MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE

When the sun shines so bright, the darkness will fade…

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan

.

.

Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?

.

.

X

Toko Surplus Tentara dan Identitas Kaisar

.

.

Setelah beberapa hari, aku bisa memetik pelajaran baru tentang kehidupan, yaitu: jangan pergi belanja bersama satir.

Lama setelahnya, barulah kami menemukan toko itu, sebab perhatian Grover terus-menerus teralihkan. Dia berhenti untuk mengobrol dengan yucca. Dia memberi sekeluarga bajing tanah penunjuk arah. Dia mencium asap dan lari kesetanan di gurun sampai menemukan rokok menyala yang dibuang ke jalan.

"Kebakaran bermula seperti ini," Grover berkata, lalu mendaur ulang puntung rokok secara bertanggung jawab dengan memakannya.

Aku tidak melihat apa pun yang bisa terbakar dalam radius satu kilometer. Aku lumayan yakin batu dan tanah bukan bahan yang mudah rerbakar, tetapi aku tidak pernah menyanggah orang yang makan rokok. Kemudian, kami melanjutkan pencarian toko barang surplus tentara.

Malam kian pekat. Cakrawala barat berpendar—bukan nyala jingga berkat polusi cahaya manusia, melainkan merah seram pertanda kebakaran hebat di kejauhan. Asap mengaburkan bintang-bintang. Suhu udara praktis tidak bertambah dingin. Udara masih berbau sangit dan janggal.

Aku teringat akan semburan api yang nyaris menghanguskan kami di Labirin. Hawa panasnya seakan memiliki kepribadian—seperti pengejawantahan dendam dan kedengkian. Aku bisa membayangkan gelombang semacam itu mengalir di bawah permukaan gurun, melalui lorong-lorong Labirin, menjadikan dunia fana di atasnya semakin gersang dan tidak layak huni.

Aku memikirkan mimpiku mengenai perempuan berantai leleh, yang menjejak panggung di atas kolam lava. Aku bisa menduga kalau perempuan itu adalah Sibyl Erythraea, Oracle berikut yang harus kami bebaskan dari golongan Triumvirat. Firasatku mengatakan dia ditahan di pusat … entah apa yang menghasilkan api bawah tanah tersebut. Aku tidak suka membayangkan harus mencarinya.

"Grover," kataku, "di rumah kaca tadi, kau menyebut-nyebut regu pencari?"

Dia melirik sambil menelan dengan susah payah, seolah puntung rokok masih tersangkut di kerongkongannya. "Satir dan dryad paling energik—mereka sudah berbulan-bulan menyisir area ini." Dia memakukan pandang ke jalan. "Anggota regu pencari tidak banyak. Karena kebakaran dan suhu panas, hanya roh kaktus yang masih mampu mewujud. Sejauh ini, hanya segelintir anggota regu pencari yang sudah kembali hidup-hidup. Sisanya … kami tidak tahu."

"Apa yang mereka cari?" tanyaku. "Sumber kebakaran? Kaisar? Oracle?"

Sepatu Grover lagi-lagi lepas dari kakinya yang berkuku belah dan meluncur ke pinggir jalanan berkerikil. "Semuanya tersangkut paut. Sudah sepatutnya begitu. Aku baru tahu tentang Oracle sewaktu Apollo memberitahuku, tapi kalau sang Kaisar menahannya, pastilah tempatnya di Labirin. Kebakaran juga bersumber dari Labirin."

"Labirin?" tukas Sasuke. "Maksudmu Labirin yang kita lewati? Labirin Daedalus?"

"Kurang lebih begitu." Bibir bawah Grover bergetar. "Jejaring terowongan bawah tanah di California Selatan—yang kami asumsikan merupakan bagian dari Labirin, tapi terjadi sesuatu di sana. Kesannya sepenggal bagian Labirin telah … terinfeksi. Seperti demam. Api berhimpun di sana, mengumpulkan kekuatan. Kadang-kadang, api membesar dan menyembur—di sana!"

