.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Chapter 6

Organ Buatan (Bagian 1)

.

.

.

Naruto Point of View (POV)

Organ buatan telah selesai aku buat.

Aku khawatir tentang kemungkinan Piña tiba-tiba bangun di tengah malam untuk buang air kecil, jadi aku bergegas menyelesaikannya sambil memikirkan itu.

Sejujurnya, aku tidak akan bisa membuat ini jika bukan karena kotak peralatan yang sepertinya digunakan untuk perbaikan kereta-kuda. Nah, organ buatan ini tidak akan sempurna jika salah satu bahan baku pentingnya tidak tersedia.

Aku sangat percaya diri dengan organ buatan ini. Meskipun begitu, Wise lah yang sebenarnya mendesain benda ini dan membimbingku dengan ketelitian yang ekstrim untuk menyelesaikannya.

Secara keseluruhan, desainnya cukup sederhana dan bahan baku yang digunakan pun terdiri dari penyangga kereta-kuda, cangkir logam berukuran besar dan ramping, kekang kuda serta dongkrak berukuran kecil yang kuambil dari kotak peralatan yang kutemukan sebelumnya.

Penyangga kereta-kuda berbentuk seperti tanda 'kurang dari' untuk mengurangi goncangan, dengan bagian atasnya mencuat ke atas untuk dipasangkan dengan kereta.

Juga, kekerasannya cukup mengagumkan. Seimbang antara ketahanan serta fleksibilitasnya.

Nanom-machine yang ada di dalam tubuhku tidak bisa mengidentifikasi material ini. Aku menduga bahwa ini merupakan bagian dari tubuh makhluk hidup yang tidak dikenal.

Cangkir metalnya juga menyerupai bentuk gelas alkohol dan diameternya semakin membesar dari bawah hingga ke atas. Mulutnya cukup besar untuk betis Piña.

Aku sudah memastikan ketebalan betis Piña dengan cara men-zoom dari jarak jauh.

Aku memotong bagian-bagian yang tidak dibutuhkan dan lalu menyambungkannya dengan penyangga menggunakan pistol laserku.

Yang menjadi kunci adalah sudutnya. Berat badan Piña dihitung oleh nano-machine bersamaan dengan berat komponen lain yang akan ditahan oleh penyangga itu. Untuk memungkinkannya, bentuk 'kurang dari' harus dipasang secara vertikal.

Aku dengan hati-hati mengukir ujung penyangga yang akan terhubung dengan dongkrak, membentuk lingkaran dengan pisauku hingga mencapai sudut yang pas.

Setelah itu, organ buatan ini bisa dianggap selesai setelah menyambungkan penyangga ke dongkrak. Ini juga dilengkapi oleh sabuk kekang kuda untuk menyesuaikannya dengan tungkai kaki Piña agar tidak mudah lepas nantinya.

Kaki palsu ini didesain khusus agar tungkai Piña bisa masuk ke dalam wadah dan mengencangkannya dengan sabuk kulit. Fungsi utamanya yaitu mampu menyesuaikan ketinggian secara bebas melalui penggunaan dongkrak.

Oh sial, aku terlalu keasyikan lagi. Sekarang hampir pagi. Selagi berpikir apakah aku harus membangunkan Piña atau tidak, dia malah bangun sendiri.

Mulai sekarang, ini adalah perlombaan dengan waktu.

Piña POV

Saat aku bangun pagi harinya, aku perhatikan bahwa Sir Osbern sudah bangun. Dia bergegas ke arahku dan dengan semangat menunjukkan padaku sesuatu yang aneh.

Sepertinya ada bagian dari cangkir upacara yang terpasang pada benda itu, namun aku tidak mengenali sisanya. Dia berusaha menjelaskan kegunaannya padaku dengan cara berbicara, tapi tentu saja aku tidak bisa paham dengan apa yang dia ucapkan.

Aku terkejut ketika dia tiba-tiba menggendongku dengan tangannya.

Sir Osbern lalu mendudukkanku di atas sebuah kotak kayu. Dia membalut ujung kakiku yang putus dengan kain bersih yang sudah disiapkan olehnya. Aku tidak mengerti apa tujuan dia melakukan ini.

Setelah itu, dia mengambil alat yang sebelumnya kuanggap aneh dan kemudian memasangkannya ke ujung kakiku yang putus. Dia memiringkan kepalanya dan membalutkan potongan kain lagi di sekitar tungkaiku sambil menggumamkan sesuatu sebelum coba memasangkan kembali alat itu ke kakiku yang putus. Dia nampak puas kali ini dan mulai mengencangkan bagian di bawah lututku ke alat itu menggunakan sabuk kulit.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia memegang tangan kananku dan membuat isyarat untuk menyuruhku berdiri.

Mungkinkah?!

Dia memegang kedua pundakku dan memaksaku untuk berdiri. Jantungku berdegup kencang. Tidak, apakah mungkin?!

Setelah memperhatikan seluruh tubuhku, dia membuatku duduk lagi. Dia mulai menyesuaikan alat itu sekali lagi sambil bergumam. Jantungku terus berdegup kencang. Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.

Dia membuatku berdiri lagi dan mengamatiku. Kali ini dia nampak puas.

Dengan hati-hati dia menahan pundakku. Aku perlahan berjalan ke depan dengan langkah yang tidak nyaman. Aku tidak terbiasa dengan sensasi aneh ini, namun Sir Osbern tetap membimbingku.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah.

