Hai! Ini chapter 15 ya! Buat yang kelewatan, klik "PREVIOUS" dulu untuk baca chapter 14 ^^ aku double update "14" dan "15"

Enjoy!

Sorry for typo-


The 2nd Meeting

Chapter 15

.

.

"Baek, tolong jangan pergi ke manapun…"

"Bukankah kita sudah sepakat? Aku milikmu, Chanyeol-ah… dan kau milikku. Jika kau milikku, aku tidak mengizinkan siapapun memisahkan kita. Mungkin semua milikmu sudah dirampas olehnya atau akan selalu dirampas… tapi, tidak ada yang bisa dia rampas dariku. Kau sudah merampasku seluruhnya, jadi aku tetap milikmu selamanya."

..

..

'Padahal aku sudah mengatakan itu pada Chanyeol. Apa yang sudah aku lakukan? Meski dia tidak bereaksi apapun, tapi… sudah jelas aku menyakitinya…' Baekhyun terus menyalahkan dirinya selama perjalanan menuju butik.

Ia turun dari taksi dengan cepat dan masuk ke butik. "Oh, kau di sini, Sehun-ssi? Apa Luhan di dalam?" tanya Baekhyun saat melihat Sehun ada di butiknya.

Pria itu mengangguk, "baru saja masuk."

"Gomawoyo." Dengan cepat Baekhyun menuju kantor Luhan. Setelah sampai, ia melihat sahabatnya itu sedang bersandar di kursinya sambil memejamkan mata.

"Lu…"

Luhan membuka matanya dan terkejut melihat Baekhyun yang sudah berderai air mata. Ia segera bangkit dari kursinya. "Baek! Apa yang terjadi?!" pikiran keruh Luhan meluap begitu saja saat melihat sahabatnya itu mendatanginya dengan kacau.

"Hiks… Lu…" Baekhyun memeluk Luhan dengan tubuh gemetarnya.

Luhan menepuk punggung Baekhyun dengan lembut, "Baek… gwaenchanha… kemari." Luhan menuntun Baekhyun agar duduk di sofa. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Luhan sambil mengusap lembut rambut Baekhyun.

"Hiks… Lu… aku… aku sudah menyakiti… hiks… aku menyakiti Chanyeol."

"Baek…" Luhan mengeratkan pelukkannya pada Baekhyun. Ia tidak tahu apa yang Baekhyun maksudkan, sepertinya ia harus menunggu Baekhyun tenang terlebih dahulu.

"Luhan!"

Kyungsoo tiba-tiba masuk dengan napas yang terengah. Wanita yang baru datang itu segera menghampiri Luhan dan Baekhyun.

"Kenapa kau di sini, Kyung?" tanya Luhan.

"Baekhyun menghubungiku…" Jawabnya, "Baek, kau baik-baik saja? Ada apa?" tanya Kyungsoo sambil menggenggam tangan yang begitu dingin.

Baekhyun mengangkat kepalanya, wajahnya memerah dan dipenuhi lelehan air matanya. Luhan mengusap air mata Baekhyun dengan lembut. "Tenangkan dirimu…" ucap Luhan.

Baekhyun masih terlihat sesenggukkan, keadaan ruangan begitu hening hingga mereka bisa mendengar napas Baekhyun yang terputus-putus. Luhan mengambil sebotol air mineral dan memberikannya pada Baekhyun. "Minum dulu…"

Setelah meminumnya, Baekhyun terlihat lebih tenang meski air matanya lagi-lagi mengalir tanpa diminta. Baekhyun mengusap air matanya, "a-aku sudah melakukan kesalahan…" ucap Baekhyun susah payah.

"Wae? Ada apa?" tanya Kyungsoo tidak sabar.

"Padahal aku sudah berjanji pada Chanyeol agar terus bersamanya… tapi aku menghianatinya." Adu Baekhyun.

