Author's note: Cherrylate, Kaburi kun, racheliairawan, Scarletticia, Latte, AbielFiscoJ, Chamoarl, dan Honneypoems... berikan kesempatan pada Penulis untuk mengirim rasa bahagia ini pada kalian yang mau meninggalkan jejak. Penulis juga akan menunggu dari pembaca lain alias silent reader anyway.
Cherrylate, kamu baper? Kaburi-kun, racheliairawan, kalian mengatakan chapter sebelumnya membuat kalian mengakak? Scarletticia, kamu juga punya pemikiran sama seperti Penulis dimana Ymir memang iseng luar biasa? Dan Latte, bisa-bisanya kamu setuju pada rencana dua setan itu. Tapi it's ok. Kita sama, hahaha! Dan kau, AbielFiscoJ. Sudah kukatakan padamu bahwa Annie akan menjadi orang pertama yang memeluk bantal spektakuler itu, GYAHAHAHA!! Chamoarl dan Honneypoems, kita sepaket karena pasangan itu memang menggemaskan luar biasa!
Terima kasih, terima kasih, terima kasih! Kalau begitu, mari kita langsung terjun ke TKP!
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
BENANG TAK TERLIHAT
Halaman Dua Belas: Insiden Memalukan?
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
BENANG TAK TERLIHAT
HALAMAN DUA BELAS
INSIDEN MEMALUKAN?
By Josephine Rose99
.
.
.
"Maaf, dokter. Tolong ulangi sekali lagi."
"Kami ingin memastikan luka tembak yang anda alami 7 tahun lalu tidak terbuka ketika anda bertempur di peperangan terakhir kali. Karena itu kami meminta anda untuk datang ke rumah sakit militer besok. Kami akan melakukan pemeriksaan rutin seperti biasanya," kedua alis Annie bertaut seolah mempertanyakan keputusan kepala perawat dari rumah sakit militer yang meneleponnya pagi begini.
Tepat sekali. Baru saja dia dan dua gorila selesai sarapan di rumah calon—ehem—suaminya, dia mendapat telepon dari dokter Mina. Annie memiliki hubungan baik dengan dokter ini karena Annie belajar banyak darinya tentang pemberian pertolongan pertama selain dari dokter Arlert alias Kakek Armin.
Meski begitu, bukan berarti Annie sepenuhnya percaya pada keputusan wanita tersebut, khususnya kali ini. Memeriksakan bekas luka tembak, katanya? Jangan bercanda. Si Kolonel muda ini yakin dirinya baik-baik saja, "...Tapi saya tidak merasakan sakit sama sekali di perut dan dada saya. Saya rasa pemeriksaan rutin itu tak perlu. Lagipula saya sedang cuti,"
"Maaf, Kolonel Leonhart. Ini perintah dari Letjen Erwin. Kami harap anda mau bekerja sama,"
"Perintah Letjen? Sungguh?"
"Ya, Kolonel."
Cih. Kalau Erwin adalah dalang di balik pemeriksaan ini, mau tak mau Annie harus menurut. Erwin adalah salah satu tentara yang paling dia hormati di kemiliteran. Kemampuan bela diri, berperang, mengambil keputusan cepat, ketenangan, dan kemampuan memimpin Batalion dia dapatkan dari pria itu. Selain itu pria Smith tersebut juga atasannya.
Apa boleh buat, sepertinya Annie harus pergi ke gedung berbau obat dimana-mana itu, "Baiklah. Besok saya akan mampir ke rumah sakit,"
"Terima kasih, Kolonel Leonhart. Kalau begitu, tolong datang ke rumah sakit jam sepuluh pagi. Pemeriksaan rutin anda akan dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan rutin prajurit baru,"
"Baik. Saya akan datang," Annie pun memutuskan telepon walau masih menatapi layar ponselnya.
Sementara itu, Hitch ternyata terus memperhatikan percakapan Annie dengan seseorang di telepon. Tak seperti Ymir yang asyik menonton channel gosip para artis. Biasa lah, penggosip tak mungkin mau ketinggalan bahan gosip, 'kan? Makanya matanya terus melototi layar TV. Namun Hitch melongok ke arah Annie yang bersandar ke dinding ruang tengah, menyipitkan mata sebagai sebuah dampak dari sikap penasaran pada 'kenapa sang atasan ditelepon sepagi ini'.
"Ada apa, Annie?" tanya Hitch.
Annie menjawab kalem, "Kepala perawat rumah sakit militer memintaku memeriksa lukaku besok jam sepuluh."
Eh? Apa katanya?
Jangan-jangan ini—
"Luka yang mana?"
"Bekas luka tembakku yang dulu. Tampaknya mereka khawatir jika bekas lukaku itu terbuka lagi di dalam."
CLING!
Seperti seorang dewan korup ketika melihat tumpukan uang 19 milyar, kedua mata duo setan ini berkilat-kilat, pertanda bahwa inilah saatnya! Dan tentu saja kita langsung tahu berkat siapakah dibalik alasan dipanggilnya Annie ke rumah sakit. Butuh tiga hari bagi Connie untuk memanggil pihak terkait setelah diskusi rencana, eh? Kerja bagus, Letnan Satu Connie Springer! Kesempatan tak boleh disia-siakan! Sekarang atau tidak sama sekali!
