Painkiller


Disclaimer

In this FanFic story, the casts are OOC.

Their Characters in this FanFic aren't their real characters in the real life.

WARNING

This FanFic is pure of my imagination.

Please don't copy it without my permission !

Boys Love, Typos everywhere !

Genre : Hurt/comfort !

Don't like ? Just click exit please...

Imagination is like the Universe

Stories are like the stars

We are the star finders

Let's hope for Happy Endings in Fiction World

Coz in the real world, we can't expect for Happy Endings

~Happy Reading~

.

.

.

Chapter 12

.

.

.

Previous chapter

Di suatu tempat

Luhan tidak bisa menghalau pisau itu yang menyentuh permukaan kulit Kyungsoo.

"Kumohon jangan, Kyung-ah." Ucap Luhan yang pipinya basah dengan air mata.

Kyungsoo tersenyum pahit, kepalanya sedikit berputar-putar sekarang.

"Kalian ingin aku mati, maka aku akan mati." Ucap Kyungsoo yang kembali menorehkan sayatan di pergelangan tangannya sambil menunggu kedatangan seseorang.

"Tunggu pangeran berkuda putihmu datang, aku yakin ia akan menarikku ke dalam penjara atau mungkin ke neraka." Ucap Kyungsoo dengan tawa sedihnya.

Luhan menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk melepas semua ikatan yang membuat dirinya tak bisa bergerak untuk mencegah Kyungsoo.

Brak!

.

.

.

Beberapa menit yang lalu...

"Baiklah mari kita cari jalang busuk itu." Ucap Sehun dengan sirat kebencian yang terpancar di matanya.

Jongin mengangguk, ini sudah keterlaluan. Buat apa Kyungsoo menculik Luhan, ini sama saja dengan memancing amarah Sehun yang sudah lama mendidih untuk meledak. Jongin berpikir keras, ada hal yang harus ia lakukan untuk membuat situasi kedepannya untuk tidak semakin rumit. Melihat Sehun dengan seorang pelacak yang ia kenal baik melihat layar notebook itu membuat dirinya pasrah. Ia tidak tahu apa yang direncanakan Sehun dan ia juga tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kyungsoo.

'Apa yang kau pikirkan, Kyungsoo?'

Dirinya memang tidak mengenal baik sosok Kyungsoo seperti yang lain. Jongin hanya sebagai figuran dalam kasus ini, menjadi bagian dari pelindung Baekhyun. Bukan berarti ia harus menjadi sosok yang benci terhadap Kyungsoo ketika mendengar Sehun yang begitu terpuruk dengan kakaknya, keluarganya, perjodohan konyol kakaknya. Jongin hanya melihat sosok Sehun dan Kyungsoo yang sama-sama merasa kehilangan.

Sehun yang kehilangan kepercayaan pada kakaknya dan Kyungsoo yang kehilangan jati dirinya. Keduanya hanya menjadi bidak dalam permainan bisnis yang memuakkan. Terbutakan oleh obsesi belaka, semua menjadi celaka. Jongin hanya dapat kembali berharap, berharap agar semua ini selesai.

"Lokasi sesuai plat mobil itu masih berada disini, sudah 1 jam lebih bos."

Suara itu membangunkan Jongin dari lamunannya. Sehun tersenyum menang.

"Kerja bagus, aku akan kirimkan uangnya nanti." Ucap Sehun sambil menepuk pundak suruhan Jongin. Jongin mengisyaratkan suruhannya untuk keluar dari ruangan privat di restoran itu.

Sehun menatap Jongin. Seringaian muncul di wajah putih pucat itu. Jongin menatap Sehun dengan datar.

"Apa rencanamu setelah menemukannya? Kuharap itu bukan tindakan gilamu lagi. Serahkan saja dirinya pada pihak berwajib, penderitaannya dan penderitaanmu sudah impas, begitupun dengan masa lalumu. Chanyeol sudah bersama Baekhyun. Ayahmu sudah memutuskan hubungan kerjasama dengan Keluarga Do. Perusahaannya sudah di ambang kebangkrutan. Tidakkah kau sudah puas?" tanya Jongin sambil menatap Sehun.

Sehun tertawa terbahak-bahak. Terdengar begitu pilu di telinga Jongin. Sehun mengusap dahinya.

"Aku? Merasa puas? Aku akan puas jika jalang itu mati. Kau tahu itu bukan? AKU HANYA INGIN JALANG ITU MATI! AKU HANYA TIDAK BISA KEHILANGAN LAGI. CUKUP DENGAN KEHILANGAN PERHATIAN KELUARGAKU DAN KEPERCAYAAN KAKAKKU. CUKUP DENGAN ITU, aku tidak sanggup lagi... Aku tidak sanggup lag—"

Sehun menangis dalam tawanya, pria pucat itu terus menerus memukul dadanya, ia ingin melepaskan semua yang menyesakkan dadanya. Jongin menghampiri Sehun dan memeluknya. Sehun hanya perlu mengeluarkan segala yang ia pendam selama ini. Jongin menepuk-nepuk punggung Sehun dengan lembut. Jongin mungkin tidak tahu rasanya tapi ia bisa menjadi pemberi pelukan hangat yang diperlukan Sehun saat ini.

"Yang kau perlu lakukan hanyalah panggil polisi, sudahi ini. Jangan hiraukan lagi dia, usai sampai sini. Penderitaannya dan sengsara milikmu telah berakhir sekarang. Kau hanya perlu berdiri lagi, memijak halaman dan bab baru bersama Luhan, Chanyeol, Baekhyun, aku, dan yang lain. Tanpanya. Akhiri ini dan kau akan bebas. Percaya padaku, semua akan baik-baik saja setelah ini." Ucap Jongin yang melepaskan pelukannya dan menepuk pundak teman dekatnya itu.

