Gadis lain. Pasti ada gadis lain yang menjadi penghalang hubungan mereka. Milly yakin sekali akan hal itu. Layaknya seorang detektif yang berusaha memecahkan suatu kasus, Milly berusaha menguak masalah apa yang kliennya, Cagalli, maksud itu. Ia memang bukan sosok yang memiliki otak brilian seperti detektif pada umumnya. Namun, ia memiliki insting! Ya! Detektif juga punya kemampuan itu, bukan? Insting kuat untuk merasakan sesuatu yang janggal melalui ucapan maupun gerak-gerik. Dari situ ia bisa menarik kesimpulan kira-kira masalah apa yang tengah disembunyikan kliennya.

Otaknya tak bisa berhenti beranalisa. Bahkan sudah dua mata pelajaran berlalu, Milly masih saja disibukkan oleh masalah yang merintangi hubungan percintaan Cagalli dengan Kira. Pemikiran itu tetap bermuara pada satu kesimpulan. Tembok penghalang hubungan sahabat baiknya itu adalah pihak ketiga. Kali ini, pasti Kira Yamato memiliki incaran gadis lain yang lebih menarik perhatiannya ketimbang sosok yang sudah bersama pemuda itu sejak kecil.

Kalau benar begitu, Kira memang keterlaluan! Bisa-bisanya ia melirik gadis lain padahal ada sosok yang lebih perhatian padanya.

Lalu, siapakah yang menarik perhatian seorang Kira Yamato? Kalau Milly boleh menganalisa, Kira adalah sosok pemuda yang bisa dibilang mendekati sempurna. Ia cerdas, cool, alim. Sikapnya sopan. Lalu wajahnya juga terbilang tampan. Hanya karena dia ensiklopedia freak dan penyendiri saja, pemuda itu jadi terasingkan oleh pergaulan.

Sosok yang menarik perhatian Kira seharusnya memiliki karakter dan kecerdasan yang sama, bahkan melebihinya. Kira tak mungkin tertarik pada seseorang yang level kecerdasannya jauh di bawahnya apalagi Cagalli. Milly terus menerka siapa sosok yang bisa menyeimbangkan kecerdasan Kira? Fllay? Tak mungkin! Ia memang cerdas. Mereka juga sekelas. Tapi sikapnya angkuh. Kira tak mungkin menyukai gadis itu. Bagaimana dengan adik kelasnya, Meer, yang adalah sosok gadis populer di sekolah mereka? Tapi, tak mungkin juga Kira menyukai sosok ganjen dan overacting itu. Lagipula, ia tak cerdas.

Lalu, siapa? Siapa gadis yang berhasil meluluhkan hati es seorang Kira? Milly terus berusaha mencari jawabannya. Jangan-jangan gadis itu berasal dari sekolah lain. Kalau hal itu sampai terjadi, Milly akan kesulitan membantu kliennya, Cagalli, agar bisa bersaing dengan gadis itu.

Milly tak perlu bersusah payah memikirkannya lebih lama. Ia juga tak perlu memaksa Cagalli untuk bicara. Tepat pada jam istirahatlah, sang detektif Milly akhirnya mendapat titik terang. Di perpustakaan sekolah, ia menyaksikan dengan sang klien sosok gadis yang bisa menyinari Kira Yamato, membuat pemuda itu menjadi sosok yang amat berbeda.


Ditelusurinya buku-buku yang terderet rapi pada sebuah rak. Matanya menelusur judul, seirama dengan ujung jarinya yang bergerak menyentuh buku-buku.

Ruang perpustakaan adalah surga baginya. Tenang, nyaman, dan penuh buku. Ia bisa betah berjam-jam berada di situ, bergelut dengan berbagai jenis ensiklopedia serta buku mata pelajaran. Geografi, Sejarah, Matematika, Tata Bahasa. Buku-buku itu adalah jendela baginya untuk bisa mengenal hal-hal baru yang belum sempat ia saksikan dengan matanya sendiri.

