I Do Not Own The Characters.

All Characters belong to Hajime Isayama,

I Just Own my Story.

If you DO NOT like the pairing, It means you're in the wrong place.

Leave it as soon as possible without spreading HATE Comments

[!] Mature Content and Bunch of Typos [!]


"Kau kemari, Aurille?" Kenny membuka jubahnya, menggantungkan di pintu yang berdebu dan menyadari seorang pria tambun duduk di kursi yang sebenarnya di sediakan untuk Kenny.

Aurille mengangkat kaki di meja Kenny, membuatnya seperti bos besar. Kenny menghempaskan kakinya, seketika Aurille terjerembab ke lantai. Kenny menggantikan posisinya, menyalakan cerutu baru, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asapnya tepat di wajah Aurille. Mulutnya terasa masam bila tidak menyesap cerutu beberapa menit saja.

Aurille menghempaskan tangannya beberapa kali untuk mengusir asap yang berkumpul di wajahnya, Aurille duduk di hadapan Kenny, "Kau sudah mendapatkan Levi?"

"Tidak, aku menahan istrinya." Kenny menengadahkan kepalanya, memonyongkan bibirnya dan asap seperti huruf O terbang bebas ke udara.

"Kenapa istrinya?" ini sangat membuang waktu bagi Aurille. Dana pemerintahan sudah menipis, ia membutuhkan sosok yang lebih kuat untuk menagih pajak dari rakyatnya. Jika tidak mereka akan berani melawan pasukan militer yang lemah.

"Sebagai umpan. Diam saja dan lihat hasilnya nanti, gendut. Kudengar dia kadet terkuat, aku yakin dia sangat dibutuhkan juga di pasukan itu. Cepat atau lambat mereka akan mencarinya."

"Tentu saja, klan Ackerman memang terkuat. Tidak bisa aku bayangkan jika pemerintahan bisa mempunyai kalian bertiga." Aurille memulai monopolinya.

"Sudah ku katakan aku tidak berpihak pada siapapun, aku—Tunggu? Kalian bertiga?" Kenny menyatukan alisnya, meyakinkan jika ia tidak salah dengar.

Aurille mengangguk santai, "Kenny Ackerman, Levi Ackerman dan Mikasa Ackerman."

"Bukankah wanita itu hanya menggunakan marga dari Levi? Dia punya marga sendiri dari orangtuanya."

Aurille hampir tersedak mendengar penuturan polos Kenny. Ia kira selama ini, Kenny telah mengetahui siapa-siapa saja pribadi dari pasukan pengintai. Namun Aurille mengurungkan niatnya itu, bisa-bisa Kenny mengamuk nanti. Sebaliknya Aurille menjelaskan dengan rinci.

"Tidak, gadis itu bernama Mikasa Ackerman. Dia seorang Ackerman murni. Titelnya sebagai kadet terkuat adalah salah satu buktinya."

Kenny mematahkan cerutu panas dengan telapak tangannya. Aurille bergidik ngeri mengingat cerutu itu masih menyala, namun Kenny seperti tidak merasakan apa-apa. Kenny berjalan menuju jendela berdebu di dekatnya, memasang wajah serius dengan tangan yang tersimpan di dagu.

Ackerman murni…

Mengingat itu, Kenny menyadari satu hal yang seharusnya sudah ia sadari beberapa jam lalu, saat ia menyiksa Mikasa dengan pukulan-pukulan di wajahnya. Untuk seorang wanita harusnya ia sudah menangis meminta untuk dibunuh daripada terus di siksa seperti itu, namun Mikasa masih bisa berbicara, tidak merasakan luka sekujur tubuhnya. Sejak tadi Mikasa memperlihatkan bahwa dirinya seorang Ackerman. Kenny merasa bodoh.

Masih ada Ackerman lain di dunia ini selain dirinya dan Levi. Kali ini seorang Ackerman wanita. Ini hal yang langka. Jika saja Kenny melakukan sesuatu bersama dengan Mikasa, mungkin dunia akan melihat mereka berbeda. Mengingat Kenny sendiri sudah ditakuti dengan julukan 'Kenny The Ripper'nya, maka orang-orang akan menilai Anti Personal Control Squad lebih ganas lagi. Ya, ini bisa dipertimbangkan.

