CHANGED CRAZY

PAIR : DMHP

RATTING : T

AUTHOR : Aika07


Harry keluar dari kelas transfigurasi setelah selesai dengan semua soal-soal ujian,

Namun ia menatap berbeda setelah berada di luar kelas, biasanya Draco ada di sana, menunggunya ketika pelajaran selesai ketika dia berada di kelas yang berbeda dengan pewaris tunggal keluarga Malfoy itu.

Tapi mungkin saja dia belum selesai dengan ujiannya, mungkin saja itu cukup sulit. Ron juga masih belum selesai sementara Mione yang sudah dari tadi pergi keperpustakaan untuk kembali belajar dengan keras.

Harry terdiam beberapa saat sebelum akhirnya melangkah pergi menuju asramanya, suara ketukan sepatu berdengung ketika dia menapaki tangga,

Beberapa hantu mengobrol di ambang jendela dengan santai. Harry melewati mereka begitu saja. Dan saat dia sampai di depan lukisan nyonya gemuk dia mengatakan kata kunci dan pintu terbuka.

Dengan pelan santai dia masuk dan mendapati beberapa anak Gryffindor tahun ke 4 sedang belajar dan bersantai.

Harry berjalan kearah kamarnya. Begitu dia sampai dan menutup pintu, ia segera mengganti pakaiannya dan merebahkan diri di ranjang.

Mata hijau nan cantik itu menatap kearah langit langit kamar dengan sendu. Kala merasakan kantuk yang mulai menyerang, Harry melepas kacamatanya, dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Dan sekarang kelopak mata itu menutup dengan sempurna. Harry tidak tau sudah berapa lama dia tidur, mungkin saja karena dia agak lelah. Dia dengan cepat terlelap seperti bayi.

Dalam tidurnya, Harry bermimpi, dia berada di sebuah padang rumput hijau. Matanya dengan penasaran menatap sekitar. Kaki nya dengan pelan melangkah maju,

Angin dengan lembut menyapanya. Suasana tenang dan teduh. Ini bukan mimpi yang biasanya. Karena biasanya dia hanya memimpikan kematian, Voldemort yang tiba tiba kembali hidup dan mimpi mimpi mengerikan lainnya.

Langkah nya begitu ringan, dia bahkan tidak tahu sejauh apa dia berjalan, merasa lelahpun tidak. Hanya saja mimpi ini aneh, rumput hijau yang membentang dan bunga bunga yang tumbuh dan mekar,

Harry mempercepat langkahnya, dan begitu dia melihat sebuah pohon besar dengan bangku panjang bercat putih, langkah nya terhenti.

Pohon itu terlihat cukup tua dan rindang, memiliki ranting-ranting yang panjang dan kokoh serta dedaunan hijau yang berbunga, seseorang duduk di bangku itu membaca sebuah buku.

Karena penasaran, Harry mendekatinya dengan hati hati. Begitu cukup dekat Harry menatap horror orang itu. Orang itu adalah...

"Malfoy!?"

Hei, apa yang dia lakukan di mimpi Harry untuk yang kedua kalinya.

Draco mengangkat kepala nya dan menatap Harry, dia menatap dengan intens dari kepala sampai kaki secara berulang,

Harry masih berdiri dengan kaget, dan dia terdiam. Malfoy juga diam, terlihat sama sekali tidak ingin bicara.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara dingin itu datang dari Malfoy yang menatapnya dengan datar.

Entah mengapa hati Harry terasa terenyuh mendengarnya. Biasanya pangeran Slytherin itu berbicara dengan nada yang hangat.

"Yang harusnya bertanya adalah aku. Aku pikir ini mimpiku, apa yang kau lakukan di sini?" Harry menatap Malfoy sengit.

Draco meletakkan tongkat sihirnya di lembar kertas yang tadi ia baca dan menutup bukunya. Draco menatap nya dengan pandangan bosan.

"Aku tidak tahu apa yang kau katakan Potter, entah ini mimpimu atau dunia lain dan dimensi lain sekalipun, yang aku inginkan hanya ketenangan." Bahkan pemuda itu tidak menawari Harry duduk sekalipun.

"Jika kau tidak bisa menbantu ku jangan menggangguku. Jika ini mimpimu, maka tolong segera bangun. Aku tidak ingin diganggu. Biarkan aku sendirian!"

Harry terdiam masih menatap Malfoy dengan tatapan bingung.

"Pergilah, Pergi bangun sana Potter! Jangan menatapku!" Draco mengangkat tangannya dan mengibaskannya seolah olah mengusir seekor lalat.

"Ba—bagaimana dengan ibumu?" Gumam Harry.

Kibasan tangan pucat itu terhenti. "Huh?" Draco menatap Harry dengan kriyitan bingung, "Dia baik baik saja. Sudah sana pergi!"

"Dan— dan, undangan untuk merayakan natal di Malfoy Manor?" Entah menagapa Harry merasa semua kata kata yang keluar dari mulutnya tanpa kendalinya, seolah-olah utu muncul dan bersuara secara otomatis.

"Kapan aku mengundangmu ke Malfoy Manor? Kau pikir aku sudah gila sampai sampai mengundangmu? Yang ada kau akan menghancurkan Manor saat kau datang dengan pasukkan mu."

Harry menatap Draco, ini adalah Draco yang selama ini dia kenal, bukan Draco yang hampir satu bulan ini mengkutinya dan berbicara manis tentang cinta yang memuakkan.

