ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Baekhyun terbangun dengan selimut melingkupi pinggang. Cahaya bulan pertama kali didapatinya menyiram permukaan. Jendela meribut, ujungnya terbentur dinding dengan alasan belum ditutup. Sedangkan korden sudah tergerus keluar dari jendela, membangunkannya yang pulas karena dingin semakin menyusup ke dalam.

Gelap pertama kali menyapa saat ia beranjak duduk. Menurunkan kaki perlahan untuk menyicipi dingin lantai. Hening, dingin dan hamparan luas kamar itu membuat Baekhyun kecil. Merasa tenggelam, sekaligus terkurung. Seperti beberapa hari terakhir, ia selalu bermimpi buruk. Tidur tak nyenyak, dan selalu berakhir kelelahan.

Baekhyun akhirnya menyingkir dari ranjangnya yang nyaman, setelah menemukan tingkat stressnya sendiri. Di sudut sudah melambai tumpukan buku yang akan dijelaskan Kris atau orang kepercayaan ayahnya yang lain esok hari. Nyaris seharian ia tidak keluar dari kamar. Hanya untuk belajar dan makan, mungkin hanya dua hal itu saja yang bisa dilakukannya berulang kali.

Keluar dari kamar besarnya, lorong gelap kontan menghampiri. Bisikan angin malam di kiri dan kanan pun mulai sibuk menyusup mencarinya. Namun bukan hal itu yang tengah Baekhyun khawatirkan. Ia hanya lupa bagaimana cara menemukan lantai dapur tiap kali ia butuh. Alasannya terlalu sederhana, selama ini ia selalu ditemani tiap kali mengerjakan sesuatu. Kemudian diantar sedemikian rupa, nyaris seperti pengalaman tour masa sekolah.

Mengikuti kata hatinya sendiri, akhirnya Baekhyun berjalan dengan hampa mendekati frame besar di dekat lemari kaca. Sebuah foto keluarga tua, dimana hadir ayah dan ibunya─jika ia tidak sedang ditipu─dan juga ketiga Park bersaudara kecil. Untuk beberapa saat Baekhyun kembali risau, masih belum sepenuhnya percaya bahwa dirinya adalah potongan puzzle yang seharusnya melengkapi kursi mereka. Terasa tidak masuk akal saja baginya.

Menemukan suara dari lorong barat, ia kemudian menoleh. Ada sisa cahaya terang yang menyala di ujung lorong. Memutuskan untuk mendekat, ia pun meninggalkan fokusnya yang tertinggal di dalam bingkai foto. Melewati banyak figura di dinding, dan juga beberapa pintu lantai dua, membuat Baekhyun semakin senyap. Jejaknya memelan, jemarinya mulai menyapu permukaan dinding. Samar, lewat pintu yang terbuka ia menemukan ruangan megah dengan banyak miniatur kapal di dalamnya. Seperti sebuah museum.

Baekhyun tidak menemukan seseorang pun di dalam. Ruangannya terang benderang, namun seperti baru saja ditinggali. Ada beberapa potongan kayu di atas meja besar, lengkap dengan beberapa alat pemotong. Ia lalu memasukinya dengan sebuah penasaran. Bukan mencari suara ketukan yang pertama ia dengar, alih-alih miniatur kapal besar di dalam kaca itu membuatnya takjub.

Menyentuh permukaan kacanya, Baekhyun menunduk memperhatikan setiap detail kapal tersebut. Menghitung jumlah jendelanya dan juga beberapa keterangan di sisi bawah. Seketika ia teringat dengan kapal terakhir yang pernah membawanya pergi. Meski mungkin tidak semegah desain miniatur di hadapannya, ia sudah merasa memiliki kerajaan di atas lautan.

Baekhyun menegakkan punggungnya kemudian. Ia tiba-tiba tertarik dengan miniatur yang belum selesai di atas meja. Kapalnya berukuran sedikit lebih besar dari yang lain. Baru selesai dengan bagian deck dua. Beberapa potongan kayu kecil masih berhamburan di sekitar. Beberapa terjatuh di lantai. Namun sebelum Baekhyun berniat memungut mereka dari lantai, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok tinggi di dekat pintu.

Bukan sesuatu yang bagus mungkin jika ia menemukan Chanyeol di pertengahan malam seperti ini. Terlebih ketika pria itu tersenyum menyebalkan dengan secangkir kopi hampir habis di tangan.

"Terkesan?" nada bicaranya pun asal.

Pertanyaan Chanyeol yang demikian bahkan selalu mengagungkan diri. Berhasil membuat Baekhyun mengeluh, kedati menyesal telah masuk ke dalam kandang gajah. Ia masuk seakan rela terinjak, dihabisi pula harga dirinya.

Chanyeol kemudian semakin masuk ke dalam ruangan besar itu. Tak lupa meletakkan cangkir kosongnya di sisi meja. Wajah pria itu pun masih sama lusuhnya. Merasa kurang tidur, lelah sendiri dengan pergelutan dengan miniatur-miniatur kapal miliknya.

"Atau kau tidak bisa tidur?" tanyanya kembali mengambil pinset kecil. Hendak menempekan potongan yang lain untuk melengkapi kapal buatannya. Yang mau tidak mau, Baekhyun harus sedikit menjauh dari posisi Chanyeol. Pria itu hanya ingin merebut posisinya untuk sebuah pekerjaan, jadi ia tidak berhak untuk marah.

"Kau tidak perlu peduli soal itu."

"Ya, aku memang tidak pernah peduli pada awalnya," jawab pria tinggi itu singkat. Seperti Chanyeol yang biasanya. Seperti Chanyeol yang dikenalnya. Tapi entah, rasanya sedikit menyebalkan saja.

