ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


5 days ago

Baekhyun masih bersiap dengan setelan sederhana rumah sakit. Kris bilang ia akan bertemu seseorang yang penting. Jadi ia merapikan penampilannya sedikit. Dipikirnya yang datang adalah kekasih Kris yang sudah lama ia curigai. Tetapi jika itu benar, Kris tidak mungkin akan datang terlambat.

Hampir 30 menit Baekhyun menunggu di ranjangnya. Memandang luas ke luar jendela, sambil mengamati bunga gerbera kuning pemberian Wendy di dalam vas. Bunga itu mulai layu, sedikit kering airnya. Maka saat Baekhyun tertarik untuk bangkit, ingin mengganti isi air vas, pintunya sudah dibuka tiba-tiba.

Sosok pria berkulit pucat menghampiri dengan senyum menawan. Berdiri disana dengan setelan tak kalah hebat. Dan Baekhyun seribu persen yakin jika bukan pria itulah yang Kris maksud.

"Oh, aku menemukan adikku," ujar pria itu penuh senyum kemenangan.

e)(o

Berlarian saat malam di Monako Harbor sebenarnya bukanlah gaya Kris. Dua jam menyetir melewati perbatasan antara Paris dan Monako cukup membuatnya kehilangan garis sabar. Turun dari mobil, pria itu memutuskan untuk melawan keramaian yang berhambur turun dari kapal. Mantel panjangnya tertiup angin malam. Kedua lengan bertabrakan dengan para penumpang yang turun bergantian. Seratus manusia yang ia temui lalu memiliki tujuannya sendiri, sebagian besar memilih city tour dan sisanya menetap di kapal. Dan Kris tetap kewalahan menaiki berbagai anak tangga, meski bukan kali pertama mengitari badan kapal pesiar.

Dengan bantuan seorang chief crew di lobi, ia akhirnya menemukan nomor kamar yang ia cari. Maka langkah panjangnya ia bawa melenggang memasuki lift. Naik ke deck tiga begitu cepat, sampai menelusuri lorong-lorong sempit. Tidak perlu tersesat Kris saat menemukan atrium megah di tengah ruang. Kaki jenjang yang ia punya terus ia bawa berkelana menuju anak tangga putar. Sekali lagi menelusuri lorong, yang kali ini jauh lebih luas sisinya.

Sebuah pintu yang tertutup ia ketuk di ujung kacau. Dua kali dan tidak pernah ada sahutan. Ia lantas memutuskan untuk menurunkan gagangnya. Masuk dengan tergesa, setelah terkejut karena menemukan pintu itu sama sekali tidak terkunci. Buru-buru Kris menyapu seluruh ruangan. Berlari sendiri ke tengah ruangan sampai menemukan sosok yang ia cari terduduk di lantai.

Baekhyun berada disana dengan kemeja berantakan. Sorotnya kosong, sedangkan jemarinya digenggam dengan gelisah. Di dekat kakinya, sosok pria dengan atasan nyaris lepas tergeletak tak sadarkan diri. Butuh banyak detik sampai Kris mengenali sosok pria yang jatuh tidak berdaya itu.

Kris berkali-kali mengguncang bahu Baekhyun yang masih belum tersadar dari lamunannya. Setelah menemukan mata bulan sabit itu tergenang, ia pun segera bergerak mendekati sosok yang lain. Pria itu berjongkok memeriksa kesadaran sosok familiar di lantai. Beruntung nafas si pria masih terasa─meski lemah. Itu cukup untuk membuat siapapun tenang karena Park Chanyeol belum sampai menjadi mayat.

Tak jauh dari sana, genangan wine beserta gelasnya tumpah di bawah meja. Tidak butuh waktu lama sampai Kris menebak apa yang telah terjadi. "Baek, apa yang─"

"Aku mungkin memberinya terlalu banyak," ujarnya cepat. Sambil menarik surai coklatnya, sosok itu melirik kosong. Ingin terlihat begitu puas dengan hasil karyanya, namun berbeda dengan apa yang Kris temukan.

Baekhyun sama sekali tidak terlihat puas. Sorotnya gemetar ketakutan, kulit pucatnya lebih dahulu berbicara bahwa ini bukanlah bagian dari dirinya sendiri. Tanpa sadar, Kris mulai berandai jika semua hal tidak disembunyikan. Jika Ketua Park mau berpikir bahwa hal yang ia ciptakan tidak pernah tepat, apa Baekhyun akan tetap begini?

"Apa yang kau berikan padanya?" tanya Kris awas. Tentu ia takut jika berurusan dengan nyawa seseorang, terlebih nyawa putra seseorang yang memberinya kepercayaan. Sebuah kepercayaan yang menjanjikan untuk Baekhyun terus bernafas hidup.

Namun semua hal yang dilakukan Kris seakan percuma. Bahkan ketika Baekhyun menjawab dengan jujur, tentang campuran kimia apa yang ia tuang ke dalam gelas minuman Chanyeol, Kris hanya bisa menyayangkan berbagai hal.

Baekhyun perlahan membuka genggaman erat tangannya. Jemari itu penuh gemetar, pucat ketika melepas sesuatu dari sana. Sebuah botol ekstasi kecil mulai menggelinding di lantai. Sementara isinya telah tandas. Tentu bisa Kris bayangkan apa yang tengah terjadi dengan botol itu─sehingga Chanyeol bisa tergeletak tak sadarkan diri.

