Akaashi Keiji berjalan dengan tak sabar, mencari-cari dimana toko souvenir. Pemandangan menakjubkan dinding kaca seaworld sudah tidak lagi ia pedulikan. Ia selalu kesini setiap akhir pekan bersama si cowok gemas berambut kelabu perak, jadi pemandangan hiu paus raksasa atau ikan mantaray yang siripnya berkibar-kibar tidak lagi membuatnya berdebar-debar. Jangan salah, Akaashi sangat suka tempat ini. Selain seaworld menjadi tempat kencan yang romantis dan menyenangkan, Akaashi yang sangat suka boneka plush mulai berusaha mengoleksi boneka plush keluaran seaworld. Tiap bulan, jenisnya berbeda. Akaashi sudah punya yang bentuknya anjing laut, lumba-lumba, kura-kura, mantaray, kepiting, dan bintang laut. Bulan ini mereka mengeluarkan plush berbentuk paus beluga. Sialnya, Akaashi sedang seret uang jajan bulan ini. Ia dengan sabar mengumpulkan recehan yang sering terselip di sela-sela sofa atau saku baju dan celana keluarganya setiap kali ia membantu membersihkan rumah. Begitu ia punya cukup uang, Akaashi kembali mengajak pacarnya ke seaworld untuk beli plush paus beluga incarannya. Desainnya memang imut, panjangnya sekitar 60cm dengan bahan beludru putih tebal.

Lalu senyum Akaashi memudar ketika ia memasuki toko souvenir, dan hanya boneka hiu macan yang ada di rak dan keranjang pajangan. Plush di seaworld cuma ganti desain sebulan sekali, dan seisi toko itu penuh dengan boneka hiu macan dengan ukuran yang sama. Ada cekungan di lekukan rahangnya. Desainnya menggemaskan tapi bukan itu yang Akaashi cari. Maaf saja, keimutan plush paus beluga masih belum terkalahkan buatnya.

"Hoo, udah ganti lagi?"

Akaashi menoleh mendengar suara lembut nan dalam yang familiar buatnya. Seorang cowok bongsor dengan rambut kelabu keperakan tebal mengambil satu plush dan mengatup-ngatupkan rahang bawahnya, pura-pura membuat boneka hiu macan itu menggigit pipi Akaashi.

"Myaa-ssam..." Akaashi mengeluh. "Paus beluganya udah nggak ada..."

"Kosong?" Mata chesnut pemuda itu melebar. "Coba tanya dulu."

"Benar juga. Aku akan coba tanya petugasnya. Siapa tahu mereka punya stok lama."

"Bukan, tanya sama dia." Pemuda itu menghadapkan boneka plush hiu macan itu ke wajahnya. "Kemana kawanan paus beluga yang biasa nongkrong disini? Kamu makan, ya?"

Akaashi yang awalnya murung dan sedih tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Miya Atsumu, teman seangkatan dan satu ekskulnya punya adik kembar bernama Miya Osamu. Mereka kembar identik, hanya saja Osamu lebih gempal dari kakaknya. Ia datar dan dingin seperti tembok, tapi selera humornya yang polos membuatnya menjadi pelawak psycho-type yang selalu sukses menghibur semua orang. Tidak seperti Atsumu yang ramah kharismatik tapi nyinyir dan bangga dengan sikapnya yang congkak, Osamu sangat tenang seperti air kolam pancing. Nafsu makannya menakutkan memang, tetapi bagaimana ia terperangah dengan mata berkilau-kilau seperti bocah TK ketika melihat makanan lezat membuat Akaashi semakin jatuh cinta.

Seaworld menjadi tempat pertama Osamu mengajak Akaashi kencan dalam masa PDKT mereka. Seminggu setelahnya mereka jadian. Waktu berjalan begitu cepat saat Akaashi menghitung. Ia punya 6 boneka plush dari seaworld yang dibelinya sejak jadi kekasih Osamu. Berarti mereka sudah setengah tahun pacaran.

"Oi, jawaaab!" Osamu memasang wajah galak dan memelototi boneka hiu macan tersebut. "Mau kubuat jadi sup sirip hiu, hah?!"

"Myaa-ssam, udah ih!" Akaashi menahan tertawanya.

Osamu tersenyum kecil. Ia memeluk boneka hiu macam itu. "Akaa-ji, nggak mau beli ini?"

Akaashi menggeleng. Osamu menjulurkan lidahnya pada si boneka hiu macan.

"Kamu sih nggak lucu. Siapa suruh jelek? Akaa-ji nggak suka, kan." Gerutunya sambil mengembalikan boneka itu ke keranjang.

"Myaa-ssam, besok aku bakalan ke L'ecole D'argeant. Karasuno ikutan Silver-Tokyo Festival." Akaashi berjalan keluar toko bersama Osamu. Mereka mengitari daerah pertokoan sekali sebelum memutuskan keluar seaworld.

"Sampai ketemu kalau begitu." Jawab Osamu. "Aku sudah dijejali satu gepok partitur sama Aran. Aku bakalan ikut orkestranya opera juga soalnya."

"Wah, keren." Akaashi memuji dengan tulus. "Anak-anak Inarizaki yang lain bakalan ikut juga, kan?"

Osamu menggeleng. "Cuma aku sama Akagi-senpai. Akagi-senpai kan pemain tenor trombone. Aku disuruh berlatih klarinet Bb. Aran bilang, orkestranya bakal lebih banyak diisi anak kuliahan. Aku bisa masuk karena kekuatan orang dalam."

"Memangnya beda dengan yang biasanya kau mainkan?"

Osamu merenung sejenak. "Nggak terlalu. Mungkin seperti kalau kau main gitar listrik dengan beda model. Atau beda efek. Cara mainnya sama, tapi bunyinya tidak sama."

"Sou..." Akaashi mengangguk. "Hari ini mau makan apa sebelum pulang?"

"Kau yang pilih, Akaa-ji. Aku kan makan apa saja doyan." Osamu tersenyum manis.

"Toppoki dan ayam goreng Korea kayaknya enak." Akaashi bergumam. "Tapi Myaa-ssam kurang kuat pedas, ya kan?"

"Kalau minumnya matcha boba aku bisa makan 2 porsi, kok." Osamu menepuk dadanya. "Matcha boba kayak pemadam kebakaran yang bikin nyes-nyes di mulutku gitu, soalnya."

"Kalau ditambah onigiri sama uji kintoki?" Akaashi tersenyum tipis.

"Ayam goreng pedasnya yang dililit-lilit keju itu, kan?" Osamu menerka.

Pernah suatu hari mereka pergi makan paket ayam goreng pedas Korea yang datang dengan panci berisi lelehan keju yang meletup-letup, acar, banyak penganan sampingan kecil-kecil dan bola-bola onigiri mini ditambah dua mangkuk kecil uji kintoki sebagai penutupnya. Osamu makan dengan peluh bercucuran karena ia tak begitu kuat menahan pedas seperti kekasihnya. Tapi sajian penutupnya memberikan kesegaran tersendiri. Lagipula, biar cantik-cantik kalem begitu porsi makan Akaashi hampir sama dengan anak-anak cowok kebanyakan.

"Ayam goreng fondue nggak sepaket sama toppoki, Myaa-ssam."

"Ah, nggak asyik." Osamu memberengut. "Atau nggak, kita pesan dua-duanya saja."

"Boleh. Nanti bagian uji kintoki punyaku untukmu saja kalau ayamnya terlalu pedas, ya?"

"Beneran?! Horeeeee~~~"

Acara nge-date mereka hari itu diakhiri dengan makan malam di salah satu restoran Korea yang sedang hits saat ini. Paket yang terdiri dari selusin sayap ayam goreng renyah yang dibalur bumbu super pedas, sepanci lelehan keju yang menggugah selera, sepiring onigiri mini, hidangan sampingan kecil-kecil yang kebanyakan berupa sayuran, dua gelas es teh dan dua mangkuk uji kintoki. Akaashi pesan toppoki secara terpisah. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing sampai akhirnya Akaashi dengan tangan berlapis sarung tangan plastik menyodorkan sepotong sayap ayam yang sepasang tulang kecilnya sudah ia cabut, jadi bisa langsung dimakan sekali lahap.