Dia menunjuk ke selatan. Tidak sampai setengah kilometer di bukit terdekat, kobaran api kuning menjilat-jilat ke angkasa seperti ujung mesin las. Kemudian, api tersebut lenyap, menyisakan sepetak bebatuan leleh. Aku menimbang-nimbang apa yang kiranya terjadi andaikan aku berdiri di sana ketika api menyembur.

"Itu tidak normal," ujarku.

Pergelangan kakiku terasa goyah, seakan akulah yang berkaki palsu.

Grover mengangguk. "Masalah kita di California sudah banyak: kekeringan, perubahan iklim, polusi, lain-lain yang biasa. Tapi, api itu …."

Ekspresinya berubah kaku. "Penyebabnya semacam sihir yang tidak kita pahami. Hampir setahun penuh aku di sini, dalam rangka mencari sumber panas dan memadamkannya. Aku sudah kehilangan banyak sekali teman."

Suaranya lirih. Aku bisa berempati. Meski aku belum pernah kehilangan banyak teman atau orang berharga yang kusayangi, tapi aku bisa membayangkan kesedihan yang aku rasakan kalau ibuku atau mungkin kakekku meninggal.

Grover berlutut dan menangkupkan tangan ke segerumbul rumput. Daun-daunnya menyerpih.

"Terlambat," gumam Grover. "Ketika aku mencari Pan, setidaknya aku punya harapan. Kukira aku bisa menemukan Pan dan dia akan menyelamatan kami semua. Sekarang … Dewa Alam Liar sudah mati."

Aku menelaah lampu-lampu Palm Springs yang berkelap-kelip, berusaha membayangkan Pan di tempat seperti ini. Manusia sudah mengubrak-abrik alam. Pantas Pan sirna dan meninggalkan dunia. Rohnya yang tersisa mungkin telah dia wariskan kepada pengikut-pengikutnya—para satir dan dryad—dan tugas untuk melindungi alam liar dia percayakan pula kepada mereka.

"Pan pasti bangga atas kerja kerasmu," aku memberi tahu Grover.

Menurutku saja, pujian itu terkesan setengah hati.

Grover berdiri. "Ayah dan pamanku mengorbankan nyawa demi mencari Pan. Aku semata-mata berharap semoga lebih banyak lagi yang membantu kami meneruskan pekerjaannya. Manusia sepertinya tidak peduli. Bahkan demigod juga tidak. Bahkan …"

Dia mengerem lidah, tetapi aku curiga dia hendak mengatakan bahkan dewa-dewi juga tidak.

Harus kuakui, Grover mungkin ada benarnya.

Dewa-dewi lazimnya tidak akan berduka atas kematian segelintir dryad ataupun sebuah ekosistem. Eh, mereka niscaya berpikir, tidak ada hubungannya denganku!

Oleh karena itu, aku terkadang membenci rasa superioritas yang berlebihan (apalagi superioritas para dewa yang telah hidup selama beberapa milenia).

Kami menyusuri jalan yang mengitari kompleks hunian ekslusif, terus menuju plang neon toko-toko di kejauhan. Aku mencermati tempatku berpijak, bertanya-tanya seiring tiap langkah akankah semburan api muncul tiba-tiba dan menjadikanku Naruto panggang.

"Katamu semuanya tersangkut paut," Sasuke berkomentar. "Menurutmu kaisar ketiga yang menciptakan labirin api?"

Grover melirik kanan kiri, seakan kaisar ketiga mungkin saja melompat dari balik pohon palem beserta kapak dan topeng seram. Mengingat kemungkinan akan identitas sang Kaisar yang sama dengan sosok yang muncul dalam mimpiku, kekhawatiran itu barangkali tidak terlalu melantur.

"Ya," kata Grover, "tapi kami tidak tahu caranya ataupun alasannya. Kami bahkan tidak tahu di mana markas sang Kaisar. Setahu kami, dia terus berpindah-pindah."

"Dan …." Aku menelan ludah, takut bertanya. "Identitas si Kaisar?"

"Kami cuma tahu dia menggunakan monogram NH," kata Grover. "Singkatan dari Neos Helios."

