Ninja and Ice Queen Arendelle.
Disclaimer : Naruto dan Frozen bukan milik saya.
Summary : Naruto sedang melakukan eksperimen dengan jurus miliknya, tapi itu malah membuat dirinya terlempar ke dimensi lain dan membuat tubuhnya menjadi kecil kembali dan dia bertemu seseorang yang mirip masa kecilnya. sebuah Cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.
Warning!! Sebuah cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.
Rate : T semi M
Shiraki
Elsa dan Anna terus berjalan menyusuri jalan diikuti oleh Naruto (Bunshin), mereka terus berjalan bersama dengan Naruto yang melindungi mereka dari belakang.
"Apa benar kita berjalan kearah yang tepat?" tanya Naruto dengan bingung, karena sejauh apapun ia melihat sekarang hanya ada hutan yang tampak mati, berbeda sekali dengan di Echanted Forest yang masih asri dan nyaman untuk dilihat.
"Entahlah, tapi aku hanya merasa suaranya semakin dekat." jawab Elsa dengan melihat sekeliling, Anna dan Olaf sendiri berpegangan pada Elsa karena jujur mereka sendiri juga takut.
"Ahh, lebih baik aku bersama Kristoff dan Sven saja." kata Olaf sambil bersembunyi dibelakang Elsa, tapi sepertinya mereka sudah hampir keluar karena melihat secercah cahaya didepan mereka.
"Bersabarlah, itu sepertinya jalan keluar." balas Elsa sambil melihat kearah Olaf.
Sedangkan untuk Anna kini ia berada di samping Naruto.
"Naruto,"
"Hmm?"
"Apa Kristoff akan baik-baik saja? maksudku apa ia akan...," gantung Anna karena cemas, Naruto yang melihat itu hanya melirik Anna.
"Tenanglah, ia lebih kuat dari yang kau duga, jika kau tidak percaya dengannya berarti cinta kalian belum kuat." balas Naruto dengan nada santai, Anna hanya tersentak mendengar ucapan Naruto.
Naruto langsung mempercepat langkahnya untuk menyusul Elsa, sempat menoleh kebelakang sebentar untuk melihat Anna.
Naruto yang asli kini sudah terbebas dari kejaran para Raksasa batu hanya terduduk dibawah pohon dengan nafas memburu, terlihat sepertinya ia cukup kelelahan menghadapi para Raksasa batu.
"Hah~ hah~ sial! aku terlalu membuang-buang tenaga." kata Naruto dengan nafas memburu, ia melihat kearah sekitarnya, ia kini berada di sisi sebaliknya dari tempat Elsa dan suku Nothurlda.
"Sepertinya kau mudah lelah sekarang Naruto, mungkin karena kehidupan kita yang terlalu santai." kata Kurama sambil melihat Naruto, pasalnya sekarang hostnya itu terlihat kelelahan.
"Mungkin," balas Naruto singkat, lalu ia bangkit dan berjalan menyusuri hutan.
Naruto berjalan kearah sebaliknya dari tempat suku Nothurlda, karena entah kenapa ada sesuatu dibalik sana yang membuatnya tertarik.
Naruto berjalan dan menemukan sesuatu yang tidak ia duga, di depannya ada lima batu yang berdiri dengan kokoh dan empat batu diantaranya adalah batu yang mirip dengan simbol para Roh.
Naruto mendekati batu batu itu dengan langkah pelan, hingga ia sampai di depan salah satu batu yang terlihat asing.
"Apa ini?" gumam Naruto sambil menyentuh batu itu, ia meraba batu itu dan memperhatikannya.
"Naruto! tampaknya aku tau maksud ini dari semua ini." kata Kurama mengejutkan Naruto.
"Maksudnya?"
"Naruto, kau ingat bukan kata Trolls tua itu? tentang Roh kelima."
"Ya? lalu apa hubungannya dengan batu ini?"
"Apa kau tidak sadar? batu ini tepat berada ditengah-tengah batu lainnya, itu berarti Roh kelima itu nyata!" Naruto yang masih belum konek hanya bisa memiringkan kepalanya bingung, lalu ia melihat batu-batu lainnya dan melihat batu di depannya lagi.
Akhirnya setelah beberapa saat Naruto yang seperti orang bego, mendapatkan sebuah pencerahan dari dewi pengetahuan.
"Tunggu! itu berarti, yang membuat semua masalah ini adalah roh kelima?" tanya Naruto yang akhirnya dapat berpikir dengan benar lagi.
"Entahlah, coba kita lihat sekitar sini terlebih dahulu untuk mendapatkan jawaban." balas Kurama memberi saran, Naruto menganggukkan kepalanya lalu ia melihat-lihat daerah sekitar untuk mencari petunjuk.
Naruto (Bunshin) kini sedang duduk diatas batu menunggu para wanita, Elsa dan Anna sendiri tadi menemukan kapal ayah dan ibu mereka yang terdampar, sempat kaget dan Shock tapi akhirnya kedua wanita itu masuk kedalam meninggalkan Naruto.
"Hei apakah kau tau siapa Roh kelima?" tanya Naruto pada Bruni yang berada di tangannya, tentu saja Bruni hanya memandang Naruto dengan mata besarnya tanpa bisa menjawab. Tapi respon Bruni pada pertanyaan Naruto hanya memiringkan kepalanya, seolah-olah Bruni menjawab bahwa ia juga tidak tau.
"Sungguh? kau bahkan tidak tau?" ucap Naruto sambil mengangkat Bruni, kadal api itu langsung melompat ke pundaknya dan Naruto hanya membiarkannya, karena Bruni hanya duduk diam dan tidak berniat membakarnya.
Mereka berdua duduk diam menunggu dengan raut wajah bosan, Naruto sendiri mengambil batu di bawah dan melemparnya kearah pohon hingga membekas.
