Hai semua! Ya angpoon maaf banget kalau lama, soalnya minggu-minggu kemaren itu banyak banget tugas dan acara kampus yang akunya jadi panitia, jadi gak bisa ditinggal sebentar. So baru bisa update sekarang. Maaf banget ah kalau emang kalian nungguin-kaya ada yang nungguin wkwk.
Summary di bab ini sih cuma soal Harry dan Draco yang ke Ruang Rahasia berdua aja-dan ... tau lah apa yang bakal kejadi wkwk. Selamat membaca yah.
Udara hangat mengembus ke segala penjuru Hogwarts, memberi khas bahwa musim panas bakal menghampiri daratan Britania sebentar lagi, dengan itu artinya libur panjang semester pun juga akan menyusul.
Namun lain cerita kalau kau tinggal beberapa meter di bawah permukaan tanah dan Danau Hitam. Ya, penghuni asrama Slytherin. Anak-anak Slytherin sama sekali tidak merasakan adanya perubahan suhu yang signifikan, suhu lembap dan terkesan dingin tetap menyelubungi seluruh penjuru asrama. Tak ada pengecualian, bahkan untuk kamar Draco Malfoy dan Harry Riddle.
Kamar mereka terletak di bagian terpojok asrama. Dua ranjang memepet pada dua sisi tembok kamar bernuansa zamrud megah, ditemani sepasang lemari cokelat kehitaman yang di sampingnya berdiri cermin sebadan. Masing-masing pada samping ranjang bertiang empat dan berkelambu tersebut terdapat meja belajar yang di atasnya dilengkapi dengan kandil lilin serta beberapa perkamen bekas tugas. Khusus pada meja Harry ditambahkan rak buku di atasnya untuk menyimpan sembilan buku tebal yang sampulnya sudah lapuk dimakan zaman.
Ketika itu hanya ada Draco di sana, duduk kursi belajarnya bersama satu gulungan perkamen yang menampung semua tulisannya soal mimpi yang ia alami beberapa minggu belakangan. Tugas Ramalan.
Di bagian atas perkamen tertulis nama Draco sendiri dan kelasnya: Kelas 4.
Yup, sudah empat tahun berlalu semenjak dia menapaki kakinya di Hogwarts. Selama itu banyak sekali yang terjadi padanya, termasuk pubertas. Draco Malfoy yang sekarang bukan lagi bocah ingusan yang selalu mengadu pada sang ayah atau merengek di dalam suratnya secara diam-diam (karena tidak mau ketahuan oleh Harry) perkara pasokan manisan dari ibunya kurang. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi pemuda tanggung yang tampan, menawan. Tingginya menjulang sampai enam kaki lewat satu inci, bersanding bersama paras aristokrasi darah murninya yang betul-betul mengundang tatapan tiap-tiap pasang mata. Rambutnya yang biasa dia minyaki agar tetap rapi ke belakang sekarang dibiarkan menyamping, tanpa minyak. Rambutnya sudah dengan rapi dengan sendirinya sekarang.
Bukan hanya parasnya yang bisa membuat orang terpesona, tapi juga kepintarannya—yah, walau dia masih satu peringkat di bawah Harry atau Hermione, keduanya selalu menjadi langganan peringkat satu atau dua—tapi tetap saja ketajaman nalarnya bisa diacungi jempol. Dia benar-benar berterima kasih pada Hermione—dia benci mengakui ini, tapi dia harus—yang sudah mengajaknya berdebat tiap kali mereka berkumpul di perpustakaan.
Dan sebagaimana pewaris keluarga bangsawan darah murni pada umumnya, Draco selalu diisukan sudah memiliki hubungan pada sesiapa pun yang dia ajak bicara di muka umum—biasanya perempuan. Tapi sebenarnya tidak juga, karena faktanya selama empat tahun belakangan, Draco benar-benar tidak punya pikiran akan menyeleksi orang-orang untuk menjadi mempelainya nanti.
