Chapter 15
Epilog
Dunia Mortal beberapa tahun kemudian.
.
.
Kiba dengan geram membangunkan teman sekamarnya, Matahari sudah tinggi dan Kakashi Hatake tak akan memberi ampun jika mereka terlambat ke pertemuan. Dengan kencang pemuda Warewolf itu mengguncangkan tubuh Natuto.
"Hm…Jangan lakukan itu Hime-chan aku tak tahan." Naruto malah ngelindur tidak karuan dan memeluk erat bantal gulingnya.
"Ah…Terlalu." Ujar Kiba kesal, Ia pun mengeplak kepala pirang temannya.
"Whoa…Sakit." Naruto bangun seketika sambil memegangi kepalanya yang benjol.
"Cepat siap-siap ke pertemuan."
"…tapi aku merasa lelah sekali, padahal aku tidur cepat tadi malam."
"Itu yang terjadi kalau kau bermimpi melakukan hal-hal mesum dengan gadis suci."
"Bagaimana kau tahu?"
Kiba menunjuk boxer Naruto yang basah dan mengerucut bak tenda di bagian depannya.
"Mimpinya benar-benar intens dan nyata. Tahu."
"Mungkin kau baru saja disambangi oleh Succubus yang berubah jadi Hinata. Mimpi basah tak membuat orang lelah."
"Ah…Iblis-iblis itu masih saja menggangu."
"Menggangu? Mereka memberimu mimpi indah, Bro."
"Berisik, Aku mau mandi dulu." Naruto melangkah ke kamar mandi sambil menggaruk pantatnya yang gatal. Gara-gara mimpi konyol itu sekarang dia jadi tak bisa berpikir jernih soal Hinata yang lugu.
Tiga tahun sudah lewat semenjak pertempuran dengan para Iblis. Dunia berjalan seperti biasa. Manusia masih tidak sadar akan keberadaan mahkluk supernatural. Sai menjalani kehidupannya menjadi asisten CEO Itachi Uchiha dikehidupan yang damai, Sesekali ia berpatroli melerai pertikaian kecil antara sekelompok warewolf muda dan bangsa Vampire. Ino tentu saja tidak terlupakan dari pikirannya, tapi tak ada jejak tersisa dari sang Succubus.
Sai meneguk gelas berisikan darah golongan O negatif. Hari ini merupakan pesta pernikahan Sasuke dan Sakura. Penyihir dan Vampire yang saling membenci bersatu dalam sebuah ikatan cinta. Mengapa hal seperti ini tak terjadi padanya? Apa karena Iblis dan Vampire berbeda dunia? Pria berwajah pucat itu mendesah.
"Kau memikirkan Ino lagi ya?"
"Apa kau tak memikirkannya juga? Dia sahabatmu."
"Sai, Ino memutuskan untuk melindungi kita semua. Kau sedih pun tak ada guna nya. Dia tak akan kembali. Apa kau mau berduka selama satu milenia untuknya? Ino tak akan menyukainya."
"Kalu begitu aku bersulang untukmu dan Sasuke dan mengapa pula kau tidak mau menjadi vampire Sakura, sebagai manusia hidupmu terbatas. Suatu hari kematian akan memisahkan kalian berdua."
"Cinta itu menembus batas dan waktu. Jika aku mati Sasuke akan menemukanku lagi di kehidupan yang lain. Siapa yang menduga dikehidupan yang lalu jalan kami pernah berpapasan."
"Kau pikir Ino akan terlahir kembali?"
"Aku rasa begitu. Kita semua berputar dalam lingkaran reinkarnasi." Ucap Sakura bijak.
Ketika matahari menyingsing. Sai mencoba memejamkan mata. Selama ini ia tak pernah mencoba tidur. Gorden gelap di kamarnya menghalau sinar matahari. Mendadak ia merasa lelah merindukan dan memikirkan Ino. Sesaat setelah perang itu ia sempat bertemu Gaara lagi hanya untuk mendengar kaum Succubus tak pernah kembali. Ras iblis itu telah punah.
Sai mengatur nafasnya dengan pelan dan teratur. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat pikirannya menjadi statis. Tubuhnya terdiam tak bergerak di atas ranjang. Jantung Vampire memang tak berdetak, pria berwajah pucat itu pun tertidur.
"Ino?"
"Ya ini aku."