"Malfoy?" Panggil Harry.

"Apa lagi Potter!? Sudah sana bangun! Jangan ganggu aku!"

"Malfoy"

"Diam!"

"Malfoy"

"Shut up! Damn't!"

"...Draco"

"Go Hell, Mr. Potter!"

"ppfftt..." Harry menahan tawanya. Ternyata menyenangkan mengganggu seseorang, ngomong ngomong apakah ini yang dirasakan Draco saat menganggunya di dunia nyata, hell karena ini cuma mimpi kan?

"Apa yang kau tertawakan!?" Malfoy menatapnya kesal.

"Tidak ada. Hanya saja bagaimana cara nya bangun?"

"Tidak tahu! Pikirkan saja sendiri dengan otak kecil mu itu!"

"Wow, kenapa kau galak sekali? Biasanya juga bersikap manis dan manja,Hahahaha!"

"Berhenti bicara! Atau ku ubah mulutmu jadi moncong babi!"

"Kenapa harus moncong babi? Kenapa tidak dicium saja. Nanti aku diam" Dan Harry kembali tergelak oleh lelucon yang dia lontarkan sendiri. Merasa geli tentu saja, dia bahkan tidak menyangka akan mengatakan hal hal menggelikan seperti ini.

Malfoy yang kesal bangkit dari duduk nya dan menghampiri Harry yang masih tertawa. Menarik tangannya dan memeluk pinggang ramping itu.

Tawa Harry yang tadi mengudara berhenti secara tiba-tiba, Draco menempelkan bibir mereka berdua. Mata hijau itu melotot secara sempurna, tubuhnya menjadi kaku secara tiba tiba.

Shock, dan tidak tahu harus melakukan apa. Keterdiaman Harry seperti memberi Draco sinyal dan perizinan untuk sedikit memberinya pelajaran.

Bibir yang tadi hanya mengecup, kini Draco dengan iseng menggigit-gigit dengan ringan. Tangan kanannya memeluk pinggang Harry, dan tangan kiri nya menahan kepala Harry,

Harry mencoba menggerakan tangannya dan mendorong Draco. Draco tetap keukeh dan menciuminya. Menggigit, mengecup dan mengulum bibirnya, sementara mata kelabu itu masih menatap dengan jengkel Harry yang melotot.

Harry bisa merasakan bau anyir dan rasa asam saat darah yang keluar dari bibirnya yang di gigit terlalu kuat.

"Mmmphmmpph!"

Draco melepaskan tautan mereka dan menatap dengan pandangan remeh kearah Harry yang memerah, kemudian menjilat bibirnya yang terdapat bercak tetes darah Harry.

"Sudah kan? Sekarang diam!"

Benar benar ciuman yang tidak aestetic, batin Harry. Masih dengan mata yang melotot kesal.

Entah menagapa wajah Harry yang kesal membuat Draco menjadi cukup senang. Dan dia bahkan dengan senang hati lembali mencium pemuda di depannya.

Harry kembali di kagetkan dengan bibir tipis yang pucat dan terasa dingin menempel di bibirnya. Mencium dengan ringan,

Draco memiringkan sedikit kepalanya dan mencium dengan lembut, menggigit bibir bawah Harry dan menjilat bagian yang terluka.

"Mmhh~" Harry mencengkram erat bahu Draco hingga seragam nya kusut.

Perubahan ekspresi itu membuat Draco menjadi bersemangat, dia bahkan mengelus pinggang Harry dengan gerakan sensual.

Menggigit kemudian menariknya, melepaskan dan kembali mencium.

"Buka mulutmu," Ujar Draco dengan bisikan.

Harry tidak tahu mengapa dia bahkan tidak bisa menolaknya dan dengan pasrah membuka bibirnya.

Organ tak bertulang itu masuk dengan mudah, menjelajah celah yang hangat, lembab dan basah.

Suara kecipak basah terdengar cabul di telinga Harry yang sudah memerah padam.

Menjelajah, bertukar saliva dan beradu deru nafas membuat Harry hampir gila.

Draco menarik kembali lidah nya dan mengulum bibir Harry sebagai gantinya. Mereka bergumul cukup lama, sampai akhirnya Draco terpaksa menarik dirinya lebih dulu saat dia tahu ini tidak akan ada akhirnya.

"Kau cabul Potter." ujarnya dengan kekehan pelan.

Dan setelah Malfoy mengatakan itu, jantung Harry berdetak dua kali lipat lebih cepat. Malu tentu saja dan dia ingin menghajar Malfoy sialan ini sampai mati.

Mata Harry sontak terbuka dan dia segera bangun dari tidur 'pulasnya.

"AAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Deru nafasnya tidak teratur dan saat dia menatap ke sekliling dia mendapati dirinya ada di kamar asrama dan Ron baru saja masuk dengan wajah suntuk melompat kaget dan hampir terjungkal mendengar teriakan menggelegar itu.

"HARRY!"

"WAAAAAAAAAAAAA!!!" Dah yah, teriakan itu berlanjut selama 2 jam penuh, dan benar benar mengganggu penghuni asrama Gryffindor.

Seamus dan Ron bahkan mengambil kesimpulan kalau mimpi yang Harry hadapi kali ini lebih buruk dari mimpi buruk yang biasanya.

To be Continued

wkwkwk, ada yang masih nunggu ga?