ezrangevine
PROUDLY PRESENT
U T U H
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
mereka adalah dua yang separuh
berharap dengan bersatu
mampu menjadi utuh
.
.
happy reading!
.
Hinata baru saja menyelesaikan ritual mandinya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Masih dengan handuk yang tersampir di bahu dan tangan yang bergerak pelan mengeringkan surai-surai indigonya, ia mendekati ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Mulanya, ia pikir adalah Tenten yang berusaha menghubunginya, mengingat wanita itu berkata akan datang bermalam di apartemennya bersama si kecil Reiji karena Neji sedang pergi melihat keadaan perusahaan cabang H-Pharmacy di luar negeri. Namun dugaannya salah. Alih-alih nama kakak iparnya, yang tertera disana malah nama Sasuke Uchiha, berkedip lambat dan membuatnya mematung sesaat. Butuh lima detik bagi Hinata untuk benar meyakinkan diri dan menerima panggilan pria itu pada akhirnya.
"Halo?" Buka Hinata pelan, alisnya bertaut menanti jawaban dari seberang sambungan, sementara sebelah tangannya masih asyik berusaha mengeringkan rambut dengan handuk yang setia tersampir di bahu.
Sasuke sendiri, dari seberang sambungan, tak langsung menjawab. Dan bila saja pria itu menyahut sedetik lebih lambat, sudah bisa dipastikan Hinata akan jadi satu-satunya yang kembali bersuara. Melontarkan tanya dalam gamam lalu menarik kesimpulan bahwa bisa saja si tunggal Uchiha itu hanya tanpa sengaja menekan kontaknya. Namun kenyataannya tidak demikian, sebab meski ada kegamangan dalam suara baritonnya yang berasal dari seberang sana, Sasuke berujar menyahutinya. Pria itu melemparkan tanya yang langsung ke inti dan tanpa basa-basi, "Apakah kau sedang senggang?"
Alis Hinata bertaut kian tinggi, tidak benar-benar mengerti dengan pertanyaan Sasuke yang menyergapnya. Lantas, separuh linglung, ia menjawab pelan, "Kau bisa bilang begitu, kurasa." Kini kerut-kerut perlahan tercipta di dahinya. "Apakah ada yang bisa kubantu?"
Lagi, Sasuke tak segera menjawab. Ia seolah ragu akan sesuatu, hal yang kontan membuat Hinata menghentikan aktivitasnya untuk memusatkan perhatian penuh terhadap gumaman-gumaman samar yang pria itu timbulkan dari ujung sambungan telepon. Meski tidak bisa menangkap apapun itu yang Sasuke perdebatkan dalam gumamannya, Hinata tak berkomentar. Ia hanya menunggu dengan sabar, sampai lepas detik demi detik berlalu, pada akhirnya Sasuke kembali mematahkan bisu yang membelenggu dengan kalimat yang sepenuhnya audibel, "Aku ada di lobi apartemenmu."
"Eh?" Hinata mengerjapkan mata beberapa kali, kaget. Meski bukan dalam tanya, tetapi Sasuke berhasil menyergapnya lagi. Handuk yang semula ia pegang bahkan kini jatuh dan kembali lunglai melingkari bahunya lantaran ia benar terkejut. Lambat, Hinata masih berusaha mencerna ucapan Sasuke. Kalau-kalau ia salah mengartikan kalimat pria itu dan barangkali ada maksud lain di baliknya. Namun sekalipun otak kecilnya berputar dengan kekuatan penuh, rasanya tak ada makna ganda dalam kalimat sederhana yang pria itu lontarkan. Sasuke memang bermaksud sebagaimana adanya, tetapi karena memang dasarnya Hinata keras kepala, ia tetap memastikan, dalam kalimat Sasuke yang ia ulang dengan perlahan-lahan, "Kau… ada di lobi apartemenku?"
"Bukankah itu yang baru saja kukatakan padamu?" Sasuke terkekeh pelan, dan entah bagaimana Hinata bisa membayangkan kegelian dalam sirat ekspresi pria itu di seberang sambungan.
Bersama konfirmasi Sasuke yang mengudara, Hinata dengan serta merta bergerak kelimpungan. Ia tidak tahu apa alasan Sasuke tiba-tiba muncul di lobi apartemennya tanpa pemberitahuan. Dan yang lebih penting lagi, ia sedang tidak dalam mode siap menerima tamu. Satu-satunya yang siap ia lakukan setelah ini hanyalah duduk bersantai di ruang tengah, sambil menanti kedatangan Tenten serta keponakan kecilnya yang tentu tak bisa dihitung sebagai salah satu dari itu. Namun terlepas dari maksud kunjungan Sasuke malam ini, Hinata merasa tak seharusnya ia membuat pria itu lama menunggu.
Bersama gerakan cepat dan masih dengan telepon yang melekat erat di telinga, Hinata mengambil langkah-langkah besar ke depan cermin. Ia baru saja melemparkan handuknya ke atas gantungan ketika tangannya terantuk tepian meja dalam bunyi buk keras dan bibirnya kecolongan melemparkan rintihan pelan. Ia mengibaskan tangannya di udara, kesakitan. Sementara kemudian alunan tawa Sasuke menyapa gendang telinganya. Kebimbangan yang semula pekat melekat dalam suara pria itu hilang, terlebih ketika ia dengan begitu ringan dan tanpa aba-aba menyuarakan gurauan, "Pelan-pelan saja, aku tidak akan kemana-mana."