Wanita cantik berambut pirang yang Sai rindukan muncul di hadapannya. Mengenakan gaun merah dengan bahan ringan dan menerawang Ino mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Sai. Vampire itu tertawa lepas.
"Ini tak nyata bukan? Aku yakin ini hanya fragmen keinginanku."
Ino membalas dengan senyum. "Nyata atau tidak, apa itu penting." Ia perlahan menggerakkan telapak tangannya dengan menggoda di bahu Sai. Vampire berambut hitam itu meraih tangan Ino dan mengecup buku-buku jari perempuan itu.
"Jika aku tahu aku akan melihatmu dalam mimpi. Aku pasti mencoba tidur. Dirimu yang asli tak akan mencoba menggodaku. Ino kau mencintai Gaara."
"Kau tak salah." Balas Ino. "tapi, aku juga menyukaimu."
Sai sadar mungkin apa yang ia dengar dan rasakan sekarang hanya sekedar mimpi yang berasal dari keinginannya, tapi sentuhan Ino terasa begitu nyata. Seakan dia memang ada di sana bersamanya.
"Tidakkah kau merasa buruk?" tanya Sai pada Ino yang dilihatnya.
"Sejak kapan Iblis merasa buruk melakukan hal yang menurut para manusia sebuah dosa? Scubbus tak bisa menjadi milik seseorang. Kami membutuhkan nafsu manusia untuk hidup. Apa kau paham?"
"Aku mengerti. Kau tak bisa aku miliki." Ujarnya sedih. Entah sejak kapan ruang kosong dalam mimpinya berubah menjadi kamar tidur. Sai menemukan ranjang besar berada di antara mereka.
"Kau salah." Tiba-tiba Ino mendorongnya dengan agresif dan membuatnya terjatuh di kasur. "Ini mimpimu dan aku bisa menjadi apa pun yang kau inginkan." Lanjut wanita pirang itu menindih Sai tak memberi kesempatan untuk berpikir panjang.
Sai tersenyum simpul menatap mata aqua marine sang Succubus. Ino ada benarnya. Satu tangan sang Vampire melingkari pinggang Ino dan tangan lainnya menyelinap masuk dari belahan gaun yang tinggi. Tangan dinginnya membuat kontak dengan lapisan kulit bak satin. Rasanya begitu nyata.
"Jadilah kekasihku."
"Seperti keinginanmu." Ino mendaratkan ciuman di bibir Sai. Sang Vampire merasa tak ingin bangun lagi.
.
.
Temari terlihat menggerutu. Ia membawa gulungan gulungan berisi perjanjian antara bangsa Iblis dengan vampire ke ruang kantor adiknya. Di sana ia tak menemukan siapa-siapa.
"Ke mana Gaara?" tanyanya pada seorang pengawal yang berjaga di lorong.
"Maaf, Putri. Kami tak melihat Demon Lord dari tadi."
"Kau mencariku, Temari." Gaara melangkah dengan tegap. Jubah hitam berdesir mengikuti irama langkah kakinya.
Alis Temari bertaut. "Apa kau pergi ke lembah itu lagi? Sia-sia Gaara. Siapapun yang terjun ke lubang itu tak akan kembali."
Gaara duduk di kursi kerjanya. Wajahnya yang dingin dihiasi sorot mata melankolis yang tak layak dimiliki oleh seorang penguasa dunia Iblis. "Aku masih ingin berharap."
"Adikku, Aku sama sekali tak mengerti perasaanmu."
"Perasaan seperti ini bukan hal yang bangsa Iblis bisa mengerti. Apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Ini perjanjian dengan bangsa Vampire. Berkat Ino semua kehancuran bisa dihindari dan kita tak akan terlibat perang dalam waktu dekat, tapi ada perseteruan antara p Iblis."
"Aku akan membiarkan mereka, Selama konflik ini bersifat horizontal tak jadi masalah. Aku berjanji pada Ino untuk melindungi dunia mortal. Jika mereka berani menerobos portal dimensi tanpa seizinku, barulah aku perlu bertindak. Apa ada hal yang lain?"
"Tidak ada. Kalau begitu aku pergi."
