"Apa?!"

Ino memandang Hinata di depannya dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu segera saja terduduk di atas kursi di dekat sana, memandang sekitar dengan pandangan tak karuan campur panik.

"Jangan sampai Sakura mengetahuinya…" ujar Ino pelan, memandang Sakura yang sekarang sedang mencicipi berbagai makanan dalam porsi kecil. "Sensei tidak ada bilang apa-apa lagi setelahnya? Apa kau sudah menanyakan tanggal pastinya?"

"Tidak. Hatake-sensei hanya sempat mengatakan bahwa ia hanya bisa datang tiga hari sebelum pernikahan."

"Tapi dia sudah berjanji untuk datang setidaknya dua minggu sebelumnya!"

"Aku tahu." Ujar Hinata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak tahu harus berbuat apa.

Sakura datang ke arah mereka dan dua gadis itu segera saja menghentikan pembicaraan mereka. Ia mengulurkan dua piring ke arah Ino dan Hinata, di atasnya ada hamburger dan hotdog berukuran kecil.

"Mana yang lebih enak?" tanya Sakura sambil tersenyum.

"Uh, hotdog!"

"Tentu saja hamburger…"

"Baiklah, aku akan memilih keduanya." Ujar Sakura pada orang di sebelahnya, yang disambut orang tersebut dengan anggukan dan coretan pada buku kecil yang dipegangnya. "Kurasa untuk makanan sudah semua… 'kan?"

Hari ini Ino dan Hinata menepati janji mereka untuk menemani Sakura mengurus pernak-pernik pernikahan bersama wedding organizer-nya. Saat Sakura sedang mencoba makanan tadi, tiba-tiba saja Kakashi menghubungi Hinata dan mengatakan bahwa ia paling lambat bisa kembali ke Shinjuku tiga hari sebelum pernikahan.

Sakura pasti akan menggila.

Mereka tahu seberapa pusing Sakura pada laporan internship dan juga ujian akhir yang akan dihadapi gadis itu seminggu lagi—dua minggu sebelum pernikahan—dan tentu saja mereka tidak ingin Sakura stres memikirkan kedatangan Kakashi yang tertunda. Karena itu, lewat telepati, mereka berdua memutuskan untuk tidak memberitahukan hal itu pada Sakura.

"Baiklah, Haruno-san, besok mari bertemu lagi untuk sake testing." Ujar orang itu sambil menunjukkan agenda mereka selama tiga hari ke depan pada Sakura. "Setelah itu kita akan melakukan final checking untuk semuanya—pakaian, gedung, makanan, bunga, fotografer dan videografer, tamu undangan, dekorasi, transportasi, musisi—"

"Whoa, Nanami, aku yakin kau sudah mengulanginya untuk ketiga kalinya hari ini dan Sakura tidak perlu mendengarnya lagi." Sela Ino sambil tersenyum.

Nanami menghentikan ucapannya dan balas tersenyum. "Aku mengerti. Jangan lupa, Haruno-san, aku minta susunan tempat duduk dan juga daftar tamu untuk bridal shower diserahkan padaku esok hari. Aku akan koordinasikan sisanya bersama Hyuuga-san."

"Yap!"

Mereka berpisah tujuan dan Sakura menghela nafas lelahnya.

"Demi Tuhan, gadis itu benar-benar hebat." Keluhnya, bingung antara senang atau kesal. "Tapi ia sangat intens."

"Ya, sangat sangat sangat intens."

Ino mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartment Sakura. Begitu sampai, mereka bertiga menghela nafas bersamaan melihat kondisi apartment yang berantakan—binder tebal-tebal berserakan dimana-mana, masing-masing memiliki label besar di sampul utamanya dalam berbagai kategori; bunga, tempat, makanan…

"Inilah kenapa aku tidak mau menikah." Keluh Ino tanpa sadar. Ketika menyadari Hinata memandanginya dengan tajam, gadis itu tertawa canggung. "Maksudku, tentu saja karena aku tidak bisa menikmati perasaan bebasku bersama laki-laki lain sepuasku, kau tahu? Bukan berarti kau tidak akan bisa—oh, maafkan aku."

