"Hoaam hoaaamm"

"Hoaaamm"

"Hoaaaaamm"

Naruto pov

Aku bukan menguap terus menerus karena aku mengantuk tapi karena aku bosan.

Jam sudah menunjuk pukul 22.13 dan sepertinya kakak akan kembali bersama Hinata. Dikarenakan orangtua kami sedang pergi, aku yang harus menyambut Hinata ke rumah kami.

Tapi jujur saja aku tak tahu harus bersikap seperti apa di saat aku melihat Hinata. Pikiran ini membuatku bimbang.

Mungkinkah aku harus pura-pura bersikap baik dan dengan senang hati menerimanya di rumah kami sebagai calon kakak iparku? Jujur saja, aku merasa tak ingin.

Tak lama kemudian mataku menangkap bayangan seorang lelaki. Itu adalah kakakku berjalan mendekat dengan Hinata di belakangnya. Dia mengekang Hinata, membuatnya tak bisa bergerak. Entah mengapa pula aku merasa kesal melihat perlakuan itu pada Hinata tapi di satu sisi aku merasa senang Hinata akan berada di dekatku.

Hm lalu setelah itu, apa yang akan aku lakukan?

Naruto pov end

"Lepas. Lepaskan." Hinata kelelahan berteriak, suaranya semakin pelan karena rasa serak di tenggorakan yang kering.

Kaki Hinata menyentuh tanah tapi respon lambatnya membuat dirinya terpeleset tapi dengan cepat Toneri menahan badannya.

Mata Hinata spontan menatap ke arah Toneri yang juga menatapnya tapi kemudian ia menyadari ada siapa di depannya.

"Naruto?" Naruto hanya diam dengan raut wajah datar.

"Hm halo welcome." Apa saja yang bisa ia katakan, ia mengeluarkannya. "Masuklah." Bukannya menyambut Hinata dengan baik Naruto membuka pintu istana dan masuk ke dalamnya, menjauh dari sang kakak dan juga Hinata.

Kamar menjadi tempatnya bersembunyi.

Pintu kamar tertutup dan jari jempolnya ia gigit.

Melihat dari bagaimana mereka bersama tadi, mereka jujur terlihat sangat serasi.

Tapi mengapa hal itu membuat gejolak aneh di dada Naruto?

Mengapa? Mengapa jika saja itu adalah Hinata, perasaannya selalu merespon berbeda dari biasanya?!

"Aku kacau!" Naruto mengacak surai pirangnya, mencoba membuang apa saja yang ada di dalam pikirannya.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

CREATURE

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Creature by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 13

.

.

.

"Adikku benar-benar payah." Toneri mendengus. Ia meminta Naruto menyambut Hinata tapi dia malah bertingkah aneh.

"Masuklah, Hinata." Pintanya seolah Hinata akan dengan sangat senang hati masuk ke dalam istananya. "Lagipula rumahmu sedang dalam keadaan yang kurang bagus, akan lebih baik jika kau tinggal di sini." Hinata menarik kembali pemikirannya tadi, ia masuk dengan senang hati mengekori Toneri.

"Istanaku agak kecil tapi anggap saja seperti rumahmu sendiri."

Agak kecil huh? Dia benar-benar merendah.

.

.

.

00.53

Ini tak benar

Sungguh, ini salah tapi tak perduli seperti apa ia mencoba untuk sadar Naruto tak bisa meninggalkan pintu kamar Hinata, terus menempelkan telinganya ke pintu dan mencoba menduga apa yang tengah Hinata lakukan sekarang.

Ceklik

Pintu terbuka dan detik itu juga Naruto mati kutu.

"Naruto? Mengapa kau di sini." Pertanyaan dari sang pemilik kamar membuat Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Aku kebetulan lewat." Jelas sekali Hinata tahu Naruto berbohong. "Kukira kau sudah tidur?" Hinata menggeleng.

"Aku tak bisa tidur." Jawabnya. "Aku ingin keluar untuk mencari udara segar." Anggap saja seperti rumahmu sendiri, begitulah kata sang pemilik tempat ini. Hinata tak merasa begitu senang tapi tak membebaskan dirinya juga bukan ide yang bagus. Ia sedikit merasa tertekan.

"Aku tak melihat kau merasa bahagia." Niatnya Naruto ingin meninggalkan Hinata sendiri tapi entah mengapa ia malah mengekori Hinata.

"Entahlah, aku merasa cukup pusing. Hidupku benar-benar berantakan." Hinata tak tahu apakah pantas disebut begitu hanya saja lihatlah. Rumahnya rusak, ia tak punya uang dan kerjaan. Malah sekarang ia berada di sini. Satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit nyaman hanyalah lelaki di sebelahnya. Tapi semua ini bermula dari bertemu dengannya.

"Tempat ini sangat indah." Hinata terpukau oleh hijaunya rumput yang tergunting rapi di halaman luas yang hanya berisi sebuah batu besar di tengah-tengah halaman.

Tanpa sadar ia tersenyum. Tempat ini, ia seperti mendengarnya. Langkah kaki sembarangnya membawanya sampai ke sini. Langit malam sangat indah sekali di penuhi oleh bintang-bintang.

