Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Nayeon POV

Jika ada yang bertanya alasan aku begitu membenci Byun Baekhyun, itu akan sulit untuk menjabarkannya.

Pertama biarkan aku memberitahumu.

Byun Baekhyun adalah kakak ku. Kami sedarah tapi lahir dari ibu yang berbeda.

Semua kebencian ku dimulai ketika seorang laki-laki paruh baya datang ke rumahku. Aku tidak tau apa-apa sampai orang itu memperkenalkan diri sebagai ayahku, ayah kandung. Ayah seperti sosok asing dalam hidupku karena sejak aku lahir, aku hanya punya seorang ibu. Namun perlahan, sosok itu mulai masuk ke dalam hidupku dan mengubah semuanya menjadi lebih baik. Aku seperti bertemu cinta pertamaku. Orang yang kini kupanggil ayah itu membuat hari-hariku semakin berwarna. Sesuatu yang selama ini hilang perlahan mulai utuh.

Suatu hari, seorang anak laki-laki datang ke rumah dan mencari ayahku. Anak laki-laki itu datang dengan penampilan lusuh dan mengaku sebagai anak ayah ku. Ayah terlihat sangat marah saat itu hingga ia mengusirnya pergi dari rumah. Aku merasa iba dengannya, namun ibu mengatakan jika anak itu datang untuk merebut ayah dariku. Saat itu aku merasa marah dan menganggap anak itu sebagai pengganggu. Aku tidak akan membiarkan nya mendekat ke hidup keluarga ku lagi.

Seiring aku mulai remaja, aku mulai mengerti keadaan yang sebenarnya. Aku adalah anak hasil perselingkuhan ayah dan ibu. Saat itu ayah masih bersama dengan ibu Baekhyun saat aku di kandungan. Ibu ku meminta ayah untuk bertanggung jawab, namun pria itu memilih ibu Baekhyun dan meninggalkan ibuku sendirian dalam keadaan hamil. Namun saat istrinya itu mati, ayah berusaha menemukan kami lagi dan membangun keluarga. Pria itu meninggalkan Baekhyun sendirian di kampung halamannya.

Aku tidak ingat kapan tepatnya saat Ayah kembali menemui Baekhyun. Saat itu ayah tidak pulang ke rumah selama 3 hari dan ibu merasa sangat kesal. Suatu hari ayah datang dengan membawa Baekhyun ke rumah. Ibu mengamuk bukan main saat ayah mengatakan Baekhyun akan tinggal disini. Malam itu mereka bertengkar lagi. Aku sangat sedih mendengarnya, namun tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan itu.

Aku menangis di dalam kamar, berharap pertengkaran mereka segera berakhir. Baekhyun tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan mendekat. Ia tidak mengatakan apapun selain memegang kedua tanganku. Ia berusaha menenangkan ku.

"Apa kau akan membawa ayah pergi?" Aku bertanya padanya.

Aku tidak tahu apa yang Baekhyun pikirkan, namun tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Ibu bilang, kau datang untuk merebut ayah dariku."

"Tapi dia adalah ayahku. Kau yang merebutnya!" Baekhyun menyahut keras.

Aku menggeleng cepat, tidak, Baekhyun adalah perebut.

"Ibumu merebut ayahku, dia seperti pencuri."

Aku menggeram dan mendorong Baekhyun dengan penuh kemarahan. "Ibuku bukan pencuri!"

"Ibumu pencuri dan kau adalah anak pencuri!"

Aku benci ketika Baekhyun mengatakan hal itu. Aku berharap tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku terancam dengan segala hal tentangnya.

Namun takdir berkata lain. Ketika ayah mulai sakit-sakitan, perekonomian keluarga kami terganggu. Aku terpaksa ikut bekerja untuk menopang kebutuhan sehari-hari di rumah. Tentu bukan hal yang mudah. Aku masih muda dan bertarung di jalanan demi sesuap nasi. Semua pekerjaan aku lakukan tanpa kecuali. Melihat hal itu, ayah kemudian menyuruhku untuk mencari Baekhyun.

