CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Itachi berdiri di tengah-tengah kompleks kediaman Uchiha saat ini. Pakaiannya juga berubah menjadi seragam ANBU nya yang lama. Darah menggenang dan bau amis begitu memenuhi udara di sekitarnya. Itachi menatap tangannya yang berlumuran darah, darah dari para warga sipil dan anak kecil dari Klan Uchiha.

Tubuhnya bergetar, ketakutan dan rasa sakit terasa begitu nyata di hatinya. Airmatanya menumpuk di sudut matanya, siap jatuh kapan saja. Apa yang sudah ia lakukan?

Di ujung jalan, ia melihat Rias, Akeno, dan Violet. Ketiganya menatap Itachi dengan jijik, seolah ia adalah makhluk rendahan yang tak pantas hidup.

" Kriminal..."

" Pembantai..."

Ia bisa mendengar jelas ucapan dari Rias dan Akeno, sementara Violet terlihat ketakutan. Tapi Itachi tidak bisa marah ataupun menyangkalnya. Ia sadar kalau ia adalah seorang kriminal yang tega membunuh kedua orang tuanya sendiri. Seorang yang tidak pantas untuk mereka bertiga.

Ia kemudian menoleh ke belakang dan melihat Izumi berdiri bersama Shisui.

" Itachi-kun... Kau membunuhku? Bukankah kau mencintaiku...?"

" Itachi, kau membuatku kecewa, bung. Aku memintamu menyelamatkan desa dan klan, tapi kau malah membantai salah satunya..."

Itachi tertunduk. Tangannya mengepal erat, seiring dengan airmata yang perlahan jatuh dari matanya. Tidak. Ia tidak ingin Rias dan yang lain melihat dan mendengar semua hal yang sudah ia lakukan.

Ia selalu meyakinkan dirinya kalau ia siap akan konsekuensi yang terjadi jika semua tahu masa lalunya. Tapi, di sudut hatinya, ia takut akan kehilangan mereka semua. Takut kalau mereka akan menjauh dan meninggalkannya seorang diri lagi di kehidupan ini.

" Maafkan aku..."

" Maafkan aku... "

" Maafkan aku..."

Itachi berkali-kali meminta maaf, tapi apa ia pantas untuk mendapat maaf dari mereka?

Apa ia masih pantas untuk dikasihani?

Apa ia masih pantas untuk diampuni?

Apa... Apa ia masih pantas untuk dicintai?


Rias terbangun secara tidak sengaja karena suara Itachi. Belakangan ini ia sering melihat Itachi mengigau meminta maaf dan berkeringat dingin setiap malam. Mimpi buruk seolah selalu mendatanginya saat ia menutup mata hitam itu.

Malam ini pun sama. Rias bisa melihat tubuh Itachi bergerak gelisah akan sesuatu. Alisnya berkedut dan keringat mengalir di pelipisnya. Di saat saat seperti ini, Rias selalu mendekat dan menaruh kepala Itachi di pelukannya hingga sang Uchiha mulai tenang.

Terkadang Rias bingung. Suami sekaligus kakak angkatnya dulu itu selalu terlihat tenang dan tak takut akan apapun selama ini. Bahkan saat ia membuntuti seorang informan menuju ke sarang pemberontak dulu, Rias tidak melihat sedikitpun ketakutan di wajahnya.

Jad apa yang Itachi lihat di mimpinya hingga ia begitu gelisah dan takut sampai mengigau setiap malam?. Entah apa yang ia sembunyikan dibalik wajah tampan dan sikap tenang itu. Lelaki yang satu ini begitu dekat, tapi juga begitu jauh dari Rias. Walau sudah mengenalnya dari kecil, tapi ia masih tidak tahu apa-apa tentang Itachi.

Cara Rias terbukti berhasil. Itachi perlahan tenang dan mulai bernafas secara teratur. Rias mengelap keringat di kening Itachi dengan kaos yang ia pakai kemarin. Setelahnya, baru ia kembali tertidur dengan Itachi di dekapannya.

Pagi harinya, Itachi terbangun dengan wajah yang sedikit merona. Walau sesering apapun hal ini terjadi, ia tetap tidak terbiasa dengan apa yang ia lihat. Seperti biasa, hal yang pertama ia lihat ketika membuka mata adalah dua buah aset besar milik Rias yang tidak ditutupi apapun.