"Buatku?" Osamu menunjuk dirinya sendiri. Pipinya merona tipis.

"Mau dililit keju dulu?"

Osamu mengangguk antusias. Akaashi melakukan permintaan Osamu dengan sabar dan kembali menyuapi kekasihnya yang doyan makan itu. Wajahnya terlihat sangat imut, entah dia senang karena makanannya enak atau senang karena disuapi pacar kesayangannya.

TIRIRIRIRIRING!

Osamu merogoh kantongnya dan menatap layar ponselnya yang baru menyala setelah ia ketuk. Bunyi nada deringnya serupa, tapi bukan ponselnya yang berbunyi.

"Akaa-ji, kayaknya itu hapemu."

Akaashi melepas sarung tangannya, lalu mendesah lelah begitu melihat siapa penelponnya. Harusnya ia sudah tahu. Osamu menggedikkan dagunya dengan tatapan bertanya, lalu Akaashi hanya meletakkan ponselnya di meja sampai nada deringnya berhenti.

"Kenapa nggak diangkat?" Tanya Osamu.

"Boleh?" Akaashi menatap dengan perasaan sungkan.

"Kali aja penting."

"Prioritas penting-tidaknya Bokuto-san tidak dalam level manusia waras, tahu."

"Kalau kau tidak mau angkat, ya sudah." Osamu melanjutkan kegiatan makannya. "Hidupmu tidak selalu harus meladeni keegoisan burung hantu brengsek itu, kan?"

"Tapi—"

"Akaa-ji," Osamu mengeluh. "Sesekali, kau juga boleh egois, kok."

Akaashi menghela nafas. Begitu ponselnya berdering lagi, gadis ayu berambut legam berombak itu menekan tombol 'jawab' dalam mode loudspeak.

"AAAAKKHHHAAAASSSHHHIIIII!" Suara cempreng Bokuto menggema dengan hebohnya. "Aku bosan di rumah! Jalan-jalan, yuk!"

"Tidak bisa, Bokuto-san. Maafkan aku." Jawab Akaashi lugas.

"Nggak ada uang? Aku ada! Nggak ada motor? Kita naik kereta aja! Nanti kujemput sejam lagi di rumahmu!"

"Bokuto-san..." Akaashi menggigit bibirnya. "Aku...aku lagi jalan sama Myaa-ssam."

"Konnichiwa, Bokuto-san." Osamu menjawab ramah. "Lebih baik kau istirahat. Besok mau ke kampusnya Semi-san, kan?"

Hening sejenak. Osamu dan Akaashi saling berpandangan.

"Bokuto-san?"

"Kenapa?" Ujar Bokuto. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau mau pacaran, Akaashi?! Terus bagaimana denganku? Kau mau membiarkan aku kesepian, hah?! Tingkat depresi seseorang karena kesepian bisa mengakibatkan bunuh diri, lho!" Bokuto meraung kesal.

"Ta... tapi aku kangen Myaa-ssam. Kami sudah nggak nge-date sebulan, lho!" Akaashi membantah. "Kemarin kan aku sudah menemanimu jajan selepas latihan."

"Tapi kan kalian selalu chat dan telponan kalau malam. Myaa-ssam lagi, Myaa-ssam melulu, Myaa-ssam terus! Kapan waktumu buat aku?! Akaashi benar-benar egois, aku benci!"

TUT!

Akaashi mendengus. Bokuto dan swing mood-nya benar-benar masalah yang begitu sulit dihadapi. Osamu tidak berusaha menghibur gadis tercintanya yang mendadak murung itu. Suasana romantis kencan mereka hancur oleh si kakak kelas needy yang merusak kebersamaan mereka. Osamu bukan tidak tahu bahwa Bokuto menyukai Akaashi. Dari tindak-tanduknya juga kelihatan jelas. Cemburu? Tentu saja! Mereka satu sekolah dan satu ekskul, tidak terpisah jarak dan rutinitas masing-masing. Osamu sudah berusaha minta pindah ke Karasuno sejak 3 bulan yang lalu. Selain agar dekat dengan Akaashi, Atsumu juga inginnya demikian. Miya kembar tidak pernah pisah sekolah sampai SMA. Atsumu tidak diterima di Inarizaki, sementara adik kembarnya masuk melalui jalur prestasi—Inarizaki adalah SMA yang terkenal akan ekskul marching band-nya yang sudah sangat professional. Sebagai pemain klarinet, Osamu diterima dengan tangan terbuka. Sayangnya, meski sudah melalui jalur umum dengan tes masuk, Atsumu gagal dan jatuh pada pilihan kedua, yakni Karasuno.

Miya Isshiki menolak mentah-mentah alasan Osamu. Tentu saja karena biaya pindah sekolah lumayan mahal, dan alasannya tidak masuk akal. Jadi ia harus bertahan menjalin LDR sejauh 44km. Terdengar dramatis, memang. Tapi Osamu begitu sayang dan bangga dengan gadis tomboy itu. Akaashi memiliki paras yang cantik sekali. Tubuhnya lumayan tinggi, montok berlekuk seksi. Dia juga punya hobi-hobi keren yang macho seperti komputer, skateboard, gitar dan otomotif. Akaashi paham dengan semua bidang itu tanpa terkesan norak atau sekedar cari perhatihan terlihat dingin namun sebetulnya ia tipe yang observant. Tapi kalau sudah kenal dengan sifat Akaashi yang selalu bertingkah seperti 'ensiklopedia' untuk orang-orang yang ia sayangi (dalam artian bahwa Akaashi sangat peka dan pengertian sehingga bisa memahami sikap baik dan buruk, hal-hal kesukaan dan yang dibenci, sampai gaya bercanda orang tersebut), siapapun pasti susah lepas dari Akaashi. Saking cintanya ia dengan Akaashi, Osamu bahkan sudah bertekad ingin menikahi Akaashi. Sayangnya ia belum cukup umur. Lagian Osamu sudah dapat jitakan mantap dari papa Miya waktu mengungkapkan keseriusan hubungannya. Katanya Osamu masih bau kencur, bocah ingusan dan kencing saja belum lurus; padahal kan Osamu selalu mandi 2 kali sehari dan pakai parfum serta deodoran biar nggak bau, jarang pilek dan kalau pipis nggak pernah muncrat-muncrat jorok kayak Atsumu.

Harusnya boleh kan, ya?

Tapi ibu mereka malah tertawa terpingkal-pingkal, dan menjelaskan makna tersirat bahwa Osamu harus mapan secara finansial dan psikologi kalau mau menikah. Kan kasihan kalau cantik-cantik begitu diajak melarat nantinya.

Osamu mengambil sebongkah onigiri mini dan menyuapkannya dengan lembut pada Akaashi.

"Akaa-ji, ayo aaa~~"


"Siapa yang belum datang?"

Anak-anak kelas 1 menoleh ke segala arah, berusaha mengabsen satu sama lain melalui pandangan mata. Kageyama membetulkan posisi cape-nya. Seragam formal ekskul mukre dibuat oleh konveksi milik keluarganya Oikawa. Terdiri dari kemeja katun lemas berwarna beige dengan celana kotak-kotak coklat mahogani yang jatuh di mata kaki untuk cowok, dan celana model kulot lebar setengah betis dengan tambahan aksen depan untuk cewek (kalau dilihat dari depan, model celananya terlihat seperti rok), ditambah sepatu oxford kulit warna tembaga (dengan tambahan hak pendek untuk cewek). Untuk para cowok, mereka juga dapat luaran berupa inverness coat cape (seperti jas jubah yang digunakan Sherlock Holmes) berbahan ringan dengan warna merah marun gelap. Untuk cewek, blazer model crop top dengan warna seragam agar lebih menonjolkan model bawahannya yang sophisticated.

Kebanyakan anak cewek suka dengan seragam formal ekskul mukre. Terlebih, mereka pakai celana, bukan rok. Desain dan warnanya terlihat megah dan formal, cocok digunakan untuk manggung dan bahannya nyaman dipakai. Tapi nggak semua cowok-cowok mukre cocok dengan seragam tersebut. Untuk para pemilik warna kulit cool tones seperti Tsukishima, Bokuto, Hoshiumi dan Oikawa, mereka berempat kelihatan sangat pucat.

