'Tokyo Ghoul' © Sui Ishida
Warning! AU, typo(s), gaje, OOC dll. Sorryy~
Silentium
'Siap Untuk Ronde Selanjutnya?'
"Siapa yang mengirim ini?"
Gadis tersebut menatap lekat sebuah paket berbalut kertas cokelat yang baru saja ia ambil di depan pintu apartemen kecilnya. Bungkusan itu tidaklah besar. Bentuknya menyerupai persegi dengan sebuah kertas putih tertempel disana bertuliskan, 'Saiko Yonebayashi'. Gadis twin tail yang kini berperan sebagai penerima paket tersebut mengernyit heran, siapa yang mengirimnya paket itu? Orangtuanya? Ah, itu tidak mungkin! Orangtuanya saja tidak peduli padanya! Teman? Yonebayashi tidak punya teman! Ia hanya memiliki rekan—partner kerja yang selalu direpotkannya sehingga tidak mungkin mereka mengirim hadiah seperti itu. Mentornya? Bukankah lebih baik jika Haise Sasaki memberi kejutan kepada kedua adik kembarnya daripada ia? Yonebayashi sedang tidak berulang tahun dan lagipula mereka bukanlah saudara! Pengagum rahasia? Mungkin itu lebih masuk akal untuk saat ini.
"Memang apa isinya, ya?"
Yonebayashi bergumam dalam hati. Ia berjalan masuk kedalam apartemennya dan menutup pintu disana. Ia melangkah menuju ruang tengah dan duduk di sofa sembari mulai merobek kertas cokelat tersebut. Maniknya berkilat tertarik begitu mendapati objek yang terbungkus rapi itu adalah sesuatu yang berharga—setidaknya itu menurutnya.
"GAME! INI SEBUAH GAME! ARIGATOU, KAMII-SAMAAAAA!"
Gadis berusia dua puluh satu tahun itu refleks bersorak kegirangan dengan sebuah keping CD yang masih terbungkus tempatnya mengacung tinggi di udara. Ia bahkan sudah melompat-lompat diatas sofa sembari merapal ucapan terimakasih bertubi-tubi—sungguh seperti anak-anak. Mungkin ini efek samping akibat sang Special Class yang terlalu memanjakan anggota skuadnya yang satu ini.
"Kebetulan sekali Maman memberi izin libur sehari besok! Aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin!"
Yonebayashi segera turun dari sofa, beralih menuju televisi datar dihadapannya dan segera memasang perangkat game yang baru didapatkannya tadi. Ia benar-benar tidak menyadari bahwa alasan sang mentor memberinya libur adalah untuk menghindari amukan Kepala Divisi III akibat kesalahan yang cukup konyol dilakukan oleh Yonebayashi—walau faktanya sangat diragukan jika seorang Arima Kishou dapat mengeluarkan ekspresi marah, apalagi pada skuad kecil pimpinan si surai abu yang sudah dianggapnya putra sendiri.
Mustahil.
"Siapkan kebutuhan!"
Yonebayashi dengan semangat tinggi segera berlari menuju dapur, mengeluarkan berbagai macam snack ringan dan sebotol cola dari dalam lemari pendingin lalu kembali menuju ruang tengah untuk memulai 'ritual bersantai' miliknya yang selalu disalah artikan oleh Ginshi Shirazu dan Tooru Mutsuki.
"Ayo bermain!"
Konsol game telah ditangan. Snack dan minuman sudah tersedia. Speaker besar telah terpasang sempurna di kedua sisi televisi dengan volume yang tidak main-main. Layar datar disana telah menampilkan laman pembuka adventure game tersebut dengan pemandangan hutan rimba dan karakter seorang pemuda berpakaian layaknya penjelajah.
Saiko Yonebayashi sudah dipastikan dalam kondisi prima untuk bertempur!
"Yosh! Mari kita mulai!"