"Ada apa, Kenny?" Aurille mengetahui isi pikiran semrawut milik Kenny karena sejak tadi Kenny diam, ia ingin sedikit bocoran dari Kenny. Barangkali sesuatu yang menguntungkannya ada disana.

"Tidak, tidak apa-apa."


continuing in seconds, sips your tea first


"Petra…dia gadis yang baik ya."

Mikasa mencubit-cubit kecil lengan berotot milik Levi dari samping, menghadapkan tubuhnya pada Levi yang sedang menatap langit-langit kamar. Malam itu mereka tidak bisa tidur, seharusnya mereka kelelahan setelah melakukan ritual malam mereka. Mikasa yang menawarkan diri. Jangan salah, ini karena sebentar lagi Mikasa akan memasuki masa datang bulannya. Sebenarnya Mikasa bermaksud memberitahu agar Levi tahu kapan ia harus memintanya. Namun dasar lelaki, Levi malah mengajaknya saat itu juga.

"Jika kau hanya ingin berdebat tentang omong kosong, maka lebih baik kau berhenti."

Untuk Levi, pembicaraan ini sama sekali tidak penting. Sudah berkali-kali Mikasa mengoceh, memancing agar Levi menjelaskan hubungannya dengan Petra. Demi titan abnormal, Levi tidak punya apa yang harus di ceritakan, memang begitu faktanya. Hanya sebatas teman satu squad, tidak lebih. Jika Levi menjawabnya, maka Mikasa akan melemparkan pertanyaan lain dan Levi terlalu malas untuk menggerakkan lidahnya.

"Aku menyuruhnya."

Berterus terang menjadi pilihan. Lebih baik untuk tidak mempunyai rahasia bukan? Lagipula Mikasa tipe orang yang sulit untuk memendam sesuatu, Mikasa lebih suka menumpahkan isi hati dan pikirannya daripada dibiarkan mengganjal. Terasa mengganggu.

"Menyuruh apa?" Levi termakan umpan.

"Menyuruhnya untuk tetap melayanimu seperti biasa. Membuatkan teh dan makanan, mengantarkannya ke atas mejamu, melirik sebentar untuk mendapatkan perhatianmu dan hmp—"

"Daripada digunakan untuk mengoceh tak jelas, lebih baik kau gunakan mulutmu itu untuk memberiku blowjob." Kata-kata itu meluncur deras dari mulut Levi. Pria itu mengatakannya tanpa beban.

Mikasa menampar tangan Levi dan menghempaskannya, "Kotor. Tidak bisakah kau serius sekarang, kopral?" Mikasa sengaja menggunakannya agar Levi bisa kembali pada kepribadian sebelumnya. Dingin dan serius.

Levi menyerah. Seperti biasa ia mengalah pada Mikasa, "Lalu kenapa kau menyuruhnya jika kau sendiri tidak suka?"

"Tidak suka? Bukan tidak suka, hanya…"

Mikasa tidak bisa merangkai kata-kata. Ia harus menjelaskannya dengan jelas agar tidak ada kesalahpahaman dan maksud tertentu. Levi menoleh pada Mikasa dengan malas. Menantang Mikasa dengan raut wajah 'lantas apa alasanmu?'

Mikasa menelan ludah, "Aku hanya mengujinya, apa dia berani bermacam-macam padamu atau tidak mengingat kini kau telah terikat seseorang dan ternyata hari itu terjawab. Dia menyentuh pipimu."

Detail kejadian itu terputar kembali diingatan Levi. Kala itu, saat Levi menciumi tangan Petra karena merasa jika yang menyentuhnya adalah Mikasa. Aroma tubuh mereka sama. Levi benci mengapa mereka harus memiliki aroma mawar, membuat sebuah kesalahpahaman disana.

