"Tidak mau."
"Sakura…"
"Tidaaaaak…"
Kakashi menghela nafas dan menggendong gadis itu dengan mudah dipunggung. Tangannya meraih penyiram tanaman yang penuh berisi air dan menyiram pot-pot berwarna putih di balkon apartment.
Seminggu setelah dua malam menyenangkan di Yamanakako, Sakura tidak pernah melepaskan pandangan—dan dirinya sendiri—dari pria itu. Kemanapun Kakashi pergi; ke kampus, tempatnya berlatih jiu jitsu, kantor di pusat Tokyo, ia pasti akan selalu mengekorinya dengan wajah tak rela karena harus berpisah sebentar lagi.
Kakashi meletakkan penyiram tanaman tersebut dan menutup pintu balkon. Ia melirik Sakura yang masih menggelantung dipunggungnya.
"Kau tidak akan turun?"
"Tidak."
Sudah beberapa hari belakangan ini juga ponselnya dipenuhi oleh pesan-pesan para mahasiswa yang menuntut makan malam perpisahan. Kakashi memijat pelipisnya, merasa teramat sangat lelah karena begitu banyak peristiwa yang terjadi pada dirinya beberapa waktu belakangan ini.
Satu semester tersisa bagi Sakura untuk menyelesaikan pendidikannya, yang akan diisinya dengan internship dan penyusunan penelitian. Selama satu semester pula, ia harus tinggal sendirian disini, di Shinjuku, sementara Kakashi akan berada di Sapparo. Mebuki dan Kizashi sudah menawarkan Sakura untuk kembali ke rumah, namun Sakura masih tidak yakin apakah ia harus langsung mengosongkan apartment atau harus tinggal sendirian disini.
Kakashi menurunkannya di atas sofa dan duduk di samping Sakura setelah itu. Ia menyandarkan kepala, melirik Sakura yang sekarang dengan protektif melingkarkan lengannya pada lengan pria itu, dengan bibir yang masih belum berhenti mengerucut.
"Kau mau aku yang memasak hari ini?"
"Iya." Jawab Sakura pelan. "Pasta."
"Baiklah, aku akan pergi membeli—"
"Kakashi…"
Kakashi tersenyum dan memutar tubuhnya sedikit. Rambut gadis di depannya sudah jauh lebih panjang dibandingkan saat mereka pertama kali menempati apartment ini, sukses menutupi wajah sedih Sakura yang tidak lepas dari gadis itu selama seminggu belakangan.
"Kenapa kau tidak sedih sama sekali?" tanya Sakura, nadanya terdengar sedih campur kesal. "Kau tidak benar-benar menyayangiku, ya?"
Kakashi menghela nafasnya. "Apa yang kau katakan… tentu saja aku menyayangimu."
"Kalau begitu jangan pergi…"
"Sakura—"
"Kau lebih sayang ayahku dibandingkan aku!" ujar Sakura kesal, melepaskan tangannya dari lengan Kakashi. "Seharusnya kau menikahi ayah saja."
Kakashi berdecak pelan. Walaupun sedikit kesal, ia sedikit menikmati sisi posesif Sakura seperti ini. Kedua tangannya meraih pinggang gadis itu, mengangkatnya tanpa kesulitan dan mendudukkan Sakura tepat di pangkuan.
"Kau masih ingat ajakanku untuk menikah saat kita di pantai?" tanya Kakashi lembut. Ia memeluk pinggang Sakura, sementara gadis itu sibuk memainkan rambutnya yang sedikit basah karena berkeringat. "Bukankah kita akan menikah lagi setelah kau lulus kuliah?"
"Tetap saja, hal itu tidak membuatku lupa kalau kau akan meninggalkanku seminggu lagi." Ujar Sakura kecut.
"Aku akan kembali sebelum kau menyadarinya."
Sakura terdiam. Ia memandangi pria yang jauh lebih tua darinya itu lekat-lekat, mencari cara agar Kakashi membatalkan rencananya untuk pergi. Kepalanya kemudian ia rendahkan dan bibirnya bertemu dengan bibir pria itu, menciumnya seakan-akan hari ini adalah hari terakhir mereka bersama.