"Apa maksudmu dengan menghianati, Baek?" tanya Luhan masih tidak mengerti.

Baekhyun menatap kedaua sahabatnya lalu mulai menceritakan kejadian tadi dengan air mata yang berderai.

"Park Chanyeol itu! Bisa-bisanya bersikap begitu padahal ia tidak tahu apa-apa!" geram Kyungsoo.

"Kyung, itu bukan salahnya. Itu salahku…" ucap Baekhyun.

Kyungsoo menghela napasnya, "tidak Baek, itu salahnya. Aku pikir ia sudah cukup dewasa untuk tidak menilai secara sepihak. Apa-apaan sikapnya?" kesalnya.

"Kyungii… jangan begitu–" ucapan Luhan langsung dipotong oleh Kyungsoo.

"–wae?! Kau mau membela pria itu juga?"

"Ani, bukan begitu Kyung. Kita tidak tahu mengapa Chanyeol-ssi bersikap begitu. Kau juga Baek, jangan terlalu menyalahkan dirimu. Bagaimana jika bicarakan masalah ini? Bukankah kalian yang memberitahuku agar menyelesaikan masalah dengan membicarakannya?" Ucapan Luhan tidak hanya membuat Baekhyun dan Kyungsoo tertegun, tapi itu juga cukup membuatnya merasa munafik pada diri sendiri.

"Benar… setidaknya kau tenangkan diri terlebih dahulu. Setelah itu bicarakan pada Chanyeol-ssi." Ucap Kyungsoo akhirnya.

Luhan memegang kedua sisi wajah Baekhyun, "Kyungi-ya… kenapa wajah malaikat kita satu ini jelek sekali?" ucapan Luhan membuat Baekhyun cemberut.

Kyungsoo mengangguk, "benar… aigoo merah sekali seperti udang rebus."

"Ya!" sungut Baekhyun.

Luhan mengangkat wajah Baekhyun agar menatapnya. "Kau mengataka ini padaku sebelumnya…" Luhan tersenyum, "Baekki… fighting!"

"Kalian pasti akan baik-baik saja," Kyungsoo meyakinkan. "Lagipula Baekki-ku tidak mungkin berselingkuh! Dasar Park bodoh itu!"

Luhan yang tadinya ingin memarahi Kyungsoo malah tertawa karena orang seperti Chanyeol disebut bodoh oleh sahabatnya. Baekhyun mau tidak mau tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya, "gomawo… maaf membuat kalian terkejut."

"Akhirnya! Kau lebih cantik jika tersenyum!" kekeh Luhan.

"Sekedar info, aku memang cantik, bahkan saat tidak tersenyum." Sungut Baekhyun. Sontak Luhan dan Kyungsoo tertawa mendengarnya. Sepertinya Baekhyun sudah agak tenang.

..

..

Satu jam berlalu sejak itu, Kyungsoo dan Baekhyun juga baru saja sampai dari membeli makanan. "Lu, Sehun-ssi masih sini?" tanya Baekhyun.

Luhan mengangkat kepalanya dari meja, "ne?"

"Sehun-ssi, aku melihatnya masih duduk di butik. Bahkan penampilannya masih sama sewaktu aku datang sebelumnya."

Kenapa Sehun masih di sini? Pikir Luhan. Buaknkah ia tadi sudah menyuruh Sehun untuk kembali. Luhan segera bangkit dari kursinya lalu keluar dengan buru-buru. "Sisakan saja makanannya untukku."

Brak!

Baekhyun dan Kyungsoo saling pandang melihat Luhan yang bertingkah aneh. "Apa mereka ada masalah?" tanya Kyungsoo.

Baekhyun mengedikkan kedua bahunya, "jangan mengganggu mereka, Kyungi-ya."

"Siapa yang mau mengganggu? Kalau ada masalah sepertinya mereka bisa mengatasinya." Ucap Kyungsoo sambil mengeluarkan makanan dari plastiknya.