Namun, walau tidak memiliki pasangan, tentunya Draco punya yang namanya "Pujaan hati" sebagaimana remaja pada umumnya. Dia adalah Harry Riddle.
Sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum, 'sih, di Hogwarts. Tapi tetap saja, 'kan, yang namanya rahasia umum, tetaplah rahasia. Terutama kepada yang dibicarakan—dalam hal ini Draco dan Harry. mereka berdua tidak tahu kalau seisi Hogwarts sudah punya dugaan bahwa mereka sudah menjalin kasih. Entah bagaimana kabar ini bisa lolos dari pendengaran Draco. Sepertinya semua ini berkat Pansy yang mengacam tiap-tiap orang agar merahasiakan rahasia kecil ini darinya—dan Harry.
Sebenarnya isu yang beredar tidak ada salahnya, setelah melihat bagaimana interaksi keduanya yang memang lebih normal dilakukan oleh sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Michael, yang notabene sahabat sedari Harry kecil, saja tidak pernah melakukan apa yang Draco dan Harry perbuat selama ini: saling memangku, mengelus pipi satu sama lain, menjadikan dada atau paha yang lain sebagai bantalan, dan yang palin penting, saling menatap dengan tatapan yang betul-betul bisa membuat gunung es di kedua kutub bumi meleleh seketika.
Belum lagi kriteria yang merupakan hal-hal yang harusnya melekat pada seorang calon Malfoy seluruhnya terdapat pada sang pewaris Riddle:
Paras sempurna, check!
Pintar, check!
Dari keluarga terpandang, check! Tuan Riddle sekarang sudah memiliki pengaruh di kementerian
Slytherin, check! Dia bahkan bisa Parseltongue
Dan, bisa memeraktikkan ilmu hitam dengan lancar, check! Sudah makanan sehari-hari.
Lihat, 'kan? Tidak ada alasan untuk Draco tidak jatuh hati pada Harry.
Tapi sekarang, untuk sekarang—dari awal tahun ketiga posisi Draco sebagai calon pacar-nya Harry terancam bukan ini dimulai di tahun ketiga ketika Harry berkenalan dengan seeker baru Hufflepuff, Cedric Diggory—Merlin, dia benar-benar sudah mulai merapal mantra kutukan hanya dengan mengingat nama remaja bejat itu—dan sejak saat itu, Harry mulai dekat dengannya, sampai isu saingan Drarry (nama yang disematkan pada mereka berdua: Draco dan Harry) menyebar ke segala penjuru Hogwarts. Itu adalah gosip bahwa Diggory tengah dalam masa pendekatan dengan Harry—sebelum memintanya berkencan. Sialan!
Salazar, tidak cukupkah Michael Yeung yang berlaku sebagai penyulut api emosi dan cemburu bagi Draco sampai-sampai Diggory menyelinap di antara mereka berdua?
Oleh karena itu—Draco behenti menulis, memasukkan pena bulunya ke dalam botol tinta dan mulai memeriksa catatan mimpinya—Draco akhirnya membulatkan tekad untuk mengajar Harry ke Hogsmeade besok hari, di sana dia akan mengutarakan perasaannya pada si zamrud. Dia tidak mau keduluan.
Rencananya, 'sih, dia akan bertanya pada anak itu tadi, tepat di saat mereka memasuki kamar internat mereka berdua, tapi secara mendadak temannya itu memisahkan diri dari kelompok Slytherin yang lain dan mengatakan akan segera kembali ke asrama sembari memegang buku tua di genggamannya. Draco awalnya ingin mencegat, tapi mengingat sahabatnya itu tidak suka disergah begitu saja akhirnya dia mengurungkan niatnya. Toh si Hugglepuff terlihat sudah bersama kawanan luwak lainnya menuju ke arah berlawanan dengan Harry, dia tidak perlu khawatir—kan?—akhirnya ia putuskan untuk menunggu. Tapi setelah dua jam berlalu tidak ada tanda-tanda anak itu akan kembali ... dia mulai khawatir.