"Waktu pertama bertemu dengannya, Petra tidak pernah berhenti memujimu dengan senyuman. Tapi aku tahu, dibalik senyuman itu ada yang berbeda. Aku merasa bersalah, karena mungkin aku sudah menjadi penghalang bagi kalian berdua. Maksudku membiarkan Petra untuk terus melayanimu adalah untuk memberi kalian banyak waktu berdua tapi nyatanya…"

Mikasa tidak tahu apa ia bisa melanjutkan perkataan ini. Mikasa tercekat tatkala raut wajah Levi menatapnya dengan lekat. Memperhatikan setiap katanya dengan seksama, membuat jantung Mikasa berdebar, Levi mengintimidasinya—padahal Levi biasa aja.

"Nyatanya? Lanjutkan, brat."

"Ti-dak jadi. Aku mengantuk." Mikasa memunggungi Levi, menutup wajah kemerahannya dengan selimut.

Bukan saatnya untuk berterus terang tentang hal ini. Tentang perasaan Mikasa pada Levi. Enak saja Levi yang pertama mendapatkan pernyataan cinta darinya. Mau ditaruh dimana wajah Mikasa. Wanita harusnya menunggu saja, meski tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Sebentar, cinta? Apa itu pantas diucapkan sekarang?

"Dasar aneh, kau yang memintaku untuk serius tapi saat aku serius kau malah berhenti." Mikasa tidak menjawab, sibuk merasakan kupu-kupu yang terbang di perutnya. Belum lagi pipinya semakin panas.

"Oi, katakan saja. Jangan pendam apapun dariku, brat." Levi menggoyangkan bahu Mikasa, membujuknya agar Levi bisa tidur tenang—tidak jadi beban pikiran.

"Sudah ku katakan aku mau tidur!"

"Setidaknya jangan tidur dengan memunggungiku lagi! Belajar untuk menghargaiku!"

Wajah Mikasa semakin memanas, sudah yakin jika akhir-akhir ini Levi memperlakukannya dengan beda saat berdua. Tidak ada lagi perang dingin atau kata-kata yang menyakitkan bagi Mikasa—kecuali saat di depan orang lain, sifat menyebalkan Levi muncul lagi, tidak ingin kehilangan wibawanya sebagai seorang kopral. Entah apa alasannya, yang jelas Mikasa menyukai ini.

"Mikasa…"

Aku menyukainya saat ia memanggil dengan namaku, terdengar indah, batin Mikasa.

"Oi, shitty-brat…"

Dan itu dihancurkan dalam sekejap. Baru saja Mikasa memujinya.

Mikasa menoleh dengan malas, "Berisik sekali pak tua."

"Aku dan Petra Ral…jangan pernah membuat opini macam-macam. Buang pikiran negatifmu dan cobalah untuk percaya padaku."

Mikasa melongo, Levi masih ingin membahas hal ini. Munafik jika Mikasa tidak merasa lega setelah mendengar ini. Ini bagian yang paling Mikasa suka. Lantas apa yang selanjutnya? Apa yang ingin Levi katakan? Mikasa menunggunya. Menunggu hal lain dari itu. Tidak, Mikasa menuntut hal lain dari Levi. Egois memang, wanita seperti itu.

"Oh? Oh…" Mikasa sedikit kecewa, Levi tidak mengucapkan apa yang ingin ia dengar.

"Reaksi yang menyebalkan. Sekarang berbalik dan perlihatkan wajah jelekmu itu padaku."

Mikasa tidak bisa menolak, Levi menarik tubuhnya, membuat Mikasa berhadapan dengan Levi. Levi meremas bahu Mikasa. Kalimat sakral itu, sulit untuk di ucapkan Levi. Sudah berpuluh-puluh tahun ia belum pernah mengucapkannya lagi. Tidak ada yang pantas untuk menerima hal itu. Sekarang mungkin sudah berbeda, Levi harus bergegas, tapi anehnya lidah Levi mendadak kelu. Mungkin lagi-lagi ini belum waktunya? Benar, Levi belum siap.

"Tidak jadi."

"Eh?" Mikasa memprotes. Levi tengah mempermainkannya.

"Kau pun melakukan hal yang sama tadi."

"Jadi kau membalasku?" ekspresi Mikasa tidak sedap dipandang. Levi tidak mau besok Mikasa merajuk lagi dan kemungkinan lebih parah Mikasa tidak akan mau diajak untuk 'bermain'.