Ia terhenti pada sebuah buku yang menurutnya menarik. Ensiklopedia tentang Rimba Raya. Buku itu dalam sekejap mengingatkannya pada sebuah cerita yang semalam ia baca. Kisah mengenai pangeran cilik. Kira pun mengambil buku itu lalu membolak-balik halaman demi halaman. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk membawa jilid tebal itu ke ruang baca.

Kira berjalan menunduk karena melihat isi ensiklopedia itu. Tanpa ia sadari, ada sosok yang hendak berpapasan dengannya. Gadis berambut pink itu juga tengah keluar dari salah satu lorong rak sambil membolak-balik halaman buku yang ia bawa. Mereka berdua melangkah berdampingan. Namun karena sama-sama menunduk, keduanya tak saling bertegur sapa. Padahal, mereka saling kenal.

Dua sosok itu hendak masuk ke ruang baca bersamaan. Saat itulah, mereka bersinggungan. Momen tabrakan itu membuat keduanya saling menyadari kehadiran masing-masing.

"Kira…" Gadis berambut pink memanggil duluan. Sang pemilik nama meringis untuk menutupi rasa kikuknya.

"Halo…"

Keduanya sama-sama terkekeh pelan. Terasa bodoh sekali. Mereka sampai tidak bertegur sapa karena terhanyut oleh dunia bacaan masing-masing.

"Kau...suka ke sini?" Tilik Kira ragu saat mereka berdua sudah menempati kursi di ruang baca. Lacus tersenyum lalu mengangguk.

"Tidak makan siang?" Kira bertanya lagi. Tapi, dalam sekejap ia menyesal kenapa menanyakan hal yang begitu pribadi pada sosok yang baru ia kenal.

"Kau sendiri?" Lacus bertanya balik. Kira agak menunduk saat menjawab.

"Kelas Cagalli ada tugas mendadak jadi aku tidak…"

"Oh biasanya kau makan dengannya ya?" Simpul Lacus. Kira hanya mengangguk singkat sambil bersemu. Lagi-lagi ia sudah bercerita hal yang pribadi.

"Kau belum makan?" Lacus berusaha melakukan kontak mata. Kira masih menunduk.

"Sudah. Aku beli roti di kafetaria,"

"Oh…" Gadis itu manggut-manggut

Keduanya saling diam. Kira semakin salah tingkah karena merasakan sosok di hadapannya itu tak lepas memandanginya. Ia membolak-balik ensiklopedia, berusaha fokus pada satu bacaan. Tetapi, jantungnya tak bisa berhenti berdegup.

"Ensiklopedia ya?" Lacus melirik bacaan Kira. Pemuda itu mengangguk cepat.

"Kau sendiri baca apa?" Kira gantian melirik ke buku bacaan gadis itu. Dari wujud dan covernya, terlihat seperti sebuah Novel.

"Ini," Lacus menunjukkannya terang-terangan. Kira jadi bisa melihat judul bukunya.

"The Little Women," Eja Kira. Lacus mengangguk cepat.

"Bagus loh…" Ungkap gadis itu dengan senyuman lebarnya. Kira hanya mengangguk, kembali menunduk.

"Aku...jarang baca buku fiksi,"Ungkap pemuda itu. Bola mata Lacus membulat. Ia manggut-manggut sambil menyentuh dagunya.

"Begitu," Gadis itu tetap bernada ceria. Ia pun kini membisu. Kira juga tak mengajaknya bicara. Hanya bisa menunduk, Kira menjadi seperti seseorang yang berusaha menghindari kilauan cahaya. Memang sangat terang, namun memukau. Kira ingin sekali bisa memandanganya mata dengan mata. Tapi, entah kenapa ia tak percaya diri.

"Hadiah kemarin…" Gumaman Kira berhasil memecah fokus Lacus. Gadis itu memalingkan wajahnya, menatap ramah sosok tertunduk di depannya.

