Mungkin story ini agak aneh, dan mungkin akan sangat bertentangan dengan keyakinan kalian. Gue hanya mengingatkan kalau story ini hanya fiksi dan tidak ada hubunganya dengan mitos atau apapun yang ada di real life cerita ini murni dari imajinasi gue sebagai penulisnya. kalaupun ada kemiripan atau bahkan kesamaan dengan story gue ini, itu hanya kebetulan.

So, Happy Reading

.

.

.

Baekhyun terbaring lemah saat pagi hingga gadis itu merasa jika tubuhnya seperti melayang. Baekhyun merasakan seperti seluruh tulang di tubuhnya lenyap, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja gadis itu tidak punya tenaga. Bahkan ponselnya tidak berhenti berdering sejak satu jam yang lalu pun tidak ia hiraukan.

"Eomma" Baekhyun lirih.

Baekhyun seperti mengigau, dan di saat yang seperti ini, yang terpikirkan di kepala Baekhyun hanyalah ibunya. Baekhyun tahu jika mustahil ibunya akan datang hanya karena panggilan lirihnya.

Baekhyun kembali memejamkan matanya setelahnya. Baekhyun pasrah saat ini, jika ia mati saat ini pun, ia hanya bisa pasrah.

Baekhyun tertidur, dan Baekhyun merasakan jika ruhnya terlepas dari tubuhnya, jika dulu ia tidak menyadarinya, kali ini Baekhyun bisa merasakan, bahkan ia bisa melihat tubuhnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Baekhyun panik, tapi Baekhyun tidak bisa kembali ke tubuhnya, sebuah kekuatan yang sangat besar seperti menghisapnya, membawanya ke dimensi yang tidak ia ketahui.

Baekhyun berdiri di keramaian, ia melihat aneh suasana dan orang di sekitarnya.

"Hanbok?" Baekhyun mendapati orang-orang mengenakan pakaian tradisional Negaranya "...apa ada di jaman sekarang orang mengenakan itu?"

"Tidak!"

Baekhyun terkejut dan memekik saat sebuah gerobak dengan dua orang pendorong semakin mendekat ke arahnya. Baekhyun memejamkan matanya saat jarak benda itu sudah sangat dekat.

Baekhyun membuka matanya perlahan, gadis itu tidak merasakan apapun, lalu kemana perginya gerobak itu. Baekhyun berbalik dan mendapati gerobak itu melewatinya begitu saja, pun orang-orang yang berjalan melewatinya begitu saja.

Baekhyun terkejut dan merasa aneh pada dirinya sendiri. Berada di keramaina yang entah berada di manna. Baekhyun memutar pandanganya ke segala penjru tempat itu, dan gadis itu kembali dikejutkan saat matanya melihat seseorang yang tidak asing.

"Red!"

Baekhyun memekik saat mendapati seorang pria yang terlihat serupa dengan Red.

Berbeda dengan orang-orang di tempat itu yang melewatinya begitu saja, pria itu mendekat ke arah Baekhyun.

"Tidak seharusnya kau berada di tempat ini" pria itu berbisik "...kau bukan jiwa orang mati, ragamu tinggal di sebuah tempat" pria itu masih menelisik setiap inci tubuh Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" pria itu lagi.

Baekhyun mundur saat seseorang yang sangat mirip dengan Red mendekatinya, sebelumnya, orang yang berlalu lalang hanya melewatinya, bahkan beberapa dari mereka menembus tubuhnya. Tapi seorang pria serupa Red bisa melihat keberadaannya. Tatapan matanya sangat mengerikan.

"Aku Admon Putra Lust, beraninya kau memanggil ku dengan nama aneh itu" pria itu maju satu langkah dan membuat Baekhyun pun mundur.

Baekhyun yakin jika itu Red, hanya saja pakaian yang pria itu kenakan berbeda. Pria itu menggunakan Hanbok seperti orang-orang yang ada di sekitar mereka.

"Ak-aku, Red kau—"

"Kau sudah menunggu lama?" Kalimat Baekhyun terhenti saat seorang wanita menghampiri pria itu dengan senyumnya.

Pria itu mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun ke wanita itu, dan keduanya tampak berbincang.

"Tidak, aku..."

Pada awalnya Baekhyun mendengar pembicaraan mereka, tapi suara-suara sekitar menjadi samar, pun pemandangan sekitar seperti memudar seperti menghilang.

"Red" Baekhyun menggapai, tapi ia merasa semakin menjauh.

