Zoro terbangun dalam keadaan pusing luar biasa. Ia tolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan meminta bantuan, namun ia tak mendapati satu orang pun disana. Tubuhnya terbujur di atas kasur kayu hangat dan nyaman di dalam sebuah ruangan. Bukan kamarnya, tentu saja. Melainkan masih di dalam rumah di areal perkebunan jeruk milik Bellmere dan kedua putrinya.
Pria berambut hijau itu perlahan bangkit. Mengerjap-ngerjap beberapa kali, sebelum akhirnya menyadari perban membalut sebagian kepalanya. Menutup mata kirinya, membuatnya tak mampu melihat dengan sempurna. Zoro arahkan pandangannya ke kaca di samping lemari kayu tua di seberang kasur. Ia ingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kemudian, bayangan seorang perempuan mirip Kuina muncul di benaknya.
Ia tersentak, buru-buru keluar dari ruangan.
"Dimana Robin?" tanyanya entah pada siapa.
Namun semua yang di ruangan tersebut menoleh. Sedikit terkejut, kemudian saling berpandangan satu dengan yang lainnya.
"Kau baik-baik saja, Zoro-san?" tanya Saulo memecah ketegangan.
Zoro memegang keningnya. Nyeri masih bersarang di kepala kirinya. "Aku baik-baik saja," jawabnya bohong.
"Jujurlah, apa kepalamu masih terasa pusing?" sahut seorang pria kemudian. Tubuhnya agak kecil, dengan kulit kecoklatan dan rambut hitam yang lebat. Ia berjalan mendekat pada Zoro. "Tenanglah, aku Chopper. Dokter yang menangani kalian sejak kemarin."
"Kemarin?"
"Kau pingsan selama hampir 17 jam, rambut lumut," ujar pria dengan alis berputar di meja makan.
"Aku? 17 jam?" Zoro mengernyit heran. Matanya berputar mencari jam dinding untuk memastikan kebenarannya. "Apa yang sudah ku lewatkan?"
"Oh, Zoro! Apa itu kau?" suara renyah seseorang berteriak dari dapur. Muncul dari sana pria berambut hitam dengan luka gores dibawah mata kirinya.
"Luffy?!"
"Ohisashiburi dana! Shishishi." Pria itu berlari kecil. Memeluk Zoro sambil tetap menggenggam dua buah paha ayam di masing-masing tangannya. "Ku dengar kau terluka. Kau baik-baik saja?" tanyanya ringan.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Oh, Sabo yang mengajakku kemari. Kebetulan aku juga sedang memiliki waktu luang karena Hancock harus ikut ayahnya menghadiri peresmian – hmm, sesuatu entahlah di Tokyo," jawabnya santai sambil menunjuk seorang pria berambut perak di ujung ruangan.
Pria yang ditunjuk mengangkat tangannya. Lantas maju dan mendekat pada mereka berdua. "Kalian saling kenal?" tanyanya.
"Kami teman dekat di sekolah," jawab Luffy asal.
"Ah, jadi kau juga salah satu teman dekat Luffy."
Zoro mengernyit. "Siapa kau?"
"Kenalkan, aku Sabo. Kakak Luffy, juga seorang pengacara." Sabo mengangkat tangannya.
Pria berambut hijau itu menyambutnya ramah. "Apa kau yang akan mendampingi Robin di persidangan? Apa yang sudah ku lewatkan? Apa kalian sedang membicarakan rencana pembebasannya?"
"Tenanglah Zoro, aku sudah mendapatkan berkas perkaranya. Masalahnya adalah," Sabo menggantung ucapannya. Membuat Zoro menunggu.
"Apa itu?"
"Kita belum bisa menghubungi Robin sejak ia tertangkap kemarin," jawab Saulo membantu.
"Tak bisa? Kenapa?"
"Entahlah, pihak kepolisian mungkin masih melakukan proses penyidikan mereka."
"Aku tak ingin memperburuk keadaan. Tapi memberikan harapan juga bukanlah hal yang tepat. Satu hal yang ku yakini, pihak kepolisian mungkin akan membuat kasus ini bergulir dengan lambat." Sabo berkata kembali.
"Maksudmu?"
"Ada Sakazuki di belakang kasus ini. Ia juga menjadi kepala polisi sekarang. Aku tahu betul hanya vonis mati yang ia inginkan untuk Robin. Maka dari itu, ia pasti sedang memastikan apa yang dimiliki lawannya saat ini." Pria itu mengambil tempat duduk di samping Sanji. "Bukanlah hal yang merugikan juga untuknya membiarkan Robin berlama-lama di penjara sepanjang kasus ini bergulir."
