Previous
Sehun meninggalkan ruangannya untuk menemui Hyungnya mana tahu tadi Hyungnya ada ingin sampaikan hal penting seperti yang dikatakan Luhan.
Malam harinya Sehun pulang lebih lama satu jam dari biasanya dan sudah mengabari Luhan akan hal tersebut, dirinya cukup bersyukur memiliki Luhan sebagai istrinya karena sabar dengan dirinya yang sangat sibuk dan sibuk.
CLECK
"Sudah pulang?" Luhan bertanya sambil membantu suaminya untuk melepaskan dasi serta tas kerja Sehun untuk dibawa kedalam rumah
"Hm, aku sudah mengerjakan bagianku untuk hari ini" Sehun senang karena setidaknya sudah selesai 30% dari semuanya
"Jangan bilang karena tidak ingin waktu untukku berkurang makanya kau cepat pulang Sehun" Luhan memincingkan matanya menatap sang suami, bukan dirinya tidak senang jika suaminya cepat pulang namun dirinya sangat tahu dengan jelas jika suaminya sibuk akhir – akhir ini
"Bukan sayangku" Sehun mencium bibir Luhan dengan gemas karena tuduhan yang diberikan oleh istrinya "Aku mengerjakan semua pekerjaanku dengan semangat setelah mendapat ciuman cinta darimu, besok – besok cium lagi biar semangat kerjanya"
PLAK
"YAK! LU, KENAPA KAU SADIS PADA SUAMIMU" Sehun menggerutu dan mengusap lengannya yang dipukul sang istri dengan santainya
"Aku sudah memberikan morning kiss dipagi hari dan ciuman padamu ketika berangkat bekerja, kurang apalagi coba bahkan kau diam begitu ketika makan siang seperti orang sakit. Apa jangan – jangan kau memiliki simpanan dikantor makanya semangat bekerja setelah mendapat ciuman darinya?"
Sehun menggelengkan kepalanya dengan cepat atas tuduhan sang istri padanya, entah dosa apa dirinya sehingga mendapat tuduhan seperti itu yang sangat tidak layak untuk dituduhkan padanya "Tidak, kau bicara apa"
"Kau sendiri yang mengatakan jika setelah mendapat ciuman semakin semangat bekerja" Luhan semakin gencar menggoda suaminya yang sudah menggodanya terlebih dahulu, mungkin cara seperti ini lahh yang membuat suaminya untuk lepas dari rasa stres
"Sudah lahh, aku hanya bercanda. Tidak ada yang kucintai selain dirimu"
"Oh benarkah? Tapi ngomong – ngomong aku juga bercanda"
"YAK! Awas kau"
Sehun berlari mengejar Luhan yang sudah lari duluan untuk menghindarinya, bahkan mereka saling kejar mengejar dan bercanda hingga makan malam mereka undur menjadi satu jam setelah Sehun menangkap Luhan dan memberikan hukuman ringan pada sang istri.
..
..
..
#Sukinanda - #I-Love-You
..
..
..
Main Cast : HunHan
Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita
..
..
..
Pagi harinya tetap seperti biasanya dimana Luhan memasak untuk makan siang setelah mengantar kepergian suaminya untuk berangkat bekerja. Mungkin bagi sebagain orang jika pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu merepotkan dan sebagainya tetapi bagi Luhan itu bukan masalah besar justru dirinya senang bisa mengerjakan semuanya sendiri dengan baik.
Bagi Luhan menyuruh orang mencuci baju suaminya sama saja beserta yang lain membuatnya sedikit kesal jika ada orang yang memuji atau mendambakan suami tampannya, memang dirinya mengakui apa yang dikatakan oleh orang banyak kalau suaminya tampan tapi hatinya tetap kesal jika ada saja yang memuji suaminya atau mendambakan suaminya.
