Hai-hai!
Welcome back for me! hehe. Enjoy!
Sorry for typo-
Cameo list!
(BTS) Kim Seokjin;
(GOT7) Park Jinyoung;
(Monsta X) Lee Minhyuk;
(NU'EST) Kang Dongho;
(BToB) Yook Sungjae
.
.
The 2nd Meeting
Chapter 14
.
.
Kim Taehyung, teman masa kecil Chanyeol. Ia adalah pria dengan segala ambisi untuk bisa menyaingi Chanyeol. Sewaktu kecil, dimatanya, Park Chanyeol adalah anak yang beruntung karena mendapatkan banyak perhatian serta keinginannya selalu terpenuh. Tidak seperti dirinya yang memiliki banyak saudara hingga perhatiannya dibagi. Awalnya ia sangat senang memiliki teman seperti Chanyeol, anak itu selalu memberinya perhatian yang bahkan tidak didapatkan lebih dari orangtua dan saudara-sudaranya. Di keluarganya, Taehyung masih dianggap sebagai anak kecil yang sering dilarang. Bahkan sampai sekarang ia masih merasa di remehkan oleh keluarganya. Hanya karena ia memegang perusahaan cabang yang tidak cukup besar, ia seperti diasingkan. Begitu pikirnya.
Waktu terus berjalan, rupanya kebaikan Chanyeol membuat Taehyung besar kepala. Ia semakin menipiskan jarak antara keduanya. Bahkan, ia sudah melewati batas antara miliknya dan hak milik seorang Chanyeol.
Kini, pria berusia 30 tahun itu tidak berubah sama sekali. Bahkan ambisinya menjadi-jadi saat Chanyeol menduduki kursi tertinggi di perusahaan, sedangkan ia bukanlah apa-apa bagi keluarganya. Saat ini ia sedang duduk di sofa sambil memandangi layar ponselnya, ia baru saja mengirimkan pesan ke seseorang. Notifikasi pesan masuk, ia segera membukanya.
(Mine) Nuguseyo?
Taehyung tersenyum lalu mengetikkan balasan.
(Taehyung) Aku Kim Tae Hyung :(
(Taehyung) Apa kita bisa bertemu? Bagaimanapun kau pernah menyelamatkanku, aku hanya ingin berterimakasih.
Klung.
(Mine) Gwaenchanhayo, Taehyung-ssi… aku senang bisa membantu
"Dia menolakku…?" gumamnya. "Entah kenapa wanita ini menjadi menarik…"
(Taehyung) Selama ini aku sudah mencarimu. Apa tidak bisa? Aku benar-benar ingin berterima kasih dengan benar. Ayolah :(
Tidak ada balasan, hal itu membuat Taehyung menghubungi Baekhyun secara langsung. Namun, wanita itu menolak panggilannya. Taehyung menatap layar ponselnya "semakin kau menolak, semakin aku tertarik padamu…"
Klung.
Satu pesan masuk, setelah membacanya, bibir Taehyung tak bisa berhenti tersenyum. "Aku mendapatkanmu."
..
..
Setelah berhasil mengajak Baekhyun bertemu, Taehyung segera melanjutkan rencananya. Ia memesan tempat di restoran terbaik dan memilik tempat yang mencolok. Ia datang satu jam sebelum waktu janjian. Setelah sampai, ia segera masuk dan memastikan segara yang sudah ia persiapkan tidak ada yang terlewat. Sebenarnya ia bisa saja memesan ruang pribadi, namun ia lebih suka jika menjadi pusat perhatian, apalagi itu salah satu rencananya.
Sebagai sentuhan terakhir, ia memanggil pelayan dan membisikkan sesuatu. Setelah pelayan itu mengangguk, ia memberikan papper bag berisi dress yang ia beli sebelumnya. "Pastikan kau melakukannya dengan benar," ucapnya pada pelayan wanita itu.
"Ne, Tuan." Angguk si pelayan.
Taehyung mengecek jam tangannya, "baiklah… sepertinya sebentar lagi dia akan sampai."
Benar saja, tak berapa lama kemudian, wanita yang ditunggunya sudah sampai dan sedang diantar. Taehyung bertopang dagu sambil memandangi wanita yang akan datang padanya, "lihatlah, pilihan temanku itu memang tidak pernah salah. Namun sayang sekali segalanya harus beralih padaku…" gumamnya.