Mengabaikan kertas tugasnya di atas meja, Draco pun segera berdiri dari duduknya dan menyambar jubah hitam panjang yang terbaring di kasurnya. Dia berniat mencari Harry.
Namun, belum dia mencapai pintu kamar, daun kayu itu sudah lebih dulu terjerembab lebar, memampangkan sosok sahabatnya yang berdiri dengan wajah memerah—sepertinya karena antusias yang berlebihan—dan napas yang terengah-engah. Peluh menempel di jidatnya serta rambutnya tampak lebih berantakan daripada biasanya. Sepertinya anak itu baru saja berlari beratus-ratus meter jauhnya.
Dan sebelum Draco sempat bertanya dari mana saja pada Harry, pemuda yang lebih pendek itu lebih dulu mendekapnya erat sambil menggeliat. Dia benar-benar sangat senang sekarang, Draco yakin ini.
"Jangan banyak tanya, pokoknya kau harus ikut denganku!" serunya sebelum melepas pelukannya dari Draco dan segera bergegas membongkar lemarinya. Dia kemudian mengeluarkan selembar jubah hitam keperakan yang bila membentang akan membuat sesiapa pun yang memakainya tak terlihat oleh mata. Jubah Gaib.
"Kau benar-benar harus ikut denganku! Ini benar-benar adalah penemuan—"
"Jam Malam sudah akan segera diberlakukan, Harry. Kau tidak bisa dengan mudah berkeliaran kalau begini," potong Draco, menyabarkan Harry dengan cara menunjuk jam dinding kamar mereka.
Harry terlalu keras kepala untuk menaati aturan, Draco sadar.
"Ini lebih penting, Dray! Aku tidak bisa menunggu sampai besok," rengeknya. "Kita tidak bisa menunggu sampai besok," tegasnya mengulang. Dia melangkah mendekat dan menatap Draco dengan tatapan meyakinkan, berusaha mentransfer pikirannya pada Draco bahwa tidak ada masalah yang perlu di khawatirkan.
"Kita membawa Jubah Gaib, tak akan ada yang terjadi—"
"Kecuali kau menyenggol baju zirah atau menginjak Ny. Norris sampai Filch akhirnya menyerahkan kita pada Profesor Slughorn karena ketahuan berkeliaran di luar jam malam," potongnya tiba-tiba yang membuat Harry pelan-pelan menyengir tipis, mengingat beberapa kecerobohannya.
"Itu, 'kan, dulu!" elu Harry, mengelak dari apa yang Draco katakan.
"Tetap saja kau membuat Slytherin turun dua puluh angka, Harry," balas Draco berusaha menyampingkan rasa penasaran yang menghantui benaknya tentang apa yang ingin Harry perlihatkan.
"Apa memang yang membuatmu seperti ini?" tanya Draco akhirnya. Dia berdiri di depan pintu, menjadi penghalang kalau sewaktu-waktu Harry berniat kabur.
Air muka Harry seketika menjadi terang saat dia bertanya, seakan tahu kalau sahabatnya itu bisa dengan mudah ia hasut.
"Ruang Rahasia!"
Beruntung telinga Draco cukup tajam untuk mendengar kata-katanya, kalau tidak pastilah pemuda platina itu kembali bertanya.
Mata Draco membelalak. Kakinya refleks mengayun mendekati Harry. Yang benar saja?! Tidak mungkin Harry menemukannya! Ruangan itu sudah tersembunyi lama sekali—Merlin, bagaimana dia bisa lupa? Harry, 'kan, diasuh langsung oleh sang Kegelapan, tentu saja dia tahu.
Harry yang seakan tahu apa yang dipikirkan Draco, mengangguk mantap, berisyarat kalau yang dikatakan semua benar.
