Judul : Otonari-San
Chapter : 25
Crossover : Naruto x LoveLive
Pairing : Naruto x (Rahasia) :v
Genre : Ecchi, lemon, NTR, romance, drama, dll.
Disclaimer : Naruto punya Om Masashi Kishimoto dan LoveLive punya Sakurako Kimino
Rating : M
A/N :
Ciee akhirnya update..
.
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ :)
(Jangan maksa buat baca jika ga kuat netorare..)
.
.
.
.
.
Naruto pov*
Aku membuka sebuah light novel yang berjudul Yokohama-eki SF dengan alis terangkat bingung, "Jadi buku ini sedang laku akhir-akhir ini?" Tanyaku entah pada siapa sambil menengadahkan kepalaku keatas, seperti biasa hari ini aku bekerja paruh waktu di Miyamori-shoten.
Lalu terlihat perempuan bersurai toska dan bermanik jingga yang bertolak pinggang menatapku, "Begitulah, karena itu manager membuat permintaan untuk di kirim cetakannya lagi, sangat menyebalkan jika ada pembeli yang terus menanyakannya~" jelas Fuu yang kemudian menunduk mendekat padaku, "Waktu istirahat sudah habis! Cepat, susun buku itu di rak depan!" Perintahnya dengan menunjuk pintu tempat penyimpanan, aku menaruh kembali light novel tersebut ke dalam kotak kardus.
"Hai, hai.." balasku yang menjawab pasrah dan langsung mengangkat kardus berisikan penuh dengan light novel dan membawanya keluar dari gudang penyimpanan.
Aku menyusun buku yang sedang best seller di bagian tengah dekat pintu masuk, aku menyusun beberapa light novel berjudul Yokohama-eki SF tersebut. Lalu berdiri membawa kardus berniat untuk menyusun di rak bagian sastra. Ketika berdiri aku teralihkan pada buku yang terasa familiar. Aku ingat sebelumnya itu novel yang dibeli oleh Nozomi, saat aku mendapat tugas menjadi kasir.
Kisah yang menyedihkan.. kupikir lebih cocok untukku..
Aku ingat dia mengatakannya dengan wajah murung, bayanganku kembali saat perjalanan ke Nara dua hari yang lalu. Ketika kami mengobrol di dekat sungai.
Jadi meskipun makna namaku harapan, aku tidak benar-benar bisa mewujudkannya.. justru aku ingat, aku yang telah menghancurkannya..
Kenapa dia berkata begitu ya?
Aku kembali meletakkan kardus di lantai lalu menatap buku tersebut, aku hendak mengambilnya namun terhenti. Tunggu sebentar, tingkahku ini seakan aku benar-benar khawatir padanya? Kenapa juga aku ingin tahu tentangnya dengan sebuah novel? Bukan berarti ini karena aku peduli, lagipula kita sudah menjadi teman. Tidak masalahkan aku ingin membaca novel yang sama? Aku mengangguk sendiri membenarkan hal itu.
Aku kemudian mengambil buku tersebut yang masih tersegel plastik, aku membaca judulnya yang tertulis di cover depan 'kitto, hoshi no sei janai'. Alisku terangkat dengan judulnya yang terasa romantis, lalu aku membalikkan bukunya untuk melihat sinopsis dari ceritanya.
"Senpai!" Aku tersentak begitu merasakan pukulan ringan pada punggungku dan seseorang yang memanggilku dengan penuh semangat.
Aku langsung menyembunyikan buku yang aku pegang di belakang punggungku, "Ah, Hanayo-chan! A-ada apa?" Tanyaku kemudian yang mendapatnya tersenyum.
"..aku dengar kau sedang menyusun buku, jadi aku ingin membantu," ucapnya padaku yang kemudian dapat aku duga dari pandangannya yang berpindah seakan penasaran dengan apa yang aku sembunyikan di belakang, "Apa yang kau lakukan, senpai?" Tanyanya yang bergerak ke kanan-kiri untuk melihat apa yang ada di belakang punggungku.
Aku merasa aneh untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak penting lalu menunjukkan buku itu padanya dengan wajah memerah, "Aku.. berpikir ini terlihat menarik.." jelasku padanya yang menatap berbinar pada buku yang aku pegang.
"Eh?! Senpai tertarik membaca novel, aku tidak menyangka! Dan lagi itu novel romantis, apa akhirnya kau tertarik dengan hal itu? Ah, benar! Ini pasti karena pacarmu yang cantik itu, 'bukan?" Tanyanya yang terlihat berbinar-binar.
