Kim Doyoung (NCT)
X
Jung Jaehyun (NCT)
•
Disclaimer : They belong to themselves.
Let me say thank you for reading my story first
•
Jaehyun menatap jam di ruangannya dengan bosan, belum lagi setumpuk kertas yang harus ia tanda tangani.
Kepala Jaehyun benar-benar ingin pecah rasanya.
Pria itu lalu beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangannya.
Hendak memanggil sesosok pria yang sedang fokus dengan komputernya itu.
Belum sempat Jaehyun mengucapkan sesuatu, pria tadi yang sudah menyadari keberadaan Jaehyun segera berkata, "Hyung jika hanya ingin bertanya hal yang sama lagi maka jawabanku masih sama, klien mu belum datang dan hyung belum boleh pulang, ini kelima kalinya kau mrenemuiku," memotong perkataannya.
Jaehyun yang mendengarnya mendengus kesal, wah apa Lucas sudah tidak ingin bekerja dengannya lagi.
Lagipula kenapa ia tidak boleh pulang, biasanya Lucas bisa mengerjakan pekerjaannya dengan sendirinya tanpa memerlukan Jaehyun.
"Jika hyung bertanya kenapa aku tidak menemuinya sendiri, kurasa hyung sudah tahu bahwa ini klien penting dan mereka ingin menemui mu langsung tanpa di wakilkan," timpal Lucas lagi yang sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.
Jaehyun semakin kesal dengan Lucas yang dari tadi memotong perkataannya.
"Tapi aku ingin menemani Doyoung ke dokter kandungan hari ini," adu Jaehyun pada asisten sekaligus sekretaris pribadinya.
Lucas yang mendengar aduan Jaehyun segera menggapai gagang telponnya dan memencet nomor yang kini sudah ia hapali hampir di luar kepala.
"Halo nuna, maaf tiba-tiba mengganggumu, bisakah kau memberi tahuku kapan kau akan pergi menemui dokter kandungan?"
"Ya nuna, Jaehyun hyung daritadi memaksa untuk pulang lebih cepat padahal ia memiliki pertemuan penting hari ini," ucap Lucas yang kini mengadu pada istri dari bosnya itu.
Lucas medengarkan penjelasan Doyoung melalui teleponnya sebelum menyerahkan gagang teleponnya pada Jaehyun dan membiarkan pria itu menelfon istrinya.
"Hal-"
Jaehyun belum selesai menyapa istirnya tapi ia sudah bisa mendengar suara merdu Doyoung yang memarahinya dari telfon mendengus kesal layaknya anak kecil.
Jaehyun lalu menjawab, " iya aku tahu sayang," dengan suara lembutnya.
"Baiklah aku mengerti, sampai jumpa istriku, aku mencintaimu," pamit Jaehyun dan mengembalikan telfonnya pada Lucas.
Lucas yang menerima kembali telfonnya,dengan cepat mengucapkan terima kasih dan selamat pada Doyoung, "Halo nuna, Terima kasih banyak ya dan selamat atas kehamilan mu," lalu menutup panggilannya.
"Hyung, janji dengan dokternya masih lama, kau masih bisa menemui klien mu terlebih dulu sebelum pulang," ucap Lucas mengingatkan.
"Ya! Aku tahu itu, kau tidak perlu mengajariku apalagi sampai mengadu pada istriku,"
"Aku hanya menjalankan tugasku hyung, jadi sekarang sebaiknya hyung memeriksa kembali dokumen yang ada dan menandatanganinya supaya kita bisa bekerja lebih cepat lagi bos Jaehyun," pinta Lucas yang terdengar seperti perintah.
Jaehyun yang mendengar perkataan Lucas hanya menatap pria itu datar dan mendengus kesal.
Ia ingin pulang! Bukannya menghabiskan waktu dengan setumpuk kertas berharga jutaan won yang dari tadi ia biarkan terbengkalai di mejanya tanpa di sentuh barang sedikitpun sejak ia datang tadi.
Jaehyun menyesal masuk kerja hari ini, seharusnya ia segera menyuruh Lucas untuk mengosongkan jadwalnya saja semalam dan meminta libur begitu Doyoung memberinya kabar baik bahwa dirinya hamil.