"Mau ku antar?" Mendapati dirinya terdiam canggung, Chanyeol segera bereaksi. Membaca pikirannya dengan tepat karena ia benar-benar ingin kembali ke kamar. Menggapai selimut, menutup mata, masa bodoh dengan tenggorokannya yang kering karena canggung.

"Aku bisa melakukannya sendiri," maka tolak Baekhyun. Tentu si pemuda punya segudang harga diri, selain berlaku jujur soal ia yang tidak dapat menemukan lantai dapur meski berkeliling. Ia harap Chanyeol tidak akan mengetahui kebodohannya yang satu ini.

Baekhyun lalu mencoba menggapai pintu, ia hendak keluar dengan ragu sekarang. Sambil memperhatikan lorong panjang yang gelap, pikirannya kini jauh berkelana. Cerita-cerita horor yang sering Wendy ceritakan padanya kemudian mengiang, menampar bulu kuduknya hingga berdiri. Sialnya, Baekhyun berubah takut sekarang.

"Biar kuberitahu sesuatu," Chanyeol menghentikan aktivitasnya. Berbaik hati memberinya informasi sebelum orang yang diberi tuah nekat pergi sendirian. "Salah satu lorong di sayap kanan buntu."

"Aku tahu," jawab Baekhyun angkuh. Dan tentu Chanyeol segera tertawa melihatnya mengangkat wajah. Pria itu terlihat santai dengan pekerjaannya. Kembali duduk, kemudian tidak menghiraukannya yang masih harap cemas.

"Aku tidak akan membantu kalau kau tersesat," ujarnya terakhir kali.

Baekhyun lantas berubah kesal. Ia mungkin selalu tersesat di rumah raksasa ini, tapi ia merasa tidak buruk dalam berpikir. Baekhyun teramat yakin akan menemukan lantai dapur dengan caranya sendiri. "Kau pikir aku anak kecil?"

Chanyeol berakhir memunggunginya. Terlanjur sibuk dengan urusan pekerjaan, hingga acuh bahwa Baekhyun masih berada disana. Namun si pemuda bisa membaca bagaimana pria itu tengah tersenyum dalam tundukan. Tentu senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi banyak orang.

"Tapi kata pria tua itu─kau masih adik kecilku," tuturnya sama sekali tidak lucu.

Bersikap masa bodoh, Baekhyun pun memutuskan untuk memberanikan diri melangkah maju. Kakinya dengan yakin mengambil langkah seribu. Ia kini berhasil melewati pintu-pintu ruangan kosong. Di depan gudang, ia mengambil jalur kiri. Semakin disambut gelap, tidak ada satupun pintu yang bisa ditemukan.

Perjalanan Baekhyun lalu semakin buntu, semakin pekat dalam balutan dingin malam. Dadanya tidak bisa dicegah saat bergemuruh, jantungnya pun tidak bisa berkompromi, selalu ingin jadi yang pertama melompat keluar untuk melarikan diri meninggalkannya.

Baekhyun memutuskan untuk berbalik kini. Mengambil langkah tak kalah panjang, sambil mengingat dengan keras dimana letak dapur utama. Seakan tebal muka ia kembali melewati pintu ruangan Chanyeol yang terbuka lebar. Tetap mencoba untuk tidak melirik sedikit pun, tak lupa meminimalkan suara langkahnya agar Chanyeol tidak menyadari.

Namun mustahil bagi pria itu jika tidak menemukan langkahnya yang berakhir menjadi pelarian. Baekhyun mungkin terlalu panik karena tidak menemukan saklar lampu dimanapun.

"Kau tersesat─"

Baekhyun nyaris terperanjat. Hampir berteriak ia menekan dadanya sendiri. Sosok tinggi yang sejak tadi berada dalam ruangannya entah bagaimana sudah sampai di tempat ia berdiri. Menepuk pundaknya santai lalu memasang wajah angkuh ke arahnya.

"Kau mengagetkanku!" protes Baekhyun setengah berteriak. Sibuk menenangkan dadanya yang bergerak naik turun.

Dalam gelap, wajah Chanyeol terlihat bersinar terang. Seperti rembulan yang berjanji akan terus bersinar, menyambut malam yang entah dimana ujungnya. Pria itu pun mampu membuktikan dirinya menjadi yang paling bisa diandalkan saat ini. Sampai-sampai tidak tahu malu jiwa Baekhyun berteriak ingin memohon.

"Aku sudah bilang lorongnya buntu," katanya lagi.

"Aku tahu," delik Baekhyun berbalik, mengambil yakin soal lorong yang ia ingat. Langkahnya yang sangsi kembali diayun. Sempat menggaruk kepalanya frustasi, Baekhyun mengerutu tanpa suara. Sedangkan di hadapannya, ia kembali menemukan dua lorong yang membingungkan.

"Dasar keras kepala," decak Chanyeol dari jauh. Pria itu masih bersembunyi dalam gelap. Bersandar punggungnya di permukaan dinding.

Habis sudah kesabaran Baekhyun. Kedati ia menjambak rambutnya sendiri. Pada ujungnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Benar-benar persetan soal tenggorokannya.

Apa yang arsitek mereka pikirkan saat membangun rumah ini?

Chanyeol menggeleng sebentar. Mengusap dahinya yang lebar. Idealnya, dahi itu sempurna jika tidak tertutupi rambut. Chanyeol dengan rambut koma pasti terlalu mampu membuat para gadis menderita. Sayangnya, kali ini pria itu terlihat berantakan, belum sempat memotong ujung rambut yang memanjang.