"Aku masak apa ya untuk suamiku hari ini?" Luhan bingung dan bertanya pada dirinya sendiri, padahal selama ini dirinya selalu memasak apa adanya dan sang suami akan makan dengan lahap terutama jika dirinya memasak ayam goreng karena suaminya sangat suka dengan makanan tersebut
"Ah, masak ayam kecap saja" Luhan memikirkan hal tersebut karena jika keseringan masak ayam goreng maka suaminya tidak akan seseksi itu lagi karena terlalu banyak makan yang berminyak
Luhan masak dengan santai seolah semua yang dilakukannya bukan hal berat, jika dipikir memulainya dari awal seperti memasak nasi, masak sayur, dan daging sendirian merupakan tugas berat namun dirinya tidak pernah mengeluh akan hal itu karena dirinya ingat jika suaminya jauh lebih lelah dibandingkan dirinya karena mencari nafkah untuk sang istri dan sang anak kelak.
Drtt Drrtt
"Siapa yang telepon, orang lagi sibuk" Luhan menggerutu namun tetap melihat nama sang pelenepon yang menggangu aktifitasnya untuk memasak makan siang, jika Sehun itu tidak mungkin karena suaminya tidak pernah menelponnya seperti saat ini dan jikalau suaminya maka nada dering ponselnya akan berbeda untuk sang suami tercinta
"Aduh... Kenapa dia telepon segala" Luhan jelas bingung dan ragu antara dirinya ingin mengangkat telepon tersebut atau mengrejectnya saja, dirinya teringat dengan sangat baik dan jelas jika suaminya melarang dirinya untuk berhubungan dengan orang tersebut
Drtt Drtt
"Aduh... Nih orang bikin kesal saja" Luhan dengan kesalnya mengangkat telepon setelah sang penelepon meneleponnya untuk kedua kalinya dan itu membuatnya naik darah jika tidak mengangkat telepon yang sangat tidak penting tersebut menurutnya
"Hallo..." Luhan dengan kesal menyapa sang penelepon
"Hallo, aduh kenapa galak amat buk?" Hoya membalas sapaan Luhan dengan cengirannya karena mendengar suara jengkel sahabatnya yang sedang diteleponnya
"Ya iya lahh, orang lagi sibuk memasak makan siang dan diganggu oleh orang jelek" Luhan tidak mungkin secara jujur mengatakan jika suaminya melarang dirinya untuk berdekatan dengan Hoya namun dirinya sendiri yang akan dengan perlahan – lahan menjauhi Hoya secara teratur dan bermain cantik agar sahabatnya tidak mencurigai dirinya dan sang suami
"Wahh... Bagi dong buk, sekalian ingin menyicipi masakan Luhan cantik" jawab Hoya dengan santai dan membuat Luhan ingin muntah mendengar ucapan Hoya seperti itu, dirinya juga bingung padahal pada awalnya dirinya tidak mengerti dengan maksud sang suami namun karena dirinya percaya sepenuhnya dengan sang suami maka dirinya mulai tidak menyukai Hoya dengan sendirinya tanpa paksaan dari sang suami atau sebagainya
"Eh... Enak saja bagi – bagi, ini untuk suami tercinta. Makanya cepatan cari istri, biar bisa setiap hari masakin sama kamu jelek"
Hoya tertawa mendengar nada sindiran yang diberikan oleh sahabatnya padanya, namun bukan Hoya jika diam saja jika disindir seperti barusan "Untuk apa dapat istri jika aku selalu sibuk dan suka keluar negeri, aku tidak mau istriku seperti anjing yang dikurung dirumah atau pembantu yang tugasnya hanya masak, bersih rumah dan melayani suami. Aku kasihan denganmu Lu yang hanya mengurus rumah dan suamimu"
Luhan tidak menyangka jika Hoya mulutnya sangat berbisa, padahal selama ini dirinya sudah menganggap Hoya seperti keluarganya sendiri walaupun dirinya sering membully sang sahabat namun itu hanya untuk bercanda. Apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga tetapi dirinya masih harus berakting dulu agar semua berjalan dengan lancar dan tidak pakai kekerasan.
