"Hei, senang melihatmu lagi."

"Oh, halo. Selamat pagi, Imayoshi-san."

Setelah meliburkan diri selama dua hari untuk sejenak merasakan pernikahan yang bahagia bersama Taika, Daiki akhirnya kembali ke kantornya.

"Bagaimana dua harimu? Apa ada luka lagi?" sang manager bermata sipit menatapnya sembari tersenyum.

"Sempat ada, tapi untungnya tidak parah." Daiki mengusapkan jemarinya yang memar ke kain celana kerjanya. "Bagaimana produksi selama aku absen? Semuanya baik-baik saja?"

"Aman. Kamu tidak perlu khawatir. Lagipula kamu cuma absen dua hari kan."

"Sudah cukup untuk membuatku kehilangan uang makan minggu ini, haha."

"Hei, hei, setidaknya kamu tidak kehilangan pekerjaanmu karena absen yang seringkali tak terjadwal dan kadang melebihi jatah cuti tahunanmu, kan?"

Daiki tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda berpamitan sebelum memasuki ruangannya.


Daiki baru selesai menyortir beberapa proposal yang harus ia tandatangani ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Hanya managernya yang berkewenangan untuk memasuki ruangannya tanpa mengetuk, tapi ketika Daiki mengangkat kepalanya untuk menyapa, ada tiga orang yang berada di ambang pintunya. Sang manager bersama asistennya dan seorang lagi yang tidak ia kenal.

"Aomine, Susa-kun dan aku memutuskan untuk memberikanmu seorang asisten." Shoichi Imayoshi berkata dengan senyum tipis di bibirnya. "Aku yakin kamu tidak akan keberatan."

"Asisten?" Daiki membeo. "Tentu saja tidak, Imayoshi-san. Terima kasih banyak sudah memikirkan saya."

"Haha, tidak usah begitu. Semua ini kan untuk perusahaan juga."

Daiki berdiri, lalu berjalan mendekati tamunya, seorang pria muda yang tampak seusia dengannya.

"Salam kenal, saya Aomine Daiki." Daiki tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Wakamatsu Kousuke." Pria itu menjabat tangannya, tapi tidak membalas senyumnya. Tidak masalah. Toh hanya untuk formalitas.

"Dia akan kutempatkan di ruanganmu agar kamu tidak kesepian, haha." Tawa kering Shoichi berhenti ketika asistennya berdeham sembari melihat arlojinya. "Ah, terima kasih sudah mengingatkanku, Susa-kun. Ada tempat yang harus aku tuju, jadi silakan gantikan aku dalam memberikan brief kepada Wakamatsu-kun tentang apa yang harus dia kerjakan."

Aomine dan asisten barunya mengantar kedua pria di hadapan mereka dengan anggukan singkat.

Karena tidak ada suara lain yang muncul di ruangan itu selain suara napas mereka, mau tidak mau Aomine menatap pria di sampingnya, hanya untuk mendapati pria itu sudah lebih dulu menatapnya.

Dan ketika mata mereka bertemu, Aomine tahu.

Pria ini adalah masalah.