"RED!"

Baekhyun berteriak dan membuka matanya seketika.

"Baekhyun!"

"Eomma"

'Greb!'

"Eomma"

Baekhyun memeluk ibunya saat mendapati wanita itu berada di sampingnya. Baekhyun terbangun dengan kain kompres di dahinya.

"Baekhyun, kau sedang demam nak"

"Demam?" Baekhyun melepaskan pelukannya dari Taeyeon.

Wanita itu mengambil kain kompres yang masih menempel di dahi putrinya.

"Apa kau tidur sepanjang hari?" Taeyeon memeriksa suhu tubuh Baekhyun "...Eomma menghubungimu, tapi kau tidak mengangkat panggilan"

"Ya, aku—aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku, aku-ya aku demam" Baekhyun tergagap menjawab pertanyaan sang Ibu.

"Tidak apa-apa, Eomma ada di sini" Taeyeon mengusap dahi dan kepala putrinya "...istirahatlah, Eomma akan membuatkan makanan untukmu"

Sepeninggal Taeyeon, Baekhyun merebahkan kembali tubuhnya, gadis itu menatap ke luar jendela. Langit di luar sudah menguning, ini hampir senja dan Baekhyun hanya berbaring seharian.

"Red, siapa wanita itu" Baekhyun menggumam "...wanita yang datang dan membuatmu tersenyum hingga matamu berbinar"

"Aku membutuhkanmu Red" Setelahnya, Baekhyun kembali jatuh tertidur.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya pagi ini. Gadis itu mendapati ibunya sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Wanita itu masih terpejam saat Baekhyun berbalik dan menatap wajah wanita yang melahirkannya itu.

Baekhyun merasa asing dengan suasana kamar itu. Baekhyun mendapati set sofa di samping tempat tidurnya, juga televisi yang tepat berada di depan tempat tidurnya, juga tangannya yang terpasang infus.

"Eomma" Baekhyun mengguncang bahu Taeyeon.

"Baekhyun, kau sudah bangun?" Taeyeon bangkit dan turun dari tempat tidur yang sempit itu.

"Kenapa kita berada di tempat ini?" Baekhyun masih melayangkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.

"Kau membuat Eomma khawatir nak, tubuhmu sangat panas, setelah makan dan meminum obat, suhu tubuhmu mulai turun, tapi saat tengah malam, tubuhmu kembali panas bahkan pengukur suhu pun tidak berfungsi" Taeyeon sembari membuka tirai jendela kamar Baekhyun.

"Eomma sangat takut dan menghubungi Kyungsoo" Wanita itu mengusap kepala Baekhyun "...Kyungsoo dan kekasihnya membawamu ke Rumah Sakit untuk memastikan kondisimu"

"Tapi, sekarang kau terlihat membaik, demammu sudah turun saat ini" Taeyeon meraba leher dan kening Baekhyun yang tidak lagi panas.

"Ya Eomma, sekarang aku baik-baik saja" Baekhyun mengangguk dan tersenyum lemah.

"Kyungsoo mengatakan akan menghubungi Park Chanyeol" Taeyeon teringat kata-kata Kyungsoo "...memangnya siapa dia? Eomma baru pertama kali mendengar namanya"

"Itu-"

'Selamat Pagi sayang'

Baekhyun berjingkat saat mendengar suara Red yang entah berada di mana. Baekhyun tidak melihat sosoknya, tapi ia mendengar suara Red dengan jelas.

"Apa yang terjadi?" Taeyeon khawatir melihat Baekhyun tiba-tiba seperti itu.

"Tidak, itu-memangnya bagaimana ia menghubungi Re- maksudku Chanyeol?" Baekhyun bingung. Bahkan Baekhyun tidak berpikir jika Red memiliki alat komunikasi layaknya manusia.

"Bukankah-"

"Ya! Baekhyun!"

Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya saat Kyungsoo membuka pintu dengan paksa dan berteriak seperti orang gila.

"Astaga, maafkan aku" Kyungsoo menunduk saat menyadari jika Taeyeon ada di kamar Baekhyun, sedangkan ia bersikap tidak sopan.

Taeyeon hanya tersenyum melihat Kyungsoo yang seperti itu.

"Duduklah nak, aku akan keluar sebentar"

Taeyeon berpikir untuk menghubungi suaminya yang berada di luar negeri. Wanita itu meninggalkan putrinya bersama Kyungsoo agar bisa berbicara leluasa.