Kepala Kris berputar seakan ingin terlepas dari lehernya. Berdenyut sendiri tanpa mau mendengar keluhan jika emosinya tidak ingin dilibatkan. Ia mungkin sudah kepalang lelah meladeni tiga Park bersaudara di Seoul. Dan ia tidak bisa membayangkan jika Baekhyun ikut mencekiknya sebagai tambahan. Apa pula yang pernah Ketua Park itu sesalkan hingga memiliki putra yang bisa berbuat seenaknya begini?

"Dia bisa mati, apa yang kau pikirkan?!"

Seolah tidak terima dengan ketegasan itu, Baekhyun menajamkan tiap ekor matanya. Kris mungkin pernah melihat bagaimana pemuda itu marah, tapi kali ini kemarahan itu terasa menyayat di kulitnya. Seakan ada banyak emosi yang terbakar dalam hati, tidak akan puas sampai semua yang dilihatnya menunduk patuh.

"Lalu bawa dia menyingkir dariku. Bukankah itu tugasmu?" Baekhyun menekan tiap kalimatnya. Terdengar memerintah, karena memang dia berhak untuk melakukan semua itu. Ia seseorang yang akan menggantikan kursi ayahnya. Seseorang yang akan Kris lindungi dengan hidupnya, seperti ayah si pemuda yang sampai saat ini masih ia patuhi perintahnya.

Dan sebagiannya mungkin menjadi balasan untuk Kris karena telah merenggut kebebasan Baekhyun yang berharga. Juga untuk semua kebohongan yang pria itu tulis. Sebab Kris nyatanya mendekati Baekhyun karena sebuah perintah. Ia pun hidup untuk semua perintah itu.

Kris hanya bisa mendegus kini. Karena percuma melawan seseorang yang terbakar dendam. Ia sendiri pun paham mengapa Baekhyun marah. Sebuah hal yang wajar. Namun tindakan meracuni minuman seseorang adalah tindakan yang tidak waras. Sebenci apapun manusia pada manusia lainnya, seharusnya tidak bermain dengan nyawa.

"Bukan ini yang seharusnya kau lakukan." Kris mulai mengangkat tubuh besar itu di punggungnya. Menatap Baekhyun sekali lagi seolah ingin memberinya pelajaran terakhir sebagai seorang teman. "Bukan begini caranya."

e)(o

"Kau pikir kenapa semua orang datang padamu?"

Hari itu Baekhyun tercenung dalam untaian jemarinya. Menunduk dalam untuk menjejal seluruh kalimat pria asing yang tiba-tiba menjadi banyak bicara untuknya. Hati Baekhyun begitu kuat mencengkram, ingin meledak, sebab tidak kuasa menampung. Dan bukan karena ia ingin menangisi diri. Hanya sebuah kebencian yang pertama kali hinggap disana.

"Kau bisa lihat dari tujuanku─sebuah rahasia." Pria berkulit pucat, yang hari ini memperkenalkan diri sebagai Park Sehun, masih berucap seenaknya. Masih sok tahu soal dirinya. Padahal bukan seseorang yang menangani semua masalah hidupnya, untuk apa Baekhyun percaya?

"Aku bisa menebak kau pernah membaca diary itu. Mengenai perasaan ibu─" Kalimat itu menghantam Baekhyun. Untuk kata diary, bagian dari dirinya berteriak yakin. Tentu ia ingat seluruh isi lembarannya.

"Ibu memilih bunuh diri dan menyembunyikanmu disini. Kau tahu alasannya?"

Pria pucat itu menatap kedua bongkah hitam maniknya. Kembali meracuninya dengan hal-hal tidak terduga. Sebuah pemikiran klise, sebuah cerita tak masuk akal, lalu darimana pula pria ini tahu soal dirinya? Sampai pertanyaan-pertanyaan seperti itu mampir dalam pikirannya. Menjadikan Baekhyun hanyut entah kemana.

"Pria tua itu bukan ayah yang baik. Meski aku juga ingin bilang jika ibu bukan orang yang baik. Ayah mana yang jahat? Ibu mana yang meninggalkan putranya hanya karena ingin membuat suaminya balas menderita? Ibu mana yang membawamu pergi, lalu ditinggal sendirian?"

Mendengar itu entah bagaimana air mata Baekhyun jatuh dari sudut matanya. Kata ibu dan ayah seolah ujung benua, ia tidak pernah mendengar dua kata itu sejak kecil. Sekalipun ia menangis, Baekhyun tidak merasa pernah membutuhkan keduanya. Belum pernah ia panggil dua kata itu dalam hidup, selain kata nenek. Karena ia hanya punya nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Belum pernah ada dongeng yang berkisah tentang sang petualang menemukan kedua orang tua, selain cerita menemukan hidup. Berkelana sendirian, menemukan teman dan menemukan alasan yang membuatnya kuat. Sejak kecil Baekhyun belajar bahwa ia tidak butuh ibu dan ayah.

"Berhenti," interupsi Baekhyun merapus jejak air matanya. Ia tidak boleh menuang rindu. Sebut egonya memberontak untuk diakui. Baekhyun bukan seseorang yang menarik kembali kata-katanya. Bukan.