Hitch dan Ymir saling bertukar pandangan. Terus saling pandang seakan berbicara melalui telepati. Sebuah percakapan telepati dimana mereka akan meningkatkan kesuksesan misi dengan memastikan sendiri alias menemani sang Kolonel muda menuju rumah sakit militer.
Hitch kemudian menoleh kembali pada Annie, berujar penuh riang supaya menutupi maksud terselubung, "Boleh kami berdua juga ikut?"
Annie mengangkat sebelah alisnya, mengirim tatapan bingung, "Hah? Untuk apa?"
"Tak apa. Kami hanya ingin menemanimu. Benar 'kan, Ymir?"
"Ya. Sekalian aku ingin melihat seperti apa rumah sakit militer itu. Tak boleh, ya?"
Sial. Annie tak sampai hati melarang kedua sobatnya menemaninya pergi kesana, apalagi jika ditatapi dengan pandangan berbinar-binar. Wajah puppy eyes yang lebih mirip tutup closet itu nyaris mengundangnya untuk menimpuk kerikil. Tapi tak ada salahnya, bukan? Lebih ramai, lebih bagus. Setidaknya dia punya teman mengobrol.
Annie mendengus, memasukkan kembali ponselnya ke kantung celananya. Dia pun berjalan mendekati Hitch dan Ymir yang duduk di depan TV sembari berkata, "Baiklah, tak masalah. Asal kalian tidak berulah disana."
Ymir langsung menggenggam kepalan tangannya erat-erat. Senang bukan kepalang karena diperbolehkan ikut. Lain cerita dengan Hitch karena gadis ini sekarang memberikan pandangan jengkel, "Memangnya kami bocah SD?" ujarnya tak terima. Jangan berulah katanya? Sejak kapan Annie bicara ala Ibu-Ibu beranak satu setiap kali ingin jalan-jalan? Selain itu, bukan pertama kalinya Hitch pergi kesana. Dasar atasan kampret! Hitch 'kan sudah besar! Syebel!
"Hei, bagaimana kalau kita ajak sekalian Mikasa dan Eren? Supaya lebih ramai," celetuk Ymir tiba-tiba memberi ide dadakan.
Mengundang pasangan gorila dan dugong itu? Dia ingin menambah misi merusuh mereka atau apa?
"Bukannya mereka bekerja, ya? Besok 'kan Rabu," balas Annie.
Ymir langsung kecewa, "Hee? Eren dan Mikasa?"
"Setahuku Eren masih bekerja di hari itu, tapi Mikasa lain cerita. Kantornya dekat dari rumah sakit. Kurasa dia akan diizinkan kalau pergi mengawal calon istri sahabat dekatnya," balasan yang cerdas sekali, Hitch. Dengan begini tidak ada alasan lagi untuk tak membawa—yah, setidaknya salah satu dari mereka.
Omong-omong, karena sang Letnan Dua tersebut menyebutkan mantra cinta alias 'calon istri sahabat dekatnya', lagi-lagi wajah Annie memerah. Dan supaya tidak terlihat oleh duo setan betina, dia melengos ke arah lain. Mencoba menutupi wajahnya dari samping dengan poni panjangnya. Yup, meski itu gagal karena mereka berdua jelas-jelas melihatnya dan sekarang sedang tersenyum iblis.
Annie berdeham kikuk. Pura-pura bertingkah tenang. Menjaga imej coolnya yang terkenal di kalangan tentara. Padahal jika fanfic ini memutuskan sifatnya OOC, pasti dia sudah memegang pipinya, malu-malu seperti makan sepuluh piring namun mengaku diet(?), dan muncul bunga-bunga sebagai background ala manga bishoujo.
"Hhhhh... lakukan sesukamu..."
...
~invisible string chapter twelve~
...
.
.
"Wow... besar juga..." Ymir terpukau melihat bangunan rumah sakit militer di hadapannya yang malah lebih besar dari rumah sakit yang sering dia datangi. Jangan tanya kenapa dia sering ke rumah sakit. Tentu saja bukan karena dia terluka atau menderita penyakit apapun, melainkan menggoda perawat pria yang sudah sering kali menendangnya keluar. Sungguh kisah cinta yang tragis.
Mari hiraukan kisah cinta ala drama komedi Ymir. Lebih baik kita alihkan perhatian kita dimana Annie sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam, "Ayo, masuk," ujarnya yang kemudian diikuti oleh mereka.
Sesampainya di dalam, setelah melewati lorong rumah sakit, mereka dikejutkan dengan keberadaan seorang pria berpakaian prajurit berlari menghampiri. Pria tersebut melambaikan tangan, membuat keempat gadis ini mengangkat kedua alisnya. Ya, mereka tahu identitas pria itu. Pria yang sangat familiar.
"Connie?" Mikasa bergumam tak percaya Connie bisa ada di rumah sakit ini. Well, sebenarnya dia memang sudah diberitahu Ymir bahwa bala bantuan mereka bertambah dan bala bantuan itu berasal dari RS militer. Tapi Ymir tak mengatakan siapa orangnya. Apa mungkin Connie? Beginilah pikirannya bertanya-tanya.
"Yo, Mikasa! Lama tak berjumpa!" kata Connie begitu berdiri di hadapan mereka. Bertingkah seolah nostalgia ala reuni SMP. Benar-benar pembawaan suasana yang baik.
Bagus! Sesuai arahan di telepon sebelum mereka berangkat kemari. Mari dimulai drama pura-pura tidak tahu ini.