Hinata merapatkan bibir, malu. Sasuke pasti berpikir kalau ia orang yang ceroboh sekarang, dan karena tak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh lagi, maka setelah mencicitkan, "Aku akan segera turun," dalam suara rendah, ia memutuskan sambungan panggilan mereka.
Meletakkan ponsel di atas meja, Hinata memusatkan mata untuk memandang pantulan dirinya di cermin. Dan inilah yang ia maksud dengan tidak berada dalam mode untuk menerima tamu—yaitu tampilannya yang kelewat sederhana dalam balut pakaian santainya yang biasa. Kaus usang yang ia kenakan sudah amat lama bertengger di lemarinya, dalam warna merah yang pudar entah sejak kapan, sementara celana pendeknya yang jatuh di pertengahan paha terbuat dari bahan jeans tipis yang sudah kusam. Setelan untuk tidur, begitu Hinata menyebutnya, nyaman meski serampangan dan tak sesuai dengan citranya di luaran. Namun sekalipun terbersit pikiran untuk berganti pakaian, dengan Sasuke yang sudah hadir di bawah sana, jelas itu bukan pilihan.
Dan setelah melewati pertimbangan panjang, pada akhirnya Hinata memutuskan untuk melapisi pakaiannya dengan kardigan saja. Pilihannya jatuh pada kardigan hitam panjang yang menggantung layu di balik pintu. Yang mana ketika kardigan itu dipakai, ujungnya jatuh di bawah lutut dan mampu menutupi penampilannya yang sembarangan. Lalu lepas memastikan penampilannya sekali lagi, dan menata rambutnya yang masih setengah basah untuk tampak lebih rapi, barulah Hinata beranjak pergi.
Beruntungnya, setelah berhasil melintasi apartemennya dan mengenakan sandal, ia memasuki lift yang dalam keadaan kosong melompong. Tak butuh waktu lama untuk menuruni lantai demi lantai guna sampai di lobi tanpa harus berhenti dan memecah destinasi. Maka jadilah, ketika lift berdenting terbuka, sepasang kaki jenjangnya segera berpacu keluar seiring dengan mata yang memindai seisi lobi.
Tidak sulit untuk menemukan Sasuke di tengah lobi yang lengang. Terlebih ketika pria itu berdiri di seberang lift dan tampak mencolok dalam balut setelan formal yang mulai berantakan. Tubuhnya bersandar ke dinding dalam pose kasual, dengan kepala menghadap jendela yang mengarah langsung ke lahan parkir. Sasuke tampak tenang dan tak terusik sama sekali. Padahal dari tempat Hinata berdiri, ia bisa melihat sederet pegawai wanita yang menjulang di balik meja resepsionis secara terang-terangan sedang memandanginya sambil sesekali berbisik dan terkikik.
Sesaat, Hinata mengulas senyum tipis. Para wanita itu tengah terpesona, dan ia tentu tak bisa menyalahkan mereka. Terlalu lama memandang Sasuke sebelah mata di balik embel-embel sahabat mantan suaminya, ternyata membuat Hinata lupa, bahwasanya si tunggal Uchiha yang berdiri jauh di seberang ruangan itu sesungguhnya kerap menyabet gelar sebagai bujangan paling diidam-idamkan. Ia terlalu sibuk berpusat pada Naruto, yang senyumnya secerah mentari pagi, sampai-sampai tak menyadari bahwa di sisi sang Namikaze ada sosok yang punya pesona dan misteri bak rembulan di hamparan karpet malam.
Berjalan dalam langkah yang perlahan melambat dan tanpa suara, Hinata memangkas jarak di antara mereka. Sasuke masih tak menyadarinya. Pria itu tampak asyik dalam lamunan dengan sepasang mata yang pandangannya kosong terlempar ke luar jendela. Baru ketika jarak mereka tinggal terpaut satu meter, Sasuke menolehkan kepala dan serta merta menegakkan tubuh ketika mendapati Hinata dengan mata kepalanya. Pria itu jelas terkesiap, tetapi topeng stoiknya apik mengendalikan suasana. Dan di tengah keterkesiapan Sasuke yang samar juga ruang yang tak seberapa di antara keduanya, Hinata kini mampu melihat bingkisan kotak bekal tertaut manis di sela jemari Sasuke. Itu bingkisan yang ia kirimkan siang tadi. Senyum sang dara merekah, dan dengan seketika ia paham apa yang menyebabkan Sasuke tiba-tiba datang mengunjunginya di waktu tak terduga.