"Kau sudah datang?" Taehyung memberikan senyum terbaiknya lalu beralih ke kursi lainnya dan menariknya untuk Baekhyun.
"Terima kasih."
Taehyung tersenyum lalu kembali ke kursinya. "Kita pesan sekarang?"
Bekhyun tersenyum tipis, "boleh."
Di tengah waktu makan mereka dengan berbagai perbincangan, Taehyung meminta pelayan untuk menyuguhkan wine. Pelayan yang ia titipkan papper bag tadi mendekat membawa pesanannya.
"Ah!"
Taehyung tersenyum tipis, rencananya masih berjalan cukup mulus. "Baekhyun-ssi, gwaenchanhayo?" tanya Taehyung panik.
"Ma-maafkan saya Nona." Pelayan itu membungkuk berkali-kali.
"Gwae-gwaenchanhayo,"
"Kami ada pakaian ganti, apa Nona mau menggantinya?" tanya pelayan tersebut.
Baekhyun menggeleng, "sepertinya tidak perlu, aku akan membersihkannya–"
"–Baekhyun-ssi, sebaiknya kau ganti saja. Bukankah tidak nyaman memakai pakaian basah dan bernoda begitu?" Taehyung angkat bicara.
Baekhyun menatap Taehyung agak ragu, "ba-baiklah, aku akan ganti sebentar." Putusnya.
Beberapa menit kemudian Baekhyun kembali. Lagi-lagi Taehyung tidak habis pikir dengan kecantikan penyelamatnya itu."Wow, Baekhyun-ssi… kau terlihat cantik. Aniyo, mengenakan apapun kau memang sangat cantik." Komentar Taehyung.
Baekhyun tersenyum canggung, "entah kenapa mereka memiliki baju ini–"
"–pilihanku memang tidak salah, bukan? Aku hanya meminta pelayan untuk membelikan pakaian itu."
"Ah, itulah kenapa mereka cukup lama tadi."
"Kau suka?" tanya Taehyung.
"Lain kali jangan seperti ini, Taehyung-ssi."
Taehyung bertopang dagu sambil menatap Baekhyun lembut, "aku hanya suka memanjakan wanita yang aku anggap spesial…"
"Kim Taehyung!" Suara seorang pria menginterupsi keheningan aneh diantara keduanya. Pria yang menyapa itu terlihat terkejut, "kau– astaga! Kapan kau kembali?" pria asing itu mendekat dan Taehyung berdiri.
Taehyung menoleh ke sumber suara. Pemeran lain yang sesuai dengan prediksinya sudah datang. Kim Seokjin, ia adalah teman semasa sekolahnya dengan Chanyeol. Tentu saja Seokjin adalah pria beruntung seperti Chanyeol. Ia tentu tahu kalau hari ini Chanyeol ada pertemuan dengan para rekan kerjanya, Kim Seokjin masuk dalam lingkaran itu. Ia juga tahu bahwa Seokjin akan pulang lebih dahulu.
"Kim Seokjin! Sudah lama tidak bertemu!" Keduanya terlihat saling bersalaman.
"Wow, kau bersama… nugu? Kekasihmu? Atau… tunanganmu?" tanya pria bernama Seokjin itu sambil menatap Baekhyun.
Taehyung berdiri di samping Baekhyun, "wae? Kami terlihat serasi?"
Seokjin terlihat memincingkan matanya, "hmm… wanitamu terlalu sempurna. Seperti pilihanmu."
Taehyung merangkulkan tangan lancangnya pada bahu Baekhyun, "terima kasih kalau begitu."
"Kalau begitu aku harus pergi, sampai jumpa…" Seokjin pun meninggalkan keduanya.
"Kim Taehyung-ssi. Apa-apaan itu?"
"Mianhaeyo, apa kau terlalu lancang? Aku biasa bercanda dengannya, jangan khawatir. Tapi, aku akan senang jika benar kau adalah wanitaku."
"Maaf, sepertinya Anda sudah lupa jika saya sudah memiliki kekasih. Untuk pakaian ini, aku akan membayarnya jadi tolong kirimkan rekening Anda. Permisi."
Taehyung meraih tangan Baekhyun dan menahannya. "Baekhyun-ssi, aku serius. Aku memang menyukaimu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu, saat kau menyelamatkanku." Ucap Taehyung.
Baekhyun menoleh pada pria itu, "maaf tapi aku tidak bisa."