"Connie!" sapa Ymir.
Connie pun menoleh, masih mengandalkan akting layaknya sedang syuting film untuk membalas sapaan Ymir tadi, "Hm? Kalian datang bersama Ann—maksudku, Kolonel rupanya..."
"Tak perlu seformal itu padaku, Connie. Panggil saja namaku. Kita tidak sedang bertugas sekarang," sergah Annie tak suka pangkatnya disebut di hari libur begini. Ya, dia bukan tipikal teman brengsek yang meminta dipanggil bos oleh teman masa kecilnya ketika sudah jadi atasan dalam dunia kerja.
"O-oke kalau itu maumu," Connie garuk-garuk kepala kikuk, kemudian dia kembali ke topik pembicaran, "Oh ya, Annie. Kau kemari untuk pemeriksaan, 'kan? Aku diberitahu karena akulah ketua pengawas medical check up. Tapi maaf, tampaknya kau harus menunggu sedikit lebih lama karena pemeriksaan prajurit baru. Tak apa? Atau kau ingin secepatnya?"
"Tak perlu. Lagipula aku tidak terburu-buru. Aku masih bisa menunggu,"
"Baiklah. Akan kusampaikan pada Mina."
"Jadi, kita akan menunggu dimana?" tanya Hitch bingung. Kalau Annie tak masalah menunggu, yang benar saja mereka duduk santai bermain ponsel layaknya bocah zaman sekarang di depan resepsionis rumah sakit.
Namun Mikasa datang dengan ide brilian, "Connie, kalau tak salah, Eren pernah cerita kalau kepala pengawas di rumah sakit ini akan diberi ruangan privasi. Tak apa jika kami menunggu disana sampai kau memanggil kami lagi?"
"Oh, tentu saja boleh! Ayo kutunjukkan jalannya!"
.
.
"Kita sampai! Silahkan masuk," sebagai seorang gentleman, Connie membukakan pintu ruangannya kepada empat gadis tersebut. Sebuah ruangan berukuran 5 x 7 meter yang didalamnya ada mesin penjual minuman kaleng, dua sofa panjang, meja, lemari es berukuran kecil, TV, dan karpet yang dibentangkan di tengah ruangan. Untuk ukuran ruangan bersantai kepala pengawas, ini lumayan nyaman. Mungkin ini yang membuat pasukan wanita sangar ini sedikit terperangah.
Mikasa memperhatikan seluruh sudut ruangan. Mengangguk-angguk kecil sembari ber-hmm panjang, "Hmmm... cukup luas juga," kemudian si gadis polisi menoleh pada Connie yang memberi cengiran terbaiknya, "Ini hanya untukmu sendiri?" katanya tak percaya.
"Hn. Tapi itu karena aku ketua pengawasnya. Jika aku diganti oleh orang lain, ruangan ini bukan milikkku lagi," jawabnya. Dan selagi mereka berempat masih melirik kesana-kemari, Connie mengeluarkan beberapa kotak wadah DVD dari laci meja di ruangan itu, lalu meletakkannya di depan pemutar DVD, "Kalau kalian bosan menunggu, kalian bisa menonton TV atau video. Aku punya banyak koleksi DVD yang seru."
Annie, Mikasa, Ymir, dan Hitch pun berjongkok di dekat Connie. Memperhatikan setiap judul dari DVD-DVD tersebut. Omong-omong bicara soal DVD, ternyata koleksi Connie banyak juga. Sekitar 50 buah bahkan lebih.
"Crazy Rich Asians... Set It Up... Hereditary... Semuanya film?" tak ada satupun Anime. Ymir langsung kecewa.
"Uh-huh. Tinggal pilih saja yang mana ingin kalian tonton. Sudah, ya! Aku tinggal dulu!" balas Connie dengan santainya meninggalkan mereka untuk kembali bertugas.
Walhasil, jadilah keempat gadis sangar ini saling celingukan satu sama lain.
Annie menjadi orang pertama yang buka suara, "Jadi?"
"Dia sudah menawari begitu, ya pasti kita tonton," kata Mikasa angkat bahu.
"Tapi film yang mana?" Annie garuk-garuk kepala, bingung memilih salah satu DVD yang akan ditonton untuk membunuh waktu senggang ini.
Hitch melirik satu per satu DVD Connie. Memegang wadah DVD tersebut lalu membaca sinopsis di belakangnya. Beberapa tidak ada yang membuatnya tertarik. Hingga kemudian matanya menangkap sebuah wadah DVD dengan sampul tokoh pahlawan kesukaannya.
"Ini bagaimana?" Hitch menunjukkan DVD berjudul Spiderman: Into The Spider-Verse.
Mikasa menyipitkan matanya, " Spiderman?" gadis polisi ini tak menyangka seorang tentara juga suka tokoh-tokoh Marvel. Tak jauh beda darinya yang mengoleksi figure dan poster Gintama dari fandom sebelah hingga sang kekasih tak percaya telah memacari seorang wibu.
"Ya, aku paling suka film aksi! Dan berhubung kita di rumah sakit militer, kesannya makin bagus jika kita menonton ini!" alasan yang sama sekali tidak logis untuk ditolerir.
"Aku ikut saja," sahut Ymir tak mau ambil pusing.
"Terserah," ini sih Annie yang hanya mengikut arus.