"Ah tidak juga sih.." aku bingung sambil menggaruk kepalaku, sebenarnya aku tak begitu tertarik dengan hal yang berbau sastra apalagi jika itu cerita romantis, aku ingat sangat jelas ketika SMA dan guru membacakan baris puisi dari sastra klasik di depan kelas, aku langsung bosan dan mengantuk.
"Tapi, ceritanya sangat menarik. Kedua orang yang memiliki kekurangan pada dirinya dan saling mencintai, kemudian semuanya berakhir dengan menyedihkan. Ketika sepasang kekasih yang menahan rasa sakit yang sama dan saling menyemangati akan takdir yang tidak sejalan dengan keinginan mereka.." jelas Hanayo dengan mata berkilauan dan kedua tangan yang terkatup di depan dadanya seakan cerita novel ini adalah sebuah ilham, "itu benar-benar menyayat hati! Kau harus coba membacanya, senpai!" Jelasnya merekomendasikan buku tersebut padaku yang tertawa canggung padanya, dia benar-benar bersemangat ketika membicarakan hobinya.
Naruto kemudian memandang buku di tangannya, "Aku tidak yakin untuk membacanya dengan cepat. Sebenarnya temanku ada yang membacanya, jadi aku sedikit penasaran.." Jelasku yang membuat Hanayo kecewa karena aku tidak terlalu suka membaca novel, lagipula membaca novel ini karena aku ingin tahu masalah Nozomi dibalik ekspresi sedihnya saat itu, rasanya seperti aku mencampuri urusannya.
"Sayang sekali, padahal ceritanya sangat menarik. Tapi, kalau senpai tidak suka dengan novel tak apa, karena bulan depan akan dibuat filmnya. Aku dapat infonya dari internet." Jelas Hanayo.
"Heh, benarkah?"
"Iya, trailernya sudah keluar kok"
Aku kembali meletakkan novel tersebut pada tumpukannya yang tersusun rapih lalu kembali membawa kardus. Aku kembali teringat di malam ketika aku mengatakan bahwa aku akan membenci Nozomi.
..Aku tak akan jatuh cinta pada siapapun. Rasanya seperti bualan konyol jika aku tetap berhubungan dengan mereka semua setelah semua yang terjadi pada kita..
Aku berharap dia mengatakan alasan sebenarnya mengapa dia menolakku. Saat itu, aku hanya bisa ikut campur tanpa tahu apapun tentangnya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa tahu alasannya, aku terbawa perasaan seperti anak kecil. Aku merasa dia menyembunyikan hal penting dariku.
Pada akhirnya aku membuatnya mengatakan hal yang buruk, apa dia sungguh ingin mengatakannya? Mungkin jika aku tidak memaksanya saat itu, apa semuanya akan berbeda sekarang?
Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apapun bahkan meskipun kita sudah berteman. Aku tidak akan memaksanya lagi, jika itu hanya membuatnya mengingat hal menyedihkan. Lebih baik aku membiarkannya untuk melupakannya. Hah, aku pria terburuk.
Beberapa jam kemudian pukul 7 malam shift-ku berakhir. Aku berjalan di tengah kota dengan hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang di trotoar. Aku pikir aku tidak akan tertarik membaca novel, tapi aku tengah memegangnya sekarang. Aku melihat judulnya yang tertulis jelas 'kitto, hoshi no sei janai'.
Tanpa sadar, aku terus menatapnya saat mengepel lantai lalu membawanya sekarang karena Pak Manager yang memaksaku untuk mengambilnya, tentunya saat itu dia memergokiku yang tengah curi baca isinya dari buku yang dijadikan sample. Aku memang payah, segitunya aku penasaran pada buku yang dibaca oleh tetanggaku.
Ingat Naruto, bukan saatnya kau penasaran dengan hubungan antara manusia dan novel. Kotori sekarang tengah menunggumu di stasiun. Aku memasukan novel tersebut ke dalam tas selempang yang aku bawa, k-ku.. kupikir.. tidak ada salahnya mencoba membacanya sedikit.
.
.
.
.
.
Normal pov*
Nozomi menghela nafas memasuki halaman apartement, dia melangkah menaiki tangga satu per satu. Hari ini begitu melelahkan baginya, karena menjadi tutor untuk dua anak sekaligus. Semuanya akibat rekan kerjanya yang sakit sehingga dia dimintai untuk menggantinya. Setidaknya dia menerima bayaran tambahan untuk itu.
Nozomi mulai memasuki lorong apartementnya, dia melewati pintu apartement Naruto menuju ruangannya. Ketika hendak memasang kunci Nozomi mendapati seseorang memencet bel apartement Naruto.
Tingtong!