"Mungkin dimatamu aku seperti itu, tapi bagiku itu adalah pekerjaan yang wajib sebagai seorang istri dan satu hal yang harus kau tahu Hoya kalau suami tampanku tidak pernah melarangku untuk berpergian" Luhan menjawab sindirian Hoya dengan santai dan apa yang dikatakannya adalah fakta karena suaminya tidak pernah memaksa atau membatasinya, dan hal yang pernah dibatasi suaminya adalah berhubungan dengan Hoya dan itu sangat tepat untuk kebaikan mereka
"Apa kau tidak berminat jalan – jalan samaku dan Jiyeon?" Hoya bertanya karena sudah lama mereka tidak berjalan, Jiyeon merupakan sahabat mereka namun berbeda kelas dan jurusan ketika senior high school namun itu tidak melunturkan persahabatan mereka
"Akan kupikirkan, maaf aku sedang sibuk. Bye" Luhan dengan cepat mematikan sambungan ponsel dan meletakannya dimeja conter, dirinya malas berbicara dengan Hoya jika hanya ingin menjatuhkan suaminya seperti itu dan sekali lagi dirinya hanya percaya pada sang suami
Luhan membuang semua rasa kesalnya dan melanjutkan memasak makan siangnya untuk sang suami dan setelah semuanya selesai Luhan berangkat dengan taksi menuju kantor suaminya, walaupun sebenarnya sang suami bisa menyuruh bawahannya untuk menjemputnya namun itu sangat merepotkan untuk bawahan sang suami yang juga sibuk dengan kerjaan yang lain.
CLECK
Sehun mengalihkan perhatiannya dari berkasnya menuju pintu dan tersenyum karena yang datang adalah sang istri, padahal awalnya dirinya mengira Suho yang datang karena dirinya sudah memberikan akses pada Suho sang sahabat yang menjabat sebagai seketarisnya untuk masuk saja keruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hai sayang" Sehun berjalan menjauhi meja kerjanya dan mendekati sang istri yang sudah duduk disofa untuk makan siang bersama seperti biasa, jika sang istri tidak datang setiap harinya setiap makan siang maka bisa dipastikan dirinya akan telat makan dari jadwal yang sudah ditentukan namun siapa yang berani memarahinya selain Hyungnya
"Hai juga suamiku" Luhan tertawa geli karena Sehunnya sangat ceria jika dirinya sudah datang, padahal biasanya sang suami akan memasang wajah datarnya sambil memeriksa berkas. Sehun memberikan ciuman dibibir istrinya sebagai tanda sayang dan Luhan membalas ciuman suaminya tanpa nafsu
"Ayo dimakan" Luhan membuka rantangnya dan memberikan pada Sehun yang sudah diisi dengan lauk pauknya, sebagai istri yang baik harus serba menyiapkan keperluan sang suami walaupun hanya hal kecil
Sehun menerimanya dan mencium bibir istrinya sebagai ucapan terima kasih, setelah selesai memberikan kecupan terima kasih dirinya cukup heran setelah melihat lauk makan siang mereka yang berbeda dari biasanya karena tidak ada ayam goreng seperti biasa.
"Loh, ini apa?" Sehun bertanya dengan polosnya sambil menatap sang istri yang hanya tersenyum saja
Luhan jelas tersenyum karena melihat wajah polos suaminya, jarang – jarang dirinya bisa melihat ekspresi suaminya yang seperti itu karena selama ini suaminya sangat jarang memberikan ekspresi lain selain datar dan tersenyum (itu juga disaat tertentu dan tentunya hanya pada saat mereka sedang berdua).
"Lu, aku bertanya bukan melawak. Kenapa kau tersenyum sih?" Sehun tambah bingung karena istrinya bukannya menjawab malah tersenyum melihatnya, emangnya diwajahnya ada yang aneh atau lucu gitu sehingga istrinya ketawa sendirian
"Iya – iya sayangku, itu namanya ayam kecap dan rasanya enak coba saja. Aku tidak mau masak ayam goreng terus karena itu tidak baik untuk kesehatanmu, apa kau mau gemuk dan kehilangan badan kekarmu karena kebanyakan konsumsi minyak?"