"Lev ke toilet tadi. Katanya mulas." Jawab Hinata.

"Ih, ini gimana sih pakenya?" Koganegawa mengeluh sambil mengibas-ngibaskan bagian luar cape-nya yang lebih pendek. "Ngeplek-ngeplek gitu! Nggak bisa diem kayak yang dipake Iwaizumi-san! Niro-san, benerin dong!"

"Hah, payah. Sini!" Futakuchi berjalan mendekati Koganegawa dan membetulkan posisi kancingnya, meski cape-nya sendiri masih tersampir di pundak begitu saja.

"Hinata, benerin cape-ku juga." Kageyama berdecak kesal dan memilih melepas semua kancingnya.

"Gimana? Nggak nyampe, tahu!" Hinata merengek ketika ia berjinjit berusaha meraih kancing atas kerah Kageyama dan tidak bisa menjangkaunya. "Jongkok dikit dong, bakageyama!"

Kageyama merendahkan lututnya dengan pose setengah kayang. Kakinya yang jenjang melawan postur Hinata yang mungil membuat pergerakan mereka jadi kikuk. Ada lekukan kaku di salah satu kancing cape Kageyama sehingga kancing yang menahannya tidak terpasang dengan benar.

"Ih, susaaah!" Hinata mendengus. "Minta Tsukishima aja yang pasangin."

"Cuih." Tsukishima pura-pura meludah.

"Bener juga. Kalian kan tingginya mirip-mirip." Yachi bergumam. "Hinata nggak perlu jinjit-jinjit, atau Kageyama nggak perlu jongkok-jongkok."

"Lagian kenapa Kageyama nggak berlutut atau duduk aja, sih?" Shirabu yang melihat perjuangan pemasangan cape Kageyama akhirnya gatal ingin ikut komentar.

"Celananya kekecilan buatku. Pangkal pahanya sempit." Kageyama menggerutu. "Kalau mau duduk atau jongkok, lututnya harus ditarik dulu."

"Ukuranmu kekecilan?" Ujar Shibayama. "Sudah ngadu sama Toorucchi-paisen?"

"Udah. Padahal aku kasih nomor celana yang sama dengan nomor yang kupakai untuk celana seragam. Tapi ini nggak pas."

"Karena celanamu modelnya slimfit, yang mulia." Celetuk Tsukishima. "Biasa pake fundoshi ya, sampe nggak tahu model?"

"Aku nggak butuh komentarmu, jerapah berkacamata." Sembur Kageyama pedas.

"Utuk utuk...yang mulia raja yang manja ngambek~"

Tsukishima menarik cape Kageyama dan mengancingkannya rapat-rapat sampai Kageyama tercekat. Pemuda bersurai legam itu menampar tangan Tsukishima dan melepas lagi kancing cape-nya sambil menggerutu.

"Minna, ayo berangkat. Lev udah disini." Kita bergumam tegas. Sementara Lev melenggang tanpa dosa beberapa langkah di belakangnya.

"Lev, eek-mu kepanjangan, tahu!" Omel Yaku. "Makanya makan sayur!"

"Hee?! Bunda kok tahu kalo eek-ku panjang?" Lev memucat lalu menoleh pada Kita. "Kita-san ngasih tahu, ya?"

Kita cuma mengurut kening mendengar komentar Lev.

"Bukan dari bentuknya, tapi durasinya." Lanjut Yaku.

"Jijik." Sakusa mengerenyit.

"Lev tadi ke toilet ditemenin Kita-san?" Tanya Kenma tidak percaya.

"Iya. Habis bangunan sekolah sepi banget. Aku takut disergap Hanako-chan pas lagi ngeden."

"Kita-san disuruh nungguin anak kelas 1 buang air besar..." Daichi menggelengkan kepalanya saking takjub.

"Benar-benar nggak ada adat." Timpal Kuroo. "Kakak kelas digituin."

"Maa, maa. Sekarang kita nunggu apa lagi?" Tanya Kita. "Ayo berangkat. Yang cewek-cewek, naik mobilnya Ushijima, Tsukishima dan Shirabu. Yang cowok ikut pasukan motor, ya. Mobilnya Sakusa buat angkut tas-tas kalian."

"Aku di mobilnya Omi." Yaku melangkah memasuki sedan hitam yang dibawa Sakusa. "Buat ngatur partitur sama barang-barang lain."

"Oke." Kita menepuk pundak Bokuto yang murung berjongkok di pojokan. "Hey, ayo. Ada apa, Bokuto?"

"Akaashi nggak mau memboncengku..." Bokuto memberengut sambil memeluk helm.

"Kan bisa naik motornya Atsumu atau Koganegawa." Kita mengusap-usap punggung Bokuto.

"Yaudah, ayok deh Bokkun. Kali ini aja aku ngalah nggak boncengin Shoyo." Atsumu mengedip nakal pada Hinata yang memanjat naik motor kopling putih yang dibawa Akaashi.


Tokyo L'ecole D'argeant Music Conservatory terlihat jauh berbeda dari yang dibayangkan anak-anak kelas 1.

Jangan bayangkan halaman luas dan kompleks gedung megah seperti Universitas Waseda. L'ecole D'argeant punya taman yang indah dan asri dengan air mancur besar dan pematang rumput hijau. Mahasiswa berseragam lalu lalang, beberapa yang berpapasan dengan mereka mengucap salam dengan santun. Bangunan utamanya adalah gedung tinggi yang terlihat seperti piramida kaca dengan puncak datar. Tempat itu terbilang agak kecil untuk ukuran sebuah perguruan tinggi. Anak-anak anggota Werewolf Heartstring berjalan bergerombol, mengikuti arahan papan penunjuk. Semua peserta Silver-Tokyo Festival khususnya untuk paduan suara dan orkestra ditempatkan di audiotorium 1. Ruangan besar itu memiliki tempat duduk berundak-undak dan panggung datar. Dinding dan lantainya berlapis beludru tebal seperti di bioskop. Hinata melihat banyak anak-anak sekolah lain yang membawa alat musik mereka sendiri.

"Wah, Dutchman!"

Seorang gadis tinggi dengan rambut pendek setelinga menghampiri gerombolan Werewolf Heartstring. Ia mengenakkan kemeja dan celana bahan slimfit dan nametag bertuliskan PIC. Kita maju selangkah dan membungkuk hormat.

"Lama tidak ketemu, Mayuzumi-san." Sapanya.

"Huaaa! Padahal udah gede tapi masih aja kawaii!"

Gadis itu menarik Kita ke dalam pelukannya. Pemuda pendiam itu dibuat kaku, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Sikap salah tingkah Kita terlihat imut sekali. Sugawara cuma bersidekap dengan wajah kesal. Yaku membantu memberikan belaian menenangkan di pundak gadis bersurai kelabu itu.

"Wah, wah! Kita-senpai ternyata berondong renyah, ya." Kuroo bersiul jahil. "Kalo abis ini ada om-om yang godain dia aku sih nggak kaget."

"Kuroo..." sergah anak-anak kelas 3.

"Guyon, elah. Serius banget sih hidup. Kan kalo kayak gitu tandanya Kita-san emang ganteng." Sahut Kuroo sewot.

"Si bodoh ini lawakan cabulnya suka nggak liat situasi, deh." Daichi menyikut rusuk Kuroo dan menujuk Sugawara yang jelas-jelas kelihatan cemburu.

"Shinsuke-san, siapa Mayuzumi-san ini?" Tanya Sugawara dengan senyum manis yang terlihat menyindir.

"Mayuzumi-san adalah pelatih vokalku waktu di Hungaria. Beliau sudah banyak mengurusku selama ini." Ucap Kita. "Karena itu beliau terus-terusan memanggilku Dutchman."

"Selamat pagi, Mayuzumi-san." Yaku mengomando anak-anak mukre untuk menyapa si gadis tinggi dengan santun.

"Semi nggak bisa menemui kalian karena ada urusan akademik hari ini. Aku akan menggantikannya mengurus kebutuhan kalian." Terang Mayuzumi-san.