Walhasil, jadilah ketiga wanita tipe masa bodoh ini duduk rapi di depan TV ala Ibu-Ibu arisan. Alis serta bibir Hitch berkedut, memberikan pandangan ingin siap menimpuk wajah ketiga temannya. Hhh... beginilah jika dirimu dikelilingi orang-orang yang gersang akan kewarasan. Ya, termasuk dirinya sendiri.
"Cih, kalian memang tak punya hasrat sama sekali, ya..." menghiraukan ketidakantusias teman-temannya, Hitch membuka wadah DVD tersebut. Mengambil kaset di dalamnya, menghidupkan televisi serta DVD player, dan film pun dimulai!
.
Disisi lain...
.
"Oi, Connie!" seorang pria tinggi berambut cepak berlari-lari kecil menghampiri Connie yang sedang duduk di kursi panjang di depan ruangan kepala perawat. Pria Springer ini duduk disana karena terlalu malas berdiri mengawasi para prajurit baru. Duduk melipat kaki sambil bersenandung. Sangat sifat yang tak cocok untuk ditiru.
Mendengar seseorang memanggilnya, Connie pun menoleh ke sumber suara, mendapati salah satu temannya telah berada disampingnya.
"Franz? Kenapa kau ada disini?" tanya Connie langsung ke inti. Bingung kenapa teman sesama tentaranya ini repot-repot menemuinya dari asrama militer.
Kemudian Franz menyodorkan sebuah wadah DVD padanya sambil berujar, "Aku ingin mengembalikan DVD yang kupinjam darimu," Franz mengatakan ini dengan wajah tanpa dosa ketika mengembalikan sebuah DVD bersampul AV alias Adult Video 21!! Tentu Connie melotot horor karena salah satu koleksi videonya(!?) berada di tangan Franz.
Tapi—serius!? Membicarakan hal itu di gedung instansi pemerintah? Sudah pasti ini akan membanting rate fanfic ini dari T menjadi X! Benar-benar tentara yang tak patut ditiru, para pembaca. Meski kita sebaiknya memaklumi bahwa pada dasarnya mereka pria normal. Bukan Armin yang mengoleksi DVD hewan-hewan spesies aneh atau biokimia yang mampu membuat Hitch dan Ymir ke dunia mimpi dalam 5 detik.
Dan reaksi Connie santai sekali, sesantai Hitch yang menistakan wajah Ymir, "Oh, benar juga. Aku baru ingat kalau kau pernah meminjam ini," ucapnya sembari menerima DVD itu.
"Tapi ada yang salah, kau tahu? Isinya bukan AV. Sepertinya tertukar," terdengar sekali kekecewaan tersirat dari perkataan Franz. Hhhh... nafsu pria dan kebodohan mereka.
"Hah? Serius?" seketika Connie melirik ke arah DVD-nya. Dahinya mengerut, tak percaya akan keteledoran yang dia lakukan, "Ck, aku pasti salah memasukkan DVD ke wadah ini..."
"Dasar kau ini. Padahal aku sudah tak sabar menontonnya,"
"Jadi DVD apa yang ada disini?
"Oh, kalau aku tak salah judulnya Spiderman: Into The Spider-Ver—"
BSYUUUUNGGG!! THUUNKK!!
Bak kecepatan Kobayakawa Sena dari fandom tetangga, sebuah DVD melintas di antara Connie dan Franz, nyaris saja mengenai wajah mereka! Entah siapapun yang melempar benda itu, tapi kaset itu menancap tepat di sela-sela pinggiran pintu ruang kepala perawat. Dan mungkin karena begitu kuatnya tenaga lemparannya, kaset itu sampai bergetar beberapa detik. Siapa gerangan pelakunya!?
Namun, tampaknya Connie tahu siapa orang itu.
Aura-aura membunuh ini... rasanya tak asing.
Meski tubuhnya membeku, takut-takut dia menoleh ke samping, tempat asal dimana DVD itu dilempar. Dan jiwanya nyaris meninggalkan raga tatkala melihat sang Kolonel termuda di militer telah berdiri disana dalam pose pitcher layaknya pertandingan baseball. Pandangan membunuh dari dua mata sinis itu berhasil membuat kakinya bergetar hebat.
Annie kemudian mengangkat jempol kanannya tepat di depan lehernya, memeragakan gerakan siap memenggal leher Connie. Tanpa komando, Connie segera berlutut dan menundukkan kepala. Aksi permintaan maaf dari hati paling dalam ini membuat Annie berlalu—meski masih mengeluarkan aura-aura gelap. Akhirnya tinggal lah Franz yang melongo, tak paham apa yang barusan terjadi.
"Hah? Annie ada disini? Sedang apa dia?" tanya Franz.
"Dia sedang mempersiapkan cara sadis untuk membunuhku. Pertanda sebuah eksekusi."
Yup, tidak diragukan lagi.
Mari berdo'a setelah ini jumlah mayat di kamar mayat tidak bertambah.
.
.
BLAM!