Zoro mendesah berat. Kepalanya jadi bertambah sakit sekarang. "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bukti. Itu yang sedang kita kumpulkan saat ini. Bukti yang kuat bisa melemahkan argumen jaksa penuntut di pengadilan."
"Dan berapa banyak bukti yang sudah kalian temukan?"
Sabo mengamati sekelilingnya. Diam lama menatap Saulo yang mengadahkan kepalanya. "Belum satupun. Kita belum menemukan bukti apapun."
O • O • O
Zoro duduk di kursi teras dalam diam. Kepalanya terangkat menengadah langit hitam di depannya. Di hadapannya, sekotak bekal berisi onigiri terbuka dengan lebar. Masih ada dua tangkup setelah ia memakannya satu beberapa hari yang lalu. Hari ketika dirinya yakin semuanya masih berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Ia masih ingat wajah gadis itu saat tersenyum seraya memberikannya sekotak onigiri untuk bekal perjalanannya. Masih ingat cara gadis itu melambaikan tangan ke arahnya. Juga ingat betul bagaimana gadis itu begitu khawatir ketika dirinya mendapat luka di mata kirinya. Bahkan mengingat dengan betul ada kilauan air mata yang bergumul di antara kedua bola mata safirnya.
Zoro mendadak bangkit. Kesal mengingat itu semua.
"Kau tak memakannya?" tanya sebuah suara ramah yang hangat dari seorang pria bertubuh besar. Saulo datang menghampirinya.
"Aku… berniat menyimpannya."
"Astaga, kau benar-benar bodoh!" seru Saulo. "Kau fikir nasi-nasi ini akan tahan hingga persidangan selesai?" Ia mengambil satu onigiri yang tergeletak di meja, kemudian memakannya dengan lahap.
Hening sebentar diantara mereka.
Zoro terdiam. Melangkah mendekat pada Saulo dan berdiri tepat disebelahnya. Angin dingin berhembus. Menerpa wajah mereka yang tampak lelah. Guntur bergemuruh pelan. Lamat-lamat, rintik hujan turun membasahi seluruh daun daun jeruk di perkebunan.
"Apa kita akan menang?"
"Mereka yang benar selalu menang, Zoro-san."
Zoro mendesah berat. Kepalanya lurus menatap perkebunan di depan mereka. Beberapa pohon rusak akibat perkelahian kemarin.
"Sabo akan pergi ke kantor polisi untuk menemui Robin besok, Zoro. Kau mau ikut?"
Pria berambut lumut itu menggeleng pelan. "Entahlah."
Saulo memutar badannya. Pandangannya terarah pada pria muda di sampingnya. "Jujurlah, apa yang kau fikirkan sekarang?" tanyanya tenang.
"Aku, hanya mengkhawatirkannya."
"Kau tidak menyalahkan dirimu bukan?"
Zoro menelan ludahnya. "Yah, mungkin… sedikit."
"Robin tak akan suka mendengarnya, kau tau?"
Mereka terdiam. Hening beberapa saat sebelum Chopper keluar bersama Nami dan Reiju.
"Bagaimana lukamu, Zoro? Apa masih terasa sakit?" tanya dokter kecil itu.
"Tidak lagi. Aku hanya perlu membiasakan diri melihat tanpa mata kiriku lagi. Terima kasih, dokter." Zoro menjawab ramah.
"Ah, syukurlah." Chopper mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya. "Ini resep untukmu. Kau harus menebusnya segera jika obat-obat yang ku berikan sudah habis."
"Apa kau mau pergi, Chopper-san?" ganti Saulo bertanya.
"Begitulah, ada panggilan dari klinik. Aku harus segera kesana sekarang."
"Sendirian? Selarut ini?"
"Tidak, tidak, aku yang akan mengantarnya," ujar Kakek Hyo yang baru keluar bersama Sanji di sampingnya.
"Ambillah, dokter. Kau harus makan banyak untuk tetap tenang dalam menghadapi pasienmu malam-malam begini." Sanji menyerahkan sebuah bingkisan kecil.
Chopper menerimanya senang. Sebuah kue kacang merah dengan lapisan coklat diatasnya. "Terima kasih banyak, Sanji!"
"Tidak perlu berterima kasih, dokter Chopper. Kau sudah begitu baik menjaga pria-pria disini saat mereka terluka kemarin," sahut Nami. Diiringi anggukan dari Saulo dan Sanji.
Pria kecil itu sumringah, tangannya terangkat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kau tau, dipuji begitu pun tidak akan membuatku senang tau!"
Reiju terkikik. "Kau jelas menampakkannya."
"Maa, baiklah. Pasienmu mungkin sudah menunggu, dokter." Kakek Hyo mengingatkan.
"Ah, kau benar!"