"Tentu saja aku tidak mau, tapi ngomong – ngomong kenapa kau sangat perhatian pada badan kekarku?" Sehun bingung untuk kesekian kalinya karena sang istri sangat peduli pada kesehatannya dan badan kekarnya
"Karena aku menyukai badan kekarmu, apalagi saat bercinta" Luhan membisikkan tiga kata terakhir tersebut, namun bukan maksud menggoda hanya ingin memberitahu jawaban yang sebenarnya pada sang suami
"Lu, jangan menggodaku" Sehun menatap frustasi sang istri karena bisa – bisanya menggoda dirinya pada saat sedang makan siang, padahal kerjanya masih banyak dan tidak ingin lembur karena mereka bercinta dikantor
"Aku tidak menggodamu sayang, kalau menurutmu seperti itu maka selesaikan kerjaanmu setelah itu terjadi aku akan memberikan beberapa pertunjukan padamu nanti malam" Luhan tahu jika apa yang dikatakannya membuat suaminya tersiksa walaupun dirinya tidak berniat menggoda sang suami, namun karena suaminya lelaki sejati yang bisa saja bangun penisnya jika digoda
"Baik, aku akan menikmati pertunjukan yang kau berikan Lu" Sehun makan siang dengan lahap karena perjanjian yang dibuat Luhan sangat menggiurkan untuknya, mereka sudah beberapa hari tidak melakukannya karena sibuk
Selesai makan siang, Luhan merapikan rantang bawaannya untuk dibawa pulang sedangkan suaminya masih duduk disamping isrinya dengan baik tanpa mengeluh.
"Sehun"
"Hm"
"Aku besok ingin ketemuan dengan sahabatku, apa aku bisa pergi?" Luhan tetap minta izin pada suaminya, dan sebagai istri yang baik harus mendengar setiap perintah dari suaminya
"Sama siapa? Hoya lagi?" Sehun memasang wajah kesalnya karena dirinya sangat takut jika Luhan bertemu dengan yang bernama Hoya yang merupakan lucifer dari segala lucifer yang ada didunia ini
"Salah satunya, tapi kami ada tiga orang disana" Luhan menjawab dengan ragu karena suaminya belum tentu memberikan izin padanya karena kehadiran Hoya
Sehun berpikir cukup lama untuk menjawab permintaan sang istri, jika dirinya terlalu mengekang Luhan sama saja dirinya suami yang overprotective dan tidak memberikan kebebasan pada istrinya "Kau boleh pergi, jaga dirimu baik – baik selama berada disekitarnya" dirinya memberikan izin namun cukup enggan menyebutkan nama sahabat istrinya
"Gomawo" Luhan mencium sekilas bibir suaminya karena sudah memberikan izin padanya, padahal perkiraannya adalah sang suami tidak memberikan izin atas permintaannya barusan
"Baiklah, aku pulang dulu Sehun. Baik – baik bekerja dan jangan lupa pulang tepat waktu karena pertunjukan akan tetap berjalan"
Luhan mencium bibir suaminya dengan ganas dan langsung keluar dari ruangan tersebut karena takut sang suami lepas kendali dan menyerangnya habis – habisan diruangan tersebut. Bukan dirinya ingin menjadi istri durhaka karena menyiksa suaminya dengan menaikkan hormonnya namun dirinya tidak ingin sang suami lembur hanya karena masalah kerjaan yang tertunda.
..
..
..
Sesuai dengan janji yang sudah dibuat, Luhan pergi kerestorant yang telah mereka sepakati setelah mengantar makan siang sang suami melalui Suho yang juga barusan keluar dari kantor untuk membelikan makan siang untuk klien. Dirinya merasa cukup beruntung karena ada Suho yang bisa membantunya untuk mengantarkan makan siang pada sang suami, walaupun dirinya akan makan siang diluar bersama teman lamanya namun tidak pernah melupakan sang suami yang harus makan sehat buatannya.
CLECK
"Luhan!"