Ekor mata bulan sabit milik Baekhyun tidak tercegah untuk semakin menajam. Seiring langkah Chanyeol yang mendekat, tubuhnya seakan membeku. Lagi pula siapa yang tidak membeku menyaksikan pria tiang listrik itu berjalan keren di tengah lorong. Dengan penampilan keren dan juga setelan santai mahal. Belum pernah Baekhyun menyaksikan dimana kurangnya seorang Park Chanyeol, terlebih saat pria itu berjalan ke arahnya.

Sinar rembulan di tiap jendela kini menyoroti Chanyeol dengan sempurna. Membuat jalan semakin terang, namun tak lepas dari bayangan diagonal. Jika Baekhyun orang yang penuh drama ia mungkin sudah mundur mencari pertolongan.

"Perhatikan langkahmu," ulasnya sedatar dinding. Pria itu tak lama mengambil pergelangan kecilnya. Menariknya pergi menuju lorong tenang yang mulai terlihat dari jauh. Seakan mimpi, jemari itu kembali menggenggamnya. Mengingatkannya akan semua kenangan gedung opera megah yang pernah mereka kunjungi di Vienna. Dan Baekhyun tidak pernah mengelak soal lupa, tidak menutup kemungkinan selamanya ia tidak akan lupa hal itu.

"Tempatku selalu berada di sisi kanan," mulainya bercerita. Menuntunnya berbelok ke arah kiri. Lalu sampai menemukan tangga utama dimana seluruh lantai terhubung dengannya. "Dari kamarmu, kau hanya perlu berjalan ke arah kiri. Tangganya tak jauh dari perpustakaan."

Genggaman Chanyeol pada tangannya tak lama terlepas. Menyisakan Baekhyun yang mematung di ujung. Membiarkan Chanyeol turun ke tengah tangga lebih dahulu.

"Kau terlalu banyak menghabiskan waktu di kamar sampai tidak mengenal rumahmu sendiri." Pria itu mendongak mengharapkannya segera menyusul. Sesekali tatapan lembut itu menyiramnya. Menanyakan perihal tujuannya yang mungkin saja batal di tengah jalan.

Sebab menatap Chanyeol dari jarak yang membentang begini, Baekhyun kembali teringat dengan berbagai kisah. Mulai dari pertemuan pertama mereka, bagaimana mereka berbagi cerita, lalu hampir pada Baekhyun yang menyerahkan seluruh kepercayaannya untuk orang yang salah.

Dan kali ini pun sama, Chanyeol selalu mampu meredakan api yang menyala dalam dirinya. Membuatnya diam tidak berdaya, membisu, serta dengan mudah memaafkan semua hal. Padahal pria itu begitu nyata ingin menyingkirkannya. Bisa saja sosok itu mendorongnya jatuh dari tangga malam ini lalu membuang jasadnya jauh di luar sana tanpa diketahui orang lain.

"Kau tidak pernah minta maaf," gumam Baekhyun begitu saja. Merasa selalu terserah, sengaja memperdengarkan ucapannya untuk Chanyeol yang memulai kekacauan. Dan Baekhyun hanya orang biasa yang kerap merasa tidak puas dalam hidup. Ia tetap punya keluhan dan bencana yang ia harap akan mereda dengan cepat, tidak membebaninya seperti saat ini.

"Untuk?"

Mendengar Chanyeol yang balik bertanya demikian, rasanya dadanya baru saja terhimpit. Ditekan dari segala arah dengan permukaan kasar. Dan kali ini Baekhyun bosan menjadi yang selalu dibodohi.

Namun pria itu habis terdiam. Tenggelam dalam dunianya sendiri. Seakan tidak melihat siapapun sosok itu malah tersenyum. Kepalang manis, menganggap semua ini lelucon kecil yang bisa ditutupi dengan permainannya. Tentu, Chanyeol bisa melakukan apapun untuk menjamin kepuasan dalam hidupnya sendiri. Tapi perihal meyangkut Baekhyun, tidak jawabannya. Pria itu bukan seseorang yang akan mengabulkan segala keinginan orang lain.

"Kau mempermainkanku." Baekhyun merasakan kakinya lelah menopang. Bahkan untuk beberapa saat sosok Chanyeol mulai memburam, dikaburkan oleh linangan matanya sendiri. "Kejadian di Budapest─aku tahu kau sangat ingin melihatku mati."

Pria tinggi itu menatapnya dengan manik yang berkilat. Chanyeol rupanya sibuk menilai, mencari seberapa dalam kalimat itu dilempar padanya. Dan pria itu baru saja memahami bagaimana dirinya diposisikan. Bahwa Baekhyun tengah berusaha membalasnya dengan hukuman yang setimpal.

"Aku memang selalu menginginkanmu mati," jelas Chanyeol membenarkan. Menelisik dalam pada kolam matanya. Begitu jujur pria itu ingin merusak habis sisa-sisa kenangan yang pernah ada. Seakan semuanya tidak pernah terjadi. Dan Chanyeol hanya perlu mengendalikan hatinya. Merubah Baekhyun menjadi orang dungu yang rela untuk pria itu eksekusi di akhir cerita. "bahkan setelah apa yang kau lakukan padaku di kapal─kau lebih buruk dalam mempermainkan perasaan orang lain."

Tangan Baekhyun kini mendingin. Begitu cepat jarum-jarum panas datang mengerjai hatinya. Tiap tarikan nafasnya terlanjur menoreh luka. Ia sepenuhnya tidak paham mengapa kalimat itu dengan mudah menghancurkannya.