Suara bel membuat perhatian Nozomi berpindah tepat di depan apartement Naruto. Terdapat figur seorang perempuan dengan seragam SMA dan rambut pirang panjangnya yang dikuncir twintail. Dia nampak membawa tas besar di tangannya, berdiri di depan pintu seperti menunggu. Terlihat tak sabar, perempuan pirang tersebut memencet 3 kali bel apartement Naruto.
Tingtong! Tingtong! Tingtong!
Percuma saja, karena penghuni apartement tersebut belum pulang entah pergi kemana. Perempuan pirang terlihat menghela nafas karena penghuni terlihat tidak di dalam rumahnya. Dia kemudian duduk meringkuk dan meletakkan tas besar di sampingnya, dari wajahnya dia terlihat kedinginan lalu menggosok telapak tangannya agar hangat. Siswi SMA tersebut tidak memakai mantel, padahal udara musim gugur saat malam hari sangatlah dingin.
Nozomi merasa tak tega membiarkan seorang siswi SMA yang kedinginan menunggu di luar, dan sepertinya siswi ini adalah kerabatnya Naruto. Di tambah melihat siswi ini seumuran dengan murid les yang Nozomi ajari, naluri seorang guru di benak Nozomi tidak bisa membiarkan seorang siswi kesulitan.
"Apa kau kerabat Uzumaki-san?" Tanya Nozomi yang mendekat lalu membungkuk sedikit untuk menyamakan posisi duduk siswi SMA tersebut, merasa didekati perempuan pirang tersebut mendongak ke samping menatap Nozomi dengan mata biru laut yang mirip dengan Naruto.
Nozomi cukup terkejut melihat wajah siswi SMA di bawahnya, terlihat sangat mirip dengan Naruto hanya saja lebih mungil dan terkesan cantik. Rasanya seperti berhadapan dengan sosok Naruto dalam bentuk seorang perempuan. Terkesan lucu untuk Nozomi.
Siswi tersebut mengangguk, "Namaku Naruko Uzumaki. Aku ini adiknya.." Jelas siswi bernama Uzumaki Naruko tersebut.
Ah, begitu ya? Dia ini adiknya, pantas saja wajahnya sangat mirip.. Nozomi kagum dalam hati.
"Apa neechan tahu? Kemana pria di kamar ini pergi?" Tanyanya pada Nozomi yang tersenyum.
"Sepertinya Uzumaki-san akan pulang larut, apa kau sudah menghubunginya?" Nozomi kembali bertanya.
"Belum, aku tidak membawa ponselku dan semua uangku sudah kugunakan, hehe.." jelasnya tertawa garing sambil menggaruk belakang kepalanya, mirip sekali dengan Naruto saat merasa canggung. Nozomi cukup mengerti bahwa anak ini datang secara mendadak.
"Begitu ya?" Nozomi melihat siswi tersebut yang kembali meringkuk karena tubuhnya yang kedinginan.
"Hatchu!" Naruko mulai bersin lalu menggosok hidungnya yang gatal.
"Ah, kau pasti kedinginan. Sembari menunggu Uzumaki-san, bagaimana kalau minum teh di tempatku dulu?" Tawar Nozomi pada Naruko yang tersenyum senang.
"A-apa boleh?" Mendengar pertanyaan Naruko membuat Nozomi mengangguk.
Nozomi kemudian berdiri lalu kembali membuka kunci pintunya, sesaat terbuka Nozomi mempersilakan Naruko untuk masuk. Mereka berdua langsung masuk ke dalam apartement Nozomi.
.
.
.
.
.
Sementara di tempat lain,
"Kanpai~" ucap semua orang yang berkumpul di ruang privat Izakaya untuk makan malam, di meja sudah terdapat banyak lauk makanan yang di pesan dan diantaranya ada yang hanya tinggal piringnya saja.
Dan segelas bir yang diminum oleh beberapa orang yang sudah cukup umur tentunya, semua orang bersorak ketika melihat Shino yang tengah menghadapi tantangan karena bermain Ou-sama game. Sebenarnya acara ini untuk merayakan umur Kotori yang genap 20 tahun, karena itu mereka berkumpul di Izakaya. Untuk merasakan kehidupan dewasa dengan meminum minuman beralkohol di tempat tersebut. Di antaranya terdapat Kiba, Lee, Shino, Umi, Honoka, Kotori dan Naruto sendiri.
Hanya Naruto yang belum cukup umur di antara mereka, dia hanya bisa tertawa karena Shino yang sudah mabuk berat. Setelah selesai menenggak segelas sake Shino hampir tepar dia menaruh gelasnya dengan terbalik, tanda dia sudah menyerah dan tidak ingin minum lagi. Lee terlihat membujuk Shino untuk bermain kembali dan tidak menyerah.
