Good Morning! Sdh menunggu kelanjutan dr Secret Letter? Apakah Athrun dan Leon akan saling lempar pisau di pekan raya? Lol!

Maafkan kegejean Cyaaz (selalu geje) ya, Readers. Cyaaz hanya senang dan bersemangat tiap kali update chapter.

Oh ya, jangan lupa para author yg berminat ikut "Angst Day" ditunggu fic ngenesnya pd tgl 30 nanti ya...

Baiklah, selamat menikmati!


Secret Letter

Chapter 13


"A-Athrun?" Cagalli terkejut melihat sang admiral berdiri tepat di hadapannya. "Kenapa kau ada di sini?"

"Akulah yang seharusnya menanyakan hal itu padamu, Cagalli," Athrun menggenggam erat pergelangan tangan Cagalli, seolah tak ingin melepasnya lagi. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Eh? Me-memangnya kenapa? Aku ke sini hanya untuk bermain ke pekan raya!" Cagalli menjawab dengan nada tinggi, menolak tekanan dari tatapan mata lawan bicaranya.

"Pergi sendiri di tengah keramaian seperti ini sangat berbahaya untukmu, Cagalli." Sang admiral menatap lekat mata amber milik Cagalli. "Tidakkah kau mengerti bahwa aku-."

"Hey, lepaskan!" Seorang pria datang dan melepas genggaman tangan Athrun pada Cagalli secara paksa. "Apa begini caramu memperlakukan chief representative?"

"Ka-!" Kedua mata Athrun membulat seketika, bertatapan dengan sepasang manik biru milik seorang pangeran. "Calthier- sama..."

Bagaimana Athrun bisa lupa? Bukankah para pengawal pribadi sudah memberitahunya soal kepergian Cagalli bersama pria ini? Apakah Athrun memang melupakannya atau ia tidak menyimak informasi itu karena terlalu fokus memikirkan Cagalli? Ya, Leon Calthier muncul dan menatap tajam kepada Athrun yang berdiri tepat di hadapannya. Pemuda berambut pirang itu jelas terlihat tidak senang dengan apa yang baru ia lihat.

"Sebagai seorang admiral seharusnya kau tahu, apa yang kau lakukan tadi tidaklah pantas." Ujar Leon dengan nada rendah.

"Maafkan saya," Dengan lapang dada Athrun menerima kesalahannya, ia menunduk kepada Leon dan Cagalli untuk sesaat. "Hanya saja sebagai seorang bangsawan anda juga pasti memahami bahwa tidak seharusnya anda meninggalkan representative Athha sendirian."

"Aku memang meninggalkannya, tapi bukan berarti aku tidak mengawasinya." Leon memberikan perlawanan pada sang admiral. "Mataku tidak pernah lepas darinya."

Tanpa sadar Athrun mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi dalam dada. Memang benar, Leon jelas mengawasi Cagalli dari kejauhan. Terbukti pria berambut pirang itu segera hadir sesaat ketika Athrun mendatangi sang representative. Tapi justru hal itu juga yang membuat Athrun merasa tidak nyaman, ia tidak menyukai fakta tentang Leon yang senantiasa memperhatikan Cagalli.

Cagalli yang berdiri di antara Athrun dan Leon merasakan perubahan suasana yang drastis, ia pun mulai merasa tidak nyaman. "Hey, A-."

"Kakak?" Cagalli dan yang lain menoleh secara hampir bersamaan, Reala datang dengan tiga buah pretzel dalam genggaman kedua tangan. "Siapa kakak ini? Teman kak Leon?"

"Reala? Maaf, kakak meninggalkanmu tadi." Leon menghampiri dan mengusap kepala Reala dengan lembut. "Bukan, kakak ini adalah rekan kerja kak Cagalli."

"Hoo..." Gadis kecil berambut hitam itu menatap Athrun dengan senyum manis di wajah, lalu kembali pada Leon. "Kakak ini mau ikut bermain ke pekan raya bersama kita?"

"Eh?" Cagalli, Leon dan Athrun menatap Realla.

