MY BOYFRIENDS

.

.

.

Descleimer © animonsta

.

.

.

Pairing ; All element Boboiboy x Yaya

And may be other pair

.

.

.

Warning ; Typo dan cerita mainstream.

.

.

.

By Ellena Nomihara

.

.

.

Chapter 11

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Happy Reading Minna~
.

.

.

Dua minggu.

Dua minggu itu adalah waktu yang Gopal habiskan untuk mempersiapkan Festival sekolahnya yang gadang-gadang akan sebagai acara termeriah dan terbesar dalam beberapa tahun terakhir SMA Rintis.

Gopal boleh saja tidak sehebat kawan-kawan baiknya; Boboiboy, Yaya, Ying dan Fang. Namun bukan berarti dia tidak bisa diandalkan. Semua orang punya jalannya masing-masing. Termasuk Gopal.

Remaja gempal itu nol besar dalam pelajaran namun masalah makanan, Cuma beberapa orang saja di SMA Rintis yang bisa menyaingi Gopal. Kecintaan nya dalam makanan sudah merasuk dalam jiwa hingga secara mengejutkan Gopal bisa membuat macam-macam makanan lezat. Lebih lezat daripada buatan club Biskuit yang sepi anggota karena pendirinya (uhukYayauhuk) yang punya resep mengerikan.

Karena itu, Stand makanan dari kelas Gopal sekaligus kelas asli Boboiboy, mendirikan dua stand sekaligus. Stand pertama menjual aneka kue-kue manis dan ringan yang sudah jadi dan siap dibawa pulang, satu lagi adalah stand—yang mirip kedai kecil—yang menjual makanan berat untuk perut-perut lapar. Makanan langsung dimasak oleh Chef Gopal.

Memilih menu yang akan dimasak. Membeli bahan-bahan masakan. Mengatur tempat duduk. Dekor stand dan yang lain, sebagian besar adalah sumbangan ide dari Gopal. Dan tidak salah, stand kelas Gopal berhasil menarik banyak perut lapar dan memuaskan pelanggan. Festival akan berakhir menjelang malam dengan ditutup dengan kembang api. Dan ini baru setengah hari sejak kedai kecil Gopal dibuka. Terus seperti itu maka kemungkinan kelas Gopal dan kawan-kawan akan tutup lebih awal dan akan jadi memenangkan hadiah dari panitia sebagai Stand yang paling berkontribusi memeriahkan Festival.

Namun kesenangan itu tidak lama.

Tidak saat bunyi ledakan berhasil membuat semua orang terkejut dan berteriak, semua berlanjut bencana.

DUARRRRR

Gopal tanpa basa-basi langsung meninggalkan kompor dan ikut berlari menjauh dari suara ledakan bersama pengunjung.

"Apa? Apa yang terjadi?" Gopal bertanya panik.

Lalu tak lama, gelombang angin yang besar kembali menakuti semua orang. Gopal mengetahui suara ledakan pertama dan gelombang kejut barusan dari arah yang berbeda. Yang berarti ada dua titik masalah dalam waktu bersamaan.

"AH! AWAS!"

Seorang gadis cilik berkuncir dua tidak sengaja terjatuh dan akan terinjak-injak oleh orang dewasa jika saja Gopal tidak cepat menyelamatkannya. Gadis cilik itu menangis mencari mamanya.

"Ush, Ush, Ush. Tidak apa-apa. Kita cari mama kau nanti ya?" Gopal mengelus rambut anak kecil didekapannya guna menenangkannya meski tidak berhasil. Melihat kekacauan sekitarnya, tidak sedikit pengunjung yang butuh bantuan.

"Gopal!"

Seruan itu menghentikan Gopal yang akan menuju tempat aman.

"Ying!" yang ternyata adalah kawan super cepatnya.

"Berikan gadis kecil padaku. Aku akan membawanya keluar ke tempat evakuasi darurat, mungkin saya orang tuanya disana." Gopal tidak berpikir dua kali menyerahkan anak kecil itu pada Ying, "Fang sedang mencari cara melerai Halilintar dan Taufan yang bertarung di lapangan utama. Kau bantu tenangkan Blaze sebelum dia meledakkan semua kembang api nanti malam."

"APA? MENENANGKAN BLAZE? TIDAK MAULAH, SAKIT NANTI AKU DIBAKAR!" tentu saja, sejak episode muncul Api dulu, Gopal agak ngeri kalau dekat-dekat dengan Blaze.

Tapi Ying dalam mode serius, sama berbahayanya dengan Yaya yang mengamuk, "Kau cepat pergi kesana sebelum aku dan Yaya membuatmu tidak bisa minum coklat lagi di kedal Tok Aba!"

Gopal membelalak. Tidak percaya dengan ancaman termengerikan yang pernah ada, "Okelah. Nanti kalau aku mati, kau harus sering-sering bawa Ice Chocolate Tok Aba setiap hari ke kuburanku, Ying." Dengan itu Gopal dengan berat hati setuju setalah Ying mengangguk santai.

"Kejamnya punya kawan. Kenapa juga Boboiboy mengamuk, sih?! Hilang ingatan lagi?" gumannya resah dalam lari kecilnya.

Saat sampai dilokasi asap tebal mebungbung tinggi berasal, seorang remaja bertopi hitam dan merah sedang tertawa seperti orang gila.

"Aduh, memang sudah pikun Boboiboy ini."

Tidak ada pilihan. Dia harus mengalihkan perhatian Blaze agar tidak membakar semua kembang api hingga membakar habis lingkungan sekolah.

"Blaze! Oi, berhentilah, jangan main-main api lagi, nanti Yaya marah, habis kau dihajar." Gopal tahu saat Boboiboy berelemen api menatapnya asing, dia sudah dilupakan oleh pecahan kawan baiknya.

