wujud kubah solid bertekstur beberapa wajah kepala anjing yang beberapa saat kemudian runtuh memunculkan lima orang yang bersembunyi di dalamnya. Kakashi berjongkok, dengan dua telapak tangan menyentuh tanah.

"Kamu hebat seperti biasa," puji Itachi. "Jutsu doton milikmu memang paling mengesankan dari semua orang di Konoha."

"Kamu memuji berlebihan. Tapi aku ambil kata-katamu dan terima kasih."

Itachi masih fokus pada lawannya ketika menyadari perubahan tanah di bawahnya dan berkat sharingan dia bisa melihat serangan mendadak tersebut. Wujud lain dari genin berambut pirang muncul dengan tangan mengepal ke atas bermaksud memukul dagu Itachi. Tapi serangan kejutan itu gagal karena kedua matanya melihat serangan itu dalam gerak lambat. Itachi tadinya akan menyerang meski itu hanyalah klon ketika mendengar suara.

Rekan si pirang menyerang dengan pedang terhunus yang dialiri petir yang tanpa ragu menabrak klon rekannya. Itachi meski masih belasan tahun, bisa tahu perbedaan serangan amatir dan bukan. Waktu, efisiensi, dan kecepatan tanpa diturunkan sama sekali. Nukenin Konoha yakin jika serangan barusan adalah serangan combo yang sudah berkali-kali dilatih. Jika lawannya Cuma fokus pada klon pirang tanpa mewaspadai sekitar, serangan itu pasti berhasil. Itachi melihat jika jutsu Raiton genin Inuzuka bukan jutsu level rendah. C atau sedikit ke level B. tadinya dengan ciri tato Inuzuka, Itachi berpikir akan mendapat serangan semacam Gatsuga, tapi siapa kira jika klan anjing memiliki anggota tipe Kenjutsu yang cakap. Senyum tipis sekelebat mata tersimpul di balik jubah Akatsuki.

Kakashi tidak mengharapkan serangan Naruto dan Shiba akan membunuh Itachi, tapi ada kesenangan sendiri ketika melihat hasil latihan murid-muridnya terbayar. Dia juga bisa merasakan gadis Iwa kagum melihat koordinasi serangan itu. tanpa banyak kata-kata, hanya ketika Naruto memanggil Shiba, seakan dua saudara kandung. Rencana tercipta. Wujud Itachi berganti batang kayu ketika pedang Shiba menembus tubuhnya. Sharingan Kakashi tidak melihat genjutsu dari lawan yang membuatnya sedikit curiga. Itachi akan selalu menggunakan genjutsu ketika kesempatan itu muncul, bekerja sebagai atasan saat kedua di Anbu. Kakashi sangat mengenal cara bertarung Itachi dan begitu juga sebaliknya.

"Dimana Han-san?" tanya Kakashi ke Kurotsuchi, tanpa memutus kedua mata di depan.

"Bertarung dengan rekan orang itu. namanya Kisame."

Kakashi bisa merasakan amukan cakra dari arah jam dua sejauh lima ratus meter. Jika Kisame yang dikatakan Kurotsuchi sama dengan Kisame yang Kakashi tahu, meski Han adalah Jinchūriki terlatih, Monster Kirigakure ditakuti bukan tanpa sebab.

"Dia kabur Kakashi sensei," Shiba kembali ke tempat tim begitu pula klon Naruto yang ikut menyerang lenyap.

"Tidak, dia ada di dekat sini," jika Shiba tidak mencium bau Itachi, maka musuh bersembunyi dengan baik. Kakashi bukan sensorik, tapi tahu Itachi belum kabur, Jounin berpaling melihat Yukino yang menggeleng. Gadis itu belum pandai menggunakan bakat sensoriknya. Sesuatu yang baru Kakashi tahu selama proses latihan bulan lalu.

"Bagaimana cara melawan orang ini sensei," tanya Naruto. "Sharingan bukan sesuatu yang bisa diremehkan."

"Ya... Kuharap kalian ingat apa yang diajarkan oleh akademi. Ada beberapa tipe genjutsu dan lawan kita kali ini memiliki tipe yang menyerang melalui kontak visual. Jika dua lawan satu, yang lain bisa menyerang dari belakang. Bahkan jika partnermu terkena pengaruh genjutsu, temanmu bisa menghilangkan pengaruhnya."

"Oh… kelihatannya itu cukup mudah, kita ada berlima, kita bisa mengecohnya."

"Tidak semudah itu, ingat jika lawan kita bisa membantai satu klan dalam semalam," kata Naruto menjawab perkataan Shiba.

"Itu benar," jawab Kakashi. Belum lagi keadaan Kurotsuchi yang sedikit ganjil. Jika ini Itachi yang dia kenal, seharusnya untuk ukuran genin, Itachi bisa melawannya dengan mudah dan cepat. Tapi fakta ketika kedatangan timnya dan menemukan Kurotsuchi masih bisa berdiri meski mendapat luka disana-sini sedangkan waktu mereka menuju kemari tidak sebentar menunjukkan jika Itachi tidak serius melawan cucu Tsuchikage atau sengaja ingin mengulur waktu yang sekali lagi bukan tipe Itachi yang Kakashi kenal.

