Queen of Succubus
Chapter 14
"Lindungi Lord kalian!" Teriak Sasori sambil terbang menuju arah Deidara. Iblis-iblis yang bersiaga di dekatnya mengikuti. Apa yang terjadi? Mengapa Ino bisa melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Itu mustahil.
Deidara menjatuhkan amulet di tangannya, dengan sigap mencengkeram pergelangan tangan kanan Ino untuk menghentikan serangannya. Succubus pirang itu mendesis, memamerkan susunan gigi tajam yang tadinya tak ada di sana.
"Apa kau takut sekarang?" Ejek Ino. Kurang dari satu menit kekuatan Lilith telah memperbaiki seluruh tubuhnya. Tak ada luka yang terlihat. Kulitnya kembali mulus tanpa cacat dan yang tadinya sewarna gading perlahan bertransformasi menjadi keunguan. Aura Iblis yang memancar dari Succubus pirang itu terasa berat dan menyesakkan. Iblis-iblis yang lain gemetar, dalam sejarah belum pernah mereka merasakan energi Iblis sepekat ini, tidak juga dari seorang demon Lord.
Ino sendiri merasa tidak benar-benar sadar, seakan separuh dirinya terkurung di sudut terkunci dan tak bisa keluar. Bisikan balas dendam berdengung di telinganya, ia merasakan gelombang kemarahan yang bukan miliknya mulai menguasainya. Kepahitan, dengki dan kecemburuan Lilith berbaur dengan kesedihan, rasa putus asa dan kebencian Ino. Menjadi bahan bakar terbaik untuk memicu ledakan energinya.
Deidara merasakan perubahan aura Ino dan merasa gentar, tapi Incubus bermata biru itu berusaha tak menunjukkan nya.
"Kau melucu, Aku tak pernah takut pada iblis lemah yang hanya bisa bersembunyi. Aku selalu lebih baik darimu."
"Benarkah? Meski aku adalah Lilith sekarang." mata Ino berpendar merah. Tangan kirinya mengumpulkan energi yang berputar membentuk lingkaran cakram yang ia arahkan ke perut saudaranya. "Kau pasti sudah sadar Dei, Kalau kita hanya bisa jadi sempurna dengan membunuh dan menyerap satu sama lain."
"Kau terlambat sadar. Kalau saja waktu itu Gaara tak melindungimu kau sudah aku lenyapkan. Sekarang dia tak ada dipihakmu. Siapa yang akan menolongmu."
Ino tersenyum, "Aku tak butuh bantuan siapa-siapa dan jangan khawatir setelah aku melenyapkanmu, Aku juga akan melenyapkan pengkhianat itu. Mati lah kau keparat!" Ino tiba-tiba saja melepaskan bola energi dari tangan kanan nya dengan refleks Deidara membangun pelindung. Dia tak pernah melihat Ino menggunakan serangan ini sebelumnya.
Deidara terhempas, pelindungnya pecah. Serangan Ino terlalu kuat untuk bisa dia bendung. Incubus pirang itu berusaha menghentikan tubuhnya di udara dengan merentangkan sayapnya, tapi hal itu sia-sia. Tubuh Deidara menabrak salah satu menara dan menghancurkan nya.
Iblis-iblis yang tadinya berniat menonton eksekusi Ino berlari kocar-kacir menyelamatkan diri. Duel antara Iblis tingkat tinggi bisa membunuh mereka. Sementara Deidara mencoba mengeluarkan diri dari puing-puing yang menimpanya, Ino malah disibukkan melawan pengawal-pengawal yang menerjang ke arahnya. Mereka mencoba membuat formasi untuk menghentikan Ino mendekati puing yang mengubur Deidara, tapi usaha itu sia-sia. Ino Ino membunuh mereka dengan mudah. Ia menyingkirkan setiap makhluk yang menghalangi jalannya.
Dalam kepalanya ia hanya mendengar kata-kata yang berdengung bak mantra.
Hancurkan...hancurkan semuanya!
Suara itu terdengar begitu jelas, membuat Ino melupakan dirinya dan niatnya. Ino mengulurkan tangan pada Lilith dan Kekuatan Iblis kuno itu mengubah Ino menjadi instrumen kehancuran.