Di rumah orang tuanya, Doyoung yang baru saja selesai membantu ibunya kini tengah membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.
Pinggangnya sakit karena terlalu lama duduk, dan Doyoung sangat tidak menyukainya!
Hal yang paling Doyoung sukai itu adalah rebahan, makan, dan Jaehyun! Doyoung sangat menyukai ketiga hal itu terutama Jaehyun walaupun baru di tambahkan Jaehyun adalah favoritnya Doyoung!
Wanita cantik itu lalu mengusap perut datarnya.
Ia masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa dirinya hamil.
Mengingat dirinya saja anti berdekatan dengan laki-laki tapi sekarang ia malah menjadi istri orang dan segera! Ia akan menjadi seorang ibu.
Doyoung sudah melamun jauh membayangkan seperti apa anaknya nanti, apa gendernya, siapa namanya dan apakah setelah ini ia akan segera memiliki anak lagi.
Tapi lamunannya yang terakhir segera ia patahkan, yang pertama saja belum lahir ia sudah menginginkan anak kedua. Doyoung lantas menutup wajahnya malu dengan pikirannya.
Acara melamun Doyoung terhenti begitu ponselnya berdering menampilkan nama Lucas di sertai alias kantor yang berarti itu telfon dari kantor suaminya.
Doyoung segera mengangkat panggilannya dan menjawab, "Halo?"
dengan suara merdunya.
Wanita itu lalu mendengar dengan seksama bagaiman asisten suaminya itu mengadu padanya.
"Halo nuna, maaf tiba-tiba mengganggumu,"
"Ada apa Lucas?"
"bisakah kau memberi tahuku kapan kau akan pergi menemui dokter kandungan?"
"Hmm seingat ku nanti sore, kemungkinan sekitar jam lima, memangnya kenapa? Apa ada masalah?"
"Ya nuna, Jaehyun hyung daritadi memaksa untuk pulang lebih cepat padahal ia memiliki pertemuan penting hari ini,"
"Benarkah? Kalau begitu bisakah aku bicara dengan Jaehyun," pintanya.
Setelahnya Doyoung bisa mendengar Jaehyun yang hendak menyapanya.
Tapi ia sudah terlebih dahulu mengomeli Jaehyun.
"Jaehyun kau ini kenapa, aku kan sudah bilang tidak usah buru-buru dan berlebihan karena aku pasti akan menunggumu pulang, aku kan sudah janji padamu! bukankah kau sudah tahu itu," ucapnya cemberut.
"Iya aku tahu sayang,"
"Kalau begitu jangan menyusahkan Lucas, jika seperti ini keren mu nanti jadi hilang, apa kau mengerti?"
"Baiklah! aku mengerti,"
"Kalau begitu sampai jumpa Jaehyun,"
"sampai jumpa istriku, aku mencintaimu,"
Doyoung terdiam beberapa saat mencerna perkataan terakhir Jaehyun.
Belum sempat Doyoung menjawab Jaehyun, tapi sepertinya teleponnya sudah terlebih dahulu dikembalikan pada Lucas.
Setelahnya Doyoung bisa mendengar Lucas berpamitan dan memberinya selamat.
"Halo nuna, kalau begitu aku permisi dulu ya, Terima kasih banyak dan selamat atas kehamilan mu,"
"Terima kasih Lucas," Doyoung menjawab dengan riang.
Setelah sambungannya terputus Doyoung menjatuhkan ponselnya di atas kasur lalu menjerit girang.
Jaehyun baru saja bilang mencintainya.
Suaminya bilang ia mencintainya!
Doyoung senang bukan kepalang, ini pertama kalinya seseorang di luar dari anggota keluarganya mengatakan cinta padanya terlebih orang tersebut suaminya.
Demi apapun Doyoung ingin mendengarkannya lagi. Suara husky dan seksi milik Jaehyun mengatakan aku mencintaimu.
Mendengar dari telfon saja sudah membuat jantung Doyoung berdetak kencang, bagaiman jika Jaehyun mengatakannya secara langsung di depan mata.
Doyoung tidak yakin ia sanggup mendengarnya secara langsung yang di sertai wajah tampan Jaehyun. Jangan-jangan ia keburu pingsan karena serangan jantung mendadak akibat pernyataan cinta suaminya.