Sensasi yang kurasakan ketika berat tubuhku tertahan oleh alat ini terasa aneh.

Aku terus melangkah.

Ini tidak mungkin terjadi. Aku merasa seolah sedang bermimpi.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Sir Osbern melepaskan pundakku lalu memegang tanganku.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Aku merasa seperti sedang berlatih menari.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Sir Osbern sekarang melepaskan tanganku. Dia kemudian berjalan di sebelahku.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Sir Osbern lalu berhenti di tempat.

Aku mulai berjalan di sekitar Sir Osbern tanpa dibimbing.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Tanpa sadar, aku mulai menangis.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

"Ah! Ahahaha! Ini sangat menakjubkan, Tuan Osbern!"

Aku tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan.

Aku melangkah, lagi dan lagi.

Aku sudah berjalan sendiri tanpa dibimbing olehnya selama sekitar sepuluh menit. Aku sedikit terhuyung-huyung ketika akhirnya berhenti, namum pada akhirnya aku berhasil menyeimbangkan diriku.

"Tuan Osbern! Ini sangat menakjubkan! Saya masih belum percaya anda bisa membuat hal sehebat ini!"

Tentu saja, Sir Osbern masih belum bisa memahami kata-kataku. Namun dia memberiku senyum lembut sebagai balasan bahwa dia juga merasa senang sama sepertiku.

Aku masih ingin mengungkapkan rasa bahagiaku padanya. Namun tiba-tiba, aku merasakan adanya dorongan tak terbantahkan yang muncul di kemaluanku.

Jika aku diam saja, aku tidak akan bisa terus berjalan dengan bebas seperti saat ini.

Tapi bagaimana caranya agar dia bisa mengerti?

Sejenak aku berpikir dan mengacungkan jariku ke arah hutan terdekat. Selanjutnya aku menunjuk diriku sendiri kemudian kembali mengacungkan jariku ke arah hutan. Akankah dia memahami maksudku?

Sir Osbern mengangguk sambil menekuk jari jempol dan jari telunjuknya hingga membentuk sebuah lingkaran. Setelah memberiku isyarat untuk menunggu, dia mengambil benda yang nampaknya sebuah tongkat kayu dan bergegas ke arah hutan dengan momentum luar biasa.

Sekitar satu menit kemudian, dia lalu kembali dan mengangguk sekali lagi sambil melingkarkan jari-jarinya sama seperti sebelumnya. Kemungkinan dia pergi untuk mengintai area sekitar. Sir Osbern kemudian duduk dan menyatakan maksudnya untuk tetap tinggal.

Aku membawa tas berisi perlengkapan mandi bersamaku dan pergi ke arah hutan sambil tersipu malu.

Setelah selesai buang air kecil, aku kembali ke tempat Sir Osbern. Dia mengungkapkan maksudnya untuk tidur setelah ini.

Seperti yang kuduga, alat ini tentunya tidak akan bisa dibuat hanya dalam waktu beberapa menit. Sepertinya dia membuat benda ini dengan bergadang semalaman.

Awalnya dia lebih memilih untuk tidur di tanah, namun aku memaksanya untuk tidur di atas selimut. Lagipula ini memang kepunyaan Sir Osbern sejak awal. Aku tidak boleh serakah kepada penyelamatku sendiri.

Bagiku, Sir Osbern adalah teladan bagi setiap bangsawan. Dia bijaksana, baik hati, memiliki kecerdasan dan kekuatan.

Ya, dia kuat. Aku masih di tengah-tengah kebingungan kemarin jadi aku tidak memperhatikannya. Tapi baik aku dan Agnes, kami berdua dikalahkan oleh kawanan Gray Hound sebelum Sir Osbern datang dan menyelamatkan kami.

... Andaikan saja waktu itu aku tetap memakai pelindung lengan dan kaki ketika ingin buang air kecil, aku mungkin tidak akan kehilangan anggota tubuhku seperti sekarang.

Meskipun begitu, jika aku memakai pelindung lengan dan kakiku, leherku kemungkinan besar akan terkoyak sama seperti yang lainnya.

Hah...

Memikirkan hal seperti itu sekarang sudah tidak ada gunanya lagi.

Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam bahkan setelah mencoba untuk berbaring. Aku memikirkan banyak hal – kematian teman-temanku, pengorbanan yang kulakukan sampai sekarang, kecemasan atas kewajiban yang harus kupenuhi apapun yang terjadi, kehilangan bagian tubuhku dan masa depanku sebagai orang cacat.

Aku sendirian. Memangnya siapa yang akan mengikuti seseorang yang bahkan tidak mampu berjalan? Aku memikirkan hal-hal itu sampai aku tidak bisa tidur.

Namun, dengan "kaki" baruku ini, aku masih bisa melangkah. Aku mungkin akan cacat seumur hidup, namun aku masih bisa melakukan yang terbaik sebagai gantinya.

Kemarin adalah hari terburukku sepanjang hidupku. Namun, aku juga diberkahi oleh Dewi karena bisa bertemu dengan Sir Osbern. Meskipun aku belum bisa berterima kasih padanya sebagai balasan.

Aku harus melanjutkan perjalananku segera setelah Sir Osbern bangun. Aku akan bersiap-siap untuk itu.

Aku penasaran, akankah Sir Osbern bersedia untuk menemaniku nanti?