Itachi mendorong perlahan tubuh Rias dan beranjak bangun dengan kepala yang sakit. Kepala pusing dan badan yang pegal adalah hal yang normal untuknya. Itachi sampai lupa kapan terakhir kali ia tertidur nyenyak tanpa mimpi buruk apapun. Ia kembali menutupi tubuh Rias dengan selimut lalu pergi kebawah untuk membuat sarapan dan mandi.

Yatagarasu baru saja kembali memebawa pesan dari Azazel, yang akan menemui Itachi nanti malam. Dan pada saat yang bersamaan, ia mendapat telepon dari bekas dosennya di Prancis. Ia bilang kalau Itachi diundang ke konvensi antar fisikawan atas usulan dari dosennya. Konvensi tersebut akan diadakan di Paris.

Setelah beberapa saat, Rias pun turun kebawah dengan rambut acak-acakan dan mata yang mengantuk. Begadang lagi? pikir Itachi. Sudah beberapa kali ia melihat Rias terbangun dengan mata sedikit menghitam seperti kurang tidur. Gadis itu harus belajar mengatur pola hidup sehat.

" Ohayou."

" Oh, Ohayou, Nii-san."

Dan satu lagi. Itachi merasa aneh dipanggil 'Nii-san' oleh Rias. Bukankah mereka sudah menikah? Dipanggil kakak oleh istrimu sendiri tentu membuatmu merasa aneh dan canggung, seolah telah mempraktekkan hal tabu bernama 'Incest'.

Seperti biasa, Rias mengambil segelas coklat miliknya dan duduk di sofa sembari menonton televisi sementara Itachi menyiapkan sarapan. Kemudian, keduanya pun memakan sarapannya dengan diam tanpa saling bicara.

" Ne, Nii-san, ada respon dari Azazel?" tanya Rias yang bersandar pada lengan Itachi di sofa.

" Yatagarasu baru saja sampai. Kita akan menemui Azazel nanti malam, dan jangan lupa ajak juga Sona."

" Sona? Untuk apa?"

" Dia juga ditugaskan untuk menjaga dan mengurus kota ini, seperti kau dan aku. Jika ada yang salah dengan Kuoh, maka ia juga harus tahu." jawab Itachi.

Sona Sitri. Ia kenal gadis itu. Ketua OSIS di Kuoh Academy, pewaris dari Klan Sitri, dan rival dari Rias. Jauh berbeda dengan kakaknya, Serafall, Sona adalah gadis pendiam. Pembawaannya yang begitu tenang dan menghadapi masalah dengan kepala dingin membuat Itachi tidak keberatan jika bekerja sama dengannya.

" Baiklah."

" Ah, dan satu lagi. Besok aku akan pergi beberapa hari ke Paris."

Ucapan Itachi membuat Rias menolehkan kepala.

" Salah satu dosen ku dulu di Paris mendaftarkanku ke Konvensi para Fisikawan."

" Dan kau berniat datang?" sorot matanya terlihat kecewa.

Itachi mengangguk mengiyakan pertanyaan Rias, sementara Rias mengehela nafas berat. Ia ingin pergi berlibur bersama Peeragenya dan Itachi minggu ini, tapi apa boleh buat. Rias menenangkan dirinya sendiri dan berpikir kalau ia akan mengajak Itachi lain waktu. Tapi, karena besok ia akan pergi lama, maka Rias akan benar-benar memanfaatkan hari ini.


Siang harinya, Rias berhasil menyeret Itachi untuk pergi keluar rumah, walau si pria terlihat sedikit enggan. Jika biasanya saat hari libur Itachi akan diam dirumah, maka sekarang ia tidak bisa lagi diam. Rias akan mengajaknya pergi saat libur.

" Ayolah, aku ingin pergi sebentar!"

Dengan pasrah Itachi membiarkan tangannya digenggam dan ditarik oleh Rias kemanapun ia pergi. Mulai dari Maid Cafe sampai toko musik, selama itu bisa memuaskan hati Rias maka Itachi tidak akan melawan, meski Itachi tidak tahu apa yang dilakukan istrinya di sebuah toko musik.

Itachi memang sering mendengar Rias bersenandung saat sedang sendiri. Seperti waktu Akeno dan semua anggota Peerage milik Rias sedang mengerjakan kontrak. Itachi bisa mendengar senandung Rias dari balik pintu. Suara yang ia miliki terdengar indah bagi Itachi walau beberapa kali sumbang.