"Hmm? Siapa kau? Siapa pula Yaya? Suka-suka akulah. Aku main main-main sampai puas. HAHAHAHA." Blaze tertawa girang seraya membuat bola api dimasing-masing tangannya.

Bagus. Bahkan Yaya sudah dia lupakan. Bagaimana Gopal bertahan kalau seperti ini?

Siapapun tolong Gopal!


"BOBOIBOY!"

Saat sebuah suara berteriak, kedua persona yang sedang bertarung berhenti dan melihat asal suara. Fang, si cowok rambut landak, berdiri agak jauh dengan hewan-hewan bayangnya

"Hm? Siapa lagi ini?" Taufan menelengkan kepalanya saat lagi-lagi ada orang yang tahu namanya tapi dia tidak.

Sedang Halilintar yang emosi langsung berteriak, "Menjauh, Fang!"

'Halilintar tahu namaku, jadi dia belum lupa dengan dirinya sendiri dan kami.'

"Hentikan pertarungan ini sebelum kalian menyakiti banyak orang dan diri sendiri!" sekali lagi Fang berseru pada keduanya. Dia harus bisa menghentikan dua persona ini sebelum SMA Rintis tinggal puing-puing.

Seolah tersadar, Halilintar lalu melihat sekeliling dan terkejut dengan kekacauan akibat pertarungannya. Semua kacau balau. Pemandangan itu nampak mengerikan bagi Halilintar yang tahu nyawa seseorang bisa bahaya karenanya.

"Hahahahaha. Apa yang kau katakan, landak ungu? Kami sedang bersenang-senang."

Tapi pecahan biru itu memang sudah kehilangan akal sehatnya.

"Halilintar! Jika kamu memang masih mengingatku, maka kamu harus berhenti marah dan bantu menghalangi Taufan berbuat bahaya. Banyak yang terluka karena kalian!"

DEG

Mendadak dada Hlilintar sakit.

Membayangkan dia secara tidak langsung telah melukai seseorang tidak bersalah membuat tubuhnya bergetar. Padahal dia tidak kehilangan ingatannya tapi dia masih tetap menjadi alasan orang lain terluka.

"Kau kenapa? Sudah menyerah? Ck, membosankan~"

Taufan mendecih melihat lawan mainnya seperti terkena stun. Entah apa yang dipikirnya tapi Taufan bisa melihat Halilintar sudah kehilangan minat bertarung. Kalau begitu Taufan juga perlu berlama-lama disini. Mainannya tidak asik.

Saat Taufan berbalik dan akan melayang pergi dengan papan miliknya, sebuah cengkraman kuat di lengannnya menghentikannya.

"Mau kemana kau?"

Oh! Layaknya Halilintar yang cepat terpancing oleh sikap barbar dan tak waras Taufan, si pengendali angin juga demikian. Kali ini, mendengar Halilintar yang mencoba menekan dan menghentikan nya dengan nada perintah, membuat Taufan kesal. Dia tidak suka larang-larang.

Angin tidak bisa diikat. Jadi, siapa Halilintar yang mencoba menghentikannya?

"Suka suka ku dong. Angry bird tidak usah sok mengatur-ngatur." Taufan menampik tangan Halilintar. Dia tidak mencoba pergi lagi karena tahu akan sia-sia. Firasatnya mengatakan pemilik muka sama dengannya itu tidak membiarkannya pergi begitu saja.

Ck! Entah kenapa Taufan jengkel.

Sebenarnya sudah daritadi dia gelisah tapi dia tutupi dengan berkeliling mencari hiburan. Dia merasa telah melupakan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Tapi Taufan tidak bisa ingat. Karena itu saat ada orang lain berwajah sama mengenalnya, Taufan pikir dia telah menemukan apa yang dia cari.

Tapi tidak. Bukan Halilintar yang dia cari. Taufan memang merasakan adanya perasaan jengkel dan ingin sekali melibas wajah sombong dan suram Halilintar tapi lebih dari itu dia seperti jengkel karena Halilintar seperti tahu apa yang tidak diketahuinya.

'ARRGGGG! Menyebalkan! Apa sih yang kulupakan?!'

"Kau tidak akan pergi kemana-mana, Taufan." Kata Halilintar dengan petir merah mulai menyambar-nyambar dari tubuhnya.

Sepertinya dia dan Halilintar memang musuh bebuyutan. Mendengar namanya disebut saja Taufan jadi meradang. Orang ini mengesalkan.

"Dengar aku—"

"HALILINTAR! TAUFAN! ASTAGA! APA YANG SUDAH KALIAN PERBUAT?!"

Seketika suara itu menggelagar, Taufan merasakan tubuhnya langsung berdiri dan merinding ngeri. Dan dia juga tahu, Halilintar juga demikian.

Tertarik dengan siapa yang bisa membuatnya begitu, Taufan berbalik untuk mendapati iris biru terangnya menangkap sosok gadis berkerudung pink keluar dari portal energi bersama bola kuning melayang.

Mata Taufan terbelalak hebat, "WAHHH…ADA BIDADARI!"

TBC

Hai semua. Saya kembali lagi.

Yahh, meski review nya nggak tembus 200, saya memang sudah gatal ingin update. Jujur saja ya, saya ingin segera menamatkan fic ini dan memulai projek BBB yang baru, hehehe. Setelah tamat, fic ini akan publish ulang di akun wattpad saya. Jadi silahkan mampir ke sana ya : EllenaEllyz.

Jangan lupa review, favo and follow story dan Author. Dukungan kalian sangat berharga.

Terima kasih. Jumpa di chapter depan^^

Salam hangat

Ellena Nomihara