Gaara menghela nafas panjang. Dalam ruang kerja itu ia meletakkan lukisan sang Succubus yang dia bawa dari dunia manusia. Ia berdiri untuk menyentuh pipi sosok dalam potrait yang tak berbicara. "Kau pasti akan berkata perasaan sentimental seperti ini tak cocok untukku." Gaara menjalani kehidupannyan dengan baik, hanya ia menyadari kekosongan yang ditinggalkan oleh Ino. Setiap hari ia akan berdiri di tepi lubang. Menatap ke dalam ruang hampa. Samar-samar ia masih bisa merasakan energi Ino, atau mungkin itu hanya khayalannya. Kadang terbesit keinginan untuk terjun bebas kedalam lubang itu akan tetapi ia teringat janjinya. Semua hal yang Ino ingin lindungi akan dia lindungi. Iblis tak memiliki air mata, tapi Gaara memilih mempertahankan sosok manusianya meski ia di dunia Iblis. Saat kesedihan perlahan mengerogotinya, ia tak menyembunyikan perasaan itu. Tanpa sang Succubus ia tak merasa utuh.
.
.
Terbangun dari tidurnya Sai merasa sangat bahagia. Ia memutuskan untuk membuat permohonan pada Itachi. Hidup beratus tahun sudah membuatnya bosan, jadi ia akan memohon untuk tidur panjang. Mungkin dengan begitu ia bisa memimpikan Ino dan saat ia terbangun dunia telah berubah dan ia akan menemukan Ino-nya Di suatu tempat dan sudut dunia seperti halnya Sasuke menemukan Sakura.
"Lord, Aku mohon kabulkan permintaanku." Sai berlutut di depan atasannya.
"Kau sudah begitu setia pada klan Uchiha dan telah membantuku dalam banyak hal. Jika memang niatmu begitu aku akan melakukannya."
"Maaf, Aku tidak bisa menememani anda lagi."
Itachi merangkul Sai, "Aku akan merasa kehilangan. Kau adalah keluarga. Mungkin kita akan bertemu lagi ketika kau bangun. Aku akan mempersiapkan upacaranya."
Dengan persetujuan Lord, Sai terbaring dalam peti matinya. Menutup mata hingga kegelapan dan keheningan menyapa. Ini adalah sebuah awal dari tidur panjangnya. Kesadarannya menghilang, bersamaan dengan energi kehidupannya yang dikunci dengan sebuah sihir oleh Itachi.
"Kau tahu mengapa Sai menginginkan ini?" Tanya Itachi pada Sasuke.
Pria bersurai raven itu mengangkat bahu. "Sejak kembali dari dunia Iblis ia tak pernah sama."
"Aku harap saat ia terbangun ia akan menemukan tujuan." Itachi hendak menutup peti mati itu. Sesuatu yang aneh terjadi. Tubuh Sai berubah menjadi abu. "Tidak mungkin. Ia seharusnya tertidur bukan mati." Sang lord kebingungan.
Sasuke hanya mentap kosong ke dalam peti. Ia tak punya penjelasan dan berharap jika memang kematian yang diinginkan rekan nya.
.
.
Gaara berdiri di tepi jurang, mencoba mencari dasar dari lubang yang tak tampak.
"Ino, Kalau kau memang lenyap kenapa aku merasakan sedikit pancaran energimu." Ujarnya pada kesunyian.
Gaara merasakan sesuatu mendekatinya, sebuah jiwa dalam wujud cahaya yang berpendar. Ia membuka telapak tangannya, menyambut roh mahkluk yang awalnya immortal. Ia menepati janjinya dengan menunda Mengambil nyawa vampire itu, tapi malah Jiwa Sai datang sendiri padanya. Gaara menarik nafas sembari memendam sedikit rasa iri. Ia harus memutuskan apa yang musti dia lakukan dengan jiwa Sai. Dia bisa saja membuat Sai menemaninya dan merasakan kegetiran yang sama karena kehilangan Ino selama-lamanya di sini. Meratapi cinta yang hilang.
"Sepertinya kau lupa dengan perjanjian kita. Jiwamu sepenuhnya milikku, tapi Ino memintaku membiarkanmu hidup. Ketika kau memilih untuk tidur selamanya tentu jiwamu akan datang padaku."
Gaara mengengam cahaya dalam telapak tangannya. Meski ia adalah iblis, Ia tak ingin berbuat picik dan menghukum Sai. Ino juga memiliki perasaan untuk Sai dan bila ia mencintai Ino, dia harus menghargai juga orang-orang yang Ino anggap penting. Seakan sedang bercakap dengan jiwa Sai Gaara kembali berbicara. " Aku mengerti pilihanmu, jika ada yang mengerti penderitaanku saat ini, Mungkin itu adalah kau. Kau juga mencintainya seperti diriku, tapi tidak sepertimu. Aku masih punya banyak pekerjaan untuk bisa menyusulnya."