"Neos Helios? Matahari baru?" tanyaku.

"Betul," ujar Grover. "Bukan nama kaisar Romawi."

Tapi sepertinya julukan itu membuat Sasuke sedikit tegang, aku bisa melihat raut itu terukir jelas di wajahnya.

"K-kau yakin tentang itu, Grover?" tanya Sasuke.

"Aku sangat yakin," balas Grover dengan tegas.

"Memangnya apa yang kau ketahui tentang julukan itu, Sasuke?" tanyaku.

Sasuke berusaha untuk tenang, meskipun kakinya terlihat masih bergetaran. "Aku pernah membaca tentang sejarah Romawi, yah … hanya untuk mengantisipasi penyerangan beberapa bulan yang lalu. Saat itu, aku menemukan dokumen tentang para kaisar tergila yang pernah memerintah Romawi." Nadanya kian lama kian bergetar. "Salah satu yang paling gila adalah kaisar dengan julukan itu."

"Kau tahu siapa dia?" tanyaku lagi.

"Hanya kemungkinan … tapi kita harus memastikannya kembali setelah kita menemui Pak Pelatih Hedge," balasnya.

Aku hanya mengangguk pasrah. Meskipun begitu, aku sangat ingin tahu identitas kaisar ketiga ini. Setidaknya agar aku memiliki gambaran siapa yang harus kuhadapi dalam perjalanan misi kali ini.

Kami melewati gerbang kompleks: PALEM GURUN. (Benarkah ada yang dibayar untuk menggagas nama itu?) Kami maju terus ke kawasan niaga terdekat, tempat restoran-restoran cepat saji dan pom bensin berdenyar.

"Mudah-mudahan Mellie dan Gleeson punya informasi baru," kata Grover. "Mereka sempat tinggal di LA bersama sejumlah demigod. Kukira mungkin mereka lebih mujur perihal melacak sang Kaisar atau menemukan jantung labirin."

"Itukah sebabnya keluarga Hedge datang ke Palm Springs?" tanyaku. "Untuk berbagi informasi?"

"Salah satunya itu. " Nada bicara Grover menyiratkan alasan lain yang lebih kelam dan mengibakan di balik kedatangan Mellie dan Gleeson, tetapi aku tidak ingin mengorek-ngorek lebih dalam.

Kami berhenti di persimpangan besar. Di seberang bulevar, berdirilah toko grosir berplang merah berpendar: MEGADISKON MILITER MARCO! Lapangan parkir praktis kosong, hanya ditempati sebuah mobil Pinto kuning lama yang terparkir dekat pintu masuk.

Kubaca lagi plang toko. Kali kedua melihat, tersadarlah aku bahwa namanya bukan MARCO melainkan MACRO. Terkutuklah disleksia para demigod! Aku merasa pusing dengan hal-hal seperti itu.

Megadiskon Militer kedengarannya bukanlah tempat yang ingin kudatangi. Dan Macro, entah mengacu kepada jumlah banyak, ukuran besar, program computer, atau … yang lain. Kenapa nama itu justru memunculkan spekulasi lebih di sistem saraf pusatku?

"Kelihatannya sudah tutup," kataku datar. "Pasti bukan toko barang surplus militer yang ini."

"Tidak." Grover menunjuk Pinto. "Itu mobil Gleeson."

Aku ingin kabur. Aku tidak suka cahaya bak genangan darah yang dipancarkan plang merah raksasa ke aspal. Namun, Grover Underwood telah menuntun kami melalui Labirin dan setelah obrolannya tentang teman-teman yang meninggal, aku tidak sudi membiarkannya kehilangan seorang teman lagi.

"Ya sudah," kataku. "Mari kita cari Gleeson Hedge."

.

~Maelstrom Chronicle : The Burning Maze~

.

Memang sesulit apa mencari satir di toko barang surplus militer yang sepi?

Ternyata lumayan sulit.