"Makanya aku kembali untuk mengajakmu, aku tidak mau ke sana sendirian, kau harus melihatnya," seru Harry bersemangat. Tangannya kembali menyambar tangan Draco dan langsung menarik pemuda itu tanpa meminta perizinan, menggeretnya keluar dari asrama dan buru-buru menutupi tubuh mereka dengan Jubah Gaibnya.
"Bagaimana kau menemukan ruangan itu?" tanya Draco dengan nada menuntut penjelasan, raut keterkejutan masih membara di mukanya.
"Di awal semester papa memberitahuku kalau sudah saatnya aku tahu tentang Ruang Rahasia dan dia memberiku buku ini," jawab Harry seraya mengeluarkan sebuah jurnal usang yang tampaknya sudah berusia seratus tahun lebih dari balik jubah santainya. Jurnal itu adalah buku tua yang tadi dia lihat Harry bawa. Draco kemudian meraibnya.
"Dan kau tidak memberitahuku atau Michael?" tanya Draco tak yakin, pasti Harry memberitahu si bocah Yeung itu—"Tidak," sanggah Harry, "aku tidak memberitahu siapa-siapa, aku ingin mencari ruangan itu sendiri dan menjadikannya kejutan."
Draco bernapas lega sekaligus menyeringai. "Berarti aku yang pertama mengetahui penemuanmu ini?" tanyanya.
Harry mengangguk sebelum berhenti. "Diam. Ada Filch," bisik Harry menghadang Draco, membuat langkah mereka berhenti untuk sementara sampai sosok pria tua itu hilang di balik lorong.
"Dan bagaimana kau menemukan ruangan ini?" tanya Draco lagi saat mereka menaiki tangga marmer yang menuntun mereka ke lantai dua.
"Kita berdua sudah tahu kalau terakhir kali ruangan itu dibuka adalah lima puluh tahun silam dan satu nyawa melayang. Orang itu adalah Mytles Warren. Dia tumbal Horcrux papaku jadi kupikir dia tidak tahu apa-apa—dan tentunya aku tidak akan mengajak hantu gila itu mengobrol soal hal seperti ini," jelas Harry sewaktu Draco membuka jurnal tua itu dan membaca beberapa baris awalnya. Terdapat tulisan sambung antik yang menuliskan nama sang pemilik buku: Corvinus Gaunt.
"Gaunt?" tanya Draco.
"Nenekku, ibu dari papaku adalah Gaunt," jawab Harry singkat.
Kembali mata Draco terbelalak, dia tidak pernah tahu kalau sang Kegelapan benar-benar keturunan Slytherin langsung.
"Itu sebabnya kau Parselmouth, yah?"
Harry mengangguk. Dia tidak bisa dengan gamblang mengatakan kalau papanya menjadikan dirinya Horcrux.
"Sihir pertalian darah," jawabnya singkat. Keduanya berjalan tenang menyusuri koridor yang gelap, hanya cahaya rembulan yang menjadi pengiluminasi di sana.
"Aku lanjutkan," imbuhnya. Draco mengangguk.
"Di dalam jurnal itu mengatakan kalau Ruangan Rahasia terdapat beratus meter di bawah sekolah dan jalan rahasianya disamari berbagai pipa yang meliuk-liuk," jelas Harry. "Jadi aku mencoba mencari di beberapa ruangan sekolah yang sekiranya bisa menyembunyikan ruangan itu dari jangkauan siapa saja.
"Pertama aku encari di toilet ruang bawah tanah yang ada di dekat asrama kita. Aku pikir karena yang membuat ruangan ini adalah Slytherin sendiri maka pasti ruangan itu terletak tak jauh dari asrama kita. Tapi ternata aku salah, karena setelah menghabiskan waktu sebulan mencari di tiap-tiap celah, tak ada tanda-tanda kalau pintu masuknya ada di sana.