Gadis tersebut menunggu hingga layar yang semula bertuliskan 'Dio's Travelogue' berwarna biru langit dengan font yang cukup unik —nama game tersebut, aneh memang— berubah menjadi tampilan menu. Yonebayashi segera menekan pilihan 'mulai' lalu memilih karakter yang akan dimainkan. Pilihannya jatuh pada tokoh seorang wanita berpakaian kaos tanpa lengan berwarna hijau tua dengan celana pendek navy blue dan tas selempang kecil yang tersampir pada pinggulnya.
"Baiklah Sarah, tunjukkan padaku kemampuanmu!"
Memberi semangat kepada karakternya, Yonebayashi segera menekan pilihan 'selanjutnya' sebelum akhirnya game sesungguhnya-pun dimulai.
Yonebayashi memainkan jemarinya diatas konsol game, membuat Sarah perlahan mulai berjalan maju menjelajahi hutan rimba. Yonebayashi membawa karakternya menuju sebuah sungai yang dilihatnya melalui peta kecil disudut layar kemudian bertemu dengan karakter lain—seorang pemuda berpakaian penjelajah bersurai biru, persis seperti karakter yang pertama kali muncul dilayar game tersebut. Yonebayashi menghampiri pemuda itu.
"Halo, Sarah! Lama tidak bertemu! Kau ingat denganku, bukan? Namaku Dio! Bagaimana kabarmu?"
Sebuah kolom bar besar tiba-tiba saja muncul dibawah layar, menampilkan percakapan yang diutarakan si pemuda bersurai biru tua. Yonebayashi mengangguk paham, mungkin karakter inilah yang akan memberinya misi di game ini.
"Aku kehilangan sebuah peti kayu di tengah hutan. Aku ingin mencarinya tapi tidak mungkin kulakukan jika hanya seorang diri. Apakah kau mau membantuku?"
Sekali lagi sang gadis mengangguk—misinya adalah mencari peti kayu milik si penjelajah itu.
"Tapi berhati-hatilah, di hutan ini ada begitu banyak hewan. Tidak masalah jika kau bertemu kijang, gajah, atau jerapah. Tapi jika kau berjumpa harimau atau singa, maka larilah!"
Untuk yang ketiga kalinya, Yonebayashi mengangguk paham.
"Sebelumnya aku juga berjumpa seorang laki-laki berpakaian pemburu dengan senapan di tangannya. Berhati-hatilah jika kau bertemu dengannya, orang itu aneh dan berbahaya."
Jadi musuhnya disini bukan hanya binatang, huh?
"Aku akan memberimu pisau dan juga tombak milikku. Pergunakan benda itu dengan baik. Aku juga akan berkeliling mencari peti kayu itu. Jadi jika kau berhasil menemukannya, maka segera temui aku. Cari aku di dalam hutan ini."
Bukankah ini baru level satu?
"Baiklah! Semoga beruntung, Sarah! Sampai bertemu lagi!"
Selanjutnya si pemuda berjalan pergi meninggalkan sang karakter wanita. Tampilan layar disana kembali normal tanpa kolom bar. Yonebayashi menjeda game-nya sebentar, memilih opsi 'peta' dan mengamati daerah tersebut. Maniknya menangkap kawasan berarsir hijau yang cukup pekat jika dibanding daerah sekitarnya. Menandai tempat itu dalam petanya, Yonebayashi kembali melanjutkan permainannya.
"Ayo kita lihat apakah tebakanku ini benar atau tidak. Kawasan itu terlihat cukup mencurigakan."
Yonebayashi membawa karakternya menuju tempat yang dimaksud. Menyeberang sungai dengan arus yang cukup deras, melewati beberapa pohon tumbang yang saling menimpa sehingga cukup tinggi, bahkan berlari begitu bertemu seekor harimau berbulu hitam. Yonebayashi membuat karakter pilihannya memanjat pohon lalu tersenyum puas begitu melihat sang hewan buas dibawah sana hanya terdiam.
"Rasakan itu! Kau tidak akan bisa menangkapku diatas sini, harimau jelek!"