Mayuzumi-san menerangkan sekilas seperti apa sistem pertunjukkan Silver-Tokyo Festival. Setiap grup paduan suara akan diberikan satu atau dua lagu sesuai rundown acara. Ada beberapa lagu yang dibawakan solo, dan penyanyi yang bersangkutan akan diumumkan lebih lanjut. Latihan gabungannya akan dilakukan bersama anak orkestra selama sebulan, dengan jadwal latihan 2 kali seminggu. Sebagai tambahah, siswa-siswi SMA yang tertarik memilih musik, tari dan seni drama sebagai karier professional, pihak administrasi L'ecole D'argeant bisa mengirimkan surat rekomendasi.

Berdasarkan komposisi jenis suara dan jumlah anggota, Werewolf Heartstring mendapatkan panggung yang sama dengan EJP dan Universitas Nohebi dalam drama panggung berjudul Prince of Egypt. Hinata dibuat menganga begitu partitur dibagikan. Bahasanya sulit. Kebun toge hitam-putihnya sangat kompleks. Setiap grup paduan suara diperbolehkan meminta ruang untuk berlatih, dan latihan gabungan dengan orkestra akan dilakukan pukul 4 sore nanti. Mayuzumi-san menuntun anak-anak Werewolf Heartstring menuju sebuah ruang kelas kosong yang sudah disediakan.

"Ini gimana bacanya? Hinata memberengut bingung.

"Mana?" Hoshiumi melirik bagian yang ditunjuk Hinata. "Oh, itu. [Yaldi hatov veh harach...]

"Oh, Patrick tahu lagu ini?" Tanya Hinata.

"Tahu."

"Itu film apa?"

"Tentang perjalanan Nabi Musa melawan fir'aun. Kisah dalam injil gitu. Seru tapi sedih." Jelas Hoshiumi.

"Ajarin aku lagu ini nanti, ya?"

"Siap!"

Hinata melihat sekeliling. Meski dibilang cuma 10 SMA yang berpartisipasi, jumlah orang yang hadir untuk ikut serta dalam festival ini banyak sekali. Mayuzumi-san menjelaskan, kebanyakan peserta mereka berasal dari universitas, terutama untuk orkestra dan drama panggung.

"Eh, lihat deh!" Hinata menepuk pundak Hoshiumi. "Orang itu kelihatan mirip banget sama Atsumu-san!"

"Mana?" Tanya Yachi dan Lev bersamaan.

"Mana ada? Aku pasti lebih ganteng!" Atsumu mendecih.

"Tapi sumpah, mirip banget!" Hinata bersikukuh. "Akaashi-san, lihat deh! Bahkan model rambutnya juga mirip. Cuma Atsumu-san lebih kurus aja sedikit."

Akaashi menoleh kemana Hinata menunjuk, lalu berlari menghampiri orang tersebut. Keduanya berpelukan singkat, lalu bertukar cium pipi kanan-kiri, cium kening dan saling menggesekkan hidung satu sama lain. Geraman rendah Bokuto membuat Hinata menoleh. Si ketua mukre tiba-tiba menarik coat cape-nya sampai menutup kepala, membuat posturnya jadi setengah membungkuk dan lehernya tersembunyi.

"Heeh? Akaashi-san kenal orang itu?!" Hinata menarik-narik lengan baju Atsumu. "Atsumu-san kenal orang itu, nggak?"

"Kenal, lah." Atsumu tertawa. "Dia kan adikku."

"Aku baru tahu kalau Miya-san punya adik." Gumam Shibayama. "Tapi memang biasanya adik lebih gede dari kakaknya, ya."

"Beda berapa tahun!?" Tanya Hinata antusias.

"Tiga puluh menit."

Hinata mengerenyit. "30 bulan, kali. Jadi kalian beda 2 tahun setengah?"

"Tandanya mereka lahirnya bareng, bokke! Bodoh sih, diajak bercanda nggak nyambung." Sahut Kageyama. "Eh, bentar. Miya-san ternyata kembar?!"

"Iya, sayang. Aku punya adik kembar." Atsumu menjawab dengan sabar. Ia merangkul Kageyama dan Hinata lalu menggeret mereka berdua menemui si adik. "Yo, Samu."

"Hoo, Tsumu..." Miya Osamu melonggarkan pelukannya pada Akaashi dan melepaskannya pelan-pelan. Mereka bertukar toss dan Atsumu tanpa ragu mencium pipi adik kembarnya. "Gengmu ramai ya, sekarang."

"Ya gimana, yang namanya paduan suara kan harus keroyokan." Atsumu tertawa. "Kau sendiri?"

"Nggak. Aku sama Akagi-senpai." Osamu mengusap puncak kepala Akaashi. "Yang mana anak muridmu, Akaa-ji?"

"Dia, sama yang tinggi kacamata disana." Akaashi menunjuk Hinata dan Tsukishima.

"Eh? Akaa-ji?" Hinata melongo. "Jadi panggilan itu bukan bikinan Atsumu-san?"

"Itu panggilan sayang Myaa-ssam untukku." Akaashi tersenyum. "Lalu Atsumu menggunakannya untuk meledekku."

"Jangan gitu dong, adik ipar." Atsumu tertawa.

Baik Akaashi dan Osamu cuma memberi tatapan jijik.

"Adiknya Atsumu-san anak padus juga?" Tanya Hinata.

"Tidak. Aku pemain orkestra." Osamu memamerkan clarinet case yang dibawanya.

"Apa itu? Kopernya panjang gitu." Hinata terperangah.

"Ini—"

"Oy, Osamu. Aku mencarimu kemana-mana, tahu!"

Pemuda bongsor itu menoleh ketika namanya dipanggil. Seorang laki-laki jangkung dengan kulit gelap dan bibir tebal menggedikkan dagunya. Ia membawa koper panjang yang sama dengan Osamu, dan tumpukan kertas-kertas yang dijepit dengan klip besar. Osamu langsung melepaskan rengkuhannya pada Akaashi dan mengangguk singkat, pamit pada anak-anak Werewolf Heartstring dan mengikuti laki-laki itu.

"Dia siapa? Kakak kelas atau pelatihnya adikmu?" Tanya Kageyama.

"Uhm." Atsumu mengangguk. "Sekolahnya adikku lebih terkenal dengan marching band-nya."

"Memang apa bedanya orkestra sama marching band? Maksudku, di acara ini kita tidak butuh marching band, kan?"

"Bokke, gitu aja nggak tahu." Kageyama mengikuti Atsumu kembali ke kumpulan anak-anak mukre, begitu juga dengan Akaashi dan Hinata. "Kalau marching band, main musiknya sambil jalan-jalan."

"Nggak gitu juga perumpamaannya, Tobio-boy." Atsumu terkekeh mendengar penjelasan Kageyama.

"Oh, jadi nggak bisa pakai piano, dong?" Tanya Hinata polos.

Atsumu dan Kageyama cuma saling pandang sebelum mendesah lelah. Kadangkala, Hinata itu entah terlalu polos atau agak bodoh.

"Marching band itu grup pemain musik yang biasa ada untuk kepentingan militer. Demi mobilitas dan efisiensi, mayoritas instrumen yang dimainkan adalah jenis instrumen drum, brass dan mungkin sedikit alat musik tiup." Kita menjelaskan dengan ramah.

"Jadi beneran main musiknya sambil jalan-jalan?" Tanya Hinata antusias.

"Lebih tepatnya, baris berbaris." Kita mengoreksi. "Logikanya, tidak mungkin kita ikut parade berbaris sambil bawa-bawa piano, kan?"

"Hei, hei, hei! Mau sampai kapan kalian ngerumpi disana, keluarga teletabis?" Bokuto mengomel sambil menuding Kita, Atsumu, Kageyama dan Hinata. "Cepetan baris persuara, terus latihan. Kita kesini bukan buat main-main dan pacar-pacaran, ya!"

"Hai!" Kageyama dan Hinata dengan patuh beranjak ke grup suara mereka.

"Bokuto ngambek, tuh. Pasti cemburu sama adikku." Atsumu tersenyum tipis. "Biasanya mana pernah sesemangat itu nyuruh kita latihan. Naa, Kita-senpai?"

Kita melenggang menyusul Kageyama dan berbaris ke grup bass tanpa memberikan balasan.


