BSDWritober15
Prompt #15 (Cold)
Hatred is Another Form of Love
Bungou Stray Dogs belongs to Kafka Asagiri and Sango Harukawa
294 word
.
.
.
"ACHOO!"
Chuuya bersin, sesaat kemudian ia mengusap-usap hidung sembari mengeluarkan sumpah serapah dari bibirnya, mengutuk betapa dinginnya malam ini. Ralat, badai malam ini. Dazai yang hampir tertidur kembali terjaga ketika mendengar bersin Chuuya. Pemuda itu mengerling sekilas pada rekannya yang berusaha menghangatkan tubuh.
Badai di luar masih mengamuk. Dalam gedung tua tempat mereka terjebak, jendelanya nyaris hancur semua sehingga angin lebih mudah masuk serta membawa percikan air hujan. Sesekali petir menyambar langit, menciptakan bilasan cahaya yang kemudian hilang dalam sepersekian detik. Suara amukan badai tak menunjukkan tanda akan reda dalam waktu singkat.
"Berhentilah mengeluh. Badainya juga tidak akan berhenti," ujar Dazai.
Ucapannya lantas membuat Chuuya mendelik.
"Ini semua gara-gara kau, sialan! Kalau saja kau tidak menenggelamkan diri di sungai sebelum misi sehingga kita jadi terlambat dan mungkin semuanya selesai sebelum petang!" cecar Chuuya. Ia kembali meringis ketika rasa dingin kembali memeluknya. Dazai membuang muka dengan cuek.
"Aku benci pengandaian dan juga kau."
"Apa aku terlihat suka denganmu?" balas Chuuya sarkastik.
Perdebatan itu berakhir. Chuuya dan Dazai sama-sama bersandar di pilar dingin yang menopang bangunan. Dazai menguap sekali sebelum menoleh ke samping. Ia menemukan Chuuya yang sudah terlelap meski berjengit kedinginan beberapa kali. Pemuda itu menghela napas. Jelas sekali si pendek itu akan kedinginan. Dia hanya mengenakan kaos putih dan rider suit yang pas di tubuhnya.
Dazai menegakkan punggung dan melepaskan mantelnya. Kain hitam tebal itu ia letakkan di tubuh Chuuya hingga sebatas leher. Karena pemuda itu lebih pendek darinya, Dazai sedikit terkekeh melihat mantelnya hampir mencapai ujung sepatu Chuuya. Setelah itu, sang eksekutif muda merebahkan punggung di pilar. Sedikit lebih dingin, tapi tidak cukup untuk membuatnya terusik.
Dazai terlelap tak lama kemudian dengan kepala yang bertengger di atas kepala Chuuya. Gemuruh badai dan beton dingin tak menjadi pengusik tidur lelap keduanya.