Annie menutup pintu ruang kepala pengawas dengan punggungnya. Wajahnya masih menunduk, tak berani menatap wajah teman-temannya. Namun itu juga berlaku bagi dua di antara mereka alias Mikasa dan Hitch. Mikasa menunduk pula dengan wajah memerah hebat, sementara Hitch menoleh ke arah lain, berkeringat dingin sembari setengah mati menahan rasa malu. Kalian bertanya soal Ymir? Gadis kampret itu asyik minum kopi kaleng yang dia beli dari mesin penjual minuman kaleng. Berwajah seolah tak peduli jika dunia akan menemui takdir akhirnya besok. Ya, dia juga mengunyah kacang di depan teman-temannya yang tubuhnya saja seperti orang dewasa, namun hatinya masih lugu.
Berjalan cepat, Annie kembali ke posisi dimana dia duduk. Posisi duduk melingkar ini sungguh membuat suasana semakin canggung. Tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara. Hanya suara kunyahan Ymir menjadi latar suara di ruangan tersebut. Tolong maklumi mereka. Arwah mereka tadi nyaris tertendang dari tubuh mereka begitu menyaksikan adegan yang tak sepatutnya Penulis jabarkan disini.
Namun mengingat bahwa dirinya lah yang menciptakan suasana 'gerah' ini, Hitch segera menepuk tangannya kuat-kuat. Memamerkan senyum lebar dengan wajah merona, "Wah, sangat disayangkan sekali kalau kita menyia-nyiakan waktu untuk menonton film, ya!" benar-benar kepolosan yang smooth sekali, Hitch.
Annie tak bisa menghentikan dirinya untuk tak memberikan tatapan jengkel pada sobatnya itu, "BERHENTI BERSIKAP POLOS BEGITU!! KAU TIDAK LIHAT APA YANG KITA TONTON TADI, HAH!?" teriaknya masih tak percaya apa yang telah dia lihat. Dirinya yang tak pernah menonton begituan sebelumnya tentu langsung mematung, 'kan? Lihat saja dirinya sekarang. Tubuhnya bergetar, sangat malu sampai wajahnya nyaris meledak.
Berbeda dari dua orang tersebut, Ymir masih asyik memasukkan kacang sial ke dalam mulutnya. Memberikan komentar ala orang dewasa yang sewajarnya—tidak, dia pada dasarnya juga mesum! "Aku sih tak masalah menonton tadi sampai habis," begini katanya luar biasa kalem. Tampaknya aplikasi Parental Advistory harus segera dipasang di otak rusak wanita ini.
"Tadi itu... sedikit..." reaksi Mikasa tak jauh beda dari Hitch dan Ymir. Masih menunduk menutupi rona merah di wajahnya. Gadis polisi ini tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Malu! Ya, dia berbeda dari Ymir yang tak tahu malu itu.
Sekedar informasi, mereka berempat memang sempat menonton film yang dijauhkan dari organisasi perlindungan di bawah umur. Dan karena terlalu kaget, mereka membeku di depan TV, membiarkan film laknat itu memutar adegan-adegan X rated selama lima menit. Sementara Annie, Hitch dan Mikasa melongo, bocah mesum berjerawat beridentitaskan Ymir malah berkomentar 'Wuohooooo!!' dengan tampang Om-Om mesum yang biasa mampir ke tempat prostitusi.
Lalu siapa orang pertama yang menghentikan film memancing zina mata itu? Jawabannya Ymir.
Hah? 'Kenapa Ymir' kata kalian? Well, itu karena dia melihat ketiga wanita tersebut bereaksi seperti mata merah melotot, seluruh tubuh menegang, dan tubuh gemetaran. Lebih parahnya lagi adalah reaksi selanjutnya, yaitu hidung ketiga temannya mengucurkan darah segar. Beruntung Ymir cepat menyadari hal itu sehingga dia masih bisa menyelamatkan mereka sebelum masuk ke ruang ICU.
"Sialan kau, Hitch! Kenapa kau tidak memeriksa DVD itu baik-baik sebelum diputar?!" benar sekali, Annie. Meski sampul wadah DVD-nya menunjukkan manusia laba-laba itu, pasti kasetnya bergambar sesuatu yang mewakilkan AV.
Tak terima terus disalahkan, Hitch balas membentak, "AKU TIDAK TAHU KALAU ITU FILM PORNO, KOLONEL BRENGSEK! KALAU AKU TAHU, TAKKAN KUPUTAR!!"
"Apa sih, Annie? Kau lupa kalau kau akan menikah dengan Armin? Seharusnya kau terbiasa dengan adegan film barusan," celetuk Ymir mencoba realistis. Ya, mengingat sang Kolonel akan menikah dengan sang ilmuwan, setidaknya dia harus mencoba sedikit—ehem—dewasa, 'kan? Bukan hanya itu. Bukankah Annie sudah melakukan 'itu' dengan Armin? Jadi untuk apa malu? Well, mari singkirkan kesalahpahaman ini dulu, tapi tingkah Annie seperti bocah SMP yang baru pertama kali melihat orang dewasa berciuman.
PLETAKK!!
Jitakan telak dari tinju Annie Leonhart mendarat fantastis di kepala Ymir. Berhasil membuat gadis bertubuh jangkung tersebut terlungkup pasrah dengan kepala berasap. Ouch.
Mikasa sweatdrop melihat keganasan Annie—yang tak jauh berbeda darinya—itu. Walau wajah sang gadis berambut pirang bak tomat selagi mengatur napas memburu, Mikasa segera menghentikan jitakan part 2 sebelum Ymir benar-benar dipanggil Yang Maha Kuasa.