Baekhyun menatap Kyungsoo dengan penasaran. "Kyungi-ya… kau tidak lagi menyalahkan Sehun? Kau merestui mereka?"

Kyungsoo menoleh pada Baekhyun dengan terkejut, "a-apa maksudmu… aku tidak pernah melarang mereka."

Baekhyun mengangguk-angguk mengerti, "ah, apa terjadi sesuatu yang baik? Dengan Jongin-ssi?"

"Jangan mengarang!" balas Kyungsoo lalu memulai memakan kue berasnya.

Baekhyun tersenyum, apakah kisah mereka benar-benar akan berakhir dengan para pria yang mereka temui saat liburan kemarin? Mengingat itu, Baekhyun bertekad untuk memaksa Chanyeol mendengar penjelasannya. Sepertinya nanti malam lebih baik.

..

..

Luhan masuk ke butik dan menemukan Sehun yang masih di sana. Pria itu terlihat tidak melakukan apapun, matanya memandang lantai dengan kosong. Luhan segera menghampiri Sehun. "Apa yang masih kau lakukan di sini?" tanyanya.

Sehun mengangkat kepalanya, "menunggumu."

Luhan dibuat terkejut, "me-menungguku?"

Sehun mengangguk, ia berdiri, "apa kau masih butuh waktu sendiri? Aku akan menunggumu."

Luhan kehilangan kata-katanya. Sehun benar-benar membuatnya hampir luluh. Langsung saja Luhan menarik tangan Sehun dan membawanya ke tempat sepi sebelum para karyawannya bergosip.

Setelah sampai, Luhan menarik napasnya perlahan sebelum berbicara.

"Mianhae/mianhae."

Suara Luhan dan Sehun secara bersamaan keluar dan membentuk melodi yang menyadarkan hati mereka.

Luhan tersenyum. "Maaf, seharusnya aku tak memaksamu untuk menceritakannya jika kau belum mau–"

"–ani, aku yang minta maaf karena tidak menjelaskannya padamu. Sebenarnya situasi ini menjadi rumit. Aku tidak tahu harus bagaimana memberitahumu… kau mau mendengarnya?"

Luhan menelan salivanya dengan susah payah, sepertinya ini bukan berita baik, pikirnya. Lalu ia mengangguk.

"Setelah seminggu sesuai perjanjian, aku melakukan wawancara dengan wartawan. Rencananya sekalian akan mengumumkan berakhirnya hubungan kami, tapi wanita itu membuat ulah akan membocorkan berita palsu itu…"

"Sebagai ganti itu, apa yang dia minta?" tanya Luhan.

"Hubungan itu menjadi bukan kebohongan…"

Saat itu juga, Luhan seperti terkena terpaan badai. "…maksudmu… lalu, kau menyetujuinya?"

Sehun menghela napasnya, "aku ingin menolaknya–"

"Tapi kau tidak bisa?" tanya Luhan lagi, tangannya terkepal erat.

Sehun mengangguk, "perusahaan tidak akan bertahan tanpa investasi dari Tuan Bae karena kami akan meresmikan gedung baru–"

"–lalu untuk apa kau masih di sini, Oh Sehun? Bukankah kau sudah memilih wanita itu? Pergilah, aku tidak akan berhubungan denganmu lagi–"

"–Luhan! Bukan itu maksudku!"

"LALU APA?!"

"Aku bisa membatalkannya jika aku sudah memiliki pasangan. Keluarga Bae berencana mendatangi keluargaku untuk perjodohan ini. Jadi Luhan…" Sehun meraih tangan Luhan dan menggenggamnya "…aku mohon bantu aku. Aku mencintaimu Lu, aku hanya ingin bersamamu. Kau tahu, para petinggi perusahaan tidak menerima kegoyahan hanya karena masalah pribadi."