Tiba-tiba Elsa keluar dengan menangis, Naruto langsung mendekatinya.
"Elsa? ada apa? kenapa kau menangis?" Naruto merentetkan banyak pertanyaan pada Elsa yang masih menangis.
"Elsa! ini bukan kesalahan mu!" ucap Anna yang menyusul keluar, Naruto bingung dengan percakapan itu.
Naruto berdiri diam hingga Olaf mendekati dirinya, sedangkan kedua saudari itu berbicara sesuatu.
"Olaf? ada apa?" tanya Naruto sambil melihat kearah Olaf, sedangkan Olaf hanya diam dengan wajah sedih miliknya.
Naruto yang merasa tidak beres langsung menuju ke reruntuhan kapal itu, ia melihat banyak barang yang sudah hancur, tapi ada yang lebih menarik perhatiannya.
Naruto melihat sebuah patung es, ia mendekatinya dan mengetahui bahwa itu adalah Raja dan Ratu yang saling berpelukan sebelum dilahap ombak.
"Kurasa ini penyebabnya," gumam Naruto sambil melihat patung itu, ia menundukkan kepalanya. "Apapun yang terjadi, aku akan melindungi putri kalian." kata Naruto sambil menundukkan kepalanya, terlihat itu adalah penghormatan pertama Naruto pada mereka dan juga terakhir.
Naruto langsung keluar dan menciptakan sebuah kekai untuk melindungi patung es itu, karena inilah penghormatan Naruto kepada mereka.
Saat Naruto keluar ia melihat Anna dan Elsa yang berpelukan, ia memutuskan untuk menjaga jarak terlebih dahulu dan membiarkan mereka menikmati momennya.
Tiba-tiba Elsa membuat sebuah jalur es dan mendorong Anna ke perahu yang terbuat dari es, Naruto sempat terkejut tapi ia melihat raut wajah Elsa yang sedih.
Elsa hanya diam melihat kepergian adiknya, ia juga bisa mendengar kekesalan Anna dari jauh.
"Jadi kau memutuskan untuk melakukannya sendiri?" tanya Naruto yang sudah berada dibelakang Elsa.
"Naruto," bukannya menjawab pertanyaan Naruto Elsa malah langsung memeluk pria itu dengan erat, Naruto sendiri hanya diam dan menerima pelukan Elsa, ia juga merasakan getaran kecil di bahu Elsa yang menandakan bahwa gadis itu sedang menangis.
"Aku tau," balas Naruto sambil menepuk pelan surai putih itu, Elsa masih terus menyembunyikan wajahnya pada dada bidang itu.
Tanpa Elsa ketahui, ada sebuah Chakra berwarna oranye memasuki tubuhnya, semua itu adalah ulah Naruto untuk menjamin keselamatan Elsa.
Setelah beberapa saat itu, akhirnya Elsa sudah berhenti menangis.
"Sekarang kita akan kemana?" tanya Naruto dengan lembut, Elsa sudah melepaskan pelukannya, tapi masih terlihat lelehan air mata di permata biru itu. Naruto menghapuskan air mata Elsa dengan tangan kasarnya, ia melakukannya dengan lembut untuk membuat Elsa nyaman.
Elsa yang merasakan tangan kasar dan hangat di pipinya, ia menyentuh tangan itu dan menggenggamnya erat.
"Kau tau? kau tampak jelek jika menangis...," ucap Naruto yang langsung dihadiahi cubitan kecil ditangannya, pelakunya tidak lain adalah Elsa yang sedang memasang muka cemberut.
"Kau benar-benar yang terburuk!" balas Elsa kesal.
"Tapi kau tetap mau bersama pria ini bukan?"
Setelah beberapa kejadian romantis yang membuat orang-orang yang melihatnya iri, Naruto dan Elsa kini bersiap untuk menuju Atthohalan.
Sementara itu disisi Anna sekarang mereka terjebak di sungai karena ulah Anna yang ingin memberhentikan laju perahu hingga keluar jalur dan menuju sungai, terlihat Anna marah begitu marah.
"Aku tidak percaya dia melakukan itu!? maksudku kenapa dia ingin melakukannya sendiri!" kata Anna kesal, Olaf hanya diam dengan raut wajah yang tidak tertebak.
"Anna aku tidak tau apa yang terjadi padaku, tapi aku merasakan kemarahan."
"Argh! aku sedang marah Olaf! dia berkata dan berjanji untuk melakukannya bersama!"
"Uh-huh yeah! tapi aku merasakan kemarahan sekarang di dalam ku." ucap Olaf yang tampak kebingungan, Anna yang mendengar itu langsung melihat kearah Olaf.
"Tunggu! kau marah?"
"Ya, aku pikir Elsa mendorong kita pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal!?" ucap Olaf yang masih dengan ciri khasnya.
"Dan kau boleh marah untuk itu," ucap Anna dengan nada kesal dicampur ekpresi kesal. "Kita benar-benar harus kembali untuk meluapkan ini kepadanya." lanjut Anna dengan mendayung perahu.
"Anna kau bilang sesuatu tidak akan berubah, tapi aku pikir semua sekarang sudah berubah." ucap Olaf.
"Aku tahu, tapi tidak segalanya bukan? aku masih disini untuk menggenggam tanganmu." ucap Anna dengan mengangkat tangan Olaf yang ia gunakan untuk mendayung.
"Uhh aku pikir kau benar Anna, aku masih melihat poin penting disini dan juga hal baik dari-" ucapan Olaf terhenti karena Anna langsung menutup mulutnya.
"Shuut! tenanglah!" ucap Anna dengan suara pelan, Olaf masih tidak tau apa yang terjadi berusaha memberontak, Anna akhirnya memutar kepala Olaf untuk melihat apa yang sedang ia lihat.
