Song: How can I love the heartbreak, you're the one I love - AKMU


.

Sekarang Itachi memakukan kedua matanya ke bawah. "Kau tidak mengerti apapun, Sakura."

Sakura yang masih menahan rasa sedihnya, membagikan pandangan heran dan menuntut penjelasan.

"Bagaimana jika kubilang bahwa tanggung jawab yang Sasuke tanggung adalah suatu kesalahan?"

Sakura semakin tidak mengerti akan kemana dibawa sampai ke ujung konversasi ini. Kedua alisnya nyaris menyatu, keningnya membentuk lipatan. "M-maksud Niisan?"

"Karena hari itu paman yang menolong Sasuke bukanlah ayah Karin melainkan ...

ayahmu, Sakura."

.


Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')

Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)

Rate M untuk bahasa dan sedikit pembahasan—such as mental illness (which leads to suicide attempt and such) yang mungkin bisa membuat kurang nyaman atau terpicu.

Yep. I decided to change the rate from T+ to M for safe :")


.

.

Responsible

11. Gulp of Tea and Forgiveness

.

.


Air mata yang setengah mati ditahan, meronta, keluar secara deras tanpa ampun membasahi kedua pipi Sakura. Dadanya yang sejak tadi bergemuruh tak nyaman, semakin terasa sakit. Seperti tiap detaknya menyebarkan perih tak terdefinisi. Ia terkejut, sangat. Semua perasaannya kacau.

Abilitasnya untuk tetap berpikiran jernih turun fungsi. Refleks, tubuhnya meraung mulai dengan isakan kecil. "K-kenapa ... Niisan memberitahuku soal ini?" bahunya gemetar naik turun. Ia mencoba tetap tenang, mengabaikan seluruh inci sukmanya yang menjerit.

Dalam hati, Itachi membentuk tekad. Menenangkan diri, bahwa yang ia lakukan adalah suatu hal yang benar. Meski ia harus menyakiti Sakura, meski ia harus menyeberangi garis yang sudah lama orangtuanya buat. Meski semuanya harus kacau ... ia, Uchiha Itachi harus mengakhirinya.

"Mau sampai kapan kebenaran ini ditutupi, Sakura?"

Mau sampai kapan juga ia terus melarikan diri dari Sakura?

Isakan perempuan itu semakin kencang akibat ledakan emosional dalam diri. Sekujur tubuhnya lemas, kardiovaskularnya melompat kencang memenuhi seluruh rongga dada. Perih itu terus menyiksa.

Semuanya terasa sangat masuk akal sekarang.

Sakura membangkitkan dirinya dari kursi mini bar dapur. "Biarkan aku mengatur pikiranku terlebih dahulu, Niisan."

Kemudian, Itachi menepuk bahu perempuan itu. "Maafkan aku. Maafkan Sasuke dan maafkan keluarga kami," tuturnya dengan suara yang sangat lirih.

Sakura segera membenamkan wajahnya di bantal sembari menyuarakan kesedihannya. Pantas saja, pantas. Di balik sendunya kilatan onyx milik keluarga Uchiha yang menatapnya ... di balik sikap keluarga Uchiha yang memperlakukannya dengan sangat baik—dan di balik kesedihan yang tersimpan selama delapan belas tahun ... berdirilah Sakura, seonggok raga berlabel tanggung jawab berkomposisi seratus persen murni dari rasa bersalah.

Apakah ia marah?

Sedih?

Kesal?

Tidak, sejujurnya ... sama sekali tidak.

Atau setidaknya ia sedang berusaha untuk tidak seperti itu.

Adalah fakta yang semakin membuat hatinya terlampau sakit, yaitu kenyataan di mana ia, Sakura, tak mampu menyalahkan Uchiha Sasuke, suaminya. Karena dengan jalur visual miliknya sendiri, Sakura melihat bagaimana laki-laki itu berusaha bertanggung jawab atas Karin.

Perjuangannya selama delapan belas tahun yang seolah tidak memiliki akhir. Sebuah perang yang memiliki start tanpa finish.

Kembali terputar dalam ingatan Sakura saat pertemuan pertama mereka. Uchiha Sasuke yang terburu-buru mengurus keperluannya. Uchiha Sasuke yang selalu membawakan Karin susu cokelat hangat dan memastikan perempuan itu meminumnya sampai habis. Uchiha Sasuke yang membawakan Karin es krim stroberi padahal ditolak oleh Karin dengan alasan alergi. Uchiha Sasuke yang selalu menomorduakan dirinya demi Karin. Uchiha Sasuke yang selalu siap melakukan apapun untuk Karin.

