I'm Not Your Heart Choice by Ungu
Hari kedua rombongan mahasiswa Universitas Tokyo mengunjungi tempat awal sejarah samurai. Distrik Higashiyama masih memiliki tampilan era samurai. Dengan toko mie dan teh tradisional di dalam bangunan pedagang kayu kuno yang disebut Machiya.
"Kalian juga dapat menjelajahi vila pensiunan shogun yang berkuasa di Paviliun Emas." Naraku berada di depan rombongan itu sambil menjelaskan sejarah jaman feodal.
Kagome berada di tengah mahasiswa, tepatnya tidak jauh dari Naraku, dia memasang telinga dan terus menyimak. Sesekali dia mencatat apa yang diterangkan oleh Naraku di buku catatannya. Walau pikirannya entah kemana, masih terbayang jelas malam tadi kakak beradik itu bertengkar. Dulu waktu dia masih SMA pacaran sama Inuyasha, pemuda itu sama sekali tidak pernah membicarakan keluarganya. Terlebih kakak tirinya.
'Ada apa dengan mereka ya?' benak gadis itu.
"Kuil Gokoku juga menyimpan kuburan 300 prajurit yang tewas dalam pertempuran untuk memulihkan pemerintahan kekaisaran. Setelah dari Museum Samurai dan Ninja, kita akan ke Ryozen Gokoku." Kemudian Naraku menyuruh mahasiswa nya mengelilingi distrik lalu ke museum.
Kagome membalikkan halaman berikutnya. Gadis itu membetulkan lengan kaus putihnya. Cuaca agak panas. Dia mengipaskan dengan tangan kanan. Alisnya terangkat, seseorang menyerahkan kipas bulat berwarna putih polos. Ketika menoleh ke samping, wanita bermanik merah ruby menatapnya.
"Untukku?" Tanya Kagome.
"Oh kau rupanya. waktu aku terjatuh kau tidak mau menolongku." Wanita bernama Kagura menyunggingkan senyum sinis atau angkuh.
Ah dia bernama Kagura, ya? Memangnya apa hubungannya dia dengan Sesshoumaru?
"Hei, kau mau atau tidak?"
"Mau, terima kasih, Miss Kagura, "Kagome membungkuk.
"Heuu, itu bukan dariku."
"Hah?"
"Darinya." Mata Kagura mengerling ke belakang. Diikuti oleh Kagome.
Gadis yang memakai ransel kuning terua mencari sosok siapa yang menitipkan kipas ke Kagura. Pemilik manik biru laut menangkap sosok tegap sedang mengobrol dengan Miroku dan Totosai. Ketiga pria itu berada di belakang.
Mata Kagome membulat, dia kepergok oleh Sesshoumaru yang sedang menatapnya. Lalu, kemana Inuyasha?
"Kagome!"
Kagome menoleh. "Ya?"
"Sini," ajak Sango melambaikan tangannya.
"Oke, aku ke sana."
Sementara gadis manis itu masuk ke museum, manik emas Sesshoumaru tak bisa lepas menatap punggung Kagome. Kemana perempuan itu melangkah dia pasti ada di belakang walau agak berjauhan.
"Malam tadi ada Inuyasha ya?" Tanya Totosai. Tangannya mengusap jenggot putihnya.
"Hn."
"Kenapa dia di sini?" Tanya Miroku penasaran. Apa ada kenalannya?"
Sesshoumaru tidak bergeming. Tidak pula mau menjawab. Malam tadi sangat membuatnya kesal. Rasa tidak senang terhadap Inuyasha semakin menjadi-jadi. Adik tirinya mulai mendekati Kagome nya.
Di dalam museum rombongan Todai berjalan dengan tertib. Tidak diperbolehkan berisik ataupun berlari kesana kemari. Bila ingin mengambil foto diusahakan seadanya saja. Dikhawatirkan akan terkena benda antik dan pecah berserakan di lantai. Naraku sudah memperingatkan jangan buat malu almamater Todai.
Puas berkeliling, mereka pun melanjutkan ke Kuil Gokoku. Kuil yang tidak jauh dari museum. Jalan kaki saja sudah cukup.
"Kita ke sini untuk menghormati para pahlawan Jepang, terutama dari periode periode Bakumatsu dan Restorasi Meiji."
Naraku melanjutkan lisannya. "Yang paling terkenal adalah Sakamoto Ryōma dan rekannya Nakaoka Shintarō, yang dimakamkan berdampingan di dalam kuil. 300 samurai dimakamkan di sini."