Mereka ternyata sedang berada di tempat para raksasa batu yang sedang beristirahat setelah bertarung bersama Naruto, Anna dan Olaf hanya diam dengan raut wajah cemas jika mereka bangun.
Lalu mereka melihat sebuah batu yang menarik mereka yang ternyata adalah raksasa batu yang sedang tidur di air, mereka hampir masuk kedalam lubang hidung raksasa itu tapi beruntung Anna mendayung perahu dengan cepat.
Lalu Anna melihat sebuah gua dan mengarahkan perahunya untuk masuk kesana, karena ia merasa bahwa jika ia tetap mengikuti aliran sungai maka mereka akan bertemu banyak raksasa batu.
Tapi sayangnya saat mereka memasuki goa itu, mereka di sambut oleh sebuah air terjun yang membuat mereka panik.
"Olaf! usahakan jangan berteriak!" ucap Anna sebelum mereka terjatuh mengikuti arus sungai.
Naruto dan Elsa kini sedang berhadapan dengan Dark Sea yang sedang mengalami badai besar.
"Apa kau yakin?" tanya Naruto dengan nada ragu, pasalnya melihat apa yang ada didepannya ia tidak yakin bisa melalui itu dengan mudah.
"Apa kau takut?" balas Elsa yang melepaskan gaun es miliknya.
"Tidak, lagipula aku hanya Bunshin, jadi aku tidak takut mati." balas Naruto dengan nada santai, tapi tiba-tiba ada sebuah informasi yang masuk dikepala Bunshin Naruto.
"Meskipun kau Bunshin, kau tetap Naruto yang ku kenal dan juga...," gantung Elsa yang mendekati Naruto, tentu saja Naruto langsung waspada karena ia bisa merasakan hal yang tidak beres.
Sriingg!!
Sebuah es runcing muncul dan menusuk tubuh Bunshin itu yang langsung menghilang, sedangkan Elsa yang menjadi pelakunya hanya diam dengan senyuman kecil melihat kearah tempat Bunshin tadi duduk.
"Aku tidak bisa melihat mu mati," ucap Elsa dengan senyuman kecil, ia melakukannya karena Elsa merasa bahwa ia harus menjalaninya sendiri untuk sekarang.
Elsa langsung bersiap-siap untuk menerobos badai besar itu, ia mengambil nafas panjang dan berlari.
Elsa berlari dengan membekukan air disekitar kakinya dalam radius kecil, ia bisa melewati itu hingga beberapa meter sebelum sebuah ombak besar datang menghantam dirinya.
Kini Elsa berada di bibir pantai dengan keadaan basah kuyup, sepertinya ia tidak bisa menembus ombak itu hingga terseret kembali ke tepi.
Elsa mengambil ancang-ancang kembali dan berlari, dan tak lama kemudian datang ombak yang sama tapi Elsa berhasil mengatasinya dengan berenang menembus ombak itu, usahanya berhasil dan kini ia sedang menaiki sebuah batu untuk mencapai puncaknya.
Elsa berhasil sampai tapi ia terpeleset, untungnya ia sempat membuat sebuah seluncur es agar dirinya tidak menghantam air. Lalu setelah itu ia kembali berlari dan ia melihat sebuah ombak yang sangat besar menghadangnya, Elsa langsung membekukan ombak itu tapi sayangnya ia tidak bisa membekukan semuanya hingga ia masuk kedalam air.
Elsa menyelam dan berusaha untuk tetap ke tujuannya, tapi saat ia berpengangan pada es itu, tiba-tiba ia ditabrak hingga terpental dan tenggelam kembali.
Naruto yang asli kini sedang bersandar di batu yang tadi, ia hanya tersenyum sedih karena Elsa memutuskan untuk pergi sendiri.
"Kurasa dia sudah memutuskannya," ucap Naruto dengan nada pelan, sebenarnya ia cukup senang karena Elsa sudah berani untuk menghadapinya sendiri, tapi ia sedih karena takutnya Elsa melakukan hal nekat.
"Mahh itu memang tugasnya, sama yang seperti tertulis disini." ucap Kurama dengan nada santai.
"Ya, kurasa sekarang aku harus menemukan Anna dan Kristoff." ucap Naruto yang langsung melompat dengan cepat.
Saat ia sampai ia merasakan akan ada hal buruk yang terjadi, jadi Naruto meninggalkan satu Bunshin untuk mengumpulkan energi alam.
Sedangkan di sisi Elsa kini.
Elsa sudah sampai di dalam Atthohalan, ia bisa sampai karena kuda air yang ternyata adalah Roh air.
Ia kini sudah berada di dalam Atthohalan, bahkan gaunnya berubah menjadi warna putih.
"Apa ini?"
"Si-siapa kau!?"
"Aku? hmm, mungkin temanmu?"
Elsa yang mendengar itu langsung menoleh dan ia melihat sesuatu, itu adalah dirinya dan Naruto tapi dalam bentuk patung es yang bergerak. Elsa mendekati patungnya dan Naruto dan tersenyum kecil, pasalnya dari pertemuan itu semuanya telah berubah.
Elsa mendekati patung Naruto dan memegang pipinya, ia sedikit merindukan pria pirang itu dengan lembut.
Lalu ia melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat sekitar, lalu ia menemukan bayangan orang tuanya dulu.
Lalu ia melihat patung kakeknya dan merasa aneh, memutuskan untuk mendekat. Ternyata kakeknya sedang merencanakan sesuatu, lalu ia memutuskan untuk mengikutinya untuk mengali lebih dalam.
"Elsa! apa kau yakin?" langkah Elsa terhenti saat ia melihat patung Naruto yang sedang melihatnya.