"Kau kenapa Baekhyun? apa kekasihmu yang membuatmu seperti ini?" Kyungsoo melihat Baekhyun dari ujung kepala dan menelisik penampilan sahabatnya yang terlihat sangat berantakan "...wah, dia keterlaluan, tempo hari dia membawamu 2 malam, dan lihat apa yang dia lakukan, membuatmu kelelahan, dia-hmptt"

"Apa kau tidak bisa diam Kyung?" Baekhyun membekap mulut Kyungsoo yang terdengar berlebihan.

"Baekhyun, kenapa kau tidak mengatakan jika Park Chanyeol mu, Ppal-Ppal itu teman dari atasanmu?" Kyungsoo setelah Baekhyun melepaskan tangannya.

"Manager Wu?" Baekhyun meyaki kan.

"Pantas saja saat kau tidak masuk kerja, ia begitu santai" Kyungsoo duduk di sofa yang berada di kamar Baekhyun "...ternyata mereka bersahabat, dan aku rasa kekasihmu lebih kaya ketimbang atasanmu itu"

Baekhyun tidak mengerti dengan apa yang Kyungsoo katakan. Baekhyun tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Keduanya menoleh saat pintu kamar perawatan Baekhyun terbuka dan menampakkan sosok pria.

"Re- maksudku Chan?"

Red yang di kenal Kyungsoo bernama Chanyeol berjalan menghampiri Baekhyun yang duduk dan terlihat lemah di atas tempat tidur.

Pria itu tanpa basa-basi merengkuh tubuh Baekhyun dan memagut bibir pucat gadis itu setelahnya.

Kyungsoo hanya terperangah melihatnya. Gadis bermata bulat itu terlihat syok menyaksikan adegan yang membuat jantungnya berdetak cepat. Kyungsoo membuang pandanganya ke sembarang arah hingga Baekhyun memanggilnya.

"Astaga" Kyungsoo mengipasi wajahnya "...kenapa cuaca mendadak menjadi panas, aku akan keluar mencari angin"

"Kalian-" Kyungsoo bangkit dari duduknya "...jangan melakukan hal aneh, ini Rumah Sakit"

Red hanya tersenyum tanpa dosa, melihat Kyungsoo yang salah tingkah setelah melihat Baekhyun dan Red berciuman di depan matanya. Kyungsoo sering melakukannya, bahkan gadis itu sudah melakukan hal lebih, tapi melihat orang lain berciuman di depan matanya, ini adalah kali pertamanya.

"Red"

Baekhyun memeluk Red saat mereka hanya berdua. Red dengan penampilan barunya, penampilan layaknya pria dewasa pada umumnya kedua iris matanya terlihat normal, juga parfum beraroma segar yang ia kenakan atas anjuran Veromos.

"Aku di sini Baekhyun" Red mengusap belakang kepala gadis itu.

"Bagai mana-"

"Aku akan berlaku sebagaimana manusia berlaku di depan umum" Red saat Baekhyun menelisik penampilannya.

"Red" Baekhyun kembali memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada Red "...kemarin aku seperti bermimpi"

"Mimpi?" Red dengan wajah datar tanpa terlihat siapa pun.

"Aku melihatmu, tapi suasana itu sangat asing" Baekhyun menjeda kalimatnya "...kau sedikit berbeda, kau-"

"Lupakan saja, itu karena kau demam Baekhyun" Red terdengar malas mendengar hal-hal seperti itu.

"Hmm, ya itu mungkin karena demamku" Baekhyun tersenyum lemah di pelukan Red.

Keduanya terdiam, Baekhyun masih terlihat nyaman di pelukan Red dan sesekali menghidu aroma segar yang menguar dari tubuh iblis jantan itu.

"Selamat sayang, kau sudah menjadi pengantinku yang sempurna" Red tiba-tiba berbisik "...dia sudah tumbuh di dalam perutmu"

"Dia? Siapa dia?" Baekhyun terkejut dan menatap Red menuntut penjelasan.

"Keturunanku"

Red kembali memagut bibir Baekhyun rakus dan beralih mencumbui leher gadis itu. Tidak hanya itu, tangan besar Red bermain di dada Baekhyun dan membuat gadis itu memejamkan matanya, Baekhyun selalu menikmatinya, segala sesuatu yang Red lakukan padanya.

"Aku mencintaimu Red"

.

.

.

Tbc.

Jadi gini, aku up mumpung aku lagi ga males ngetik.

Semoga kalian ga bete bacanya ya.