"Kemudian aku mencoba mencari di beberapa ruangan yang sudah tidak terpakai untuk beberapa bulan terakhir, tapi tetap tak membawakan hasil,"—mereka berdua dengan beriringan meniti anak tangga marmer yang mengarah pada lantai dua—"dan ketika aku kembali membaca jurnal itu tadi sore, tiba-tiba saja aku terpikirkan akan sesuatu," katanya seraya menoleh pada Draco. Anak platina juga menatapnya sekarang, beralih atensi dari buku yang ada di kedua tangannya.
"Itu sebabnya kau pergi?'
"Ya." Harry melanjutkan langkahnya, menuntun Draco yang melangkah seraya membaca beberapa garis kata-kata di dalam jurnal. "Aku terpikirkan ... bagaimana papaku yang waktu itu masih berusia enam belas tahun membunuh seorang gadis," jelasnya. Sekarang Draco benar-benar mengalihkan pandangannya secara keseluruhan dari buku kepada Harry.
"Maksudmu ... papamu menggunakan Basilisk untuk membunuh Martles?"
"Iya. Kematiannya sempat membuat satu sekolah geger sampai-sampai Hogwarts hampir ditutup. Beruntung papaku bisa membuat semua Hogwarts percaya kalau Hagridlah yang membunuh anak itu.
"Jadi tadi, setelah makan malam, aku langsung datang ke toilet yang dihantui Martles untuk bertanya langsung—dan kau tahu apa yang kudapat?" tanya Harry antusias.
"Kau mendapat jawaban," kekeh Draco.
Harry mengangguk cepat. "Benar. Aku menemukannya! Astaga! Kau harus melihatnya sendiri!" seru Harry seraya menyambar tangan Draco.
"Tunggu," sanggah Draco. "Maksudmu ... pintu rahasia itu ada di sini?" tanyanya.
"Ya, ada di sini."
Mereka sudah sampai di depan ruangan yang mereka maksud: Toilet Myrtle Merana.
Perlahan mereka membuka pintu toilet agar tidak melahirkan suara decitan. Masuk ke dalam, Harry langsung menyingkap Jubah Gaibnya dan menuntun Draco melangkah lebih dalam sampai mereka berhenti di depan sekumpulan wastafel yang melingkar di tengah ruangan.
"Di mana?" tanya Draco celingak-celinguk, mencari pintu rahasia yang dimaksud oleh Harry.
"Di sini," jawab Harry menatap lurus ke arah sekumpulan wastafel. Draco mengikuti arah matanya memandang.
Tangannya terulur untuk meraba salah satu keran yang di sisinya terukir seekor ular meliuk, samar terlihat kecuali kalian mengamatinya dengan begitu jeli.
"Ini adalah pintu masuk ke sana," jelas Harry singkat.
"Dan bagaimana kau membukanya?" tanya Draco.
Bibir ranumnya tertarik ke sebelah kanan sedang mata zamrudnya melirik Draco nakal. "Kau pikir?"
"Maksudmu ... menggunakan Parseltongue?"
Harry mengangguk sebelum memfokuskan pikirannya pada wastafel, dan berdesis, "Buka ..."
Bulu kuduk Draco bergidik mendengar suara desisan Harry yang menggema di tiap-tiap penjuru ruangan, menyelubungi indra pendengarannya.
Sepuluh wastafel putih yang ada di depan mereka sontak bergetar dan pelan-pelan bergeser, saling berpencar ke arah berlawanan, memperlihatkan lubang besar yang lama mereka tutupi. Dari dinding lubang berbentuk lingkaran tabung itu muncul anak tangga spiral yang menuntun ke dasar pipa gelap gulita.
"Ayo," ajak Harry sembari berbisik mantra "Lumos" untuk memunculkan cahaya seterang bintang di ujung tongkatnya. Keduanya lalu menuruni tangga dengan saling berdempet, berusaha tidak terpisah.
"Kau benar-benar tidak pernah ke sini, 'kan? Sendirian?" tanya Draco.
Harry menggeleng. "Tidak, tidak pernah."