"Aku tidak tau, tapi ini untuk kebenaran." ucap Elsa meskipun ia tau itu hanya ingatan miliknya, tapi saat ia melihat patung itu yang terlihat hanyalah senyuman kecil yang entah membuat ia berani melangkah kembali.
"Terimakasih, Naruto." ucap Elsa yang langsung memasuki kenangan dalam.
Elsa ia masuk dan melihat sebuah kenyataan bahwa kakeknya menghianati suku Nothurlda, dengan membunuh kepala sukunya yang tidak siap dan tidak membawa senjata.
Tapi sayangnya Elsa masuk terlalu dalam, hingga ia tenggelam dalam ingatan kelam ini. Lalu kaki Elsa perlahan-lahan membeku, ia tau bahwa ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Elsa mengangkat tangannya dan mengirim informasi yang ia dapat kepada Anna, lalu sesaat sebelum ia membeku Elsa merasakan Naruto yang berada di sekitarnya yang tak lain adalah Chakra Kurama yang Naruto berikan pada Elsa untuk melindunginya.
Elsa yang mulai membeku sedikit tersenyum kecil yang tak lama kemudian ia kini berubah menjadi patung es sama seperti Anna.
Anna kini sedang mencari jalan keluar bersama Olaf, mereka tampak berputar-putar di goa itu.
"Sekarang kita harus segera pergi dari sini dan menyusul Elsa!" kata Anna dengan kesal, lalu tiba-tiba ada sebuah cahaya es yang langsung muncul didepan Anna patung es.
Anna melihat kedua patung itu hingga ia sadar, bahwa salah satu patung itu adalah kakeknya yang hendak menyerang kepala suku Nothurlda yang tidak siap maupun bersenjata.
"Itu kakekku, dia menyerang pemimpin suku Nothurlda yang lengah dan tidak bersenjata...," ucap nna melihat ke langit, "Bendungan itu bukan untuk hadiah, tapi itu tipuan." lanjut Anna dengan nada sedih.
"Tapi bukan itu yang dipercayai orang-orang, itu sangat bertentangan." ucap Olaf dengan nada tak percaya.
"Ya, dan sekarang aku tau bagaimana membebaskan hutannya, aku tau apa yang harus kita lakukan." ucap Anna dengan nada sedih.
"Kenapa kau mengucapkannya dengan nada sedih?" tanya Olaf saat mendengar nada sedih Anna.
"Kita harus menghancurkan bendungannya, Olaf."
"Tapi Arandelle akan tenggelam,"
"Itu alasan kenapa semua orang dipaksa meninggalkan Arandelle, untuk melindungi apa yang harusnya terjadi." ucap Anna dengan sedih.
"Ohh ohh," Olaf tidak tau harus merespon seperti apa, ia hanya bisa diam dan melihat Anna.
Olaf menghampiri Anna yang terduduk, mereka berpelukan untuk menenangkan diri atau Anna yang ingin menenangkan dirinya dengan bantuan Olaf.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Olaf dengan nada cemas.
"Aku sedang membutuhkan hiburan darimu, Olaf."
"Hiburan? ehh apa kau tau bahwa kura-kura bisa bernafas dari bokongnya?" mereka terdiam, meskipun lelucon tadi lucu tapi entah kenapa mereka tidak bisa tertawa. "Maaf, tapi aku melihat jalan keluar." lanjut Olaf sambil menunjuk sebuah pintu goa yang berada diatas.
"Aku tau aku bisa mengandalkanmu," ucap Anna yang langsung berdiri disertai senyuman kecil, Olaf sendiri entah mengapa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya.
"Kita harus keluar, mungkin Elsa sedang dalam perjalanan menuju kesini, kita bisa bertemu dengan dia, dan...," ucapan Anna terhenti saat ia melihat sebuah kepingan salju di depannya.
"Olaf?" bingung Anna saat ia melihat kearah Olaf yang seperti melebur.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Anna.
"Turun salju?" ucap Olaf sambil melihat serpihan es, "Oh tunggu, ini aku? aku memudar?"
"Olaf?! apa yang terjadi?"
"Aku tidak tau? aku rasa sihir dalam diriku memudar."
"Apa?"
"Aku rasa, Elsa tidak baik-baik saja." ucap Olaf yang tentu saja mengejutkan Anna, "Aku pikir, ia sudah pergi terlalu jauh...," lanjut Olaf dengan nada sedih.
"Tidak, itu tidak mungkin."
"Anna, aku minta maaf, tapi kau harus melakukan bagian selanjutnya sendiri. Oke?"
"Tidak! kemari," Anna memeluk Olaf yang semakin memudar. "Aku bersamamu...," lanjut Anna dengan nada sedih.
"Itu bagus," ucap Olaf dengan nada yang mulai lemah, "Hei Anna, aku baru terpikirkan satu hal yang permanen...,"
"Apa?" balas Anna dengan raut wajah yang sedih.
"Cinta,"
"Pelukan hangat?" ucap Anna yang langsung memeluk Olaf.
"Aku suka pelukan hangat," ucap Olaf terakhir kalinya.
"Aku menyayangimu,"
Sedangkan Naruto kini hanya jatuh berlutut, itu karena ia merasakan Chakra yang ia tanamkan memudar secara perlahan.
"Dia terlalu jauh!" teriak Naruto sambil memukul tanah dengan keras, karena kerasnya kekuatan Naruto membuat tanah disekitarnya retak.
"Naruto? aku tau ini hal yang buruk, tapi kau harus tau bahwa ini tidak akan berakhir buruk." ucap Kurama berusaha menasehati Naruto.
"Kau harus menepati janjimu padanya, janjimu pada Pabbie untuk melindungi mereka. Aku yakin Anna pasti melakukan tindakan bodoh sekarang." ucap Kurama berusaha menyemangati Naruto.