Doyoung lalu menenggelamkan kepalanya ke bantal dan menjerit lagi dengan sangat keras.
Ah! Doyoung tidak menyangka rasanya akan semenyenangkan ini mendengar perkataan cinta dari suaminya itu.
Ia mengerti sekarang seperti apa rasanya ketika karakter utama mendapatkan ucapan cinta dari orang yang di sukai nya.
Menakjubkan ,pikirnya.
Jaehyun yang baru saja selesai dengan pertemuannya buru-buru keluar dari ruang meeting tersebut segera setelah kliennya pergi.
Ia juga menepuk pundak Lucas dan berkata, "besok aku tidak datang, jika ada sesuatu yang penting baru hubungi aku, jika tidak jangan coba-coba," ancam Jaehyun pada Lucas.
Lucas menatap Jaehyun tidak percaya.
"Aku tahu bos, ini ke sepuluh kalinya kau mengatakan ini padaku," keluh Lucas.
Bagaimana tidak, Jaehyun terus mengatakan hal yang sama berkali-kali.
Lucas tidak habis pikir dengan pria di depannya ini, bosnya ini berubah drastis semenjak menikah.
Ia hanya membayangkan apakah seindah itu menikah sampai-sampai orang yang gila kerja sekarang jadi gila bercinta.
Sejujurnya ia juga ingin sih tapi kekasih uwunya itu belum mau di ajak menikah dan jadilah Lucas seorang bujangan tampan yang kesepian.
Jaehyun yang mendengar Lucas hanya menganggukkan kepalanya seolah kagum.
"Baiklah aku pulang, sisanya ku serahkan padamu," ucap Jaehyun yang hendak memeluk dan mencium Lucas sebelum sadar bahwa yang di depannya ini bukan istrinya.
Beruntung otak Jaehyun sudah terlebih dahulu menghentikannya.
Jaehyun bergidik ngeri membayangkan dirinya melakukan adegan tadi.
Sementara Lucas, ia sih menerima saja toh Jaehyun sudah seperti saudaranya sendiri jadi yah kenapa tidak, biar mereka tampak lebih akrab atau seperti bahasa kerennya bromance.
Jaehyun segera tancap gas dan pergi dari kantornya, tak lupa mengirim pesan untuk mengabari Doyoung bahwa ia akan pulang karena ini sudah hampir jam lima dan Jaehyun tidak ingin di tinggal walaupun istrinya itu sudah berjanji akan menunggunya.
Begitu sampai di rumah orang tua Doyoung, Jaehyun sudah di sambut Doyoung yang duduk di ruang tamu bersama ibu dan adiknya.
Doyoung yang menyadari kepulangannya segera menghampiri Jaehyun dan mengajaknya menuju kamar.
"Jae, apa kau ingin mandi dulu?" Tawar Doyoung yang langsung di tolak Jaehyun.
"Tidak, nanti saja,"
"Kalau begitu apa kau ingin berganti pakaian?"
"Tidak, nanti lama, bukankah kau sudah telat? Ini sudah jam lima lewat," tolak Jaehyun mengutarakan alasannya.
"Hmm, tidak apa Jaehyun santai saja lagipula setelah dari dokter nanti kita akan makan malam dengan orang tua mu,"
"Eh? Benarkah?" Tanya Jaehyun.
"Iya Jae," jawab Doyoung singkat.
Jari-jari lentiknya bergerak mengendurkan ikatan dasi Jaehyun lalu melepasnya.
"Dimana?" Tanya Jaehyun lagi seraya menatap istri cantiknya ini.
"Di sini,"
Jaehyun hanya ber-oh ria menanggapinya, ia sudah berpikir akan pergi kemana taunya hanya di rumah.
Doyoung lalu melepas satu kancing kemeja Jaehyun agar suaminya itu tidak sesak.
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Tidak jadi," keluh Doyoung.
Wanita itu hendak beranjak dan meninggalkan Jaehyun tapi suaminya itu malah memeluknya erat.
"Jaehyun hati-hati,jangan terlalu erat," ucap Doyoung memperingatkan.