Luhan menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca. Ternyata Sehun masih belum berubah, perusahaannya adalah prioritas utamanya. Lalu, jika tidak ada yang bisa Sehun lakukan untuk membatalkan perjodohan itu, apa dirinya akan dicampakkan? Pikir Luhan.

"Luhan…"

Luhan menghela napasnya, "aku akan membantumu."

Senyum Sehun mengembang, pria itu menarik Luhan ke dalam pelukannya. "Terima kasih Lu! Aku akan selalu meminta maaf padamu karena membuatmu melalui ini semua. Maafkan aku…"

Sehun memegang kedua pundak Luhan, "kalau begitu, dua hari lagi akan diadakan pesta perusahaan. Maukah kau datang bersamaku?"

Luhan sedikit terkejut dengan permintaan Sehun, tapi ia tetap mengangguk. "Hm, akan aku lakukan." Jawabnya. Saat ini Luhan tidak tahu lagi dengan perasaannya. Ia merasa kecewa, tapi juga tidak sanggup untuk menjauh dari Sehun. Ia tidak mau melihat pria yang dicintainya kesulitan. Mungkin ia harus menahannya. 'Ini bukan apa-apa, kau masih bisa bertahan, Luhan!' gumamnya menyemangati diri sendiri.

.

.

Chanyeol kembali ke rumahnya dalam keadaan cukup kacau. Ia tidak berniat mabuk, tapi ternyata ia mabuk juga sampai harus diantar oleh Sungjae yang tidak bisa minum alkohol.

"Ennghh…"

"Ugh!" Sungjae menjatuhkan Chanyeol begitu saja ke sofa. "Hah… kau ini kalau sudah banyak pikiran pasti menyusahkanku." Kekehnya.

"Baekhyun-ah…"

Rancauan Chanyeol membuat Sungjae menoleh pada Chanyeol. "Heol… jadi ia punya kekasih? Tapi kenapa dia malah memanggil nama kekasihnya? Apa mereka bertengkar?"

"Baekhyun-ah…"

"Aw!" Tiba-tiba saja Chanyeol menarik Sungjae ke pelukannya. "Baek… aku merindukanmu..."

"Oh astaga Park Chanyeol! AKU BUKAN KEKASIHMU, ASTAGA!" teriak Sungjae berusaha melepaskan diri dari Chanyeol.

"…Baek… jangan pergi… jangan pergi padanya…" rancauan Chanyeol membuat Sungjae berhenti memberontak.

"Pergi padanya? Jangan-jangan…" Sungjae mencoba mencerna kejadian siang tadi. Wanita yang bersama Taehyung, lalu wanita itu juga menghampiri Chanyeol. Chanyeol yang terlihat tidak peduli, lalu uring-uringan hingga mabuk. Sungjae membulatkan matanya "astaga, jangan bilang…"

BUK!

Suara benda menghantam lantai membuat Sungjae menolehkan kepalanya. Matanya membulat saat melihat siapa yang ada di sana. Bingo! Wanita yang tadi siang! Wanita itu terlihat terkejut dengan mata yang juga membulat. "Hm, Nona– maksudku, Baekhyun-ssi? Maaf, jangan salah paham. Aku masih normal… ini tidak seperti yang kau pikir–"

"Chanyeol-ah! A-ada apa dengannya?!" tanya Baekhyun panik sambil berlari menghampiri kedua pria itu.

"Dia hanya mabuk, tidak perlu sekhawatir itu. Maaf… bisa tolong aku, Baekhyun-ssi?" tanya Sungjae.

Baekhyun mengangguk, ia pun membantu Sungjae agar terlepas dari pelukan Chanyeol. Setelah berhasil memisahkan kedua pria itu dengan susah payah, Baekhyun bergegas ke kamar Chanyeol dan keluar dengan membawa sbeuah selimut. Sungjae hanya diam menyaksikan wanita yang ia tebak sebagai kekasih Chanyeol itu menyelimuti si pria mabuk.