"Tidak apa-apa. Aku terlalu lelah untuk memikirkan perkataanmu."

Sakura menumpuk binder GAUN, SAKE, FOTOGRAFER, VIDEOGRAFER, dan BULAN MADU menjadi satu. Ia terduduk di atas sofa, diikuti Ino di sebelah kiri dan Hinata di sebelah kanannya, dan ketiganya jatuh tertidur tidak lama kemudian.

.

.

"Apa?!"

"Maafkan ak—"

"Maafkan aku, sensei aku tahu betul kalau kau dulu adalah dosenku, tapi aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi." Ujar Hinata setengah marah. "Aku dan Ino sudah bosan sekali merangkai seribu alasan untuk menutupi kebohonganmu dan sekarang kau lagi-lagi mengatakan bahwa kau tidak bisa datang hari ini?"

"Seorang klien penting datang tiba-tiba sekali sepuluh menit yang lalu dan aku harus mengadakan rapat insidental agar perusahaan cabang ini tetap hidup, Hyuuga."

"Persetan dengan itu—bagaimana perasaan temanku?!"

Hinata menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya memerah karena marah, ia benar-benar tidak menyangka Kakashi akan setega ini pada Sakura, pada pernikahannya sendiri. Dengan gerakan sabar, ia menarik nafas dalam-dalam dan kembali mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.

"Maafkan aku."

"Tidak, kau benar." Kakashi berujar lemah, kentara sekali bahwa pria itu sedang sangat lelah saat ini. "Aku akan langsung pergi ke Shinjuku ketika rapat ini selesai. Bisakah kau merangkaikan kebohongan terakhir yang baik untuk Sakura?

Hinata menghela nafasnya. Ia benci menjadi pembohong.

"Baiklah…"

"Terima kasih, Hyuuga." Kata Kakashi tulus. "Aku berhutang sekali padamu."

Gadis itu keluar dari kamar mandi dan tersenyum ke arah Sakura dan Ino yang tampak menunggunya. Pada akhirnya, Sakura memutuskan untuk tidak mengadakan bridal shower besar—ia hanya mengundang Ino dan Hinata untuk menemaninya makan malam di restoran yang sebelumnya tidak pernah mereka lirik sama sekali. Hinata duduk di satu-satunya kursi kosong disana, meletakkan kembali serbet di atas pangkuannya.

"Aneh sekali… Kakashi belum ada menghubungiku sama sekali." Ujar Sakura sedih sambil menatap lobster di depannya tanpa selera. "Ia begitu sibuk sampai-sampai menolak permintaanku untuk bertemu. Aku benar-benar merindukannya, kau tahu?"

Sakura menyeruput soda dietnya tanpa menyadari bahwa kedua teman di depannya saling bertukar pandang dengan gelisah. Pada akhirnya mereka berhasil melupakan topik tersebut sepuluh menit kemudian, dan malam menyenangkan tersebut dihabiskan dengan tiga sloki sake mahal untuk masing-masing gadis yang ada disana.

Mereka keluar dari restoran tersebut dengan kepala sedikit berkunang beberapa jam kemudian, setelah sibuk mengulas balik kisah hidup mereka dari awal perkuliahan hingga sekarang. Sakura merupakan satu-satunya orang yang masih bisa duduk tegak diatas mobil—berbeda dengan Hinata dan Ino yang langsung saja terduduk lemas sambil meracau tidak karuan. Dengan sekuat mungkin Sakura menahan dirinya sendiri untuk tidak mengantuk, ia menatap layar dasbor dan memundurkan mobil sambil tidak berhenti berdoa untuk tidak menabrak mobil lain.