"Bagus," ujar Draco mengangguk seraya menarik tangan Harry sewaktu mereka sudah tiba di dasar lorong.
Keduanya kemudian melangkah beriringan menyusuri lorong panjang gelap nan lembap. Hanya suara tetesan air dari pipa-pipa saluran yang menemani derap kaki mereka untuk beberapa lama.
"Harry," gumam Draco.
"Ya?"
"Kau tahu, 'kan, apa yang menjaga tempat itu?" tanya Draco. Dia baru ingat soal legenda yang beredar di kalangan darah murni.
Harry mengangguk samar. "Tentu saja," jawabnya, "tapi tenang. Basilisk yang ada di sana sudah dipindahkan ke Brankas Gaunt, sekarang berganti nama menjadi Riddle, beberapa dekade lalu."
Kepala Draco serentak menoleh. "Maksudmu ... Pangeran Kegelapan memindahkan ular itu ke Gringontts?!" Langkahnya berhenti bertepatan ketika ia bertanya.
"Ya," jawab Harry singkat. "Kau pikir papaku akan begitu bodoh meninggalkan binatang seperti itu di sekolah? Dia terlalu berharga untuk dibiarkan mendekam di sini," imbuhnya seraya kembali menarik tangan Draco agar langkah mereka berlanjut.
"Tapi bagaimana?"
"Menurut jurnal Corvinus ada semacam lubang yang bersambung ke danau hitam, kurasa papaku menggunakan jalan rahasia itu," jelasnya singkat.
Langkahnya berhenti sebelum Draco dapat kembali bertanya, keduanya sudah tiba di ujung lorong gelap. Di depan mereka berdiri tegap sepasang pintu besi yang di permukaannya terukir berbagai macam jenis ular yang meliuk-liuk menghubungkan antara daun pintu yang satu dengan daun pintu yang lain.
"Buka ..." Harry mendesis kembali dan ular-ular yang tampak mengunci pintu itu pun bergerak dengan sendirinya, menjadi hidup kemudian menyingkir ke arah bingkai.
Perlahan, dengan suara decitan yang amat keras, pintu kuno itu pun menderit terbuka, menampakkan sebuah ruangan raksasa berpilarkan dua puluh tiang yang dililit patung ular bermata delima. Temaram sewarna nipis dari api-api hijau kekuningan menyelubungi segala sudut kecuali langit-langit ruangan yang tampaknya tak berujung, gelap gulita ditutupi bayang-bayang. Di ujung lain ruangan itu, berdiri patung pria berjengkot panjang yang hampir menyentuh lantai keramik giok. Patung Salazar Slytherin
Harry dan Draco tak bisa menyembunyikan rasa keterkaguman mereka atas apa yang baru saja mereka lihat. Tak disangka kalau ruangan yang keduanya pikir bakal kumuh, kotor, dan becek karena sudah berabad-abad lamanya ditinggal ternyata adalah ruangan maha megah dengan berbagai batu mulia yang menghiasi mata-mata para patung ular. Keduanya masuk dalam diam, masih kagum akan apa yang tersaji di hadapan mata.
"Kita ... menemukannya—KITA MENEMUKANNYA!" seru Harry penuh semangat. Refleks dia memeluk Draco dan melompat-lompat karena kegirangan. Sedang Draco yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Harry membatu seketika, tak tahu harus berbuat apa selain membalas pelukan Harry.
"Aku benar-benar bisa menciummu sekarang, Dray!" serunya lagi yang sontak membuat suasana menjadi canggung seketika. Muka keduanya merah mendadak waktu jarak mulai tercipta di antara keduanya; tangan Draco sudah berpindah pada pinggan Harry, sedangkan tangan Harry membingkai pundak si platina.
Harry menunduk, melepas bingkaian tangannya dari Draco. "Aku—aku ... spontan, Draco. Maaf," cicitnya sembari menunduk.