"Saulo, Zoro. Aku pamit."
"Kau juga akan pergi?" Ganti Saulo bertanya pada pria tua di yang menjulurkan tangan di depannya.
"Putraku sudah kembali dari Hokkaido. Tidak ada keperluan lagi untukku berlama-lama disini." Kakek Hyo dan Saulo berjabat tangan. "Maaf tak dapat mendampingi kalian terus. Tapi ku doakan, semoga segala hal tentang putrimu berjalan dengan lancar, Saulo."
"Terima kasih, Hyo."
"Kau juga anak muda." Kakek Hyo menepuk lengan Zoro pelan. "Tetaplah bersemangat! Hanya itu satu-satunya cara untuk membuat kekasihmu kembali."
Zoro mengangguk. Membungkukkan sedikit badannya saat kedua pria itu melangkahkan kaki keluar dari rumah. Dari teras dapat mereka lihat Chopper dan Kakek Hyo menembus malam yang gelap, melewati perkebunan jeruk yang basah. Hingga terdengar pula dari kejauhan deru motor yang memecah keheningan. Dua bayang pria itu melambai dari kejauhan, kemudian melaju dengan pesat.
O • O • O
"Namaku Sabo. Aku dikirim oleh sebuah lembaga utuk mendampingimu di persidangan nanti, nona Robin."
"Siapa yang kau kenal?"
"Saulo? Bellmere?" Pria berambut pirang itu mangangkat kedua alisnya. "Atau kau mau yang lebih signifikan seperti, Roronoa Zoro misalnya?"
Sabo tersenyum. Wanita di depannya bereaksi.
"Apa yang akan kau lakukan untuk membantuku?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, Robin-san. Apa yang kau ingin ceritakan kepadaku agar aku bisa membantumu?"
Gadis berambut hitam itu terdiam. Bola mata safirnya berkelana entah kemana. Kepalanya tertunduk lemah.
"Kau harus menceritakan semuanya padaku, Robin-san. Yang kau alami, yang kau dengar juga yang kau lihat saat kejadian itu berlangsung. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa menemukan bukti dan mengumpulkan fakta-fakta untuk membelamu di persidangan."
"Aku… hanya tak tau harus mulai bercerita darimana." Robin berkata pelan. "Yang ku ingat, aku sedang membaca buku di halaman perpustakaan milik orang tuaku saat sirine darurat terdengar. Itu, pertama kalinya aku mendengar sirine senyaring itu. Ibuku bilang, sirine itu pernah berbunyi beberapa kali saat ia kecil. Menandakan adanya tawanan yang kabur dari tambang tak jauh dari tempat kami tinggal." Gadis itu menelan ludahnya. Tangannya gemetar sedikit saat ia menceritakan kisahnya yang sudah lama ia simpan rapat-rapat. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
Sabo menghela nafas panjang. Memberikan sapu tangannya dan membiarkan gadis itu mengambil waktu untuk melanjutkan lagi ceritanya.
Sementara itu seorang pria menyandarkan kepalanya pada pintu diluar ruang pertemuan. Lamat-lamat cerita yang Robin utarakan terdengar pelan namun sampai ke gendang telinganya dengan jelas. Pria itu menutup matanya. Kemudian membukanya kembali saat menyadari jeda lama diantara cerita tersebut. Ia mengintip dari balik kaca pintu. Menelan ludah saat melihat gadis bermata biru itu menitikkan air matanya.
Pertemuan Sabo dan Robin tidak berlangsung lama. Sepuluh menit berselang, pria berambut pirang itu akhirnya keluar dari ruangan dan mendapati pria lain sudah terduduk di sisi pintu dengan kepala menengadah mengamati langit-langit koridor yang remang.
"Masuklah, Zoro," suruhnya. "Kau akan mati karena khawatir jika tetap berada disini."
Zoro menoleh pelan. Dilihatnya Sabo mengeluarkan sebuah kantung berisi selimut kepadanya.
"Berikan sendiri titipanmu padanya. Aku lupa menyerahkannya tadi," kata Sabo berbohong.
"Kau sudah mau pergi?"
"Aku akan meminta sipir penjara menambahkan waktu kunjungan untukmu. Sementara itu, pakailah waktumu untuk berbincang dengannya. Aku akan menunggumu di luar," jawabnya ringan. Kemudian melenggang pergi.
Zoro kemudian bangkit. Kembali mengintip ke balik kaca pintu dan mendapati gadis itu sudah beranjak dari kursinya. Ia menelan ludah. Kemudian membuka pintu ruang pertemuan.