Merasa selesai dengan itu, Chanyeol lantas semakin turun dari sana. Meninggalkannya bergeming sendiri, lalu hilang ditelan gelap. Maka Baekhyun mengambil pegangan pada dinding. Tidak ada alasan lain bagi Baekhyun untuk tidak kembali.

e)(o

Bangun dengan leher pegal adalah kebiasaan bagi Chanyeol. Tangan terlipat di atas meja sebagai bantalan tidur. Kepala merebah semalaman di ruang kerja. Amat buruk jika saja ia mengingat hasil dari pekerjaannya yang semalam belum juga membuahkan hasil.

Pandangan buramnya kini mengarah pada miniatur kapal yang belum kunjung rampung. Sementara di dekat kakinya, gelas cangkir sudah pecah berserakan. Ia harus hati-hati ketika melangkah. Kalau saja ia tidak sembarangan membuang benda itu sebelum ia tertidur.

Turun melewati tangga semalam, ia bertemu dengan Baekhyun dengan wajah muram. Si pemuda lebih dahulu mengambil anak tangga sebelum dirinya sempat. Berjalan lebih cepat menuju ruang makan yang rupanya sudah diisi oleh Sehun dan Jongin.

"Mau kau muntah sampai pingsan aku tidak peduli, asal jangan di bajuku!"

Menyusul dengan baik, Chanyeol menarik kursi yang selalu menjadi miliknya. Sedangkan para pelayan sibuk berhamburan menyajikan sarapan, begitu tenang meski si kembar membuat mereka ingin tuli. Sedangkan sisanya berbenah dan merapikan taman. Ayah mereka tentu sudah terbang ke Paris dengan Kris, terbukti dengan kursi kosong di ujung. Dan juga kehadiran Sehun dan Jongin yang semakin tidak terkendali.

"Kau juga biasanya muntah di mobilku, tapi aku tidak pernah protes!"

"Lalu apa gunanya pacarmu itu? Kenapa kau lebih memilih menelponku dari pada menelponnya?"

Bukan tanpa alasan mereka bisa duduk berdua di meja makan. Meributkan sesuatu yang tidak penting sampai tidak sadar jika makanan mereka mulai mendingin. Alasannya hanya karena mereka tidak suka makan semeja dengan sang ayah. Mereka selalu mendapatkan alasan saat ayah mereka mengundang makan. Tapi tanpa ayah di meja makan, rasanya jauh lebih buruk menurut Chanyeol.

Tiba pada Jongin yang melempar Sehun dengan apelnya. Merasa terganggu dengan ocehan berisik yang selalu ia keluhkan. Kembarannya itu nyatanya masih melukai harga dirinya yang semalam pulang dengan racauan mabuk. "Kau meributkan sesuatu yang tidak penting!" keluh Jongin tidak peduli.

"Jadi kau malu orang baru ini mendengar keburukanmu?" Sehun menunjuk Baekhyun yang duduk manis di kursinya. Pemuda yang ditunjuknya itu baru saja menyantap hidangan sarapan dengan perlahan. Ia rupanya ingin berpura-pura tidak mendengar atau melihat segala kekacauan. Duduk tenang dan menolak gangguan.

"Hey, apa kau bosan dengan bicaraku yang seperti ini?"

Sehun yang tidak punya sopan-santun mungkin mengganggu lapar yang didera Chanyeol. Membuatnya urung menarik piring, jauh lebih tertarik untuk menunggu keadaan mereda. Jadi ia hanya meminum jusnya. Mengacuhkan semua perdebatan adiknya yang sama sekali tidak berkaitan dengan hidupnya.

"Aku jadi kehilangan selera makan. Sejak bangun yang kau bahas cuma muntah," keluh Jongin yang seketika memberi efek berarti pada jus yang diminum kakaknya. Jus itu terlihat seperti muntahan saja kali ini. Dan itu berhasil mengganggu karena Chanyeol hampir memuntahkan tegukan jusnya sekarang.

Sehun melotot. Menghempas garpu dan pisaunya ke atas piring hingga ruang makan itu meribut semakin pecah. Tidak terpikirkan bagi Chanyeol soal apa yang akan penggemar adiknya itu pikirkan jika tahu Sehun yang kesehariannya tersenyum bodoh di televisi itu malah menjadi seorang bajingan di belakang layar.

"Kau muntah di bajuku, kalau perlu aku ingatkan. Itu bukan masalah sepele. Ada banyak orang yang mengenaliku disana dengan sisa muntahanmu. Seluruh media kini tengah membicarakan 'Sehun dengan pakaian muntah pacarnya'. Mereka begitu sibuk menulis rumor gay tentangku!" Sehun mengutuk.

Oke, alasan Sehun kali ini terlalu drama untuk makhluk manapun. Contoh saja Chanyeol yang sampai menjulukinya drama queen. Maka Jongin berteriak marah. Sampai Baekhyun yang berada di hadapannya berhenti menyuap sarapan. "Kau memang gay, bajingan. Sudah saatnya dunia ini tahu betapa kotornya dirimu!"

"Kau mengencani pacar priamu sejak lima tahun yang lalu, kau pikir siapa yang paling gay?!"

"Bisakah kalian diam?!"

Semua orang kini menatap Baekhyun yang melotot di atas piringnya. Terutama Chanyeol, pria itu sebenarnya cukup takjub karena si pemuda berani menyuarakan keluhan. Tidak seperti Chanyeol yang selama ini selalu memilih diam seperti ayahnya.

"Oh, kau tidak bisu rupanya," celetuk Sehun memasang wajah dungunya.

Entah kesal atau sesuatu yang lain, Baekhyun segera beranjak dari sana. Meninggalkan setengah isi sarapannya yang belum juga tandas. Sehun pun berdecih. Belum ada orang yang berani melawannya selain Jongin dan Chanyeol. Jadi ia merasa sedikit terganggu.