Mengolok seperti anak-anak, gadis manis itu justru membola tak percaya begitu melihat harimau tersebut mundur menjauh kemudian berlari mendekat lalu melompat untuk memanjat pohon yang dinaikinya. Sarah berakhir mengenaskan begitu sang hewan menggigit kakinya dan menarik turun dari atas pohon lalu memakannya dengan rakus.
Kau tahu harimau kumbang?
"AAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHHH...!"
Secara mengejutkan game yang dimainkan oleh si gadis twin tail tersebut mengeluarkan suara yang begitu memekakkan telinga. Sarah menjerit keras—sebuah suara yang terdengar menyakitkan juga mengerikan. Layar televisi memperlihatkan bagaimana sang harimau memakan karakternya dengan lahap, mengoyak kulitnya lalu menarik keluar daging merah muda didalamnya.
Penggambaran yang begitu nyata.
Yonebayashi segera mengecilkan volume speaker-nya lalu berlari ke kamar mandi untuk membuang apapun yang saat ini berada di dalam perutnya. Dia mual—tentu saja.
"INI BARU LEVEL SATU, BUKAN?!"
Yonebayashi berteriak frustasi begitu keluar dari kamar mandi. Mungkin orang-orang melihat dirinya sebagai seorang gamer—well, itu tidak sepenuhnya salah. Ia memang suka bermain game dan memang sudah banyak genre yang dimainkannya. Hanya saja untuk kali ini ia mengakui bahwa 'Dio's Travelogue' adalah yang paling aneh.
"Siapa sebenarnya yang mengirim ini?"
Yonebayashi bertanya sembari berjalan menuju dapur. Selesai dengan beberapa teguk air, sang gadis kembali menuju ruang tengah dan mendapati layar televisinya telah berwarna hitam dengan tulisan merah di tengahnya ; 'Kau terlalu lamban, ingin mengulanginya sekali lagi?'
"Dia menantangku?"
Yonebayashi memicing tak suka memandang tulisan itu. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang 'gamer sejati' dipertaruhkan disini. Ia jelas tidak terima jika kalah begitu saja seperti itu. Tapi jika harus mengulangi game yang bahkan menurutnya tidak logis tersebut, ia tidak dapat menjamin dirinya mampu bertahan tanpa muntah seperti tadi. Game dengan genre seperti adventure, horror, gore, action, thriller, atau sebangsanya memang nyaris menjadi makanannya sehari-hari ; namun tentu saja dengan batasan wajar dalam penggambarannya. Darah memang ada. Adegan kekerasan yang tidak baik juga ada. Namun semuanya terlihat kaku untuknya sehingga tidak ada alasan untuk muntah seperti apa yang dialaminya sekarang.
"Aku tidak mau memainkannya—tapi aku penasaran! Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi jika aku memenangkannya!"
Wajar jika rasa ingin tahu seseorang lebih besar daripada rasa takutnya. Itu cukup manusiawi.
"Aku akan mencobanya sekali lagi. Jika aku gagal, aku akan berhenti."
Bermodalkan rasa ingin tahu dan cukup banyak ketakutan, sang gadis menekan pilihan 'ya' pada konsol game miliknya. Namun bukannya melanjutkan, layar televisi justru menunjukkan menu utama seolah Yonebayashi menekan pilihan 'tidak'. Gadis itu mengernyit heran sebelum akhirnya kembali mengikuti arahan sang penjelajah hingga sampai pada menu untuk memilih karakternya. Mengabaikan Sarah yang telah berakhir tragis akibat kegagalannya tadi, Yonebayashi memilih seorang pemuda bersurai pirang beriris biru indah menjadi karakternya. Pemuda itu berpakaian layaknya seorang turis dengan topi yang terbuat dari anyaman bambu serta sebuah kamera yang tergantung di lehernya. Walau hanya mengenakan kaus putih berlengan pendek dan jeans selutut, tampilan wajahnya seperti seorang yang terpelajar. Dalam hati Yonebayashi yakin bahwa karakter pilihannya ini adalah seorang peneliti.