Jika kalian berpikir ayah peduli pada Baekhyun, maka itu salah. Ayah menyuruhku mencari Baekhyun agar aku bisa mendapatkan kehidupan yang baik. Setidaknya Baekhyun bisa membantu pengobatan ayah yang biaya nya tidaklah murah.

Diluar dugaan, Baekhyun lebih kaya dari yang aku bayangkan. Aku bertanya-tanya pekerjaan apa yang dia lakukan hingga bisa sesukses sekarang. Tentu tanpa pikir panjang aku mengemis belas kasihan demi lembaran uang. Dan Baekhyun masih orang yang sama, yang peduli pada keluarga. Setelah aku menceritakan kondisi keluarga ku yang sekarang, Baekhyun bergegas pergi menemui ayah. Namun ayah malah bersikap dingin dan segera mengusirnya dari sana. Baekhyun tidak memahami kenapa ayah bersikap seperti itu. Jadi ia merasa marah dan segera pergi, berjanji untuk tidak datang kembali.

Beruntungnya, aku tidak didepak dari kehidupannya. Dia memang kesal padaku, namun dia selalu peduli. Dia membelikan barang-barang bagus dan mencarikanku pekerjaan. Berkatnya juga aku mengenal banyak pria kaya, beberapa dari mereka telah berhasil aku kencani. Baekhyun membawa banyak hal baik padaku.

Rasa kesal padanya sebagai seorang 'pencuri' Ayah, berubah menjadi rasa iri dan serakah dalam diriku. Apa yang Baekhyun miliki harus aku dapatkan.

Bahkan jika itu masalah pria sekalipun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun memicingkan matanya ketika ia tidak sengaja menangkap sosok Baekhyun berjalan melewati supermarket. Sehun segera meraih kaleng minumannya ke meja kasir dan membayarnya sebelum ia berlari cepat untuk mengejar Baekhyun yang hendak menyeberang jalan.

"Baekhyun-ssi?" Sehun menarik tangan Baekhyun hingga pria kecil itu berbalik dan menampakan wajah terkejutnya.

"Bukankah kau dokter Oh?"

Sehun mengangguk, "Senang kau masih mengingatku." Sehun tersenyum simpul.

"Apa yang kau lakukan di daerah sini? Bukankah ini jauh dari rumah sakit tempatmu bekerja?" Tanya Baekhyun.

"Kebetulan aku sedang ada pertemuan di dekat sini."

Sehun memandang semakin rendah, ke arah perut Baekhyun. Walau menggunakan sweater dan mantel, perut yang membesar itu tetap bisa terlihat jelas.

"Apakah dia sehat?"

Baekhyun tampak terkesiap dengan pertanyaan Sehun namun ia kembali tersenyum lebar sambil mengelus perut besarnya. "Dia sehat, sangat sehat. Akhir-akhir ini aku banyak makan, kupikir dia pasti sangat sehat didalam sana."

Baekhyun menjelaskan dengan raut wajah sumringah, namun Sehun menangkap kesedihan dari mata pria itu. Sehun tau apa yang sedang terjadi, ia tahu hidup Baekhyun tidaklah mudah. Mengandung seorang diri, pergi jauh dari rumah, dan berjuang di jalanan yang keras, Sehun merasakan sakit hanya dengan memikirkan hal itu.

"Apa kau buru-buru?"

Baekhyun menggeleng pelan, "Aku sudah menyelesaikan kerja ku." Jawabnya.

"Bagaimana kalau kau temani aku makan malam?"