"Kau tahu, Annie? Kurasa yang lebih tepat untuk diperiksa itu Ymir daripada dirimu. Jadi kumohon batalkan pembantaian berdarahmu sebelum aku membawamu ke kantor polisi sebagai tersangka pembunuhan."
...
~invisible string chapter twelve~
...
.
.
Pemeriksaan berjalan sesuai rencana. Setelah menunggu sekitar setengah jam di ruangan Connie, Annie akhirnya mendapat giliran. Dokter Mina, kepala perawat RS militer memfokuskan dirinya memeriksa dada dan perut Annie yang dulu kena tembakan. Jantungnya sedikit lega melihat bekas luka tembak Annie mulai menghilang. Meski bagi tentara bekas luka adalah medali perang, Mina tetap tak suka melihat siapapun tak bisa menjaga tubuhnya sendiri.
Selagi Annie di dalam ruang pemeriksaan, Mikasa, Hitch, Connie dan Ymir menunggu diluar. Bercengkerama, bernostalgia tentang kenangan yang mereka lalui. Dari sekolah hingga pekerjaan. Cukup lama mereka menunggu hingga Annie keluar dari ruang pemeriksaan. Gadis itu keluar dengan tampang datar yang biasa dia tunjukkan. Dan dari itu saja bisa disimpulkan bahwa Annie memang baik-baik saja.
Ah, omong-omong, sebelum mereka berlalu dari ruangan itu, Mina sempat melongok keluar dari balik pintu. Memberikan kedipan mata pada Connie yang dibalas dengan kedipan juga. Tunggu dulu. Jangan salah paham dulu. Mereka bukan saling main mata menggoda begitu, melainkan memberi kode bahwa rencana selesai dijalankan. Karena tujuan Annie harus melakukan pemeriksaan adalah demi mendapatkan bukti tanda tangannya pada dokumen hasil check up. Ya, sebenarnya sih bisa saja mereka memalsukan tanda tangannya, tapi itu cukup membuat mereka kerepotan jika berurusan dengan staf rumah sakit. Kalau soal memalsukan dokumen sih Mina masih memiliki hasil pemeriksaan luka tembak Annie 7 tahun lalu. Dia bisa menggunakan itu.
Maka disinilah mereka sekarang. Setelah Connie mengantar mereka keluar, keempat gadis tersebut berjalan menuju tempat parkir. Mentari benar-benar terik sekali di siang hari yang panas ini. Sehingga mereka berjalan cepat untuk segera mengambil mobil.
Mengambil kesempatan dimana Annie tak bisa mendengar mereka karena sekarang dia berjalan di depan, Hitch berbisik pada Ymir, "Ymir, kau sudah sampaikan permintaan kita pada Connie, 'kan?"
"Sudah. Tapi kenapa harus aku? Bukannya kau juga tentara sama sepertinya?"
"Kau benar. Masalahnya aku jarang bicara dengannya. Tampak aneh kalau aku tiba-tiba minta tolong diluar misi, 'kan? Selain itu aku juga malu. Jadi kurasa kalau aku minta tolong pada perempuan tak tahu malu sepertimu, Connie mungkin setuju bekerja sama,"
"Baru kali ini aku dimintai tolong sekaligus dihina dalam waktu bersamaan,"
.
FLASHBACK
.
"Connie, aku minta tolong padamu lagi. Tentang pemeriksaan Annie," inilah awal dari permintaan Hitch melalui Ymir kepada Connie selagi Annie menunggu di belakang prajurit baru untuk pemeriksaan. Mari kita lupakan sejenak tentang insiden berdarah di ruang kepala pengawas karena Connie sudah memanggil mereka untuk ke ruang pemeriksaan sekarang.
Connie menjawab ogah-ogahan, "Apa itu?"
"Tolong periksa bagian perutnya baik-baik," wajah Ymir luar biasa serius, seserius ketika akan mendamprat selingkuhan kekasih yang mendeklarasikan kenapa dirimu ditinggal layaknya tokoh antagonis dalam drama.
"Oh, soal luka tembak itu sebenarnya 'kan hanya kebohongan. Perutnya tak apa-apa, kok. Serahkan saja soal pemalsuan dokumen hasil pemeriksaan padaku. Percayalah. Tanpa minta bantuan Mina pun semuanya akan baik-baik saja."
"Tidak, kau salah. Justru aku minta kau bekerja sama dengan kepala perawat disini karena aku kurang percaya padamu," oke, Connie jelas langsung tersinggung.
Segera si Letnan Satu ini menatapnya dengan jengkel, "Hah? Apa maksudmu? Memang seberapa besar kepercayaanmu padaku?"
"Sama seperti aku mempercayai janji-janji busuk calon anggota dewan saat sedang kampanye."
"Itu bahkan tak lebih dari 5 persen, sialan!"
"Ah, sudahlah. Pokoknya ini diluar dari bekas luka tembak."
"Lalu apa?"
"Aku hanya ingin mempersiapkan diriku sebelum menjadi seorang Bibi."
"...Hah?"
.
FLASHBACKS END
.
Gyaaaaaa!! Apa yang dilakukan si bodoh itu!? Kalau begini ceritanya, kesalahpahaman konyol mereka akan merambat ke kalangan militer! Lagipula, mereka melakukan kesalahan besar, bukan? Mina bukan dokter kandungan! Ini soal ahli yang berbeda! Yang berbeda!
