Sanji memasang muka ngapain sih kudu ketemu elo Sabtu-Sabtu begini? ketika dia akhirnya sampai di toko kelontong ABC.

"Woi otak marimo! Cepet udah balik lagi ke supermarket ABC!" Teriak Sanji pada Zoro, mengisyaratkan Zoro untuk segera bergerak.

Zoro hanya menggeram lalu mengikuti Sanji. Memang siapa alis obat nyamuk itu? Enak saja main suruh-suruh.

"Ikuti gue aja, jangan ilang lagi!" Kata Sanji pada Zoro ketika Zoro sampai di dekat Sanji.

Tapi, di tengah jalan, Zoro ilang lagi.

"Zoro?" Sanji yang tidak lagi mendengar suara Zoro yang menggerutu sepanjang perjalanan mereka merasa ada sesuatu yang salah. "Astaga ilang lagi jejadiannya, Perona bisa tabah ngadepin lu gimana sih? Woi Marimo lo dimana njing?" Teriak Sanji berharap Zoro masih ada disekelilingnya.

"Sanji dimana?" Pikir Zoro. Rasanya si rambut pirang itu masih ada di depan Zoro beberapa waktu yang lalu. Hilang kemana si alis melingkar itu?

"Woi Marimo!" Zoro mendengar suara Sanji dan menoleh ke arah sumber suara itu. "Jangan ngilang terus ganggang laut!"

"Lo yang ngilang malah gue yang disalahin! Otak lo pergi kemana Alis keriting?!" I-Ini yang salah malah balik nyalahin.

"L-Lo...! Tauk!" Sanji yang sudah malas berkomunikasi dengan makhluk berotak marimo itu menggandeng tangan Zoro supaya ia tidak hilang lagi, masa bodoh orang lain mau mikir apa, dia mau semua ini cepat berakhir.

"Oi alis keriting lo ngapain?!" Zoro terkejut dengan tindakan Sanji yang tiba-tiba itu.

"Biar lo gak ilang lagi. Napa lo malu njing?"

"Ng... nggak!" Tapi wajah Zoro jelas-jelas memerah karena aksi Sanji itu.

"?" Sanji bingung, Marimo ini ternyata bisa malu ya kalo diperlakuin kayak bocah ilang.

"!" Sanji pun menyadari perbuatannya, dan mukanya juga mulai berubah ronanya. "I-Ini cu-cuma b-b-biar lo ngg-nggak ilang bangsat!"

"!, Gue ngga ilang bangsat!" Zoro tak terima, berteriak dengan wajah yang masih memerah.

Oh andaikan mereka tahu, orang-orang di sekeliling mereka tersenyum kecil. Ah... indahnya romansa remaja.

"Ba-bacot ah! Daritadi ilang terus! Udah ikut aja." Sanji menarik Zoro untuk berjalan kembali ke supermarket ABC dengan pipi yang makin memerah tiap detiknya.

Perjalanan ke supermarket ABC terasa lama bagi mereka berdua. Tangan mereka yang bertaut entah kenapa menjadi sebab jantung mereka berdetak terlalu cepat.

Sesampainya di supermarket ABC, Sanji melepaskan tangannya dari Zoro.

Tapi Zoro menggenggam tangan Sanji lagi, "Kalo gue ilang di dalem supermarket gimana?" Tanyanya spontan, nampaknya enggan melepaskan genggaman tangan Sanji.

"YAUDAH ILANG AJA SONO!" Teriak Sanji menendang kaki Zoro. Marimo itu minta mereka bergandengan lagi?! Hell no!

Yang benar saja?! Bergandengan tangan lagi dengan kepala lumut yang berkeringat sepanjang perjalanan? Engga lah ya. Walau memang tangan alga prehistorik hangat, besar, dan pas untuk digenggam...

TIDAK!

Yang ada, tangan ganggang itu penuh dengan keringat! Menjijikkan pokoknya! Sanji tidak akan pernah mau bergandengan tangan dengan ganggang laut itu lagi!

"Oi, alis keriting! Lo ngapain dari tadi ga masuk?"

Sanji terkejut, pikirannya yang melayang sepertinya kembali lagi ke tubuhnya.

Apaan sih! Ngelamunin ganggang hijau, sekarang yang berdiri di depannya juga ganggang hijau! Arrrggghhh! Ganggang hijau sialan!

"Lo perlu beli apa aja?" Tanya Zoro kepada Sanji ketika Sanji akhirnya masuk ke dalam bangunan supermarket yang ber-AC itu.

"Sat! Elo kudunya juga ngerti ini mau beli apa." Balas Sanji sambil mengambil kereta belanja.

"Yang nulis daftar kan Nami, jelas gue ga ngerti lah!"

"TERUS FUNGSINYA ELO NEMENIN GUE APA BANGSAT!"