"Hmm…" gumam Kakashi sedikit terhibur, menempelkan keningnya pada kening Sakura. "Ciuman yang bagus, tapi aku tetap pergi."
Sakura tersenyum kecut dan mencium Kakashi lagi sekilas. Gadis itu kemudian turun dari pangkuan Kakashi dan berjalan ke dapur.
"Hei, kau mau kemana?"
"Memasak."
Kakashi mengerutkan keningnya bingung. "Kukira aku yang akan memasak?"
"Tidak, aku saja yang memasak."
Sakura mengikat rambutnya dan membuka kulkas. Tangannya mengeluarkan sekotak jamur, udang, dan satu blok keju dari dalam sana. Ia tidak menoleh bahkan saat Kakashi duduk tidak jauh dairnya di atas kursi bar konter dapur.
"Kenapa sekarang kau jadi marah padaku?"
"Aku tidak marah, aku ingin memasak." Jawab Sakura tanpa ekspresi. Ia menuangkan minyak ke atas penggorengan dan mulai memasak.
"Baiklah… kalau begitu apa aku boleh tidur siang?"
"Boleh."
Kakashi mengangguk-angguk dan berjalan menuju kamarnya. Bukannya kejam, semalaman ia terjaga karena harus membaca puluhan berkas yang dikirimkan oleh Kizashi malam sebelumnya. Perusahaan cabang di Hokkaido memang sedang mengalami krisis, Kakashi harus bisa mengidentifikasi masalah dengan cepat dan mencari solusinya juga. Pria itu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.
Entah sudah berapa lama ia terbaring seperti itu sampai ketika hidungnya mencium aroma pasta dari arah daput. Kakinya kembali berjalan ke arah dapur, memperhatikan Sakura yang meletakkan dua piring pasta di atas meja makan.
Mereka makan dalam diam. Kakashi yakin sekali kalau gadis itu marah padanya karena ia 'tidak sedih' padahal mereka akan berpisah sebentar lagi.
"Sakura," panggil Kakashi.
Gadis itu mengangkat kepala. "Hm?"
"Apa nanti sore kau ingin ikut ke tempat latihan lagi?" tanya Kakashi.
Sakura terdiam sebentar. Beberapa saat kemudian ia menggeleng dan melanjutkan makannya. "Aku ingat aku harus mengirim beberapa dokumen ke tempat intern sore nanti…"
"Baiklah."
Sampai helai terakhir pasta tersebut masuk ke mulut Sakura, gadis itu masih juga tidak membuka mulutnya untuk berbicara. Kakashi menenggak air di gelasnya dengan gerakan tidak sabar. Matanya memperhatikan Sakura yang pelan-pelan ikut minum dan membersihkan mulutnya, mengakhiri makan.
"Aku ingin mencari makanan penutup. Kau mau ikut?"
"Tidak."
"Baiklah, cukup."
Kedua mata gadis itu membelalak ketika Kakashi mengangkatnya begitu saja. Pria itu terlihat sudah kehabisan kesabaran dan ia tidak bisa membiarkan Sakura mendiamkannya lebih lama lagi. Ia menjatuhkan dirinya sendiri dan Sakura ke atas kasur, menciumi gadis itu dan menguncinya dengan kedua lengan.
"H-hei, Kakashi—umh!"
Sakura merasa tubuhnya seringan bulu saat Kakashi dengan mudah mengangkatnya, memposisikan kepalanya di atas bantal.
"Kau bilang kau ingin mencari makanan penutup?!"
"Kali ini kau makanan penutupnya."
.
.
Sakura menatap langit-langit kamar Kakashi dengan dada naik turun. Baiklah, ingatkan dirinya untuk jangan pernah mengacuhkan Kakashi lagi.
"Lagi?"
"Kau gila, Kakashi…" ujar Sakura kesal, meletakkan satu tangan di atas kepalanya.