Sasori membantu Deidara berdiri. Ia merasa khawatir dengan situasi yang sudah berada di luar kontrolnya.
"Aku harus membunuhnya."
"Kau yakin bisa mengalahkannya?" Sasori melirik ke arah pertempuran yang berjalan berat sebelah. Satu persatu anak buah mereka ditumbangkan Ino. "Mungkinkah ia mendapatkan kekuatan Lilith?"
Deidara menyentuh luka di perutnya yang perlahan sirna. "Tak salah lagi, Meski begitu aku harus bisa membunuh Ino untuk melegitimasi posisiku."
"Dei, Tunggu! Dia akan menghabisimu." Teriakan Sasori diabaikan. Deidara kembali melesat ke arah Ino dan menembakkan energi Iblisnya bertubi-tubi tanpa memedulikan orang-orang nya juga akan menjadi korban. Puluhan ledakan menghancurkan alun-alun itu dan Deidara terengah-engah. Tak mungkin Ino selamat.
Bagaikan mimpi buruk, Ino berjalan dan tertawa di antara api, asap, reruntuhan dan mayat-mayat Iblis bergelimpangan. Succubus itu tak terluka sedikit pun.
Deidara terpana. Ia tak pernah melihat ekspresi wajah yang begitu kejam. Seakan yang berdiri di depannya bukan lagi Succubus yang lahir bersamanya. Ino yang terlalu lemah dan lembut menjelma menjadi sesuatu yang mengerikan. Deidara gemetar, tatapan Ino membuat tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak.
"Kau menyedihkan. Aku bahkan bisa mencium ketakutanmu." Ino mengulurkan tangannya mencengkeram leher Deidara. "Kau pikir bisa mengenyahkanku? Akulah yang akan membunuhmu."
"Kau tak layak mendapatkan kekuatan ini." Ujar Deidara sedikit kesulitan karena ia tengah tercekik.
"Mengapa tidak kakak? Aku lah yang terpilih dan bila kau pikir aku tak cukup kejam untuk menjadi seorang Iblis kau salah." Ino menambah tekanan dalam cengkeramannya. Sang Incubus bahkan tak bisa menjerit karena kepala hancur meledak begitu saja.
"Ha..ha..ha..ha..ha.." Ino tertawa dan melemparkan tubuh tanpa kepala milik Deidara ke tanah. Ia bahkan tak menyerap energi Deidara sebab dia sangat kuat.
Ia merasakan kepuasan yang tiada tara melihat musuhnya mati. Tak ada kesedihan dan penyesalan. Mereka harus sadar dia adalah ratu yang terpilih dan siapa pun yang telah meremehkannya harus mati.
"Benar anakku, kau merasakannya? Ini kebahagiaan. Pembalasan dendam. Binasakan semua yang membalikkan punggung mereka padamu. Hancurkan semua orang yang mengabaikanmu. Mereka tak berguna. Dengan kekuatanku kau bisa melahirkan iblis-iblis baru dan kau akan membantuku menghabisi keturunan adam. Kau akan menjadi aku."
.
.
Kerusuhan yang terjadi membuat Gaara dan Sai memasuki wilayah kaum Succubus tanpa terdeteksi. Dari angkasa sang Iblis angin melihat bentrokan antara pasukan pemberontak dan pasukan pendukung Deidara, tapi ia mengabaikannya begitu saja. Gaara hanya fokus pada misinya menyelamatkan Ino. Ia bahkan tak memedulikan Sai yang berusaha keras mengikutinya.
"Gaara, Apa kau tahu kita harus ke mana" Teriak Sai yang kesulitan memecah laju angin.
"Aku yakin eksekusinya berlangsung di lapangan Istana. Deidara menyukai pertunjukan, Dia akan membuat kematian Ino menjadi tontonan." Gaara melanjutkan perjalanannya dan mereka berdua terkejut menemukan kehancuran masif di depan mata mereka. Bahkan Istana bangsa Succubus sudah rata dengan tanah.
"Apa yang terjadi?"
Gaara juga tidak tahu apa penyebab kehancuran ini sebab pasukan pemberontak masih bertempur di dinding luar. Siapa yang begini kuat hingga mampu menghancurkan satu peradaban ras Succubus? Dahi Sang Iblis mengerut penuh tanda tanya. Kemudian bibir tipisnya melengkung dalam seulas senyum tatkala menemukan sosok berambut pirang tampak begitu kecil dari kejauhan, berdiri di tengah-tengah reruntuhan kota.