"Besok aku akan ke ruangan Erwin, mengambil uangku. Kau boleh memilikinya." Tentu, siapa yang tidak suka uang. Semua orang menyukai uang, terutama wanita.

"Jika itu kau gunakan sebagai umpan, aku tidak tertarik."

Levi melupakan satu hal penting di situasi seperti ini. Mikasa itu keras kepala. Jika Mikasa tidak suka atau suka maka tidak akan ada yang dapat merubah pendiriannya.

Levi memijat pangkal hidungnya, "Baiklah yang penting kau tidak marah."

"Oh tidak, aku tidak marah. Untuk apa aku marah. Ah aku lupa memberitahumu satu hal, Erwin Danchou mengatakan sudah mempersiapkan kamar lain, dulu kau sempat memintanya bukan? Ide bagus karena mulai besok aku akan tidur di sana."

Jelas dari kalimatnya Mikasa sedang mengancam Levi. Orang bodoh pun bisa mengetahui perbedaan intonasi Mikasa saat pengucapannya. Begitu juga penekanan di kalimat akhirnya.

"Kalau begitu aku akan meminta Petra untuk—"

Mendengar nama itu, ubun-ubun Mikasa mendidih, untuk mendengarkan ucapan Levi selanjutnya saja ia tak mau, "Kau…" Mikasa menggeram, mengambil bantalnya dan memukul wajah Levi berkali-kali. Jangan tanya kekuatan seberapa besar, yang pasti amarahnya tersalurkan semua lewat bantal itu.

"Berhenti..." Levi menahan bantal Mikasa, membebaskan wajahnya dari bantal yang ada di atasnya. Debu. Levi tidak suka debu.

"Meminta apa?"dirasa-rasa Mikasa penasaran dengan lanjutannya.

"Meminta untuk dibuatkan teh untukmu disana, apa lagi? Sensitif sekali." Dalam hati Levi tersenyum puas bisa mempermainkan Mikasa. Sejauh ini Levi menemukan fakta baru dari Mikasa. Hanya saja Levi tidak mau membahasnya lebih jauh. Cukup ia rasakan sendiri dan Levi menjadi besar kepala.

Jangan tanya, Mikasa salah tingkah. Merasa bodoh telah melakukan hal-hal tidak berguna. Tubuhnya berkeringat dingin. Berpikir bahwa Levi sedang menertawakannya dalam hati—dan ini benar.

"Jadi kau mau tidur atau memperlihatkan dadamu seperti itu terus? Memancingku melanjutkan permainan."

Mikasa beringsut, menutup tubuhnya dengan selimut dan berhadapan dengan Levi. Rasanya tetap saja canggung saat harus bertatapan satu sama lain. Mikasa tidak akan pernah bisa tidur. Matanya sibuk menilai wajah Levi, mencoba menemukan fitur wajah yang sering dielukan para kadet wanita. Tampan, katanya seperti itu.

Rambut undercutnya yang sekarang setengah basah, Mikasa meminta maaf dalam hati. Terkadang helaian rambutnya itu ada di genggaman tangannya.

Keningnya, Levi sering menyatukan kening mereka, hingga Mikasa bisa merasakan nafas hangat Levi.

Hidungnya yang mendekati sempurna, nilai tambah saat dilihat dari samping.

Bibirnya yang selalu melontarkan kalimat pedas kini menjadi penyebab dari bercak kemerahan di beberapa bagian tubuh Mikasa.

Rahangnya yang tegas, Mikasa suka sekali mengelusnya sehingga tahu kapan Levi harus bercukur.

Itu yang membuat Mikasa egois. Ingin berteriak pada wanita-wanita itu terkait apa yang ada di depannya ini adalah miliknya. Murni miliknya. Tapi sekali lagi Mikasa harus menyadari fakta bahwa sampai sekarang Levi menganggapnya seorang sex-partner. Apa yang bisa diharapkan?

"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu itu, brat."