"Terima kasih…"

"Ya…" Jawab Lacus. "Maaf mungkin tidak tepat. Aku kira kau suka membaca buku cerita…"

"Sudah...membacanya…" Kira segera memotong ucapan Lacus. Suaranya terdengar lebih lantang, membuat gadis itu mengerjap heran.

"Ceritanya menarik. Mengenai seorang pilot yang terdampar di gurun Sahara lalu bertemu dengan seorang anak kecil yang ternyata adalah seorang pangeran dari planet lain. Berupa sebuah asteroid kecil yang memilik tiga gunung berapi, setangkai mawar lalu beberapa benda lain…." Kira menyebutkan keseluruhan cerita dalam satu tarikan nafas. Entah kenapa ia bisa bertingkah seaneh ini di hadapan seseorang. Setelah sadar kalau penjelasan bertubi-tubi itu membuat Lacus heran, Kira langsung saja berhenti.

Keheningan menyeruak sesaat. Lacus mengerjap dan bergeming. Tak berapa lama, kikihannya menjadi respon dari sikap Kira. Pemuda di hadapannya langsung menunduk malu. Ia berulang kali mengutuki kebodohan ucapannya barusan.

"Aku sudah baca kok," Lacus mengganti tawanya dengan senyum lembut. Pancaran keindahan mata sang putri mampu membuat pipi Kira memanas. Ia mengangguk cepat.

"Maaf. Habis sejak tadi aku kepikiran terus pada cerita itu," Ungkap Kira. "Pertama kalinya aku tertarik pada sebuah kisah fiksi,"

Lacus masih memasang senyumnya "Memang menarik. Itu salah satu buku terkenal," Jelasnya. "Lagipula…" Bola mata Lacus bergerak dari sosok Kira ke langit-langit ruangan. Kuluman senyumnya tetap tak hilang, bahkan semakin melebar. Telunjuknya mengarah pada Kira, membuat pemuda itu heran seketika.

"Si pilot itu mirip denganmu," Sahut Lacus.

Kira menunujuk dirinya sendiri, tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar "Aku!?"

"Ya. Seseorang yang sudah mempelajari banyak hal. Tapi, ia tak bisa menikmati hidupnya," Penjelasan Lacus membuat mata Kira membulat. Ia tak menyangka kalau sang putri bisa begitu jujur membagikan pandangannya.

"Eh, tapi itu hanya menurutku saja. Maaf ya kalau tidak tepat," Lacus meringis saat menemukan air muka Kira jadi sedikit gelap. Kira hanya mengangguk pelan sambil tersenyum miring.

"Kalau begitu, kau mirip dengan si pangeran cilik," Balas Kira. Lacus tertawa karena menganggap ucapan itu hanyalah sebuah lelucon.

"Seseorang yang selalu ingin tahu. Dan bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda," Kira melanjutkan ucapannya. Kini giliran Lacus yang bergeming. Kedua mata Kira mulai berani menatap matanya. Manik ungu itu memancarkan keteguhan dan keindahan secara bersamaan.

"Jadi, kita bisa bertualang bersama, seperti halnya pilot dan pangeran itu?" Simpul Lacus. Kira mengangguk, menunjukkan senyuman yang tak ada kecanggungan lagi di dalamnya. Pemuda itu terlihat amat menawan dengan ekspresi seceria itu.

"Hoi! Kira!" Panggilan itu mengusik mereka. Kira dan Lacus menoleh hampir bersamaan. Mereka berdua menemukan Cagalli dan Milly tengah berdiri di depan ruang baca. Cagalli tak sampai masuk ke sana. Ia terlalu kaget menemukan teman masa kecilnya tengah menghabiskan waktu bersama gadis itu.


