The Promised Neverland © Kaiu Shirai. Ilustrasi © Posuka Demizu. Penulis tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari karya transformatif ini

The Death of The Fireflies © aria-cheros (arianadez dan psycheros)

[Epilog]

.

.

Makan malam di mansion tidak pernah seramai ini. Biasanya Norman hanya makan sendiri, ditemani Barbara yang sibuk mondar-mandir membereskan dapur. Jika bintang keberuntungan membuat James berada di rumah, beliau pasti akan ikut makan bersama Norman (meski ini sangat jarang terjadi).

Namun malam ini lain. Tidak hanya Ray dan Emma yang bergabung, tetapi Barbara, Cislo, Zazie, Vincent, bahkan ayahnya juga berkumpul untuk makan malam bersama. Rasanya meja panjang menjadi penuh.

Tidak banyak makanan yang dapat Norman makan, sebab ia harus menjaga asupannya. Meskipun begitu, melihat kedua temannya yang makan dengan lahap (bercampur raut malu-malu) membuatnya sangat senang.

"Setelah makan, apa yang akan kita lakukan?" tanya Norman. "Aku tidak mau tidur. Aku tidak mengantuk sama sekali."

"Kurasa malam ini aku pun tidak akan bisa tidur," tambah Emma.

"Kalau begitu, untuk merayakan kesembuhan Norman, bagaimana jika kita bermain kembang api?"

Barbara-lah yang mengusulkan ide itu dan semuanya segera setuju.

Norman, Ray, dan Emma, berlarian kecil menuju halaman belakang. Barbara dan Cislo menyiapkan kembang api. Mereka kemudian menyalakan kembang api besar terlebih dahulu. Bunyi dentuman dan warna-warni meledak di langit. Menyala, lalu menghilang dalam kejapan.

Jika dipikir-pikir, bermain kembang api sangatlah sesuai dengan konsep penutup liburan.

Tetapi kebahagiaan mereka tidak berhenti sampai di situ. Barbara dan Cislo turut memberi kejutan tambahan. Tanpa sepengetahuan Norman, kemarin mereka menangkap kunang-kunang dari hutan. Dan malam ini, di halaman belakang yang ramai dengan gelak tawa, mereka melepaskan kunang-kunang tersebut.

Norman tentu saja sangat terkejut. Semula ia mengira jika petualangan yang ia lakukan bersama Ray dan Emma akan menjadi kejadian terburuk sepanjang hidupnya. Namun, lihatlah, sekarang masih ada akhir yang bahagia dari petualangan mereka.

"Akhirnya ... akhirnya kita bisa melihat kunang-kunang bersama, Teman-teman." Norman menengadah. Bibirnya tidak berhenti mengembang. "Cantik sekali."

"Kau benar, Norman," timpal Emma. "Kunang-kunang adalah hewan yang cantik."

Ray pun terpesona, sampai-sampai ia kehabisan kata-kata.

Mereka bertiga duduk-duduk di teras. Norman di tengah, sementara Ray dan Emma mengapit di kanan-kirinya. Mereka memandangi cahaya kuning-kehijauan yang berkelap-kelip di udara, sembari masih menghabiskan sisa-sisa kembang api kecil.

"Sudah kuputuskan kalau aku akan menginap," kata Emma pelan. Ia lalu melirik Ray, meminta perhatian. "Dan Ray juga. Iya, kan?"

Mata Norman membulat gembira. "Benarkah itu?"

Ray menggaruk rambutnya. "Yeah, aku sudah meminta izin kepada ibuku, jadi—"

"Aku juga sudah meminta izin kepada abangku. Dan ngomong-ngomong, kami sudah membawa baju ganti, kok."

Mata Norman menyipit. "Aku bisa menebak, kalian pasti merencanakannya, kan?"

"Sebenarnya ayahmu yang menawarkannya," Emma berterus terang. "Kalau bukan karena itu, mana mungkin kami akan berani?"

Tangan kiri Ray yang bebas merangkul bahu Norman. "Ayahmu benar-benar orang yang baik. Kau sangat beruntung dibesarkan oleh beliau."

Norman mengangguk. Ia sudah lupa, kapankah ia pernah sebegini bahagia.

Malam ini, detik ini, di dunia yang penuh kekejaman ini, untuk pertama kalinya Norman merasa damai. Hatinya tenang. Di sini, semuanya terlihat indah. Imajinasinya mengambang, membawa sepercik mimpi yang membumbung tinggi.

Tidak perlu surga. Tidak perlu istana megah. Tidak perlu pula dunia yang aman sejahtera hanya demi mencicipi manisnya kehidupan. Bersama Ray dan Emma, Norman merasa ia sanggup mengatasi segalanya, seberat apapun masalah yang akan terjadi nanti.

Barangkali, saat ini ribuan malaikat sedang terbang berduyun-duyun menuruni bumi, mengirimkan kebahagiaan kepada setiap manusia yang terus memanjatkan doa.

Norman pun segera teringat dengan kata-kata Ayshe;

"Selama kau terus bersinar, selama kau masih memiliki mimpi dan harapan, maka selama itulah kau harus terus berjuang untuk tetap hidup."[]

THE END