"Um, tid-."

"Ya, kakak ingin ikut ke pekan raya." Athrun menjawab dengan lembut, sedikit membungkuk pada Reala. "Boleh?"

"Tentu saja boleh!" Reala menjawab dengan riang. "Semakin ramai, semakin menyenangkan!"

"..." Leon dan Cagalli hanya terdiam menatap Reala, tak mampu menolak keceriaan gadis itu.

"Terima kasih," Athrun mengulurkan tangan kanan pada Reala. "Namaku Athrun."

Senyum di wajah Reala semakin mengembang. "Namaku Reala, Kak, um..." Gadis itu tak segera menyambut uluran tangan Athrun, ia nampak kebingungan untuk sesaat. "Ah, ini untuk kakak!" Ia membagi salah satu pretzel yang ia bawa menjadi dua bagian, memberikan satu pada Athrun. "Karena tadi hanya beli tiga, kakak bisa memakan sebagian pretzel-ku."

Athrun tertawa kecil sebelum menerima pretzel coklat dari Reala. "Terima kasih, Reala. Kau anak yang baik."

Reala hanya tersenyum menanggapi pujian dari Athrun, kemudian ia berbalik dan membagikan pretzel pada Leon dan Cagalli. "Kalau begitu, kita pergi sekarang?"

Cagalli mengangguk pada Reala, namun Leon menghentikan langkah mereka yang hendak pergi. "Tunggu dulu, Cagalli." Ia menatap sang representative, lalu Athrun dengan serius. "Dia tidak bisa pergi dengan kita, tidak seperti ini."

"Eh? Kenapa?" Cagalli merasa heran, ia pun menoleh pada Athrun dan menyadari satu hal. "Ah, ya... Kau benar."

Athrun terdiam, tatapannya nanar pada Leon dan Cagalli. Ada apa? Mengapa Cagalli menyetujui Leon yang tidak mengizinkannya untuk pergi? Sebegitu tidak inginnya kah Cagalli melihat Athrun di sekelilingnya?

"Jika dia berkeliaran di sekitar kita dengan seragam seperti itu, penyamaranmu akan langsung terbongkar." Ucap Leon pada Cagalli, memperjelas pernyataan sebelumnya. Athrun yang ikut mendengar pun seketika memahami maksud sang pangeran. "Setidaknya kita harus mencari pakaian pengganti untuknya di sana." Leon menunjuk sebuah outlet penjual pakaian yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.

"Waaah, kalau begitu serahkan saja padaku!" Tiba-tiba Reala berlari dan masuk ke dalam outlet.

"He-hey, Reala?" Leon terbelalak menyaksikan adik sepupunya yang begitu bersemangat. Ia pun segera mengikuti langkah gadis kecil berambut hitam itu, disusul Cagalli dan Athrun.


Secret Letter


"Hmm, baju apa yang cocok untuk kak Athrun ya?" Reala sibuk memilih pakaian dengan mata berbinar.

"Reala, Athrun bisa memilih pakaian sendiri." Leon berupaya menghentikan adiknya yang lincah.

"Tidak apa-apa 'kan, kak? Tadi juga aku yang memilihkan baju untuk kak Cagalli." Ia menatap Cagalli yang berdiri tidak jauh di belakangnya. "Pilihanku bagus 'kan?"

"Eh? Jadi baju ini..." Cagalli memperhatikan pakaian yang ia kenakan untuk sesaat. "Bagus, Reala! Kakak menyukainya." Cagalli tersenyum pada Reala.

"Lihat? Aku memang berbakat seperti ibu!" Gadis kecil itu kembali menyibukkan diri dengan deretan pakaian di dalam outlet.

"Ya ampun..." Leon menggeleng pelan dan menepuk dahinya sendiri. Pemuda itu menyerah, ia memilih mundur dan menghampiri Cagalli. "Tolong maafkan dia, Reala bercita-cita menjadi penata busana layaknya bibi Lily, jadi..." Ia beralih pada Athrun di sebelah Cagalli. "Kuharap kalian mau memakluminya."