"Dia kira dirinya siapa?"

Namun sebuah pisau baru saja mendarat di atas piring Sehun. Menimbulkan satu keributan lagi karena Jongin tidak pernah kehilangan kemampuan dalam menyerang sebuah titik. "Kau menjijikkan!" kutuk kembarannya.

Dan Chanyeol hanya bisa menggeleng lelah, bergerak meninggalkan kursi. Mengikuti Jongin yang kabur naik ke lantai dua.

"Berengsek!" umpat Sehun membuang piringnya. Membiarkan sarapannya berjatuhan mengotori lantai, bersama dengan pelayan mereka yang berlarian hendak membersihkan pecahan piring.

e)(o

Dinding putih, lorong-lorong sepi, figura, perdebatan si kembar, pelayan-pelayan yang berhamburan, kemudian ruang makan, terus terasa membosankan. Baekhyun menyadari itu ketika Kris tidak terlihat batang hidungnya. Pria itu belum juga pulang, sementara buku-buku bisnis masih menumpuk di atas meja. Baekhyun sengaja tidak menyentuhnya. Ia teramat jenuh dengan semua lembaran-lembaran itu.

Di hari berikutnya, Baekhyun berhasil bangun lebih cepat. Menghabiskan waktu untuk berendam, kemudian berakhir tidak mengerti mengapa ia bisa duduk di ruangan yang begitu menggelikan.

Saat itu masih belum begitu siang. Masih belum begitu terik untuk terpuruk di tengah racauan Kris soal lelucon kering yang sering dilakukan keluarga Park. Pemandangan matras yang menumpuk di pojok kanan membuatnya sedikit terhibur dengan masa lalunya yang pernah memakai seragam putih kebanggan. Sabuk hapkidonya bahkan masih ia simpan di lemari. Sebuah kenang-kenangan masa kecil yang pernah dibanggakan neneknya.

Lalu kini, Baekhyun dipaksa paham tentang taekwondo. Salah seorang pelatih berwajah sengit, tepatnya pria dengan rambut cepak, terlihat tangguh dengan beberapa penjelasan tegasnya. Ruang latihan yang menggema itu hanya dicat putih. Dinding di sebelah kiri berdinding kaca tebal. Berbatas langsung dengan halaman belakang, dimana semua orang dapat mengamati cerahnya langit di atas sana.

Tepat di sebelahnya, ada Jongin yang betah dengan suara-suara membosankan di depan. Bisa dibilang, pria itu adalah yang paling masuk akal dibandingkan dengan kedua saudaranya. Pria berkulit tan itu mendengar dengan patuh walaupun cukup berantakan soal hidup. Fokusnya bahkan tertancap dengan tepat saat pelatih memperagakan sebuah gerakan pada Sehun. Sedangkan Chanyeol hanya bergeming dalam lamunan. Hanya membuang wajah tampannya ke luar jendela. Tidak mempedulikan banyak hal yang mungkin saja menjadi berguna suatu saat.

Sampai pada sang pelatih yang mempersilahkan si kembar maju untuk memperagakan beberapa teknik, Chanyeol masih saja enggan menikmati. Ia masih saja sibuk dengan lamunan. Tidak peduli dua saudaranya di depan sana terlihat sangat menarik untuk ditonton.

Pertarungan Jongin dan Sehun terlihat begitu imbang. Cukup seru sebenarnya menyaksikan beberapa teknik baru yang Jongin gunakan. Di luar dugaan, Jongin sangat cepat dalam menguasai teknik dan membaca lawan. Sehun sampai beberapa kali terkena tendangan, tubuhnya limbung. Namun bukan Sehun jika tidak bisa membalas. Pria pucat itu semakin serius menggunakan tendangannya. Berusaha membuat Jongin tumbang dengan cepat. Tapi tidak semudah kelihatannya, Sehun baru saja tumbang ke atas lantai. Hal itu mengundang kepuasan Jongin yang selalu menang dalam hal apapun.

Dari sini, Baekhyun dapat membaca sendiri bagaimana karakter orang-orang yang tinggal seatap dengannya. Sehun yang lebih kekanakan, Jongin yang penuh tantangan, ayah yang selalu menyukai ketenangan, kemudian Chanyeol yang menjadi sangat misterius di rumah. Ada banyak hal yang tidak terduga di rumah ini. Jadi Baekhyun tidak akan bisa tenang soal itu.

"Sial," kutuk Sehun masih mengusap bahu belakangnya yang nyeri. Panjang-panjang langkahnya menjauh hanya untuk mendapatkan air mineral. Kekalahan telaknya memang menjadikan pria itu tidak bersahabat. Terlebih jika pelakunya Park Jongin, ia bisa saja tidak akan menghadiri latihan ini hingga tahun depan.

Jongin kembali duduk ketika Pelatih Kwon memanggil Chanyeol. Dan seperti boomerang, Baekhyun tentu mendapat kesempatan mencoba teknik yang tidak ia pahami bersama pria tiang listrik itu. Mau tidak mau, Baekhyun maju berhadapan dengan Chanyeol. Disana ia dengan jelas menatap langsung pada wajah Chanyeol yang selalu tidak menggambarkan apapun.

Sang pelatih kemudian mendekat ke tengah arena. Mengoreksi sesuatu yang salah sebelum menyerukan aba-aba. Baekhyun sendiri mencoba menahan ledakan jantungnya. Berbeda halnya dengan Chanyeol yang selalu santai menghadapinya. Bahkan Sehun di belakang sana lebih dahulu mengetahui hasil pertarungan mereka. Jelas sudah bahwa Chanyeol yang akan memenangkan pertandingan ini. Dilihat dari proporsi saja Jongin sudah ingin tertawa.