EJP atau singkatan dari Eastern Japan Polytechnic adalah perguruan tinggi politeknik yang berasal dari Kanagawa. Terkenal dengan akreditasi tinggi di bidang sistem informasi, desain komunikasi visual dan teknik mesin. Sementara Universitas Nohebi adalah univesitas multijurusan yang berorientasi pendidikan—dimana mereka juga menyelenggarakan asesmen untuk sertifikasi menjadi tenaga pengajar professional. Anak-anak Werewolf Heartstring dikejutkan ketika mereka berhadapan dengan peserta dari dua kampus tersebut. Jumlah mereka kalau digabungkan bahkan tidak sampai selusin.

"Minna, kami Werewolf Heartstring dari SMA Karasuno." ucap Yaku tegas dan sopan. "Mohon kerjasamanya!"

"Seragam sekolah kalian lucu banget." seorang dari Nohebi berkomentar.

"Ini seragam formal ekskul kami untuk acara diluar sekolah." Oikawa membantu Yaku menjawab.

"Anak kuliahan anggotanya sedik—" Ucapan Lev terpotong karena Kuroo buru-buru membekap mulutnya.

"Yah, mau gimana lagi. Kami punya kesibukan lain diluar kegiatan kampus dan klub." Seorang gadis dengan alis bulat dan rambut coklat panjang menyeruak dari kerumunan cowok-cowok EJP. "Sulit sekali memilih antara menyelesaikan tugas kuliah dan kesenangan nyanyi di klub."

"Motoya, hisashiburi." Sakusa melangkah dan menyapa gadis itu. "Kaa-san mama dan tou-chan papa sehat?"

"Masih seperti biasa." Gadis itu tertawa ramah.

Mata para cowok-cowok mukre melirik ngeri pada Sakusa. Cewek yang dipanggilnya Motoya itu terlihat manis dan modis. Yaku cuma mendengus tipis dan menyibakkan rambutnya. Tidak, tentu saja Yaku tidak cemburu. Toh, ia dan Sakusa tidak ada hubungan apa-apa. Tapi melihat bahwa Sakusa bisa tersenyum ramah dan bersikap seterbuka itu membuatnya agak terganggu. Siapa sebenarnya si Motoya gatal ini? Apa dia memang seleranya ABG gemas bongsor?!

"Bunda, ini Komori Motoya. Ayahku dan ibunya bersaudara." terang Sakusa, memperkenalkan gadis itu pada Yaku. "Mulai tahun depan, Bunda akan jadi kouhai-nya di Teknik Industri EJP."

"Kenapa kau memanggilnya bunda, Kiyoomi?" tanya Komori.

"Kebiasaan." jawab Sakusa enteng. "Toh, dia memang bunda-nya kami semua."

"Halo, selamat siang." Yaku mengangguk kaku. "Senang bisa bekerja sama dengan anak-anak kuliahan dalam acara sebesar ini. Aku berharap kami bisa belajar banyak."

"Tidak, tidak. Harusnya kami yang bisa belajar banyak dari kalian. Kiyoomi sering cerita seberapa kerennya klub kalian." Komori tertawa. "Kalau dibandingkan dengan kalian, paduan suaranya EJP masih bertunas. Susah memang mengembangkan hobi kalau jadwal kuliah kami padat."

Ketiga pihak mulai berkenalan, sekedar tahu nama dan jenis suara. Total dari EJP hanya 4 orang, dan dari Universitas Nohebi ada 7 orang. Di Nohebi, paduan suara adalah klub yang kurang populer—keanggotaannya bertambah secara musiman saat mendekati acara wisuda. Katanya pihak tata usaha akan mengiming-iming surat dispensasi kuliah bagi mahasiswa yang bersedia menjadi anggota tambahan paduan suara. Mereka baru mulai berdiri dan berbaris sesuai jenis suara berdasarkan instruksi Mayuzumi-san. Konduktor yang ditugaskan melatih grup paduan suara untuk pertunjukkan Prince of Egypt adalah kakek-kakek sipit bernama Nekomata Yasufumi. Mayuzumi-san memanggilnya Neko-sensei. Laki-laki itu menyuruh grup paduan suara untuk berbaris setengah lingkaran sesuai jenis suara, dan ia menarik bangku lalu duduk di tengah-tengah barisan.

"Hei, kau." Neko-sensei menunjuk Hoshiumi. "Berapa umurmu."

"Tujuh belas." jawab Hoshiumi singkat.

Neko-sensei lalu menunjuk Bokuto. "Kau?"

"17." Bokuto melipat-lipat jarinya. "Tahun ini harusnya aku 18. Tapi aku belum ulang tahun."

"Sou..." Neko-sensei mengangguk. "Ayo, kita pemanasan dulu."

Neko-sensei memberi pemanasan yang tidak jauh berbeda dengan yang diajarkan Semi. Lip trill, tongue trill, stacatto dan interval meski tanpa alunan piano. Lagu yang dibawakan untuk pertunjukan kali ini ada 5: Deliver us, All I ever wanted, Through Heaven's eyes, Playing with the big boys, The Plague dan When you believed. Ada beberapa bagian solo juga. Hinata sudah membalik-balik partiturnya dengan panik. Ia mana mungkin bisa menghafalkan lagu-lagu sesulit ini dalam sebulan?!

"Bagi kalian yang bakal kutunjuk untuk bagian solo, jangan berbangga hati." Neko-sensei memperingatkan. "Latihan kalian akan lebih sulit, karena orkestra dan paduan suara untuk pertunjukkan ini memiliki power dan ambience yang sangat kokoh. Aku akan terus mengganti-ganti peran kalian sampai h-7 pertunjukkan."

Neko-sensei mulai dengan mencari jenis suara. Ia menyuruh anak-anak dengan jenis suara bass, tenor, alto dan sopran mengangkat tangan. Ia bahkan tidak melupakan bass-baritone dan mezzo-sopran. Telunjuknya mengarah pada Ushijima tiba-tiba.

"Pharaoh Ramses." Neko-sensei menegaskan. Telunjuknya mengarah pada laki-laki tinggi berambut putih dengan alis super tipis dari EJP. "Kau juga Pharaoh Ramses."

"Hotep." Kali ini cowok berambut belah tengah dari EJP kena tunjuk. Lalu cowok sipit berambut belah pinggir dari akademi Nohebi juga kena tunjuk. "Huy."

"Jethro." Lagi-lagi seorang dari Nohebi.

"Jochebed." Akaashi, Komori, Yaku dan Tsukishima kena tunjuk. "Siapapun yang tersisa, masih ada peran ratu Tuya."

"Ini sulit." Neko-sensei menggerutu. Telunjuknya mengarah pada Sakusa, Kuroo, Kageyama dan Kita. "Moses."

"Miriam." Neko-sensei menunjuk Hinata. "Dan aku tidak akan menggantimu."

"HEEEEH!?" Hinata menjerit panik. "Kenapa?!"

"Kau punya karakter suara Miriam dalam speaking voice-mu. Cukup." Neko-sensei tersenyum.

"Ta... ta... tapi kan aku ini alto?" Hinata menyembunyikan wajahnya di balik partitur.

"Tidak masalah. Aku menilai kalian tidak cuma dari jenis dan karakter suara." Neko-sensei tersenyum. "Bisa kita mulai latihannya?"


Grup paduan suara EJP dan Universitas Nohebi mengaku memang bukan profesional, namun pendapat itu mungkin cuma sikap merendah semata.

[Komori]:

My son, I have nothing I can give
But this chance that you may live
I pray we'll meet again if he wil deliver us...aaaaah...aaaahhh

Hinata mengusap lengannya, menahan merinding ketika mendengar si sepupunya Sakusa bernyanyi. Tarikan nafasnya, warna suaranya, bahkan cara ia melafalkan suku kata sangat mengagumkan. Hinata yakin wanita itu juga alto sepertinya. Tetapi suaranya tidak serendah Tsukishima, lebih gelap dari Akaashi dan punya power yang besar namun ada aksen 'menyelimuti' dalam setiap lantunan notnya.

Ia pikir, penghantar merinding dalam paduan suara selama ini hanyalah nada rendah bass atau not-not melintir sopran, atau gema gagah tenor. Alto yang selama ini sedikit dan dianggapnyaa seperti bumbu penyedap ternyata bisa terdengar begitu glorious. Rangkaian nadanya rumit dan kritikal. Kuantitas yang berlebihan akan mengacaukan keseimbangan dari seluruh grup.