Selesai, sang gadis segera menekan pilihan 'selanjutnya' dan game-pun dimulai. Seperti sebelumnya, Yonebayashi membawa karakternya ke pinggir sungai untuk bertemu sang tokoh utama.
"Halo, David! Lama tidak bertemu! Kau ingat denganku, bukan? Namaku Dio! Bagaimana kabarmu?"
Sama persis.
"Aku kehilangan sebuah peti kayu di tengah hutan. Aku ingin mencarinya tapi tidak mungkin kulakukan jika hanya seorang diri. Apakah kau mau membantuku?"
Sudah tahu percakapan apa yang akan keluar dari si surai biru, Yonebayashi langsung saja menekan pilihan 'lewati' dan segeralah sang tokoh utama berjalan pergi meninggalkan karakternya.
"Aku tidak akan melewati rute terkutuk itu! Harimau jelek itu pasti sudah menungguku disana!"
Yonebayashi memutar arah, membawa karakternya mencari jalan lain—bermaksud menghindari sang harimau. Namun sama seperti Sarah, David-pun berakhir tragis—kali ini ditangan seorang lelaki berpakaian pemburu berwarna cokelat. Semula Yonebayashi mengira dia adalah salah satu karakter pendukung dalam game yang tidak begitu penting. Namun ketika sang pria menghampirinya sembari mengarahkan moncong senapannya pada David dengan ekspresi yang aneh, saat itulah Yonebayashi menyadari bahwa dialah karakter yang dimaksud oleh Dio sebelumnya.
"DIA SI PEMBURU ITU?!"
Yonebayashi dengan panik melarikan diri namun peluru dari sang pemburu telah terlebih dahulu melumpuhkannya. Sebuah bar berwarna merah yang berada di sudut kanan atas layar perlahan mulai berkurang seiring dengan sang pemburu yang menembaki David berkali-kali. Saat bar merah tersebut nyaris habis, sang pemburu menghentikan aksinya. Ia berjalan menuju David yang kini sedang berusaha berdiri sebelum menendangnya dengan kuat, membuat sang karakter gadis twintail tersebut kembali tersungkur diatas tanah.
"Tidak! Tidak! Tidak! Menjauh dariku, pemburu aneh!"
Yonebayashi mengeluarkan pisau pemberian Dio lalu segera mempertahankan dirinya. Sang pemburu menindihnya dan kini pergulatan keduanya dimulai.
"Aku harus melarikan diri!"
Namun sebelum Yonebayashi sempat memainkan joystick-nya, sebuah kolom bar besar muncul dibawah layar—sang pemburu membuka percakapan.
"Aku menemukanmu."
Selanjutnya yang terjadi adalah sang pemburu yang merebut pisau David. Karakter sang gadis bersurai biru itu juga berakhir mengenaskan ketika sang pemburu membunuhnya seperti seorang psikopat yang mabuk. Bola mata David dicongkel keluar lalu diiris menjadi dua bagian. Bahkan tubuhnya dimakan dengan ganas oleh sang pemburu yang selanjutnya secara mengejutkan menoleh cepat ke arah layar dengan wajah penuh darah kemudian menyeringai lebar.
"UGGHHH..!"
Yonebayashi segera bangkit berdiri dan berlari menuju wastafel apartemennya—kembali memuntahkan sesuatu yang sebenarnya telah ia keluarkan sebelumnya.
"Argh! Aku selesai!"
Sang gadis mengerang kecil lalu menegak segelas air. Ia berjalan kembali ke ruang tengah dan mendapati komputer disana masih menampilkan sang pemburu sebelum layarnya berubah menjadi warna hitam dengan tulisan merah pekat ditengahnya ; 'Aku adalah Tuhan'.
Yonebayashi takut dan mengunci diri di kamarnya.
XXXXX
"Selamat siang, pak."
"Selamat siang."
"Langsung saja, pak—siapa nama korban kali ini?"
"Saiko Yonebayashi—dua puluh satu tahun. Bekerja sebagai penyelidik di salah satu lembaga negara. Ia tidak memiliki keluarga yang tinggal di dekat sini."