Secara fisik, Chanyeol lebih tinggi 11 cm dari Baekhyun. Bukan rahasia lagi jika Park bersaudara diwarisi tubuh tinggi di atas rata-rata. Tubuhnya cukup raksasa, berbeda dengannya yang mungil dan jauh lebih ringan jika nekat melawan. Pun ia sebenarnya sangat tahu diri, ini pertama kalinya Baekhyun mencoba taekwondo. Berbeda dengan Chanyeol yang sudah memiliki sabuk hitam di pinggangnya.

"Kau tidak akan bisa," ujar Chanyeol meremehkannya. Matanya seolah menembus siapapun, seolah ingin menyelesaikan ini cepat dengan membantingnya ke atas lantai.

Baekhyun memasang kuda-kuda. Setidaknya ia begitu ingat gerakan dasar hapkido yang melekat di kakinya. "Aku punya beberapa dasar."

Senyum Chanyeol terlukis. Manis sekali sampai Baekhyun mual. "Bagaimana kalau kita bertaruh?" tawarnya bersiap.

Pelatih mereka akhirnya mengangkat tangan. Tidak ada suara peluit yang melengking membelah ruangan. Hening diganti dengan degupan-degupan halus di dada. Baekhyun maju dengan keberanian yang ia miliki. Membuat kakinya melayang mencari titik yang tepat untuk menjatuhkan tubuh besar Chanyeol. Sayangnya, Chanyeol pintar sekali menghindar. Pria itu terlalu tenang untuk melawannya.

Gerakan kaki Baekhyun lalu menjadi jejak yang cemas. Ia terpojok pada sudut garis arena. Chanyeol tentu berhasil menyudutkannya dengan mudah. Kaki panjang Chanyeol kini mengayun dengan cepat. Hampir mengenai bahunya berkali-kali. Namun pinggangnya terasa nyeri oleh tendangan meleset itu.

Baekhyun berakhir dengan kehilangan kesabaran. Ia tidak akan tahan lagi dengan posisi terpojok yang ia miliki. Ia muak menyaksikan senyuman miring yang digunakan Chanyeol untuk menelanjanginya. Ia muak diremehkan soal taekwondo. Lantas dengan cepat Baekhyun maju dengan beberapa tendangan yang ia ingat di luar kepala. Setelah Chanyeol lengah, kakinya yang lain kemudian berhasil mengait kaki jenjang milik Chanyeol. Dan tanpa hitungan detik pria itu lalu limbung ke belakang.

Namun buruknya, Chanyeol sempat menarik lengannya sebagai pembalik keadaan. Dan itu berhasil menggulingkan Baekhyun ke lantai. Berakhir dengan begitu cepat dengan kuncian Chanyeol di atasnya.

Nafas Chanyeol lalu menerpa wajahnya. Pahatan wajah di atasnya itu lalu sukses membuatnya lupa daratan. Dada Baekhyun kembali berdegup. Terlebih ketika wajah itu semakin mendekat padanya. Mengabsen tiap bagian wajahnya yang penuh kurang, lalu sebuah ledakan besar yang entah darimana asalnya. Kedati menghancurkan kepala Baekhyun. Ia sama sekali tidak bisa bergerak kala Chanyeol berjarak sedekat ini dengannya.

"Kau harusnya tahu ini bukan hapkido," ujar Chanyeol tenang. Bahkan Baekhyun bisa bersumpah, aliran darahnya bisa terhenti seketika setelah mendengar suara berat itu mengalun di hadapannya.

"Apapun itu, menyingkir dariku!" tegas Baekhyun mendorong Chanyeol pergi.

Dari ujung sana, Sehun memuji dengan bertepuk tangan. Mengabaikan pelatihnya yang sudah mengatakan untuk selesai sementara waktu. Berbeda dengan Jongin yang masih memasang wajah patung. Tidak lekat menatap interaksi keduanya di tengah arena.

"Itu melanggar aturan," celetuk Jongin masih betah dengan posisinya.

Sehun pun berdecih, melipat lengannya di dada. "Siapa yang peduli? Saat di arena, siapapun hanya akan berpikir bagaimana cara menumbangkan lawan dengan mudah."

e)(o

Setelah keras menutup pintu, Baekhyun mencoba menarik laci nakasnya. Pemikirannya sampai pada mengaktifkan ponsel lama yang sudah lama terkubur, lalu mendial nomor Wendy disana. Sambil memasang earbuds di telinga, ia membuka seluruh pintu lemari. Mengeluarkan pakaian yang ia butuhkan. Kemudian memasukkan beberapa potong ke dalam tas ranselnya. Tak lupa pula beberapa hal penting sepeti paspor dan visa. Semua tak luput dalam pikirannya.

Sampai nada sambung berhenti berbunyi, ia menarik salah satu jaket hitam dari lipatan teratas. Ia lantas melempar jaket itu ke atas ranjang. Berjalan meninggalkan persiapannya lalu mendekati jendela.

"Ya Tuhan, kemana saja kau?!" Nada protes lalu terdengar begitu jelas di telinga. Mendengung sekian kali sampai Baekhyun pusing sendiri. "Aku pikir kau sudah mati!"

Namun kemarahan Wendy yang begitu menyakitkan itu membuatnya rindu dengan Barcelona. Maka ia bersandar pada tiang balkonnya yang mengarah pada halaman belakang. "Maaf, aku tidak sempat bercerita saat itu."