"Sama denganku, kau tidak akan bisa mengelak. Sudah sewajarnya semua orang hidup dengan cerita," sambung si pria. Masih dengan wajah datarnya, tidak berperasaan melontarkan semua kebenaran. Semua rahasia yang ia ketahui, bersama rahasia kecil yang Chanyeol sembunyikan darinya.

"Jika kau tidak percaya, pria tua itu akan menjelaskannya."

Mulai hari itu Baekhyun memutuskan untuk tidak percaya pada siapapun. Tidak seorang pun, bahkan pada pria paruh baya yang kini terduduk di sampingnya. Baginya, ia adalah dahan yang mengering. Dibiarkan terkenang sendiri, tidak dibiarkan tumbuh dengan kebahagiaan hijau sampai patah dan terinjak.

"Anda tidak marah?"

Pemikirannya jauh berkelana, mendapati hamparan awan putih menghias di jendela. Bodohnya ia kembali teringat dengan kemarin malam yang pekat. Kulitnya mengingat bagaimana Chanyeol menyentuh tiap lukanya. Ikut tenggelam dalam kebencian yang teraduk sendiri di hati. Lalu potongan dimana pria itu terjatuh dalam pelukannya adalah sebuah kelemahan. Menoreh luka yang baru, sebuah rasa sakit yang entah bagaimana berhasil Baekhyun peluk di lengannya.

Nyatanya Baekhyun pernah begitu senang pada sepasang tangan yang pernah menggenggam jemarinya. Dua bongkah manik hitam yang membayangi dirinya di tepi, bagaimana pria itu memeluknya, lalu menciumnya dingin. Entah bagaimana semua itu sampai pada hatinya. Membutnya jatuh terperosok, terjerat sendiri dalam bodoh kepala yang hanya satu ia punya.

Benar, ia kecewa, ia membenci, namun segala hal seakan membohonginya. Seakan ia punya sudut yang lain di hatinya. Sebuah rasa salah yang Baekhyun sendiri tidak tahu harus menamainya dengan kata apa. Ia tidak bisa membenci Park Chanyeol seperti seharusnya.

"Dia pantas menerimanya." Pria di sampingnya menjawab. Masih dengan lembaran koran yang terbuka. Guratnya setenang pesawat yang mereka tumpangi. Hanya terbang melewati gravitasi yang menukik. Segera mengingatkannya akan sosok Chanyeol, yang sebenarnya adalah kakaknya, yang tidak pernah punya hati.

Kedati selalu sama, darah selalu kental walaupun terbagi bagiannya.

"Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Semua orang akan melakukan hal yang pantas sebagai balasan."

Baekhyun tertegun dalam gelombang awan. Sinar kemerahan di ujung barat muncul. Menyinari jemarinya yang resah. Hanya butuh hitungan menit sampai ia tiba di Seoul. Bertemu dengan kenyataan, bertemu dengan hidup yang memang seharusnya Baekhyun jalani. Lantas, haruskah ia setuju untuk meninggalkan kehidupan baiknya di Barcelona? Menggantinya dengan kisah menjadi bagian dari Park yang tidak pernah ia bayangkan akan seperti apa bentuknya.

"Apa aku juga harus melakukannya pada anda?"

Pria yang memintanya untuk disebut ayah itu kini membeku. Menghentikan aktifitas membacanya, kemudian menutup habis isi koran. Namun yang Baekhyun sesalkan adalah sosok tenangnya yang tidak pernah terganggu. Pun tidak pernah merasa bersalah atas 23 tahun yang ia lalui. Sekalipun pria itu tidak pernah memohon maaf.

"Kris akan mengawasimu di Seoul." Hanya kata itu yang pria tua itu tinggalkan.

e)(o

Langit Monako masih nampak begitu terang. Di luar musim panas membakar, memberi jalan bayang-bayang minyak yang tidak akan setara panasnya. Kepadatan jalan dari luar jendela mengingatkan siapa saja untuk pulang. Bosan dengan aktifitas padat di suhu yang luar biasa menguras tenaga.

Pria berkulit tan rupanya belum terbiasa dengan suhu tinggi di sekitar Mediterania. Meski dapat menyaksikan pemandangan biru dari jendela, ia belum juga senang. Alih-alih lelah menunggu dari tiga jam lalu untuk sosok yang terbaring kaku di ranjangnya.

Park Chanyeol masih berada di sana dengan selang infus tersambung. Menancap pada punggung tangan kanannya, bahkan sejak semalam. Park Jongin─selaku adik yang baik, tentu harus menunggu setia di kursi. Masih memainkan ponselnya meski menyadari sosok tinggi selain dirinya itu mulai terbangun.

"Ini kedua kalinya kau mengacaukan kemenangan ketigaku," omelnya tidak melirik. Kesal sendiri karena hampir tertidur selama menunggu kakaknya terbangun. "Untuk Macau aku bisa lupa, tapi Monte Carlo─kau harus membayar dengan sesuatu yang sepadan."

Tentu Jongin tidak pernah ingin kalah. Sama dengan Sehun, sama dengan ayahnya. Mereka semua sama-sama benci kekalahan. Tidak lebih buruk dari Chanyeol.