Gadis itu terdiam saat Kakashi memainkan rambutnya yang sekarang sedikit basah oleh keringat. Pria itu baru saja ingin mencium Sakura lagi saat bell apartment berbunyi.
"Huh?" gumam mereka bingung nyaris bersamaan. Kakashi bangkit, meraih celana pendeknya dari atas sofa dan berjalan ke ruang tengah.
Kedua matanya membulat ketika melihat layar interkom. Dengan cepat ia berjalan kembali ke kamarnya, menatap Sakura panik.
"Siapa?" tanya Sakura bingung.
"Teman-temanmu."
"Hah?!" jerit Sakura tertahan, menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Apa yang mereka lakukan disini—"
"Tidak ada waktu untuk menggerutu, cepat pakai bajumu dan pergi ke kamarmu."
Sakura menurut dan memakai pakaiannya kembali. Kakashipun segera mengenakan celana panjang dan kaus tipisnya, menyempatkan diri untuk mencium gadis itu sekali lagi sebelum akhirnya Sakura menghilang di balik pintu kamarnya.
Kakashi menarik nafas dan memutar kenop pintu. Selusin senyuman langsung saja diterimanya.
"Sensei!"
.
.
Sakura menutup mata dan menghela nafasnya. Sudah jam delapan malam sekarang, tapi suara teman-temannya masih sama ribut dan kerasnya seperti saat mereka datang empat jam yang lalu. Saat ini adalah waktunya untuk duduk, meminum teh susu hangat dan menonton televisi, tapi semuanya tidak bisa ia lakukan karena kunjungan tiba-tiba ini.
Seakan semuanya belum terlalu buruk, sedari tadi telinganya tidak berhenti mendengar suara Hanare. Ya, Hanare. Ia kira gadis itu sudah pindah ke belahan bumi lain, namun ternyata Hanare masih berada di Jepang hingga saat ini. Tidak hanya Hanare, suara Karin dan Sasuke juga terdengar beberapa jam yang lalu.
"Ugh… menyebalkan sekali…" keluh Sakura kesal. "Sampai kapan mereka akan ada disana?!"
Sakura menekan ponsel dan mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Kakashi.
To : Koharu
Aku harus keluar! Satu menit lagi saja dan aku bisa benar-benar menggila
Beberapa menit tanpa respon, ketukan di pintunya membuat Sakura terbangun. Gadis itu memandang Kakashi yang masuk teramat-sangat-hati-hati ke dalam kamarnya, jatuh terduduk di atas tempat tidurnya dengan ekspresi lelah.
"Aku tidak bisa mengusir mereka," ujar Kakashi lemah. "Mereka ingin menginap disini…"
"Apa harus aku yang mengusir mereka?!"
"Tidak, Sakura," sergah Kakashi cepat. "Apa kau mau tetap disini atau kau mau tidur di rumah Ayah dan Ibu dulu?"
Sakura tertegun selama beberapa saat. Ide yang bagus. Ia bisa tidur di rumah kedua orang tuanya, menikmati malamnya yang menyenangkan, daripada harus terperangkap disini dengan suara Hanare yang begitu mendominasi…
"Baiklah." Ujar Sakura akhirnya. "Aku akan keluar. Berikan kode padaku kalau aku sudah bisa keluar."
"Ya."
Kakashi keluar setelahnya dan Sakura mendengar suara gemuruh teman-temannya mengiringi kedatangan pria itu.
"Bagaimana kalau kita tur kecil?"
"Baiklaaaaaah!"
Sakura menerima sebuah panggilan dari Kakashi dan ia langsung menyelinap keluar dari dalam kamarnya. Orang-orang di ruang tengah memang sudah tidak terlihat, hanya ada senyuman manis Kakashi yang sekilas diberikan pria itu tepat sebelum ia menghilang dari balik pintu kamarnya. Sakura memberikan senyuman kilat dan berjalan keluar dari apartment, berusaha menutup pintu setenang mungkin.