Baekhyun terlihat ragu-ragu, namun Sehun dengan sigap menariknya menuju cafe di dekat supermarket. Mereka berakhir di salah satu meja yang ada di tengah ruangan. Baekhyun hanya melihat-lihat selagi Sehun memesan makanan untuk mereka. Kilas balik kenangan masa lalu nya terbesit dalam ingatan, dimana ia selalu menghabiskan waktu di cafe milik Minseok. Duduk di meja favoritnya, menikmati makanan kesukaannya, ditemani orang-orang yang ia sayangi.

"Adakah yang kau inginkan?" Suara Sehun memecah lamunannya. Baekhyun menggeleng pelan, "Tidak."

"Sudah cukup." Sehun menyerahkan buku menu pada pelayan. Pelayanan wanita itu pergi dari sana, membiarkan Sehun dan Baekhyun yang terlarut dengan suasana saat itu.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat ini."

"Ya, sungguh kebetulan yang bagus." Baekhyun menjawab sekenanya. Sejujurnya ia hanya ingin cepat pulang dan istirahat.

Sehun menelusuri wajah Baekhyun dengan matanya. Melihat seseorang yang berbeda dari yang pernah terekam dalam kepalanya. Baekhyun yang ia ingat memiliki wajah cerah dan bersemangat. Raut wajahnya itu mencerminkan ketangguhan, dia seperti tidak terkalahkan. Matanya menyorot penuh ambisi dan cerdik. Sehun tidak mungkin salah mengingat bagaimana sosok Baekhyun itu walau hanya beberapa kali bertemu. Nyatanya hanya butuh pertemuan yang pertama, Baekhyun punya kotak tersendiri di kepala Sehun. Seseorang yang ada di atas ranjang panas sepupunya, telah menempatkan kesan luar biasa bagi Sehun.

Hari dimana Baekhyun datang ke tempatnya adalah sesuatu yang mengejutkan. Namun saat ia tahu bahwa Baekhyun tidak datang sendiri-dengan janin dalam tubuhnya- cukup membuat Sehun untuk tergelak dalam hatinya. Ia tahu seharusnya ia berhenti. Rasanya ia ingin kembali tertawa jika mengingat hari itu, sebab kesedihan karena cinta tidaklah ada di dalam kamus hidupnya.

"Apa yang kau lakukan di cuaca hujan seperti ini? Kupikir lebih baik dirumah saat hamil."

Baekhyun tersenyum kecil. "Aku baru saja pulang dari cafe tempatku bekerja."

"Dimana tempat kerjamu?"

"Sekitar tiga blok dari sini. Itu cafe di ujung jalan dan selalu ramai saat akhir pekan."

"Sepertinya aku harus mampir kapan-kapan."

"Ya, kau harus mampir." Lebih baik tidak, karena Baekhyun tidak ingin lagi memiliki urusan dengan orang-orang dari masa lalunya. Baekhyun akan jadikan sore ini sebagai pertemuan terakhir mereka.

Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Tiga makanan porsi kecil dengan dua minuman hangat. Tidak buruk, pikir Baekhyun.

Sehun lamat memandang Baekhyun. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ia benar-benar tidak tahu apakah ini baik untuk dia ikut campur lebih dalam. Baekhyun dan Chanyeol memiliki hubungan yang tidak baik, namun Sehun tidak bisa membiarkan Nayeon melakukan sesuatu semaunya. Nayeon terus menyerang Chanyeol, membuat pria itu agar segera menyerah dan mengakui kekalahan atas semua. Sehun tau bahwa Chanyeol tidak akan pernah tumbang hanya karena Nayeon, namun Baekhyun yang pergi seolah membunuh Chanyeol secara perlahan. Chanyeol tidak lagi bisa mengingkari rasa cinta yang memang sejak lama sudah ia sematkan pada Baekhyun. Nyaris seumur hidupnya, cintanya hanya Baekhyun.

"Katakan." Baekhyun berujar pelan, namun Sehun terperanjat.