Sakura menyetir dengan keadaan tidak terlalu sadar. Gadis itu mencari jalur paling lengang dan jalan yang paling jarang disinggahi oleh polisi. Ia mencubit dirinya berkali-kali, mengingat bahwa ada dua nyawa lain yang dibawanya sekarang, dan pada akhirnya berhasil sampai di depan gedung apartment Hinata dengan selamat.

"Hei," panggil Sakura lemah, menepuk-nepuk kaki Ino dan Hinata bergantian. "Sudah sampaiiii…"

"Ugh…"

"Turuuuuun!"

Setelah sibuk menepuki kaki teman-temannya, Ino dan Hinata pada akhirnya berhasil terbangun. Hinata dengan kesusahan memapah Ino dan tersenyum lemah ke arahnya, lalu menghilang ke dalam gedung apartment.

Mungkin karena sudah tidak ada lagi tanggung jawab selain dirinya sendiri, Sakura menyetir lebih ceroboh lagi dari sebelumnya. Berkali-kali ia hampir menabrak mobil lain dan puluhan kali ia menerima teriakan marah dari pengemudi-pengemudi lain yang hampir ia tabrak maupun gores. Sakura baru benar-benar tersadar ketika dentuman keras terdengar di depannya, disusul dengan benturan yang sukses membuat kedua matanya terbuka.

"Ugh… sialan…" umpatnya, melihat gerbang gedung apartment-nya yang sekarang penyok tertabrak. Seorang petugas keamanan datang terburu-buru ke arah Sakura, langsung saja menggelengkan kepala melihat Sakura yang mabuk berat dan setengah sadar.

"Nona… Nona, unit berapa?" tanyanya cepat.

"Tujuh…"

"Tujuh?"

"Tujuh dua tujuh…"

Sakura hanya pasrah ketika ia dipapah ke dalam gedung. Petugas tersebut kemudian meminta salah satu resepsionis yang berada di lobi utama gedung untuk membantu Sakura naik ke lantai tujuh.

"Nona bisa mengambil kunci mobilnya di resepsionis besok pagi." Ujarnya lembut, tersenyum ke arah Sakura di depan unit nomor 727.

Sakura mengangguk-angguk, tidak terlalu mempedulikan ucapan orang tersebut. Tangannya berusaha menekan tombol digital di kunci pintunya, namun otaknya sepertinya menolak untuk mengingat pin yang dibuatnya bersama Kakashi berbulan-bulan lalu. Ia mendengus ketika bunyi statis panjang terdengar untuk ketiga kalinya.

"Bagus, sekarang aku tidur disini saja…" keluhnya kesal.

Dahinya berkerurt ketika suara bip terdengar beberapa saat kemudian dan pintu apartment-nya terbuka dari dalam.

Kakashi menariknya dalam pelukan. Sakura tidak menyadarinya, namun aroma khas orang berpergian masih menguar kuat dari kemeja pria itu yang terlihat berantakan. Dirinya setengah sadar saat Kakashi menariknya masuk ke dalam apartment, tanpa membuang waktu dengan cepat menahannya di dinding lorong dan menciumnya seolah-olah mereka tidak akan bertemu esok hari.

Sakura mengalungkan kedua kakinya pada pinggang Kakashi saat pria itu dengan mudah mengangkatnya. Kakashi masih sibuk menciuminya bahkan saat mereka sudah masuk ke kamar—pria itu menurunkan Sakura di atas kasur dengan gerakan teramat lembut, berbanding terbalik dengan ciumannya.

"Kakashi…" panggil Sakura terengah, kehabisan nafas. "Aku merindukanmu—"

Perkataannya terhenti saat Kakashi kembali menutup jarak.

.

.

Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali dan berusaha untuk menyesuaikan pandangan. Ia tersentak pelan ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam dekapan seseorang. Senyuman senang terkembang dibibirnya melihat Kakashi tertidur tepat di sebelahnya—betapa ia merindukan pemandangan pagi hari seperti ini.

Dengan perahan ia menyentuh mata dan hidung pria itu.