Ide dengan cepat melintasi pikiran Draco saat itu juga. Saat-saat seperti inilah yang menjadi momen tepat untuknya mengatakan kebenaran pada Harry. Tak ada gangguan atau dengan begini dia bisa lebih mudah membulatkan tekagnya.
Berbekal keberanian seadanya dan rasa arogansi darah murni yang sudah menjadi ciri khasnya, Draco menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Harry ada yang perlu aku katakan."
"Y—ya?" Jantung Harry semakin menambah intensitas detakannya.
Draco tak langsung menjawab, melainkan perlahan mengatur napas dan pikirannya, berusaha tidak terlihat gugup tapi tetap saja gagal. Occlumencynya gagal menutup tabir yang ada di matanya.
"Aku—aku ingin mengajakmu ke Hogsmeade!" serunya cepat sampai-sampai Harry harus mengerutkan keningnya demi mengerti apa yang dikatakan Draco.
"Maksudmu?"
"Begini," Draco menarik napas dalam, "aku ingin mengajakmu berkencan di Hogsmeade besok. Aku—aku tahu kalau kau mungkin tidak punya persaan yang sama denganku, tapi ... kumohon dengarkan aku untuk sekaran." Gugup lagi-lagi kembali memakan kerongkongannya, membuat suaranya agak meninggi beberapa nada di kalimat terakhirnya. Namun berhasil dia kesampingkan untuk kembali melanjutkan kata-katanya.
"Awalnya aku hanya tidak suka melihatmu dikerumuni mereka, orang-orang yang melihatmu seakan kau adalah mangsa yang ideal. Aku juga tidak suka melihat bagaimana bocah Diggory itu selalu mencuri waktumu dengan alasan bodohnya ... tentu aku sudah lama mehan, tapi lama-lama—Salazar, sepertinya aku terlalu banyak bicara—" Kata-kata Draco terpotong oleh kecupan singkat Harry di pipi kanannya, kedua tangannya pun tak terasa sudah kembali mengalung pada Draco.
"Aku sudah bilang aku bisa bisa saja menciummu," gumam Harry sebelum terkikik karena melihat perubahan ekspresi Draco yang begitu drastis. Dari gugup yang dipaksa tenang ke riak penuh tanda tanya. Kalau saja dia tidak punya harga diri pasti mulutnya sudah mengaga lebar.
"Dan,"—Harry mencoba meraih kedua tangan Draco yang terasa lebih dingin daripada suhu di sekeliling mereka—"aku mau ikut denganmu," imbuhnya. Kegugupan tampak jelas juga di mata hijau terangnya.
"Tunggu. Kau mau ikut denganku ke Hogsmeade? Kencan?"
Harry mengangguk. "Tentu saja, siapa yang bisa menolak pangeran Slytherin sepertimu?" tanyanya retorik, bergurau.
Mata Draco memutar. Rasa canggung yang sempat merasuki pikirannya sudah mulai meleleh.
"Kebetulan," cicit Harry kecil, "aku juga berniat mengajakmu ke sana ... makanya aku—"
"Kau membawaku ke sini agar kau bisa lebih dulu mengajakku ke Hogsmeade, Riddle, hm?"
Harry mengangguk malu-malu. "Tapi sepertinya aku keduluan, kau memang brengsek," rajuknya.
Tawa ringan Draco menggema seketika, tangan kanannya yang tadi digenggam Harry sekarang terangkat untuk menata rambut Harry yang jatuh ke depan matanya, sebelum membingkai pinggang Harry. "Maaf kalau begitu, kau terlalu lambat—dan terlalu spontan." Seringai terpatri sekarang. "Oiya,"—dekapan Draco mengerat—"kudengar tadi kau mau menciumku," godanya.
Muka Harry tiba-tiba merengut, pipinya sedikit memerah. Ini dia, kembali lagi Draco si menyebalkan, pikirnya.
"'kan tadi sudah," belanya.