Sekarang, mereka berdua tengah duduk di bawah taman kota Kuoh dengan daun pohon yang berjatuhan ditiup angin mengelilingi mereka dan sinar matahari sore yang menyelinap dari celah celah dedaunan. Rias menyandarkan kepalanya di bahu Itachi dan tersenyum. Ia terlihat menikmati setiap momen yang ada.

" Rias."

" Hm?"

" Apa kau tahu yang terjadi pada Kiba?"

" Uhm. Kau tahu, Kiba adalah salah satu anak yang dijadikan objek Penelitian Pedang Suci." jawab Rias dengan kepala yang tertunduk.

Penelitian Pedang Suci. Itachi pernah mendengar sesuatu tentang proyek itu. Pihak Gereja mengambil beberapa anak dan meneliti kecocokan mereka dengan Pedang Suci. Mereka mendapat perlakuan tak menyenangkan selama proses penelitian. Proyek yang mengingatkannya pada Orochimaru dan Danzou.

" Pihak Gereja menculik anak-anak panti asuhan yang memiliki Sacred Gear lalu mengadakan eksperimen agar mereka bisa memakai Pedang Suci."

" Karena tak membuahkan hasil setelah begitu lama, proyek tersebut akhirnya dibatalkan dan para anak-anak yang diculik pun dimusnahkan. Satu-satunya yang selamat adalah anak bernama Isaiah."

" Aku bertemu dengannya saat pergi ke Italia dan menjadikannya Iblis dengan nama Kiba Yuuto."

Itachi paham dengan masalah ini. Dendam karena semua temannya dibantai didepan matanya sendiri. Ia harus berbicara dengan Kiba nanti agar anak itu tidak menempuh jalan yang salah dan membahayakan dirinya sendiri nanti.

Ia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Ia akan menemui Kiba setelah berbicara dengan Azazel. Untuk sekarang, lebih baik kalau ia tidak menghancurkan mood Rias dengan hal-hal seperti ini.

Tunggu, sejak kapan ia begitu perhatian dengan mood Rias?

" Omong-omong, aku sering mendengarmu bersenandung belakangan ini."

Rona merah mulai tampak di wajah putih Rias. Ia menggaruk-garuk pipinya dan membuang tatapannya kearah lain.

" Etto... A-aku hanya sedang ingin. Ya! Itu saja." jawabnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Itachi memicingkan matanya, sadar kalau Rias sedang menyembunyikan sesuatu.

" Dan Gitar di toko musik tadi?"

" Itu.. uhm... Ah! Hadiah! Hadiah untuk Kiba!"

Lagi, ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dibalik senyuman itu. Setelah beberapa saat menatap Rias yang masih tersenyum, Itachi memilih untuk mengesampingkan hal tadi. Ada masalah lebih besar yang harus ia pikirkan.

" Baiklah, terserah kau saja."

Melihat matahari mulai tenggelam, Itachi memutuskan untuk kembali ke rumah dan bersiap menemui Azazel. Rias yang masih ingin keluar pun menurut dengan sedikit menggerutu.

Benar saja, malamnya, rumah mereka di datangi oleh Azazel. Dan tak lama kemudian Sona pun muncul dari lingkaran teleportasi.

" Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan, Itachi?" tanya Azazel sembari meminum kopi miliknya.

" Kau tahu Freed Sellzen?"

Azazel mengangguk.

" Kemarin ia dan Knight milik Rias berhadapan. Dan menurut apa yang dikatakan Kiba, Freed menggunakan Pedang Suci. Apa kau tahu sesuatu tentang ini, Azazel?"

Azazel menaruh minumannya dan menghela nafas.

" Kau mencurigaiku? Tidak. Bukan aku yang mendalangi peristiwa ini. Kemungkinan besar Kokabiel lah yang menjadi biang semua ini."

" Kokabiel? Maksudmu salah satu pemimpin Malaikat Jatuh?" tanya Sona.

" Benar. Kemungkinan ia bekerja sama dengan seseorang yang punya akses ke Pedang Suci."

Akses ke Pedang Suci? Apa pihak Gereja punya keterkaitan dengan ini? pikir Itachi.

" Aku sudah mencurigai si brengsek itu sejak lama, tapi tidak punya bukti yang kuat untuk mengambil tindakan!"

Itachi masih sedikit ragu dengan Azazel. Ia belum mempercayai pemimpin Malaikat Jatuh ini sepenuhnya. Tapi untuk sekarang, ia tidak punya pilihan selain percaya.

" Baiklah. Terima kasih sudah meluangkan waktu malam ini, Azazel-sama." ujar Itachi.

Azazel berdiri dan membuat lingkaran teleportasi.