Jaehyun berdehem menanggapinya lalu menarik Doyoung untuk duduk di pangkuannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Jaehyun lembut.
"Keluar menunggumu ganti baju," jawab Doyoung polos.
Membuat Jaehyun gemas sendiri di buatnya.
Jari-jari nakal Jaehyun mengangkat naik rok selutut Doyoung dengan kepalanya yang menciumi leher sang istri, hanya kecupan ringan, Jaehyun tidak mungkin membuat kissmark sementara mereka akan pergi ke dokter.
Ia masih waras! Tentu saja.
"Jaehyun, ayo ganti baju tadi kau buru-buru sekali, kenapa sekarang jadi seperti ini," ajak Doyoung menarik wajah Jaehyun untuk menatapnya.
Jaehyun yang tadinya menatap Doyoung datar kini berubah menjadi intens dengan bibirnya menciumi lengan Doyoung yang berada di depannya.
Tangan Jaehyun naik untuk membuka satu persatu kancing baju atasan Doyoung lalu melepas kaitan bra istrinya itu.
Membuat wanita itu menyesal memakai kaos crop top kancing dan rok selutut ini.
Niatnya untuk mempermudah ketika di periksa nanti malah berakhir seperti ini.
"Jaehyun kau mau apa?" Tanya Doyoung sembari menyilangkan kedua tangannya menutupi area dadanya yang terekspose.
"Aku merindukanmu," jawab Jaehyun tiba-tiba saja.
Tangannya menarik tangan Doyoung yang menghalangi pemandangan indahnya.
Jaehyun lalu mencium kedua bongkahan favorit miliknya, menghisap puting Doyoung yang kini mengeras akibat godaannya.
Otak Doyoung jelas menolak semua perbuatan Jaehyun, mengingat mereka akan pergi ke dokter setelah ini tapi tubuhnya tidak bisa menolak buaian dan sentuhan yang Jaehyun berikan.
Bahkan jari-jari kurang ajar Jaehyun kini mulai menggerayangi area kewanitaan Doyoung.
Membuat wanita itu menarik Jaehyun yang tengah menyusu layaknya bayi menjauh dari dada sintalnya.
"Jae hentikan," tolak Doyoung menarik Jaehyun.
Tapi suaminya itu mengabaikannya dan menarik Doyoung untuk mengangkang di atas pangkuannya.
Jaehyun bahkan sudah menarik turun zipper celana kerjanya itu.
"Aku janji ini hanya quickie, aku benar-benar menginginkanmu," erang Jaehyun berbisik.
Doyoung memanyunkan bibirnya kesal.
Ia ingin menangis saja rasanya!
Apa di otak suaminya ini hanya ada pikiran kotor saja, batin Doyoung kesal.
"Tapi aku akan ke dokter Jaehyun," tolak Doyoung lembut.
Sejujurnya tubuh Doyoung sudah panas akibat godaan Jaehyun ia bisa merasakan bagaiman basahnya di bawah sana tapi ia masih memikirkan batas kewajarannya.
"Ayolah sayang," rengek Jaehyun menatap Doyoung dengan wajah memelasnya.
Doyoung menghela nafasnya berat lalu mengangguk mengiyakan.
Sebelum Jaehyun menenggelamkan kepalanya di antara belahan payudara istrinya, Doyoung terlebih dulu berkata, "janji tapi ya," sembari mencubit pipi Jaehyun untuk melampiaskan kesalnya.
Dan Jaehyun mengangguk menyetujuinya dengan cepat mengabaikan pipinya yang memerah akibat cubitan Doyoung.
Sementara Doyoung hanya berharap Jaehyun tidak membohonginya.
Wanita itu membiarkan Jaehyun mengarahkannya, Doyoung sedikit mengangkat tubuh untuk mempermudah Jaehyun.
Doyoung bergidik ngilu begitu merasakan sesuatu yang keras menusuk di bagian bawahnya.
Jaehyun lalu menuntun Doyoung untuk menurunkan pingganya secara perlahan.
"Nghh," desah Doyoung tertahan yang membekap mulutnya sendiri.
Begitu tubuhnya dan Jaehyun menyatu, Jaehyun merebahkan tubuhnya dan menarik Doyoung untuk bertumpu pada dadanya bidangnya.