Isak tangis Sakura semakin kencang. Ia menepuk-nepuk dadanya dengan kepalan tangan. Berharap dengan melakukan itu, seluruh rasa sakitnya ikut lebur.

Kenyataan bahwa Sakura nyaris tumbuh menjadi beban berlabel tanggung jawab yang menjerat Uchiha Sasuke membuat akal sehatnya tetap terbangun, mengabaikan jutaan emosi yang siap mengambil alih raganya.

Sakura menarik napas yang sangat panjang. Ia menangis lagi dengan kencang di kamar. Ia kembali membenamkan wajahnya pada bantal, menyalurkan seluruh emosinya yang tumpah ruah. Begitu mulai tenang, ia terduduk tapi saat hal kecil membuatnya teringat akan kenyataan menyakitkan ini membuat tangisannya kembali tumpah.


.

;;;;;

.


Grep.

Uchiha Mikoto mencengkeram kuat bahu anak sulungnya. Tenggorokannya sangat sakit, skleranya mulai dipenuhi oleh air mata yang terbendung. "Kenapa kau buka kebenarannya sekarang, Itachi?"

Lutut wanita itu terasa lemas seketika. Ia dan suaminya baru saja pulang dari rumah teman mereka tapi Itachi menyambutnya dengan kabar mengejutkan. Yaitu anak sulungnya meminta maaf karena telah memberitahukan Sakura soal kenyataan yang disembunyikan rapat-rapat sejak delapan belas tahun lalu itu.

"Kita harus mengakhirinya, Ibu. Mau sampai kapan kita hidup seperti ini?" kilah Itachi kemudian.

Air mata Mikoto lolos begitu saja. Perkataan anaknya mampu menariknya pada kenyataan. Kenyataan di mana ia harus menghadapi realita menyakitkannya. Di satu sisi, ia sendiri sudah lelah karena menyimpan rapat-rapat soal insiden delapan belas tahun lalu sampai saat ini. Di satu sisi, ia tidak siap jika Uchiha Sasuke, anak bungsunya harus kembali seperti dulu. Di satu sisi...

Ia harus membayar karmanya pada Sakura.

Mengingat yang selama ini ia lakukan hanyalah melarikan diri, harusnya ini adalah saat yang tepat. Hei, Tuhan bahkan menghadiahkan eksistensi Sakura secara frontal di hadapannya. Alibi apa lagi yang bisa wanita itu pertahankan? Apa perlu delapan belas tahun yang lain?

Wanita itu menggigit bibirnya. Dengan dada yang sangat terasa sesak, ia mengumpulkan sisa tenaga. Ia menggenggam tangan suaminya yang sejak tadi setia menopang bahunya, ia menganggukkan kepalanya. "Sudah saatnya kita meminta pengampunan pada Sakura, Tousan."

Kepala keluarga itu mengangguk sigap. Inilah yang memang harus mereka lakukan—bahkan seharusnya sejak pertemuan mereka di meja makan restoran malam itu. Ya, malam di mana untuk pertama kalinya setelah sekian lama keluarga Uchiha dipertemukan kembali dengan takdirnya dengan keluarga Haruno. Takdir yang menjerat, ciptaan langit yang membawa jutaan rahasia membukakan pintu untuk membalas karmanya.

Pelan-pelan, dengan kedua tangan yang saling bertautan mengirimkan masing-masing kekuatan, Mikoto dan Fugaku berdiri di depan pintu kamar anak mereka. Uchiha Mikoto menolehkan kepalanya, sepasang jelaganya nampak ragu sejenak. Fugaku mengeratkan genggaman tangannya, mengangguk lagi. Menegaskan bahwa yang ini adalah hal yang memang harus dilakukan oleh mereka.

Tok!

Tok!

Sakura segera menghapus bekas-bekas air mata pada wajahnya yang memerah. Napasnya masih belum beraturan. Bertengkar dengan pikiran dan hatinya dalam waktu yang sangat lama membuatnya banyak menangis. Sangat banyak sampai ia lelah dan ingin menghilang saja rasanya.

Ia berdeham, kemudian membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "S-sebentar..." Ia segera membukakan pintu kamarnya.