Athrun tersenyum, ia dapat merasakan kesungguhan Leon saat meminta maaf padanya dan Cagalli. "Tidak masalah, Reala boleh memilihkan pakaian untukku."

"Lagipula seleranya bagus," sahut Cagalli dengan senyum kecil. "Aku menyukai baju ini."

Mendengar jawaban Athrun dan Cagalli membuat Leon merasa lega. "Terima kasih."

"Nah, ini!" Reala kembali dengan setumpuk pakaian dalam pelukannya. "Kak Athrun, cobalah semua pakaian ini!"

Athrun mengangguk, kemudian menerima pakaian dari Reala dan mengenakannya satu per satu di ruang ganti. Sementara itu Cagalli dan Reala menunggu sambil bersenda gurau, Leon sibuk berkutat dengan smartphone-nya. Selang beberapa menit barulah Athrun keluar dengan penampilan baru, mengenakan pakaian-pakaian yang dipilihkan oleh Reala.

Pertama Athrun keluar dengan sepasang celana jeans dan shirt polos berwarna orange, terlalu biasa saja di mata Reala. Kemudian ia berganti dengan kemeja putih dan jas hijau tosca, membuat kesan terlalu formal. Cagalli dan Leon menyaksikan dalam diam, hanya sesekali berkomentar jika diminta oleh Reala. Namun tawa keduanya pecah ketika Athrun keluar dengan pakaian nyentrik beraneka warna; stelan jas merah maroon dengan kemeja kuning dan dasi rainbow.

"Se-seperti Joker." Ucap Cagalli di sela tawa.

Leon pun menahan diri, berupaya tetap tenang sambil menunduk pada adiknya. "Reala, apa ini? Pakaian yang mencolok seperti ini tidak cocok untuknya 'kan?"

"Hmm, aku bingung..." Reala mengakui kesalahannya, matanya nampak memelas. "Seprtinya semua pakaian tidak cocok untuk kak Athrun, jadi..."

"Hmm, mungkin kau harus memilih warna dan style yang lebih cool." Leon mencoba memberi advice. "Tidak semua orang pantas mengenakan baju dengan warna cerah, terutama laki-laki."

"Oh, baiklah!" Reala kembali mencari kombinasi pakaian yang tepat untuk Athrun.

"..." Athrun hanya diam di tempatnya, tidak tahu harus berlaku bagaimana. Sebenarnya ia sudah merasa bahwa pakaian-pakaian yang dipilihkan Reala agak mencolok, namun ia tak sampai hati menolak permintaan gadis kecil itu.

Lagipula... Athrun menatap sosok Cagalli yang masih tertawa kecil karena pakaian yang ia kenakan. Aku bisa melihatmu tertawa seperti ini. Rasanya sudah lama sekali, Cagalli.

Bukan hanya itu, rasanya Athrun sudah lupa kapan ia pergi ke outlet pakaian atau mall untuk berbelanja pakaian seperti ini. Saat berada di PLANTs... Benar, sebelum ia dan Kira terjun dalam pertempuran terakhir. Saat itu ia, Kira, Lacus dan Meyrin sempat pergi ke pusat perbelanjaan untuk menemani Lacus membeli pakaian.

Meyrin... Bagaimana kabarnya sekarang? Tiba-tiba Athrun teringat pada sang sekretaris yang ia tinggalkan di PLANTs. Aku tidak meninggalkan pesan apa pun padanya, apakah dia...

"Kak Athrun!" Suara Reala membuyarkan pemikiran panjang Athrun. "Kali ini pasti cocok!" Gadis itu memberikan sepasang pakaian baru pada Athrun.

Athrun tersenyum dan kembali menerima pakaian dari Reala. "Terima kasih."

Sang admiral pun mengganti pakaiannya, berharap kali ini Reala menemukan kombinasi yang tepat. Harapannya seketika terjawab oleh tatapan Cagalli, Leon dan Reala yang tertegun saat ia keluar dari ruang ganti. Untuk sesaat keheningan mengisi ruang di antara mereka hingga Reala bertepuk tangan riang dan bersorak.