"Apakah kau menunggu lama?" Hinata buka suara lebih dahulu, basa-basi. Ia sudah menghentikan langkah dan mengambil posisi tepat di sisi Sasuke dengan tangan yang merapatkan kardigan juga kepala yang samar menengadah supaya mampu memandang pria itu tanpa kesulitan. Dan ketika mendapat jawaban singkat berupa gelengan, ia kembali melanjutkan, "Kau datang untuk mengembalikan itu?" Dagunya bergerak samar, mengarah ke kotak bekal dalam jinjingan Sasuke.
Mengangguk, Sasuke menyodorkan bingkisan itu ke arah Hinata. "Untuk satu dan lain hal, iya." Namun sekalipun tangannya bergerak ke satu sisi, matanya bergerak ke sisi lainnya. Ia mengamati Hinata dari ujung kaki ke ujung kepala. Mencatat dalam hati bahwa nyatanya sang jelita juga manusia, ada momen-momen tak siaga dan tak selalu berbusana bak putri raja. Meski ujungnya pun Sasuke perlu menambahkan, terlepas dari pakaian apapun itu yang melekat pada sang dara, ia selalu cantik seperti sebelum-sebelumnya.
"Padahal kau tak perlu mengembalikannya buru-buru," Hinata berujar pelan, tak enak hati. Bersamaan dengan itu, tangannya terulur, menerima bingkisan yang dikembalikan Sasuke.
Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya singkat, separuh tak acuh dan separuh ragu. Kepalanya menghindari Hinata dengan sepasang mata yang bergulir lagi keluar jendela, "Aku hanya merasa perlu bertemu denganmu," katanya dengan ujung yang menggantung di udara. Sesaat ketika kerut nyaris terbentuk di dahi Hinata, seolah menyadari apa yang baru saja ia katakan, dengan buru-buru Sasuke menambahkan, "untuk menyampaikan terima kasih."
Tawa Hinata mengalun rendah dan cepat. Serta merta mengubah atmosfir di antara mereka dalam situasi ringan yang menyenangkan. Dan sejurus kemudian, saat tawa wanita itu benar mereda, bibirnya menyuguhkan lagi seulas senyum yang kini dipenuhi humor dengan kentara. "Jadi, bagaimana rasanya punya jeda dari makanan kalengan?"
Tersenyum separuh, Sasuke mengembalikan fokusnya pada Hinata. Selalu menyenangkan melihat sang jelita dalam kial jenaka, sisi yang selalu membuatnya bertanya-tanya sejak kapan bersemayam disana. Dengan bibir tipis yang merekah juga sepasang permata yang berkilat dalam girah, Hinata selalu berhasil mencuri atensinya.
"Langsung saja ke intinya kalau kau memang ingin bertanya tentang bagaimana rasa masakanmu," balas Sasuke remeh. Senyum separuhnya mengembang lagi, berubah jadi seringai tipis ketika Hinata pura-pura mengirimkan tatapan sinis. "tidak perlu khawatir, rasanya tidak seperti sampah, kok."
Hinata mendesah, sorot sinis yang ia buat-buat hilang sudah, berganti dengan air muka kecewa yang juga sama pura-puranya. "Tidak ada pujian? Aku kecewa." Wanita itu menyilangkan tangan di depan dada, bersedekap dengan bibir yang mencebik sesaat. Lagi, Hinata masih menunjukkan sisinya yang berbeda, menampilkan sosoknya yang tak hanya jenaka, tapi juga menggoda.
Sasuke tak menjawab. Ia hanya mendengus pelan dan tertawa kemudian. Tungkainya mengambil satu lengkah mendekat pada Hinata, dan bersama sudut bibirnya yang tertarik ke satu sisi, ia mengetuk dahi sang jelita dengan dua jari. "Jangan serakah," katanya dalam balut humor yang samar ikut mengudara. "tidak seperti sampah itu juga pujian."
Sambil mengusap dahi dan mengernyitkan hidung barang sedetik, Hinata tertawa lagi. Kali ini gelengan kepala ikut menyertai, sebab terlepas dari percakapannya dengan Sasuke yang kini bisa dengan mudah mengalun ringan dalam canda serta guyonan, nyatanya pria itu tetap tak jauh berubah. Ia tetap minim reaksi, baik dalam tutur maupun aksi. Namun senyum yang kerap hilang timbul menghias bibirnya, membuat Hinata perlu mengakui, betapa nyatanya wajah dingin itu terlihat jauh lebih baik dengan bibir yang melengkung naik.
Lepas tawa Hinata lenyap dari udara, tak lagi ada yang bersuara. Sang dara hanya diam dengan senyum yang tak kunjung sirna. Tangannya bertaut di depan, menggenggam bingkis kotak bekal kosong yang beberapa saat lalu Sasuke berikan sambil sesekali memainkan pegangannya. Sementara Sasuke sendiri kehabisan kata-kata. Melihat Hinata dalam jarak sedekat ini tanpa konversasi yang mengalir untuk menemani membuat kegamangannya kembali lagi. Dan bersama dengan itu, ekspresi merana ikut serta naik membayangi wajahnya.