"Chogiyo… apa kau kekasih Chanyeol?" tanya Sungjae to the point.

Baekhyun diam sejenak untuk memikirkan jawabannya. Apa tidak masalah memberitahu pria yang baru ia temui ini? Juga, pria ini melihat kejadian siang tadi. Bagaimana tanggapannya jika mengatakan bahwa Baekhyun memang kekasih Chanyeol?

"Ah, mianhaeyo sepertinya aku tidak sopan. Perkenalkan, Yook Sungjae imnida. Aku adalah teman satu angkatan SMA Chanyeol dan… Taehyung."

Bakehyun cukup terkejut mendengarnya, apa berarti pria ini mengetahui prihal itu? Pikir Baekhyun. "Byun Baekhyun imnida…" ucap Baekhyun. "…ne, aku kekasihnya."

Sungjae terlihat menghela napas lega, "sudah kuduga. Apa kau tahu mengenai masalah Chanyeol dan Taehyung?"

Baekhyun mengangguk, "aku tahu…" lalu ia menunduk, "…aku tahu tapi masih tetap membiarkan hal ini terjadi." Gumamnya pelan, tapi Sungjae masih bisa mendengarnya.

"Baekhyun-ssi… aku tidak tahu kenapa Chanyeol bersikap seolah tak mengenalmu siang tadi. Tapi percayalah, Chanyeol benar-benar mencintaimu."

"Aku tahu…" ucap Baekhyun, suaranya terdengar bergetar.

Sungjae menoleh pada Chanyeol, ia tersenyum kecil. "Bahkan ia terus menyebut namamu."

"Baekhyun-ah… kajima…"

Chanyeol kembali merancau, Baekhyun memejamkan matanya, tangannya tak sengaja terkepal. Suara lemah itu bagaikan pisau yang menyayat hatinya. Ia sudah melakukan kesalahan.

"Kalau begitu aku harus kembali. Aku serahkan Chanyeol padamu." Setelah itu Sungjae pergi tanpa mendengar jawaban Baekhyun.

Setelah kepergian Sungjae, Baekhyun terduduk di lantai. Air matanya yang berusaha ia tahan mengalir begitu saja. "Mianhae… Chanyeol-ahmianhae…" lirihnya.

"Baek…"

Suara Chanyeol kembali terdengar, Baekhyun mengusap cepat air matanya lalu menghampiri kekasihnya itu. "Chan…"

Chanyeol membuka matanya, tatapannya terlihat begitu menyedihkan. "Baek… apa itu kau?"

Baekhyun mengangguk, "hm… ini aku–"

Chanyeol tertawa tiba-tiba, "–tapi itu tidak mungkin. Baekhyun sudah memilih si sialan itu dan tidak kembali padaku. Nyatanya mereka sama saja."

Baekhyun merasakan lagi-lagi dadanya berdenyut sakit. "Chan…" ia meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya.

Chanyeol menyembunyikan matanya menggunakan lengan. "Kau kejam, Baek… jika sudah memilihnya, setidaknya kau jangan muncul dalam mimpiku."

Baekhyun melihat air mata mengalir ke sisi wajah Chanyeol. Hal itu semakin membuatnya merasa bersalah. "Chanyeol-ah, mianhae…"

Langit yang memang sudah menggelap saat Baekhyun datang, kini semakin pekat. Waktu terus berjalan, semakin lama, malam semakin larut. Baekhyun sendiri sampai tertidur dengan duduk di lantai dan sofa sebagai bantalannya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Chanyeol. Ia tertidur setelah lelah menangis.

Tak lama, tubuh Chanyeol bergerak-gerak. Pria itu sedikit menggumam tak jelas sebelum akhirnya membuka mata. Ia merasakan kepalanya berdenyut dan pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Ia menghela napas, langit-langit rumahnya tidak begitu terlihat jelas karena tidak adanya cahaya.