Ia merapatkan jaket sementara tangannya menekan tombol Ino dengan gerakan cepat.
"Harunooooo…"
"Ugh, apa kau mabuk?" tanya Sakura bingung. "Apa aku bisa menginap di rumahmu?"
"Tidak. Ayah dan ibuku sedang ada di rumah." Jawab Ino sambil mendengus kesal. "Tapi kurasa Hinata akan senang menerima kita."
"Kita?"
"Apa? Kau pikir aku akan membiarkanmu menginap sendirian?"
Gadis pirang itu sampai di depan gedung apartment dua puluh menit kemudian. Sakura bangkit dari duduknya di atas kursi halte, masuk ke dalam dan menghela nafas.
"Jadi… kenapa tiba-tiba ingin menginap?" tanya Ino.
Sakura memijat pelipisnya dengan satu tangan. Ia tidak bisa memberitahu Ino bahwa selusin mahasiswa baru saja datang ke apartment-nya dan Kakashi, namun ia tahu ia juga tidak bisa membohongi teman-teman dekatnya lebih lama lagi.
"Aku ingin minta bantuanmu dan Hinata."
"Untuk?"
"Lebih baik kita bicarakan saat ada Hinata saja."
"Ugh, pintar sekali membuat orang penasaran." Gerutu Ino sambil memperdalam injakannya pada pedal gas.
Mobil tersebut berhenti sepuluh menit kemudian di depan gedung apartment lainnya dan mereka berjalan beriringan ke dalam, terlihat sudah kelewat hafal pada gedung tersebut. Ketika pada akhirnya mereka sampai di depan pintu unit hinata dan menekan tombol bel berkali-kali dengan tidak sabar, wajah bingung Hinata-lah yang menyambutnya.
"Eh? Ada apa?"
"Minggir."
Hinata memutar matanya dan membiarkan Ino dengan seenaknya masuk. Sakura tersenyum ke arahnya, menggandeng tangan gadis itu dan mereka bertiga setelahnya duduk melingkar di atas tempat tidur Hinata.
"Kami akan menginap." Ujar Ino tanpa basa-basi.
Hinata menghela nafasnya. "Tentu saja kalian akan menginap."
"Sakura, sekarang giliranmu."
Sakura menelan ludahnya. Dengan lekat ia memperhatikan dua teman dekatnya ini, dua orang yang selalu menemaninya sejak kali pertama mereka berbicara. Ia sudah bertekad semenjak mengenal Ino dan Hinata, kalau mereka berdualah orang pertama yang akan ia berikan undangan pernikahan jika ia menikah suatu hari nanti…
"Baiklah, aku ingin bercerita terlebih dahulu." Ujar Sakura berat. Ino masih tidak terlalu serius memperhatikannya, sementara Hinata melirik layar ponselnya sesekali. "Aku memiliki seorang teman sedari kecil… rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku, dan kami masih berteman sampai sekarang."
Ino mendengus kesal. "Kau ingin membuang kami?!"
"B-bukan," sergah Sakura cepat. Astaga, pikiran gadis ini benar-benar tidak bisa diperkirakan. "Lalu pada suatu hari, ia memintaku untuk membantunya. Aku tidak bisa menolaknya—"
"Sakura?" panggil Hinata takut-takut. "Kau tidak terjebak perdagangan narkoba, 'kan?"
Sakura menutup matanya dan memaksakan sebuah senyuman kecil. "Tidak… ini lebih buruk."
Ketika menyadari nada suara dan air wajah Sakura yang terlihat berubah, pada akhirnya Ino dan Hinata memutuskan bahwa Sakura benar-benar serius.
"Bagaimana caraku mengatakannya," ujar Sakura pada dirinya sendiri, putus asa. "Tapi janji, jangan membenciku ketika kalian sudah mengetahuinya, ya?"
"Oh, cepatlah katakan!" seru Ino tidak sabar.