"Tapi aku tak bisa menikmatinya," tolak Draco dengan seringan, sedang wajahnya makin condong pada Harry. "Kau terlalu cepat tadi." Tatapan mata Draco meluncur turun dari dua mata Harry ke dua belah bibir yang sudah mendarat di pipinya lebih dulu tadi.
Harry tak menjawab perkataan Draco. Matanya juga mulai meleset ke bibir milik si platina. Mereka berdua bertahan dalam posisi demikian—Draco yang merangkul pinggan Harry dan Harry yang menumpu tangannya di dada Draco—cukup lama.
Pelan-pelan mata keduanya mulai menutup bersamaan dengan jarak yang mulai dihapuskan bersama—sampai akhirnya pertemuan antara bibir pun tak dapat dielakkan.
Awalnya mereka hanya diam, tak lebih dari mempertemukan bibir masing-masing tanpa niat apa pun sampai Draco mulai mempin, mulai mengecap rasa manis yang masih menempel di kedua celah bibir pemuda di dalam rengkuhannya.
Mendapati bibirnya dijadikan objek lumatan, Harry juga tak mau kalah, dia membalas kuluman Draco tak kalah intens.
Jantung yang berdebar kencang, darah yang mendesir ke muka, sampai akal yang mulai hilang tak ada yang dipedulikan. Satu-satunya yang menjadi sebab keduanya—lebih tepatnya Harry—melepas tautan keduanya adalah bahwa pasokan udaranya menipis.
Terengah-engah, Harry terkekeh. Jidat mereka masih menempel kendati bibir masing-masing sudah berpisah.
"Aku tak pernah tahu kalau kau cukup ulung," bisik Harry bergurau.
"Hm, aku pun," kekeh Draco.
Keduanya bertahan dalam posisi demikian cukup lama sampai kembali Draco memecah hening. "Aku akan mengumumkan hubungan baru kita," bisiknya.
"Besok? Bagaimana?" tanya Harry, kepalanya ia tarik sehingga dapat dilihatnya paras aristokrasi runcing milik sang kekasih (baru).
Seringai Draco terukir di wajahnya. "Kau akan tahu sendiri nanti," jawabnya mengelak, "yang jelas kalau ada yang mendekatimu setelah ini, aku benar-benar akan mencabik-cabik mereka."
Harry mendengus. Kebiasaan, pikirnya.
"Kau benar-benar, yah. Tapi jangan sampai membuatku malu," pintanya.
"Tentu saja, Yang Mulia," gumamnya kemudian kembali mencium Harry, menenggelamkannya dalam lautan cinta yang sudah lama dia kumpulkan seorang.
Keesokan harinya, sebagaimana yang dikatakan Draco semalam, pemuda itu benar-benar langsung mengumumkan status barunya dengan Harry Riddle sejak pagi-pagi buta. Dan tentu saja berita itu membuat satu sekolah heboh sekaligus menjadi sebab Harry menutup muka sepanjang hari kelakuan kelakuan absurd yang dimiliki kekasihnya.
Bagaimana tidak? Anak itu memutuskan untuk membuat spanduk sihir yang digantung di depan Aula Utama dengan tulisan:
HARRY RIDDLE RESMI MENJADI KEKASIH DARI DRACO MALFOY. JADI KALIAN JANGAN MENARUH HARAPAN LAGI! TERUTAMA KAU, BOCAH DIGGORY!
Hari itu bukan hanya Draco yang menjadi alasan dia malas keluar dari kamar internatnya, melainkan juga Dumbledore. Pria tua itu agaknya memang suka melihat Harry menderita. Dengan sengaja dia melarang Filch untuk menurunkan spanduk yang dipasang Draco, membuat sesiapa pun yang melewati Aula Utama dengan mudah melihat pengumuman besar-besaran itu seharian penuh.
Terima kasih sudah membaca!
Kalau kalian punya kritik, saran, dsb bisa disampaikan di kolom komentar yah! Jangan lupa ninggalin jejak! Sampai jumpa di bab selanjutnya.