Naruto yang mendengar itu hanya terdiam, lalu ia melihat sesuatu yang berkilau di tanah, ia mengambil benda itu yang ternyata adalah cincin.
Cincin putih elegan dan ornamen es yang indah, itu adalah cincin yang ingin ia gunakan untuk melamar Elsa. Naruto yang melihat itu terdiam, ingatan tentang kebersamaan mereka berputar dikepalanya.
Naruto mengenggam erat cincin itu, Kurama yang melihat itu tersenyum kecil.
"Kau benar Kurama, ini belum berakhir." ucap Naruto yang sudah berdiri, ia langsung melompat ke arah pohon untuk mencari Anna.
"Itulah Patnerku,"
Naruto melompat pohon, saat ia melihat Kristoff yang hanya terduduk. Naruto memutuskan untuk menghampiri Kristoff, karena dua orang akan lebih baik.
"Kristoff? apa yang kau lakukan disini?"
"Naruto? apa kau juga ditinggal oleh mereka?"
"Hah~ lupakan itu, lebih baik kita mencari Anna sekarang." ajak Naruto sambil bersiap lari, tapi itu harus berhenti saat ia mendengar ucapan Kristoff.
"Untuk apa?"
"Apa maksudmu?"
"Untuk apa kita mempedulikan mereka? mereka meninggalkan kita."
"Aku tidak mengerti maksudmu,"
"Seperti yang kau tau, aku rasa mereka tidak benar-benar mencintai kita,"
Bruuuk!
Naruto mengangkat kerah Kristoff, dan mendorongnya ke pohon.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? hah!?" ucap Naruto dengan nada tinggi, "Apa segini saja cintamu?! apa selemah ini ikatan kalian?!" lanjut Naruto.
"Apa kau ingin kehilangan Anna? sama sepertiku?"
"Tunggu apa maksudmu?"
Braakk!
Percakapan mereka terhenti, Naruto dan Kristoff melihat para raksasa batu disekitar mereka.
"Apa yang terjadi? seharusnya mereka tidak berada disekitar sini?" tanya Kristoff.
"Sial! ini pasti ada hubungannya dengan Anna!" gumam Naruto.
Bruukk!
Naruto mendorong Kristoff hingga terjatuh, karena sekarang ia lebih memilih untuk mencari Anna.
"Terserah apa yang ingin kau lakukan Kristoff, aku hanya ingin kau tidak merasakan sepertiku." ucap Naruto dengan nada pelan.
Naruto langsung berlari, Kristoff hanya terduduk ditanah.
Naruto sekarang sedang berlari untuk mengejar para raksasa itu, ia melihat salah satu raksasa batu itu yang hendak menginjak seseorang, Naruto memfokuskan pengelihatannya, itu adalah Anna!
Sringg!
Naruto langsung bergerak dengan cepat, ia berhasil menyelamatkan Anna dalam sepersekian detik.
"Anna? kau baik-baik saja?" tanya Naruto.
"Naruto? bantu aku! kita harus menghancurkan bendungan itu!" ucap Anna, Naruto sempat bingung tapi ia yakin bahwa ini pasti tindakan yang harus dilakukan.
"Baiklah," ucap Naruto sambil tersenyum kecil, Bunshin yang Naruto tinggalkan untuk mengumpulkan energi alam langsung menghilang. Mata Naruto langsung berubah pigmennya.
"Naruto! Anna!" teriak Kristoff yang menyusul mereka bersama Sven.
"Kristoff!" Anna langsung memeluk Kristoff yang membuatnya terdiam, Naruto hanya tersenyum sedih melihat itu.
"Kalian bisa bermesraan nanti, sekarang Kristoff bahwa Anna menuju bendungan!" ucap Naruto memerintah mereka, Kristoff dan Anna menganggukkan kepalanya.
Tapi tiba-tiba raksasa batu itu bersiap untuk menginjak mereka, Kristoff, Sven dan Anna takut akan terinjak dan hanya menutup mata mereka.
Setelah menunggu beberapa waktu mereka tidak merasakan sakit sama sekali, mereka membuka matanya dan melihat kaki raksasa batu itu tepat di atas mereka, tapi Naruto menahan tepat di atas mereka.
"Apa kalian terkejut? tapi kalian harus segera pergi, aku akan mengulur waktu." ucap Naruto yang menahan kaki raksasa batu itu, ia bisa melakukannya karena mode Sage miliknya.
Kristoff dan Anna sempat terkejut, tapi mereka langsung keluar dan buru-buru untuk pergi ke bendungan.
Naruto sendiri langsung mendorong kaki raksasa itu, raksasa batu hampir terjatuh tapi untung saja para raksasa batu dibelakangnya menahan tubuhnya.
Naruto langsung berlari ke arah bendungan, ia melihat bahwa beberapa batu besar terlempar ke arah bendungan, Naruto mempercepat langkahnya.
Naruto sampai saat, ia melihat banyak batu yang berada disana, dan para prajurit yang Arendelle yang terluka.
Tapi tiba-tiba ada batu yang mengarah padanya, Naruto yang melihat bahwa batu itu akan melukai para prajurit memutuskan untuk menghancurkan batu itu.
Disisi lain Anna kini sedang memancing para raksasa batu untuk menghancurkan bendungan itu, tapi ia melihat ada batu yang ingin mengenai para prajurit, tiba-tiba ada sesuatu yang melompat ke batu itu, yang langsung menghancurkan batu itu dengan cepat.
Akhirnya bendungan itu runtuh dan Anna hampir jatuh, untungnya Kristoff dan Matthias datang menolongnya.
Disisi lain Elsa yang berubah menjadi patung es langsung kembali semula, Naruto yang merasakan kehidupan Elsa kembali tersenyum.