Sakura melengos. Ia mengeluarkan ponsel, memutuskan untuk membiarkan kedua temannya melihat fotonya bersama Kakashi karena tentu saja memberikan foto tanpa konteks jauh lebih mudah dibandingkan menjelaskan.
"Hei, kemampuan photoshop-mu bagus juga, Sakura."
"Itu buk—" Sakura merebahkan dirinya dengan malas di kasur Hinata. "Itu bukan hasil edit."
Ino yang pertama kali terlihat berubah ekspresinya. Gadis itu merebut ponsel dari tangan Hinata, memperhatikan foto-foto berikutnya dalam galeri ponsel Sakura, dan menatap gadis itu dengan tidak percaya.
"Tidak mungkin…"
Sakura mengangguk. Ekspresinya terlihat sangat menyesal.
Hinata memandang kedua temannya dengan bingung. Ketika melihat ekspresi terkhianati di wajah Ino, matanya membulat ketakutan.
"TEGANYA KAU SAKURA?!"
Sakura membelalak saat Ino mendorongnya dan menariki rambutnya tanpa ampun. Hinata memandang dua orang di depannya dengan bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ino dengan gerakan cepat menarik apapun yang bisa ia tarik, dan lipstick Sakura yang baru saja dibeli gadis itu merupakan barang yang berhasil digapainya. Tanpa ampun, Ino dengan penuh kasih sayang meluapkan amarahnya dengan mencoret-coret wajah gadis itu dengan lipstick yang digenggamnya.
"INO!" jerit Sakura kesal. "INO, NANTI AKAN ADA JERAWAT DI—"
"Ino, Sakura, hentikan—"
"YAAAAAAAAAH!"
Sakura dan Ino terus bertengkar setelahnya dan Hinata tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, setelah bergulat selama kurang lebih tujuh menit, Sakura dan Ino masing-masing kelelahan dan melepaskan kepala satu sama lain dari genggaman.
Ino mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Ia menoleh ke arah Sakura dengan pandangan tidak percaya.
"Jadi Koharu…?"
"Ya…"
"Itulah kenapa kau sangat membenci Hatake-sensei! Berarti selama ini kau tinggal bersamanya? Kau sudah mengenalnya sejak kecil? Setiap hari kau bisa melihat wajah Hatake-sensei? Lalu pada saat kalian bertengkar, apa yang sebenarnya kalian lakukan saat itu? Apakah kalian melakukannya di lab komputer?"
"Ya, ya, ya, ya…" gumam Sakura sambil merapikan rambutnya yang tadi habis ditariki oleh Ino, lalu cepat-cepat menggeleng saat kedua temannya memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Maksudku tidak, kami tidak… kau tahu, melakukan itu. Disitu."
"Lalu apa yang kalian lakukan?"
"Kami hanya—kau tahu, aku mempunyai hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu." Sergah Sakura tegas saat merasakan jantungnya mulai berdebar tidak karuan ketika mengingat peristiwa saat itu.
Hinata mengulurkan tisu basah ke arah Sakura—wajah gadis itu dipenuhi oleh banyak sekali noda merah karena Ino tadi habis-habisan mewarnai wajahnya sebagai hukuman karena tidak jujur sepenuhnya pada mereka—yang diterima gadis itu dengan senyuman, namun bekas lipstick tersebut tidak hilang, hanya memudar dan menipis sedikit.
"Ugh, aku sangat menyukai lipstick ini." keluh Sakura sambil memandang lipstick-nya yang patah dan berserakan di atas kasur Hinata.
"Ya? Bagimu lebih penting lipstick itu dibandingkan perasaanku dan Hinata yang kau bohongi selama ini?"
Hinata berdeham pelan. "Aku tidak terlalu—"
"Hinata. Kau berada di pihak siapa?!" desis Ino, memotong perkataan gadis itu.
Sakura menghela nafasnya dan merebahkan diri di atas kasur. Wajah dan rambutnya hampir senada saat ini, dan Ino sepertinya masih tidak memaafkannya.