Doyoung menaik-turunkan pinggangnya dengan perlahan karena ngilu.
Ia pikir posisinya akan di bawah tapi Jaehyun malah menyuruhnya yang bergerak.
Kalau tahu begini Doyoung menolak saja.
Selagi Doyoung meringis, di bawahnya Jaehyun menggeram nikmat.
Jaehyun bahkan masih berpakaian lengkap, pria itu hanya melepas ikat pinggangnya agar mempermudah dirinya membuka zipper dan mengeluarkan miliknya.
Sementara Doyoung yang sudah setengah telanjang terpaksa memegangi pinggiran roknya. Rasanya kesat karena Jaehyun masih memakai celana kantornya.
"Akhh Jaehh," Doyoung meringis di dalam desahan ketika di rasa milik Jaehyun menghujamnya dengan keras.
Jaehyun lalu menarik Doyoung untuk menciumnya, ia meraup bibir ranum istrinya penuh nafsu.
Di kamar itu hanya terdengar decitan kasur Doyoung yang bergerak dan suara kecapan yang berasal dari ciuman Jaehyun dan Doyoung.
Hingga tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu kamar Doyoung yang membuat Jaehyun dan Doyoung terkejut seketika.
"Doyoung? Apa kalian tidak jadi pergi," tanya orang tersebut.
Itu ibunya!
Doyoung yang panik seketika melepas tautan bibir mereka karena ia tidak ingat apakah dirinya sudah mengunci pintu kamarnya atau belum.
Sedangkan Jaehyun terpaksa merelakan Doyoung yang melepas ciumannya.
"Jadi eomma, aku sedang menunggu Jaehyun mandi akkhh" jawab Doyoung yang di iringi ringisan.
Di bawahnya Jaehyun masih menggerakkan pinggulnya sembari menggigit payudaranya membuat Doyoung mendesah kesakitan.
Doyoung membungkam mulutnya menahan desahan dari nikmat rangsangan yang Jaehyun berikan.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya ibunya khawatir begitu mendengar Doyoung kesakitan.
"Ti-tidak,hanya saja kakiku menabrak meja," bohong Doyoung.
Ia menggelengkan kepalanya pada Jaehyun yang kini menatapnya menggoda.
"Baiklah, sebaiknya kalian lebih cepat, ayah dan ibu Jaehyun akan ke sini, bukankah kau berencana memberi tahu mertuamu," ucap ibu Doyoung mengingatkan.
"Iyaa aku tahu eomma mhh," balas Doyoung yang langsung mengigit bibir bawahnya.
Ia menatap Jaehyun horor. Apa suaminya ini gila, di balik pintu itu ada ibunya dan di bawahnya Jaehyun tidak juga berhenti menggerakkan pinggulnya.
"Yasudah," jawab ibunya yang kemudian menghilang.
Doyoung lalu menjambak rambut Jaehyun, menjauhkan kepala suaminya yang masih menghisap kedua dadanya bergantian.
"Jaehhyunmhhh," lenguh Doyoung panjang memanggil nama sang suami begitu mendapatkan puncaknya.
"Nhhh," desah Jaehyun menyahuti.
Dan setelahnya Doyoung bisa merasakan bagaimana milik Jaehyun terus menyemburkan cairan panasnya.
Doyoung terduduk lemas di atas Jaehyun akibat klimaksnya sebelum beranjak dan berbaring di sebelah Jaehyun.
Sedangkan Jaehyun segera mengambil beberapa helai tisu untuk membersihkan miliknya dan juga celananya yang terkena cairan mereka.
Pria itu lalu berangkat dari duduknya dan mengecup pipi Doyoung sayang.
"Aku akan ganti pakaian, apa kau mau ikut ke kamar mandi?" Tawar Jaehyun dan Doyoung mengangguk lemah.
Jaehyun lantas menggendong Doyoung ala bridal lalu mendudukkannya di atas closet duduknya yang bermerk Toto itu.
Saat Doyoung akan membersihkan kewanitaannya Jaehyun menahannya.
Ia berjongkok dan mencium paha sang istri dan meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sekitaran paha dan selangkangannya.