Elsa langsung menuju Arendelle dengan Roh air, ia bergerak cepat untuk menghentikan banjir datang.
Elsa membuat dinding es yang menghentikan banjir itu, Elsa melihat kearah penduduk Arendelle yang cemas. Pabbie menganggukan kepalanya, Elsa tersenyum sebagai jawabannya.
Lalu Elsa bergerak menuju tempat Naruto, Anna, Kristoff dan Sven.
Naruto kini berdiri disamping Kristoff, ia melihat warga Enchanted Forest dan beberapa prajurit Arendelle yang sedang merayakan dimana akhirnya mereka terbebas dari kurungan kabut itu. Sedangkan Anna tidak berada di sekitar mereka.
"Naruto, aku tau kau sedih karena kematiannya, tapi kau harus tetap-" ucap Kristoff pelan.
"Apa? maksudnya Elsa? dia masih hidup, ikutlah denganku." potong Naruto sambil berjalan menjauh, Kristoff ingin mengajak Anna, tapi ia tidak melihat Anna dimanapun.
Akhirnya Kristoff berjalan mengikuti Naruto yang berjalan ke sebuah tempat, ia dapat melihat Naruto sedang memandang sesuatu yang berada dibawah tebing itu.
Kristoff berjalan dengan pelan hingga akhirnya ia melihat sosok Anna dan Elsa, Kristoff langsung berlari menuju mereka, Naruto juga ikut turun tapi dengan langkah tenang.
"Aku yakin dia bisa, karena ini takdir mereka berdua." ucap Naruto yang berjalan kearah mereka.
"Elsa! Kau baik-baik saja!" ucap Kristoff langsung memeluk Elsa, yang tentunya Elsa membalas pelukan Kristoff, Sven yang ternyata mengikuti mereka muncul dibelakang Kristoff.
"Kau terlihat berbeda, kau memotong rambutmu atau apa?" ucap Kristoff mencoba untuk tenang.
"Akhirnya kau menemukan jati diri mu Elsa, ah kalian semua menemukan jati diri," ucap Naruto yang sudah berada disamping Kristoff, Naruto merentangkan tangannya yang langsung dengan cepat Elsa berlari memeluknya dengan erat.
"Kupikir aku kehilanganmu, tapi ternyata tidak." bisik Naruto pelan.
"Kau tidak akan kehilanganku, begitu pula sebaliknya, kita akan selalu bersama." balas Elsa yang masih dalam pelukan Naruto.
Kristoff dan Anna yang melihat itu hanya tersenyum kecil, mereka bersyukur karena tidak ada yang kehilangan sesuatu, mereka semua telah berhasil tanpa harus kehilangan apapun.
Naruto dan Elsa akhirnya melepaskan pelukan mereka, tapi tangan mereka masih saling mengenggam.
"Kau makin cantik, sudah kuduga rambutmu lebih bagus jika di gerai, seperti peri salju atau bisa dibilang Roh salju?" ucap Naruto membuat Elsa hanya terkikik karena mengingat ucapan Naruto yang dulu, setelah beberapa saat akhirnya Elsa kini kembali ke Anna.
"Anna, aku ingin tanya padamu."
"Apa?"
"Kau ingin membuat boneka salju?" tanya Elsa dengan senyuman kecil.
Dibelakang air terjun yang terdapat salju Olaf, tiba-tiba salju itu terangkat pergi menjauhi air terjun itu, salju itu melewati hutan hingga akhirnya sampai ditempat mereka berada, sempat berputar-putar di sekitar mereka sebentar hingga akhirnya.
"Syukurlah, air memiliki memori." ucap Elsa dan salju itu mulai membentuk sosok Olaf, Anna yang melihat itu sedikit terkejut tapi akhirnya ia mendatangi Olaf, ia memasangkan beberapa hal yang dulunya melekat di tubuh Olaf. "Ocehan miliknya sekarang sangat berarti ya?" gumam Naruto dengan pelan.
"Hehe, Anna, Elsa? Kristoff? Sven? Bahkan Jabrik juga?" ucap Olaf saat melihat sosok mereka. "Kalian semua peluk aku!" lanjut Olaf yang langsung dilakukan oleh mereka, Naruto tidak ikut memeluk Olaf, ia hanya berdiri di belakang Elsa dan menempatkan tangannya ke atas kepala Olaf.
"Aku suka akhir yang bahagia, maksudku aku menduga kita mati atau berada di dalam situasi yang berbahaya dan menjadi sebuah kebiasaan." ucap Olaf kepada Elsa.
"Tidak, kita sudah selesai." balas Elsa.
Naruto yang berada di samping Kristoff langsung menyenggol Kristoff, tau apa yang Naruto maksud.
"Sebenarnya, ada satu hal lagi. Anna, kau adalah orang terbaik yang pernah ku temui, aku mencintaimu apa adanya." ucap Kristoff yang kini sedang berlutut, lalu Kristoff merogoh bajunya. "Maukah kau menikah denganku?" lanjut Kristoff sambil memperlihatkan cincinnya.
Anna yang melihat itu hanya bisa menahan tangisannya, tapi tidak bisa.
"Ya!" balas Anna yang langsung berlari memeluk Kristoff yang masih berlutut.
Naruto yang sudah berpindah di samping Elsa hanya tersenyum kecil melihat saudaranya itu, Elsa juga sama dengan Naruto, tanpa sadar tangan mereka kini saling menggenggam dengan erat.
"Akhirnya dia bisa melakukan itu, melihat seorang adik melangkahi kakaknya, bagaimana menurutmu Elsa?" tanya Naruto kepada Elsa.
"Ya aku sedikit iri, tapi aku bahagia untuk mereka." jawab Elsa pelan.