"Kamu punya murid-murid yang mengesankan Kakashi-san," tanpa ragu sama sekali Itachi muncul dari balik hutan. Minim emosi dan tanpa keraguan. "Tadi itu serangan tim paling baik yang pernah aku lihat."

Kelima orang langsung waspada.

"Jadi, apa masalahmu Itachi? Dilihat dari pakaian yang kamu kenakan, kurasa itu sejenis simbol suatu kelompok?"

"Ini bukan urusanmu."

"Hm… tapi sayangnya kamu datang di waktu yang kurang tepat. Kebetulan juga tim ku punya pekerjaan dengan tim Iwa dan melindungi mereka salah satu pekerjaan itu juga. So, ini termasuk urusan kami."

Itachi tidak mengatakan apa-apa. "Apa boleh buat."

Bola api ukuran raksasa muncul dari jutsu yang dilancarkan oleh Itachi. Kakashi menggunakan salah satu jutsu yang dia copy untuk menghadapi teknik katon khas Uchiha itu. Teknik air menetralkan serangan Itachi. Tapi dua klon Itachi muncul dari asap benturan serangan sebelumnya. Shiba dan Naruto yang ada di posisi depan refleks menyambut masing-masing serangan dari klon. Shiba menggunakan pedangnya yang dialiri raiton dengan cepat menghancurkan klon begitu juga Naruto menggunakan Reppūsho dalam jarak dekat menghancurkan target.

Ketika klon Itachi lenyap. Hal yang Naruto dapatkan bukanlah efek klon hancur seperti biasa, melainkan sekawanan gagak muncul begitu saja seperti keluar dari balon dan menyebar ketika meletus. Naruto melindungi wajahnya ketika mata biru bertemu sharingan merah menyala dari salah satu mata gagak.

Begitu… dia menjebak ku dalam genjutsu

Di titik lain tak jauh dari tempatnya, sekawanan gagak menggerombol dan wujud lain dari gagak-gagak yang saling menyatu kembali menjadi Itachi

"Kamu berbeda… ada yang salah darimu."

"Itukah yang ingin kamu katakan?" balas Naruto.

Itachi mengernyit. Sejak serangan kejutan tadi, Itachi merasakan ada yang tidak beres dengan bocah itu. ketenangan tidak masuk akal untuk bocah sembilan tahun. Bahkan meski dulu dia pernah merasakan posisi itu, Itachi pernah merasa takut dan dia yakin emosinya dulu tidak sebaik sekarang. Tapi anak itu berbeda, jika Itachi menggambarkannya. Dia seperti sedang tidak berhadapan dengan anak sembilan tahun.

"Uchiha Itachi," kata-kata Naruto menarik perhatian laki-laki itu. "Kukatakan mumpung ada waktunya sekarang. Sampaikan pada ketua organisasi mu itu, jika sia-sia jika kalian mengumpulkan Bijuu. Sudah kuputuskan jika akulah yang akan memiliki semuanya."

Itachi tersentak dan rasanya seperti di dorong dengan paksa oleh sesuatu yang kasat mata. Rasa perih muncul di kedua matanya ketika sentakan energi misterius ini menekan kontrol kendali cakranya sehingga membuat aliran genjutsu kacau dan target lepas dari pengaruhnya. Ini tidak seperti beberapa lawan mematahkan genjutsunya. Rasa ini mirip ketika Matanya melihat mata ayahnya dalam kontrol Mangekyou. Ini seperti genjutsu sannin ular yang meski tidak sebanding Sharingan cukup memberi efek menyakitkan. Itachi masih punya sedikit kontrol sebelum dirinya terhempas dari dunia genjutsu ciptaannya saat melihat Naruto tidak lagi sendirian. Di belakangnya muncul dari ketiadaan, wujud buas dari dua bijuu memandangnya seperti kecoak. Itachi tahu Kyuubi milik Konoha. Tapi Sanbi? Dan juga disegel dalam Jinchūriki Kyuubi?

Itachi masih bisa melihat wajah anak itu sebelum terlempar kembali ke dunia nyata. Meski memang tidak menggunakan Tsukuyomi, ini untuk pertama kalinya genjutsu miliknya dipatahkan dengan tolakan cakra begitu besar.

"Jangan berani usik anak-anakku Uchiha!" geraman aneh, Naruto melotot ke arah Itachi. Lalu pudar

.