Megadiskon Militer Macro membentang tak berujung—lorong demi lorong perlengkapan yang tidak akan diinginkan oleh tentara mana pun yang masih punya harga diri. Di dekat pintu masuk, tong raksasa berplang neon ungun menjanjikan TOPI SAFARI! BELI 3 GRATIS 1! Di ujung lorong, berdirilah pohon Natal (padahal natal sudah lewat selama beberapa bulan) dari tangki propana yang ditumpuk-tumpuk dan dikalungi slang gas, sedangkan plakat di depannya bertuliskan HARI RAYA SEPANJANG TAHUN!

Dua lorong, masing-masing sepanjang hampir setengah kilometer, dikhususkan untuk memajang pakaian kamuflase segala warna: cokelat padang pasir, hijau rimba, kelabu kutub, dan merah muda mencolok, kalau-kalau tim operasi khusus perlu menginfiltrasi pesta ulang tahun anak-anak bertema putri.

Papan penunjuk jalan terpampang di tiap lorong: SURGA HOKI, PIN GRANAT, KANTONG TIDUR, KANTONG JENAZAH, LAMPU PETROMAKS, KEMAH, STIK BESAR RUNCING. Di ujung jauh toko, yang barangkali dapat dicapai setelah jalan kaki setengah hari, terbentang spanduk kuning besar yang mengumumkan SENJATA API!

Aku melirik Grover, yang mukanya malah semakin pucat di bawah sorot lampu fluorensens. "Haruskah kita mulai dari perlengkapan berkemah?" tanyaku.

"Mungkin saja," Sasuke menyahut. "Biasanya beliau menggandrungi peralatan berkemah."

Sudut mulut Grover melengkung turun sementara dia menelaah tongkat-tongkat penyula berwarna pelangi. "Mengingat watak Pak Pelatih Hedge, dia pasti mendatangi senjata api."

Jadi, kami memulai perjalanan panjang menuju negeri 'SENJATA API!' yang penuh janji.

Aku tidak menyukai lampu-lampu toko yang terlampau terang. Aku tidak menyukai lantunan musik monoton yang terlampau ceria ataupun penyejuk udara terlampau dingin yang menjadikan tempat ini terasa seperti kamar mayat.

Segelintir karyawan mengabaikan kami. Seorang pemuda sedang menempelkan stiker 'DISKON 50%' ke sederet bilik toilet portabel Porta-PooTM. Karyawan lain berdiri bergeming sambil menatap kasa ekspres dengan wajah tanpa ekspresi, seakan telah mencapai nirwana saking bosannya. Tiap karyawan mengenakan rompi kuning yang bagian belakangnya berlogo Macro: centurion Romawi tersenyum yang membuat tanda oke.

Aku juga tidak suka logo itu.

Di bagian depan toko, meja penyelia diletakkan dalam bilik ditinggikan yang berkaca Plexiglass, mirip pos sipir di penjara yang kulihat di film-film. Seorang pria gempal duduk di sana, kepalanya botak mengilap dan urat-urat menonjol di lehernya. Kemeja dan rompi kuningnya nyaris tidak mampu mengekang lengannya yang berotot menggembung. Ekspresinya terkejut permanen berkat alis putih lebar. Dia memperhatikan kami melintas sambil menyunggingkan cengiran yang membuatku merinding.

"Menurutku kita sebaiknya tidak ke sini," gumamku kepada Grover.

Dia mengamati sang penyelia. "Aku lumayan yakin di sini tidak ada monster. Kalau ada, aku pasti bisa membauinya. Laki-laki itu manusia."

"Kuharap itu benar," tukas Sasuke.

Penegasan ini tidak meyakinkanku. Meski Grover mengatakan kalau laki-laki itu manusia, aku bisa merasakan insting berbahaya darinya. Walau begitu, aku dan Sasuke mengikuti Grover masuk lebih jauh ke toko.

Sesuai prediksi, Gleeson Hedge berada di seksi senjata api, menjejalkan lensa pembidik dan sikat moncong senjata ke keranjang belanja sambil bersiul-siul.