"Kalau begitu, kau ingin menerima ini?" tanya Naruto kepada Elsa, ditangan Naruto terdapat cincin putih dengan beberapa ornamen es disekitarnya.
"Naruto ini..."
"Ya aku berencana melakukannya juga, tapi sekarang kau adalah Roh, itu membuatku ragu, jadi aku tidak bisa bilang, tapi jika kau mau, kau boleh mengambil cincin ini." ucap Naruto sambil tersenyum sendu, karena sepertinya dia dan Elsa hanya bisa bersama tapi tidak bisa bersatu, kadang orang dipertemukan bukan untuk dipersatukan.
"Apa itu yang kau pikirkan? Bukannya aku pernah bilang padamu? Aku juga seorang wanita, maka aku menerima lamaran mu ini, Naruto-kun!" balas Elsa meyakinkan Naruto, itu membuat dirinya terkejut lalu hanya senyuman yang muncul diwajahnya.
"Ah aku memang tidak akan pernah tau isi pikiran wanita." ucap Naruto dengan tersenyum kecil.
"Perasaan lebih rumit untuk dipahami Naruto, kau akan tau jika kau lebih tua." ucap Olaf yang berada disamping Elsa.
"Untuk yang pertama aku akan setuju kali ini, tapi untuk yang kedua, aku yang paling tua disini Olaf." balas Naruto yang entah mengapa bisa akrab dengan Olaf.
"Ya, tapi kita hanya terpaut 1 tahun bukan?" tanya Elsa yang mengingat usia Naruto hanya setahun lebih tua darinya.
"Sebenarnya kita terpaut 11 tahun Elsa." balas Naruto dengan canggung.
"Ahh, tapi Naruto yang kukenal adalah Naruto yang sekarang." kata Elsa sambil menggenggam tangan besar Naruto, tangan kecil nan lentik itu terlihat tak ingin melepaskan tangan Naruto.
Tapi tiba-tiba disekitar mereka menjadi gelap, Naruto langsung mengambil posisi waspada saat melihat salah satu Golem itu yang berada tidak jauh dari tempatnya. Bahkan tanpa sadar ia mengatifkan mode Bijju-nya, Naruto ingin mengusir Golem itu tapi dihentikan oleh Elsa, Elsa melepaskan tangan Naruto dan berjalan menuju Golem itu bersama Anna. Mereka sampai didepan raksasa batu itu yang anehnya tidak menyerang mereka, raksasa batu itu malah menundukkan kepalanya hingga Elsa dan Anna bisa menyentuh wajahnya itu.
"Alam sudah menerima mereka." ucap Naruto disamping Kristoff, ia langsung menonaktifkan mode miliknya.
Skip time
Anna terlihat kini menemui letnan Matthias, ia langsung berbicara dengan letnan Matthias.
"Arrandelle baik-baik saja." ucap Anna.
"Apa? Kau yakin?" tanya letnan Matthias memastikan.
Anna hanya tersenyum sebagai jawabannya, Matthias tiba-tiba lega.
"Atthohallan, begitu indah." ucap Elsa yang kini sedang bersama pemimpin suku Nothurlda. Tapi tiba-tiba Bruni muncul dan langsung melompat kearah Elsa. Bruni terlihat mendinginkan badannya di tangan Elsa yang hanya tertawa kecil.
"Kau tau, kau harus tinggal disini bersama para Roh, Elsa." ucap Pemimpin itu.
"Sebagai Ratu Arandelle, aku bersumpah untuk melakukan semua hal terbaik untuk Arendelle, tapi aku sudah tau itu." ucap Elsa.
"Jadi apa keputusanmu Elsa?" tiba-tiba muncul Naruto di dekat mereka, pemimpin suku Nothurlda langsung undur diri untuk memberikan privasi pada mereka, Bruni juga sudah pergi entah kemana hingga menyisakan mereka berdua.
"Aku akan tinggal disini, dan menyerahkan Arandelle untuk Anna." balas Elsa yang kini sudah berhadapan dengan Naruto.
"Aku setuju tentang hal itu, maka aku juga akan berada disini." ucap Naruto membuat Elsa kaget.
"Apa maksudmu?" tanya Elsa bingung kenapa Naruto ingin tinggal disini, ia bisa tinggal di Arandelle.
"Seperti yang kau bilang, jembatan itu memiliki 2 sisi, aku akan menyerahkan sisi lainnya untuk Kristoff dan aku akan berada disisi lainnya." balas Naruto dengan senyuman kecil, Elsa yang mendengar itu sedikit terharu. "Lagipula, aku tidak bisa jauh dari tunanganku." lanjut Naruto yang membuat Elsa terkejut ditambah dengan wajahnya yang memerah.
"Pergilah, temui Anna." ucap Naruto yang kini berjalan menuju tempat para suku Nothurlda, Elsa yang melihat punggung Naruto hanya tersenyum memandang punggung kekar itu.
"Kau memang selalu bersamaku, Naruto," ucap Elsa pelan, dengan rambut dan bajunya yang tertiup angin hingga memberikan efek yang menimbulkan kesan cantik pada Elsa yang memang cantik.
Skip Time
Di Arandelle kini terdapat perayaan penobatan Anna sebagai Ratu, ia begitu disambut oleh rakyatnya. Anna berjalan dengan pelan hingga akhirnya.
"Sven, kau terlihat menawan." ucap Anna saat melihat Sven.
"Ohh! Olaf?" kaget Anna, karena ia melihat Olaf yang memakai pakaian formal.
"Tampan? Aku yakin itu." ucap Olaf dengan pede, Anna hanya tertawa kecil.
"Menawan." balas Anna sambil memberi hormat kecil.
"Yang Mulia." panggil Kristoff yang kini terlihat berbeda dengan setelan formal.
"Kristoff! Apa kalian berdandan untukku?" tanya Anna.