Milly tak menyangka kalau jam pelajaran Biologi akan menjadi momen tersialnya. Dimulai dari aktivitas praktikum. Saat para siswa sibuk dengan mikroskop untuk meneliti sel tumbuhan, Milly malah sibuk menjadi wartawan yang mewawancarai Cagalli. Kelompok mereka yang sama memudahkan Milly untuk terus mengulik masalah percintaan gadis itu.

"Jangan-jangan dia punya cewek lain yang dia sukai ya, Caga!?" Desak Milly. Cagalli hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya. Setelah itu, ia ikut membantu anggota lain menggambar sel itu.

"Nicol, gambarmu bagus ya. Aku kira kau cuma bisa main piano," Cagalli beralih menegur Nicol yang tengah bergelut dengan gambarnya. Pemuda kalem berambut hijau itu hanya tersenyum.

"Hei! Caga!" Merasa diabaikan, Milly memanggil gadis itu. Diguncangnya pundak Cagalli. Gadis itu tersentak.

"Milly! Stop!"

"Cagalli Hibiki! Mirialia Haww! Sudah selesai!?" Suara Natarle-sensei menggema dari depan kelas. Seketika, dua siswi itu merunduk takut.

"Kau sih!" Desis Cagalli sambil menatap Milly tajam. Gadis itu memanyunkan bibir.

"Ya kau juga overacting sampai teriak gitu," Milly membela diri. Cagalli langsung melotot.

"Hibiki! Haww!" Suara Natarle-sensei lebih lantang. Sang guru killer langsung mendatangi meja kelompok Cagalli. Raut wajah keduanya pucat seperti didatangi malaikat maut.

"Mana hasilnya!?" Natarle-sensei berkacak pinggang sambil melirik kertas praktikum dua anak muridnya. Kertas Cagalli masih berupa gambar setengah jadi yang buruknya melebihi gambar anak TK. Kertas Milly masih kosong melompong. Melihat hasil kerja dua cecunguk itu, Natarle-sensei semakin berang.

"Sampai kapan kalian mau mengacau di kelasku!?" Suasana praktikum langsung hening saat amarah sensei sensei meluap. Semua mata tertuju pada Cagalli dan Milly. Mereka seperti terdakwa di ruang sidang.

"Setelah jam ini selesai, bereskan semua alat praktikum lalu menghadap saya!" Putus sensei. Ia tak mau menceramahi keduanya pada jam pelajaran karena akan membuang waktu. Lebih baik pada jam istirahat saja.

"Baik. Sensei…" Jawab keduanya lemas. Natarle-sensei menilik singkat lalu meninggalkan mereka.

Setelah praktikum berakhir, keduanya mendapat jatah membereskan seluruh peralatan praktikum. Cagalli masih terlihat kesal sementara Milly hanya cemberut. Setelah menghadap Natarle-sensei pun, keduanya tak saling bicara.

"Caga, maaf," Milly memelas di belakang Cagalli. Walau gadis itu menyuruhnya untuk mninggalkannya, Milly tetap ngotot mengekori. Ia harus mendapat maaf dari teman baiknya.

"Caga…"

Cagalli berjalan memunggunginya tanpa merespon. Sambil menenteng bekal, ia menelusuri koridor. Kemungkinan besar, ia tengah mencari si belahan jiwa, Kira Yamato.

"Caga…" Nada suara Milly yang memelas membuat Caga tak bisa menyimpan kesalnya lebih lama. Ia menghela nafas lalu memalingkan mukanya. Terlihat ringisan Milly tertuju untuknya.

"Maaf,"

"Iya!" Sahut Cagalli ketus. Milly sontak memeluk gadis itu sampai-sampai ia gelagapan.

"Hentikan Milly!"

"Kau adalah sahabat terbaik yang paling baik pokoknya! Aku berjanji akan membantu masalah percintaanmu dengan Kira!"

"Sst…sudah Milly!" Sergah Cagalli. Semburat merah muncul di pipinya.