Saat hendak bangun, ia merasakan tangannya tertahan. Seketika itu juga Chanyeol terkejut mendapati Baekhyun di sana. Meski dengan cahaya yang remang, ia masih bisa mengenali sosok wanita itu. Chanyeol melihat tangannya yang bertautan dengan tangan mungil Baekhyun. 'Hangat…' gumamnya, tapi tidak berlangsung lama ia bisa menikmati kehangatan itu karena menyadari bahwa suhu tubuh Baekhyun tidak normal.

Segera saja ia mengecek suhu tubuh Baekhyun, "astaga... dia demam." Paniknya. Setelah itu, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan membawanya ke tempat yang lebih hangat. Setelah menyelimutinya, Chanyeol keluar dari kamarnya untuk mengambil air kompresan.

Tengah malam, Chanyeol berakhir dengan mengurus Baekhyun yang demam. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Baekhyun. "Apa kau menangis lama sekali?" tanya Chanyeol pelan, ia menemukan bekas air mata di wajah Baekhyun. "Apa kau tidak bisa tetap denganku saja, Baek?" Chanyeol menundukkan kepalanya, ia meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. "Aku tidak mau kehilanganmu, tapi…"

'Jika hal yang sama terulang, aku mungkin tidak akan sanggup…' lanjut Chanyeol dalam hati. Kini kepalanya dipenuhi kenangannya bersama Baekhyun. Meski hubungan mereka belum berlangsung lama, tapi perasaan yang ia berikan pada Baekhyun tidak sama dengan lamanya hubungan mereka. Perasaannya lebih dari itu. Baekhyun adalah sosok yang lain dari yang pernah ada.

Pikirannya bisa saja mengatakan ia tidak peduli jika Baekhyun sampai harus berpaling darinya, tapi sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana harus hidup setelah itu. Ia ingin mencoba menahan Baekhyun di sisinya, tetapi rasa takut ditolak itu adalah yang tidak bisa kendalikan. Ia sudah cukup trauma untuk itu.

"Aku adalah milikmu, Chan. Jika ada yang menginginkaku, seharusnya kau tidak memberikannya, begitu kan?"

Kalimat itu tiba-tiba melintas di pikirannya. Ucapan Baekhyun bagaikan sebuah cahaya di dunia gelapnya saat ini. Mungkin ini saatnya ia untuk tidak mengalah. Chanyeol menatap Baekhyun yang tertidur lelap. "Kau milikku, tentu saja aku tidak akan memberikanmu pada siapapun. Begitu kan, Baek?" Chanyeol mengangkat tangan Baekhyun yang masih terasa hangat lalu mengecupnya lembut. Setelah itu ia mengusap lembut kepala Baekhyun, "cepat sembuh…"

.

.

Pagi hari datang lebih cepat, Baekhyun yang merasakan gerah mulai menggeliat dibalik selimutnya. Ia membuka matanya perlahan, bias cahaya mulai memasuki retinanya. Setelah berkedip beberapa kali, akhirnya ia bisa melihat lebih jelas. 'Aku di mana?' pikirnya. Ia terduduk dengan cepat saat mengenali kamar siapa yang ia tempati. Tanpa tahu kondisinya yang baru pulih dari demam, Baekhyun menyibak selimutnya dan turun dari ranjang dengan cepat. Benar saja, tubuhnya belum siap untuk berdiri, alhasil kepalanya sedikit berputar dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

"Baek!"

Chanyeol yang kebetulan baru saja masuk untuk mengecek keadaan Baekhyun dengan sigap menahan wanita itu agar tak terjatuh. "Kenapa sudah bangun? Kau baik-baik saja?"

Baekhyun mendongak, mungkin ia terlalu banyak berharap semalam. Ia mendapati Chanyeol berbicara seperti biasanya, bahkan pria itu terlihat mengkhawatirkannya. Atau… ia masih bermimpi?