Kisame akhirnya mengerti kata-kata Fuguki tentang Samehada yang berbagai perasaan dengan pemiliknya. Sudah lima menit sejak ninja Iwa itu bertransformasi menjadi wujud bijuu. Tapi alih-alih monster raksasa, itu hanya lapisan cakra merah yang membuat pedang Kisame menggeliat kegilaan melihat sumber cakra di depannya. Rasa lapar, tamak akan kekuatan dan mungkin pertempuran. Ini pertama kali Kisame bertarung dengan adrenalin sejak pertarungannya memperebutkan hak kepemilikan Samehada. Jika Rokubi sejak awal memang berniat untuk kabur, Gobi sejak awal ingin membunuh Kisame.

"Khe-khe-khe, wujud mu itu memang Cuma ekor lima. Tapi kamu lebih baik dari ekor enam. Ayo lawanku aku monster,"

"Mati!"

Pria hiu menikam bumi dengan pedangnya dan mulai membentuk segel.Bakusui Shooho, menciptakan gelombang air besar dari muntahan mulutnya. Berkat jumlah cakra yang besar, Kisame mampu mengeluarkan berkubik-kubik air yang dengan cepat membanjiri daerah itu. wujud Gobi menangkis semburan besar dengan beberapa ayunan ekor dan begitu air tenang, Jinchūriki Iwagakure berdiri di atasnya.

Ketika Gobi mencari keberadaan musuh, Kisame sementara itu sembunyi di bawah air membentuk segel dan mengeluarkan Goshokuzame, lima wujud hiu berbentuk air menyerang buas ke arah Gobi. Jinchūriki yang merasakan serangan dari bawah air, menciptakan ledakan uap sekala besar yang menguapkan segala air di dekatnya, begitu juga dengan serangan jutsu Kisame. Tapi anggota Akatsuki di dalam air menyeringai dan hiu-hiu yang tadinya hancur, malah meregenerasi menjadi banyak dan Gobi yang belum sepenuhnya menguasai pertarungan terdesak ketika hiu lebih kecil dalam jumlah banyak menyerang seperti kawanan tikus, menganggit dengan gigi tajam yang merobek lapisan cakra. Gobi mencoba melarikan diri, tapi area air adalah kekuasaan Kisame dan sejak awal Jinchūriki sudah terjebak dalam serangan musuh. Hiu lain muncul, hancur dan muncul lagi. Tidak ada habisnya dan semakin merobek lapisan kulit cakra Gobi.

Meski tidak sebaik Samehada dalam menyerap cakra, hiu-hiu ini masih tetap bisa menyerap dan semakin banyak, maka semakin banyak cakra yang kudapatkan.

Kisame akan menggunakan jutsu lain untuk melumpuhkan target agar tidak leluasa bergerak ketik sesuatu menendang perutnya dengan cukup kuat dan tanpa perlindungan apa-apa dia terdorong. Bahkan dengan massa air, itu tidak banyak membantu. Anggota Akatsuki muncul dari dalam air dan melihat hiu-hiu ciptaannya masih terus menyerang Gobi, tapi beberapa detik kemudian satu persatu hiu meledak begitu saja dan kali ini tidak bisa regenerasi. Tidak Cuma itu, area air yang diciptakannya menyusut dengan ajaib meninggalkan kerusakan hutan akibat pertempuran.

Gobi disana, dengan cakra meliuk-liuk dan menggeram marah. Kisame berpikir jika Gobi menggunakan salah satu teknik uapnya untuk menghilangkan air, tapi fakta teknik Goshokuzame juga hilang bukan darinya sendiri menimbulkan pertanyaan.

Apa yang dilakukan Gobi— Kisame kembali tidak berdaya ketika ditendang oleh sesuatu tak kasat mata. Tepat di dada, dan dia bisa merasakan tulang rusuknya patah.

"Apa—"

Di sisi lain Gobi yang semula seperti binatang buas, tidak lagi menggeram. Bahkan ekornya terkulai, seakan makhluk itu berhasil dijinakkan.

Kisame bermaksud menggunakan jutsu lain ketika kedua tangannya terpotong begitu saja. Seakan pedang menebasnya dengan cepat dan saking cepatnya, tidak rasa sakit sebelum beberapa detik menyadari lengan yang tadinya tertempel jatuh begitu saja ke tanah.

Nukenin Kirigakure menjerit kesakitan. Amarah, kesakitan, dan kebingungan menjadi satu, Kisame tanpa bantuan kedua lengannya hendak memakai transformasi bentuk hiunya saat burung gagak partnernya muncul. Wujud semu Itachi ada di depannya dan dalam seperkian detik, menatapnya dengan kaget.

"Kita Mundur! Lawan kali ini jauh dari prediksi Sasori."

"Apa—"

Tapi Itachi tidak menunggu jawaban rekannya dan langsung membawanya kabur dalam kepakan sayap gagak. Gobi ditinggalkan bersamaan dengan pedang Samehada yang masih menancap. Bijuu ekor lima diam di detik-detik akhir. Pertarungan diakhir dengan bayangan Limbo yang campur tangan dan sebuah hadiah pertempuran tak ternilai diklaim sang pemenang. []

END