"Yay! Akhirnya!" Gadis itu nampak sangat puas dan gembira. "Kakak keren!"

"..." Athrun hanya tersenyum mendengar pujian dari Reala, lalu ia menatap Cagalli yang masih terdiam.

Gadis berambut pirang itu nampak terkejut dan sedikit merona saat ia sadar bahwa Athrun sedang menunggu komentar darinya. "Ya, turtle- neck memang cocok untukmu." Ucap Cagalli dengan senyum menghiasi wajah.

Mendengar itu, Athrun tak kuasa menahan diri untuk mengembangkan senyumnya. Cagalli menyukainya; sepasang celana hitam, turtle- neck berwarna sky- blue dan vest abu-abu membuat Athrun nampak gagah. Gadis itu bahkan sempat membeku, terkesima menatap penampilan baru sang admiral.

"Sebagai pelengkap," Leon datang menghampiri Athrun dengan kacamata di tangannya. "Pakailah."

Athrun mengangguk dan mengenakan kacamata dari Leon, menyempurnakan style-nya. "Terima kasih, Calthier- sama."

"Leon, panggil aku Leon saat kita sedang santai seperti ini." Leon menepuk bahu Athrun. "Baiklah, ke mana kita sekarang?" Ia bertanya pada Reala dan Cagalli.

"Game centre!" Jawab Reala dengan riang, menarik tangan Leon untuk mengikuti langkahnya. Cagalli dan Athrun pun menyusul di belakang.


Secret Letter


Mereka kembali memasuki pekan raya yang masih ramai, menikmati segala kegembiraan yang tersaji di sepanjang jalan. Reala beberapa kali mengajak Leon dan yang lain untuk bermain games dan menaiki wahana bersamanya, sedangkan Cagalli memanfaatkan kesempatan malam ini untuk membeli kebab super pedas kesukaannya. Tawa canda senantiasa mewarnai kebersamaan mereka, sejenak melupakan rutinitas dan penat dalam keseharian.

Athrun merasa senang, malam ini ia dapat melihat sosok Cagalli yang dulu ia kenal. Cagalli yang ceria, hangat dan penuh gairah. Malam ini Athrun menemukan kembali sosok Cagalli yang selalu ia cintai. Gadis berambut pirang itu nampak bahagia, bermain dan tertawa bersama Reala. Cagalli terlihat seperti seorang gadis biasa yang sedang menikmati malam minggu bersama kerabat, bukan seorang representative yang selalu sibuk menanggung beban satu negara.

Di samping itu, sang admiral juga mendapat kesempatan untuk melihat sosok Leon Calthier dengan lebih seksama. Selama ini ia hanya mengenalnya dari kabar berita yang tersebar, bertatap muka hanya satu kali dan itu juga dari kejauhan. Malam ini Athrun dapat sedikit membaca karakter dari pemuda berambut pirang tersebut; Leon merukapan pribadi yang humble, cerdas dan berkharisma tinggi. Tak ada yang mencurigakan darinya, Athrun tidak mencium adanya niatan buruk. Namun begitu sang admiral tetap mewaspadainya, merasa tidak senang dengan sikapnya pada Cagalli.

Tidak, tidak, Leon tidak bersikap kasar pada sang representative. Justru sebaliknya, ia selalu berlaku lembut dan santun. Cagalli beberapa kali dibuatnya tertawa, hanyut dalam suasana yang menyenangkan. Perhatian Leon pada gadis bermata amber itu pun terlihat jelas, terpancar dari senyum yang berbeda setiap kali sang pangeran menatap Cagalli. Sebagai sesama pria tentu Athrun menyadari apa yang sedang terjadi dan hal itu membuatnya merasa tidak nyaman.

"Kak Cagalli, lihat!" Reala menarik Cagalli ke salah satu stand arena ketangkasan. "Ayo kita main, aku ingin boneka unicorn itu!" Ia menunjuk sebuah boneka unicorn yang ditawarkan sebagai hadiah utama di arena menembak.