"Sayang, gwaenchanha?"

Baekhyun semakin tidak mempercayai pendengarannya. Chanyeol memanggilnya begitu? Tidak salahkah? Tiba-tiba Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Mata Baekhyun membulat, hidung mereka saling bersentuhan dengan bibir mereka yang hampir menyapa satu sama lain. Ia sekuat tenaga menahan napasnya.

Chanyeol bergumam, seperti sedang berpikir. "Suhu tubuhmu sudah normal, apa masih ada yang sakit?" tanya pria itu lalu menarik kepalanya mundur. "Sayang?"

"Oh…" Baekhyun akhirnya dapat kembali bernapas. Ia kebingungan untuk menanggapi Chanyeol. "Chan…"

"Hm? Wae?" Chanyeol langsung menjawab dalam persekian detik.

"Mi-mianhae…" hening tercipta diantara mereka, "…maaf, seharusnya kemarin aku tidak setuju untuk bertemu dengannya. Seharusnya aku memberitahumu jika dia menghubungiku. Seharusnya aku tidak menyembunyikannya darimu. Atau seharusnya aku–" Chanyeol membungkam bibir Bakhyun dengan bibirnya hingga wanita itu tidak bisa lagi berbicara.

"Mmmh…"

Ciuman singkat itu entah bagaimana bisa menyalurkan perasaan mereka masing-masing. Rasa menyesal dan tidak ingin kehilangan satu sama lain begitu terasa dari sentuhan mereka.

"Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Nado mian… aku bersikap seperti tidak mengenalmu. Maafkan aku." Ucap Chanyeol.

Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca, mengingat betapa dinginnya Chanyeol kemarin mmebuatnya cukup takut. Baekhyun menggeleng, "pasti kau punya alasannya, kan?"

Chanyeol duduk di tepi ranjang lalu membawa Baekhyun ke pangkuannya. Tangan mereka saling menggenggam. "Mereka teman-temanku… aku tidak bisa memberitahu prihal hubungan kita. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak tahu kapan mereka akan merebutmu." Kilatan di mata Chanyeol terlihat begitu terluka.

"Maksudmu?"

"Taehyung dulunya juga temanku. Aku jadi tidak bisa mempercayai temanku. Aku harus selalu menyembunyikan milikku dari mereka. Rasanya mereka bisa merenggutnya dariku."

Baekhyun meletakkan tangannya di kepala Chanyeol lalu mengusapnya lembut. "Aku tahu ketakutanmu? Tapi tidak semua temanmu begitu, seperti Sungjae-ssi?"

Chanyeol menatap terkejut pada Baekhyun, "bagaimana kau tahu dia?" rasa takut mulai menjalarinya.

Baekhyun tertawa kecil, "tenanglah, Chan. Tadi malam, Sungjae-ssi mengantarmu ke rumah. Kebetulan aku juga ingin menemuimu. Sungjae-ssi sangat peduli padamu, ia juga menceritakan tentangmu."

"Hm? Apa itu?" tanya Chanyeol penasaran.

Baekhyun bergumam, "rahasia."

"Mwo? Katakan." Pinta Chanyeol.

"Shiro…"

"Baek…" tatapan Chanyeol berubah galak, "…katakan atau–"

"–atau apa? Aku sudah siap."

"Siap?" heran Chanyeol.

Baekhyun mengangguk, "mungkin saja kau akan melakukannya karena perbuatanku kemarin. Apa aku salah?"

Tangan Chanyeol yang bebas terangkat, ia menyelipkan rambut Baekhyun ke belakang telinga. "Inilah kenapa aku tidak bisa melepaskanmu. Kau terlalu mengerti diriku, Baek." Ucapnya sendu.

Baekhyun meletakkan telunjuknya pada bibir Chanyeol, ia menggeleng. "Berhenti mengatakan melepaskanku, merelakanku, atau apapun itu. Aku tidak mau, Pak Chanyeol. Aku tidak akan pergi ke manapun! Jangan paksa aku untuk meninggalkanmu."