Sepasang permata oniks Sasuke lurus memandang wajah Hinata lekat-lekat. Dan untuk sesaat, di lobi yang samar penuh dalam derap rendah suara kaki orang yang berlalu lalang, segalanya menyusut di balik pelataran. Hanya ada Hinata. Berdiri di depannya dalam nuansa sederhana yang biasa. Bersama senyumnya yang tanpa sadar berhasil membuat jantung Sasuke bertalu menekan dada, serta menerjangnya dalam sengat arus rasa bersalah yang tak terkira.
Ragam probabilitas menyeruak bak debur ombak di tengah waktu yang tak bisa ia perkirakan berjalan dalam dentang yang melesat cepat atau lambat. Ada seratus hal dalam kepalanya, tetapi sembilan puluh sembilannya jelas hanya seputar pernak-pernik terkait Hinata. Ia sudah gila… benar-benar sudah gila. Tetapi wanita di hadapannya tampak tidak tahu apa-apa. Entah karena sejatinya Hinata tidak pernah melihatnya sebagai seorang pria, atau justru karena ia memang sedang menjadi keparat yang begitu mahir sembunyi dalam rahasia—sedemikian berani menyimpan rasa ketika sang jelita bisa saja masih dalam masa berduka.
Sasuke menahan keinginan untuk mengurut pelipisnya, gestur yang ia lakukan tiap kali merasa tak nyaman dalam pikiran-pikiran tak bertuan. Sementara Hinata sendiri masih sama seperti sebelumnya. Berdiri tenang dan tak bersuara, kelihatan nyaman-nyaman saja dalam keheningan di antara mereka. Yang mana bila saja Sasuke sedang tak berada dalam rengkuh kegamangan yang menyiksa dada, pasti juga tak keberatan untuk ikut larut dalam suasana.
Lagi, mereka beradu pandang. Dan betapa ketika Sasuke meleburkan diri dalam kedip sepasang ametis yang menyorotnya tanpa intensi, pada akhirnya ia harus menelan kekalahan bulat-bulat. Ia mendesah, resah. Namun kemudian memutuskan untuk menyuarakan hal terakhir yang mengganggunya kali ini, dalam harapan reaksi Hinata akan mampu membuatnya waras kembali, memaksanya berdiri di balik dinding seperti yang semestinya, dan tak lagi berpikir untuk mencoba peruntungan dalam peluang yang bisa saja hanya fatamorgana.
"Aku bertemu Naruto hari ini," ucap Sasuke rendah. Suaranya tenang seperti biasa, meski jelas bibirnya yang tertarik ketat seolah ia baru saja mengucapkan putusan hukuman mati tak membuktikan demikian.
Ada sesuatu yang berubah dalam air muka Hinata barang sesaat, sebuah kilat yang hanyaa sesaat tampak dalam sorot matanya. Dan tentu hal itu tidak Sasuke lewatkan. Hinata jelas tak mengira percakapan terkait Naruto akan kembali terlontar dari Sasuke, meski agaknya tiap kali ia bertemu pria itu, selalu saja ada topik yang bersinggungan dengan mantan suaminya. Namun guna mengendalikan emosinya, Hinata mengerjapkan mata. Ia berusaha untuk menekan segala hal berkenaan Naruto yang masih seringkali bertandang dalam kepalanya jauh ke belakang, walau ketika ia menggigit bibir bawahnya secara instingtif, Sasuke langsung tahu bahwa dalam benak sang dara kini pasti penuh oleh kelebat bayang pria lain yang bukan dirinya.
Hinata mengalihkan mata, memusatkan pandangan pada dinding di balik punggung Sasuke seolah-olah catnya yang sewarna gading lebih menarik daripada pernyataan sang Uchiha yang baru ia dengar. Bahunya mendadak terasa berat, seperti yang selalu terjadi tiap kali nama Naruto menyapa gendang telinganya. Seketika ia merasa begitu kecil dan tak punya kuasa, dan miris karena merasa seolah ia adalah wanita tanpa pendirian yang kerap bergelayut manja di masa lalu, padahal sebetulnya ia sendiri telah memutuskan dimana akhirnya.
Ada banyak pertanyaan yang kini terlintas dalam hatinya, berseru dan menderu mengujar kuriositas yang tak terbendung. Tapi ia masih bungkam. Belakangan ini ia berusaha sebisa mungkin untuk tak memikirkan Naruto, dan bisa saja benar berhasil bila seandainya Sasuke tidak kerap membawa serta nama sang mantan suami ke hadapnya. Ia tengah belajar untuk menerima kesendiriannya, yang mana bisa saja akan jadi lebih mudah dijalani ketimbang terus bergantung pada pria yang pernah ia cintai—masih ia cintai, dalam mimpi yang entah bisa terpenuhi atau tidak sama sekali. Namun mungkin jalannya tak bisa semulus yang ia mau, sebab lagi-lagi berjuta memori membanjir lagi. Dan kini membuat dadanya penuh sesak, lagi-lagi oleh kuriositas, yang entah pantas untuk dituntaskan atau tidak.
Sasuke menelengkan kepala, dahinya berkerut. Ekspresi merana itu masih ada disana, kian pekat meski terbentuk lamat. Dan ketika jemarinya meraih sejumput rambut Hinata yang separuh basah, memilin surai halus itu dengan jemarinya kikuk bergerak pelan, ia bertanya, sekalipun dalam hati berharap tanyanya tak akan disambut Hinata, "Kau tidak ingin tahu bagaimana kabarnya?"