Sempurna, gumam Sakura dalam hati.

Kakashi mengerang pelan saat menyadari ada sesuatu yang hinggap di wajahnya. Dengan sayu matanya terbuka, mendapati perempuan yang dirindukannya setengah mati beberapa bulan terakhir ini sudah menyambutnya dengan senyuman manis di pagi hari.

"Selamat pagi." Bisik Sakura.

Kakashi tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengeratkan pelukan dan mencium pucuk kepala Sakura.

"Kau mabuk berat kemarin."

"Huh? Benarkah?" tanya Sakura bingung. Ia kemudian menyadari bahwa selimut mereka menguarkan bau sake yang cukup kuat, membuatnya tertawa kecil. "Malam yang baik untuk mabuk."

"Apa kau mabuk-mabukan setiap hari saat aku tidak ada?"

"Huh, jangan menghakimiku. Kau saja baru datang sekarang."

Sakura menoleh ke arah nakas dan mendengar dering teleponnya dari dalam tas. Dengan malas ia meraih ponsel tersebut dan mengetuk layar saat nama Hinata muncul.

"Hmmm?"

"Syukurlah kau masih hidup! Kau tahu berapa puluh kali aku meneleponmu?!"

Sakura terkikik pelan dan melirik Kakashi yang memainkan rambutnya. "Maafkan aku… ada Kakashi di sebelahku."

"Apa?! Bukankah sens—tidak penting. Baiklah kalau begitu, aku hanya memastikan kau baik-baik saja…"

"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menelepon."

Sambungan terputus dan Sakura meletakkan ponselnya kembali di dalam tas. Ia memeluk Kakashi sesegera kemudian dan mendongak untuk menatap wajah pria itu.

"Lusa kita akan menikah. Lagi."

"Apa kau gugup?"

"Well, aku tidak gugup di pernikahan yang pertama…"

"Tapi sekarang kau jauh lebih menyukaiku, 'kan?"

Mereka berdua saling melempar pandangan dengan jenaka dan Sakura menjawabnya dengan sebuah anggukan bersemangat.

"Suka sekali…"

Kembalinya Kakashi benar-benar membuatnya kembali ke game A. Sakura mencoba untuk mengingat-ingat apa saja kegiatannya hari ini bersama Nanami. Berita baiknya, Nanami bersikeras agar Sakura tidak memintanya untuk melakukan apapun selain bersantai sejak seminggu sebelum pernikahan, dan ia bisa menghabiskan hari ini bermalas-malasan dengan Kakashi.

"Apa kau merindukan masakanku?" tanya Sakura pelan.

"Tentu saja…" jawab Kakashi lirih. "Tapi kau jauh lebih enak dari masakanmu."

Sakura tersenyum dan mencubit lengan Kakashi. "Berhenti merayuku seperti itu. Kau ingin makan apa untuk sarapan?"

"Tidak bisakah kita memesan makanan saja dan tidak turun dari tempat tidur seharian ini?"

"Ide yang bagus…"

Kakashi meraih ponselnnya dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian, ia kembali meletakkan ponsel dan memandang Sakura yang sedang termenung. Gadis itu tampak tidak terlalu menyadari bahwa ia sudah selesai memesan makanan.

"Apa yang kau pesan?" tanya Sakura.

"Pizza."

"Uh, aku tidak tahu apakah gaun pernikahannya akan muat besok."

.

.

Sakura tersenyum ke arah Nanami yang mengacungkan jempol ke arahnya. Resepsi pernikahannya yang sederhana ini terjadi jauh lebih indah dan menyenangkan dari ekspektasinya beberapa bulan lalu. Mereka berdua bisa mengundang semua orang yang mengeluh karena tidak diundang ke pernikahan pertama, dan yang lebih penting—dua orang penting bagi Sakura bisa datang kali ini; Ino dan Hinata.