Tanpa sepatah kata, mereka semua saling mengerti. Uchiha Mikoto yang menangis, Uchiha Sakura yang wajahnya merah dengan mata bengkak serta Uchiha Fugaku dengan pancaran mata yang sangat sendu. Semuanya sudah saling menjelaskan tanpa kata.

Sakura mempersilakan kedua orangtuanya untuk masuk. Begitu pintu kamar ditutup, kunci kotak pandora dibuka.

Mikoto meraih tangan Sakura, ia menggenggam tangan menantunya. Ia menjatuhkan lututnya di lantai beralas karpet. Air matanya kembali turun dengan deras.

"Maafkan Kaasan, Sakura. Ibu mohon, maafkan Ibu..."

Ia menuturkan maaf itu dengan sangat lirih. Ucapan maaf yang selama delapan belas tahun tak mampu ia sampaikan.

Mikoto tak mampu menatap langsung kedua mata menantunya. Ia hanya mampu berlutut dan menangis.

Suaminya pun, Uchiha Fugaku turut menjatuhkan lututnya ke lantai. Tanpa sadar ia menggertakkan giginya, menyalurkan rasa perih akan berbagai hal tak terdefinisi.

Sakura ikut terduduk di lantai, menyejajarkan tubuhnya dengan orangtuanya. Tangisannya kembali meledak. Ia tak mampu menyuarakan segala pertanyaannya selain dalam bentuk isak kencang. Kedua bahunya bergetar naik turun dengan hebat. Ia berusaha menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Fugaku yang sejak tadi hanya diam, menepuk bahu menantunya dengan sangat bersalah. Ia pun akhirnya buka suara. "Sebenarnya, tak ada satupun dari kami yang berniat menyakitimu, Sakura."

Sakura memindahkan atensinya pada sang ayah. Melihat sosok ayah mertuanya semakin membuatnya menangis kuat. Karena ayah mertuanya sudah seperti ayahnya sendiri. Dengan suara yang tidak stabil, ia bertanya. "Kenapa Ibu dan Ayah menutupinya dari Sasuke-kun?"

Kali ini, Mikoto yang mengambil alih. Ia menarik napas, "Semuanya adalah kesalahanku, Nak. Karena keegoisanku..."


.

Delapan belas tahun yang lalu

.


"Kami benar-benar mohon maaf, Haruno-san..." Uchiha Mikoto hanya mampu membungkukkan badannya dalam-dalam.

Haruno Mebuki berdecih tidak percaya. Tatapan wanita yang belum lama ini terpaksa jadi ibu tunggal itu nanar tapi air mata mengalir deras dari kedua mata. "Apakah permintaanku terlalu berat?"

Tak mau munafik tapi jika membandingkan bahwa nyawa suaminya, orang yang ia cintai, kepala keluarganya, ayah dari anaknya dengan permintaan kecilnya ... kenapa permintaan semudah itu ditolak mentah-mentah?

"Tidak, bukan begitu!" kilah Mikoto cepat. Ia masih membungkukkan badannya dalam-dalam. "Anakku baru sadarkan diri beberapa hari yang lalu. Kondisinya benar-benar tidak baik, Haruno-san..."

Mebuki sangat muak dibuatnya. Tangannya mengepal, menyalurkan amarah yang tersulut. Ia mengacungkan telunjuknya pada sosok anaknya di lantai ruang tengah. "Apa kau pikir kondisi anakku baik?"

Sakura, usia lima tahun waktu itu. Tangan mungilnya merengkuh foto ayahnya kuat-kuat sambil terbaring di lantai. Bahkan dari sudut pandang Mikoto dan Fugaku sendiri pun, vertebra anak kecil itu nampak sangat rapuh seolah sentuhan kecil saja bisa meluluhlantakkan anak itu.

"Apa kau tahu bagaimana usahaku membawanya pulang dari makam ayahnya? Apa kau tau betapa sulitnya aku membujuk anak itu untuk sekadar mengganti pakaiannya, mandi dan makan—berfungsi seperti makhluk hidup pada hakikatnya?" Seolah belum cukup, Mebuki kembali menyerang Mikoto.

"Apa kondisi anakku baik? Kau lihat 'kan?"

Mikoto memejamkan matanya erat-erat. Ia tahu bahwa yang ia lakukan itu adalah sangat egois—tapi ia sendiri tidak sanggup membiarkan anak bungsunya dalam kondisi seperti itu lebih lama lagi. "Setelah sadar, anakku malah berlakon seperti mayat hidup."