Hinata kini paham kenapa sangat sedikit penyanyi alto yang ada di Werewolf Heartstring, dan betapa senangnya Akaashi punya teman di grup suaranya. Alto, bisa dibilang merupakan jenis suara yang paling sulit dikendalikan dan dipelajari. Namun begitu semuanya tepat, pengaruhnya luar biasa besar.

"Sugheee..." Hinata menggumam dan melirik pada Tsukishima. "Level anak kuliahan memang beda, ya."

Tsukishima mengangguk dengan kaku.

Ayunan tangan Neko-sensei mengarah pada Hinata. Gadis itu terkesiap sedikit, lalu menunduk membaca partiturnya.

[Hinata]: Brother, you're safe now, and safe may you stay

"Hmmm." Neko-sensei menggeleng. "Lepas artikulasimu. Nyanyikan dengan straight tone. Seperti menina-bobokan anak bayi."

Hinata mengangguk. Ia kembali membetulkan singing stance-nya, dan bernyanyi perlahan mengikuti ayunan tangan Neko-sensei.

[Hinata]:

Brother, you're safe now, and safe may you stay
For I have a prayer just for you
Grow, baby brother, come back someday
Come and deliver us too...

Neko-sensei mengayunkan tangannya dalam gerakan yang lebih konstan pada bagian akhir, cukup senang dengan hasil pertama latihan mereka tanpa memperhatikan Hoshiumi yang bersembunyi di barisan sopran dengan kepala tertunduk. Tangannya gemetar dan jantungnya berdentum tidak karuan. Bukan karena bernyanyi dengan anak-anak kuliahan membuatnya gugup. Bukan juga karena ia satu-satunya cowok yang baris di jenis suara sopran.

Perasaannya berantakan ketika mendengar nyanyian Hinata. Suaranya lembut dan manis, seperti panekuk hangat di pagi hari. Bahkan saking terpananya, Hoshiumi sampai lupa bagian mana yang harus ia nyanyikan. Kepalanya mendadak berhenti bekerja, dan partitur nada seperti kebun toge hitam putih yang tidak lagi punya arti buatnya.

'Suaranya sunshine gemas banget! Aku mau dinyanyiin begitu sambil tiduran di pahanya, terus rambutku di elus-elus, berduaan nikmatin teduh payun sama semilir angin pinggir pantai. Yabai, yabai! Fokus, Korai! Jangan biarkan keimutan sunshine meng—"

Begitu Hoshiumi tidak sengaja melirik Hinata lagi, gadis itu mengedip dan membentuk tanda peace di atas kepalanya. Hoshiumi yang memang sudah di ambang batas tiba-tiba menampar wajahnya sendiri dengan lembaran partitur. Suara nyaring tersebut membuat semua orang menoleh.

"Ada apa?" tanya Neko-sensei.

Teguran itu membuat Hoshiumi kalang-kabut. Sial, apa yang harus dilakukannya untuk tetap terlihat berwibawa dan bermartabat di depan matahari gemas itu?! Hoshiumi merutuki composure-nya yang mendadak lepas kendali hanya karena pose imut dan suara membuai si gebetan. Kalau tiba-tiba sunshine jadi ilfeel melihat salah tingkahku bagaimana?! Batin Hoshiumi terus memarahi dirinya sendiri.

"Gomen, sensei. Aku salah baca lirik." Hoshiumi berkilah.


Latihan panjang tersebut ditutup dengan makan malam—bento yang disediakan panitia acara. Anak-anak mukre makan dengan damai karena sudah terlalu lelah untuk saling melempar candaan seperti biasa. Shirabu sudah memucat, ia bersandar pada bahu Ushijima berselimut dengan cape sang pacar. Hinata juga mengakui bahwa latihan kali ini terasa sangat melelahkan. Tidak hanya mereka harus beberapa kali pindah dari ruang latihan ke audiotorium untuk beberapa prosedur, tapi juga karena mereka datang sejak pagi buta dan latihan baru selesai saat langit sudah gelap.

"Duh, gawat. Aku ngantuk..." Sakusa kembali menguap.

"Doping, doping~~" Yaku berdiri dan menawarkan sebungkus besar coklat bola-bola. "Siapa yang bawa kendaraan makan 6, yang capek banget makan 4."

"Anak padus dikasih makan permen coklat... " Tsukishima mengerenyit melihat bungkusan itu. "Yaku-san mau bunuh kami pelan-pelan, ya?"

"Ini bukan sembarang permen coklat. Bittersweet coffee bonbon! Isinya biji kopi sangrai. Rendah gula dan lemak. Kalau makan 4 butir, efeknya sama seperti minum satu cangkir double espresso."

Tsukishima dengan ragu menadahkan tangannya, lalu makan sebutir. Rasanya enak, coklat pekat dengan aksen pahit-renyah biji kopi. Ia lalu makan butir kedua, ketiga, dan matanya mendadak segar kembali. Kemana rasa capek berlebih yang sejenak dirasakannya? Yaku terus mengedarkan coklat doping tersebut sampai semua orang kebagian. Beberapa ada yang menolak karena kurang suka rasanya. Kenma bahkan sampai harus dicegah agar tidak menghabiskan satu bungkus seorang diri.

"Bocah, bocah! Kalian masih disini?"

Semi setengah berlari menghampiri mereka. Wajahnya juga sama lelahnya, namun lebih terlihat betapa khawatir ia dengan anak-anak didiknya. Ia mengenakkan seragam almamater L'ecole D'argeant tanpaa nametag. Berarti ia bukan panitia acara.

"Kemana saja Anda?" tanya Oikawa. "Kami sudah seperti anak kucing hilang induk disini."

"Gomen, aku ada kelas tambahan. Semacam asesmen untuk jadi asisten dosen." Semi menjelaskan. "Habis ini kalian bakalan langsung pulang, kan? Jangan main atau nongkrong walaupun besok libur! Kalian harus isirahat."

"Tentu saja. Aku punya segudang PR yang harus kukerjakan." keluh Bokuto.

"Kenapa tidak kau cicil setiap hari?" tanya Kita.

"SIAPA YANG BISA BERBUAT SENEKAD ITU?! CUMA PSIKOPAT YANG MENGERJAKAN PR SETIAP HARI!" Raung Bokuto.

"Bokutoooooo!" Tegur anak-anak mukre kelas 3, memperingatkan si ketua mukre kalau suaranya mulai mengganggu orang sekitar.

"Nanti jadwal latihan kalian akan kurubah lagi." Semi menoleh ke luar ruangan begitu mendengar suara petir. "Kemasi barang bawaan kalian, jangan sampai ada yang hilang atau tertinggal. Lebih baik kalian bergegas pulang sebelum pasukan motor kehujanan."

"Siap!"

Susunan formasi akomodasi dirubah kembali oleh Yaku dan Kuroo—kali ini, semua sesuai arah rumah masing-masing. Koganegawa akan tetap mengantar pulang Sakunami. Ushijima akan mengantar pulang Hoshiumi, Lev, Bokuto, dan Iwaizumi. Akaashi bertugas mengantar Yachi pulang. Shirabu mengantar Daichi, Sugawara dan Kita. Kuroo dijemput orangtuanya dan Kenma ikut bersamanya.

"Tidak ada yang searah denganku. Aku balik duluan kalau begitu." Futakuchi mengenakkan helmnya dan membunyikan klakson sebelum memacu motornya pergi.

"Ayo pulang." Tsukishima menjambak pelan tas ransel Hinata dan menggeretnya menuju mobilnya. "Shibayama sudah ditelponin orangtuanya dari tadi."

"Eh? Tsukishima mau mengantarku?" Hinata menatap langit. "Bakalan hujan duit nanti malam, nih?"

"Kau ini tidak suka dikasih hati ya, jeruk keprok minimalis?" desis Tsukishima. "Kalau rumahmu lewat daerah Wakayama, kan bisa sekalian."

"Aku nggak pulang ke sana, lho." Hinata memperingatkan. Ia menoleh pada Kageyama. "Kau sendiri pulang kemana?"

"Ke rumah." jawabnya singkat.