Memiliki pernikahan yang sempurna memang mimpi Sakura sedari kecil. Kali ini, dia bisa mengenakan gaun yang dipilihnya bersama teman-teman dekatnya. Ia juga bisa menikmati makanan-makanan kesukaannya dalam hari yang sama. Dekorasi bunga merah muda dan putih yang sangat ia sukai memenuhi tempat ini—bukan lagi bunga-bunga putih pucat yang dipilihkan oleh wedding organizer dengan terburu-buru.

Dan yang terpenting, pria disampingnya adalah pria yang sempurna.

Genggaman tangan Kakashi pada tangannya mengerat tiba-tiba. Sakura menoleh, memperhatikan seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya.

Kiba.

"Selamat, Sakura." ujarnya tulus.

Sakura tersenyum tidak enak. "Terima kasih…"

Kiba balik tersenyum dan berlalu begitu saja. Kakashi tersenyum jengkel, hampir saja mengejar pria itu kalau saja Sakura tidak memandangnya dengan tajam.

"Sakura."

Sakura menoleh dan tersenyum ke arah Nanami. "Hm?"

"Sesi foto."

Mereka berdua segera berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Nanami dan berdiri bersandingan disana. Setelahnya, masing-masing orang tua mengambil posisi dan mereka tersenyum ke arah kamera dengan lebar.

"Baiklah, baiklah… pendamping pengantin wanita dan pria setelah ini. Untuk Paman dan Bibi bersiap, disusul oleh sepupu." Ujar Nanami sambil memandangi kerumunan orang di depannya. "Sakura—Sakura? Hei, Sakura! Senyummu terlalu lebar!"

Sakura tidak mempedulikan teriakan Nanami. Sampai pada saat kelompok terakhir berfoto bersama mereka, senyuman lebar Sakura masih tidak bisa dihilangkan dari wajah gadis itu. Nanami melihat sekilas foto-foto yang diambil oleh sang fotografer dan pada akhirnya kembali mengacungkan jempol beberapa menit kemudian.

Sakura menarik tangan wanita tersebut dan tersenyum.

"Kau belum berfoto bersamaku."

.

.

"Baiklah… ini untuk Sakura,"

Ino mengangkat gelas ketiganya yang berisi sparkling wine dan tersenyum ke arah Sakura dengan hidung memerah sempurna. "Karena pada akhirnya bisa mendapatkan dosen tertampan dan terseksi seantero universitas."

"Yaaaa!"

Sakura tersenyum kecut, sadar bahwa level kepercayaan diri Kakashi melonjak naik.

Gadis pirang itu duduk kembali dengan kelimpungan, disusul dengan Hinata yang mengangkat gelasnya.

"Untuk Hatake-sensei," ujar Hinata sambil tersenyum. "Dan juga untuk Sakura… karena berhasil menikah kembali."

Ini semua adalah ide Nanami. Wanita itu menyarankan agar Sakura dan Kakashi memiliki momen bersama dengan teman-teman dekat dan saudara-saudara dekat mereka. Sekarang, ruangan tersebut dipenuhi oleh orang terdekat mereka; Ino, Hinata, Asuma, Kurenai, Anko, Gaara, Sasori, Naruto, dan tiga sepupu Kakashi—Kaguya, Tobi dan Mitsuki.

Dan Nanami. Sakura bersikeras agar Nanami ikut dan bersantai sejenak.

"Bisakah kita bermain?" tanya Anko bersemangat, melirik Nanami yang duduk tidak jauh di depannya. Ketika wanita itu mengangguk, sebuah senyuman lebar muncul di wajah Anko. "Bagaimana kalau kita bermain two truths and a lie? Terutama bagi Kakashi dan Sakura, tentu saja, seberapa besar mereka mengenal satu sama lain…"

"Aku jauh lebih mengenalmu dibanding kau mengenalku, Sakura." bisik Kakashi pelan.

"Oh, ya? Kita lihat saja."

Ketika mendengar sorakan riuh rendah, Anko menoleh ke arah Sakura dan Kakashi yang duduk di barisan terdepan.