"Tak ada gunanya bagiku menyimpan jiwamu di sini. Ino akan marah bila aku menjadikanmu Husk dalam istanaku." Gaara melepaskan cahaya itu dan menjatuhkannya dalam lubang. "Pergilah Sai, Kau mungkin lenyap, kau mungkin akan terlahir kembali. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu, tapi yang jelas kau tak perlu lagi merasakan kepedihan dan jika kau benar-benar beruntung kau mungkin bertemu dengannya Di waktu dan dunia yang berbeda."
"Demon Lord, Nona Temari meminta aku mencari anda untuk memberitahukan sekelompok Succubus terlihat di neraka ke tujuh."
Kedatangan penasihatnya mengalihkan Gaara dari perasaan melankolisnya, tapi mendengar kata Succubus ia semakin berharap energi Ino yang begitu samar ia rasakan bukan sekedar fatamorgana. Gaara tak perpikir lama untuk pergi. "Aku akan memeriksanya segera."
Berjam-jam Gaara mengintari area neraka level tujuh, sebuah tempat yang tak pernah dia hiraukan karena ini merupakan domain Iblis rendah yang tak memiliki potensi ancaman. Akhirnya ia menemukan kerumunan. Tiga orang Succubus yang kewalahan menghadapi sekumpulan Iblis bayangan. Dia kecewa tak menemukan sosok berambut pirang. Jatuh kedalam lubang itu, Ino tentunya tak akan terlahir kembali. Apa yang dipikirkan?
Merasakan aura Gaara, Para Iblis yang berbentuk sosok bayangan hitam segera diam dan bersujud. Tiga Succubus itu kebingungan.
"Mengapa kalian tak berlutut di depan Demon Lord." Gaara menggunakan auranya untuk menakuti para Succubus yang jelas-jelas tak punya ide siapa dia. Dugaannya mereka adalah Iblis yang baru terlahir. Iblis tak bereproduksi, seks hanya sebagai sebuah kegiatan yang optional. Iblis yang baru terlahir dari Iblis yang telah mati dan terkadang beberapa Iblis kuat masih punya ingatan samar tentang siapa mereka. Seperti halnya Ino dan Deidara yang sadar bahwa mereka adalah perwujudan baru dari pemimpin kaum Succubus sebelumnya. Pengecualian hanya bagi Iblis-Iblis yang dilempar ke lembah ketiadaan. Tak ada yang tahu kelanjutan nasib mereka.
"Siapa berani menganggu saudari-saudariku!" Suara lantang memecah kerumunan, diiringi dengung kepakan sayap Succubus.
Aura itu dan suara jernih bak lonceng di musim panas. "Ino" Kerinduan Gaara terasa berakhir. Dia ingin merangkulnya, tapi kebingungan yang tampak di wajah Ino membuat Gaara menahan diri. Apa Ino tak mengingatnya, tak mengenalinya? Bibir Gaara mengatup tipis. Meski seandainya Succubus ini adalah Iblis yang terlahir dari jiwa Ino dia bukan Ino-nya. Awan gelap kembali mengerubungi hati Gaara, apa lah gunanya rupa yang sama, tapi tak memiliki ingatan tentang mereka.
Sucubbus berambut pirang itu tertegun kemudian gemetar, kepalanya serasa pecah. Mata hijau pria itu berkelebat dalam ingatan yang bukan miliknya.
"Aku tak akan membiarkan mereka menyakitimu"
"Aku percaya kau ini kuat."
"Hey, Kita bisa hancurkan mereka semua bila kau mau."
"Mengapa, Mengapa kau mengkhianatiku? Ino Mengapa."
Succubus pirang itu tersentak, sebuah kesadaran baru mendadak menghuni pikirannya. Perlahan dia ingat semuanya, termasuk ketika jiwanya pecah menjadi beberapa bagian saat ia terjun dalam lubang tak berdasar itu. Dia seharusnya sudah lenyap.
"Gaara?"
Iblis berambut merah itu tersenyum. Kali ini ia berjalan mendekati Ino tanpa keraguan.
"Kau mengingatku? Apa yang terjadi? Mengapa kau tak kembali padaku dan bersembunyi di sini."