Luhan berjalan kearah meja dimana kedua sahabatnya sudah duduk dan memesan minum sambil menunggunya yang memang datang lebih lama dari waktu yang dibuatnya.
"Kau mau pesan apa Lu?" Jiyeon bertanya setelah Luhan sahabatnya duduk dikursi, sedangkan Hoya lanjut makan siang sambil memperhatikan Luhan yang bertambah cantik saja dari terakhir pertemuan mereka
"Aku pesan nasi goreng dan aqua saja" Luhan memesan tersebut setelah pelayan datang dan mencatat pesanannya, kemudian pelayan tersebut pergi untuk menyiapkan hidangan yang baru saja dipesan
"Jiyeon, bagaimana kabarmu?" Luhan bertanya karena Jiyeon adalah sahabatnya yang satu – satunya berjenis kelamin perempuan sehingga dirinya lebih akrab dengan Jiyeon daripada Hoya yang berjenis kelamin laki – laki
"Baik, kau sendiri?" Jiyeon bertanya dengan semangat karena ini pertemuan mereka setelah empat tahun lamanya mereka mengayam pendidikan diuniversitas yang berbeda dinegara yang berbeda pula
"Aku juga baik"
"Kau jahat Lu. Pada saat kita bertemu kau tidak ada seramah itu padaku" Hoya cemberut karena Luhan lebih ramah pada Jiyeon daripada dirinya
"Hei, lanjut makan saja. Kau kan cowok mana mungkin aku tanya begituan karena suamiku bisa marah" Luhan kesal karena Hoya jadi mentel dan alay begitu, padahal dari pertemuan awal dirinya bisa melihat Hoya nampak segar dan baik kenapa harus ditanyai. Berbeda dengan wanita karena itu hanya basa basi saja ketika bertemu bukan pertanyaan layak untuk ditanyai
"Oh ya, kau sudah menikah?" Jiyeon terkejut karena tidak menyangka jika sahabatnya sudah menikah, dirinya merasa sedikit kesal karena tidak diundang ketika sahabatnya menikah
"Tentu saja, kau tahu siapa suaminya?" Hoya kesal dan menjawab rasa penasaran Jiyeon tentang Luhan yang sudah menikah
"Siapa?" Jiyeon yang sudah penasaran langsung menyambar ucapan Hoya yang sangat gantung untuk bercerita sementara Luhan menahan kesalnya karena Hoya sudah mulai kelawatan batas padahal seharusnya dirinya yang bercerita dan memamerkan suaminya namun justru Hoya yang sekarang mempromosikan dirinya bersama sang suami
"Oh Sehun, musuh abadi Luhan semasa senior high school" Hoya sangat antusias menceritakan tentang Sehun pada Jiyeon dan mengabaikan wajah kesal sahabatnya yang tidak lain adalah Luhan sang istri dari topik pembicaraan mereka saat ini
"WHAT?"
"ISH, kenapa jadi kau yang bercerita. Seharusnya aku yang mempromosikan suamiku" Luhan mengungkapkan kekesalannya yang sudah tidak bisa ditahannya lagi sedangkan Hoya hanya tersenyum saja membalasnya
"Kau serius Lu menikah dengan Oh Sehun?" Jiyeon bertanya langsung pada sahabatnya, karena masih tidak menyangka jika sahabatnya menikah dengan orang yang selama ini selalu menjadi bahan ejekan mereka
"Hm, aku menikah dengannya"
"Kenapa bisa terjadi?"