Demikian dengan Chanyeol yang kini berusaha keras mendudukkan diri. Menekan kepalanya berulang kali, tahu-tahu diluputi heran karena sibuk menyapu interior ruangan dengan mata belonya. "Kau─bagaimana bisa aku berada disini?" racaunya.

Alhasil Jongin menggeleng. Melirik kakaknya yang malang sampai melupakan kesibukan di jaringan ponselnya. "Dari pada itu, aku akan bertanya tentang jalang mana yang tidur denganmu."

"A-apa?" Wajah Chanyeol kini semakin kusut bentuknya. Untuk sejenak pria itu terdiam. Begitu lelah kepalanya memutar ingatan. Pun pening semakin menekan saat ia memaksa.

Jongin menghela nafas. Ia sebenarnya paham bagaimana pola seseorang yang terjebak obat bius. Terlebih dalam dosis yang kuat, kakaknya itu bisa saja mati kalau Kris tidak segera melarikannya ke rumah sakit semalam. "Benar, kau pasti tidak akan ingat."

Lantas Chanyeol pun menyernyit, kembali tidak paham kemana arah pembicaraan rancu adiknya. Terakhir kali memorinya berputar pada pelayaran kapal. Perlahan mundur, mengingat kembali bagaimana ia sampai di kapal dengan Baekhyun. Namun setelah setuju untuk ajakan minum Baekhyun, ia tidak lagi mengingat apapun.

"Kau berkencan dengan siapa lagi kini? Wanita? Pria?"

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Chanyeol frustasi. Kepalanya pening dengan berbagai hal. Ia mungkin yakin jika ia kehilangan sesuatu. Seakan ada yang terlewat tanpa persetujuannya.

Namun Jongin terlihat memaklumi dengan wajahnya yang sedatar dinding. Pria itu nampak biasa saja, tidak mengkhawatirkan dirinya sedikitpun. "Oke, aku percaya jika kau tidak sebodoh itu. Aku hanya penasaran, karena Kris tidak memberitahuku."

"Bagaimana aku─"

"Aku sudah bilang, Kris tidak memberitahuku," ulang Jongin beranjak dari kursinya. Mencari letak pakaian Chanyeol yang masih terlipat di dalam lemari kecil. "Kau sudah tertidur selama 22 jam."

"Apa yang terjadi?"

"Aku yang seharusnya bertanya!" Jongin berdecak kesal, benar-benar terlihat ingin protes. Ia pun memasukkan pakaian Chanyeol ke dalam kantung, lalu menutup pintu lemari dengan sedikit mengamuk. "Kalau bukan karena ayah, aku mungkin sudah mengajak Audi edisi terbatasku jalan-jalan di kota."

Adiknya itu lalu melemparkannya sebuah mantel panjang. Tidak ada dugaan lain di pikiran Chanyeol, selain berpikir jika pria itu sengaja memberinya pakaian yang tidak pantas. Siapa pula yang sudi memakai mantel tebal itu di tengah musim panas? Tunawisma di luar sana saja sangat tahu pakaian yang harus ia kenakan pada masa ini.

"Awalnya aku benar-benar tidak perduli jika kau mati. Tapi akan lebih buruk jika Sehun mengacau karena tidak menemukan saingan baru," sambungnya sarkas. Bisa dibilang, pria itu telah sukses membayangkan bagaimana dirinya yang diganggu Sehun seumur hidup. Melihat kekacauan yang dibuat Sehun dan Chanyeol saja sudah membuatnya pusing, entah apa jadinya jika posisi Chanyeol digantikan olehnya.

Chanyeol berakhir membuang wajah. Kesal sendiri karena tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin mengenakan pakaian kusut yang sudah ia pakai kemarin siang. Benar-benar bukan gayanya.

"Dimana Baekhyun?"

"Kenapa tiba-tiba kau bertanya─" Perkataan pria itu lalu terhenti, digantikan dengan miringan kepala yang menunggu kejelasan. Dan Chanyeol menjadi menyesal karena bertanya. Ia tentu tidak bisa menyebut nama Baekhyun di sembarang tempat. "Jadi kau─bersama dengannya?"

Chanyeol benci ketika kepalanya buntu untuk memikirkan sesuatu. Ia jelas mengingat jika ia pergi dengan Baekhyun hari itu. Namun jika benar adanya, dimana keberadaan Baekhyun sekarang? Mengapa hanya ada dirinya disini? Apa yang sebenarnya ia lupakan?

"Aku tidak benar-benar ingat."

Sekali lagi Jongin terdiam. Pria itu terus menatapnya curiga. Penuh pertanyaan sorot itu membolongi. Chanyeol sendiri tidak bisa menebak apa yang tengah adiknya pikirkan. Ia terus merasa tidak mungkin untuk berbagi cerita. Sebutlah Jongin bukan orang yang pas untuk ini.

"Tidak, bukan seperti yang kau pikirkan. Aku harus kembali ke Barcelona." Buru-buru Chanyeol melepas selang infusnya. Sakit di tangannya seketika berdenyut. Segera setelah keluhannya hilang, ia lalu memilih bangkit dari sana.

Jongin tidak melarangnya. Pria itu lebih tertarik bertanya dengan guratnya yang tajam. Sosoknya masih berdiri tegap, tidak juga menginterupsi saat Chanyeol hendak menarik gagang pintu.