Kagome melirik kuburan yang ditunjuk oleh Naraku. Gadis itu berdoa agar para samurai tenang di alam sana.
Gadis itu tidak sadar, tiap gerak geriknya diperhatikan pria berambut silver. (Seperti detektif saja ya dia).
"Di dalam kuil ada monumen untuk mengenang ahli hukum Bengali Radhabinod Pal." Naraku menengok ke belakang agar rombongannya memasuki museum.
Di dalam bis setelah makan siang dengan sekotak bento dari panitia, Kagome dan Sango asyik melihat foto dari ponsel. Dua gadis itu cekikikan melihat pose aneh dari teman-temannya. Ayame dan yang lain penasaran ikut mengerubuni mereka. Tawa membahana menatap gaya Ginta sedang menelungkup. Ngapain dah.
"Kagome."
Gadis itu menoleh. Maniknya membulat siapa yang berdiri di ujung pintu bis. Yang lain pun ikut memandang objek sedang menatap Kagome. Pemuda itu dapat mendengar kasak kusuk nada tidak suka dari teman-teman gadis itu.
"Ada apa lagi?" Tanya gadis kuil itu dingin.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Bicaralah."
"Aku ingin bicara 'berdua' saja." Berharap Kagome mau mendengar permohonannya.
Kagome masih diam.
"Please ..." Pinta Inuyasha.
Hati Kagome masih bimbang. Dia tahu sekali kakak tiri Inuyasha sedang mengawasinya jarak jauh. Itu pun dia dapat info dari Sango. Tadi pun juga begitu. Sepasang manik emas tajam menatapnya.
Kagome menoleh kepada Sango meminta persetujuan. Sango mengangguk. "Pikirkan lagi kata-kataku tempo hari."
Kagome mengangguk. "Baiklah."
Kini mereka berdua duduk di bangku pelataran kuil. Kagome sengaja memilih tempat ramai. Inuyasha membuka suara. "Kagome, sejak kapan kau mengenal 'dia'?"
"Sudah lama."
"Kau mengenalnya setelah kita putus kan?" Desak Inuyasha.
Kagome mengangguk. "Iya."
Perlahan Inuyasha menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Kagome. Lagi-lagi pemuda itu kecewa, Kagome menolak dan malah menggeser duduk nya hampir di ujung bangku.
"Kagome."
"Ya?" Kagome menggemgam kedua tangannya erat.
"Sepertinya aku memang bukan pilihan hatimu, ya?"
Kagome mengangguk.
"Aku yang salah. Kau pantas marah dan benci padaku." Setitik ada kesedihan keluar dari mulut Inuyasha.
"Maafkan aku."
"Aku sudah memaafkanmu, Inuyasha. " Entah kenapa hati Kagome jadi lega. "Aku harap kau bahagia bersama Kikyo. Kalian memang cocok," puji Kagome tulus.
"Kagome ..."
"Kita selalu bertengkar. Aku lelah dan capek. Terlebih kau menduakanku dan melihatmu berciuman." Kagome mengambil jeda untuk bernapas. "Tapi aku sadar, kita memang tidak cocok, Inuyasha. Lebih baik berteman saja."
Apa yang di dalam pikiran Kagome ditumpahkan semuanya. Dia ingin semua jelas dan selesai agar pemuda itu tidak mengejarnya lagi. Dalam hati gadis itu lega luar biasa.
"Yah, mungkin sudah takdirnya kau dan aku tidak mungkin bersatu."
Kagome tersenyum. "Ya. Percuma juga jikapun hubungan ini dilanjutkan akan jadi tidak sehat. Itu yang aku rasakan waktu kita masih bersama."
Inuyasha menatap lekat manik biru laut mantannya. Merenungkan apa yang Kagome ucapkan adalah benar. Memang betul, mereka sering bertengkar. Entah berapa kali dia selalu membuat gadis itu menangis karena ulahnya. Inuyasha masih sering menemui Kikyo ketika bersama kagome.
Inuyasha memang bermaksud menyusul Kagome sampai ke Kyoto, dikarenakan Kagome tidak bisa dihubungi. Dia tahu nomernya sudah di block. Walau pemuda itu beda fakultas dan jurusan semester dua, dia tahu dari informasi dari si 'Bocah Tengik' Koga. Sengaja memang sengaja dia membuat Sesshoumaru marah, ingin tahu apakah kakak tirinya mencintai Kagome atau tidak.
Nyatanya iya!
Pria berwajah dingin itu mana mau terang-terangan menunjukkan kecemburuan di depan umum. Tipikal Sesshoumaru emang.
