Day 12
Memory
Dancing with Your Ghost
Di atas sebuah meja kayu segi empat ada pemutar piringan hitam lama yang tidak pernah berdebu. Pemberian Dazai yang tidak begitu Chuuya sukai karena hanya mengizinkan satu lagu membosankan. Hanya satu piringan hitam sebagai pasangan, terawat, usang, setia, begitu berharga bagi Chuuya.
Di kilap gelapnya ada mata Dazai. Chuuya usap perlahan dengan selembar tisu putih lalu meletakkannya di atas pemutar. Jarum diturunkan pada alur terluar, kemudian sebuah tombol ditekan dan lagu pun mengalun.
Ketika nada pertama bermain, dada Chuuya ditekan begitu dalam hingga loloslah sebuah tetes air mata. Berlanjut dengan tubuhnya yang jatuh dan bersandar pada kaki meja. Terduduk di lantai, memeluk kaki dan mengukir-ngukir pandangan ruangan kosong dengan kenangan masa lalu
Dari lagu itu tidak ada yang bisa dilantunkan selain sebuah rasa sesal dan putus asa. Kata-kata yang seharusnya ia bisikkan pada langit tempat Dazai berada, terkunci rapat di dada. Pengaduan dan semua kalimat yang seharusnya ia ucap ketika Dazai masih di dunia, kini menghilang diganti kecewa.
Hanya ada satu yang tersisa. Sebuah pertanyaan mengapa Dazai begitu tega meninggalkannya. Melupakan janji selalu bersama dehidup semati— dan pergi? Chuuya masih mencintainya. Dia begitu berharga dan tidak ada yang memperlakukan Chuuya seperti dia.
Senyum Chuuya tampil diiringi air mata ketika mengingat hari dimana Dazai akan menangis manja hanya karena tidak ada kepiting di meja makan malam. Chuuya masih miliknya, bahkan walau ia telah tiada.
Ia mencintai begitu dalam, berpegang pada Dazai dengan seluruh yang ia miliki. Tanpa sadar ketika berpisah, ingatan itu hanya akan menjadi awan-awan putih yang perlahan hilang dan berubah. Akan pergi tanpa bekas, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa mengingat tempat yang telah ia naungi.
Tapi cinta ini begitu kuat. Begitu membutakan dengan rasa sepi sampai Chuuya tidak tahu lagi bagaimana cara mencintai dan percaya. Kehilangannya, kesendiriannya, serta patah hatinya, semua bagai rantai yang Chuuya paksa memenjarakan hatinya sendiri agar tidak bebas mencintai.
Ia mencoba untuk membuka hati, memberi kepercayaan pada orang lain. Namun semua begitu berat ketika ia menatap pintu dan membayangkan dengan seluruh harap bahwa Dazai akan membukanya, lalu mengatakan, "Aku pulang," seperti biasa.
Namun semua hanya semu. Hanya ingatan. Hanya bayangan.
Ia selalu mengatakan pada dirinya, "Semua baik."
Ia selalu berucap, "Kau akan baik-baik saja."
Dan ia selalu menangis sambil mengingat Dazai ada di sana menghapus airmatanya, menggumamkan lagu dari piringan, dan berkata, "Chuuya, kau harus melangkah."
Tapi Chuuya hanya menggenggam bayangan itu. Menari bersama sang duka dan berkata, "Jangan pergi."
Dada Chuuya selalu sesak ketika menyadari bahwa Dazai tidak lagi ada. Hanya lagu itulah pelarian. Lagu yang dipilih Dazai dengan tingkah kekanakan, memaksa Chuuya menyukainya serta dansa yang ia iringi. Lagu yang sekarang menjadi pengingat bentuk kurva senyum serta warna mata Dazai. Lagu yang bisa membuat Chuuya merasakan kehangatan pelukan pemuda itu.
Lagu yang menemani sepi dengan kenangan.
Malam larut, pun mimpi Chuuya yang terjebak pada hangat keberadaan Dazai yang fana.
Mengingat-ingat bagaimana "Sampai jumpa" terakhir sebelum Dazai pergi tanpa pernah kembali. Chuuya mengutuk ucapan yang memintanya menunggu, Chuuya mengutuk hatinya yang tanpa dimintapun pasti akan menunggu.
Bahkan walau sebuah berita datang dan membuatnya berteriak, Chuuya tetap menanti pintu terbuka lalu Dazai akan kembali. Tersenyum, memeluknya, mengecup keningnya dan berkata bahwa ia akan selalu berada di sisi Chuuya.
Tapi itu hanya bayangan.
Nyatanya Dazai tidak pernah membuka pintu itu lagi. Nyatanya Dazai tidak pernah tersenyum dan memeluknya lagi. Nyatanya Dazai tidak akan mengecup— dan nyatanya Dazai meninggalkan Chuuya.
Tidak akan bisa ia berhenti mencintai pria itu. Tidak akan pernah ia berpindah pada hati yang lain ketika segala jiwanya dibawa Dazai dalam peti mati penuh bunga lili.
"Aku ingin kau disini," Chuuya berkata pada ruang kosong. Seakan menjawab musik yang mengalun. Berharap pada bayangan Dazai yang hanya ada di ingatannya. "Aku ingin kau tersenyum sekali lagi, Dazai."
Chuuya hanya bisa melihat bayangan. Ia hanya bisa menari dengan sisa-sisa kenangan bersama lagu yang Dazai tinggalkan.
Dancing with Your Ghost
END
BGM : Sasha Sloan - Dancing with Your Ghost