Ino tak bergeming melihat kehancuran yang dibuatnya. Tempat yang ingin dia lindungi dia hancurkan dengan tangannya sendiri. Mereka yang tak pernah percaya padanya tak pantas mendapatkan kesempatan ke dua. Mereka yang dengan mudahnya terhasut oleh Deidara tak layak mendapatkan perlindungannya. Iblis tak pernah memaafkan.
Ino menghela nafas. Amarahnya belum padam. Menatap kedua belah tangannya dengan kosong akhirnya dia menyadari dirinya bukan malaikat yang terlahir untuk melindungi karena kenyataannya ia tak bisa melindungi siapa pun. Sakura, Sai bangsa vampire dan semua yang berada di dunia mortal mati karena dirinya, karena mencoba melindunginya. Ini terjadi karena kesalahannya. Andai saja ia tak pernah bersembunyi di dunia manusa. Deidara tak akan menargetkan mereka. Ino kembali berteriak melampiaskan emosi negatifnya dengan menghancurkan bangunan yang masih berdiri. Lilith meminjamkan kekuatannya tidak dengan gratis, Ia meminta tubuh Ino agar bisa hidup kembali dan Succubus itu mengiyakan. Tak ada gunanya dia tetap hidup bila semua hal yang ia percaya lenyap. Biar lah dirinya menjadi boneka sang Ibu. Pemikirannya terhenti ketika Ino merasakan dua pancaran energi di kejauahan. Satu dia kenal dengan baik dan yang satu lagi terasa familier, tapi tidak murni. Ekspresi wajahnya menggelap. Masih ada satu hal yang harus ia selesaikan.
.
.
"Sepertinya kita tak dibutuhkan. Ino menolong dirinya sendiri."
"...tapi ini aneh, Ino tak akan pernah melakukan hal seperti ini." Sai merasakan kengerian. Tanah yang dia pijak tak terlihat lantaran dipenuhi tubuh Iblis bergelimpangan. Mereka dibantai tanpa terkecuali, tak ada belas kasihan.
"Ah.. Kau sepertinya lupa kami ini apa, Hal seperti ini terlihat normal."
"Vampire tak begitu berbeda dari Iblis. Bukankah kita terlahir dari kegelapan?"
"...tapi, Iblis tak punya moral kompas. Moral manusia tak berlaku untuk kami. Bahkan ketika aku jadi manusia pun aku masih membuat kekacauan. Kami tercipta untuk menyebar teror."
Sai menatap Ino yang berada cukup jauh. "Aku yakin Ino berbeda. Dia memiliki hati."
Baru saja Sai berkata begitu sebuah bola energi meluncur ke arah mereka. Gaara memunculkan pedangnya dan menebas bola energi keungguan itu sebelum menyentuh mereka. Meski berhasil dipotong, Kontak antara senjata Gaara dan Energi Ino menimbulkan ledakan. Sai buru-buru membuat perisai dan Gaara melindungi tubuhnya dari pecahan puing-puing menggunakan sayap nya.
"What the hell! Mengapa Ino menyerang kita?"
"Dia menganggap aku sebagai musuh. Aku rasa aku harus menjelaskan diriku." Gaara terbang mendekati sang Succubus.
Penglihatan Ino yang tajam tak melewatkan sosok bersayap hitam dan rambut merah mendekat, Ino tidak tinggal diam. Sang Succubus memilih untuk menyambut musuhnya dengan kejutan. Tekadnya bulat ingin memberikan hadiah terakhir bagi Gaara.
Mengingat serangan penyambutan Ino. Gaara tak menduga Ino memilih pertarungan jarak dekat. Ia tak siap ketika Succubus itu mendadak lenyap dan muncul di depannya sambil melayangkan tinju keras di pipi. Serangan Ino meremukkan rahang, beruntung dia Iblis yang bisa pulih kembali dengan cepat.
"Aku tak tahu kau merindukanku sampai seperti ini." Ujar Gaara berkelakar sambil memegang rahangnya yang kembali sempurna.