"Menurutmu sudah berapa minggu?" Hitch malah asyik menerka-nerka usia 'kehamilan' khayalan yang hanya khayalan. Well, setidaknya untuk sekarang.
"Yang pasti belum sampai sebulan," tidak, kau salah, Ymir. Jangankan sebulan, kondisi perut Annie bahkan belum menuju kesana.
"Apanya yang belum sampai sebulan?" celetuk Annie tiba-tiba nongol di depan mereka sambil memasang tatapan membunuh dan raut wajah yang umum dipasang pembunuh bayaran ketika menatap korbannya.
Ekspresi Hitch dan Ymir langsung berubah. Keringat dingin bercucuran sampai kaki mereka mengeper bak kucing disudutkan singa ganas. Ini gawat! Mereka akan terbunuh! Indera keenam Annie memang tak bisa diremehkan kalau kita bicara soal aktivitas bisik-bisik tetangga. Maklum, dia tipikal topik gosip tetangga-tetangga.
Dan sebelum pembunuhan benar-benar terjadi, Hitch segera memasang alibi yang sering dia katakan sambil mengibaskan tangan, "Hah? Eh, ti-tidak! Tidak ada apa-apa!"
"Ya ya ya! Bukan apa-apa, Annie! Sungguh! Hehehehe..." sambung Ymir garuk-garuk kepala canggung.
Mikasa yang berdiri di samping mobil hanya menaikkan sebelah alisnya melihat pemandangan seekor megalodon menunjukkan gigi-gigi tajamnya di depan ikan anchovy dan ikan tongkol. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
.
.
Sementara itu di sebuah desa di pinggiran hutan hujan Ghana...
.
Entah profesi Armin yang tiba-tiba berubah, tapi hari ini dia terjebak di antara anak-anak beberapa penduduk desa yang mengelilinginya. Menunjukkan penasaran mereka pada buku yang sedang dibacanya. Armin bersandar pada dinding kayu di rumah yang disewakan untuk para peneliti, bersikap fokus pada tulisan berbahasa inggris di buku bersampul gambar tumbuh-tumbuhan. Begitu banyak istilah ilmiah dalam buku tersebut yang sudah pasti akan membuat siapapun akan tertidur.
Dan mungkin karena terlalu fokus membaca, dia melupakan keberadaan anak-anak itu. Hingga kemudian salah satu dari mereka buka suara.
"Mr. Arlert,"
Armin cukup terkejut namanya dipanggil. Dia pun menoleh pada sumber suara, suara dari seorang anak perempuan berambut hitam pendek dengan potongan rambut laki-laki.
"Yes?" balas Armin padanya.
"May I ask you a question?"
He? Mau bertanya apa pula bocah itu? Tapi Armin memilih meladeninya dengan senyuman, "You can ask me anything,"
"Do you have a girlfriend?"
"Wha-what?"
ITU!? DARI SEMUA PERTANYAAN, ITULAH YANG DITANYAKAN BOCAH INI!? Hhhhh... dasar anak-anak zaman sekarang. Armin tadi sempat berpikir jika bocah ini akan menanyakan sesuatu tentang buku yang dia baca, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tapi Armin tak bisa mundur. Pacar, ya? Yah, secara teknis dia tak punya pacar. Lebih tepatnya sih...umm... calon tunangan?
Membayangkan wajah Annie spontan membuat wajahnya memerah. Beginilah jika seorang pria kekurangan kasih sayang dari wanita. Membayangkan wajah wanita saja membuat pertahanannya goyah. Tentu saja ini disaksikan oleh anak-anak tersebut. Seketika raut wajah mereka berubah sumringah.
"Gotcha!"
"You DO have a girlfriend!!"
"Who is she? Who is she?"
"Yeah, tell us about her! What's she look like?"
Terpojok! Armin terpojok! Kalau begini mau tak mau dia harus menceritakan soal Annie, bukan? "Umm... well, actually... she's not my girlfriend, but my fiance,"
"WHOOAA! EVEN MORE!!!" teriak anak-anak itu bersamaan yang membuat Armin semakin malu. Sial! Disaat seperti ini, seluruh anggota tim surveynya sedang pergi.
Tidak diberikan kesempatan bernapas lega, seorang anak laki-laki berambut hitam sebahu sudah bertanya lagi, "What's her name? Her job? Is she just like you? A scientist?"
"No, no. Her name's Annie Leonhart. A soldier with a rank of Colonel,"
"A SOLDIER!? AND EVEN A COLONEL!? WOW!"
"Is she stronger than you?" lebih kuat dari Armin, tanyanya? Anak-anak, kalian benar-benar tak tahu keganasan seorang Leonhart di medan perang.
Armin tertawa hambar dan menjawab, "Of course she is," kemudian dia menoleh ke arah lain dengan tampang sweatdrop. Melakukan kilas balik hubungan mereka ketika masih SMP, "Kaki dan punggungku jadi bukti keganasannya, anak-anak..." beginilah batinnya.
"Can we look her picture?" tanya anak lainnya.
Hei, kenapa jadi interogasi begini?
"Sure," namun Armin sama sekali tidak keberatan. Dia mengambil ponselnya kemudian membuka galeri foto. Mencari foto Annie yang—ehem—diambil diam-diam karena terlalu malu minta foto bersama. Lalu dia menunjukkan foto Annie pada anak-anak itu, "Here she is,"
Butuh 10 detik bagi mereka untuk berpikir mencari kesan tepat begitu melihat foto Annie.