"Baiklah, kita mulai lagi permainannya.." jelas Kiba yang sudah mengumpulkan sumpit dengan satu sumpit yang bertuliskan Ou-sama, dia menengadahkan gelas berisi sumpit tersebut di tengah meja dan satu per satu diambil teman-temannya.
Ketika hendak mengambil satu sumpit Naruto terhenti karena mendengar ponselnya berdering di atas meja, "Ah gomen, ada seseorang menelponku.." mendengarnya membuat Kiba menengadahkan gelasnya kepada Kotori yang ada di samping Naruto.
Perhatian Naruto mengarah pada ponselnya yang berdering, matanya melebar terkejut melihat nama dari wanita cantik yang tinggal di samping apartementnya, siapa lagi kalau bukan Nozomi. Sementara teman-temannya masih bermain, Naruto pergi keluar dari ruangan privat Izakaya dan mengangkat telponnya tepat di ruang loker untuk menaruh barang.
"Moshi-moshi..?" Telinganya dapat mendengar suara lembut Nozomi dari seberang sana.
Naruto merasa gugup untuk menjawab karena dia tidak berbicara dengan Nozomi sejak kejadian ketika perjalanan ke Nara sebelumnya, "A-ada apa?"
Naruto menjawab dan mendapati Nozomi terdiam sebentar, Naruto melihat Kotori di dalam ruang privat, dia kemudian berjalan keluar untuk menjauh dari ruang loker menuju lorong Izakaya. Naruto tidak ingin teman-temannya tahu dia menerima panggilan dari Nozomi, terutama Kotori. Naruto bersender di tembok lorong dengan lalu lalang orang yang datang dan pelayan yang bolak-balik membawa nampan berisi makanan.
"Ah, gomen.. Aku menelpon karena kupikir ini penting-" lanjut Nozomi yang terdengar cemas, membuat Naruto menjadi penasaran dan mendengar cerita Nozomi dengan seksama soal gadis SMA yang berkunjung malam-malam dan mencarinya.
Setelah mendengarnya mata Naruto melebar karena terkejut, "A.. APA?!" dia langsung berteriak terkejut hingga orang-orang yang makan di ruang outdoor dan pelayan menatap aneh padanya, Naruto langsung menunduk-nunduk meminta maaf sambil tertawa canggung. Kemudian dia kembali menempelkan ponselnya di telinga lalu bertanya serius pada Nozomi.
"Lalu apa yang dia katakan?" Tanya Naruto pada Nozomi yang lanjut bercerita bahwa dia belum mendengar detailnya.
"Kurasa jauh lebih baik jika kau yang bertanya langsung padanya.." jelas Nozomi yang ada benarnya juga.
Ketika mendengar nama Naruko yang Nozomi sebut Naruto langsung tahu bahwa gadis itu adalah adiknya, dia semakin terkejut ketika Nozomi berkata bahwa gadis itu berkata telah kabur dari rumah. Dan dia datang ke Tokyo mencari Naruto, tentu saja kabur dari Nagano ke Tokyo itu tidak dekat. Butuh 3 jam 40 menit menaiki bus, Naruto sendiri sudah merasakannya dan dia tahu berapa lama itu. Naruko tidak mungkin memiliki banyak uang untuk naik shinkansen.
"Benar juga.." gumam Naruto pasrah, sekarang dia dihadapkan masalah rumit yang membuatnya khawatir, dia menutup matanya dan hanya bisa terdiam beberapa saat.
Setiap kakak laki-laki pasti khawatir jika adik perempuannya berkata dia ke Tokyo untuk kabur dari rumah. Seorang siswi pergi sendirian ke luar kota tanpa mengatakan apapun. Tentu saja sebagai kakaknya Naruto merasa bertanggung jawab. Belum lagi, sekarang adiknya sedang berada di rumah tetangganya.
"Apa dia bersamamu sekarang?" Tanya Naruto menunduk lesu.
"Un, tapi aku baru saja menyuruhnya untuk mandi, dia tadi terlihat kedinginan.." lanjut Nozomi yang menengok pada ruang kamar mandinya yang terdapat Naruko sedang berendam di dalam bathtub sambil memandang pantulan wajahnya di air dengan tersenyum.
"Baiklah, aku akan kembali sekarang, bisa kau menjaganya sebentar? " Tanya Naruto yang mendapati gumaman setuju dari Nozomi, dia kemudian mematikan ponselnya dan kembali ke ruang privat Izakaya dimana teman-temannya masih berkumpul.