Bisa kulihat apa sebabnya Grover dan Sasuke memanggil Gleeson Pak Pelatih, Hedge mengenakan celana pendek polyester biru berlapisan ganda sehingga tungkai kambingnya yang berbulu kelihatan jelas, topi bisbol merah yang bertengger di antara kedua tanduk kecilnya, kemeja polo putih, dan peluit yang terkalung ke leher, seolah dia siap dipanggil untuk menjadi wasit sepakbola kapan saja.

Dia kelihatan lebih tua daripada Grover, berdasarkan wajahnya yang kusam karena terpaan sinar matahari, tetapi sulit untuk menentukan usia satir dengan pasti (terlebih rentang usia mereka lebih panjang daripada manusia fana). Pak Pelatih bisa berusia berapa saja pada rentang empat puluh hingga seratus menurut hitungan manusia.

"Gleeson!" panggil Grover.

Pak Pelatih menoleh dan menyeringai. Keranjang belanjanya sudah kepenuhan wadah panah, berpeti-peti amunisi, dan deretan granat berbungkus plastik yang menjanjikan ASYIK UNTUK SELURUH KELUARGA!

"Hei, Underwood!" kata Gleeson "Kau datang pada saat yang sangat tepat! Bantu aku memilih ranjau darat."

Grover berjengit. "Ranjau darat?"

"Cuma cangkang kosong saja," kata Gleeson seraya melambaie deretan wadah logam berbentuk mirip pelples, "tapi kurasa kita bisa mengisinya dengan peledak supaya aktif lagi! Kau suka model era Perang Dunia II atau Perang Vietnam?"

"Eh …." Grover menyambarku dan mendorongku ke depan. "Gleeson, kenalkan ini Naruto, putra Apollo dan orang yang ditugaskan untuk menggantikannya dalam misi pencarian Oracle. Oh ya … ada juga si Sasuke."

"Hai Pak Pelatih," sapa Sasuke.

Gleeson mengerutkan kening. "Hai juga bocah Uchiha, tidak kusangka kita bertemu lagi di sini," katanya.

Lalu, ia mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Jadi ini demigod baru itu? Ternyata tidak terlalu payah dari apa yang kubayangkan. Tapi kau harus selalu berolahraga untuk melatih otot-otot inti," katanya.

"Err … makasih." Aku membalas dengan canggung.

"Aku bisa melatihmu supaya bugar," Hedge membalas."Tapi, pertama-tama, bantu aku. Kira-kira mana yang bagus? Ranjau antipersonel? Pedang panjang? Arau apa?"

"Kukira kau membeli perlengkapan berkemah," kataku.

Gleeson mengangkat alis. "Ini memang perlengkapan berkemah. Kalau aku harus berada di alam terbuka beserta istri dan anakku, bersembunyi di reservoir itu, aku akan merasa lebih baik apabila kami bersenjata lengkap dan dikelilingi peledak yan diaktifkan dengan tekanan daripada tanpa senjata sama sekali! Aku harus melindungi keluargaku!"

"Tapi—"

"Tidak usah menimpalinya lagi, Naruto. Pak Pelatih Hedge memang seperti itu," bisik Sasuke.

Pada saat ini, Pembaca Budiman, mungkin kalian bertanya-tanya, Naruto, kenapa kau keberatan? Gleeson Hedge benar! Kenapa repot-repot menggunakan pedang dan busur, padahal kau bisa melawan monster dengan ranjau darat dan senapan mesin?

Sayangnya kawanku, ketika kita melawan kekuatan kuno, senjata modern tidak dapat diandalkan. Anak-anak kabin Hephaestus pernah bercerita kepadaku kalau mekanisme penggerak senjata api dan bom buatan manusia fana kerap macet di tengah konflik supernatural. Bahan peledak kadang ampuh kadang tidak, sedangkan amunisi biasa semata-mata mengesalkan kebanyakan monster. Sebagian pahlawan memang menggunakan senjata api, tetapi amunisi mereka harus dibuat dari logam magis—perunggu langit, emas Imperial, besi Stygian, dan sebagainya.