Ketika Jaehyun akan mencium area sensitifnya Doyoung menahan kepala Jaehyun dan menyemprotnya dengan selang air yang ada di sampingnya hingga membuat baju dan celana kerja Jaehyun basah.
"Hentikan Jaehyun! Kau sudah berjanji tadi,"
Doyoung mengingatkan.
Jaehyun yang baru saja di semprot sang istri hanya mengusap wajah basahnya kesal.
"Kau tidak harus menyemprot ku seperti ini juga," gerutu Jaehyun.
Pria itu bangkit melepas kemejanya yang basah lalu mengurasnya.
Doyoung mengabaikan rutukan Jaehyun dan hanya fokus membersihkan dirinya sendiri sebelum beranjak dari tempatnya.
Jaehyun yang sudah melepas kemejanya segera memeluk Doyoung.
"Sayangg, jidatku sakit," adu Jaehyun pada sang istri.
Doyoung yang merasa kasihan menarik Jaehyun untuk menatapnya.
Baik dirinya dan Jaehyun sama-sama topless tapi mereka tidak malu lagi terutama Doyoung karena mereka sudah terbiasa melihat pemandangan yang ada.
"Maafkan aku yah," sesal Doyoung lalu mengecup kening Jaehyun yang sedikit memerah.
Doyoung tidak bisa mengelak, semprotan airnya ini memang sangat deras ia yakin jika bukan Jaehyun yang merenggut keperawanannya maka semprotan ini yang mungkin melakukannya, beruntung Doyoung selalu mengecilkan volume airnya terlebih dahulu agar hal tersebut tidak terjadi dan Jaehyun tetap satu-satunya yang mendapatkannya.
"Sudah mandilah sana!"
"Ah dan terima kasih untuk mu yang tampan ini karenanya aku harus berdandan dan siap-siap lagi, jadi berhentilah menyentuhku," ucap Doyoung yang mulai jengkel karena Jaehyun tidak bisa di diam barang sebentar.
Doyoung yang kesal mencubit pinggang Jaehyun dengan kuat sebelum meninggalkannya.
Setelahnya mereka segera pergi ke klinik dokter kandungan milik kenalan ibu Doyoung.
Sebenarnya Jaehyun mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit tapi Doyoung menolaknya, ia memilih klinik rekomendasi ibunya ini karena ada teman Doyoung yang juga praktek di sini setelah mengambil profesi spesialisnya.
"Kau yakin tidak ingin ke rumah sakit besar saja?" Tanya Jaehyun yang masih duduk di bangku kemudinya sembari memeluk setir mobilnya memastikan.
Ia menatap Doyoung yang sedang melepas sabuk pengamannya dengan hati-hati sembari merapikan pakaiannya.
"Tidak perlu Jaehyun, ini klinik rekomendasi ibuku dan kebetulan temanku juga ada di sini," ucap Doyoung meyakinkan
Jaehyun yang sedikit alergi mendengar kata teman segera menahan Doyoung dengan memojokkan sang istri dengan cara mengurungnya di antara tangannya, pintu mobil dan sandaran kursinya.
Jaehyun lalu mengulang perkataan Doyoung dengan menyebut, "Teman?" Dengan nada bertanya.
Dan Doyoung mengangguk cepat.
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Jaehyun lagi dengan penuh selidik.
"Dia perempuan Jaehyun, dia sunbae ku saat SMA dulu," jelas Doyoung mengusap rahang tegas Jaehyun.
"Awas kalau berbohong, kucium nanti," ancam Jaehyun membuat Doyoung tertawa mendengarnya.
"Aku tidak bohong Jaehyun sayang," balas Doyoung yang mengecup bibir Jaehyun sekilas.
Jaehyun sempat tersipu karena Doyoung memanggilnya sayang dan begitu Doyoung akan menjauhkan wajahnya, Jaehyun menahannya dan berkata, "lagi!" sembari meminta.
Doyoung menatap Jaehyun sesaat lalu tersenyum kemudian Doyoung segera memagut bibir tebal suaminya itu dan menciumnya hingga Jaehyun puas.
Selesai dengan acara manja-manja nya, Jaehyun segera mengajak Doyoung turun dari mobilnya.