"Ini adalah tempat bermainku." Hinata tersenyum lucu.

"Wah, tempat ini nyata." Ia tak menyangka Naruto benar-benar memiliki tempat ini. Padahal ia sungguh merasa Naruto aneh dulu di saat dia mengosongkan ruang tamunya.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini?" dua detik setelah pertanyaan Hinata, Naruto tiba-tiba saja sudah terduduk di atas batu dengan alas bulu beruang putih.

"Aku duduk di sini dan melihat bintang." Hinata melangkah mendekat dan mengambil duduk di samping Naruto, Naruto membantunya naik ke atas batu itu dan kemudian Hinata melakukan hal yang sama, melihat ke arah langit.

"Indah..." hanya itu komentar dari Hinata yang turut merasa nyaman memandangi bintang. Bintang-bintang terlihat sangat terang dan berkilau.

Naruto menatap Hinata di sebelahnya. "Omong-omong soal kakakku, dia tak bermaksud membawamu secara paksa, dia hanya salah tingkah karena malu." Naruto bisa mengetahuinya hanya dengan melihat Toneri tadi. Ya sedekat itulah mereka, bisa tahu segala sesuatu hanya dengan melihat.

"Kakakku itu benar-benar sangat baik, dia bahkan sangat hebat dan juga dia punya segalanya. Dari semua manusia, kau adalah yang paling beruntung, dia menyukaimu."

"Itu mengapa aku membawanya ke sini, aku harus membuatnya jatuh cinta padaku." Naruto menoleh kembali menatap bintang. Mengingat senyuman bahagia dan bersemangat sang kakak tadi membuatnya merasa sedih. Bukan sedih melihatnya bahagia, hanya saja ia akan merasa jahat sekali jika ia mengabaikan kebahagiaan itu.

"Pertama kali aku melihat kakakmu, aku berpikir Wah! Sikapnya sangat mirip denganmu." Hinata menahan kekehan kecilnya. "Dia hanya terlihat lebih kalem." Mengabaikan ucapan Naruto, Hinata mengatakan apa yang ada di kepalanya. Naruto melakukan dan mengatakan apapun semaunya, begitu juga Hinata melihat Toneri hanya entah mengapa ia tak merasa begitu kesal jika itu adalah Naruto, berbeda dengan Toneri, ia merasa tak senang.

"Tapi kakakmu menceritakan padaku soal pertama kali kami bertemu, hanya saja mengapa aku tak ingat?" kepala Hinata miring, ia mencoba mengingat masa-masa kecilnya.

"Apa yang aku ingat dulu aku memang pernah bertemu dengan seorang lelaki tapi"

Hinata flashback

"Iittaaii!" tas beratku jatuh diikuti oleh punggungku ke lantai.

Ada seseorang mendorongku tapi orang itu juga yang menarik tanganku membantuku berdiri. Dia menatapku sangat tajam seolah menilai penampilanku.

"Kau ini sangat jelek. Jelek tak imut sama sekali." Aku tak mengerti mengapa lelaki bersurai kuning di depanku tiba-tiba berteriak padaku.

Dia memecahkan telur mentah ke atas kepalaku dan mengatakan. "Lihat wajah bulat merahmu seperti babi."

"Babi gemuk" waktu itu juga aku menangis. Aku bukannya takut hanya saja aku marah dia mengataiku seperti babi.

"Huaaaaaa kau jahat. Kau sangat jahat huaaaaaaa"

Hinata flashack end.

"Pfft " Naruto menahan tawa mendengar cerita Hinata. Apakah hanya itu yang dia ingat? Mengapa dia mengingat hal yang buruk? Dia sangat pendendam.

"Ugh sejak hari itu aku mengatakan pada diriku sendiri, jika saja aku bertemu anak lelaki menyebalkan itu lagi, akan aku katakan."

"Katakan apa?" Naruto penasaran karena Hinata tiba-tiba terdiam dengan mengembungkan pipi.

"Akan aku bilang padanya, Aku tak terlihat seperti babi. Aku adalah gadis cantik yang sangat imut dan bukan salahku karena kau tak suka pada gadis yang imut." Sayang sekali pertemuan itu sangat singkat, Hinata tak begitu mengingat wajah lelaki itu.

"Bwuahaahaha" Naruto tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Ia tak menyangka Hinata begitu percaya diri.

"Wuahahahaha kau ini percaya diri sekali." Dia bahkan berbicara dengan gaya anak kecil tadi.

"Ah tapi itu memang benar. Bukankah aku ini cukup imut?" tanpa sadar Hinata memasang wajah manisnya membuat Naruto berhenti tertawa dan menatapnya dalam.

"..." sangat imut dan sangat cantik. Sangat menghasut Naruto untuk menyentuh pipi gembul itu.

"..."

"..."

"Kau memang mirip babi" dahi Hinata berkerut. Dia diam selama itu hanya untuk menghinanya?!

"NARUTOO!"

"Akh! Jangan berani memukulku huh!" mata Naruto melebar, telunjuknya menunjuk Hinata guna mengancam tapi Hinata meninju lengannya lagi.