"She looks...manly," opini anak 1. Berikan ceklis karena Annie memang terlihat jantan.
"And her eyes also looks cold," opini anak 2. Berikan ceklis juga padanya karena mata Annie memang terlihat dingin.
"But, she's pretty, you know," opini anak 3. Berikan ceklis juga padanya karena Annie memang cantik (bagi Armin).
"Do you love her, Mr. Arlert?" interogasi lanjutan yang tak seharusnya ditanyakan para bocah.
"...Very much," sayang sekali dia belum bisa mengatakan perasaannya. Apalagi gadis itu juga tak disini sekarang. Armin hanya mampu melihat Annie melalui foto sebagai lucky charm, "Hey, maybe she'll be happy if she can hear your voices. I told her I was coming here. Do you guys wanna say hello?" muncul sebuah ide bagus dalam otak jeniusnya. Memperkenalkan anak-anak desa pada sang calon istri tidak salah, 'kan?
"YEAH! YEAH!"
"WE WOULD LOVE TO!"
"Okay," Armin pun segera membuka aplikasi perekam suara, "But I'm sorry if we just send her a voice message. Because I'm working right now. So if you don't mind... let me talk first," tombol perekam ditekan oleh Armin dan dia pun mulai bicara, "Annie. Aku ingin memperkenalkanmu pada anak-anak yang tinggal di desa yang dekat dengan lokasi proyekku. Mereka anak-anak yang ramah pada kami yang orang asing ini. Mereka ingin menyampaikan sesuatu padamu begitu aku memberitahu soal dirimu pada mereka," setelah berkata begini, Armin mengarahkan ponselnya pada anak-anak.
Maka, anak-anak kemudian berebut untuk bicara.
"Hello, Miss Leonhart! I'm Adwin!" ucap anak laki-laki berambut hitam sebahu.
"My name's Amare!" sambung seorang anak yang botak
"And I'm Daren!" dan ini adalah suara dari anak laki-laki berambut cepak ala Connie.
Tak ketinggalan dari laki-laki, anak perempuan dengan potongan rambut laki-laki juga ikutan, "My name is Camara, Miss Leonhart. Here's my sister, Cleotha,"
"Hello, Miss Leonhart. This is Cleotha," sambung adiknya yang berambut panjang sepunggung.
"We just want to let you know that you're very lucky to have Mr. Arlert as your fiance. He's really kind to us,"
"Yeah! He even promised to save our parents' job from bad people who want to destroy our forest,"
"And he said he's in love with you!" Armin spontan melotot pada anak laki-laki bernama Amare yang malah berubah jadi penggosip! Apa ini!? Apa virus penggosip Ymir dan Hitch bisa mencapai tempat ini!?
Dan itu semakin diperparah oleh bocah perempuan beridentitaskan Camara, "He loves you very much! Just so you know, we can see his blushing face right now," begini ucapnya sambil memberikan cengiran pada Armin yang merona hebat.
"We hope we can meet you in another time, Miss Leonhart!" bocah bernama Adwin tanpa minta persetujuan Armin langsung menekan tombol 'send' di ponsel Armin!
Gah! Padahal Armin berniat mengedit bagian ungkapan perasaannya yang tak langsung itu! Sekarang bagaimana? Ingin sekali dia menggampar anak-anak kampret yang dewasa terlalu cepat ini, yang sedang menatapnya dengan tampang tak berdosa.
"What in the world are you talking about!?" teriak Armin masih blushing.
Tapi respon anak-anak itu lumayan mengesalkan.
"You're so cute when you're in love, Mr. Arlert. Hahahaha!"
.
.
Di belahan dunia sana, tepatnya di Eldia, di rumah Armin, pesan suara itu sudah sampai di ponsel Annie. Melihat nama kontak sang calon suami muncul di atas layar membuatnya langsung membuka pesan yang dikirim olehnya. Sebelah alisnya terangkat karena Armin tumben mengirimnya pesan suara. Tapi Annie tetap memutarnya juga dan mendengarkannya lewat earphone pemberian Ymir.
Kalian ingin tanya reaksinya?
Sesuai dugaan. Sang Kolonel mengerjap-kerjapkan matanya, lalu tersipu malu, shock tak percaya mendengar pesan suara tersebut. Wanita ini jadi tersenyum sendiri. Entah karena mendengar suara imut anak-anak atau informasi yang mereka berikan. Ini langka! Sangat langka! Meskipun Annie tak tahu itu benar atau tidak, apakah Armin mencintainya atau tidak, gadis ini tetap menekan tombol 'save'. Ah, alasan sederhana sesungguhnya. Dia hanya ingin mendengar rekaman suara itu berulang-ulang nanti. Kepribadiannya benar-benar berubah drastis, eh?
Ymir yang melihat perubahan warna wajah Annie pun hanya melengos. Menghiraukan gadis itu asyik bersenandung ria di sofa ruang tengah. Dia lebih memilih menyiapkan kopi bersama Hitch untuk menghangatkan perut mereka ketika menonton drama roman tragedi yang akan ditayangkan sebentar lagi.
"Paling pesan suara penuh cinta dari sang suami. Cih! Buat iri saja!" suara hati jomblowati alias nona Ymir yang tak penting.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note: Tidak ada kata-kata selain review!
THANKS A LOT, MINNA-SAN!