"Aku sebenarnya telah mati, Aku tak ingat apa-apa sampai kau menyebut namaku. Ini bukan reinkarnasi. Aku adalah Ino, tapi…" Ino menatap telapak tangannya. Kekuatannya mengalir pelan, nyaris tak terasa. Bukankah dia ratu Succubus.
"Kau menjadi lemah." Gaara meraih dan memeluk Ino. "Itu bukan masalah, Kau punya banyak waktu untuk kembali mengumpulkan kekuatanmu. Jiwamu yang terpecah tak akan kembali, bukan berarti kau akan seperti ini selamanya."
"Gaara, apa kau terus mencariku?"
"Selama ini aku merasakan sedikit pancaran energimu dan kupikir itu hanya halusinasiku, tapi aku masih berharap untuk menemukanmu meski seandainya kau menjadi sososk yang berbeda dan tak lagi mengingatku. Aku sangat beruntung. Kau terlahir kembali dengan ingatan utuh, seperti tak terjadi apa-apa."
"Aku rasa pada akhirnya Lilith melindungiku. Ia tak menginginkan anak-anaknya terhapus dari dunia begitu saja. Gaara, aku minta maaf telah menyulitkanmu selama ini."
"Kalau begitu, Jangan meninggalkan aku lagi."
"Aku berjanji akan menjadi partner mu selamanya." Ino mencium Gaara.
.
.
.
Dua puluh tahun kemudian.
Seorang lelaki berambut merah duduk di café menyeruput kopinya dengan santai. Di hadapan pria itu seorang wanita pirang sibuk mengaduk-aduk gelas parfait nya.
"Mengapa kau mengajakku menyelinap ke dunia mortal?" ucap Ino yang tampak normal dalam wujud manusianya. Tak ada tanduk, sayap, ekor. Dia terlihat seperti wanita cantik pada umumnya.
"Kita memang kaum iblis tapi sekali-kali menikmati hiburan manusia cukup menyenangkan. Apa kau tak suka kencan denganku?"
"Tentu saja aku suka. Melelahkan terus menerus berhadapan dengan kekacauan di dunia Iblis. Mengapa kaum kita begitu suka mencari masalah?" alis Ino berkerut.
"Karena kita hidup dari itu."
"Haah… memikirkan apa yang terjadi membuat aku lelah."
"Jangan Khawatir, Kita selalu bisa mengalahkan kaum pemberontak. Sudahlah jangan bicarakan tentang pekerjaan. Hari ini tentang kau dan aku."
"Hm.. apa yang kau inginkan? Sesi panas yang menguras semua energimu? Kau tahu betapa berbahayanya bila ada yang tahu Demon lord kehabisan tenaga hanya untuk bersenang-senang dengan Succubus. Bagaimana bila ada yang menantangmu?"
"Seks membuatmu menjadi kuat kan? Bila ada musuh yang datang kau bisa menghabisinya untukku. Aku tak pernah perlu khawatir."
"Dasar kau ini."
"Ayo kita jalan sebentar? Sepertinya bunga-bunga di taman sudah mekar."
Mereka berjalan bergandengan tangan dan berpapasan dengan sepasang remaja.
"Sai-kun…tunggu." Teriak gadis ber- pony tail pirang.
Ino menghentikan langkahnya. "Wajah anak itu mirip denganku."
Gaara ikut mengamati dengan berminat. Tak lama mereka melihat pemuda berambut hitam berkulit pucat mendekati sang gadis.
"Ino chan, mengapa kau mengikutiku?"
"Jangan Ge-er, Buku gambarmu ketinggalan di tempat kursus jadi aku mengejarmu."
Gaara tersenyum melihat kedua remaja itu berlalu. "Sepertinya Sai menemukanmu juga."
"Eh…?"
"Aku melemparkan jiwa Sai ke lubang itu. Ku pikir akan lebih baik baginya untuk berinkarnasi, melupakan semuanya dan memulai kehidupan baru. Tapi sepertinya kau menyukai vampire itu juga. Serpihan jiwamu menemukannya."
"Cemburu?"
"Tidak, Sangat tidak logis berharap seorang Succubus bisa setia. Kau bukan milikku seorang. Kau fantasy semua pria."
"Yah, Aku memang menggoda semua lelaki dalam mimpi mereka. Tapi kenyataannya hanya kau saja yang bisa menyentuhku."
"Kau di sisiku. Aku hanya membutuhkan itu."
Ino tersenyum. "Demon Lord ternyata bisa merayu."
TAMAT…