"Aku memang menunggumu." Ujar Iblis wanita itu dingin. Tak ada perasaan tersisa bagi Gaara yang telah mempermainkannya.
"Bagaimana rasanya Ino? Apa sekarang kau mengerti diriku dengan lebih baik?" ujar Gaara berusaha memancing amarah Ino. Sang Succubus kembali memukul tapi Gaara bisa menahannya kali ini.
Ino ingin melenyapkan sang Iblis angin yang tega menikamnya dari belakang dan juga menyiksanya dan mengapa Ino dengan bodoh memutuskan mempercayainya hanya karena Gaara terlihat bersedia mengorbankan hidupnya demi Ino. Semua yang terjadi hanya kebohongan dan seharusnya dia yang paling tahu seberapa lihai Iblis bisa bermuslihat. Betapa bodohnya ia percaya meski hanya untuk sekejap bahwa mereka memiliki cinta. Darah Ino berdesir dan mendidih ketika pandangan mereka beradu. Gaara tak terlihat merasa bersalah.
"Mengerti? Yang aku tahu kau diam-diam menginginkan aku mati." Ino kembali melancarkan serangan.
Gaara mati-matian berusaha menghindar, ia sama sekali tak mencoba menyerang balik. "Aku tahu kau marah, tapi aku punya alasan."
"Aku tak butuh penjelasan. Aku mau kau mati seperti Deidara."
Gaara malah menyeringai. "dan aku yakin kau akan kesepian."
Ino semakin muak melihat wajah Gaara yang terlihat penuh percaya diri, Meski Gaara adalah Iblis terkuat kekuatan yang dipinjamkan Lilith jauh lebih besar, tak seharusnya lelaki itu menertawainya.
Saat ini Sai hanya mengamati pertarungan dari jarak aman, tak ada cara baginya untuk mengintervensi. Sudut matanya menangkap benda bersinar tertimbun di antara puing-puing. Vampire itu berjongkok dan mengambil amulet yang masih berpendar dengan cahaya aneh dan aura menakutkan. Ia mengantungi amulet dalam saku jaketnya. Ia harus melakukan sesuatu sebab Gaara terlihat kewalahan dan bila Iblis angin itu terbunuh, Sai juga akan lenyap.
"Ah.. kenapa aku bisa sial begini." Sai tahu ia harus mencoba menghentikan Ino membunuh Gaara.
Gaara kian terdesak pertahanannya dihancurkan dengan mudah, meski begitu ia tak tampak takut. Sang Iblis menikmati pertempurannya dengan Ino. Dia lebih dari tahu Ino mungkin tak mau memaafkannya, tapi Gaara puas mengetahui tak akan ada yang bisa melukai Succubus itu lagi.
Melihat Ino tersenyum, Gaara jadi lengah hal itu dimanfaatkan Ino dengan baik. Dengan satu tendangan cepat. Sucubbus itu menjatuhkan Gaara dan merebut pedangnya. Buru-buru Ino menggunakan berat badannya untuk mengunci gerakan lawan. Di lain waktu dan lain tempat posisi mereka sekarang akan terasa erotis, tapi dengan aura membunuh dan tatapan tajam Ino. Gaara tahu hidupnya akan berakhir sekarang, tapi ia tak menyesalinya. Bila apa yang telah ia perbuat sanggup membuat Ino menjadi Iblis yang lebih kuat dari dirinya.
Sang Iblis angin terengah, sayap kuatnya koyak dan tubuhnya kehabisan energi untuk beregenerasi. Terbaring di tanah dengan leher berjarak satu inci dari sisi pedang yang kini dalam genggaman Ino.
Rambut panjang Succubus itu menutupi pandangan Gaara dari sekelilingnya. Yang bisa ia lihat hanya wajah cantik dengan kemarahan yang ditujukan padanya. Gaara tak bisa bergerak lagi, tubuh Ino mendudukinya.
"Mengapa kau masih terlihat tenang?" tanya Ino sambil menggeser pedang Gaara semakin dekat ke leher sang Iblis.
"Aku tak takut."
"Meski aku akan mengakhiri hidupmu?"
"Mungkin aku layak mendapatkannya. Aku bangga kau menjatuhkan aku."
"Mengapa?"