"Rumahmu di daerah mana, hoi! Mau kutendang wajah menyebalkanmu?!" Hinata memamerkan pose muay thai.

"Rumahku dekat Lawson-nya Tsubakihara." Kageyama menjelaskan. "Dari sana jalan kaki cuma 5 menit."

"Yaudah, naik." Tsukishima membuka kap bagasi dan pura-pura membersihkan debu di dalamnya. "Singgasanamu menunggu, yang mulia."

"Sialan! Kau mau menyuruhku duduk di dalam bagasi?!" Kageyama meraung kesal.

"Eh, sebentar!" Hinata terdiam. "Kalau Kageyama tinggal di Tsubakihara, Shibayama kan di Musutafu. Tsukishima juga nggak jauh dari sana, kan?"

"Kalau rumahmu nggak di Yokohama aku masih mau nganter, kok." Tsukishima menaikkan kacamatanya. "Baik hati kan, aku?"

"Berarti rutemu dari sekolah belok kanan, kan?" tanya Hinata lagi. "Rumahku ada di belakang taman Kiyosumi."

"Bye. Ngelewatin sekolah aja nggak." Tsukishima mengibaskan tangannya dengan acuh. "Tadinya aku berpikir mau menurunkanmu di sekolah saja kalau ternyata jarak rumahmu jauh. Tapi taman Kiyosumi itu jauh banget. Aku nggak tahu daerah itu."

"Sebelah mananya taman Kiyosumi?" tanya Atsumu yang sedari tadi terdiam sibuk main ponsel sambil duduk di atas motornya.

"Di balik bukit besar dan taman konservasi kedua. Ada perumahan Himawari lama. Aku tinggal disana."

Atsumu terbelalak mendengar pernyataan Hinata. "Sayang, kalau berangkat ke sekolah naik apa? Itu jauh, lho."

"Sepeda." Hinata tertawa. "Kalau menyebrangi Tomioka Hachimangu dan ambil jalan pintas ke komplek perumahan. Nanti tembusnya di Fuyuki, 7-eleven belakang sekolah~~"

"Ta...tapi, Hinata. Daerah itu jauh banget dari sini." Shibayama berusaha menjelaskan. "Kau tidak searah dengan kami berarti."

"Sini naik, Shoyo." Atsumu menepuk jok belakang motornya. "Rumahku di sekitar Tomioka Hachimangu."

"Heh? Adikmu gimana?" tanya Hinata.

"Dia diantar kakak kelasnya." Atsumu membalas. "Buruan, keburu hujan."

Meski ragu, Hinata akhirnya memanjat naik ke jok belakang motor Atsumu. Sugawara membuka kaca mobil Ushijima dan berseru.

"Atsumu jangan ngebut bawanya! Sesekai noleh, cek apakah Hinata tidur apa nggak! Kalau dia ngantuk, kalian berhenti dulu. Kalau dia jatuh gimana?"

Yaku menoleh sebelum masuk mobil Sakusa. "Atsumu, tolong jangan ugal-ugalan nyetirnya. Ini udah malem. Yang kau bonceng itu anak gadis orang. Dijaga, ya! Jangan diajak mampir. Jangan diajak kelonan. Jangan dibawa kemana-mana pokoknya! Langsung ke rumahnya, pastikan ia masuk rumah sebelum kau pulang!"

"Pasti, lah! Emangnya aku ini fakboi apa?!" Atsumu menyergah sewot.

"Memang!" sahut beberapa diantara para senpai bersamaan.

"Atsumu-san jangan ngebut-ngebut." Hinata menepuk pundak Atsumu. "Aku takut."

"Kalau takut, pegangan aja." Atsumu terkekeh sambil mengancingkan helmnya. "Aku nggak keberatan kok dipeluk sepanjang jalan."


Atsumu sudah berusaha berkendara seaman dan senyaman mungkin, namun cuaca seakan meledeknya. Ia masih bisa bersantai ketika mendengar gemuruh petir. Namun, ketika langit mulai mencucurkan titik-titik air, Atsumu merutuk. Gerimisnya mendadak deras. Ia cuma bawa 1 helm dan jas hujan di balik jok motornya berbentuk setelan yang tidak bisa dipakai berdua. Begitu mereka terhenti di lampu merah, Atsumu membuka kaca helmnya dan menoleh.

"Shoyo, kita main barongsai dulu, ya." Katanya ramah. "Sembunyi di balik cape-ku biar kepalamu nggak kebasahan."

Hinata menuruti apa kata Atsumu. Ia menyelinap di balik cape Atsumu dan menyembunyikan kepala dan pundaknya. Karena mendadak Atsumu memacu gas, Hinata refleks memeluk si kakak kelas tenor. Rintik-rintik hujan yang semakin deras terasa agak linu menerpa langsung kulitnya, masih terasa meski kepalanya tersembunyi di balik lapisan kain luaran tempatnya berteduh dadakan. Hinata tidak bisa lihat apa-apa. Ia mempercayakan semuanya pada Atsumu.

Wangi badan Atsumu lembut dan nyaman. Bukan semerbak berlebih dan ia tidak bau keringat sama sekali meski seharian ini tingkahnya kelewat aktif. Merk apa parfumnya? Wangi ini membuat Hinata betah berlama-lama mengendusnya. Harum kayu-kayuan, tapi samar tercium wangi teh dan rempah. Apa wangi ini yang membuat Atsumu laris manis diantara cewek-cewek, selain karena tampang ganteng dan postur badannya? Bisa jadi. Hinata awalnya tidak ingin percaya bahwa Atsumu itu memang tukang gonta-ganti pacar, fuckboy atau hujatan lain. Bukan pribadi Hinata melihat seseorang hanya dari kejelekannya saja. Tapi fakta membuktikan sendiri. Salah satu teman sekelas Hinata pernah jadi pacarnya Atsumu. Hubungan mereka cuma bertahan dua minggu. Gosip beredar katanya si mantan orangnya membosankan. Lalu menjelang beberapa hari, Atsumu kedapatan jalan sama cewek dari sekolah lain. Ada juga kakak kelas cowok yang bilang katanya Atsumu cuma ingin macam-macam sama pacar-pacarnya, menjalin hubungan tanpa perasaan sama sekali.

Tapi Atsumu selalu bersikap baik pada Hinata. Ia juga baik pada Kageyama dan Futakuchi, dan semua anak-anak mukre lainnya. Ia sedikit manja pada Kita karena mereka katanya kerabat jauh dan Atsumu kurang akur dengan Oikawa. Apakah Atsumu yang biasa mereka lihat di mukre itu cuma topeng sandiwara? Ataukah, gosip-gosip itu disebarkan oleh orang-orang yang iri atas segala yang dimiliki Atsumu? Tapi, Hinata tidak jadi bersimpati karena kadang Atsumu tidak pernah memperhatikan cara bicaranya kepada orang lain.

"...yo, sayang."

"Beb? Cinta?"

"Shoyo cintaku."

Hinata terlonjak. Saking asyiknya melamun, Hinata tidak mendengar suara Atsumu. Ia keluar dari lapisan cape Atsumu kemudian. "Kenapa?"

"Sudah sampai." katanya sambil menunjuk pagar rumah Hinata. "Kebetulan aja rumahmu paling depan komplek. Jadi mencarinya cepat."

"Ah, oke."

Hinata baru saja melangkah turun ketika ibunya keluar dari rumah sambil mengenakkan payung.

"Shoyo! Ibu khawatir sekali, ya! Telponmu nggak diangkat! Berita bilang akan ada badai malam ini, dan kau belum pulang!" Omel ibunya. "Astaga, kau basah kuyup begitu. Cepat masuk, kebetulan masih banyak air panas buat mandi."

"Ha—hai!" Hinata mengangguk.

"Kau juga." Ibunya Hinata menukas. "Berbahaya bawa motor di tengah hujan sederas ini. Masuk dan keringkanlah dirimu dulu."

"Tidak usah, tante. Kebetulan aku tinggal di dekat sini." tolak Atsumu halus.

"Tidak, tidak. Ramalan cuaca akhir-akhir ini selalu tepat. Masuklah, dan kau boleh pulang saat hujannya berhenti."