"Ayolah...kalau ada masalah cerita padaku. Kita kan teman,"

"Tidak ada…" Jawab Cagalli dingin. Milly menghela nafas.

"Kau jangan menanggung masalahmu sendirian. Kasihan loh dirimu sendiri,"

Cagalli hanya diam.

"Ngomong-ngomong kita mau ke mana? Mencari Kira?" Milly celingak-celinguk. Cagalli hanya mengangguk.

"Aku cemas. Kalau aku belum datan, dia tak akan makan siang,"

"Biasa kalian bertemu di mana?"

"Atap gedung,"

Keduanya menaiki tangga sampai tiba di atap gedung. Di lur dugaan, Kira tak berada di sana.

"Di mana ya?" Cagalli menggumam. Ia terlihat semakin kuatir.

"Di kelas,"

"Ayo!" Tanpa menunggu lama, Cagalli bergegas ke kelas Kira. Di sana, sosok itu juga tidak terlihat.

"Kafetaria!"

Mereka menyambangi kafetaria. Sosok Kira tetap tak ditemukan. Ke mana pemuda itu? Seolah Kira Yamato lenyap ke dimensi lain.

Satu ruangan lagi menjadi kemungkinan keberadaannya. Perpustakaan. Kira adalah pecinta buku dan ketenangan. Dua hal itu ditemukan di tempat tersebut.

Saat memasuki ruangan, Cagalli dan Milly harus memelankan suara. Mereka menelusuri lorong yang tercipta dari celah rak. Tak ada Kira di tempat itu. Milly pun inisiatif mengajak ke ruang baca. Kalau Kira tak ada di sana, mereka berencana akan meninggalkan perpustakaan dan mencari Kira di tempat lain.

Dari kejauhan, terlihat wujud Kira tengah duduk sambil berbicang dengan seseorang. Air mukanya berubah kaget saat menemukan sahabat baiknya tengah bersama seseorang yang ia kenal juga. Sayangnya, Cagalli tak pernah mengharapkan keduanya bersama-sama.

Milly merasakan perubahan sikap Cagalli. Dalam sekejap, ia sudah mendapat jawaban mengenai gadis yang menghalangi hubungan percintaan Cagalli dan Kira. Dia adalah si murid baru populer, Lacus Clyne.

Milly memegang lengan Cagalli, berusaha menahan kalau-kalau Cagalli berniat meninggalkan mereka. Mereka berdua mematung di ambang pintu, melihat dengan mata kepala sendiri momen mesra Kira dan gadis itu. Cagalli hanya menunduk, sementara Milly mulai panas. Ia tak mau melihat kedekatan keduanya lebih lama.


"Hoi Kira!" Milly-lah yang lebih dulu mengetuk kaca seraya memanggil Kira. Suara kerasnya membuat para penghuni ruangan menegurnya. Kira langsung menoleh, disusul oleh Lacus. Raut wajah Kira terlihat kaget menemukan Cagalli dan Milly ada di depan ruang baca.

"Ke mana saja kau!?" Hentak Milly. Ia maju lalu menarik lengan Cagalli. Sosok itu terlihat enggan untuk mendekat. Tapi, Milly memberinya semangat lewat sorot mata yang berapi-api.

'Pokoknya kita ganggu mereka!'

"Sst...jangan berisik," tegur Kira saat Cagalli dan Milly sudah menempati kursi di dekatnya dan Lacus. Cagalli duduk di samping Kira sedangkan Milly duduk di samping si gadis genit perusak hubungan.

"Hai," Sapa Lacus ramah. Ia tak terlihat canggung atau gugup. Milly melirik tajam sedangkan Cagalli masih menunduk.

"Kami mencarimu, tahu!" Tegur Milly. Kata-katanya terasa lebih tajam karena bercampur rasa kesal.

"Memang kau dan Cagalli ke mana? Aku menunggu di atap tapi kalian tak datang," Kira bertanya heran.

