"Sudah kukatakan agar kau tidak ikut," ujar Gaara dengan nada kesal.

"Maaf..." mata Ino berair kemudian bulir air matanya berlomba keluar, "Maafkan aku," tangis yang ia tahan akhirnya pecah.

Gaara yang tidak tahan melihat Ino menangis, kemudian mengulurkan tangannya merengkuh tubuh Ino yang sangat lemah ke dalam pelukannya. Ia tidak tahu cara menenangkan tangisan seseorang, tapi ia pernah berada dalam posisi ini. Dengan Ino, dengan dirinya yang menangis memeluk Ino. Perlahan tangannya mengelus kepala dan punggung Ino, sama seperti yang pernah Ino lakukan padanya. Ino yang menangis, tapi kenapa ia juga merasa sedih?

.

.

.


Tittle : With

Author : Elwing Wu

Length : Chapter or? Tergantung~

Genre : Engg, entahlah baca aja .—.

Pair : Sabaku no Gaara x Yamanaka Ino

Rated : ._.

.


Ino terbangun di atas kasur rawatnya dan tidak menemukan Gaara di sampingnya. Sedangkan jerit tangis dan ketakutan kembali berdengung di telinganya. Ia coba menutupi kedua telinganya dengan tangan, justru suara-suara itu terdengar lebih jelas dan dekat.

'Apa yang harus kulakukan? Kumohon, hentikan...' inner Ino.

Ia menatap ke arah pintu keluar, berharap siapapun akan datang dan menghentikan kegilaan di kepalanya. Sekejap dari balik kaca pintu Ino melihat sesosok siluet yang ia kenal melewati ruang rawatnya.

Ino segera turun dari ranjang, tapi kakinya masih mati rasa sehingga tubuhnya jatuh mengenai lemari kabinet disamping kasur rawatnya dan segelas air diatas lemari itu terjatuh dan pecah di dekatnya. Tapi Ino tidak menyerah, ia berpegangan pada ranjang untuk bisa berdiri lagi dan berjalan tertatih keluar dari ruang rawatnya.

"Shika! Shikamaru... Shikamaru..." panggil Ino berualng kali, sampai ia berhenti di ujung lorong, "Shika..." ia akhirnya tersadar, tidak mungkin Shikamaru melewatinya begitu saja, tidak mungkin Shikamaru di sini, tidak mungkin Shikamaru meninggalkannya, sendirian.

Merosot tubuh Ino di lantai rumah sakit yang dingin. Sambil bersandar pada dinding, kakinya menekuk ke dada, kepalanya menunduk, dan kedua tangannya menutupi kedua telinganya.

"INO!,"

.


Flashback

.

Setelah membaringkan Ino yang terlelap dalam dekapannya di ranjang, Gaara keluar dari ruang rawat Ino dan menemukan Kakashi berdiri menghadapnya sambil bersandar pada tembok.

"Setelah Ino pulih, sebaiknya dia segera kembali ke Konoha,"

"Misinya belum selesai,"

"Apa kau yakin ini hanya tentang misi?,"

Gaara menaikkan sebelah alisnya.

"Kondisi tumbuh Ino juga tidak memungkinkannya untuk melakukan perjalanan jauh,"

"Setelah Ino pulih," Kakashi kembali mengulang perkataannya dan menekan setiap suku katanya.

Gaara terdiam.

"Aku akan memerintahkan Shikamaru dan Chouji untuk menjemputnya. Bahkan Naruto dan Sakura, jika perlu. Sepertinya itu lebih dari cukup,"

Gaara tetap diam sambil menatap lantai.

"Apa kau punya perasaan padanya?,"

Mata Gaara naik menatap Kakashi, "Apa maksudmu?,"

"Apa kau memperlakukan wanita lain, seperti kau memperlakukan Ino?,"

Gaara diam mencerna perkataan Kakashi.

"Apa kau memperlakukan Ino seperti ini karena dia adalah aliansi desa yang harus kau jaga atau itu karena kau benar-benar ingin menjaganya?,"

"Aku ingin menjaganya karena keinginanku sendiri,"

"Lalu apa yang kau inginkan darinya?,"

"Apa kau mencoba menjebakku dengan pertanyaan itu?,"

"Apa kau berpikir begitu?," sorot mata Kakashi tiba-tiba berubah tajam, "Mungkin kau tidak terlalu mengerti, tapi laki-laki, tetaplah laki-laki," kemudian Kakashi berbalik pergi meninggalkan Gaara.

"Gaara-sama," Baki datang tiba-tiba di belakang Gaara, "Maaf mengganggu, tapi dokumen untuk pemindahan pelaku pengeboman sudah selesai dibuat. Apa anda ingin membacanya dulu?,"

"Aku juga akan memeriksa dokumen-dokumen lain," dan dengan itu Gaara pergi. Ia berharap untuk satu atau dua jam Ino masih akan terlelap. Tapi ternyata ia salah.

Setelah kembali, ia sangat terkejut ketika melihat jejak telapak kaki yang berwarna merah darah di luar dari ruang rawat Ino. Ia tidak menemukan Ino di ranjangnya, yang ia temukan hanya pecahan kaca dengan darah disekitarnya.

Dengan panik Gaara mengikuti jejak darah itu yang menuntunnya pada sosok Ino yang meringkuk di ujung lorong.

"INO!,"

.

Flashback End


.

Ino terbaring di ranjang sambil wajahnya menoleh kesamping melihat ke arah jendela.

"Pulang,"

Untuk sepersekian detik Gaara merasakan jantungnya berhenti berdetak.

"Aku ingin pulang," ulang Ino sambil matanya melelehkan tangis.

.

.

.

.

.

Tbc


Olla~ Minna-san~~ How are you doin? Hope everyone okay :):):)

Kembali lagi bersama author malas ini (bow 1 juta kali). Maafkan hamba yang selalu telat update. Hamba merasa frustasi karena tidak mendapat asupan gizi dari ff-ff lucu penggugah hati. Heran aku tuh, kemana perginya orang-orang dari dunia per-ff-an ini. Daku meronta tersiksa ga ada bahan buat nerusin cerita kan jadinya.

Tapi aku berharap kalian masih mendukungku untuk meneruskan ff-ff ku sampai ada tulisan Tamat/End/Finish, bukan Tbc terus :"(

Semangat semua di awal tahun ini. Semoga keadaan kembali membaik di 2021 :)

Semangat yok~ Semangat!