"Apa kau benar-benar serius pada Chanyeol?"
"Apa aku perlu menjawabnya untumu?" Baekhyun menghempas tangan Taehyung dan melangkah pergi.
'Sial! Rencanaku belum sepenuhnya berjalan!' Umpatnya dalam hati. Entah bagaimana, sepertinya dewi fortuna berpihak padanya, ia melihat Chanyeol keluar dari ruang VIP dan menuju ke arahnya. Segera, ia mengejar Baekhyun dan merangkulkan tangannya melingkar di bahu Baekhyun, memeluk wanita itu dari belakang. "Mari kita buktikan sifat asli kekasihmu tercinta…" bisiknya.
"Baekhyun-ah…"
'Luckyy…' Taehyung tersenyum menang dalam hati,
"Cha-Chan…yeol–"
..
..
[VIP Room Restaurant]
"Baiklah, mari kita akhiri rapat kali ini. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu di hari libur kalian." Ucap Chanyeol kepada beberapa orang yang hadir. Kini suasana kaku telah berubah menjadi lebih santai.
"Kita lanjut makan siang?" tawar temannya –Park Jinyoung.
Chanyeol mengangguk, "boleh, di sini? Atau tempat lain?"
"Tempat lain saja, aku bosan makanan di sini. Tempat biasa, eotte?" Usul yang lain –Lee Minhyuk.
Chanyeol terkekeh, "kau bosan yang di sini, tapi ingin ke tempat biasa. Bilang saja jika ingin minum!" Yang di sindir hanya tertawa.
"Call!" Sahut yang lainnya. Akhirnya merekapun menyetujuinya.
"Yedeura, aku tidak bisa ikut kali ini. Aku masih harus menemui klien," ucap Kim Seokjin.
Jinyoung mengangguk, "teman kita satu ini benar-benar sibuk, begitu kan?"
"Tentu saja…" Seokjin merapikan pinggiran rambutnya dengan telapak tangannya. "…aku sibuk." Balasnya sambil tersenyum datar. Setelah itu ia keluar dari ruangan. Teman mereka satu itu memang memiliki kepercayaan tinggi hingga yang lain terpingkal melihat tingkahnya.
Sambil membereskan berkas-berkas dan bersiap-siap pergi, seseorang bertanya secara tiba-tiba. "Ya! Park! Aku dengar kau akan menikah, apa itu benar?" itu adalah Kang Dongho.
"Wow, darimana kau dapat berita murahan itu? Kau tidak tahu kalau Park ini tidak akan menikah?" celetuk yang lainnya. –Yook Sungjae.
Yang jadi bahan pembicaraan mendesah, "ya! ya! Kalian ini, kata siapa aku akan menikah? Lalu…" iya menatap Sungjae "…siapa bilang aku tidak akan menikah?"
"Mwoya, jadi jawabanmu yang mana?" protes Dongho.
"Kau mendengarnya dari mana?" selidik Chanyeol.
"Aku ada jadwal wawancara kemarin, setelah selesai, aku mendengar dua wartawan membicarakan kalau kau akan menikah. Mereka pasti akan mencaritahu atau mendatangimu nanti." Jelas Dongho.
"Lihat, disaat artisnya tidak ada yang terkena skandal… apa pemiliknya yang akan terkena skandal?" kekeh Jinyoung.
"Entah kenapa mereka terobsesi padaku." Desah Chanyeol.
"Sudah, sudah ayo cepat!" Sungjae mengingatkan. Mereka pun bergegas keluar dari ruangan dan untuk pindah ke tempat yang biasa mereka jadikan tempat kumpul.
"Bagaimana kalau taruhan? Yang kalah harus membayar makan siang!" –Minhyuk.
"Whoa~ apa kau semiskin itu?" –Jinyoung.
"Sial!" –Minhyuk.
"Dia akan mulai menyebutkan asset dan pendapatannya, jadi hentikan kalau tidak mau mati kutu." –Dongho.
"Itu benar, hahaha!"
Sejak tadi teman-temannya ribut di depannya, Chanyeol malah sibuk dengan ponselnya. Ia hanya mendengar mereka sambil mengikuti. Setelah memasukkan ponselnya, Chanyeol menyipitkan matanya, ia seperti melihat seseorang yang familiar. Semakin mendekat, seseorang itu semakin jelas, "Baekhyun?" gumamnya.