Atensi Hinata bergulir dari wajah Sasuke dengan begitu cepat, hampir-hampir tak terlihat. Bahkan kini kepalanya terarah ke sisi berlawanan, membuat surainya yang semula bertaut dalam lembut jemari Sasuke tergelincir jatuh kembali ke balik punggungnya. Wanita itu memejamkan mata, barang sedetik saja, sebelum kemudian memutuskan untuk tunduk pada kuriositasnya bersama embus napas yang lugas, "Bagaimana kabarnya?"
Atmosfir di sekeliling mereka berubah dengan amat cepat, bak terjun dari puncak paling tinggi dari percakapan menyenangkan yang terasa seringan bulu, menjadi dialog muram yang setengah hati dilaku. Sasuke sendiri sedikit banyak menyesalinya. Pikiran tentang Naruto memang mengganggunya, sebab saat ini ia tengah bergumul dengan perasaan bersalah yang mungkin saja dapat Hinata tuntaskan kalau-kalau wanita itu mampu menamparnya dengan fakta, satu yang telak menegaskan bahwa perasaan anyar yang belakangan ini menyergapnya adalah sesuatu yang tak sepantasnya ia miliki. Namun alih-alih beres dengan tuntas, perasaannya malah mengalir menyasar Hinata kian deras. Ia benci—amat benci, ketika mengetahui bahwa sekalipun Hinata benar telah menyuguhkan segelas fakta yang dinginnya mencengkeram dada, tapi hatinya masih tetap saja berkhianat.
"Menderita," jawab Sasuke pendek, lalu dalam hati menambahkan dengan suram, seperti aku. Obsidiannya berusaha mencari secercah ekspresi yang mungkin akan segera terpatri di wajah Hinata, namun wanita itu masih sembunyi di balik helai indigonya yang menggantung halus bak tirai yang tengah berupaya menyembunyikan sekelebat misteri. Menahan desah resahnya, Sasuke bisa merasakan kini keraguan kembali meremas hatinya. Begitu keras sampai rasanya ia bisa saja meledak dan seketika mati di tempat kemudian. Namun dalam kalimat yang meluncur dari lidahnya bak abu dari sisa pembakaran, Sasuke menuturkan hal pahit yang lagi-lagi ia harap bisa mengembalikan kewarasannya, "Naruto… dia masih mencintaimu."
Hinata menolehkan kepala, matanya menangkap sepasang jelaga Sasuke, lalu ia tersenyum hampa. "Senang mengetahui bahwa aku tak bertepuk sebelah tangan."
Kalimat itu punya unsur jenaka, tetapi ketimbang membuatnya tertawa, Sasuke malah bisa menangkap kesedihan yang samar merayapi wajah sang jelita. Satu yang membuat Sasuke meringis dalam hati. Ia memang sudah mempersiapkan diri untuk mendengar hal serupa, namun nyatanya respon Hinata tetap meninggalkan efek yang tak ia duga. Kalimat dara satu itu jelas memberitahunya bahwa Hinata jelas masih menaruh rasa pada sahabatnya, meski tak diutarakan secara terang-terangan kata demi kata. Namun lagi-lagi, bak bebal tak tertolong, di antara himpitan fakta juga harap penuh cita yang tololnya tak terkira, Sasuke buka suara, nadanya berada di ambang tanya meski sebetulnya yakin betul tengah membeberkan fakta, "Kau masih mencintainya…"
Hinata terkekeh, pelan dan rendah. Namun ini bukan kekehan yang biasa wanita itu alunkan. Yang satu ini kedengaran hampa, tanpa ada humor apalagi secercah rasa yang biasanya mampu menghangatkan dada. Di antara lantunan nada yang menguar dari bibir sang jelita, betapa Sasuke berharap Hinata kemudian membantah kalimat terakhir yang ia ujar. Namun lagi-lagi ia harus menelan kecewa, sebab Hinata menelengkan kepala pada satu sisi, menyibakkan surai-surai indigonya ke balik punggung dalam gestur yang di mata Sasuke nampak pekat dalam semerbak pilu, lalu menyuarakan hal yang tak jauh beda seperti kala mereka bertukar konversasi di malam amal kepunyaan Sabaku.
"Perasaanku ini tak punya sakelar yang bisa dikondisikan sesuai kebutuhan, Sasuke." Hinata mengulas senyumnya, sayu. Matanya bahkan tak tergerak ketika mengutarakan hal itu. "Aku menghabiskan banyak waktu untuk mencintainya sebelum ini, dan kurasa hal itu tak akan bisa berubah dalam jangka waktu dekat sekalipun kami sudah berpisah."
Sasuke memalingkan muka, kelihatan kecewa. Hinata sendiri tidak tahu mengapa Sasuke bersikap demikian, dengan kegamangan dan ekspresi merana yang kerap merayap di wajah pria itu, satu-satunya yang bisa Hinata asumsikan adalah bisa saja Naruto meminta si tunggal Uchiha untuk mencari tahu sesuatu. Atau justru Sasuke sendiri yang berinisiatif untuk meluruskan apapun itu di antara Hinata dan Naruto. Namun agaknya kedua hal tersebut bisa saja pendapat bias semata, terbentuk akibat nelangsa yang masih hilir mudik dalam benak Hinata lepas berpisah dengan sang Namikaze.