"Sven, ini idenya." kata Olaf.
Anna berjalan kearah Kristoff, membetulkan kerah Kristoff sambil sedikit mengacak-acak rambutnya.
"Satu jam, kau mendapatkan ini dengan waktu satu jam."
Cup!
"Baiklah, kalian semua sangat menawan, tapi aku lebih memilih jas kulit." ucap Anna sambil mencium pipi Kristoff.
"Aku bertanya, kau bisa bertahan satu jam dengan pakaian seperti itu? Itu brutal! Hal gila yang dilakukan oleh cinta, Naruto saja benci dengan pakaian ini." ucap Olaf yang sudah melepas bajunya.
"Ya, Naruto pasti sudah akan mati jika terlalu lama." balas Kristoff.
Di Enchanted Forest, terlihat Naruto dan Elsa yang sedang berduaan duduk dengan nyaman, Elsa juga bersandar dengan santai di bahu lebar Naruto, mereka sepertinya menikmati waktu mereka untuk bersama, posisi mereka sedikit jauh dari tempat tinggal suku Nothurlda.
"Alam, sebenarnya aku lebih memilih untuk hidup disini, lagipula aku benci sesuatu yang formal." celetuk Naruto memulai percakapan, ia melihat pemandangan tempat mereka duduk dengan santai.
"Aku tau, tapi sekarang kita berada disini." balas Elsa yang masih bersandar di bahu Naruto, ia ingin menikmati semua momen ini.
"Aku tau, tapi mungkin kau ingin pergi menyusuri dunia?" tanya Naruto sambil menggenggam tangan Elsa dengan erat.
"Tidak, petualangan kita sudah cukup." balas Elsa membalas genggaman tangan Naruto, entah kenapa sekarang dirinya merasa lebih damai.
"Ya, kau benar, mungkin inilah yang selalu kucari, kedamaian. Tapi jangan lupa bahwa sesuatu yang tidak terduga akan terjadi di masa mendatang nanti." ucap Naruto dengan terkekeh, Elsa yang mendengar itu juga tertawa kecil.
"Jika itu benar, maka kita hanya harus menghadapinya bersama-sama lagi." balas Elsa.
"Tempat ini jauh lebih baik, bukan begitu Naruto?" tanya Kurama didalam pikirannya, Naruto yang mendengar pertanyaan rekannya itu.
"Ya, kau benar, Kur-chan." balas Naruto dengan nada jahil, Kurama yang sudah kebal hanya mendengus dan memotong komunikasi mereka, tapi karena Naruto yang sedang melakukan komunikasi dengan Kurama di alam bawah sadar, itu membuat Naruto seperti melamun di dunia nyata.
"Naruto? Kau tidak apa-apa?" tanya Elsa saat melihat Naruto melamun, ia menggoyangkan tubuh Naruto untuk menyadarkan sang pirang itu.
"Tenang saja, aku hanya berbicara dengan Kurama." ucap Naruto saat sadar melihat Elsa sudah sangat dekat dengan wajahnya, tiba-tiba jantung Naruto berdetak sangat cepat.
Naruto yang melihat wajah Elsa hanya bisa terpesona, Naruto menggerakkan tangannya untuk memegang kepala dan leher Elsa, itu mencegah untuk Elsa tidak banyak bergerak. Lalu Naruto mendekatkan wajahnya kearah wajah Elsa.
"Ja-jangan Naruto...," ucap Elsa pelan sambil berusaha lepas dari kurungan Naruto.
Elsa yang tau apa yang ingin dilakukan Naruto berusaha memberontak, tapi karena tenaganya kalah besar dari Naruto itu membuat Elsa akhirnya pasrah, sekarang ia bahkan menutup matanya untuk menunggu bibir Naruto menuju bibirnya.
Cup!
Mereka akhirnya berciuman, ciuman yang tidak ada nafsu. Itu murni kasih sayang tanpa ada niat yang lainnya, Naruto menekan kepala Elsa untuk memperdalam ciuman mereka, Elsa sendiri tangannya meremas baju Naruto untuk menyalurkan apa yang dia rasakan.
Puaah!
Ciuman itu terlepas dengan benang saliva yang menjulur dari lidah Elsa dan Naruto, kini wajah mereka berdua sangat memerah, bahkan itu mencapai telinga mereka yang membuat mereka seperti baru saja direbus.
"Aku mencintaimu, Elsa." ucap Naruto yang langsung memeluk Elsa dengan erat, Elsa kini menguburkan wajahnya kedalam dada Naruto untuk menghilangkan rona merah diwajahnya.
"Aku juga, selalu mencintaimu, tetaplah bersamaku selamanya." balas Elsa dipelukan Naruto.
"Aku akan selalu bersamamu, aku janji." kata Naruto sambil mengelus surai putih Elsa.
"Aku tau itu." ucap Elsa dengan senyuman, tapi Naruto tidak bisa melihatnya karena Elsa masih nyaman berada dipelukannya.
Angin tiba-tiba berhembus di sekitar mereka, membawa angin dingin disana dan salju yang terbang kelangit. Naruto yang melihat itu hanya memandang langit dengan ekpresi sendu.
"Aku sekarang bahagia, Kalian melihatnya bukan? Tou-chan, Kaa-chan,"
End?
Author Note : Ahh akhirnya selesai juga, bagaimana menurut kalian? jika agak ambigu atau kurang jelas mohon dimaafkan karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
Apa ini Endingnya? mungkin iya mungkin tidak, tapi saya akan membuat satu Chapter bonus yang menceritakan kehidupan mereka yang benar-benar damai.
Dan Maafkan keterlambatan update ini, karena ini final Chapter.
Tinggalkan Review kalian untuk masukan saya, dan juga Akhir kata.
See you Next time.
Adiue!!