Sesaat Naruto muncul di ruang privat dia melihat Kiba yang wajahnya memerah karena mabuk menyapanya, "Yo, Naruto! Kemana saja kau? Kami sudah menunggu sejak tadi.." tanya Kiba yang tengah mencorat-coret wajah Shino yang sudah tepar dengan spidol.
Naruto masuk dengan tersenyum canggung, "G-gomen naa, semuanya.. tiba-tiba aku ada urusan mendadak, jadi aku harus pulang sekarang.." jelas Naruto.
"Eh? Naruto-kun, memang ada urusan apa?" Tanya Kotori dengan raut penasaran ketika kekasihnya tiba-tiba berkata ada urusan mendadak.
Naruto hanya menggaruk belakang kepalanya, "Adik perempuanku datang berkunjung, dan sepertinya sekarang dia menungguku pulang.." sebenarnya dia tidak ingin merusak suasana dan membuat temannya khawatir, jadi Naruto tidak mengatakan bahwa adiknya berkunjung karena kabur dari rumah.
"Begitu ya? Mau bagaimana lagi.." jelas Umi yang menyayangkan hal tersebut, Naruto hanya tertawa canggung pada teman-temannya sambil berjalan ke sudut ruangan mengambil jaketnya yang tergantung di gantungan.
"Aku duluan ya, teman-teman!" Jelas Naruto yang kemudian melangkah keluar dan mengambil tas selempangnya di loker yang sudah tergantung di lengannya.
"Naruto-kun!" Sesaat keluar dari ruang loker menuju lorong Naruto terhenti karena panggilan Kotori, wanita berstatus pacarnya itu berlari kecil menuju arahnya.
"Ada apa, Kotori-chan?" Tanya Naruto.
Wajah Kotori mendongak dan menatap serius pada Naruto, "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kotori yang membuat Naruto terdiam.
"Um.. itu, tidak ada kok.." jawab Naruto menggaruk pipinya dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kau berbohong, aku tahu kau sedang gelisah.." Kotori menggenggam salah satu tangan Naruto, "Kalau kau ada masalah katakan saja padaku, itu membuatku tidak tenang.." Kotori menatap tajam pada Naruto meminta jawaban sebenarnya, Naruto tersenyum pada Kotori sekaligus kagum karena pacarnya menyadari bahwa dia tengah gelisah.
"Kotori-chan hebat sekali, padahal aku tidak ingin membuatmu khawatir.." ungkap Naruto seraya mengelus puncak kepala Kotori yang merona.
"Sebenarnya adikku kabur dari rumah, aku tidak tahu apa yang terjadi, karena itu aku harus cepat pulang karena sepertinya dia sedang menungguku. Dia datang kemari, sudah pasti menjadi tanggung jawabku. Bisa gawat kalau dia kabur ke tempat lain.." jelas Naruto menceritakan hal yang sesungguhnya pada Kotori yang terkejut.
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan ke sana juga. Aku akan membantumu, Naruto-kun.." Naruto terpukau akan jawaban Kotori yang ingin membantu, tapi sekarang Naruko sedang bersama Nozomi. Jika Kotori ikut datang ke apartementnya, dia akan tahu bahwa Nozomi tinggal di samping apartementnya.
"Aku akan mengambil tasku sebentar.." jelas Kotori yang hendak kembali untuk mengambil tasnya.
"I-itu tidak perlu, Kotori-chan!" Jelas Naruto menggenggam tangan Kotori kencang, membuat Kotori berbalik untuk menatapnya kembali, Naruto tampak terjengit ditatap oleh Kotori seakan menanyakan alasannya.
"Ah, maksudku.. sekarang sudah terlalu larut, besok kau ada mata kuliah pagi, 'bukan? Dan lagi, teman-teman kemari untuk merayakan kedewasaanmu, kalau orang yang dirayakan tidak ada malah jadi tidak ada artinya, 'kan?" Ucap Naruto membuat alasan agar Kotori tidak datang ke apartementnya, "Ini adalah masalahku, jadi aku yang harus menyelesaikannya. Kau tak perlu khawatir, aku pasti bisa mengatasinya!" Lanjut Naruto agar Kotori percaya bahwa dia bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Kotori kemudian menunduk sedih, "Begitu ya?" Naruto merasa tak enak karena menolak bantuannya.
"Aku akan menghubungimu setelah ini, aku janji.." jelas Naruto menepuk kedua pundak Kotori untuk meyakinkan wanita tersebut, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
.
.
.
.
.
"Okawari!" Teriak Naruko bersemangat sambil menengadahkan mangkuk kosong pada Nozomi yang tersenyum, sekarang mereka tengah makan malam bersama dimana Nozomi menyediakan semangkuk cream stew dan tempura udang.