Saat ia akan menghampiri kekasihnya "Baekhyun-ah…" Tiba-tiba saja kakinya berhenti melangkah, tatapannya terpaku pada seseorang yang dengan lancangnya memeluk kekasihnya. Tanpa sadar tangannya terkepal.
"Cha-Chan…yeol–"
Chanyeol melirik teman-temannya yang masih berjalan tanpa menyadari ia berhenti.
"Oh, hai Park Chan-ah. Kau di sini? Kebetulan sekali." Sapa Taehyung santai sambil melambaikan tangannya. Rangkulannya pada Baekhyun tidak ia lepas.
Baekhyun dengan cepat menyikut perut Taehyung hingga membuatnya terbebas. "Chan–" Baekhyun mencoba meraih tangan Canyeol, tapi…
"Ya! Park! Kenapa berhenti?" panggil Minhyuk.
"Bukankah itu Taehyung?" tanya Sungjae.
Dongho menyikut Sungjae, "nugu?"
"Ah~ yang selalu menempel pada Chanyeol saat sekolah?" ucap Jinyoung yang langsung dianggukki Sungjae.
"Banar, kalian kan satu sekolah dengan Chanyeol…" gumam Dongho.
"…tapi sepertinya dia sudah tidak menempeli Chanyeol lagi. Lihat, ia bersama kekasihnya. Sepertinya wanita itu tidak kenal dengan Chanyeol, kan?" Ucap Sungjae. Suara itu masih bisa didengar jelas oleh Chanyeol, Baekhyun, dan juga Taehyung.
"Ah, masalah dulu? Masih bisa menyapa Chanyeol dengan santai, sepertinya dia agak gila." Komentar Minhyuk.
"Park! Kau mau berbicara dengannya? Kami akan menunggu di–"
"Ani… aku pergi sekarang." Jawab Chanyeol tanpa melepaskan pandangannya dari Baekhyun. Setelah itu ia meninggalkan Baekhyun dan Taehyung tanpa berkata apapun, seolah-olah ia tidak mengenal keduanya.
Baekhyun yang masih merasa terkejut hanya bisa menatap kepergian Chanyeol begitu saja. 'Wae? Kenapa ia tidak mengatakan apapun? Apa aku membuatnya marah? Tentu saja kan… ini terlihat seperti tertangkap berselingkuh–'
"Lihat…" suara Taehyung begitu terdengar jelas di telinga Baekhyun. "…sifat asli kekasihmu… ia tidak akan pernah mengakui kekasihnya di depan teman-temannya. Eotte? Masih menganggap kekasihmu itu pria baik–"
PLAK!
Baekhyun melayangkan tamparannya. Ia menahan air matanya sekuat tenaga, sudah habis kesabarannya untuk pria ini. Ia menyesal telah datang.
"Tutup mulutmu, sialan!" teriak Baekhyun. Untung saja saat ini restoran tidak begitu ramai lagi. Hanya beberapa pelanggan yang masih di sana mulai menaruh perhatian pada mereka. Ia merogoh tasnya lalu melemparkan beberapa lembar uang kepada Taehyung. "Akan aku bayar makan siang ini dan juga gaunnya. Permisi." Ucap Baekhyun lalu melenggang pergi dengan langkah tegapnya.
Taehyung mengepalkan tangannya, 'kenapa dia tidak seperti wanita-wanita sebelumnya! Sial sekali… kalau begini jadi lebih seru jika aku berhasil menghilangkannya dari hidup Park Chanyeol.'
'Gwaenchanha… masih ada waktu lainnya. Ini belum saatnya, Park Chanyeol.' Gumamnya, setelah melonggarkan dasinya ia pun pergi.
Baekhyun berlari mengejar Chanyeol, pandangannya ia edarkan ke segala penjuru berharap menemukan keberadaan kekasihnya. Ia berbelok ke tempat parkiran, seharusnya Chanyeol membawa mobilnya. Benar saja, ia menemukan Chanyeol di dekat mobilnya. Segera saja Baekhyun berlari menghampiri.
"Chan!" Baekhyun berhasil menahan tangan Chanyeol yang hendak membuka pintu mobil.
"Chan tunggu– hhh…hah…" Baekhyun berusaha mengatur napasnya.
"Oh, bukankah dia yang bersama Taehyung? Ada apa kemari? Kau mengenalnya, Chanyeol-ah?" tanya Sungjae.