"Sakura?"

"Baiklah…" ujar Sakura sambil mencoba mencari-cari dua kejujuran dan satu kebohongan yang harus ia sampaikan. "Aku pernah hampir dipenjara saat masih berusia delapan belas tahun, aku memecahkan vas bunga milik Ibu Kakashi dan tidak ada yang mengetahuinya sampai sekarang, dan… aku sedang hamil."

Seluruh ruangan menoleh kaget. Tidak terkecuali Kakashi, yang tersedak wine-nya sendiri dan cepat-cepat mengendurkan dasinya setelah itu.

"Akan sangat menarik ketika pernyataan ketiga bukanlah suatu kebohongan." Bisik Kurenai pada Asuma di sebelahnya. "Maksudku, coba lihat wajah Kakashi."

Asuma terkikik pelan melihat wajah Kakashi yang pucat pasi.

"Aku!" Sasori mengacungkan tangan, sambil tersenyum bangga. "Kau tidak sedang hamil."

"Ugh, aku lupa bahwa aku menceritakan segalanya pada nii." Keluh Sakura, mengangkat gelasnya sambil tersenyum. "Tapi… bingo. Aku tidak sedang hamil."

Mereka semua tertawa, tidak terkecuali Kakashi yang berusaha menghilangkan kegugupannya dengan tertawa canggung. Sakura menoleh ke arah pria itu dan tersenyum puas.

"Ekspresimu benar-benar berharga." Bisiknya ke arah Kakashi.

"Sangat menarik! Apa ada yang mengambil gambar saat Kakashi tersedak tadi?" tanya Anko sambil tertawa senang. "Baiklah, Kakashi? Apa kau mau membalas Sakura dengan dua kejujuran dan satu kebohongan yang benar-benar hebat?"

Kakashi berdeham. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya angkat suara.

"Aku menikahi Sakura satu tahun lalu hanya sebagai kedok karena aku terlanjur memberitahu kedua orang tuaku bahwa aku akan menikah," ujar Kakashi, tersenyum ke arah Sakura yang memandanginya dan seluruh ruangan yang tampak terkejut mendengar hal tersebut. "Aku sudah menyukai Sakura… semenjak aku berlari dari kelas kuliahku menuju Taman Kota untuk mengantarkan teh jahe padanya…"

Seluruh orang seakan menahan nafas, mengantisipasi kata-kata Kakashi selanjutnya.

"Dan yang terakhir… Sakura adalah temanku. Teman baikku."

Sakura memperhatikan ekspresi Kakashi yang tampak begitu tenang. Pernyataan pertama tentu saja merupakan kebenaran, pernyataan kedua dan ketiga… ia tidak begitu tahu.

"Tentu saja yang pertama bohong! Mana mungkin Sakura mau menikahi Kakashi hanya karena itu…" ujar Gaara sambil tertawa, kemudian terdiam saat melihat senyum canggung Hinata dan Ino yang duduk tidak jauh darinya. "…'kan?"

Kakashi menggeleng pelan ke arah Gaara. "Tidak, itu adalah sebuah kejujuran."

"Lalu… mana yang bohong?"

Pertanyaan Sakura tersebut sanggup membuat semua orang terdiam. Kakashi memandang Sakura sekilas sambil tersenyum.

"Yang kedua." Jawabnya lembut, mengambil tangan gadis itu dalam genggaman. "Aku tidak tahu kapan aku mulai menyukaimu."

.

.

Kakashi dan Sakura pindah ke Sapparo setelahnya. Ino dan Hinata menangis tiada henti selama seminggu mendengar keputusan tersebut, namun pada akhirnya mereka ikut mengantarkan pengantin baru-tidak-baru itu ke bandara sepuluh hari kemudian. Kakashi kembali sibuk mengurusi perusahaan cabang Hokkaido, sementara Sakura mendapatkan pekerjaan menjadi guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah menengah swasta. The end.