Wanita itu kembali melanjutkan, "Tapi tiba-tiba kemarin, seolah punya alasan untuk hidup, anak itu bangkit untuk pertama kalinya setelah kecelakaan itu. Sasuke berkata bahwa ada sebuah tanggung jawab yang harus ia laksanakan. Ada sebuah janji yang harus ia penuhi oleh paman yang menyelamatkannya."

Seolah mengerti sinyal kontra dan ingin protes dari Mebuki, Uchiha Mikoto kembali melanjutkan. "Tapi ... entah bagaimana ia salah sangka. Aku dan keluargaku tak berani mematahkan harapan anak itu untuk menebus dosanya. Kami takut ... membuatnya kembali terjatuh. Maka dari itu—sekali lagi, kuharap Anda bisa memahaminya, Haruno-san..."

Amarah sedang berusaha mati-matian menggoda Mebuki sampai pada puncaknya. Ia masih tak habis pikir. Kenapa bisa ada orang yang sebegini egois? Lalu bagaimana dengan nasibnya? Bagaimana dengan Sakura?

Sejujurnya, Haruno Mebuki tidak menyalahkan Uchiha Sasuke atas meninggalnya suaminya. Biar bagaimanapun juga, ini adalah guratan takdir yang sudah tertulis sejak lampau oleh Tuhan. Apalagi, Mebuki sangat mengenal suaminya. Kizashi adalah orang yang sangat baik yang selalu menomorduakan kepentingannya demi orang lain.

Tipikal manusia yang selalu membuat Mebuki gemas. Maka dari itu, saat mengetahui suaminya kehilangan nyawa karena menyelamatkan seseorang ... harusnya ia tidak perlu terkejut. Tapi tetap saja ... sebaik apapun ia mempersiapkan diri ... pertahannya pasti runtuh.

"Sekali lagi, kami mohon maaf, Haruno-san." Kini, kepala keluarga Uchiha akhirnya turut berbicara. "Kami berjanji akan bertanggungjawab atas semuanya. Bahkan soal pendidikan Sakura atau semua kebutuhannya, aku siap menanggungnya."

Mebuki menyilangkan kedua lengan di atas dada. Tiap untai kata yang diucapkan oleh pasangan ini rasanya ingin membuat Mebuki terbahak. Ia menggulirkan pandangan matanya, tertawa miris sambil menangis tiris.

"Tidak perlu, Uchiha-san. Aku bisa menanggung anakku sendirian. Satu-satunya hal yang kuinginkan yaitu tadi. Apa meminta penghormatan terakhir dari bocah itu, Uchiha Sasuke adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan? Apa membungkukkan badannya depan makam suamiku akan membuat tulang punggungnya patah? Apa dia akan mati?"

Sedangkan kedua pasangan Uchiha itu hanya mampu membisikkan kata maaf secara repetitif. Membiarkan ucapan tajam Mebuki menyakiti hati mereka—karena mereka pantas menerimanya.

"Lebih baik kalian pulang. Aku harus membujuk anakku yang sudah hampir dua hari tidak makan."

Dan begitulah awal permulaan bagaimana Mikoto dan rasa bersalahnya yang memberat tiap tahun. Karena ia menyembunyikan kebenaran dari anaknya sendiri. Karena ia tak mau membuat anaknya terpuruk semakin dalam. Ia memang egois. Seperti yang dikatakan oleh dokter jiwa anaknya, Sasuke tidak boleh diforsir untuk menghadapi kenyataan.

Mungkin jika waktunya sudah tiba, pelan-pelan saat Sasuke sudah matang dan siap menerima semuanya... Mikoto berjanji akan membukanya. Ibu itu berjanji akan memaparkan kenyataan pada anak bungsunya.

Dan definisi pelan-pelan itu berubah nilainya sampai tidak terasa tersimpan selama delapan belas tahun lamanya.

.


Pelukan erat adalah satu-satunya yang mampu Mikoto berikan pada anak yang sudah ia lukai selama delapan belas tahun ini. Nonstop dan repetitif, Mikoto terus menuturkan kata maaf itu pada telinga Sakura.

Sakura, perempuan itu terisak di dalam pelukan ibu mertuanya. Perasaannya benar-benar sangat campur aduk. Seberusaha mungkin, ia memahami posisi Mikoto dan kondisi Uchiha Sasuke, suaminya di kala itu.