Dengan sisa kekuatannya Gaara meraih rambut Ino dan menggulung helai pirang itu di jarinya. Tanah di bawahnya basah oleh darah yang mengalir dari luka yang tak bisa tertutup. "Karena dari dulu aku percaya kau bisa menjadi kuat. Kepercayaanku terbayar dan Sekarang kau tak butuh aku lagi."
"Mengapa kau mengkhianatiku? Meski aku memberitahumu aku menyesali tindakanku. Meski aku memberitahumu perasaanku yang sebenarnya."
"Itu karena aku ingin melindungimu."
"Bohong...kau berbohong."
"Aku tahu kau tak akan percaya padaku, tapi dengar Ino. Aku berusaha untuk membencimu, aku ingin menjatuhkanmu pada akhirnya aku tak sanggup untuk benar-benar menyakitimu. Menyerahkanmu pada Deidara hanya sebuah strategi untuk membuatnya mempercayaiku dan aku percaya kau bisa bertahan dari siksaan nya."
"Lalu mengapa kau juga menyiksaku? Membuatku semakin lemah di penjara itu."
Gaara tersenyum sendu. "Jika Deidara atau Sasori yang melakukannya mereka akan menyiksamu dengan lebih keji. Bila aku menolak tugas itu dia akan curiga dan rencanaku sia-sia. Kau pikir aku senang melihatmu terluka dan menjerit, tapi Lihatlah di sekelilingmu. Kau telah memenangkan perang ini."
"...Aku. " Ino ragu. Genggaman pedangnya melemah.
"Aku mencintaimu Ino dan bila kematianku membuat hati mu tenang, bunuh saja aku."
"Mengapa kau ragu? Bunuh dia! Sampai kapan kau terbuai kata-kata manis?" Ino mendengar suara dari benaknya. Dia pun mengangkat pedang siap mengakhiri eksistensi Gaara.
"Hentikan Ino, Kau akan menyesalinya." Tangan Sai menghentikan laju pedang yang akan menusuk jantung Gaara.
Wajah pucat Sai membuat Ino membatu. "Mengapa kau di sini? Bukannya dunia mortal sudah hancur?"
"Iblis yang ingin kau bunuh sudah menyelamatkan dunia dan bila kau membunuhnya aku juga akan mati seketika. Jika kau peduli padaku kau tak akan membunuhnya."
"Kau membuat kontrak dengannya?"
" Hanya itu yang mampu membuatku menembus dimensi. Aku hanya ingin melihatmu selamat tak peduli aku harus membayar dengan nyawaku dan Gaara juga begitu. Sadarlah ia tak benar-benar mengkhianatimu."
Ino melempar pedang ditangannya.
"Terlambat. Lilith, Dia akan mengambil alih tubuhku. Kalian menjauhlah." Ino berdiri membebaskan Gaara.
Sai tanpa berpikir membantu sang Iblis berdiri.
"Ino..?" Gaara tertatih mendekati sang Succubus.
"Maafkan aku, ini harga yang harus aku bayar untuk kekuatan yang ku pinjam."
"Lilith hanya sebuah relik, Ia tak terbebas dari segelnya. Kau akan baik-baik saja."
Ino menggeleng. "Dia dalam kepalaku. Lihatlah semua ini. Aku tak ingin suatu saat nanti aku akan menjadi kehancuran kalian." Ino mendekati melangkah mendekati Gaara. "Bangsa Succubus sudah musnah, Aku bukan lagi seorang ratu dan kau Gaara akan memenuhi takdirmu menjadi raja dari para Iblis."
"Aku tak akan menyandang gelar itu. Jangan pergi." Gaara memohon.
Ino menangkup pipi Gaara di telapak tangannya, Menatap ke dalam mata jade pucat sang Iblis yang terlihat hancur. "Aku tahu saat aku sepenuhnya kehilangan kesadaranku aku hanya akan menjadi pembawa kehancuran. Aku tak ingin menjadi Iblis yang seperti itu. Aku tak ingin menghancurkan dunia. Berjanjilah padaku, bila kau menjadi pemimpin para Iblis jangan membuat peperangan."