Perubahan air muka Mikasa begitu jelas bagi Levi. Beberapa detik yang lalu Levi menemukan sebuah tarikan di sudut bibir Mikasa dan mungkin Mikasa tidak menyadarinya. Terutama hal ini. Mikasa menyentuh semua bagian wajah Levi secara perlahan—Levi membiarkannya, tidak ingin mengganggu Mikasa yang sedang berfantasi dengan wajahnya.

"Apa?"

"Dalam sedetik pikiran positifmu berubah menjadi pikiran negatif. Bukan hal mesum, tapi sebuah kekecewaan."

Mikasa menutup mata menghindari kontak mata. Bukan, ia tidak ingin memperlihatkan air matanya pada Levi. Mikasa tidak ingin memperlihatkan sisi rapuhnya. Bagaimana pun juga ia terkenal dengan kekuatannya. Bersikap ini dihadapan Levi bukan pilihan yang tepat.

Mikasa menarik selimut hingga menutup hidungnya—seperti menggunakan masker, memaksakan dirinya untuk tidur agar otaknya beristirahat. Levi tidak mengerti apa yang salah, tidak mau berkomentar lebih.

Mikasa menelan ludah. Levi mencium bibir Mikasa meski terhalang selimut tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Sedetik kemudian Mikasa merasakan kening Levi menempel padanya. Hembusan nafas hangat dan tenang juga terasa. Mikasa tidak mau membuka mata, ingin tetap seperti ini. Kalau boleh, Mikasa tidak ingin bangun agar bisa tetap sedekat ini. Mikasa tidak ingin bangun, Mikasa tidak ingin—

"Bangunlah, Mikasa. Mikasa? Mikasa, bangunlah."

Nanaba mengguncangkan tubuh Mikasa. Ini sudah pagi. Kenny menyuruhnya untuk memberikan sarapan pada Mikasa. Nanaba sedikit bingung, Kenny memberikan Mikasa hidangan lezat hari ini. Nanaba tidak mau bertanya lebih lanjut alasan Kenny, terlebih Kenny menginginkan Mikasa di perlakukan lebih baik mulai sekarang. Sekali perintah tetap perintah, Nanaba tidak bisa mangkir.

Mikasa membuka mata, tubuhnya sakit. Pegal dan kaku karena semalaman tertidur di atas lantai dingin dan kotor dengan tangan terikat. Nanaba membantu Mikasa membuka ikatan di tangannya, lebam muncul karena kekuatan dari ikatannya. Mikasa tidak mengerti mengapa Nanaba melepaskannya. Apa penderitaannya akan berakhir?

Nanaba memapah Mikasa duduk di kursi, menghidangkan roti gandum dan susu hangat serta potongan buah apel segar di mangkuknya. Mikasa mengerutkan keningnya, "Ini untukku?"

"Ya, Kenny yang menyuruhku memberikan ini padamu."

Meski ragu Mikasa berterimakasih dan memakan sarapannya. Kebetulan dari kemarin ia tidak makan. Perutnya berdemo meminta di isi. Nanaba memperhatikan Mikasa, lebih tepatnya lebam dan luka-lukanya. Di wajah dan tubuhnya, semuanya hampir penuh. Membuat Nanaba semakin merasa bersalah.

"Kau mau?" Mikasa mengira Nanaba menginginkan makanannya karena terus menerus memandanginya.

"Tidak, aku sudah makan." Canggung, itu yang Nanaba rasakan. Mungkin kalian juga merasakan bagaimana menjadi Nanaba di situasi seperti ini. Mikasa melanjutkan makannya.

"Mikasa…Aku…"

Benar, ucapan orang-orang tentang sulitnya meminta maaf adalah benar adanya. Nanaba sedang kesulitan meminta maaf. Nanaba tidak pernah mengecewakan seseorang dalam hidupnya sebelum ini. Bukan hanya karena Nanaba kebanyakan hidup menyendiri, tapi karena Nanaba seperti menemukan sosok teman dalam diri Mikasa dan pertemanan itu tidak bertahan lama. Dirusak begitu saja. Sampai kapan pun Nanaba tidak pantas mendapatkan teman lagi.

"Katakan walau itu sulit." Mikasa mencoba memahami Nanaba.

Nanaba melipat bibirnya, "Aku minta maaf."