"Itu karena kau menyebalkan!"

"Aku akan menghajarmu serius."

"Coba saja kalau kau berani. Huh!"

.

.

.

07.22

Malam hari berlalu dan pagi hari pun tiba. Semua orang terlihat sibuk dengan membersihkan setiap bagian istana kecuali tiga orang yang duduk melingkar di meja bulat dengan beberapa hidangan di atas meja.

Lelaki bersurai perak, Toneri terlihat sangat menikmati hidangannya.

Naruto terlihat sangat tak perduli seperti biasanya dan Hinata terlihat mengantuk.

"Hinata, setelah sarapan bagaimana jika kita pergi berjalan?" ajakan itu di ikuti oleh sebuah senyuman.

Sebenarnya Hinata ingin menolak, selain karena tidak mau ia juga mengantuk tapi ia mengangguk.

Toneri tersenyum sangat cerah sekali mendapatkan jawaban iya dari Hinata.

"Aku berharap orangtuaku."

"Orang tua kita." Sela Naruto penuh penekanan ditambah wajah masam. Ia tahu Toneri hanya salah ucap tapi ia tetap saja tak senang. Lihatlah dia sangat gugup padahal hanya menghadapi seorang perempuan. Dia sangat lemah.

"Ah! Maafkan aku." Toneri terkekeh kecil karena respon sang adik. "Maksudku aku tak sabar menunggu kepulangan orang tua kami, aku ingin memperkenalkan kau pada mereka." Ucapnya begitu semangat.

.

.

.

Setelah sarapan, sesuai ajakan Toneri. Dia mengajak Hinata berjalan mengelilingi istananya yang sangat luas.

"Apakah adikku memperlakukanmu dengan baik?" Hinata bisa melihat halaman luas Naruto dari sini meski terhalang oleh pagar tapi ia bisa melihat Naruto terduduk di atas batu besar. Cuaca memang tak panas bahkan cukup dingin karena matahari bersembunyi di balik awan tapi mengapa dia terduduk sendiri di sana?

"Hinata?"

"Hah?!" Hinata menoleh karena terkejut. Apakah Toneri menanyakan sesuatu? Ia tak mendengarkan apapun karena fokusnya mengarah ke orang lain. "Maafkan aku tak mendengarkanmu, apa kau mengatakan sesuatu?" tanyanya sedikit tak enak hati telah mengabaikan Toneri.

"Aku bilang apakah Naruto memperlakukanmu dengan baik?" Toneri mengulang pertanyaannya membuat Hinata sedikit berpikir.

"Jika kau ragu Naruto akan bersikap baik mengapa membiarkannya di dekatku?" tanya Hinata ingin tahu apa maksud dari pertanyaan maupun sikap Toneri.

"Adikku itu pembenci. Dia benci semua orang kecuali keluarganya." Jawab Toneri kemudian ia melanjutkan. "Aku berpikir jika saja aku tiba-tiba membawamu ke sini, dia mungkin akan sangat membencimu dan dia mungkin akan membuatmu merasa tak nyaman. Itu mengapa aku sengaja membuatnya sesedikitnya bergantung padamu agar dia membiarkanmu hidup dengan damai di sini." Jawaban Toneri membuat Hinata menoleh ke arah Naruto yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri.

"Naruto?" membenci? Tapi Hinata tak merasa dia terlihat seperti itu.

"Selama ini, tak pernah sekalipun aku melihatnya menyukai siapapun. Bahkan sewaktu dia kecil sekalipun."

Hinata seperti tak percaya tapi Toneri mengatakan yang sebenarnya. Mungkinkah itu alasan mengapa dia sendiri terduduk di sana? Karena dia membenci semua orang? Karena dia menjauhi semua orang?

"Kau mungkin tak ingat tapi dulu ada anak kecil yang membuatmu menangis dan melemparmu dengan telur. Itu adalah dia."

Hinata berhenti bernafas, matanya terbelak menatap terkejut Toneri. Jadi, lelaki itu adalah Naruto? Serius?!

"Dia sangat benci padamu waktu itu karena aku terus memujimu."

"Adik! Mengapa kau membuatnya menangis?!"

"Huaaaaa huaaaa!"

"Karena dia jelek! Dia sangat jelek aku tak suka padanya!"

"Woah aku sangat terkejut." Hinata tak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa terkejutnya. Orang yang mengatainya adalah Naruto?

Tapi Naruto bersikap cukup baik selama ini bersamanya. Dia menyelamatkan Hinata, selalu.

.

.

.

Biasanya Naruto duduk di atas batu ini untuk menikmati kesendirian tapi sekarang ia duduk di sini karena merasa binggung. Ketika ia menoleh ke samping ia melihat kakaknya bersama Hinata.

Perasaannya aneh, tak bisa ia kendalikan. Hal itu membuatnya merasa frustasi.

"Mengapa harus kakakku yang menyukainya?" banyak perempuan lain, mengapa memilih Hinata yang jelek?

"Hinata benar-benar menyebalkan."

.

.

.

.

To be continue

Maap kalau ga bagus

Bye bye