"Kami ada urusan dengan Natarle-sensei!" Jelas Milly cepat. Ia tak ingin mereka membahas itu lebih lanjut. Sebelum Kira merespon, gadis bawel itu sudah keburu menimpali.

"Cagalli juga mencemaskanmu! Lihat! Ia membawakan makan siang!" Ungkap Milly sambil memaksa Cagalli untuk memperlihatkan bekalnya. Gadis itu hanya berdecak sambil menatap Milly tajam.

'Jangan macam-macam!' Isyarat mata Cagalli menggambarkan peringatan itu. Milly balas melotot.

"Maaf, Caga sudah membuatmu cemss. Aku sudah makan, kok," Suara teduh Kira mengalihkan pandangan Cagalli. Gadis itu tersenyum lega sambil mengangguk.

"Kau sudah makan?" Kira bertanya. Cagalli hanya menggeleng. Pemuda itu pun bingung kenapa Cagalli mendadak bersikap kaku.

"Makan lah," Ujar Kira. Cagalli hanya tersenyum miring. Melihat sikap Cagalli, Milly semakin gemas.

"Cagalli hanya mau makan kalau bersamamu!" Sahut Milly sewot. Kira mengerjap heran lalu menatap sosok di sebelahnya.

"Kenapa?"

"T-tidak! Milly suka berlebihan," Bantah Cagalli. "Kalau kau sudah makan, ya sudah,"

"Tapi kau makan saja," Saran Kira. Cagalli menggeleng.

"Aku kenyang,"

"Sayang bekalnya tak dimakan,"

"Tak apa. Akan kumakan sepulang sekolah,"

"Oh ya sudah…"

Milly seperti akan meledak mendengar respon enteng dari Kira. Ia langsung menarik tangan Kira agar pemuda itu berdiri.

"Apa-apaan, Milly!?"

"Ayo! Kita makan bareng! Aku juga belum makan!" Milly memaksa. Cagalli berniat menghentikan ulah sahabatnya yang semakin keterlaluan.

"Mi-"

"Ayo Caga!" Milly beralih menatap Lacus, sosok yang sejak tadi hanya menjadi penonton perdebatan mereka. Tatapan tajam dari Milly tetap tak membuat gadis itu kikuk. Lacus selalu memasang raut ramah dan anggunnya, seperti halnya seorang putri raja.

"Maaf, kami pergi ya," Ujar Milly agak sinis. Lacus hanya tersenyum.

"Iya. Hmmm… boleh aku tahu namamu?"

"Milly,"

"Ya, Milly," Lacus tersenyum ramah. Melihat respon itu, Milly semakin kesal.

"Sampai jumpa!" Milly pamit sambil menarik Kira dan Cagalli. Mereka terlihat kewalahan digandeng oleh Milly. Tapi, entah dari mana tenaga Milly berasal, sampai ia kuat menyeret sejoli itu ke luar perpustakaan.

"Oke! Kita ke kafetaria ya!" Milly memutuskan sambil berkacak pinggang menghadapi dua temannya. Cagalli hanya mengurut kening sementara Kira menggaruk belakang kepalanya.

"Tapi, aku sudah…"

"Makan lagi ya, Kira! Temani Cagalli!" Milly mengancam. Kira berjengit takut lalu mengangguk cepat.

"Oke! Kita harus bergegas sebelum jam istiraht selesai!" Ucap Milly ceria. Ia berjalan duluan sementara Kira dan Cagalli mengikutinya dari belakang. Sepanjang jalan, Cagalli seolah enggam mengajak bicara Kira. Kalau boleh jujur, ia sebenarnya merasa kesal melihat kedekatan antara Kira dan gadis itu.

Lalu, kenyataan kalau mereka akan menjadi saudara semakin membuat hati Cagalli terluka. Mungkin saja, ia bukanlah sosok yang cocok mendampingi seorang Kira Yamato.