Daylight Daybook

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fiksi ini ditulis oleh Peony autumn dengan mengambil prompt "Fame"

(Words count: 775)

Warning : TanKana! AU! Gakuen.

No commercial profit taken.


.

"Selamat datang di Natsuiro cafe."

Seruan ramah terdengar seiring dengan kehadiran Tanjirou di depan pintu masuk. Papan kayu yang menggantung di atas pintu tak lagi bertuliskan nomor kelas. Tergantikan oleh nama kafe tersebut.

"Kelas ini mengambil tema apa?"

Sepasang iris merah gelapnya mengamati setiap sudut ruangan yang telah didominasi oleh warna kuning cerah. Ada berbagai macam ornamen seperti, semangka, kembang api, serta lukisan laut yang terpasang di dinding kelas.

"Kafe musim panas," balas seorang gadis yang bertugas menjadi penerima tamu.

"Cukup unik!" Komentar seorang pemuda yang menjadi partner tugas Tanjirou.

Tanjirou tersenyum ramah. "Kami akan mendata kelas, mohon bantuannya." Ia berujar sopan.

"Baik! Silakan masuk," kata seorang gadis, memandu langkah Tanjirou untuk mengobservasi kelas.


xxx


.

Pandangan Kanao terpaku pada pemuda bersurai merah terang yang sedang menjalankan tugas sebagai panitia acara. Belum genap setahun, Tanjirou bergabung dengan organisasi kesiswaan–nama lain dari Osis–pemuda itu sukses mendapat banyak respek serta perhatian dari berbagai pihak.

Ibarat sang surya yang menjadi orbit galaksi. Begitupun Tanjirou, hampir seluruh warga sekolah mengenal dirinya sampai ke jajaran guru.

Barangkali sikap dan budi baik Tanjirou yang membuatnya dengan mudah menarik hati setiap orang. Meskipun begitu, Tanjirou bukanlah seorang hipokrit yang melakukan kebaikan hanya untuk pencitraan semata.

Setelah hampir setengah tahun berada dalam organisasi yang sama. Kanao melihat jelas, ketulusan hati yang terefleksi dari kilau mata merah gelap, Tanjirou.

"Terima kasih atas kunjungannya."

Atensi Kanao teralih sepenuhnya kepada Aoi. Sahabat perempuannya itu, sedang menyerahkan sekantung biskuit berbentuk kepala kucing kepada kedua siswa yang hendak meninggalkan kelas.

Ini adalah hari pertama dimulainya event bunkasai di Akademi Kimetsu. Tak banyak yang berubah pada event kali ini. Hanya sebagian kecil, namun keseluruhan konsep masih sama dengan tahun sebelumnya.

Sekolah yang merangkap dari SD sampai SMA itu, mengharuskan setiap siswanya untuk ikut andil menuangkan kreativitas dalam meramaikan event ini.

Biasanya masing-masing kelas diminta berpartisipasi dengan menampilkan suatu pertunjukan. Tak jarang juga yang memilih menghias kelas untuk membuka bazzar dan kafe.

"Kau mau ke mana lagi?" Aoi bertanya penasaran. Padahal baru sekian menit lalu, Kanao tiba di kelas. Lalu sekarang, sudah ingin beranjak pergi kembali.

"Ada sebagian berkas yang belum aku selesaikan," jawab Kanao seraya mengambil tas jinjingnya.

Aoi mengangguk paham. Ia tentu mengerti kesibukan Kanao, terlebih lagi sahabatnya itu merupakan salah satu panitia pelaksana dalam event tahunan ini.

Aoi menyusun biskuit ke dalam toples. "Nanti kita pulang bersama. Seperti biasa, aku tunggu di depan gerbang," katanya berpesan.

Kanao tak membalas, ia hanya mengangguk singkat dan tersenyum. Kemudian bergegas pergi, tujuan utamanya adalah menyelesaikan tugas sesegera mungkin agar mereka dapat pulang bersama.


xxx


.