Chanyeol tersenyum tipis, awan mendung di matanya terihat memudar. "Saranghae." Ucapnya sambil menatap dalam pada Baekhyun.

Baekhyun membulatkan matanya lalu menundukkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang mungkin saja memerah karena malu. "Kenapa tiba-tiba mengatakan itu, kau tidak adil."

"Wae? wae?" heran Chanyeol.

Baekhyun mengangkat wajahnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan kekasihnya. "Uhh…" Baekhyun kalah, jantungnya sudah siap untuk melompat keluar. Ia melingkarkan satu tangannya ke leher Chanyeol lalu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher pria itu. "…neomu neomu saranghae, Chan."

Chanyeol tertawa, rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat tingkah imut kekasihnya itu. Akhirnya, segala beban di dadanya terangkat. Ia bisa bernapas dengan lega sekarang. "Terima kasih karena sudah bersamaku."

Cukup lama keduanya dalam posisi berpelukan. Masing-masing dari mereka terlalu nyaman mendengarkan detak jantung mereka yang bersahutan dengan riuh.

"Sudah siang, kau tidak ke butik?" tanya Chanyeol saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Bukannya menjawab, Baekhyun mengangkat wajahnya lalu menempatkannya tepat di depan wajah Chanyeol. Mata Chanyeol membulat, "a-apa yang kau lakukan tiba-tiba?"

Baekhyun tersenyum penuh rahasia, "sepertinya selama ini hanya aku yang jadi milikmu, jadi kau mudah sekali melepaskanku…" Chanyeol mengerutkan dahinya mendengar ucapan Baekhyun. "…sekarang aku perlu membuatmu menjadi milikku agar kau tidak semena-mena." Tiba-tiba mata Baekhyun berkilat penuh semangat.

"Mwo?" dahi Chanyeol semakin mengerut.

"Jadi Chan…" Baekhyun mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Chanyeol hingga hidung mereka kini sudah saling menyapa. Chanyeol hanya bisa mematung di tempatnya, ia masih tidak bisa menerka apa yang akan kekasihnya itu lakukan. Bukan, bukannya tidak bisa menerka, tapi ia masih tidak yakin apakah kekasihnya yang polos itu akan melakukan–

CUP

Baekhyun dengan cepat mengecup bibir Chanyeol lalu bangkit dari pangkuan kekasihnya. "Neon, nekkoya!" serunya sambil terkikik geli.

Chanyeol masih mematung di tempatnya. Dalam hati ia mengumpat karena pikirannya terlalu berkelana jauh. Kekasihnya itu terlalu menggemaskan, sial! "Byun Baekhyun…" panggil Chanyeol dengan suara beratnya.

"Wae?"

"Kemari!" Perintah Chanyeol.

"Shiroo~" Baekhyun menjulurkan lidahnya lalu berlari ke luar kamar.

Chanyeol membenamkan wajahnya di telapak tangannya, ia tersenyum dengan wajah memerah. "Kenapa dia menggemaskan sekali!"

.

.

to be continued-

.

.


Jadi... beginilah hehe. Aku lagi proses melanjutkan cerita ini, jadi mohon dukungannya ^^ aku akan kembali Kamis depan, atau- yah kita tunggu saja yaa! Hihi

..

Balasan review chapter 13

#nanima999: aamiin hahaha. Joonmyun? Cowok dong ehehe

#chan22: trio tampan itu masih berlomba kok buat mendapatkan hati wanitanya ^^ kkkk

#xxizy: aku penasaran sama ending mereka malah - maklum kan belum kelar, hahaha

..

Oke, terima kasih buat yang sudah review ^^ makasi juga buat yang masih setia menunggu. Saranghae! Tunggu lanjutannya ya!

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!