Robin menghentikan langkahnya saat mendengar pintu kembali terbuka. Dan begitu terkejut pada sosok yang ia lihat. Berdiri disana, pria berambut hijau dengan perban menutupi sebagian kepalanya. Ada guratan garis merah di mata kirinya yang terlihat diantara perban yang tak tertutup sempurna. Ia terdiam. Berdiri kaku di tempatnya.
"Hai, Robin," sapa Zoro berusaha tersenyum.
Robin tak bergeming. Pandangannya lurus pada wajah pria berambut hijau di hadapannya.
"Bagaimana udara di sini? Apa sedingin di Iwasaki?" Zoro menyerahkan kantung yang dibawanya. "Aku membawakan sesuatu untukmu. Entah apa kau menyukainya, tapi ku harap bisa membantumu lebih nyenyak saat tidur."
Wanita di depannya masih membisu. Membuat Zoro menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus berbicara apa. Ia bukan orang yang pandai berbasa-basi.
"Apa aku masih terlihat tampan dengan perban ini?" tanya Zoro sambil terkekeh kecil. Menunjuk bagian kiri kepalanya.
"Kau terlihat bodoh."
"Menyelamatkanmu bukanlah suatu kebodohan, Robin."
Gadis itu menundukkan kepalanya. "Maafkan aku."
"Maaf?"
"Aku… melanggar janjiku. Aku tertangkap."
"Tenanglah." Zoro mendekat. Mendorong wanita itu kembali duduk di kursi. Sementara dirinya berjongkok membuatnya mampu melihat wajah gadis itu dengan mudah. Selain berusaha keras menahan air mata untuk tidak keluar, Zoro tau betul itu raut wajah penuh rasa kelelahan.
Robin menghela nafas panjang. "Apa aku masih punya harapan untuk bebas, Zoro?"
Zoro mengangguk. Mantap. "Percayalah pada kami. Kami pasti akan mengeluarkanmu dari sini."
"Bagaimana jika… kalian tak berhasil?"
"Fikirkan saja hal-hal yang kau inginkan ketika keluar dari sini, Robin. Perpustakaan Universitas Tokyo, festival hanami tahun depan, dango yang ku belikan untukmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah bertahan dan bahagia sementara kami yang mengurus sisanya disini. Jangan tampakkan kesedihanmu pada siapapun." Zoro berujar tegas. Menggenggam tangan Robin lembut. Ia tersenyum. "Jangan perlihatkan pada siapapun, kecuali padaku."
Wanita di depannya mengangkat wajah. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata akhirnya menetes melewati pipinya yang menirus. Zoro terdiam sejenak. Kemudian memeluknya hangat.
"Kau tau? Koki menyebalkan itu terus berharap agar bisa kembali memasak bersamamu. Dan harus ku akui, masakannya tidak buruk. Tapi, aku merindukan onigiri buatanmu."
Robin melepaskan pelukan mereka. "Lalu?"
"Buatkan aku masakan favoritku ketika kau keluar dari sini nanti," pinta pria itu sedikit merajuk. "Atau masakan favoritmu, ku tak peduli. Aku ingin tau apa makanan kesukaanmu."
Gadis di depannya tersenyum. Kemudian mengangguk kecil mengiyakan.
Suara bel kemudian terdengar beberapa kali dan menggema di ruangan. Menandakan waktu temu telah usai. Membuat kedua pasang manusia ini beranjak dari duduknya.
Robin yang lebih dulu melangkah perlahan menuju pintu. Namun dalam beberapa saat, langkahnya terhenti dan diliriknya kembali pria berambut hijau yang masih berdiri di tempatnya.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Zoro?"
"Hmm?"
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau bisa begitu percaya padaku?"
Zoro terdiam. Wajahnya terlihat kebingungan menyusun kalimat yang tepat. Kepalanya sedikit tertoleh ke kanan. Hening sesaat hingga detak jam dapat terdengar merambat diantara jeda pembicaraan mereka.
Lalu suara bel kembali terdengar. Memberi peringatan kedua agar mereka segera pergi meninggalkan ruangan.
"Lupakan saja. Sepertinya aku harus kembali sekarang," kata Robin tersenyum. Baru saja ia akan memutar kenop pintu, tangan Zoro meraihnya. Membuatnya kembali menoleh dan terkejut luar biasa saat pria itu melayangkan kecupan tepat di bibirnya. Sebuah kecupan singkat yang hangat.
Robin tersentak. Mengamati Zoro meminta penjelasan. Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kencang. Sementara telinga pria itu memerah menahan malu dan perasaan yang berkecamuk di hatinya.
Namun kemudian, Zoro tersenyum. Manis sekali. Senyum yang tak pernah Robin lihat sebelumnya.
Katanya, "Karena aku menyukaimu, Nico Robin."
O • O • O