Kanao menatap lekat selembar kertas berisi tentang laporan pertunjukan seni yang ditampilkan oleh setiap kelas. Tangannya bergerak cepat di atas papan keyboard sambil sesekali mencatat beberapa point penting.

Kanao tak pernah menduga jika dirinya akan ditunjuk menjadi sekretaris untuk event sebesar ini. Kanao juga tak paham bagaimana mulanya, mengingat ia hanya anggota biasa dalam Osis.

Seharusnya masih ada yang lebih layak kan? Tetapi, realita memberikan jawaban yang berbeda.

"Permisi, Kanao-senpai. Saya ingin menyerahkan laporan tentang bazzar dan kafe kelas."

Sebuah suara mendadak menginterupsi. Kanao refleks mengangkat kepala, mempertemukan matanya dengan iris merah gelap.

"Terima kasih." Kanao buru-buru menerima kertas yang Tanjirou berikan.

Diamati sekilas kertas itu, memastikan apakah laporan tersebut sudah lengkap atau masih didapati kekurangan.

Ketika, Kanao sudah selesai memindai laporan. Tanjirou belum juga beranjak dari tempatnya. Hal itu, lantas menghadirkan pertanyaan di benak Kanao.

Kanao menatap lurus Tanjirou. "Ada apa?" tanyanya.

Tanjirou hanya menggeleng. Sementara Kanao tampak semakin bingung.

"Sekarang sudah masuk waktu istirahat," katanya mengingatkan.

Oh! Kanao tidak sadar fokusnya hanya pada laporan, tadi. Akan tetapi, memangnya kenapa dengan jam istirahat.

Tatapan Kanao belum beralih. Ia masih menunggu dengan sabar sampai Tanjirou menyelesaikan ucapannya. Kemudian, pernyataan Tanjirou berikutnya adalah hal yang tak pernah Kanao duga akan terjadi.

"Jika berkenan, saya ingin mengajak Kanao-senpai untuk makan siang bersama."

Kanao terperangah, dalam sekejap fragmen saraf yang berfungsi mengatur kosa kata di otaknya mengalami disfungsi.

Sepengetahuan Kanao. Tanjirou biasanya makan bersama kedua temannya–Zenitsu dan Inosuke–atau sang adik, Nezuko. Lalu mendengar ajakan Tanjirou tadi, apa pemuda itu tak salah ucap.

Karena Kanao tak kunjung merespon, Tanjirou kembali melanjutkan.

"Saya membawa sebotol ramune." Ia mengangkat paper bagnya. "Tapi, semoga Kanao-senpai menyukainya," tuturnya tersenyum tulus.

Untuk kedua kali, Kanao dibuat tak dapat bereaksi. Ramune selalu menempati posisi pertama sebagai minuman favorit Kanao. Yang jadi pertanyaan, bagaimana Tanjirou bisa tahu. Bahkan interaksinya dengan Tanjirou bisa dikatakan sangat jarang.

Mungkinkah sebuah kebetulan? Rasanya kebetulan tidak akan setepat ini.

Yang lebih mengherankan lagi. Apa yang mendorong Tanjirou–seseorang yang sudah dikenal populer–menawarkan makan siang bersama Kanao, yang jelas-jelas lebih suka menyendiri menikmati kesenyapan.

Lagi-lagi keduanya luput menyadari, jika sejak awal pertemuan. Ikatan takdir telah terhubung di antara mereka.


FIN!


A/N: Hallo, Ya! Prompt kali ini Peony yang mengeksekusi. Untuk yang paham, sebenarnya fanfik ini kelanjutan dari fic matching. Ya, ini masih fanfik trade sama Furaa. Lagi-lagi saya gak berharap apa-apa. Hanya ingin semoga fic ini sesuai dan dapat dinikmati pembaca. Bye-bye~!