"Kau seperti menahan sesuatu." Baekhyun bisa melihat kegelisahan dari Sehun. "Ahh, maafkan aku. Jangan membuat hal ini serius. Aku hanya ingin kita mengobrol seperti biasa." Baekhyun tertawa dengan basa-basi, kemudian ia menyambar lemon tea dan meminumnya pelan.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu dokter?" Baekhyun mulai bersikap biasa saja dan mengambil alih suasana.

"Cukup baik. Akhir-akhir ini aku banyak mengikuti seminar dan pertemuan di luar kota."

"Itu bagus. Oh ya, sudahkah aku mengatakan kalau kau terlihat lebih tampan sekarang?"

Sehun hampir saja memuntahkan makanan nya karena ia akan berteriak senang. Namun ia menahannya sebaik mungkin dan tersenyum kecil. "Aku sangat tersanjung."

Mereka diam dan menikmati makanan. Tidak ada yang akan bicara untuk beberapa waktu, namun keduanya seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri dan berusaha mencari topik lain.

Sehun tidak tahan lagi. Niat awalnya menarik Baekhyun kemari untuk berbicara tentang Chanyeol. Ini kesempatan yang bagus.

"Baek-"

"Dok-"

Mereka tertawa canggung karena berbicara bersamaan.

"Silahkan kau dulu, Baek."

Baekhyun menggeleng. "Kau dulu. Sejujurnya aku hanya ingin basa-basi."

"Baiklah. Dan sejujurnya aku akan membicarakan sesuatu yang penting."

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya apa?" Ia menyeruput minumannya.

Sehun tidak tahu apakah ini tepat, namun-

"Ini tentang Chanyeol."

Ia benar-benar harus mengatakan ini pada Baekhyun.

"Aku tau mungkin kau terkejut, tapi Chanyeol, dia-"

"Berhentilah."

Sehun berhenti mengatakan sesuatu, Baekhyun di depannya sudah menampakkan wajah yang tidak bisa ditebak.

"Berhentilah." Suara Baekhyun bergetar kecil. Sehun seolah menembakkan panah tepat kedalam luka lama yang ia tutup rapat.

Sehun cukup terkejut dengan reaksi yang Baekhyun berikan. Pria kecil itu bergetar dengan wajah yang merah. Air mata yang menggenang tidak luput dari pandangan Sehun saat itu. Hanya dengan itu Sehun yakin bahwa Baekhyun tidak ingin berbicara apapun tentang Chanyeol.

"Sebenarnya siapa kau?"

Sehun berdiri dari tempatnya memutar menuju kursi Baekhyun. Ia berjongkok di depan pria itu. Baekhyun hanya memandang Sehun dengan heran, pria itu penuh teka-teki.

Sehun tidak bisa mengalihkan matanya dari Baekhyun. Semakin dekat ia melihat, semakin ia ingin memeluknya. Baekhyun tidak pantas untuk menangis, ia tidak boleh merasakan pahitnya hidup yang keras. Sesuatu seperti mendobrak keluar dari dada Sehun, seolah memaksanya untuk segera merengkuh Baekhyun dan membawanya pulang hanya untuk dirinya seorang.

Sehun meraih tangan Baekhyun dan menggenggam nya lembut. Tangan kecil yang hangat ini seolah terasa pas dengan tangannya.

Sehun ingin memiliki pria ini untuknya sendiri

"Baekhyun, kau akan tahu siapa aku. Tapi, untuk sekarang aku berharap kau bisa pulang ke tempat Chanyeol. Dia membutuhkanmu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin masuk ke dalam apartemennya saat Kyungsoo tengah berbaring di sofa ruang tengah. Suasana sudah gelap malam itu, hanya cahaya televisi yang menjadi penerang. Jongin memandang wajah Kyungsoo yang telah terlelap dengan damai. Pria ini sudah resmi menjadi kekasihnya beberapa minggu lalu, tapi hingga hari ini ia masih merasa tidak percaya. Kyungsoo menolak nya keras sejak awal Jongin menunjukkan ketertarikan, namun pada akhirnya pria ini tetap bisa ia miliki.