"Semua orang sudah kembali ke Seoul, termasuk Kris," ujarnya memberitahu.

Chanyeol mengurungkan niatnya. Memilih berbalik demi memastikan jika kalimat itu tidak benar. Lalu keterdiaman Jongin siang itu seolah membenarkan segala pemikirannya. Dan ia kenal satu hal, bahwa Jongin mungkin seseorang yang dingin, tapi Chanyeol tidak pernah melihat pria itu berbohong.

"Ayah memanggilnya," sambung Jongin kemudian.

e)(o

Tinggal dalam mansion kebanggaan keluarga Park adalah sesuatu yang memberatkan bagi Baekhyun. Ia terkadang akan tersesat saat keluar dari kamar. Sampai memasuki dapur pun kakinya terasa tergelincir. Ada banyak pelayan dapur, pajangan mahal, kemudian kehadiran Park bersaudara. Saat pertama kali menjejak, Baekhyun bahkan diperkenalkan dengan banyak pelajaran yang akan ia lalui. Pagi ia akan menemui Kris, kemudian malam kepalanya tidak akan ingat apa saja yang ia pelajari setiap harinya. Nyaris demikian selama empat hari ini.

Kakinya selalu berakhir pegal, ia selalu dibawa berkeliling. Entah untuk rapat perusahaan ayahnya, atau mungkin sekedar jamuan makan di atas meja. Sampai Baekhyun merasa seakan dipamerkan, diperkenalkan ke seluruh lapisan dunia untuk sesuatu. Sementara dirinya jatuh tidak ingat siapa saja yang pernah menjabat tangannya.

Hal kedua, sarapan adalah hal wajib yang dilakukan di rumah besar itu. Mereka terlihat tidak pernah melewatkan sarapan, meski tidak melakukannya bersama. Para pelayan pun berbicara demikian. Sehun akan buru-buru karena jadwal yang padat, Jongin tidak akan pulang jika tidak membawa pulang hadiah taruhan, lalu Chanyeol memilih sibuk di ruang pribadinya. Merakit miniatur kapal-kapalnya, kemudian tak jarang pulang, tinggal di apartemen.

Kini jelas sudah mengapa terkadang hanya tersisa dirinya dengan sang ayah untuk bersiap melalui rutinitas. Namun beberapa hari adalah sebuah keberuntungan menurut Baekhyun, ia tidak perlu bersitatap dengan Chanyeol, atau apapun yang kurang menyenangkan. Sebab hatinya belum pulih, masih menyimpan banyak kekacauan. Ia belum juga lega atas kejadian malam itu.

Namun kali ini semua Park duduk di kursi yang sudah ditentukan. Ketua Park di sisi depan, dengan kehadiran langka Sehun di seberang. Jongin yang baru saja muncul dari tangga putar malah pamit undur diri. Terlihat tidak berminat dengan menu sarapannya, sebab baginya bisnis jauh lebih penting dari sekedar mengisi perut. Selalu begitu.

Sang ayah tidak berkomentar macam-macam. Terus menikmati sarapannya yang masih hangat. Seakan segalanya begitu lumrah. Tidak perlu dijelaskan pada si bungsu soal kondisi rumah. Baekhyun nyatanya dibiarkan mengamati, dipaksa menjadi seekor bunglon yang harus beradaptasi. Terlebih ketika Chanyeol turun dari ruang kerjanya, meja makan mendadak membatu. Benar-benar tidak ada yang menarik.

Baekhyun terus membuang wajah beberapa kali saat bertemu pandang dengan Chanyeol yang duduk di sampingnya. Kebenciannya yang muncul lalu memicu gurat wajahnya mengangkuh. Selain memilih melanjutkan makan, ia pun tidak pernah mencoba menoleh kemanapun. Selebihnya, ia hanya menyadari Sehun tersenyum miring di seberang meja. Seakan menemukan lelucon kering di pagi hari. Dimana Baekhyun dan Chanyeol adalah si pelakon utama.

"Sekenario apa yang sebenarnya diinginkan si penulis?" gumam Sehun yang terdengar sampai telinga ayahnya. Cukup iseng pria itu pagi ini, kentara berbeda dengan saat-saat dimana Chanyeol absen di kursinya, pria pucat itu hanya diam tidak berminat bicara. "Aku kini melihat si pemeran utama kacau karena si pemeran baru."

Melihat kakaknya menatap sinis, Sehun malah tersenyum remeh meninggalkan piring sarapannya. Seperti Park Sehun yang biasa, pria itu selalu meninggalkan banyak makanan di atas piring. Benar-benar kebiasaan yang tidak baik hanya karena dirinya dilarang untuk banyak mengkonsumsi kalori.

"Aku hanya penasaran─soal akhirnya," ujarnya sebelum melenggang pergi. Berjalan ke arah pintu tanpa pamit atau sesuatu yang sopan.

Baekhyun berakhir diam seribu bahasa. Masih menyantap makanannya dengan tidak berselera. Di samping itu, rupanya ia terbiasa dengan masakan Wendy. Sangat sulit baginya menelan porsi hidangan terbaik keluarga Park di atas meja. Pun pikirannya berlayar pada Wendy, mungkin temannya itu marah lagi kali ini. Sebab ia tidak sempat mengatakan apapun sebelum pergi.