Hinata menarik napas panjang, berusaha menjernihkan pikiran. Ia berusaha untuk tetap positif dan tersenyum kemudian. Dengan Sasuke yang kerap membisu serta tampak larut dalam apapun itu yang silih berganti memenuhi kepalanya, ia melangkah maju. Terlepas dari apapun itu, ia tak ingin masalahnya dan Naruto ikut serta membebani Sasuke. Jemarinya yang bebas menyentuh lengan pria itu, hangat. Sasuke sendiri sedikit terperanjat dengan gestur sang jelita, menoleh dengan serta merta dan menangkap mata Hinata yang memandangnya dengan atentif. Samar, ia bisa merasakan ibu jari Hinata bergerak melingkar di lengannya, halus dan lamat, seakan berusaha mengirimkan gelombang aman yang entah bagaimana terasa menenangkan.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan," ujar sang jelita setelah beberapa saat. Tangannya masih bertengger halus di lengan Sasuke. Sebuah kontak platonik yang meski jelas ia pahami tapi tetap membuat darahnya berdesir dengan tak tahu diri. "tetapi bila air muka merana dan segala kebimbanganmu ini berasal dari permasalahanku dengan Naruto, tolong jangan membebani dirimu sendiri."
Sasuke menangkup tangan Hinata, menggenggam jemari lentik wanita itu sesaat sebelum menurunkannya. Ia pikir keahliannya dalam menyembunyikan segala raut muka sudah cukup mumpuni, tetapi nyatanya Hinata tetap bisa melihat menembus segala topengnya. Dalam diam, ia merapatkan bibir guna menahan segala seruan yang memaksa untuk diutarakan. Sebab sekalipun yang Hinata katakan tak salah, tetapi bukan itu intinya. Yang membebani Sasuke saat ini adalah kebodohannya sendiri, menjatuhkan hati pada mantan istri sahabatnya hingga pada akhirnya kelimpungan seorang diri.
"Sungguh, Sasuke," Hinata berujar lagi, kali ini seraya menengadahkan kepala dan memandang Sasuke tepat di mata. Masih ada sisa-sisa kesedihan dalam wajahnya, tetapi kini ada sesuatu yang lebih tegas—lebih tegar, menutupi itu semua. Sang jelita tengah berkeras pada pendiriannya, dan betapa ia tak ingin ikut serta membawa Sasuke dalam pusaran masalah keretakan rumah tangganya yang sudah berlalu, "aku benar-benar berterima kasih, karena tampaknya sejak kabar itu menyebar kau selalu ada, tapi jangan melibatkan dirimu untuk sesuatu yang bahkan sudah berlalu. Aku memang masih mencintainya, dan sekalipun dia merasakan hal yang sama, semua itu sudah berada jauh di belakang kami berdua."
Sasuke mengangguk, kikuk. Dengan canggung, ia memaksakan seulas senyum. Hinata salah paham, benar-benar salah paham. Namun Sasuke tahu ia tak bisa dengan semena-mena menyatakan apa yang sesungguhnya. Sebab perasaan ini, perasaannya terhadap sang dara yang anyar dan aktif berpijar, adalah satu yang serba salah—sesuatu yang bila diungkap akan merusak, tetapi jikapun dipendam membuatnya sesak.
Ia mengembuskan napasnya melalui mulut perlahan beberapa saat kemudian, nyaris tak kelihatan. Lalu sejurus setelah itu, membiarkan benaknya melayang jauh dalam lamunan. Tak ada satupun yang terasa tepat saat ini, kendati demikian, ia tetap tak bisa memperbaiki hal-hal itu. Kakinya masih berdiri di perbatasan, dan ia belum memutuskan harus bergerak kemana. Pun sama dengan ragam tutur yang sudah sampai di ujung lidahnya, belum ia tentukan mana yang harus mengudara. Apakah sebuah dusta untuk setuju-setuju saja terhadap penuturan Hinata yang sebenarnya punya ribuan celah untuk ia sanggah, atau justru fakta yang bisa saja membuat sang dara lari tunggang lenggang karena keberanian sekaligus kebodohannya. Sasuke masih tak tahu. Namun saat ia kembali menjejak realita, dan matanya lagi-lagi melihat Hinata berdiri masih dengan kepedulian yang tak kunjung hilang, seketika ia luluh lantak.
Bibirnya terbuka, dengan lirih lalu ia bertanya, menyuarakan kuriositasnya yang menyiksa, "Bagaimana bisa kau mencintainya sedemikian rupa?"