Nozomi mengambil semangkuk nasi hangat di penanak nasi, "Nafsu makanmu cukup besar juga, Naruko-chan.." jelas Nozomi yang kemudian memberi semangkuk nasi pada Naruko yang tertawa kecil sambil menerima mangkuk berisi nasi hangat.
"Aku ini masih masa pertumbuhan, Nozomi-neechan! Dan lagi, masakanmu sangat enak! Mana mungkin aku bisa tahan~" Jelas Naruko dengan bersemangat seraya menyuap segumpal nasi yang cukup besar pada sumpit yang digunakannya.
"Masa pertumbuhan, ya?"
Mendengar pujian dan tingkah lucu yang penuh semangat dari Naruko hanya membuat Nozomi tertawa kecil sampai akhirnya dia melanjutkan kegiatan minum teh hangatnya, saat sedang menyeruput teh hangat tersebut, bel apartement Nozomi berbunyi membuat Nozomi berhenti sejenak lalu melangkah ke pintu keluar apartementnya.
TING TONG!
Belnya kembali dibunyikan, Nozomi berkata untuk tunggu sebentar seraya melepas sendal ruangan saat turun dari tatami menuju teras. Nozomi membuka pintu apartementnya dan mendongak melihat Naruto yang berdiri di depannya.
"Ah, Narucchi.."
"Dimana Naruko?" Naruto langsung to the point menanyakan keberadaan adiknya.
"Dia ada di dalam, masuklah.." jelas Nozomi yang membuka pintu mempersilakan, Naruto langsung masuk ke dalam melepas sepatu lalu berjalan ke dalam, sedangkan Nozomi menutup pintu terlebih dahulu lalu mengikuti Naruto ke dalam.
"Oy, Naruko! Dimana kau?" Panggil Naruto berjalan terburu-buru ke dalam menuju ruang studio apartement Nozomi, lalu langkahnya terhenti ketika melihat adiknya dengan rambut masih agak basah dan mengenakan baju tidur.
"Oh, Niichan..?" Dia menatap Naruto dengan mulut masih mengunyah makanan sehingga pipi chubynya menggembung seperti tupai yang menyimpan kacangnya.
"Naruko..?" Naruto memanggil nama Naruko lirih dengan pandangan terharu karena sudah lama tidak melihat adik perempuan yang sangat dia sayangi.
Naruko menelan makanannya dengan paksa, "Oniichan.." dia memanggil kakak laki-lakinya dengan sedikit air mata terharu.
Nozomi yang berada di belakang Naruto hanya menatap bingung kedua saudara di depannya.
"Naruko.." Naruto kembali memanggil adiknya terharu karena merindukannya.
"Oniichan~" Naruko berlari padanya dengan tangan direntangkan hendak memeluk Naruto.
Naruto ikut merentangkan tangannya ingin memeluk adik perempuannya seraya memanggil nama adiknya dengan lantang, "Narukoo~" saat Naruko sudah berada di dekatnya Naruto teringat bahwa adiknya di sini karena kabur dari rumah hingga menimbulkan masalah, pemuda itu terdiam beberapa saat lalu menangkup kepala adiknya dengan kepalan tangannya seperti memegang bola basket.
Naruko yang merasakan firasat buruk bahwa kakaknya akan memarahinya langsung menelan ludah, "Naruko, sekarang bisa kau jelaskan semua ini pada Niichan? Sekarang belum waktunya untuk liburan musim dingin,'bukan? Seharusnya sekolahmu belum libur.." Jelas Naruto yang mendapati ekspresi ketakutan dari Naruko yang mendongak padanya, "Kau pasti membuat masalah, 'bukan? Kau juga merepotkan Nozomi dan enak-enakan makan, apa kau tidak punya rasa malu? Niichan kan jadi tidak enak.." Tambah Naruto membuat suasana semakin mencekam.
Nozomi merasa tidak nyaman dengan suasananya lalu mencoba memberi masukan, "Ah, gomen. Sebaiknya kalian duduk dulu dan membicarakannya baik-baik, aku akan buatkan teh hangat untuk kalian.." Saran Nozomi yang kemudian masuk ke patri dapur untuk merebus air panas dan membuat teh.
.
.
"Sekarang katakan padaku apa yang terjadi? Apa kau tahu pasti semua orang di rumah sedang mengkhawatirkanmu? Oniichan jadi bingung harus mengatakan apa pada Kaa-chan nanti.." Jelas Naruto yang bertubi-tubi sambil memandang adiknya yang berada di seberang kotatsu.