"Serahkan padaku dan kau hanya perlu melepaskan dendam yang sudah kau pendam." Ucap Jongin yang beranjak dari ruangan itu, meninggalkan Sehun yang menangis dalam diam.

.

.

.

Brak!

Pintu besi dibuka paksa. Pisau yang baru saja mendarat di pergelangan Kyungsoo terhenti. Kyungsoo tersenyum.

"Lihatlah, pangeranmu telah menemukanmu. Dan kisahku akan berakhir dengan cep—"

"BERHENTI KYUNGSOO!" teriak Jongin dan berlusin-lusin polisi memasuki bangunan itu langsung mengamankan Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum lalu menatap Luhan yang terdiam syok.

"Kau lihat bukan, Kisahku akan berakhir dengan cepat." Ucap Kyungsoo dengan pelan dan darah terus mengucur di kedua pergelangannya.

"CEPAT BEKAP PERGELANGAN TANGANNYA!" ucap salah satu polisi yang mengamankan Kyungsoo. Tim medis juga berhamburan untuk menangani Luhan dan Kyungsoo. Jongin menghampiri Luhan.

"Sehun menunggumu di restoran Hotel City Lights. Urusan Sehun dengan Kyungsoo sudah berakhir. Tidak perlu khawatir. Semua sudah selesai." Ucap Jongin sambil tersenyum lembut pada Luhan.

Tangis Luhan pecah lalu ia memeluk Jongin dengan erat.

"Terima kasih Jongin-ah, terima kasih." Ucap Luhan dengan lemah.

Jongin melepas pelukan Luhan lalu menatap Luhan.

"Pergilah, sekarang kita hanya perlu untuk memulai lagi. Halaman baru, bab baru, cerita yang baru, hanya bahagia yang mengisi sisa hidup kita."

Jongin berbalik dan pergi menuju Kyungsoo yang sudah duduk di dalam mobil polisi. Seorang kepala polisi menghampirinya.

"Kita apakan dia, tuan?"

Jongin menatap Kyungsoo yang duduk terpaku melihat perban di pergelangan tangannya menghela nafas.

"Cukup penjarakan dia, sesuai hukum yang berlaku. Tidak perlu ada persidangan, pihak korban memutuskan untuk tidak berhubungan dalam kasus ini. Kasus ditutup." Ucap Jongin.

"Baik tuan. Akan saya laksanakan." Ucap polisi itu lalu mengundurkan dirinya.

Jongin tahu mungkin ini terlihat seperti permainan kotor ala orang kaya di jenjang hukum, namun melihat kondisi ini, Jongin rasa ini yang terbaik. Tidak akan ada masa lalu yang harus di putar kembali. Cukup dengan menutup masa lalu itu dan menuju ke masa depan yang telah menunggu mereka.

Jongin menghampiri Kyungsoo dan mengetuk jendela mobil polisi itu untuk menarik perhatian Kyungsoo. Pria itu menoleh dan Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan isyarat.

Turunkan kacanya...

Kyungsoo menatap Jongin dengan datar lalu tangannya yang terborgol itu meraih tombol jendela mobil itu dan jendela itu terbuka setengah.

"Jika kau kesini untuk memakiku, lakukanlah. Aku yakin-". Ucapan Kyungsoo terpotong oleh Jongin.

"Aku kesini bukan untuk memakimu." kata Jongin sambil tersenyum teduh.

Kyungsoo menatap Jongin dengan datar lalu membuang tatapannya. Tangannya mengusap pergelangannya yang terbalut perban. Jongin sadar, Kyungsoo hanya terbakar oleh amarah dan obsesi semata dan ketika ia tertangkap dan terkurung lagi, ia hanya perlu menimbun amarah yang masih membara karena ketidakadilan yang ia alami di hidupnya dan menunggu sekali-kali amarah itu meledak lagi.

Tidak ada yang bisa disalahkan, semua mempunyai porsinya masing-masing. Semua kekacauan ini hanya diperburuk oleh dendam. Ketika sudah mencapai titik klimaks, hanya puas yang terasa sesaat namun apakah ia akan merasa puas hingga akhir hidupnya? Atau mungkin akan merasakan penyesalan yang tak berakhir?

"Berhenti bersikap baik, pergilah." ujar Kyungsoo sambil menatap pergelangan tangannya.

"Aku-

Kyungsoo menoleh dengan cepat dan menatap Jongin dengan mata berkaca-kaca.

"BERHENTI, KUMOHON. PERGILAH, pergilah..." teriak Kyungsoo sambil menatap Jongin dengan air mata yang mengalir.

Jongin terdiam dan kaca mobil polisi itu kembali naik. Kyungsoo menundukkan kepalanya dan air matanya membasahi perban itu. Jongin menghela nafasnya dan berjalan meninggalkan mobil itu.

Entah mengapa hatinya merasa sakit melihat hal ini.

Bukankah semuanya akan berjalan dengan baik sekarang?

Entahlah, semua orang hanya bisa menggantungkan harapan.


To be Continued


A/N

Alooo semua :3

HNY fellas~

Hehe maaf baru nongol :D Aku saranin kalian baca chapter sebelum kalo lupa :(

Luv u all

tengkiu udah nungguin aku, setelah work ini aku bakal up story baru...

Didukung ya fellas, tengkiu so much :D

aku bakal update rutin, tungguin ya...

Babai fellas...

Luv u...