Atsumu tidak sampai hati menolak. Ia memarkirkan motornya di pekarangan depan rumah Hinata dan melangkah masuk. Gadis berambut ginger itu sudah melepas pakaiannya satu-satu dan berlari menuju kamar mandi. Atsumu meletakkan helmnya di atas rak sepatu dan membuka alas kaki. Cape-nya yang basah terasa berat sekali. Seorang gadis kecil yang sangat serupa dengan Hinata mendorong sebuah keranjang plastik berisi handuk dan berjinjit menggapai-gapai Atsumu.

"Kakak besar sekaliiiiii~~" gadis mungil itu berbinar. "Banyak makan edamame, ya?"

Atsumu tertawa mendengar kalimat itu. "Kata siapa?"

"Kata tou-chan." jawab gadis itu polos. "Tou-chan bilang, kalau Natsu banyak makan edamame, Natsu bisa tingggiiiiiiiiii~~"

"Natsu-chan, biar kakak kasih tahu." Atsumu berjongkok agar tingginya setara dengan Natsu, adiknya Hinata. "Kakak juga minum susu dan banyak main lompat tali waktu SD."

"Kakak, kakak namanya siapa?" tanya Natsu penasaran.

"Atsumu." Atsumu mengulurkan tangannya. "Miya Atsumu."

"Sini, sini. Natsu keringin biar nggak masuk angin~~~" Natsu mengalungkan handuk pada Atsumu dan mengelap rambutnya.

Atsumu dipersilahkan membasuh diri di kamar mandi kedua di dekat dapur. Ia dipinjamkan sehelai kaus dan celana pendek ayahnya Hinata yang agak terlalu pendek untuknya. Ibunya Hinata menyuguhkan segelas teh panas sementara menunggu pakaian dan tas Atsumu mengering. Hinata baru saja mau mengecek keadaan kakak kelasnya, namun ia melihat Atsumu sudah tertidur meringkuk di sofa. Bunyi nafasnya agak aneh. Pipinya memerah dan badannya menggigil.

"Ano, kaa-chan..." Hinata menghampiri ibunya. "Sepertinya Atsumu-san tidak enak badan."

"Araa..." Ibunya Hinata berjalan ke ruang tengah dan mengusap kening Atsumu. "Kareshi-mu sepertinya nggak kuat dingin, Shoyo. Waktu ibu ajak masuk saja rahangnya sudah gemelutukan. Malam-malam kena hujan deras akibatnya fatal, lho."

"Kaa-chan! A... Atsumu-san bu... bu... bukan pacarku!" Hinata tergugu.

"Sou desu ne?" Ibunya Hinata tertawa. "Sho-chan nggak mau mencoba? Dia tampan dan baik, lho. Dia rela mengantarmu pulang meski akhirnya begini."

Ibunya Hinata bilang sejak ia mengantarkan teh, Atsumu sudah separuh sadar. Ia cuma mengangguk tipis dengan kepala menempel di lengan sofa. Natsu disuruh menemani ngobrol sembari menunggu Hinata selesai mandi, tapi Atsumu sudah keburu tidur dan tidak kunjung bangun meski sudah diguncang-guncang. Ayahnya Hinata membawa dua lapis duvet dan membantu menyamankan posisi pemuda pirang itu.

"Biarkan saja dia istirahat disini." ujar ayahnya Hinata. "Besok kan hari minggu. Ayah akan bicara sama orangtuanya nanti di telepon."

"Maaf membuat kalian semua repot." Hinata menoleh pada Atsumu yang tertimbun duvet dalam keadaan meriang. "Maafkan aku juga sudah merepotkanmu, Atsumu-san."

"Dia sudah menjaga putri ayah dengan baik." Ayahnya Hinata mengusap rambut si putri sulung. "Sana, pergi tidur sama adikmu."

"Sho-chan tidur sama Natsu?!" si adik berbinar bahagia.

"Iya, iyaaaa~~"

"Sho-chan, nggak mau kasih chuu sama kakak itu?" tanya Natsu. "Siapa tahu di chuu nanti dia bangun, kayak shirayuki hime?"

"Mana ada? Dia kan bukan tuan putri." Hinata terkekeh.

"Jaman sekarang kan ada yang namanya emansisapi! Memang cewek nggak boleh jadi ksatria dan cowok nggak boleh jadi himesama?"

"Eman—" Hinata tergelak mendengar penuturan adiknya. "Tahu dari mana istilah itu, hah! Emansipasi, kali! Lagian kalau himesama-nya cowok, jadinya pangeran, dong?"

"Emang pangeran nggak boleh pingsan kayak shirayuki hime?"

"Buang aja ke laut! Pangeran kayak begitu nggak berguna, tahu!"

Hinata bersenda gurau dengan adiknya sampai Natsu tertidur pulas. Menjelang tengah malam, Hinata yang khawatir dengan keadaan Atsumu menyelinap turun dari kasur dan mengecek keadaan si kakak kelas. Atsumu masih berbaring di sana, dengan dengkur halus yang lebih nyaman. Tubuhnya tidak lagi menggigil. Hinata menyediakan segelas penuh air di meja terdekat dan membelai puncak kepala Atsumu.

"Cepat sembuh, Atsumu-san."

Wajah tidur Atsumu damai sekali. Ia kelihatan seperti boneka manekin. Garis wajahnya, kontur rahangnya, lekuk hidungnya, alisnya yang tebal dan menukik serta bulu matanya yang panjang. Tidak ada lawakan nyeleneh atau gombalan iseng, atau kekacauan lain yang sering muncul saat ia bangun. Latihan berat hari ini membuat semua orang bungkam, termasuk Oikawa dan Bokuto yang bawel dan Yaku yang sering marah-marah. Hoshiumi, Futakuchi dan Atsumu bahkan tidak lagi saling bercanda. Mungkin Miya sulung sudah kehabisan baterai hari ini.

Siapa tahu di chuu nanti dia bangun, kayak shirayuki hime?

Naluri dan rasa kagum membuat Hinata mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut ujung bibir Atsumu. Detik selanjutnya, ia terperanjat sambil memegangi bibirnya sendiri dan bergegas pergi setelah menyadari perbuatannya.

Bodoh.

Mana mungkin Atsumu bangun dan sehat kembali setelah dikasih ciuman?

Bisa-bisanya Hinata termakan ucapan bocah SD!


A/N:

fundoshi: kancut putih tradisional Jepang yang biasa dipake Isshiki Satoshi-nya Shokugeki kalo dia lagi berkebun.


PLAYLIST:

-Deliver Us—soundtrack of Prince of Egypt.


BANGSAT (bacotan ngegas tapi santuy dari author):

Akhirnya aku bisa update! Syenangnya hatiku lalalala walaupun kesibukan kerja bikin gila lahir batin, akhirnya aku bisa update lagi yeaay! Sebagai penganuut garis keras Hinata Harem Supremacy, aku nggak ikhlas gitu rasanya biarin Hinata cuma adem-ayem-kalem sama si patrick. Harus ada cowok tamvhan rupawan lain yang membuat kokoro Hinata kocar-kacir, yekaaan. PASUKAN HINATA HAREM SUPREMACY MANA SUARANYAAAA?! MAJALENGKA DIGOYAAANG! /eh salah

Readers-readersku yang budiman sakti atau kayak begimana aku ga paham, aku emang pengen bikin osamu pacaran sama akaashi tapi bokuto-nya ganggu dan KALIAN UDAH TAHU BAHKAN SEBELUM AKU KASIH SPOILER?! GILA GILA NGERIIIII! Dan intrik Akaashi dan dua cowo gemay abu-abu ini memang syedap ya buuunn. Jadi pengen pindah rating aja /nggakgituwoy

Pengen lihat kelanjutan uwwu-nya Hinata? Doakan saya cepet update dong. Review, fave dan follownya tambah gitu. Walaupun aku orangnya males bales review aku baca review kalian berkali-kali dan terus-terusan lho hehehehe /authornyaa campuran males sama gaptek. Mohon dimaklumi aja ya hahahahaha.

Udah ah, bacotanku kepanjangan. Semoga chapter ini memuaskan dahaga kalian semua wahai fujodanshi kurang gizi! SAMPAI KETEMU DI CHAPTER SELANJUTNYAAA