" Tidak apa-apa. Dan kalian sebaiknya berhati-hati. Kokabiel bukanlah lawan yang mudah."

Ia pun bersiap berteleportasi kembali. Tapi sesaat ia menoleh dan tersenyum pada Itachi dan Rias.

" Ah, satu lagi. Selamat atas pernikahannya!"

Dan ia pun hilang di telan cahaya putih. Menyisakan ketiga iblis pengawas Kuoh yang menatap satu sama lain.

" Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sona.

" Untuk sekarang tetaplah waspada dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin." saran Rias. Ia menatap serius rivalnya itu.

" Aku akan pergi untuk sementara waktu besok. Jadi berhati-hatilah dan jangan melakukan tindakan yang merugikan. Rias, Sona, kabari aku jika situasi menjadi darurat."

" Aku akan tidur sekarang. Jangan begadang terlalu lama, Rias." ucap Itachi. Ia lalu berdiri dan pergi keatas untuk tidur. Besok ia harus bangun pagi-pagi sebelum ke Prancis.


Rias dan Sona masih tetap terjaga membahas apa saja rencana mereka kedepan dan tentu saja untuk bermain catur. Keduanya sering bertanding di setiap ada kesempatan hanya untuk menguji strategi satu sama lain.

Tak!

" Jadi bagaiamana rasanya menikah, Rias?"

Tak!

" Hm? Tentu saja bahagia. Oh! Skak!"

Tak!

" Apa maksudmu bahagia?"

" Bangun pagi-pagi dan melihat pria tampan yang membuatmu sarapan setiap hari. Apa kau tidak bahagia jika kau mengalaminya? Walau dia mungkin sedikit canggung dengan hal hal romantis."

Tak!

" Canggung? Apa maksudmu?"

Tak!

" Dari saat kami menikah, Itachi-nii belum menyentuh tubuhku sama sekali. Ia bahkan belum pernah menciumku..." ujar Rias dengan nada lesu.

Kedua sahabat tersebut saling berbicara sembari menjalankan bidak catur masing masing.

Tak!

" Heh. Bersabarlah, Rias. Ia akan membuka dirinya secara perlahan, aku yakin itu."

" Skakmat!"

Tak!

Rias menjatuhkan kepalanya di papan catur dengan lesu. Bukan, bukan karena ia kalah. Tapi karena Rias bingung dan frustasi apakah Itachi benar-benar mencintainya sebagai wanita, atau masih menganggapnya sebagai adik kecil.

Memang benar, Itachi belum mencium atau melakukan sesuatu yang romantis bersama Rias. Padahal, ia sudah memancing Itachi setiap malam dengan tidur tanpa busana dan memeluk si Uchiha layaknya bantal guling.

Sekilas, ia curiga jangan-jangan Itachi ternyata Aseksual. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan mengusir jauh-jauh pikiran itu. Mana mungkin ia tidak tertarik dengan hal hal seperti itu. Itachi yang ia tahu adalah lelaki muda sehat, hanya saja ia seperti menahan diri dan ragu-ragu.

" Yah, sebaiknya kau tidur, Rias. Aku akan pulang sekarang. Selamat malam." dan Sona pun berteleportasi kembali ke tempatnya, meninggalkan Rias yang masih lesu sendirian.

Setelah beberapa saat, Rias pun bangkit dan pergi ke kamarnya untuk tidur. Seperti biasa, ia membuka semua pakaiannya dan pergi ke ranjang dimana Itachi tidur dengan keringat dingin. Mulutnya sedikit terbuka, seolah mengucapkan sesuatu.

Rias yang tidak bisa mendengarnya dengan jelas, jadi ia naik ke ranjang dan mendekatkan telinganya.

" Maafkan aku..."

Maaf? Untuk apa? pikir Rias. Ia ingin mendengar lebih jauh, tapi Itachi mulai bergerak dengan gelisah. Secara sigap, ia memeluk Itachi untuk menenangkannya, seperti yang selalu ia lakukan.

" Tenanglah, Anata... Aku ada disini..."


Itachi menginjakkan kakinya di Paris Charles de Gaulle Airport lagi setelah beberapa bulan tidak kembali ke Paris.

Kenapa ia memakai pesawat terbang dan bukan teleportasi? Tentu saja untuk menikmati perjalanan. Ia menikmati 12 jam dalam ketenangan sembari membaca ataupun melihat langit dari balik jendela. Lagipula, ia yakin Rias dan Sona bisa mengurus kota Kuoh untuk sementara tanpa dia. Itachi menganggap ini adalah liburannya dari pekerjaan sebagai Iblis dan Guru.