"Oh?" Chanyeol menoleh pada Sungjae, teman-temannya yang lain juga mengurungkan niat untuk masuk ke mobil. "Ani, aku tidak mengenalnya." Jawabnya datar.
Saat itu juga Baekhyun melepaskan tangannya dari Chanyeol. Jantungnya serasa berhenti berdetak, seluruh oksigennya entah lenyap ke mana, dadanya begitu sesak. Baekhyun menatap Chanyeol yang dengan mudahnya membuang pandangannya dan masuk ke mobil begitu saja. Tanpa bisa berkata-kata, Baekhyun hanya bisa menatap kekasihnya dari luar dan membiarkan mobil-mobil itu berlalu dari hadapannya.
Baekhyun menundukkan kepalanya, air matanya jatuh begitu saja dengan rasa sesak yang menjadi-jadi. 'Apa yang sudah kau lakukan, Byun Baekhyun!' makinya dalam hati. Tanpa memedulikan sekitarnya, Bekhyun berjongkok dan membenamkan wajahnya di antara lututnya. Suara tangisnya pecah.
.
.
[Butik Lu&B]
Hari ini Luhan melakukan pembenahan pada butiknya. Ia sedikit melakukan desain baru untuk interiornya, ia pikir suasana baru akan membuat butik mereka lebih fresh.
"Apa belum selesai juga?" Sehun datang membawa sekotak sampah dari wall sticker lama untuk dibuang.
Luhan menoleh ke belakang, "ah, sebentar lagi. Aku hanya perlu memasang ini…" ucapnya lalu kembali menggantungkan beberapa bingkai.
Sehun sendiri sudah terlihat lelah. Ia sudah melepas kemejanya dan hanya mengenakan kaus hitam. Wajahnya sudah lesu dengan keringat yang membanjirinya. Ini adalah hasil ia menukang, hahaha! Luhan terlalu keras kepala hinga tidak mau memanggil pekerja untuk memperbarui dekorasi butiknya.
"Daripada membayar pekerja, lebih baik anggaran itu dipakai untuk yang lain. Lagipula mendekor itu menyenangkan…" –ini kata Luhan.
"Baiklah aku yang akan membayar pekerja–"
"Ya! Kau pikir ini butik siapa? Kau… jangan keluarkan uang untuk hal tidak penting, Oh Sehun!" dan bla bla bla…
Sehun sampai harus turun tangan karena tidak bisa membiarkan Luhan melakukan banyak hal sendiri–ani, sebenarnya masih ada 3 karyawan butik yang membantu. Sehun saja yang suka berlebihan. Setelah membuang sampah bekas dakorasi lama, Sehun kembali dan Luhan sudah selesai dengan pekerjaan terakhirnya. Para karyawan juga sudah tidak ada, sepertinya Luhan sudah menyuruh mereka istirahat, pikir Sehun.
Luhan mendekati Sehun lalu menyodorkan sebotol minum. "Padahal kau tidak perlu membantuku…"
Sehun mengambil minum tersebut lalu meminumnya sampai habis. Ia menatap Luhan yang masih berdiri di hadapannya, "apa gunanya bicara begitu? Padahal sudah selesai."
Luhan tersenyum geli, "kau mengharapkan terima kasih dariku?"
"Ani, siapa bilang…"
Luhan memberikan botol miliknya yang masih tersisa setengah air pada Sehun.
Sehun menatap Luhan, "aku sudah tidak haus." Lalu pria itu berbalik, hendak membuang botolnya. Namun tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan melingkari tubuhnya.
"Ya! Apa kau marah?" tanya Luhan sembari mengeratkan pelukannya.
"Kenapa bertanya begitu?" tanya Sehun.
"Aku sungguh tidak mau membuatmu kesulitan… butik ini milikku dan Baekhyun, aku merasa tidak enak membuatmu bekerja begitu. Biarkan kami yang bertanggungjawab dengan milik kami."
"Lu…"
"Hm?"
"Bisa lepaskan?"
Awalnya Luhan cukup terkejut mendengar permintaan Sehun, mungkin ia sudah menyinggung pria itu? Perlahan Luhan melonggarkan pelukkannya lalu melepaskan Sehun sepenuhnya. Ia hanya bisa menunduk, rasanya cukup menyakitkan ditolak seperti ini.