"Ino… bukankah lebih baik kau tidak marah pada Sakura seperti ini? Aku tahu Sakura pasti ingin sekali memberitahu kita, tapi aku juga yakin banyak sekali hal yang dipertimbangkan oleh Sakura dan Hatake-sensei sampai-sampai mereka memutuskan untuk tidak memberitahu siapa-siapa," ujar Hinata pelan. "Dan Sakura, kurasa kau bisa memberitahu kami sedari awal bahwa kau berteman dengan Hatake-sensei…"
Sakura mengerucutkan bibir. "Aku tahu. Aku hanya tidak mengerti bagaimana cara memberitahu kalian karena semua orang menyukai Kakashi."
"Tentu saja semua orang menyukai Kakashi! Ugh, aku membayangkan betapa bodohnya aku berbicara tentang Hatake-sensei selama ini di depanmu, Sakura…" geram Ino sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku pasti kelihatan seperti orang idiot."
"Tidak, Ino, aku tidak pernah berpikiran seperti itu sama sekali." Ujar Sakura sambil menatap Ino. "Sejujurnya, aku dan Kakashi baru benar-benar dekat… kau tahu, seperti itu, karena Kakashi juga baru saja berpisah dari Mei-nee… jadi selama ini kalau kalian bercerita dan mengaguminya, aku tidak terlalu memperhatikannya karena aku juga tidak terlalu menyukainya."
Hinata saling melempar pandang dengan Ino. Dua gadis itu menghela nafas disaat yang hampir bersamaan. Pada akhirnya mereka berdua menyusul Sakura untuk berbaring di atas kasur—ketiganya langsung saja menghela nafas lagi setelahnya.
"Aku tahu ini terlalu lancang untuk meminta bantuan kalian setelah membohongi kalian selama ini, tapi…" ujar Sakura pelan, menarik nafas dalam-dalam. "Apakah kalian mau menjadi pengiring pengantin saat aku menikah lagi… nanti?"
.
.
Dering ponsel yang lumayan nyaring membangunkan Sakura dari tidur. Gadis itu mengernyit ketika melihat nama Kakashi muncul di layar ponsel.
"Ada apa?" tanya Sakura dengan suara sedikit serak.
"Ternyata mereka tidak menginap," ujar Kakashi pelan. "Apartment sudah kosong sekarang. Apa kau mau pulang?"
"Ugh, tentu lebih enak tidur di kamarku sendiri dibandingkan harus berhimpitan bertiga disini…" gumam Sakura pada dirinya sendiri, memperhatikan Ino dan Hinata yang masih tertidur. "Baiklah, apa kau bisa menjemputku? Aku akan memberikan alamat dan nomor unit-nya."
Sambungan terputus dan Sakura menatap refleksi dirinya dari cermin. Biarlah, ia sudah terlalu lelah untuk mencuci wajahnya sekarang. Dengan gontai gadis itu mengemasi barang-barangnya dan duduk di ujung ranjang.
"Sakura?"
Sakura menoleh dan memandang Hinata yang sedang terduduk di atas tempat tidurnya.
"Kau akan pergi?"
"Ya…"
"Baiklah, jangan membuat terlalu banyak suara atau nanti Ino bisa terbangun." Ujar Hinata pelan.
Sakura tersenyum. Meskipun ia sangat pemalu dan Ino sangat aktif secara sosial, kepribadian mereka bisa dibilang mirip karena mereka berdua sama-sama keras kepala. Untung saja ada seseorang selembut dan sesabar Hinata yang selalu bersedia melerai mereka kalau satu sama lain sudah saling menjerit dan memaki. Sakura berjingkat keluar, memandang Hinata yang ikut bangun dan menemaninya untuk duduk di dekat pintu.
"Kau tahu kalau Ino sangat menyayangimu, 'kan?"
Sakura tertegun. Kepalanya menoleh ke arah tempat tidur, dimana Ino terbaring disana dengan sepasang mata sembab sehabis menangis. Dengan berat hati ia mengangguk dan menghindari tatapan Hinata.