Naruko mengalihkan perhatiannya ke arah lain, Nozomi menengok pada Naruko yang terlihat kesal. Naruko masih terdiam hingga menimbulkan perempatan di kening Naruto. Adiknya ini memang sangat keras kepala karena merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga Uzumaki.
"Naruko!" Naruto mulai memanggil nama adiknya dengan membentak.
"Itu semua karena salahnya menma!" Naruko kemudian ikut berteriak dan menyalahkan nama adik kembarannya, yang merupakan anak bungsu di keluarga Uzumaki, mendengar nama adik laki-lakinya lantas membuat Naruto menaikkan alisnya.
"Hah?"
Naruko kemudian menegakkan tubuhnya ke depan berhadapan dengan Naruto, dengan menggembung kedua pipinya sok imut Naruko mulai mencibir kelakuan Menma yang menurutnya menyebalkan.
"Sou yo! Habisnya Menma selalu mengganggu kehidupan pribadiku, karena terus mengganggu aku selalu putus dengan pacarku pada akhirnya.." jelas Naruko mulai mengadu pada Naruto yang menatap datar adiknya.
"Untuk alasan sepele seperti itu kau kabur dari rumah, putus sekali apa salahnya?" Jelas Naruto menganggap remeh aduan adik perempuannya, tidak heran adiknya ini sangat marah karena sejak dulu dia sangat genit pada pria manapun, dipikirannya hanya berisi kisah cinta indah seperti shoujo manga.
Naruko memukul sekali meja di hadapannya, "Ini bukan hanya sekali, tapi sering sekali, 'Oniichan~ aku ingat 8 kali aku mencoba dekat dengan cowok yang kusukai, 5 kali pendekatan dan 3 kali mulai berkencan. Tapi, semuanya selalu tidak berjalan lancar. Saat aku berhasil berkencan dengan senpai di sekolahku yang ganteng, tinggi, dan kapten basket. Seminggu kemudian dia memutuskanku, aku melihat wajahnya membiru, dan dia bilang itu salah Menma.." cerita panjang Naruko yang kemudian meminum teh hangat di depannya.
"Begitu ya?" Tanya Naruto.
"Tidak hanya itu," lanjut Naruko meletakkan segelas teh yang telah diminumnya, "Kasir ganteng dari toko buku di depan stasiun, Cowok kuliahan yang aku kenal dari internet, Cowok ganteng penjual bento yang baru pindah di depan rumah kita. Mereka semua bilang kalau Menma mengancam untuk berhenti mendekatiku.." Jelas Naruko menggenggam erat gelas teh di depannya.
"Terakhir kali aku pacaran dengan eksekutif muda, tapi tiba-tiba dia memutuskanku, dia bilang hubungan jarak jauh tidak akan berhasil tapi aku tahu itu pasti karena Menma.. Hiks.." lanjut Naruko yang mengingat bagaimana semua mantannya memutuskannya tanpa alasan yang jelas, membuatnya tanpa sadar mulai bersedih, terdengar dari nada bicaranya yang bergetar.
Naruko mulai mengusap air mata yang hampir keluar dari pelupuk matanya, melihat hal ini membuat Naruto dan Nozomi jadi merasa bersedih juga. Kalau dipikirkan baik-baik tindakan Menma memang sangat berlebihan untuk membatasi aktivitas saudaranya.
Nozomi menunduk ke samping menatap Naruko, "Mungkin memang berlebihan, tapi mungkin ada alasannya dia melakukan semua itu, 'bukan?" Tanya Nozomi yang mendapat tatapan Naruko.
"Aku sudah tanya langsung, dia tidak menjawabnya. Dia hanya bilang baguslah jika aku diputuskan. Maksudnya apa coba?" Jelas Naruko yang mendapati rasa jengkel pada Menma.
"Sulit dipercaya, Menma yang pendiam melakukan semua itu.." jelas Naruto yang ingat betul bahwa Menma anak yang pendiam dan kalem, adik laki-lakinya bahkan saat masih kecil terlihat lebih cengeng dari Naruko.
"Aku hanya ingin memiliki kisah cinta yang normal sebagai siswi SMA, melarang saudara perempuannya berhubungan dengan pria itu keterlaluan. Padahal dia sendiri didekati banyak gadis dan aku tidak pernah komplen. Menma yang terburuk.. Siscon! Bodoh!" Jelas Naruko mulai menghina saudara kembarnya karena kesal, dia berharap Naruto mengerti perasaannya.