Ia berjalan keluar dan menghampiri pria tua yang rambutnya sudah memutih di depan bandara dengan sebuah mobil pribadi.

" Selamat datang kembali di Paris, Itachi!" ucap dosennya dalam bahasa Prancis. Ia memeluk Itachi sebagai sambutan kedatangannya di Paris.

" Terima kasih, Mr.Beufort."

" Masukkan barang-barangmu di bagasi. Kita akan ke rumahku dulu untuk sarapan."

Itachi menuruti perintah Beufort. Ia memasukkan koper miliknya di bagasi dan duduk di kursi depan mobil. Keduanya lalu pergi ke rumah Beufort.

Ia merindukan pemandangan kota ini. Kota yang selama 2 tahun terakhir menjadi rumahnya. Terlihat beberapa orang sedang berlari pagi atau menunggu bis di halte.

Ia merindukan daun-daun maple yang berjatuhan di jalan, menambahkan warna coklat khas pada jalanan kota Paris.

Dan, ia merindukan seorang penjual bunga dengan senyuman yang menyejukkan hatinya. Itachi berpikir, bagaimana kabar gadis itu setelah kepergiannya?

Itachi hanyut dalam pemikirannya sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di rumah Beufort. Sang Dosen mematikan mobilnya dan mengajak Itachi untuk masuk kedalam rumah. Di dalam, ia disambut dengan senyum ramah dari istri dosennyam

" Papa!" seorang anak kecil berumur sekitar 4 tahun berlari memeluk ayahnya. Beufort menggendong anaknya dan mempersilahkan Itachi untuk duduk di meja makan.

Rumah ini tidak terlalu besar untuk ukuran seorang dosen dengan gaji tinggi. Tapi mengenal dosennya, Itachi tidak heran karena Beufort memang bukan orang yang suka dengan hedonisme.

Beufort bersama anaknya pun datang dan duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Mereka makan dengan diselingi beberapa pertanyaan dan candaan agar suasana tidak kaku.

" Jadi, bagaimana kehidupanmu di Jepang, Itachi?"

" Normal. Aku diminta menjadi pengajar di salah satu SMA."

" Mmm! Jadi kau memutuskan untuk menjadi guru? Bagus sekali, Itachi!"

Beufort memuji mantan muridnya. Selama di kampus dulu, ia selalu terkesima dengan Itachi yang mampu menyerap semua ilmu yang ia berikan dalam waktu singkat.

Itachi selalu fokus akan pelajaran, tidak banyak berulah, dan punya minat belajar tinggi. Itulah yang membuat Beufort tertarik dan menjadi dekat dengannya. Ia bahkan pernah meminta Itachi untuk tetap tinggal dan menjadi asistennya sementara waktu.

" Bagaimana rasanya menjadi seorang Guru?"

" Merepotkan. Tapi, semua itu terbayar saat murid-muridmu berhasil."

" Tepat! Tapi, tolong tahan dirimu. Jangan ajak siswamu berdebat masalah Relativitas dan Kuantum." ujarnya. Ia kemudian tertawa, sementara Itachi tersenyum mengenang masa masa kuliahnya.

Keduanya terus berbincang hingga selesai sarapan. Beufort berkata kalau Itachi akan tinggal di rumah ini sementara waktu sampai Konvensi selesai. Ia bebas untuk pergi kemanapun dan melakukan apapun yang ia mau selama senggang. Acara tersebut akan diadakan nanti malam di aula kampusnya dulu, jadi ia punya waktu luang siang ini.

" Nah, ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum malam? Aku bisa menemanimu, nak."

" Tidak, terima kasih. Aku akan pergi sendiri. Tinggal disini saja sudah cukup merepotkanmu, Mr.Beufort." tolak Itachi dengan halus.

Dosennya ini kadang terlalu baik padanya dan Itachi tidak ingin merepotkan pria tua ini. Lagipula, ia juga lebih nyaman bepergian sendiri dan menikmati suasana musim semi di Paris. Setelah berpamitan ia pun pergi untuk berjalan-jalan, mengistirahatkan otaknya dari semua pertarungan dan kontrak iblis.


Itachi berjalan di trotoar kota Paris. Tempat pertama yang terlintas di otaknya adalah stan bunga didekat kampus lamanya. Tapi sebelum itu, ia memutuskan untuk mampir di kafe langganannya selama kuliah. Itachi melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.