Gaara menggenggam tangan Ino. Mungkin ini terakhir kalinya ia bisa melihat Succubus itu. Hatinya berasa hancur karena ia bisa menebak ke mana wanita itu akan pergi. Ada suatu tempat di mana Iblis yang dibuang tak bisa kembali dan tak bisa terlahir kembali, Mereka menyebutnya Jurang Lazarus.
"Aku berjanji."
Ino meneteskan air mata. "Maaf aku selalu meragukanmu." Ino mencium Gaara.
"Tak ada cara lain?"
Ino tersenyum pahit. "Apa kau bisa menusukku tepat di jantung sekarang?"
"Tidak, Aku tak ingin membunuhmu."
"Jika aku tak mati aku akan menghabisi kalian." Ino sudah merasakan murka Lilith di permukaan. Meski hanya sekeping fragmen jiwa. Ino kesulitan mengatasi kekuatan yang mencoba mengambil alih pikirannya.
"Saat kalian bertarung. Aku menemukan ini di reruntuhan." Sai menyerahkan amulet Lilith pada Ino.
"Terima kasih Sai, Tolong beritahu Sakura untuk menjaga dirinya."
Sai melirik Gaara. "Aku mungkin akan lenyap juga. Keinginanku untuk menyelamatkanmu sudah terpenuhi dan saatnya aku membayar perjanjian ini."
Kali ini mata Ino menyipit memandang Gaara. "Jangan kau berani mengubah Sai menjadi Husk."
"Sekarang pun kau masih peduli pada Vampire sial ini." Gaara mendengus sakit hati.
Ino menarik nafas "Aku juga berhutang banyak pada Sai dan terserah padamu saja sekarang. Percuma kau cemburu padaku yang akan pergi."
Gaara menarik tangan Ino dan mendekap Succubus itu dalam pelukannya.
"Kau akan terus menghantuiku."
Tubuh Ino gemetar dan Gaara bisa merasakannya, Sang Succubus berjuang menahan desakan untuk membunuh pria yang sedang memeluknya. Ia sekuat tenaga melawan Lilith yang sedang mengambil alih pikirannya.
"Aku harus pergi sekarang." Ino melepaskan dirinya dari pelukan Gaara dan terbang secepat mungkin.
Gaara hanya bisa menatap hingga Succubus itu menghilang dari pandangan.
"Kau membiarkan Ino pergi begitu saja?"
"Apa yang kau harapkan? Aku tak bisa membantu Ino memerangi musuh yang tak terlihat. Aku tak menyangka membunuh Deidara membutuhkan pengorbanan seperti ini."
"Pada akhirnya tak ada yang mendapatkan Ino."
Gaara tertawa, "Kau bodoh kalau berpikir bisa memiliki seorang Succubus. Aku tak pernah berpikir bisa memilikinya."
"Bagaimana denganku?" tanya Sai pada Gaara.
"Kembalilah ke dunia mortal. Aku tak akan mengambil kehidupanmu sekarang, andai Ino kembali dan menemukanmu menjadi Husk dia akan membenciku lagi."
"Kau pikir dia akan kembali?"
"Aku tak tahu, Aku hanya ingin tetap berharap."
.
.
"Apa kau bodoh! Menyerahlah berikan tubuhmu padaku?"
Ino berdiri di mulut lubang yang begitu dalam. Dasarnya tidak terlihat, hanya hitam pekat.
"Aku tak bisa membiarkanmu menggunakan tubuhku untuk menghancurkan semua yang aku lindungi." Ino membulatkan tekadnya.
"Kau tak akan bisa menentangku. Kebangkitanku sudah dekat" Lilith melebarkan jangkauannya, Kesadaran Ino tak lagi bisa membendung kekuatan yang menguasainya.
Dengan segenap tekad Ino melempar tubuhnya dalam lubang hitam yang menarik segalanya. Dia terjatuh dan menutup mata. Di lain waktu ia berharap terlahir menjadi mortal dan menemukan kebahagiaan sederhana.
"Selamat tinggal, Gaara." Ino berbisik lirih dan membiarkan kegelapan menelannya.
Author Notes : Aw.. lega, setelah sempat hiatus 2th. Akhirnya fanfic ini kelar juga, meski gak sesuai dengan konsep awalnya. Masih ada Epilog koq. Terima kasih buat yang masih setia di sini membaca tulisan tulisan yang makin acak adul..