"Bagaimana dengan kondisinya?"
"Buruk—buruk sekali."
"Bisa anda jelaskan lebih spesifik lagi?"
"Saya tidak yakin anda ingin mendengarnya."
"Tidak masalah."
"Korban dibunuh secara sadis—kedua tangannya terpaku di dinding, matanya remuk serta organ dalamnya berserakan dimana-mana. Sang pembunuh seperti sedang mencari sesuatu yang berharga di dalam tubuh korban. Tulang kepala korban juga hancur, sepertinya disebabkan oleh pukulan benda keras."
"Lalu bagaimana dengan penyelidikannya?"
"Polisi masih belum dapat menemukan pelaku karena minimnya barang bukti. Namun dilihat dari seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan pembunuhan ini, kami menduga pelaku adalah seorang pria dan mungkin saja ia mengenal korban dengan baik."
"Apakah ada petunjuk dalam kasus ini?"
"Kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Hanya saja di ruang tengah korban, kami menemukan sebuah bingkisan tercabik dengan nama korban serta sebuah komputer yang masih menyala."
"Komputer yang masih menyala? Apa ini berarti bukanlah sebuah kasus pencurian?"
"Tidak. Dari awal kasus ini memang bukanlah sebuah pencurian. Semua barang berharga korban masih ada dan pelaku tidak perlu repot-repot memaku korban di dinding jika benar ini adalah sebuah pencurian."
"Lalu mengapa baik korban maupun pelaku membiarkan sebuah komputer menyala?"
"Kami juga tidak tahu pasti. Komputer itu hanya menyala dengan layar berwarna hitam dengan tulisan merah pekat ditengahnya ; 'Siap untuk ronde selanjutnya?'."
The End
Yaaappp! Kali ini Silentium akan benar-benar tamat T_T Terimakasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah setia menemani fic ini dari awal hingga sekarang. Untuk semua silent readers saya juga berterimakasih! Walau tidak meninggalkan jejak, namun melihat traffic pembaca membuat saya bersyukur bahwa masih ada yang mampir di fic ini... Saya tidak merencanakannya, namun saat mengetik ini saya baru menyadari bahwa tamatnya Silentium bertepatan dengan hari Halloween ; yah, sebuah kebetulan karena saya —sekali lagi— tidak merencanakannya. Saya melanjutkan chapter terakhir saat ini karena sedang libur panjang saja XD
Akhir kata —tanpa kenal lelah— sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak untuk semua dukungannya! Tetap sehat dan produktif selama masa pandemi ini!
Salam penuh cinta,
Frazka 12 (Silentium)
Replies Reviews
- Aiylien Tan : Halo, Aiylien-san! Salam kenal! Wah, paling suka chapter tentang Mutsuki ya? Saya saat menulis itu juga cukup 'was was' sendiri, maklum saya orangnya parnoan wkwkwk XD Jujur saja, terkadang saya suka merasa risih saat sedang melakukan sesuatu dan terdapat space kosong di ruang tempat saya melakukan aktivitas tersebut. Sebagai contoh adalah ruang tengah ; ketika saya sedang duduk dan bermain telepon genggam, saya merasa seperti ada yang mengawasi dari sisi lain sofa. Karenanya dalam beberapa hal, saya lebih senang tempat yang sempit atau banyak barangnya ; karena bagi saya semakin sedikit ruang gerak kita maka akan semakin kecil pula peluang adanya 'sesuatu' yang berdiri menemani kita (karena pemikiran saya, kalau ruangannya sempit atau penuh barang maka orang akan merasa sesak di dalam ruang itu. Jadi disana hanya akan ada saya, tidak ada orang lain. Ini berlaku untuk manusia ya, kalau untuk makhluk tak kasat mata ya tentu saja tidaakkk~) Okeee, terimakasih banyak sudah mampir dan meninggalkan jejak di fic ini, Aiylien-san! Semoga chapter terakhir ini juga menghibur yaa~ Salam!