Hinata tersenyum, kali ini tampak tulus dengan mata yang diliputi kabut mimpi masa lalu. Ia seolah larut dalam kenangan barang sesaat sebelum menjawab, "Naruto adalah cinta pertamaku dan akan selalu begitu." Mengambil jeda sesaat, sang jelita memilih mengarungi samudera ingatan dimana segala hal yang berkaitan dengan mantan suaminya masih manis terkenang. Tanpa konflik apalagi dibumbui keinginan yang tak terjamah. "Saat kau mencintai untuk pertama kali, kau tidak tahu seberapa banyak cinta akan cukup untuk sama dibagi. Kurasa itulah alasan mengapa aku mencintainya sedemikian rupa."
Sasuke merapatkan bibirnya, tak terima dan separuh gundah. "Bila memang ia adalah yang pertama, darimana kau tahu kau mencintainya?"
Hinata terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala kemudian. Sejurus setelahnya ia menengadahkan kepala, mengernyitkan dahi dengan bibirnya yang melempar senyum menggoda. Kesedihan benar sirna dari wajah sang jelita, dan betapa Sasuke benar-benar merana melihat wanita itu masih punya seberkas rona bahagia hanya karena membicarakan pria yang bukan dia. Pria yang adalah mantan suami sang dara sekaligus sahabatnya. Pria yang sebelum ini tak pernah terbersit pikiran barang sedikitpun akan menjadi sosok yang membuatnya iri setengah mati.
"Sebab dia adalah yang pertama membuatku merasa berbeda." Hinata tampak berpikir sejenak, menghentikan kalimatnya dan membiarkan kepala kembali menyelami masa lalu. "Sekalipun kala itu bukan aku yang menjadi fokusnya, tetapi dalam momen singkat yang seringkali tanpa sengaja kami habiskan bersama, aku bahagia. Hal itu yang meyakinkanku." Penuturan Hinata membuat Sasuke bungkam seutuhnya. Pria itu tentu tahu betul kemana tiap-tiap kata yang terlontar dari bibir wanita itu mengarah—tentang kisah cinta mereka yang tak semulus orang-orang kira, dimana mulanya Naruto bahkan hanya bisa melihat Sakura. Tetapi yang membuatnya terhenyak secara penuh bukan hanya itu. Satu yang membuat isi perutnya bergolak dan mendadak mual adalah fakta bahwa apa yang Hinata tuturkan bisa sepenuhnya ia pahami tanpa kesulitan—sebab itulah yang ia rasakan!
Sasuke merapatkan bibirnya, frustasi. Segala hal terkonfirmasi kini: Sasuke Uchiha benar-benar tidak hanya gila, tetapi ia juga baru saja jatuh cinta. Dan kini, itu bukan lagi praduga.
Hinata menelengkan kepala, matanya membola memandang Sasuke yang entah mengapa tiba-tiba membatu di hadapannya. Dengan jari telunjuk yang terhunus ke depan, si sulung Hyuga menyentuh lengan Sasuke, membuat pria itu mengerjap dan terkesiap. Hinata tertawa lagi, tampang stoik Uchiha di depannya sepertinya sedang tak berada dalam kondisi prima, sebab acap kali meloloskan emosi-emosi lain secara tegas dan nyata. Meski ia tak tahu benar mengapa, tetapi diam-diam Hinata harus mengaku bahwa ia menikmatinya.
"Kau banyak melamun hari ini," ucap Hinata, membeberkan pengamatannya yang tak seberapa. Sebelum melanjutkan dengan melempar pertanyaan, wanita itu menyuguhkan senyum penuh perhatian yang entah mengapa di mata Sasuke malah tampak seperti permohonan maaf.
Sasuke tak menyahut dalam suara, tapi menggelengkan kepala sembari menahan hasrat untuk tak menyemburkan fakta terkait keadaan yang sesungguhnya. Ia ingin membagi resahnya, berseru bahwa Naruto tengah ikut serta berlari kesana dan kemari dalam kepalanya, tapi sesungguhnya bukan hanya pria itu. Melainkan juga Hinata yang ikut ambil andil disana, mengisi kepalanya hingga berat tak berhenti disana tapi juga turut serta merambat ke benaknya. Namun sekalipun begitu, setelah beberapa saat, yang mampu ia lontarkan hanyalah, "Bukan apa-apa."
Hinata mengerucutkan bibirnya sebentar, tak percaya, namun belum sempat ia melemparkan pertanyaan lain, tiba-tiba suara familiar Tenten yang menyerukan namanya, "Hinata!" mengalihkan perhatiannya dengan serta merta.
Kakak iparnya itu melenggang dari arah pintu masuk, langkahnya santai tetapi wajahnya menaruh asumsi tak biasa. Terlebih ketika sepasang manik cokelatnya memandang Sasuke serta Hinata bergantian, menyelidik meski tak langsung melemparkan pertanyaan pelik. Sebelah tangannya menggendong Reiji dalam balut tebal selimut bayi, sementara tangannya yang lain mendorong babystroller yang malah diisi oleh tas kecil yang Hinata simpulkan berisi keperluan keponakannya.
"Uchiha," sapa Tenten kalem ketika ia menghentikan kaki di sisi Hinata. Kepalanya mengirimkan angguk kecil ke arah Sasuke yang langsung dibalas pria itu tanpa suara. Sesaat setelahnya, karena tak ada juga yang buka suara, Tenten mengambil alih suasana. Ia mengalihkan pandangannya pada Hinata, lalu melirik ke arah Sasuke lagi sebelum bertanya, "Apakah kalian hendak pergi ke suatu tempat?"