Sialnya lagi, logam tersebut jarang. Peluru yang dibuat secara magis pun tidaklah praktis, bahkan bagi putra Hephaestus yang paling ahli dalam menempa sekalipun. Peluru tersebut hanya bisa digunakan sekali dan kemudian terbuyarkan, sedangkan pedang dari logam magis bisa tahan bermilenium-milenium. Intinya, "kokang dan tembak" tidaklah praktis ketika kita melawan gorgon atau hydra.

"Menurutku, perlengkapan yang anda kumpulkan sudah bagus," kataku, "Lagipula, Millie khawatir, anda sudah pergi seharian."

"Tidak, ah!" protes Hedge. "Tunggu. Jam berapa sekarang?"

"Hari sudah gelap," kata Grover.

Pak Pelatih Hedge mengerjapkan mata. "Eh … beneran? Ah, dasar bola hoki. Sepertinya aku kelamaan di lorong granat. Ya sudah, kurasa—"

"Permisi," kata suara di belakangku.

Pekikan melengking yang lantas menyusul mungkin berasal dari Grover, atau barangkali aku, tetapi siapa tahu? (yang jelas bukan Sasuke, karena martabat Uchiha miliknya) Aku berputar dan mendapati bahwa pria besar botak dari meja penyelia telah mengendap-endap ke belakang kami. Butuh keahlian untuk melakukannya, sebab tinggi pria tersebut hampir dua meter dan pasti berbobot sekurang-kurangnya satu setengah kuintal. Dia diapit dua karyawan, keduanya menatap kosong sambil memegang pistol penempel lebel.

Pria botak itu menyeringai, alis putihnya yang lebat terangkat ke angkasa, giginya bernuansa putih-kelabu seperti nisan marmer.

"Saya mohon maaf sekali kalau mengganggu," katanya. "Kami jarang kedatangan selebritis dan saya cuma—saya mesti memastikan. Apa Anda Apollo? Maksud saya … Apollo yang itu?"

Kemungkinan itu sepertinya membuat pria botak yang ternyata seorang manajer itu girang. Tapi ada kemungkinan kalau manajer ini belum mengetahui fakta terbaru, jadi ia menganggapku sebagai Apollo. Kupandangi kedua satir rekanku. Gleeson mengangguk. Grover menggeleng kuat-kuat.

"Kalau betul aku Apollo, kenapa?" tanyaku kepada sang manajer.

"Oh, akan kami beri Anda bonus untuk pembelian Anda!" seru sang manajer. "Akan kami hamparkan karpet merah untuk Anda!"

Aku melirik ke arah Sasuke, menyiratkan seringai jahil kepadanya. Ia memperingatkanku untuk tidak berbuat aneh-aneh atau bahkan menjahili manajer-kudet-dan-gampang-dibodohi itu melalui sorot matanya, tapi bukan Uzumaki Naruto namanya kalau tidak iseng.

"Wah, kalau begitu, ya," kataku. "Aku Apollo."

Tak lama setelah itu, aku bisa melihat Sasuke menepuk dahinya dan menghela nafas pasrah.

Sang manajer malah memekik—suaranya mirip Babi Erymanthian yang tak sengaja kutembak pantatnya ketika tengah mengarungi labirin. "Ternyata benar dugaan saya! Saya penggemar berat anda. Nama saya Macro. Selamat datang di toko saya!"

Lalu, dia melirik ke arah dua karyawannya. "Keluarkan karpet merah untuk menggulung Apollo, ya? Tapi pertama-tama, bunuh kedua satir dan seorang demigod ini cepat-cepat supaya tidak sakit. Ini sungguh sebuah kehormatan besar!"

Kedua karyawan mengangkat pistol penempel label, siap untuk menandai kami sebagai barang cuci gudang.

"Sudah kubilang itu adalah ide yang buruk, Naruto," gumam Sasuke.

Aku menghiraukan gumaman Sasuke. "Tunggu!" seruku.

Kedua karyawan ragu-ragu. Dari dekat, aku bisa melihat betapa miripnya mereka: sama-sama berambut gelap lepek berminyak, bermata kosong seperti kelereng, berpostur kaku. Mereka mungkin saja anak kembar atau—sebuah wacana mengerikan merasuki otakku—produk jalur perakitan yang sama.