Tiba-tiba suara melengking yang khas menyapa indera pendengarannya. Bercampur dengan suara kekesalan Wendy sampai meribut dengan suara barang jatuh. Entah apa yang tengah mereka lakukan di seberang sana. "Hey bung, kau baik?!"

"Jongdae!" Sebuah senyum terlukis di wajah Baekhyun untuk pertama kalinya. Ada sesuatu yang meriangkan angannya ketika mendengar suara sahabat-sahabatnya disana.

"Berikan padaku, berengsek─Brian kau benar-benar tidak akan kembali?─Damn it! Jadi kau benar-benar pindah negara?"

Sebuah keributan besar kemudian terjadi. Baekhyun bahkan tertawa keras sekali. Pikirannya sukses berlayar pada bayangan mereka yang begitu sibuk berebut panggilannya. So, Baekhyun benar-benar merindukan Barcelona sampai gila sekarang. "Aku merindukan kalian."

"Oh, dear. I wish you were here. The best party akan diadakan di restoran." Wendy berbicara dengan sangat bersemangat. Sedangkan suara Jongdae masih meribut di belakang. Masih membuat suara gaduh dengan beberapa barang jatuh. "Si bodoh Jongdae akan mengadakan pesta bujang!"

Well, ini mengejutkan Baekhyun. Jongdae akhirnya memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya. "Oh, selamat Jongdae. Aku benar-benar ingin datang!"

"Kau harus datang, sialan. Kau harus mengajak Kris."

Baekhyun tertawa sekali lagi. Teringat dengan Kris, ia bisa segera tahu apa yang akan terjadi. Cerita dirinya dengan Kris saat ini tengah berada di ujung krisis. Kris tidak akan cocok lagi diajak untuk berkompromi. Sayang sekali jika Wendy tidak tahu soal ini bukan? "Kau tahu dia pria yang sibuk. Anyway, kalian bisa membantuku?"

Dengan cepat temannya itu menjawab, "Always, hanya katakan sesuatu yang kau butuhkan."

Mengedarkan pandangannya pada balkon yang sepi di ujung sana, Baekhyun menjadi ragu sendiri. Ia baru saja teringat bahwa Chanyeol bisa saja menemukannya kapanpun. Walaupun jarak balkon kamar mereka tidak bisa dikatakan dekat, ia bisa saja ketahuan jika melompat dari sini. "Aku ingin meminjam uang,"

"What?! Apa katanya? Menyingkir, Kim berengsek Jongdae!" Sebuah keributan kembali tercipta. Kali ini ponsel yang mereka gunakan terbanting ke atas lantai.

Untuk itu ia sedikit membuka earbudsnya. Membiarkan mereka tenang sebentar, kemudian melanjutkan, "Aku butuh uang untuk kembali."

"Wait, sesuatu terjadi?!"

Baekhyun sedikit tertawa untuk meredakan kekhawatiran Wendy. Ia tahu jika gadis itu akan membencinya jika ia berbohong. "Akan kuceritakan nanti."

"Anything's, Brian, aku pasti akan membantu. Aku akan mengirimkannya sekarang."

"Gracias." Dan Baekhyun bersyukur ketika Wendy bersungguh-sungguh ingin membantunya. Entah apa yang akan ia lakukan jika gadis itu tidak ada.

"Jaga drimu, Brian. We love you."

Selesai dengan sambungan telpon, Baekhyun akhirnya menyempatkan diri memperhatikan penampilannya yang lusuh. Rambutnya lebih berantakan dengan beberapa bekas keringat menempel di leher. Geram ia mengingat bagaimana dirinya bisa sampai berpenampilan seperti ini.

Baekhyun benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lebih lama. Tinggal di bawah atap yang sama dengan Chanyeol membuatnya menjadi lebih gila dari biasanya. Ia bisa saja bunuh diri jika terlalu sabar. Bagaimana mungkin ia bisa menelan semua perlakuan Chanyeol padanya selama ini? Pria itu bahkan tidak pernah terlihat menyesal. Bahkan jika benar pria itu ingat kejadian terakhir mereka di kapal, ia mungkin saja tidak akan pernah menyapa dunia kembali. Karena Chanyeol selalu bisa membalasnya.

Membuka pintu, Baekhyun bergerak mencari lorong panjang menuju dapur. Beruntung ia telah mengingat gambaran besar kediaman Park, jadi ia tidak perlu ragu untuk berkeliling. Namun sesampainya di depan pintu kulkas, sayangnya Baekhyun tidak dapat menemukan satupun botol air mineral. Raknya kosong, hanya tersisa cola dan soda di rak pintu. Menahan kesal Baekhyun pun menutup pintu kulkas sebelum berbalik.

Dan Baekhyun sampai tidak menyadari ada sesuatu yang melayang di depan wajahnya. Sebuah botol air mineral terisi penuh baru saja menghantam dahinya. Baekhyun nyaris memukul sosok pria tinggi yang masih menggantung botol itu dengan tangan. Raut pucatnya kini tertawa lepas menatapnya merengut.

"Mereka akan mengisinya nanti," ujar Sehun dengan pakaian yang sudah diganti. Penampilannya berubah jauh lebih segar, berbanding terbalik dengannya yang lusuh dan berkeringat. Rambut pria itu bahkan masih basah dengan handuk di leher. Ia kini terlihat jauh dari kesan fashionable tapi tidak ada satupun yang kurang. Park Sehun tentu memiliki pesona yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan dua saudaranya.

Baekhyun masih terdiam dengan gurat aneh di wajahnya. Ia kesal setengah mati, namun di sisi lain ia jauh lebih malas membahas perkaranya dengan Sehun. Walaupun pria itulah yang telah berbaik hati menjelaskan semua keadaan padanya, pria itu tentu tidak bisa dipercayai begitu saja.