"Jangan kembali menyalahkan dirimu sendiri… aku harap kedepannya kita bertiga akan baik-baik saja." Lanjut Hinata, meremas kedua bahu Sakura lembut. "Aku akan benar-benar sedih kalau kalian bertengkar, kau tahu?"
"Iya…"
Sakura menarik temannya itu dalam pelukan. Baru saja ia ingin menangis, denting bell apartment Hinata mengagetkan mereka berdua.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Ujar Sakura. "Apa kau mau bertemu…?"
"Tidak, tidak. Tentu akan canggung."
Sakura mengangguk dan membuka pintu unit. Kakashi berdiri disana, tersenyum ke arahnya dengan kedua mata lelahnya. Sakura bergerak untuk memeluk pria itu dan mengernyit saat bau alkohol pekat menguar dari kemejanya—ia harus menyetir malam ini, segelas kopi akan sangat membantu untuk membuatnya seutuhnya bangun—lalu melepaskan pelukannya dari Kakashi.
"Apa?" tanya Kakashi, saat Sakura hanya memandanginya.
Sakura menggigit bibirnya sendiri dan mengangguk pada dirinya sendiri.
"Tunggu disini sebentar."
Gadis itu masuk kembali ke dalam apartment yang belum sepenuhnya tertutup, berjalan langsung ke arah tempat tidur dan membangunkan Ino.
"Hah…" ujar Ino bingung. "Ada apa…"
"Hinata, Ino, aku ingin kalian bertemu seseorang."
Ino mengerutkan keninngnya sementara Hinata menggeleng. "Seseorang?"
"Tidak…"
"Ya. Kakashi?"
Ino dan Hinata telah membayangkan ratusan cara bagi mereka untuk tampil secantik dan memesona mungkin di depan Kakashi, namun mereka sama sekali tidak menyangka bahwa piyama tua dan wajah berlumuran liur adalah saat yang tepat untuk pertama kali melihat dosen muda tersebut diluar kampus.
Kakashi melangkahkan kaki dengan ragu-ragu dan memberikan senyuman kecilnya.
"Ino. Hinata."
.
.
"Ugh…"
Sakura mengusap matanya yang merah dan sembab. Tangannya masih tidak mau terlepas dari tangan hangat Kakashi di sebelahnya. Pria itu kelihatan serba salah—jelas sekali kalau ia juga belum mau pergi dari Shinjuku, namun ayah mertuanya sudah memintanya pergi ke Sapporo sejak beberapa hari yang lalu.
"Kabari aku begitu sampai, ya?" ujar Sakura, merapikan kemeja Kakashi yang tidak berantakan. "Jangan lupa sushi roll-nya… kau tahu sendiri perutmu cukup sensitif… aku tidak menambahkan bubuk cabai…"
"Iya." Kakashi tersenyum, bangkit berdiri saat pengumuman penerbangannya berujar untuk yang terakhir kalinya. "Aku benar-benar harus pergi sekarang."
Sakura mengangguk dan memeluk pria itu lagi. Kakashi menghela nafas, hatinya ikut sedih melihat Sakura yang tidak berhenti menangis sejak kemarin malam seperti ini. Pria itu meletakkan tas laptop-nya di atas kursi dan membawa gadis itu dalam ciuman.
Sakura menutup kedua matanya, meremas kemeja Kakashi di depannya dengan sedih. Ia memang sangat membenci pria itu—dulu, saat Kakashi benar-benar senang menguji kesabarannya—tapi sekarang membayangkan enam bulan tanpa pria itu, rasanya sedih sekali. Belum lagi ayahnya kemarin menelepon dan mengatakan bahwa ada kemungkinan Kakashi menetap lebih lama di Sapporo. Keadaan perusahaan disana ternyata bukan cukup buruk, melainkan sangat buruk.
Kakashi menyudahi ciumannya dan sedikit membungkuk. Kening mereka bersentuhan sementara Kakashi memandang mata di depannya lekat-lekat.
"Aku pergi dulu."