"Kyung.." Jongin mengusap wajah kekasihnya pelan.

Kyungsoo yang merasa terganggu perlahan membuka mata dan wajah Jongin adalah pemandangan pertama di depannya. "Kau sudah pulang." Kyungsoo bangkit untuk duduk, namun matanya sempat melirik jam yang menunjukkan waktu tengah malam.

"Bagaimana keadaanmu?" Jongin mengambil tempat di samping Kyungsoo dan menyelipkan tangannya di pinggang pria kecil itu.

"Aku merasa lebih baik setelah tidur." Kyungsoo menyandarkan kepalanya pada pundak Jongin. Kyungsoo suka kehangatan pria ini.

"Syukurlah. Kau tahu, aku sangat panik saat kau pingsan di toilet tadi."

Kyungsoo tertawa kecil. Tadi siang tiba-tiba ia merasa pusing dan berakhir pingsan di dalam kamar mandi. Jongin yang mengetahui itu langsung membawa Kyungsoo ke ruang kesehatan di kantor. Kemungkinan ia kelelahan akibat pekerjaan menumpuk selama tiga hari kemarin. Jongin pergi ke Jepang untuk mengurus pekerjaan, mengharuskan Kyungsoo mengambil alih pekerjaan Jongin untuk sementara. Jongin memaksa Kyungsoo untuk menginap di tempatnya, agar mudah untuk diawasi. Kyungsoo tidak bisa menolak, sejujurnya ia juga ingin melepas rindu setelah tidak bertemu.

"Maafkan aku."

Jongin mengernyit heran. "Kenapa kau minta maaf?"

"Aku tidak bisa menemani mu lembur malam ini."

Jongin tertawa kecil, ia kemudian memeluk Kyungsoo semakin erat dan memainkan rambutnya yang lembut.

"Tak masalah untukku. Kesehatanmu yang utama."

Kyungsoo memeluk erat Jongin, merasakan kenyamanan dari pria yang kini mengisi kepalanya. Kyungsoo tak perlu merasa sendiri, sebab Jongin akan selalu ada kapanpun ia membutuhkan.

"Ngomong-ngomong, tadi aku bertemu dengan Chanyeol."

Kyungsoo melepas pelukan itu cepat dan menatap Jongin penasaran.

"Dia datang dengan kondisi yang kacau, seperti bukan Chanyeol. Dia mencarimu, sayangnya kau sudah aku pulangkan tadi."

"Apa ini tentang Baekhyun?"

Jongin mengangguk. "Dia masih tidak percaya bahwa kau tidak tahu apapun tentang keberadaan Baekhyun saat ini."

Jongin menyadari perubahan wajah Kyungsoo, ia segera memeluk Kyungsoo lagi untuk menenangkan nya.

"Tenang saja, aku sudah memukul pria itu karena mengataimu berbohong."

Kyungsoo memukul Jongin keras hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Kenapa kau memukulnya!"

"Aku tidak suka ia terus menganggap mu berbohong, sedangkan kau sendiri sedang kesusahan karena Baekhyun menghilang."

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Baekhyun menghilang, dan dia pasti kesepian."

Kyungsoo menahan air matanya. Ia tidak mau menangis di depan Jongin. Kekasihnya agak gila, bisa-bisa ia memukul Chanyeol lagi karena pria itu membuat Baekhyun pergi.

"Aku ingin tidur lagi." Ujar Kyungsoo lirih.

"Baiklah, ayo ke kamar. Aku akan memelukmu malam ini."

Malam itu Kyungsoo terlelap dalam dekapan hangat Jongin. Ia merasa damai karena pria itu sudah kembali pulang, namun ada setitik gundah dalam hatinya. Baekhyun belum juga kembali hingga hari ini, membuat Kyungsoo terluka.

"Kembalilah.." lirih Kyungsoo perih.

.

.

.

.

.

.

.

.

.