"Aku, anu …," ujarku, puitis hingga akhir. "Bagaimana kalau aku sebenarnya bukan Apollo?"

Intensitas cengiran Macro berkurang beberapa watt. "Wah, kalau begitu saya harus membunuh Anda karena mengecewakan saya."

Aku menimbang-nimbang dalam hati. Apakah aku harus berpura-pura menjadi Apollo atau tidak? Namun setiap pilihan yang harus kupilih juga membahayakan keselamatan teman-temanku.

"Oke, aku Apollo," kataku. "Tapi, kau tidak boleh membunuh pelanggan. Bukan begitu caranyamengelola toko barang surplus tentara!"

Di belakangku, Grover sedang bergulat dengan Pak Pelatih Hedge, yang sedang setengah mati mencakar-cakar plastik granat kemasan ekonomis untuk membukanya sambil menyumpahi bungkusnya yang antirobek. Sementara Sasuke tengah memandang kedua karyawan pria botak itu sambil memasang wajah waspada.

Macro mengatupkan kedua tangannya yang montok. "Saya tahu membunuh pelanggan memang sangat tidak sopan. Saya minta maaf, Dewa Apollo."

"Jadi … kau tidak akan membunuh kami?"

"Wah, seperti yang sudah saya katakan, saya tidak akan membunuh Anda. Kaisar punya rencana lain untuk Anda. Dia membutuhkan Anda hidup-hidup!"

"Rencana," gumamku.

Aku benci rencana. Rencana mengingatkanku pada salah satu sahabatku yang sangat suka mengajakku untuk permainan strategi seperti shogi atau Annabeth yang menjejaliku dengan segelintir kiat-kiat strategi perang turunan ibunya.

"T-tapi teman-temanku" aku terbata. "Kalian tidak boleh membunuh satir, apalagi demigod putra Ares atau Mars, dewa yang kalian sanjung-sanjung sebagai dewa utama Romawi. Dewa berstatus tinggi sepertiku juga tidak boleh digulung dalam karpet merah tanpa anak buah!" seruku dengan tetap mengambil peran sebagai Apollo.

Macro mengamati kedua satir, yang masih berebut granat bungkus plastik, dan Sasuke.

"Hmm," kata sang manajer. "Maafkan saya, Dewa Apollo, tapi begini, mungkin inilah satu-satunya kesempatan saya untuk kembali mendapatkan restu Kaisar. Saya lumayan yakin dia tidak menginginkan satir dan demigod."

"Maksudmu … kau kehilangan restu Kaisar?" tanyaku.

Macro mendesah. Dia mulai menyingsingkan lengan baju, seakan hendak menyiapkan untuk pembunuhan satir dan demigod yang berat nan menjemukan. "Saya khawatir begitu. Yang pasti, saya tidak minta diasingkan ke Palm Springs! Sayang beribu sayang, Princeps sangat tegas perihal pengamanan. Pasukan saya terlalu erring mengalami malfungsi dan dia lantas mengirim kami ke sini. Dia mengganti kami dengan tenaga pengamanan campur aduk yang payah—strix, tentara bayaran, Telinga Besar. Bisa Anda percaya?"

Aku sulit memercayai ataupun memahaminya. Telinga Besar?

"Terlebih Princeps juga memerintahkanku untuk mengawasi Bocah Uchiha itu. Ah … derajatku menurun drastis dari seorang pengawal menjadi seorang pengasuh bayi," keluhnya.

Aku dan Sasuke tampak menegang ketika mendengar keluhan pria itu. "Bocah Uchiha?" tanyaku lagi.

Pria itu menepuk dahinya dengan keras. "Terkutuklah mulut besarku … maaf Dewa Apollo, tapi hal itu bukanlah urusan Anda."

"Tapi—"

"Seperti yang saya bilang, itu bukan urusan Anda. Saya tidak ingin Princeps menambahkan hukumannya kembali kepadaku," ucapnya tegas.

Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Aku melirik Sasuke yang juga hanya bisa mendesah pasrah sambil tetap mempertahankan sikap siaga miliknya. Kucermati kedua karyawan yang masih mematung sambil menodongkan pistol penempel label itu. Mata mereka terlihat buram dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Karyawanmu automaton," aku tersadar. "Apakah mereka ini mantan serdadu Kaisar?"

"Betul, apa mau dikata," kata Macro. "Tapi, mereka sepenuhnya kapabel. Begitu saya mengantarkan Anda, Kaisar tentu akan melihat sendiri dan mengampuni saya."

Lengan bajunya telah digulung ke atas siku sehingga tampaklah parut-parut putih lama, seakan lengan bawahnya pernah dicakar leh korban yang putus asa bertahun-tahun silam ….

Aku malah teringat tentang mimpiku di istana kekaisaran, tentang sang pengawal yang berlutut di hadapan kaisar baru. Selain itu, aku juga mengingat-ingat tentang sesi diskusiku dengan Sasuke dan Annabeth mengenai sejarah kekaisaran Romawi.

Seketika itu juga, aku mengingat nama sang pengawal. "Kau … Naevius Sutorius Macro."

Macro memandangi karyawan robotnya dengan wajah berbinar-binar. "Saya tidak percaya Apollo mengingat saya. Sungguh sebuah kehormatan!"

Aku merasa miris ketika mendengar itu. Untung saja dia tidak tahu kalau aku bukanlah Apollo, bisa-bisa aku dijadikan perkedel olehnya.

"T-tunggu dulu," Sasuke terbata. "Dia Naevius Sutorius Macro? Pembunuh Kaisar Tiberius dengan cara membekapnya menggunakan bantal sampai mati sesak?"

Macro tampak sungkan. "Wah, dia toh sudah sembilan puluh persen mati. Saya hanya membantu mempercepat kematiannya."

"Dan kau melakukan itu demi," perutku melilit-lilit karena ngeri, "kaisar yang berikut. Neos Helios. Dialah sang kaisar yang tadi kau sebut-sebut,"

Macro mengangguk penuh semangat. "Benar! Tak lain dan tak bukan adalah Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus!"

Dia merentangkan tangan seperti menantikan aplaus dan sorakan meriah.

Kedua satir berhenti bergulat. Hedge terus mengunyah kemasan granat, sekalipun gigi satirnya kesulitan merobek plastik tebal.

Grover mundur, memosisikan keranjang belanja antara dirinya dengan kedua karyawan toko. "G-Gaius siapa?" Ia melirikku. "Oi, apa maksudnya?"

Sasuke menelan ludah. "Maksudnya, kita harus lari. Sekarang!"


.

Bersambung

.


Hei semuanya, kembali bersama saya FI, Antonio no Emperor. Tak terasa tahun 2020 telah berlalu dan kini kita sudah memasuki tahun 2021. Bagaimana keadaan kalian semua, masih tetap sehat dan semangat 'kan? Saya harap juga begitu. Memang tahun lalu adalah tahun terberat yang kita lalui, tapi kita semua telah berjuang untuk melewati tahun tersebut dan berharap kalau tahun ini menjadi tahun yang lebih baik dari sebelumnya.

Nah … pada chapter kali ini, terkuaklah identitas sebenarnya Kaisar ketiga yaitu Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus atau lebih dikenal dengan sebutan Caligula. Kaisar ini adalah kaisar terburuk selain Nero dan juga merupakan paman dari Nero itu sendiri. Nero juga menjadikan Caligula sebagai contohnya sehingga terkadang sikap mereka hampir sama.

Lalu, Macro juga menegaskan kalau adanya pemuda bermarga Uchiha yang sepertinya memihak kepada Kaisar. Siapakah identitas sebenarnya tentang si Uchiha ini? Silahkan kalian berkomentar di kolom review.

Mungkin itu saja dari saya, semoga readers sekalian masih betah untuk mengikuti kisah ini.

Akhir kata, sampai jumpa lagi dan Selamat Tahun Baru 2021 (meskipun telat :v)