"Eh? Baiklah." Cagalli membayar jatah untuk dua orang, mereka mendapatkan masing-masing tiga peluru. Sudah lama aku tidak pernah memegang pistol, semoga saja aku masih bisa menembak dengan baik.

Dor! Dor! Dor!

Cagalli dan Reala asyik bermain, berupaya mengenai ssaran tembak demi mendapatkan hadiah utama. Sementara itu Leon dan Athrun berdiri tidak jauh di belakang, mengawasi dengan tatapan lekat. Athrun senantiasa menghias wajah tampannya dengan senyum, sedangkan Leon sesekali tertawa kecil melihat tingkah Cagalli bersama adik sepupunya. Kedua gadis itu nampak geram, beberapa kali Cagalli nyaris sukses mengenai sasaran.

"Ugh, hampir saja!" Gadis berambut pirang itu menekuk wajahnya. "Akan kucoba sekali lagi!"

"Berjuanglah, Kak!" Reala memberi dukungan terbaik.

Sekali lagi Cagalli menembak, masih saja meleset. "Aaah, menyebalkan!" Ia merasa kesal, menyadari kemampuan menembaknya sudah tidak terasah seperti dulu.

"Biar aku coba," tiba-tiba Leon datang dan menawarkan bantuan. "Sekali saja, kalau gagal kau boleh mencoba lagi sepuasmu."

"Huh? Oh, baiklah." Cagalli menyerahkan senapan mainan di tangannya pada Leon.

"..." Entah bagaimana Athrun tak dapat menghentikan langkah kakinya, ia pun berdiri di depan stand dan mengambil satu senapan mainan yang tersedia.

"Athrun?" Cagalli agak terkejut mendapati Athrun yang tiba-tiba ingin ikut bermain, mengingat sejak tadi pria bermata emerald itu cenderung diam.

Leon menyadari kehadiran Athrun, ia pun menatap sang admiral dari ekor matanya. Tatapan mereka bertemu, seolah saling memberi peringatan pada satu sama lain. Keheningan sempat mengisi ruang di antara kedua pemuda itu sebelum mereka memfokuskan diri pada senapan dan sasaran tembak di depan mata.

Dor! Dor!

Tembakan dilepaskan, Athrun berhasil mengalahkan Leon dengan perbedaan yang tipis. Cagalli dan Reala pun terkesima melihatnya. "Waaah! Kakak hebat! Kak Leon dan Kak Athrun benar-benar jago menembak!" Reala bersorak sambil bertepuk tangan. "Hebat sekali!"

Seperti biasa, Athrun tidak pernah meleset dari sasaran. Cagalli memuji dalam hati, kedua mata amber-nya masih terbuka lebar karena takjub.

"Hmmh, maafkan kakak, Reala." Leon meletakkan senapannya di meja, menatap Reala yang berdiri di sampingnya. "Kakak hanya dapat hadiah ke dua."

Reala menggeleng, tidak merasa kecewa. "Tidak apa-apa, Kak! Kakak keren sekali!"

"Reala benar, kau hebat!" Cagalli masuk dalam percakapan. "Aku tidak tahu, ternyata kau mahir menembak?"

"Ya kau tahu, ayah mengharuskanku ikut pelatihan menembak dan bela diri." Ujar Leon sambil tersenyum pada Cagalli, lalu ia beralih pada Athrun. "Tapi kemampuanku jelas tidak bisa dibandingkan dengan seorang penembak jitu sekelas Athrun Zala."

Athrun menaikkan sebelah alisnya, menangkap kejanggalan pada perkataan Leon barusan. Bagaimana dia...

"Selamat! Ini hadiah milik kalian." Seorang penjaga stand membuat perhatian semua orang teralihkan.

Leon menerima sebuah boneka anjing golden berukuran sedang, ia segera berbalik dan memberikan hadiah tersebut pada Reala. "Lain kali akan kubelikan boneka unicorn seperti yang kau mau."

"Tidak perlu, ini saja sudah cukup kok!" Jawab Reala sembari memeluk boneka dari Leon. "Terima kasih, Kak!"