Waktu istirahat makan siang bagi mahasiswa. Ia memesan dua cangkir Cappucino dan tiga buah roti coklat susu untuk dibawa pulang. Ia pun berdiri di dekat kasir dan membayar pesanannya. Tapi, saat ia meraih pintu keluar, sekelompok orang yang familiar bagi Itachi kini berdiri dihadapannya.

Ia kemudian mendapat pelukan erat dari teman-temannya di sini.

" Hey, Hey! Lihat siapa yang kembali! Kau merindukan kami?"

" Dalam mimpimu."

" Ouch! Beginikah caramu menyapa teman lama?"

Mereka kemudian tertawa dan menyeret Itachi untuk duduk bersama mereka.

" Jadi apa yang kau lakukan disini, Itachi?"

" Ah, aku ingat! Bukankah nanti malam aula kampus akan dipakai untuk Konvensi para Fisikawan?"

" Oho... Kau benar... Tidak mungkin Prince of Physics tidak datang, bukan?" katanya diiringi oleh gelak tawa.

Teman-temannya terus menerus menggoda dan menjahili Itachi. Dan Itachi senang karena bisa bertemu dengan mereka yang membantunya dulu. Tapi pikirannya sedang tertuju pada tempat lain. Ada orang yang ingin ia temui lebih dulu sebelum mereka semua. Namun karena tak enak jika ia mengabaikan teman-temannya, Itachi terpaksa mengundur rencananya sebentar lagi.

" Kau benar. Mr.Beufort yang mengundangku ke Konvensi itu."

Seketika gelak tawa tadi menghilang. Suasana menjadi hening dan semua mata temannya tertuju pada Itachi.

" T-tunggu... Kau benar-benar diundang?!"

Itachi menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis.

" Wow..."

" Terkejut?"

" Tentu saja! Maksudku, ini baru beberapa bulan setelah kau lulus, tapi kau sudah ikut acara membosankan seperti itu."

Entah dia ingin memuji atau mengejek, Itachi pun tidak tahu. Ia tak menggubrisnya dan berdiri.

" Terima kasih atas waktu kalian, tapi aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang ingin kulakukan saat ini, jadi maafkan aku."

Itachi membungkuk dan meminta maaf dengan sopan pada teman-temannya. Mereka melihat bungkusan yang ada di tangan Itachi.

" Ah, si gadis penjual bunga, bukan?"

Rona tipis terlihat di wajah Itachi. Ia tidak menyangkalnya, tapi sebisa mungkin ia tidak ingin untuk membicarakannya.

" Ya sudahlah. Sampai jumpa lagi, Itachi. Sekarang, temuilah malaikatmu itu!"

Itachi mendepak kepala temannya itu dengan pelan. Ia tersenyum dan bergegas pergi, meninggalkan teman-temannya yang tertawa melihat reaksi Itachi.

Baru selangkah ia keluar, sudut matanya menangkap sosok pria asing menatapnya dari ujung jalan. Itachi bisa merasakan energi supranatural menguar dari tubuhnya. Sedetik kemudian, pria tadi menghilang saat sebuah mobil menghalangi pandangan mereka.

Itachi menghela nafasnya.

" Dan kukira aku bisa beristirahat sejenak dari masalah supranatural..."


Author's Note :

Anddd Cut! Nyahhahaha kembali lagi sama saya, author kalian yang masih noob ini. Ga banyak yang mau saya omongin disini,

" Violet tolong disorot lagi dong."

Sabar, pak... Semua kandidat buat Itachi akan saya sorot satu-satu nanti. Semuanya bakal dapet spotlight sendiri-sendiri. Tapi! Untuk sekarang, Rias lah yang disorot.

Main Pair sementara adalah ItaRias. Kedepannya bisa aja jadi ItAkeno, atau ItaVio, atau malah nambah saingan baru :D. I mean, this is DxD Universe! A world full of Waifus! Ga menutup kemungkinan kalau bakal ada kandidat baru kayak Kuroka atau Yasaka kedepannya.

Eh? Termasuk spoiler gak sih? awkwkwkwkwkwk. Tunggu sajalah...

" Bukankah pake Sharinggan buat intimidasi klien itu curang?"

Loh, curang dimananya? Nggak kok menurutku.

Anyway, makasih buat yang dah baca dan nyemangatin saya. T_T Ucapan kalian adalah bahan bakar buat saya lanjut.

So, Mind to Review?

Silvermane Kudan, out.