Meski terasa sangat sakit saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia berusaha mencoba untuk tetap kuat agar tidak membiarkan pusaran emosi menghisap dirinya. Berulang kali Sakura mendoktrin dirinya bahwa sekarang ia sudah kuat. Bahwa ia telah berhasil mengikhlaskan ayahnya. Bahwa apapun yang terjadi, ia enggan melaluinya seperti dulu.

Karena melalui arus neraka penyiksaan dengan cara yang dulu ia tempuh, hanya akan membuat ibunya hancur. Ibunya, Haruno Mebuki hanya memiliki Sakura seorang. Mereka sudah berjanji, akan bersama-sama menopang beban dan tanggung jawab mereka.

Lukanya sudah lama sembuh. Tiap waktu, bersama dengan ibunya Sakura saling mengobati perih hati masing-masing. Begitulah ia bisa tumbuh, berdiri kuat dengan kedua kakinya.

Sedangkan untuk kasus yang terjadi pada keluarga ini...

Mereka semua sibuk memendam luka mereka sendirian. Bersembunyi dari zona nyaman dan terus melarikan diri. Membiarkan lubang yang tercipta di dalam sana terus terbuka sampai akhirnya semakin lebar dan dalam. Luka lama itu dibiarkan terpendam begitu saja tanpa dirawat sama sekali.

Sakura menarik napas dalam. Ia mencoba mengatur napasnya yang jauh dari kata stabil akibat banyak menangis. "Sejujurnya, aku memang sedih mengetahui kenyataan ini." Sakura memberi jeda sebentar, berusaha mengatur jaras pikirannya. Dengan suara parau, ia bertutur, "Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, aku memaafkan dan merelakannya tapi ini semua terasa sulit. Walau begitu..."

Suara Sakura terasa ingin habis. Pita suaranya kembali ia paksa untuk memproduksi suara, "Aku akan mencobanya."

Ini sudah sangat terasa cukup bagi Mikoto. Meskipun Sakura baru bertutur ingin mencobanya ... rasanya sudah sangat cukup—jika dibandingkan dengan dosa yang ia lakukan di waktu lampau.

Sakura benar-benar tidak pernah membuat Mikoto gagal terkagum dibuatnya. Tiap untai kata yang diucapkan menantunya benar-benar memiliki daya yang hebat mampu menghisap banyak beban dan rasa bersalahnya yang sudah hampir dua dekade ia pendam.

Dalam hati juga Mikoto sangat takjub pada Haruno Mebuki, orang yang berjasa besar di balik tumbuhnya Sakura sebagai anak dengan jiwa yang sangat besar dan kuat. Padahal dulu, Mikoto juga menyaksikan bagaimana masa sulit Sakura. Masa-masa saat anak itu terjerumus sangat dalam, tenggelam dalam perasaannya yang berlarut-larut selama bertahun-tahun karena ayahnya.

Mikoto tahu bahwa perannya dalam kehidupan Sakura tak lain hanyalah seorang antagonis. Seorang antagonis yang menutup rapat-rapat kedua mata dan telinganya—mengabaikan Sakura yang jelas-jelas menjerit meminta pertolongan.

Kalau saja dulu, anaknya tidak salah paham pasti Sasuke akan merawat Sakura sama seperti ia merawat Karin sampai sekarang. Tapi takdir tercipta begitu lucu. Semesta menorehkan tinta, membuat keluarga mereka kembali bertemu dengan cara yang tidak diduga. Karena semesta membuat Sakura, anak dari keluarga Haruno, sebuah entitas dengan nilai tanggung jawab mutlak yang naik pangkat sebagai takdir berwujud karma yang harus ditanggung oleh keluarga Uchiha seumur hidup.

Mikoto memuntahkan seluruh perasaan terpendamnya dalam pelukan hangat anak perempuannya. Dalam kepala, determinasi akan memperlakukan Sakura sebaik yang ia bisa sampai ajal menjemput bergema lantang. Ia berjanji dan bersumpah akan membuat Sakura yang sudah banyak menderita, bahagia.

Fugaku pun turut menghambur dalam pelukan kedua perempuan yang aslinya berjiwa sangat rapuh, keluarganya itu. Ia tetap berusaha tenang meskipun air mata sudah mau memberontak di ujung pelupuk.

Dan pada hari ini, detik dan sore ini, beban berat yang menghantui bahkan di malam-malam saat keluarga Uchiha itu terlelap, terkikis sangat banyak bobotnya.


.