Sehun berbalik, lalu tersenyum kecil saat melihat Luhan tak menatapnya. Ia lalu merengkuh Luhan kepelukannya. "Aku tidak mencoba ikut campur dalam pekerjaanmu ataupun merasa kesulitan karena membantumu, Luhan."
"…dulu, kita benar-benar tidak mencampuri urusan masing-masing, apalagi mengenai pekerjaan. Tapi ternyata tidak hanya pekerjaan yang kita pisahkan, perasaan kita juga perlahan terpisah. Aku hanya tidak mau yang lalu kembali terulang. Ini waktu luangku, Lu, biarkan aku bersamamu. Apa tidak boleh?"
Luhan terdiam, tangannya sejak tadi tidak bergerak sekedar untuk membalas pelukan Sehun. 'Kenapa aku malah semakin ragu disaat Sehun sedang berusaha memperbaiki hubungan ini?' gumamnya dalam hati. Sebenarnya, Luhan selalu memikirkan perjanjian Sehun dengan investornya. Mengingat perjanjian kencan yang Sehun lakukan sudah hampir 2 minggu lamanya masih belum juga berakhir, keraguan mulai muncul dalam diri Luhan. Sehun juga belum mengatakan apapun, Luhan ingin menanyakannya, tapi ia memilih untuk menunggu pria itu yang menjelaskannya.
"Sehun…"
Sehun melonggarkan pelukannya lalu menatap Luhan, "hm?"
Luhan menggeleng sambil tersenyum tipis, "bukan apa-apa…"
"Lu, belakangan ini kau selalu saja begini."
"Begini? Bagaimana?" tanya Luhan.
"Kau selalu menahan apa yang ingin kau katakan, bukankah kita sudah berjanji untuk mencoba terbuka?"
Luhan mendongak, menatap Sehun. 'Bukankah kau juga begitu? Mengapa kau belum juga menjelaskan situasi hubungan kita sebenarnya…' gumamnya dalam hati.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sehun.
Luhan menghela napasnya, "aku membencimu!" kesalnya sambil menyembunyikan wajahnya pada dada Sehun. Ia memeluk pria itu erat.
Sehun mengerutkan dahinya, "mana yang aku harus percaya, Luhan? Kau membenciku atau tidak?" tanyanya sambil mengelus lembut rambut Luhan.
"Bukannya kau juga begitu? Mana yang harus aku percayai, kau mencintaiku atau tidak?" balas Luhan.
Sehun semakin mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan pikiran Luhan. "Kenapa kau menanyakan itu? Kau pikir kenapa aku bersamamu?"
"Tidak tahu." Jawab Luhan.
"Mwo?"
Luhan melepaskan pelukannya lalu menatap Sehun dengan kesal. "Aku tidak tahu, Oh Sehun! Aku tidak tahu kenapa kau bersamaku meski berita yang beredar adalah kau memiliki hubungan denga wanita lain!" Akhirnya Luhan meluapkannya. Ia mendengus, "seminggu?! Kau bercanda? Bahkan ini sudah hampir 2 minggu dan kau tidak menjelaskan apapun padaku!"
Sehun membulatkan matanya, ia pikir Luhan tidak ingin terlalu memusingkan prihal berita itu karena kenyataannya ia lebih memilih bersama Luhan. Sehun menahan tangan Luhan, "Lu… mianhae. Aku pikir kau tidak mepermasalahkan itu–"
"–aku memang tidak masalah dengan itu, tapi setidaknya…" Luhan menghela napasnya sekali lagi dengan lemas, "…lupakan, aku hanya terbawa emosi. Maafkan aku. Aku ingin istirahat, kau juga pulang dan istirahlah." Ucap Luhan akhirnya. Kemudian ia pergi dari sana.
"Lu, tunggu…"
Luhan menghentikan lagkahnya, tanpa berbalik ia berkata, "…aku ingin sendiri, bolehkah?" Tanpa menunggu jawaban Sehun, Luhan segera pergi meninggalkan pria itu.
Sehun hanya bisa melihat punggung kecil itu pergi menjauh darinya. Tanpa bisa mengucapkan kata apapun ataupun menggerakkan tubuhnya sekedar untuk menahan, Sehun ahirnya terduduk di kursi. Ia menenggelamkan wajahnya pada telapak tangannya, lagi-lagi ia melukai Luhan. Pikirnya.