Untuk beberapa saat, ayah mereka selesai dengan sarapannya. Pria itu beranjak, tanpa kata meninggalkannya berdua dengan Chanyeol di meja makan. Canggung mendera, bahkan kesal dengan mudah menelisik hati Baekhyun. Tepat di sampingnya, Chanyeol masih betah duduk manis. Masih meladeni menu sarapannya tanpa mau tahu kehadirannya, entah hendak menghabiskan porsinya atau tidak.

"Sejak kapan kau tahu?" bicara Chanyeol akhirnya. Masih menunduk, sibuk memotong olahan ikan di piringnya.

Sedangkan Baekhyun mendadak menghentikan suapannya. Amat membenci pertanyaan semacam itu jika Chanyeol yang bertanya. Namun sayangnya pria di sampingnya itu jatuh tidak perduli. Masih tidak perduli dengan segala yang pernah ia lakukan.

Menelik Chanyeol yang masih sibuk menunduk, Baekhyun teringat dengan candaan mereka di Vienna. Mulai dari awal mereka jumpa, semua perkataan Chanyeol yang masuk akal, semua penjelasannya, yang kemudian berakhir dengan bagaimana Chanyeol mulai mendekat untuk melenyapkannya. Semua berubah klise, terus ada rasa kecewa dalam diri Baekhyun. Dimana emosinya harus dilepas. Kalau memungkinkan, Baekhyun ingin melayangkan pisau yang dipegangnya itu untuk ditancapkan pada leher Chanyeol saking bencinya. Namun tentu tidak akan pernah bisa.

"Lalu sejak kapan kau tahu bahwa aku adalah adikmu?" Baekhyun balik bertanya. Berpura-pura menjadi bodoh yang dahulu Chanyeol kenali dari dirinya.

Sesaat Chanyeol menghentikan gerakan tangannya. Manik hitam itu sempat pula melirik sebelum menegakkan kepala. Pria itu rupanya masih memiliki seribu wajah untuk menghadap. Setelah semua ini, bagaimana mungkin pria itu bisa menatapnya sebegini angkuh? Mungkin satu pertanyaan demikian yang terpikirkan oleh Baekhyun.

"Aku sudah pernah bilang, jangan percaya padaku," balasnya tersenyum miring. Menganggap remeh pertanyaannya. Menganggap segalanya begitu bodoh untuk dipermasalahkan. Bahkan dengan tatapan itu Chanyeol hendak bersuara ingin melawan. Menginginkan dirinya segera menyerah, sebab Chanyeol mengaku bukan tandingan siapapun.

"Apa yang terjadi terakhir kali di kapal?"

Pertanyaan itu kemudian masuk ke dalam telinga Baekhyun. Menjatuhkan sekantong memori malam itu telak. Demikian jemari kecilnya dirundung gemetar, buru-buru Baekhyun menyembunyikan takutnya di bawah meja.

Chanyeol kembali menyelam dalam maniknya. Berusaha menariknya keluar dari dasar lautan, sebagaimana gurat itu memaksanya bicara. Dan Baekhyun sepenuhnya lupa jika Chanyeol selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Selalu mudah bagi Chanyeol mendapatkan segalanya. Termasuk jawaban atas semua pertanyaan yang tengah diajukan, walaupun dengan buta menemukan.

Perlahan Chanyeol mendekat padanya. Mebisikkan sesuatu di telinga tentang sesuatu. "Mau tidur denganku─"

Merasakan jantungnya berhenti berdegup, Baekhyun mendadak membeku di kursi. Sekali lagi kalimat itu hidup, mengiang begitu cepat, diruntuhkan oleh memori lama sampai Baekhyun harus menekan beberapa ruas jemarinya. Melampiaskan perasaan yang membuncah sekaligus menahan amarah dalam kepala. Baekhyun tentu ingat segala hal dalam memorinya. Kulit Chanyeol yang dingin di kulitnya, atau ketika pria itu menciumnya, entah bayangan-bayangan seperti itu dengan mudah berputar di hadapan.

"kau mengatakan kalimat itu terakhir kali," sambung Chanyeol menyadari bahwa ia geram. Lelah sendiri menghantam penghalang diri.

Baekhyun terpojok dengan genggaman pisau di tangan. Lelah sendiri emosinya ditahan. Dan jika dirinya sampai lelah, mungkin benar pisau itu akan mengincar leher Chanyeol. Memotong arteri karotisnya lalu membiarkan pria itu tergeletak dengan genangan darah di lantai.

"Baekhyun?"

Samar-samar panggilan menyusup masuk. Mata bulan sabitnya lalu mengedar, menemukan sosok Kris dengan mata teduhnya di dekat pintu. Pria itu sangat tepat waktu, menuruti aturan dengan baik. Bahkan menekannya untuk segera terbangun dari racauan. Tidak akan lama lagi sosok itu akan membawanya pergi. Berlayar dalam lautan rapat umum para petinggi, dimana Chanyeol akan duduk di depannya kembali. Hendak saling beku seperti halnya mereka kini.