Hinata baru mau buka, namun Sasuke mendahuluinya. Pria itu menggelengkan kepala dan melemparkan senyum simpul, "Aku hanya datang mengembalikan sesuatu." Perhatian Tenten langsung terarah utuh pada bingkisan di tangan Hinata, dan ia mengangguk menanggapi jawaban Sasuke kemudian.
"Kalian masih lama? Aku bisa langsung naik kalau kalian masih ingin berbincang." Tenten berujar dengan alis yang terangkat, menawarkan. Matanya masih kerap memandang Hinata dan si tunggal Uchiha bergantian. Dalam hati berharap kalau memang Hinata masih ingin bercakap-cakap dengan Sasuke di lobi, bisa saja malam ini mereka akan punya topik seru untuk dibahas. Namun pupus sudah, sebab lagi-lagi Sasuke menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak perlu," tolak pria itu halus. Matanya tak memandang Tenten barang sejenak, terlalu fokus pada Hinata yang masih pasif sedari tadi. Sasuke jelas memilih untuk pergi, ketimbang berlama-lama disana dengan Hinata yang kian lama kian peka. Ia memang masih ingin melihat sosok sang jelita lebih lama—memantapkan perasaannya yang kerap berpijar, tetapi bila itu bisa membuat situasi di antara mereka berubah karena mungkin saja ia kelepasan bicara, agaknya ia memilih untuk pergi saja. "Aku sudah menahan Hinata begitu lama."
Tenten mencebik, bila saja ia tak tengah menggendong Reiji yang masih lelap, sudah dipastikan kini tangannya terlipat di depan dada dalam poster tak terima. "Tidak perlu sungkan, Uchiha, aku tahu jalanku bila memang masih ada yang ingin kalian bicarakan."
Sasuke menggeleng lagi, kali ini ia berkeras memandang Tenten. Dengan tergesa, ia menolak lagi, "Sungguh, tidak perlu. Aku pamit dulu." Tumitnya baru saja berputar, hendak meninggalkan kedua wanita di hadapannya dengan serta merta. Tetapi belum sempat tungkainya mengayun, kepalanya menoleh lagi. Matanya memandang Hinata untuk yang kesekian kali, dan walau berbagai perasaan masih lamat berkecamuk di balik dada, ia tetap tak bisa menahan diri untuk bertanya guna memastikan kapan mereka bisa kembali bersua. Sebelah alisnya terangkat, sementara dahinya samar berkerut dalah harap, "Kau akan ada di Home of Hope akhir pekan ini?"
Butuh sedetik bagi Hinata untuk sadar bahwa kalimat itu dilontarkan untuknya. Namun ia tak segera menjawab, baru ketika Tenten menyikut perutnya pelan, ia bisa menemukan suaranya, "Iya, kurasa. Kau akan kesana?"
Sasuke menganggukkan kepala, singkat. Bibirnya terangkat ke satu sisi, mengulas senyum separuh yang kelihatan lega. Sebelum benar melangkah pergi, ia berkata, "Sampai jumpa, kalau begitu."
Tepat ketika punggung Sasuke tenggelam di antara mobil-mobil yang terdapat di lahan parkir utama, Tenten dengan serta merta menoleh ke arah Hinata. Kakak iparnya itu melemparkan tatapan menyelidik, dengan campuran jenaka yang menggoda. Ia menyikut Hinata lagi, lalu sambil berjalan mendorong babystroller ke arah lift, ia bertanya, "Kukira kau tak ada hubungan apa-apa dengan Uchiha?"
Hinata mendesah pelan. Bahkan dari pertanyaan satu itu saja ia tahu, malam ini akan jadi malam yang panjang. Tenten akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, berkeras supaya ia menceritakan semuanya dari awal. Ia bahkan mungkin tak akan bisa bermain dengan Reiji karena kakak iparnya satu itu akan memonopolinya hingga mereka benar lelap karena kelelahan. Namun terlepas dari itu, ia jadi ikut bertanya-tanya. Sebenarnya siapa Sasuke untuknya? Mereka tak pernah memulai semua ini sebagai teman, hanya dua orang yang kebetulan dipertemukan lantaran satu orang.
.
.
.
to be continued
Halo semuanya!
Saya bangga sekali karena bisa menyelesaikan chapter ini di sela-sela pekan pertama kuliah online yang padat. Dalam chapter ini saya masih banyak memasukkan sudut pandang Sasuke, dan saya rasa, untuk beberapa chapter ke depan saya masih akan bermain-main dengan perasaan Uchiha kesayangan kita, karena sungguh, entah mengapa saya suka menuliskan Sasuke yang menderita. Hehe!
Tidak banyak yang akan saya sampaikan disini, hanya saja saya harap fic ini akan tetap bisa diterima serta dinikmati. Terima kasih sudah menyempatkan membaca dan sampai jumpa di chapter depan!
Lots of love,
ez.