"..." Sementara itu Athrun nampak kebingungan setelah menerima boneka unicorn besar sebagai hadiah. Ia pun menoleh pada Cagalli dan menatapnya dengan maksud tersirat.

Cagalli yang merasakan tatapan intens dari Athrun menoleh. "A-apa?"

Athrun tak berkata apa-apa, ia hanya menyodorkan boneka unicorn di tangannya pada gadis itu.

"E-eeh?" Seketika itu juga wajah Cagalli memerah. "Ke-kenapa diberikan padaku?"

"Kau tidak menginginkannya?" Athrun balik bertanya dengan wajah kusut.

Pemuda bermata emerald itu merasa malu membawa-bawa boneka sebesar itu. Bahkan sejujurnya ia tidak mengerti, kenapa ia ikut bermain? Memangnya Athrun menginginkan boneka unicorn ini? Tentu saja tidak! Lalu kenapa? Ingin bersaing dengan Leon? Ingin menunjukkan bahwa ia lebih baik dari Leon? Tapi bukankah itu sangat kekanak-kanakan? Memikirkannya saja sudah membuat Athrun merasa malu pada dirinya sendiri, ia hilang kendali hanya karena hal sepele seperti ini.

"Tidak! Aku 'kan bermain hanya untuk Reala!" Jawab Cagalli dengan rona merah masih melekat di wajah. "Kalau kau tidak menginginkan boneka itu, seharusnya kau tidak ikut main!"

Sang admiral menghela nafas pasrah. Ia mengaku dirinya gegabah dan tanpa sadar sudah berlaku kekanak-kanakan. "Baiklah..." Ia beralih pada Reala dan Leon. "Reala, ambilah boneka ini," ia menunduk dan tersenyum pada Reala. "Sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah memilihkan baju untukku."

"Eh? Benar untukku?" Athrun mengangguk untuk menjawab. "Terima kasih, Kak Athrun!" Ia menerima dan memeluk erat pemberian dari Athrun. "Kakak baik sekali... Hari ini aku sangat senang!"

Athrun tersenyum, keceriaan Reala berhasil menghangatkan hatinya. Ya, setidaknya aku sudah membantu Cagalli yang ingin menyenangkkan hati Reala.

Setelah itu Cagalli dan yang lain kembali menikmati pekan raya. Mereka kembali bersenang-senang hingga tiba saatnya untuk berpisah dan pulang. Memang hanya sekejap, namun Cagalli merasa sangat bahagia. Setelah sekian lama akhirnya ia dapat merasakan kembali kegembiraan bersama kerabat sebagai orang biasa. Satu malam di pekan raya ini takkan pernah terlupakan olehnya.


To Be Continued


Longliveasucaga: Aduh jngn berantem lah Leon sm Athrun, belum saatnya, ini masih pemanasan. Hehe.

Panda: Kuatkan iman! Jangan beralih pada Athrun! Kita ini bucinnya Lord Kira!!! Lol!

Atcakun: Makasih ya dukungannya, semoga suka dg chapter ini dan... Apakah smakin jatuh hati pada Leon???

Popcaga: Jngn ngarepin yg aneh2!

Chat01: Betul, Nadal sang petenis. Cyaaz tau sdikit banyak ttg tenis krn Imel penggemar tenis dan sering cerita2. Jdinya Cyaaz ambil nama bbrp petenis sbgai OC / figuran.

Titania: Sperti biasa, review anda ini bagai surat ya... Terhura tp jg pengen ketawa sih. G perlu nyalahin siapa2, emang author-nya aja yg sinting. Leon ataupun Athrun, dua2nya itu cowok ganteng yang memikat hati para wanita. Yah jangan heran kalo Cagalli jadi bimbang. Makasih ya review-nya, jangan bosen2 mampir!


Yeah, apakah readers puas dengan chapter ini? Ataukah kecewa karena tidak sesuai dg ekspektasi?

Thank you readers, thank you reviewers.

Sampai jumpa di lain waktu!