Suara pintu terbuka membuat Sehun mengangkat wajahnya. Matanya menangkap sosok wanita yang merupakan sahabat Luhan. "Baekhyun-ssi…" gumam Sehun, ia tak melanjutkan ucaannya karena melihat mata sembab Baekhyun dan wajah pucatnya.
"Oh, kau di sini, Sehun-ssi? Apa Luhan di dalam?" tanya Baekhyun. Suara wanita itu juga terdengar parau.
Sehun mengangguk, "baru saja masuk."
"Gomawoyo," ucap Baekhyun lalu dengan cepat masuk.
Sehun dengan cepat mengambil ponselnya lalu menghubungi Chanyeol. "Hyung, eodi?"
"Aku sedang bersama teman-temanku, wae?"
"Aku bertemu Baekhyun-ssi, ia seperti habis menangis–"
"–Sehun-ah mian, di sini terlalu berisik. Nanti saja, oke, aku matikan."
Sehun hanya bisa memandangi layar ponselnya, panggilan berakhir. 'Apa-apaan?' gumamnya lalu sebagai gantinya, Sehun mengetikkan pesan untuk Chanyeol.
..
..
Klung.
Notifikasi pesan masuk membuat Chanyeol melirik ponselnya. Baru saja Sehun menghubunginya dan memberitahu keadaan Baekhyun. Ia membuka pesan dari Sehun.
(Maknae) Hyung, Baekhyun-ssi terlihat tidak baik. Aku hanya ingin memberitahumu saja karena kebetulan aku bertemu dengannya.
Chanyeol mengetikkan balasan 'ya', hanya itu yang bisa ia ketikkan tanpa berat hati. Setelah melempar ponselnya ke sofa di sebelahnya, Chanyeol mengambil minuman dan meminumnya dalam sekali tegukkan lalu meletakkan gelasnya dengan kasar.
"Chanyeol-ah, wae? Ada masalah?" tanya Dongho.
Chanyeol menggeleng, "aku keluar sebentar." Ucapnya yang langsung dianggukki temannya itu.
Chanyeol berakhir di kursi luar ruangan. Ia mengambil rokoknya dan mulai menghisapnya. Kepulan asap putih bercampur di udara, ia berharap emosinya juga ikut berada diantara asap. Meski efeknya cukup membuatnya tenang, tapi pikirannya masih tidak bisa lepas dari kejadian tadi. Ia sudah cukup sering mendapat pengalaman yang sama dari teman tidak tahu dirinya itu. Ia juga seharusnya tahu bahwa kejadian tadi pasti sudah direncanakan seperti sebelum-sebelumnya, tapi rasanya tetap saja membuatnya marah. Seharusnya ia bisa langsung menghajar pria tidak tahu diri itu karena jelas-jelas Baekhyun adalah kekasihnya, tapi tidak bisa. Ketika ia sedang bersama orang yang dikenalnya, ia tidak bisa melakukan itu.
"Apa ini akan terulang? Aku pikir Baekhyun akan berbeda…" gumamnya, ia kembali menghisap rokoknya. 'Lagipula, selama ini memang begitu. Si sialan itu akan selalu menang. Masa bodoh!'
Chanyeol mengembuskan asap terakhirnya lalu membuang putungnya di kotak yang disediakan. Bersamaan dengan itu, salah satu temannya keluar, Sungjae. "Kau… habis merokok?" tanyanya cukup terkejut, "…aku pikir kau sudah berhenti."
Chanyeol hanya menanggapinya ringan, "yah… terkadang, jika hanya ingin."
"Wae? Ada masalah?" tanya Sungjae lagi.
"Ani, gwaenchanha."
"Apa Taehyung membuatmu kepikiran tentang itu?" tanya Sungjae yang memang sudah lama mengenal Chanyeol dan Taehyung.
"Sedikit," jawab Chanyeol dengan wajah tidak nyamannya. Sepertinya ia tidak mau diingatkan tentang masa lalunya itu. "Kkajja," ajak Chanyeol.
"Ah, aku harus ke toilet. Kau duluan saja," ucap Sungjae yang dianggukki Chanyeol.
.
.
to be continued-
.
.
Hai gaiss! Maaf banget baru update ya... udah berapa lama nih aku absen hahaha. Sibuk banget kemarin" karena banyak ujian (hidup) ehehe. Jadi sebagai gantinya aku bakal update cerita sekaligus 2 chapter, jangan lupa tombol NEXT nya diklik lagi untuk baca chapter 15 ^^
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