"Itu benar!" Tegas Naruto tiba-tiba membuat Nozomi dan Naruko memandang padanya, Naruto dengan percaya diri dia menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, "Niichan tidak tahu ada apa dengan Menma, tapi kalian sudah cukup besar untuk bertanggung jawab dengan diri masing-masing. Sejujurnya Niichan tidak suka dengan cara Menma.. Dia terlalu mencampuri kehidupan privasimu.."
"Benarkah? Niichan berpikir hal yang sama, 'bukan? Kelakuan Menma tidak bisa diterima.." Balas Naruko yang senang karena kakaknya lebih mendukungnya dibanding Menma, "Karena itu, Niichan katakan sesuatu padanya~ dia sangat menyebalkan.." Naruko bangun dari posisi duduknya dan memajukan tubuhnya sedikit di atas meja untuk merayu Naruto.
"Itu serahkan saja padaku, tapi hal ini pasti membuat Kaachan khawatir, bagaimanapun Niichan tidak suka caramu yang kabur dari rumah.."
"Hal itu tidak usah dipikirkan, aku meninggalkan surat di kamarku kalau aku ke tempat Niichan~" jelas Naruko yang sekarang mulai mendekat lalu bergelayutan di lengan Naruto.
"Tetap saja itu tidak menyelesaikan masalah!" Tegas Naruto yang lebih terlihat sedang merajuk pada adiknya.
Nozomi hanya menatap mereka dalam diam, agak terkejut karena Naruto tipe yang memanjakan adiknya. Dia tersenyum mengetahui Naruto begitu dekat dengan adiknya. Pemandangan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran Nozomi, akhirnya dia mengetahui sisi manis yang lain dari Naruto.
.
.
.
.
.
Beberapa saat Naruto menyuruh Naruko untuk masuk ke apartementnya membawa tas besar di punggungnya, Naruko mengatakan terima kasih pada Nozomi sambil melambai kecil yang dibalas Nozomi dengan senyuman dan berkata untuk tidak perlu sungkan untuk berkunjung. Setelah Naruko benar-benar masuk ke dalam ruangannya, Naruto berhenti sejenak dan memanggil Nozomi yang masih berada di bibir pintu apartmentnya.
"Oy, Nozomi.." Naruto memanggil Nozomi yang terdiam menunggu pemuda itu melanjutkan kata-katanya.
Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk sambil mengalihkan pandangannya dari Nozomi, "Arigatou.. sudah menjaga Naruko, aku tidak tahu harus bagaimana.. aku sangat berterima kasih padamu, Naruko tidak melakukan hal yang aneh bukan?" Tanya Naruto khawatir bahwa adiknya melakukan masalah saat dia tidak ada.
"Tidak kok, Naruko anak yang baik.." jelas Nozomi yang kemudian tersenyum dengan pipi merona di hadapan Naruto, "Omong-omong, ini pertama kalinya kau memanggil namaku.." ucap Nozomi yang kemudian menyembunyikan setengah wajahnya di balik pintu karena malu pada Naruto.
"Itu membuatku senang.." lanjut Nozomi yang membuat Naruto ikut terpaku beberapa saat dan mereka sama-sama terdiam membuat suasananya menjadi aneh, "Sudah malam, Oyasumi.." Ucap Nozomi mengakhiri sebelum menutup pintu apartementnya.
"Ah.. O-oyasumi.." Naruto kemudian tersadar lalu langsung menjawab ucapan selamat tidur dari Nozomi dengan gelagapan, entah bagaimana Naruto sangat canggung berhadapan dengan Nozomi belakangan ini.
Naruto kemudian masuk ke dalam sambil mengusap rambutnya, dia tidak tahu hal sederhana seperti itu bisa membuat Nozomi senang. Rasanya hal ini sangat aneh baginya, meskipun mereka sudah setuju untuk berteman.
Begitu ya? Itu membuatnya senang.. Naruto berbicara dengan dirinya sendiri, sampai saat masuk ke dalam Naruko bertanya padanya dimana futon diletakkan.
.
.
.
.
.
TBC dengan gantungnya~
Mohon dimengerti, readerstachi.. Erocc bukannya berhenti menulis, atau baper sama flamer..
Erocc belakangan ini sibuk dengan kegiatan kulen (kuliah online).. Karena bukan hanya ngerjain tugas biasa, tapi persentasi dan membuat video.. Dan sekarang lagi dimintain kampus buat kegiatan webinar..
Erocc sulit menemukan timing menulis, karena kurang tidur.. Sebab, setiap anggota harus author koordinator, dan apalagi jika mereka ngumpulin tenggat deadline, terpaksa tidak tidur semalaman.. (karena Erocc yang bikin ppt dan video)
Dan Erocc terkadang dapat jobs freelance, jadi semakin tua hidup Erocc semakin padet..