"Kupikir kau membutuhkannya," sambung pria pucat itu menunggu responnya. Menanti kapan botol air itu akan berpindah tangan, sebelum tangannya pegal. "Aku terpukau karena kau bisa menumbangkan Chanyeol."

Baekhyun baru saja menyadarinya semalam. Senyum Sehun yang dielukan penonton acara televisi mungkin saja terlihat seperti yang di hadapannya kini. Begitu lembut, bahkan kedua mata itu ikut menyipit dengan tulus. Entah apakah Baekhyun tenang dengan tipuan-tipuan itu. Ada banyak kemungkinan jika pria itu adalah orang yang sama liciknya seperti Chanyeol.

"Benar tidak mau?"

Lama berpikir akhirnya Baekhyun merampas botol itu. Membuka tutupnya cepat lalu meneguknya di hadapan Sehun. Terserahlah, ia merasa benar-benar dehidrasi setelah semua hal terjadi. Ia mati butuh kelegaan yang entah harus ia cari dimana.

"Tidakkah kau berpikir jika Chanyeol menyukaimu?"

Baekhyun berhasil menyemburkan air yang baru saja ditegaknya setelah mendengar pertanyaan semacam itu. Kerongkongannya terasa sangat menyiksa, terbatuk-batuk ia memukul dadanya sendiri. Sedangkan Sehun hanya tersenyum geli menatapnya. Merasa jika dirinya terlalu konyol untuk menjadi seorang adik kecil yang tinggal di rumah besar ini. Minum saja ia bisa tersedak, beruntung ia tidak menyemburkan air yang diminumnya itu ke wajah Sehun. Walaupun itu ide bagus, tapi ia masih punya harga diri.

"Oh, kau pasti mengetahuinya. Apa kau mendengar langsung darinya?" tanya Sehun terus mengganggu dirinya. Mencegahnya melegakan dehidrasi dengan tenang. Namun bukan Sehun jika tidak berlaku kurang ajar, Baekhyun tahu persis bagaimana Park Sehun yang bersikap sesukanya.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," jawab Baekhyun mengusap rahangnya yang basah dengan punggung tangan. Ia mungkin sudah naik ke kamarnya kalau saja ia tidak tersedak.

Sehun menyilangkan lengannya di dada. Mata teduhnya menyelidiki apapun yang terlintas. Mata coklat gelap itu kini terlihat lebih jernih saat berpendar padanya. Dibandingkan dengan milik Jongin manik itu terlihat sedikit lebih hangat. Terkesan lebih lembut dan juga mulai meyakinkannya. "Chanyeol berubah, dia bahkan memihakmu sekarang," katanya.

Mendengar itu Baekhyun merasa jenaka. Ia ingin tertawa terbahak-bahak sendiri jika Sehun bersedia tidak menganggapnya gila. Bagaimana mungkin Chanyeol memihaknya? Pria itu selalu menginginkannya mati ditelan bumi.

"Tidak mungkin," ujar Baekhyun menutup botol airnya. Nyaris botol itu tandas diminumnya. "Chanyeol sama dengan kalian, dia lebih menginginkanku mati."

"Aku tidak menginginkanmu mati." Sehun berkata dengan cukup santai. Masih menatapnya penuh arti, seakan memeriksa sesuatu yang ada di dalam dirinya. "setidaknya sampai kau mengalihkan seluruh warisan ayah padaku."

Jemari Baekhyun menguat pada genggaman botol airnya. Beruntung botol itu berbahan kaca, sehingga tidak menimbulkan suara apapun ketika air di dalamnya beriak saat ia menekan. "Akupun tidak membutuhkannya."

Bosan menatap tajam sorot coklat itu, Baekhyun kini meletakkan botol airnya di atas counter. Bergerak dengan cepat untuk kembali naik ke kamarnya, tidak peduli dengan Sehun yang balas menatapnya tajam di belakang sana.

Tak lama, bayangan pria tinggi yang lain kini turun dari tangga. Menghalangi jalannya yang memelan, yang kemudian Baekhyun bisa merasakan kepalanya berputar. Membuatnya limbung meraih dinding. Namun dinding yang dilihatnya seakan berputar, terasa semakin jauh dari jangkauannya.

Pusing mendera, kakinya pun kehilangan koordinasi. Baekhyun lantas menemukan Chanyeol yang melewatinya begitu saja saat ia ambruk. Tergeletak di lantai yang dingin sambil menyaksikan langkah Chanyeol yang semakin menjauh.

Perasaannya mendadak kian kosong. Ungkapan sakit yang ia keluhkan rupanya tak didengar siapapun. Chanyeol pun tidak pernah peduli padanya, sebuah fakta baru atau mungkin selalu begitu. Baekhyun kemudian tahu arti senyum kemenangan Sehun dari jauh sana. Tidak ada seorangpun yang bisa ia percaya di rumah ini.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Ya ampun, ini udah aku tinggalin lama banget. Apa kalian masih ingat?

Karena pekerjaanku makin penuh, aku kadang gak punya waktu buat nulis. Tapi aku selalu dapat semangat dari kalian. Terima kasih ya, semoga nanti bisa aku selesaikan.

Btw adakah yang sering gak dapat notif dari ffn? Apa cuma aku yang ngerasa gak pernah dapat notif dari ffn? Misalnya ff update, review atau apa gitu. Dulu sering dapet sekarang malah enggak. Malah kalau aku cek langsung ke ffnya baru aku tau ada review atau yang lainnya. Sempat mikir pengen pindah ke wetped sih, tapi keknya lebih ribet ya.