"Jangan memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak kau sukai," bicara Chanyeol melanjutkan sarapannya yang tertunda. Hirau akan kehadiran Kris yang seolah angin taman menerbangkan dedaunan. "Kau tidak akan bisa."

e)(o

Meja-meja panjang berbaris memutar. Kedatangan para pemegang saham dan beberapa bagian inti, membuat Baekhyun gugup setengah mati. Ia mungkin sudah duduk dengan nyaman di kursi. Ditemani pria yang mengaku sebagai ayahnya di kursi utama, kemudian Kris yang berdiri tak jauh dari mereka, sibuk menjelaskan beberapa hal. Sedangkan dari arah yang berlawanan, Chanyeol duduk di kursi terdepan. Menunggu dengan antusias tentang semegah apa cerita mereka kemudian.

Rapat umum dimulai dengan sambutan panjang. Pembacaan beberapa prasyarat dari detail berkas yang sudah tersebar di atas meja. Dilanjutkan dengan penyampaian keputusan, kemudian argumen pecah belah dari beberapa angkat tangan. Baekhyun pun jatuh tidak memahami apa yang tengah mereka pertaruhkan. Bahkan ketenangan ayahnya di kursi hanya membuatnya tergigit gelisah. Mereka semua tengah membicarakan dirinya, bahkan membantah, tapi tidak satupun kalimat yang bisa mengganggu sang ayah.

Berbeda dengan Chanyeol yang terlihat menikmati acara. Duduk manis sambil membuka lembaran-lembaran yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Gestur-gestur tidak perdulinya semakin memuncak dengan tangan yang terangkat. Rupanya pria itu sedikit bosan dengan argumen yang menyertakan dirinya. Dengan wibawa yang luar biasa, Chanyeol memberikan masukan penting. Singkatnya, tengah mencoba mengalahkan keputusan ayahnya sendiri.

Baekhyun mendapatkan tatapan berbagai arti dari banyak pasang mata, termasuk Park Chanyeol. Pria itu masih angkuh dengan nada bicaranya. Nyaris bukan Park Chanyeol yang ia temukan di Barcelona. Bukan Chanyeol yang akan berbicara penuh ramah, yang pernah menghargai hasil kerjanya. Pria itu teramat berbeda kini. Dan mungkin memang seperti ini sisi asli dari Chanyeol yang tidak Baekhyun ketahui.

"Kami telah bekerja dengan MD Park dalam beberapa tahun ini. Jika Baekhyun-ssi bisa membuktikan dirinya lebih baik dari MD Park, kami bisa mempercayakannya."

Sebagian besar pasang mata setuju dengan kalimat wanita yang duduk di sebelah Chanyeol. Bahkan lebih dari itu, tidak ada yang tidak setuju dengan usulannya. Bagaimana tidak, sudah banyak tahun mereka berjalan bersama kinerja Chanyeol. Dan itu cukup baik, sebab Chanyeol mampu menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Tentu ada banyak kepercayaan yang datang padanya. Tidak terkecuali ayahnya sendiri.

Di balik itu, Ketua Park dapat melihat kemampuan putra sulungnya yang luar biasa. Tidak perlu alasan untuk menjadikan Chanyeol penerus. Pria itu sempurna tanpa celah. Bahkan membalik keadaan dengan cepat saja pria itu lebih dari mampu. Hanya saja sang ayah punya alasan khusus. Masih misteri kalimat alasannya, sampai lebih memilih Baekhyun dibandingkan dengan ketiga putranya yang lain.

Ayahnya lalu angkat bicara. Ada sebuah keputusan yang tiba-tiba terpikirkan. "Dia bisa melakukannya," bicara pria itu singkat. Tidak mau dibantah.

Kris melirik atasannya beberapa saat. Ada raut yang melelahkan dalam pikirannya. Pria berambut hitam itu tentu tahu mengapa semua orang sangat ingin menguji Baekhyun. Lagi pula siapa yang bisa tenang menghadapi orang baru? Baekhyun bukan seseorang yang akan pantas jika diukur masalah pengalaman. Pun Kris tidak mungkin selalu menjadi pihak yang menyelesaikan hal-hal yang tidak Baekhyun pahami. Ini hanya sedikit gila.

"Baek?" panggil Kris di samping kursi Baekhyun. Pria itu rupanya terus enggan berpihak. Belum menemukan titik temu padahal sudah berbicara dalam hati. Kris meragu, dan itu akan menular pada Baekhyun.

Tak butuh waktu lama untuk para petinggi setuju. Segera bubar pamit undur diri setelah rapat ditutup. Tinggallah ayahnya bersama Chanyeol dan Kris, demi menunggu sebuah waktu yang jatuh. Tidak ada dari mereka yang berbicara terebih dahulu. Hanya menatap kertas, lantai atau permukaan meja. Segalanya menjadi mendadak berarti karena hening si pembunuh.

"Aku─" racau Baekhyun tidak melirik sedikitpun. Rautnya kosong, sudah membayang hal buram untuk mengejar kemampuannya di masa depan. Ia bahkan tahu ia tidak akan menang melawan Chanyeol. Tidak akan pernah.

Chanyeol lalu beranjak dari sana. Walaupun mengaku belum mendapatkan kesibukan pria itu masih terlihat terburu-buru. Entah hendak kemana pria itu kini tanpa ditemani sekertarisnya. Padahal ia tidak akan menemukan rapat atau apapun selama dirinya memutuskan untuk beristirahat.