"Aku memaafkanmu. Tapi sebelum itu, ceritakan alasan di balik ini semua."

Nanaba memandangi sepatu usangnya, tidak berani menatap Mikasa secara langsung, "Hari itu…ketika kau dan Levi pergi, segerombolan orang mendatangi rumahku. Meminta penjelasan siapa orang yang baru saja meninggalkan pondokku itu. Aku tidak tahu kejadian sebenarnya karena kalian membohongiku."

Benar, Levi berbohong pada Nanaba bahwa mereka tersesat di hutan. Bukan dikejar prajurit pemerintahan. Jika saja Levi jujur, maka ini tidak akan terjadi. Tapi ini sudah kepalang tanggung, Mikasa harus menerimanya. Kedepannya, Mikasa tidak akan pernah berbohong lagi—itu pun jika ia masih hidup.

"Maaf untuk hal itu." Mikasa memaklumi.

Nanaba tersenyum kecut, "Aku menyebutkan nama kalian dan semuanya, karena mereka mengarahkan senjata api padaku. Aku juga mengatakan kepergianku nanti ke barak dan semuanya, itu karena aku sangat ketakutan. Maafkan aku."

Mikasa menepuk bahu Nanaba, memintanya untuk melanjutkan ceritanya tanpa merasa terbebani.

"Akhirnya mereka memberikan pilihan. Hidup untuk berada di pihak mereka atau mati. Dan sialnya aku memilih untuk hidup, aku sangat bodoh."

"Tentu tidak, semua orang pasti begitu, menginginkan hidup. Kau tidak salah Nanaba, kau tidak pernah salah."

Mikasa memeluk Nanaba yang terisak. Mikasa mengelus punggung Nanaba, menenangkannya saat ia sendiri butuh seorang penenang. Mikasa mempererat pelukannya, tiba-tiba saja ia merindukan Levi. Berpisah dari Levi membuatnya menjadi sengsara.

Mikasa sangat ingin tahu bagaimana keadaan Levi sekarang. Apa dia merindukannya seperti Mikasa merindukannya? Atau bahkan Levi tidak peduli dan tidak mendengar keadaannya sekarang? Apa yang sedang dilakukan Sasha dan Connie hingga saat ini? Bagaimana kabar Eren dan Armin? Apa mereka bertambah kuat? Bagaimana dengan Jean, Ymir, Christa? Sedang apa mereka sekarang?

Mikasa merindukan mereka. Mikasa merindukan semua orang di sana. Semua orang yang selalu membuatnya tersenyum meski Mikasa menutupi senyumnya di balik syal merahnya. Terlalu malu untuk mengumbar senyum ke publik. Mikasa ingin kembali berkumpul dengan mereka cepat atau lambat. Mikasa ingin pergi dari sini.

Nanaba sedikit tenang, melepaskan pelukannya dan mengusap pipinya yang basah, "Aku akan mengembalikan semua pemberianmu, termasuk alat 3D Manuver itu."

"Tidak, itu milikmu. Aku rasa Levi akan mengerti."

"Tidak, Mikasa—"

"Dengar." Mikasa menggenggam tangan Nanaba, "Jangan pernah melihat ke belakang, apa yang terjadi sekarang adalah takdir dan apa yang harus dilakukan sekarang adalah berpikir tentang ke depannya. Meratapi dan menyesali sesuatu adalah hal yang tidak ada gunanya. Tapi aku minta setelah ini, kau kembali ke kehidupanmu semula, tanpa berhubungan kembali dengan Kenny dan yang lainnya, kau bisa?"

Secara tak sadar, Nanaba menyetujui saran Mikasa, membuat perasaan Mikasa lebih tenang. Mikasa tersenyum, menyelesaikan sarapannya yang tertunda. Nanaba mengusap matanya yang sembab, teringat satu pesan dari Kenny.

"Ah ya, setelah ini Kenny menyuruhmu untuk membersihkan diri, berganti pakaian dan menghadapnya. Ia ingin bicara padamu."

"Bicara padaku? Untuk apa?"

End of the Chapter

Don't forget to sips your own tea before it's getting cold.