Ia memeluk pinggang Doyoung yang berjalan di sampingnya.
Setelah mendaftar, Jaehyun dan Doyoung menunggu hingga giliran Doyoung di panggil.
Ada pasien lainnya yang juga menunggu giliran.
Ada berbagai macam jenis wanita di sana, di mulai dari yang perutnya sudah membesar seperti balon hingga yang sudah kempes karena sudah menjadi bayi, batita dan balita untuk melakukan imunisasi rutin mungkin, Jaehyun juga tidak tahu.
Sedangkan Doyoung yang melihatnya jadi semakin tidak sabar!
Sejujurnya Jaehyun merasa risih karena sejak ia masuk ke klinik ini ia terus saja menjadi pusat perhatian di sana.
Ia tahu dirinya sangat tampan, tapi tetap saja ia tidak nyaman di pelototi sebegitunya karena istrinya saja tidak pernah menatapnya seperti wanita kelaparan.
Jaehyun agak menyesal dirinya ikut dengan Doyoung tapi ia juga tidak tega jika Doyoung pergi sendiri atau hanya di temani ibu dan saudaranya saja soalnya dirinya kan gentleman sejati! Mana mungkin Jaehyun membiarkan istirnya mandiri atau panjangnya mandi sendiri.
Selagi Jaehyun bisa menemani istrinya kenapa tidak daripada menyesal nantinya seperti Jaehyun di cerita sebelah.
Doyoung yang tadinya hanya mengagumi dalam diam kini membuka suaranya.
"Aaah Jae~ bayinya lucu sekali," puji Doyoung menatap seorang bayi gemuk yang berusia sekitar enam atau tujuh bulan yang sedang menghisap empengnya dengan liur di sekitar bibirnya.
Ew! Pikir Jaehyun, apanya yang imut, bayi itu terlalu gendut dan tidak lucu sama sekali, ia yakin Doyoungnya beribu-ribu kali lebih lucu dari bayi itu.
Ia juga yakin anaknya nanti akan lebih lucu dan imut dari bayi yang kini sudah berada di gendongan dan menggesekkan kepalanya di dada Doyoung
Sebentar! Jaehyun yang melihatnya langsung melotot horor ke arah bayi tidak sopan itu!
Dia ingin menginterupsi Doyoung dan menyuruhnya mengembalikan bayi modus itu pada ibunya
Tapi di abaikan begitu saja oleh istrinya yang kini mulai sibuk berbincang dan mengakrabkan dirinya dengan semua wanita yang ada di sana.
Jaehyun cukup kagum dengan kemampuan sosialisasi Doyoung yang sangat baik tapi hanya dengan wanita saja. Dan Jaehyun tidak masalah dengan itu, karena Jaehyun lebih suka Doyoung banyak berteman dengan wanita daripada laki-laki.
Walaupun hampir tidak mungkin sih sebenarnya.
Sebelum Jaehyun kembali tersadar dengan bayi yang berada di gendongan istrinya itu kini tertawa menatap ke arahnya sembari menepuk payudara istirnya girang.
Oh tuhan! Apa bayi ini mengejekku, batin Jaehyun kesal.
Apakah Doyoung tidak merasa dirinya sedang di lecehkan oleh bayi itu apa! Jaehyun menggerutu dengan kepalanya yang kini berasap.
Katakan Jaehyun berlebihan karena cemburu dengan bayi yang mungkin baru saja tumbuh gigi atau baru bisa berjalan dan merangkak.
Jaehyun yang tadinya hanya fokus dengan dunianya sendiri yaitu beradu tatap dengan bayi tidak sopan yang ada di pelukan istrinya itu.
Tersadar ketika Doyoung menyerahkan bayi tadi pada ibunya dan berdiri karena dirinya sudah di panggil.
Jaehyun segera berdiri di samping Doyoung dan memeluknya lagi.
Tapi matanya tetap melotot ke arah bayi tadi yang justru membuat ibu bayi itu berkedip salah tingkah karena mengira Jaehyun menatap ke arahnya membuat Doyoung terpaksa menariknya agar menghentikan tingkah kekanak-kanakannya itu.
Doyoung tidak habis pikir dengan kelakuan Jaehyun.
-TBC-