Baekhyun menyusul keluar kemudian. Namun ayahnya mengajaknya memutar sebentar. Mereka mengambil jalan yang berlawanan dari Chanyeol, entah sengaja atau tidak tapi ini terlihat begitu ganjil.

"Kenapa anda tidak memilih Chanyeol?" Tiba pada Baekhyun yang bertanya. Kala kerumunan habis menepi, mereka melangkah di lorong panjang. Dinding kacanya pun mengarah langsung ke halaman belakang. Hijaunya cukup menghilangkan penat yang mendera. Kalau saja kepala Baekhyun tidak penuh dengan benang kusut, ia mungkin sudah betah memandangi sekitar.

"Tidak ada alasan," jawab pria itu singkat. Masih mendahuluinya, membiarkan Baekhyun berjalan di belakang bersama Kris.

Kemudian jawaban yang Baekhyun dapatkan tetap sama. Ia tidak akan pernah tahu, seolah tidak akan dibiarkan mengetahui isi kepala ayahnya. Padahal Baekhyun tidak menginginkan apapun dalam hidupnya. Tidak ingin berubah. Memiliki pekerjaan sebagai seorang pelayan restoran saja Baekhyun merasa sudah cukup.

"Aku lebih suka menjadi Byun Baekhyun."

Sang ayah kemudian terdiam. Butuh beberapa langkah panjang sebelum ia melanjutkan, "Kau akan tetap menjadi Baekhyun."

"Kenapa─"

"Kris akan membantumu," potong ayahnya telak. Tidak ingin menjelaskan banyak hal. Selalu seperti itu meski Baekhyun memaksa. Dan hal itu membuat Baekhyun semakin bosan. Sudah habis sabarnya menunggu penjelasan panjang.

Menatap punggung sang ayah yang semakin jauh, Baekhyun lalu menghentikan langkahnya. "Apa benar anda ayahku?"

Pria itu terdiam. Masih memandang ke depan. Tidak mau menatap Baekhyun yang sudah putus asa, bahkan meragukan dirinya setelah hampir seminggu menjamunya di rumah.

Baekhyun lantas menunduk. Menekan buku-buku jemarinya yang ramping. Pun ada segumpal amarah yang terpendam saat itu. Yang hingga sekarang bahkan Baekhyun tidak bisa mengendalikannya. Ia jauh menginginkan kehidupannya yang dahulu sepi. Dimana hanya ada dirinya, teman-temannya dan juga pekerjaan yang membosankan.

"A-aku tidak mau melakukan ini," putusnya kembali. Dan itu mengundang interupsi Kris di sampingnya. Seorang pria kepercayaan itu lalu menyentuh lengannya, ingin mengatakan bahwa ia tidak perlu berbicara demikian.

"Aku tidak akan melakukannya." Baekhyun melanjutkan, "Aku tidak pernah punya ayah dan ibu sebelumnya, jadi aku sudah terbiasa soal itu. Aku menolak untuk─"

"Kris!" Kini suara lantang ayahnya melempar telak. Raut keras itu sebenarnya bersembunyi, tidak benar-benar memperlihatkan amarah padanya. Alih-alih melemparnya pada Kris yang sama sekali tidak bersalah.

Maka Kris hanya bisa patuh menarik lengannya. Membawanya mendahului untuk segera sampai di pelantara parkir. Membawanya masuk ke dalam mobil untuk diboyong pulang, seperti boneka.

"Maafkan aku," Kris bergumam setelah memaksa dirinya untuk masuk ke dalam mobil. Hampir tidak terdengar suara pria itu ketika ia menghidupkan mesin.

"Buka pintunya," ulang Baekhyun marah. Matanya memerah menahan panas hati yang mendera. Ini pertama kalinya ia merasa kehilangan arah. Bahkan ketika ia mengetahui Kris berbohong padanya, ia seakan merasa dunia ini runtuh tak tersisa.

"Aku bilang, buka pintunya!"

"Tidak akan," tolak Kris membanting setirnya. Mengambil kendali dalam kecepatan konstan. Pria itu tentu menghindari beberapa kemungkinan kecelakaan atau sesuatu yang tidak terduga.

"Kris!" Meski Baekhyun memekik pria itu tetap bebal. Mengabaikannya yang masih kecewa dengan sabuk pengaman yang masih menggantung di tempat. Belum terpasang hingga membuatnya harus bergerak tidak nyaman. "Mereka semua disini. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku merasa ketakutan setiap malam. Terakhir yang kupikirkan bagaimana jika mereka berusaha membunuhku saat aku tidur?"

Sejujurnya Baekhyun benci dengan dirinya sendiri. Bukan membenci Kris, satu-satunya teman yang bisa ia andalkan. Dipikirnya siapa yang memulai semua ini? Kris pun tahu jika ialah yang memulai. Jika saat itu ia mengabaikan Chanyeol, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Kris mungkin akan memikirkan hal yang baik untuk membuatnya menerima ayahnya dengan mudah. Tidak seperti ini, tidak seperti saat ini.

"Kau akan baik-baik saja."

Dan betapa bodohnya seorang Baekhyun, si pemuda yang selalu percaya pada ucapan Kris.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Udah lama banget gak ngelanjutin ini.