Zoro yang tak bisa menjawab hanya menggaruk tengkuknya. Tidak akan dia bilang ke budak wanita itu bahwa dia mau kencan dengannya. Tidak! Bukannya dia yang mau, Perona yang memaksanya untuk kencan dengan si alis keriting. Dia hanya risih saja diganggu Perona terus-menerus, jadi dia ikuti saja keinginan adiknya yang rese itu.

"Udah lo dorong kereta belajaannya aja dah!" Sanji menyerahkan keretanya pada Zoro dengan kasar. Tidak habis pikir memang kenapa Nami bisa memercayakan tugas menemaninya kepada Marimo itu. Tashigi-chwan kan pilihan yang jauh lebih baik daripada alga hijau ini. Ah! Tapi dia tidak bisa merepotkan para ladies! Tapi, lumut itu bukan satu-satunya laki-laki di klub kendo kan?

"Hhh" Sanji menghela nafas. Ia lalu menarik catatan kecil yang ia terima dari hijau sialan itu beberapa hari yang lalu.

"Marimo"

"Apa?"

"Suka roti nggak?"

"Napa emang?"

"Nami-san bilang dia tertarik buat ngubah menu buat konsumsi pas turnamen nanti roti-rotian. Katanya sih lebih praktis buat istirahat makan."

"Heee, tiba-tiba aja perhatian gue suka apa," balas Zoro.

"Ngg-nggak gitu Marimo sialan! Cu-cuma ada temen di kelas gue yang ga suka roti! Sapa tau lo juga ngga suka roti..." Wajah Sanji merah padam seketika mendengar jawaban Zoro! Marimo bodoh! Siapa yang peduli sama elo njing!

"Gue bisa makan apa aja sih. Tapi lebih suka nasi gue sebenernya. Lo mau buatin gue onigiri?"

"Nggak!" Jawab Sanji singkat, sementara dia berjalan lebih cepat supaya si Marimo itu tidak melihat mukanya. Sialan! Kenapa si Marimo itu tiba-tiba suka menggodanya seperti itu?!

Hati Zoro sendiri sekarang serasa hampir keluar dari rongga dadanya, walaupun dia masih berhasil menjaga poker facenya itu. Apa-apaan si alis keriting itu! Mukanya manis sekali kalau sedang merona! Dia minta dicium atau gimana sih?!

Mereka membeli bahan-bahan yang mereka perlukan secepatnya (setelah berkali-kali Zoro hilang dan berkali-kali Sanji berhenti untuk mengamati wanita cantik) dan segera membayar si kasir.

"Alis aneh, kita taruh mana terus ini belanjaannya?"

"Di dapur sekolah lah"

"Hah? Kita bawa box-bix bejibun begini ke sekolah sendirian?!"

"Pake otak lah goblok, tinggal pesen taksi juga. Emang lo kuat bawa box-box segini banyak ke sekolah?!" Sanji membuka HP-nya hendak memesab taksi untuk ke sekolah.

"Ngejek lo ya! GUE BISA NJING!" Zoro yang malah menganggap kata-kata Sanji sebagai tantangan mencoba mengangkut beberapa box sekaligus.

"Woi Marimo purba! Lo mau mecahin telor-telornya ya?! Taruh balik!" Perintah Sanji, tak habis pikir bagaimana cara kerja otaknya.

Zoro hanya membalas Sanji dengan sebuah geraman yang malah makin meyakinkan Sanji bahwa sebenarnya Zoro itu manusia purba yang terlempar ke masa depan. Mungkin dia bukti evolusi bahwa sebenarnya manusia itu berevolusi bukan dari monyet tapi dari alga laut.

Setelah itu, tak ada percakapan lagi di antara mereka berdua. Mereka hanya saling mencuri pandang satu sama lain berharap yang lain tidak mengetahui perbuatan mereka itu.

"A-anu..." Zoro tiba-tiba buka bicara.

"Hmm?"

"Lo... lo mau makan nggak? Gu-gue tau ada tempat makan enak di deket sekolah." Zoro sedikit tergagap dalam menyampaikan keinginannya. Dia sendiri tak tahu kenapa dia mengajak alis obat nyamuk itu untuk makan dengannya. Mungkin karena dia merasa bersalah karena dia salah lokasi tadi, sekarang sudah jam 4 sore dan jelas-jelas mereka melewatkan makan siang atau... ia masih tidak mau kencan itu untuk berakhir...

Tidak! Jelas bukan yang kedua!

"Hah! Marimo ini mau ngajak gue makan! Mana mau gue makan sama alga hijau ini, ga level kale" pikir Sanji di benaknya. "Bo-boleh" Sialaaaaannnnn! Kenapa yang keluar dari mulut ituuuuu!? Astaga Sanji benar-benar benci mulutnya sekarang.

Tak ada percakapan lagi setelah itu hingga taksi yang mereka pesan datang. Namun yang tidak mereka sadari, senyum mereka diam-diam mengembang dan pipi mereka bersemu merah.

Haah... benar-benar jatuh cinta memang hal yang aneh.