;;;;;

.

Hari ini terasa sangat berat untuk Sakura. Rasanya semua kebenaran yang menerjangnya bertubi-tubi tanpa ampun menolak untuk memberikan izin padanya agar bernapas lega barang sejenak. Emosinya sudah terkuras, suaranya pun sudah mau habis.

Tubuhnya terkulai lemas di atas kasur. Kedua matanya yang bengkak hanya bisa menatapi langit-langit kamarnya. Ia menghela napas. Perempuan itu menenangkan diri, memberi apresiasi bahwa yang sudah ia lakukan adalah benar. Ibunya serta ayahnya di atas sana pun pasti setuju.

Lalu setelah mengetahui ini ... apa yang harus ia lakukan?

Perlukah ia memberitahukan hal ini pada suaminya?

Tapi jika ia melakukannya ... jika Uchiha Sasuke mengetahui kebenarannya ... bukankah Sakura akan menghancurkan telak suaminya? Dan Karin—bagaimana dengannya? Apa yang akan terjadi jika Karin mengetahui kebenarannya? Lagi pula, bagaimana awal dari kesalahpahaman ini? Kenapa harus Karin?

Tunggu. Ayah Karin juga meninggal pada kecelakaan yang sama 'kan? Sebenarnya apa lagi yang masih disembunyikan langit soal kejadian itu?

Kepala Sakura semakin terasa penuh. Helaian rambutnya seperti menarik-narik kulit kepalanya sampai terasa nyut-nyutan. Sejujurnya di atas semuanya, yang paling membuat Sakura khawatir adalah kondisi Sasuke.

Perempuan itu benar-benar tak mampu membayangkan apa yang terjadi jika tiba saatnya untuk mengetahuinya. Karena Sakura sendiri menyaksikan, bagaimana suaminya bereaksi terhadap traumanya. Dadanya mulai bergemuruh tak nyaman. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum berakhir kembali menghembuskan karbondioksida.

Tidak usah berpikir sejauh itu dulu. Coba dimulai dari yang lebih mudah. Wajah seperti apa yang harus ia pasang saat bertatapmuka dengan suaminya? Sebentar. Bukankah suaminya sedang merajuk?

Tunggu. Omong-omong, bagaimana kondisi wajahnya sekarang?

Sakura segera menyambar cermin kecil dalam laci nakas sebelah kasur. Oh, bagus. Matanya bengkak dan sangat merah. Hidung dan wajahnya juga sama-sama merah.

Ia berdeham, "Aaa, tes?"

Oh, dan pita suaranya juga tidak membantu sama sekali. Suaranya serak, tenggorokannya sakit dan kering. Kesimpulannya, kondisinya sangat buruk.

Akhirnya Sakura memutuskan untuk bangkit dari kasur terlebih dahulu. Sepertinya membasahi kerongkongannya dengan likuid bening adalah keputusan paling bijak untuk saat ini. Ia melangkahkan kakinya ke pintu kamar ruang pribadi mereka.

Cklek.

Pergerakannya kalah cepat dengan sosok di balik pintu. Tanpa Sakura sadari, Uchiha Sasuke sudah sampai ke rumah dan membuka pintu kamar mereka.

Begitu pintu terbuka, onyx-nya bersirobok langsung dengan wajah Sakura yang kondisinya kacau.

Oh, tidak.

Adakah yang bisa membantunya untuk menciptakan sebuah alasan dengan kilat?

.

.

.

.

.

tbc

.

12/09/2020

.


a/n: Hee ending-nya ngga cliffhanger eheheh. Lagi-lagi, salah satu chapter yang sulit untuk ditulis. Sakura nangis, Mikoto nangis, Mebuki nangis, Fugaku nangis, aku juga TT_TT /lah. Gak pernah bosen kubilang, semoga feel-nya kerasa dan sampai, ya x)

Dan—hai! Apa kabar semuanyaa? Semoga sehat-sehat selalu di manapun berada, ya. Makasih buat yang udah nanyain fiksi ini ... well, Kemaren-kemaren aku lagi super sibuk—mulai dari rotasi, ujian dan tumbang yang berkelanjutan awkwk.

Untuk yang udah mampir di chapter kemarin dan chapter ini juga, terima kasih banyak, ya! Maaf belum bisa dibales satu-satuu. Tapi kubaca dan mungkin akan kubales di next chapter ;-;

Sekali lagi makasih dann stay safe and healthy, everyone!