Gengsi? Bisa.
Malu? Enggak mungkin.
Cemburu? Nah, ini nih sudah sangat jelas.
Inuyasha punya maksud, dia ingin melihat seberapa cinta atau sayangkah Kagome terhadap dirinya. Namun, nihil. Gadis berwajah manis itu sudah tidak menyayangi nya lagi.
Mungkin, memang lebih baik begitu. Jika itu memang dirinya maunya begitu, maka ini adalah pertemuan terakhir atau bisa jadi akan berjumpa kembali.
"Jangan pernah mengatai Sesshoumaru itu 'brengsek'. Aku tidak suka, Inuyasha."
"Keh!"
"Hei, berjanjilah!"
"Aku enggak janji."
Tidak jauh dari tempat Inuyasha dan Kagome duduk, dibalik kemudi mobil hitam S-Class duduk seorang pria tampan dengan ambernya yang tajam. Sedangkan di sebelahnya Pak Tua Totosai sedang menerima telepon.
Mata pria Inu Taisho itu mendengar dengan sangat jelas apa yang diucapkan Kagome kepada Inuyasha. Dalam hati terdalam dia merasa lega, gadis yang diidamkan menolak balikan dengan adik tirinya yang enggak tahu diri.
Kini, dia merasa lemah karena Kagome belum juga membalas perasaannya tempo hari. Apakah gadis cantik itu akan peka? Apa harus dipertegas lagi supaya Mengerti?
Miroku pernah bilang padanya, wanita itu ingin dimengerti. Ya, jika perempuan tidak menerima lebih baik hidup tanpa cinta.
Dulu, urusan cinta membuatnya terganggu. Makanya Sesshoumaru betah menjomblo. Sekarang tidak lagi. Sejak gadis itu datang terlambat dengan sisir masih menyangkut di kepalanya, ditambah sifatnya yang cuek apa adanya. Hal itulah yang membuat pria dingin ini mulai mencair hatinya.
Sesshoumaru harus sabar menunggu mendapat balasan cinta dari Kagome.
"Sesshoumaru."
Pria itu mengerling. "Apa, Pak Tua?"
Totosai menunjuk dua muda mudi di bangku pelataran parkir. "Kau baik-baik saja?"
Sesshoumaru tetap diam. Wajahnya mengeras. Ngapain kesana? Menggelikan! Tapi tangannya meremas kemudi setir.
Totosai tersenyum geli. Ah, Sesshoumaru gengsinya tinggi. Dasar!
"Apa yang kau tertawakan?" Kedua alisnya bertemu di tengah memandang Totosai dengan sorot mata tajam.
"Ahahaha tidak. Kapan kalian akan akur sih?" Totosai tergelak ramai.
'Kalian'?
"Jangan samakan aku dengannya." Suara Sesshoumaru makin berat.
Totosai menggeleng. "Tidak. Kau berbeda dengannya."
"Hn."
Rombongan mahasiswa Universitas Tokyo mengerang bahwa acara Study Tour sudah berakhir. Besok pagi-pagi sekali sudah pulang. Kagome tidak berada dalam rombongan Sango dan kawan-kawan. Pak Naraku tadi menghampirinya untuk membahas materi ujian mereka nanti. Tentu saja Sesshoumaru ada di samping gadis itu.
Dan jadilah Kagome masih di Kyoto untuk melakukan tugas yang bejibun banyaknya. Dia memeriksa catatan di agendanya. Lumayan banyak juga, keluhnya dalam hati.
TBC
*Aku Bukan Pilihan Hatimu by Ungu*. Jadi aku translate in seperti itu wekekee.
Teruntuk AmetoAi makasih banyaaakk sudah vote dan komen. Terharu krn Ame sangat menunggu cerita ini yang yah belum ada manis-manisnya. Masih asin asem kyk nano nano.
Teruntuk yang vote makasih banyak banget. Sesekali komen la aku mah feel free kok ngobrol ayuk aja.
Selingan ibu dan anak:
Inukimi misuh-misuh di dalam kamar.
Sesshoumaru: "Kenapa, Bu?"
Inukimi: "Kapan ibumu ini tampil?"
Sesshoumaru: "Kapan-kapan."
Inukimi: "Anakku emang jahara, huhuhu".
Sesshoumaru hanya menatap datar sang ibu pura-pura menangis.
Nantikan Bab 14 selanjutnya bakal ada yang manis-manis seperti gulali.
Arigatou gozaimasu! *Bow*