"Awalnya ini karena perjodohan, tetapi lama kelamaan kami juga saling mencinta" Luhan menceritakan sekilas karena kalau diceritakan dari awal sampai akhir juga tidak ada gunanya
"Kau melukai hatinya Lu" Jiyeon mengatakan hal tersebut setelah tahu kalau Luhan sudah ada yang memiliki
"Hah? Siapa? Oh Sehun maksudmu?" Luhan sangat terkejut karena ucapan Jiyeon sangat rumit untuk dimengerti, bisa saja yang dimaksud Jiyeon adalah suaminya namun suaminya baik padanya dan selalu mengungkapkan jika ada rasa tidak suka sehingga membuat pikirannya bercabang untuk mencari tahu pelaku dari yang dikatakan Jiyeon
"Bukan, Hoya. Dia datang kesini karena ingin melamarmu" Jiyeon tahu dengan baik karena selama ini Hoya meneleponnya untuk meminta pendapat mulai dari barang – barang hingga hal yang disukai Luhan
"Hah?" Luhan melirik kearah Hoya yang membuang muka karena rahasia besarnya sudah dibocorkan, namun dirinya tidak memiliki perasaan sama sekali pada Hoya karena dirinya sudah menganggap Hoya sebagai saudaranya
"Tapi kau sudah ada yang punya, jadi aku akan menyerah" Hoya menjawab dengan cepat karena tidak suka dirinya menjadi pokok pembahasan mereka yang pastinya tidak ada hentinya untuk dibahas
"Terima kasih sudah menyukaiku dan itu adalah hakmu, tetapi mau aku sudah punya suami atau masih belum aku tidak bisa menerimamu karena aku sudah menganggapmu sebagai saudara" Luhan memperjelasnya agar tidak ada yang bisa membuat cerita baru akan hubungan mereka yang sebatas sahabat saja
Setelah pembahasan tersebut Luhan makan siang sendirian namun ditemani oleh kedua sahabatnya, setelah makan siang mereka jalan – jalan kesungai han seperti masa senior high school dulu untuk menghabiskan waktu.
..
..
..
Sore harinya tepat pukul setengah tiga sore Luhan sudah pulang kerumah walaupun awalnya sahabatnya – sahabatnya menahannya lebih lama karena masih rindu dan ingin menghabsikan waktu untuk bersama. Tetapi Luhan ingat akan statusnya sebagai seorang istri dan oleh karena itu dirinya pulang dengan nekat karena ingin memasak makan malam untuk sang suami tercinta.
Saat sedang masak dirinya tidak menyadari kehadiran seseorang yang masuk kedalam rumah mereka dengan pelan – pelan.
"YAK!" Luhan terkejut karena ada yang memeluknya dari belakang, namun ketika merasakan betapa hangatnya pelukan tersebut membuatnya sadar jika itu adalah ulah suami tampannya
"Hai sayang, apa kau sudah bertemu dengan teman lamamu" Sehun mengajukan pertanyaan pertamanya daripada melihat Luhan kesal karena ulahnya yang masuk tanpa menyapa terlebih dahulu seperti biasa
"Hm, aku sudah bertemu dengan mereka. Kau tahu, Hoya sangat cerewet seperti banci karena mengatakan pada Jiyeon sahabat kami tentang dirimu" Luhan kembali kesal jika mengingat Hoya yang sangat cerewet dibandingkan dengan masa senior high school dimana Hoya hanya akan menjadi pendengar yang baik dan memberikan beberapa solusi atas masalah mereka saja
"Nghh.. Tidak usah dipikirkan" Sehun mengendus leher istrinya karen bingung cara untuk menenangkan istrinya yang sedang mengamuk besar
"Jangan mengendusku nanti penismu bangun sayang. Kau tahu kalau Jiyeon tidak sengaja membocorkan rahasia besar Hoya, kalau ternyata Hoya mencintaiku"
Sehun yang mendengarnya langsung melepas pelukannya dan menatap datar sang istri yang seolah mengumbarnya didepannya secara tidak langsung.
"Hei jangan marah, aku tidak akan menyukainya. Because You're my everything" Luhan mencium bibir sang suami kemudian melanjutkan acara memasaknya, dirinya tidak bisa memaksa sang suami agar langsung bersikap seperti biasa karena itu hak sang suami
"Aku mandi dulu"
"Baiklah"
Luhan hanya geleng – geleng kepala melihatnya, karena dengan sikap dingin suaminya menunjukkan betapa suaminya mencintainya dan tidak suka jika ada orang yang menggangu dirinya apalagi menembaknya seperti itu.
~TBC~
