Let Me Love You

KaiSoo

Genderswitch!

.

.

.

.

.

Chapter 13a

.

.

.

.

.

"Kau tidak pulang?"

"Hm?" Jongin menatap Kyungsoo heran. Oh ayolah, bukankah beberapa saat lalu perempuan ini juga yang menangis di koridor dan sungguh membuat perasaan Jongin kalang kabut melihatnya.

"Maaf, aku terlalu terbawa emosi. Aku terkejut mendapati diriku seorang diri berada di rumah sakit." Desis Kyungsoo, sungguh ia masih merasa malu untuk bertemu Jongin. Dan sejenak ia merutuki kebodohannya yang sesaat lalu meraung didalam pelukan pria itu.

"Apa ini bentuk kemarahanmu karena aku meninggalkanmu seorang diri di rumah sakit?"

Kyungsoo menggeleng, "Tidak, bukan."

"Maksudku, kau bisa pulang dan beristirahat dirumah," imbuh Kyungsoo.

Sedangkan Jongin hanya menghela napasnya berat. Ia tidak bisa menebak bagaimana jalan pikiran Kyungsoo. Perlahan dirinya menuju sofa yang berada tepat disamping jendela kaca.

"Aku bisa berbaring disini," Ujar Jongin singkat.

"Tapi itu terlihat tidak cukup nyaman?"

Jongin memandang Kyungsoo yang terduduk ditepi ranjang dengan kakinya yang menggantung. "Sofa ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya aku tak tertidur di lantai 'kan?"

"Aku bisa menjaga diriku‒"

"Bisakah kau tidak mendebatku, Kyungsoo?" Dengan segera Jongin memotong kalimat Kyungsoo. Suaranya sarat akan rasa lelah, "Dan berhentilah mengambil keputusan secara sepihak mulai saat ini,"

Kyungsoo bungkam. Bohong jika ia tahu maksud dari kalimat Jongin yang terakhir. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sejak kapan ia mengambil keputusan secara sepihak?

"Tidurlah, selamat malam,"

"Selamat malam, Jongin." Sahut Kyungsoo pada Jongin yang telah berbaring. Matanya lekat menatap Jongin yang sudah menutup kedua matanya dengan salah satu lengan diatasnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua buku tangan Jongin mengepal. Wajahnya mengeras menatap penuh kebencian pada salah satu bayi yang masih merah di dalam sana.

"Kau tahu. Harusnya kau tidak pernah ada. Caramu datang sudah sangat menyiksa Kyungsoo." Desis Jongin.

"Jangan membencinya, Jongin. Dia tidak pernah bersalah disini,"

Seketika Jongin tak terima menatap kakak tertuanya yang baru saja datang. "Kakak akan mengatakan bahwa aku yang bersalah disini,"

"Dia sudah terlahir. Bukan hal penting lagi untuk menyebut siapa yang benar-benar bersalah. Hanya kau yang tahu kebenarannya bagaimana dia ada,"

"Kyungsoo tidak akan sekarat jika tidak mempertahankannya."

"Kau khawatir pada Kyungsoo."

Itu sebuah pernyataan dari mulut Jaejoong, namun dalam hati Jongin membenarkan.

"Kau tahu alasan Kyungsoo mempertahankannya?" tanya Jaejoong.

Jongin tidak tertarik. Ia sungguh tidak peduli dengan alasan apapun.

"Bayi itu, menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki. Hanya dia yang memiliki hubungan darah dengan Kyungsoo. Mungkin kau lupa jika Kyungsoo yatim piatu."

Jongin menggeleng samar menanggapi kalimat terakhir kakakanya. Sedikit ia tahu jika Kyungsoo telah kehilangan ibunya beberapa bulan yang lalu. Rekan-rekan kerjanya sempat membahas kematian ibu Kyungsoo yang disebabkan oleh bunuh diri.

"Bisakah kau memakluminya? Hidupnya tidak seperti kita, yang memiliki saudara banyak dan orangtua yang masih lengkap." Ujar Jaejoong, tangannya secara perlahan menangkup kepalan tangan Jongin.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Bayangkan jika Kyungsoo tidak bisa diselamatkan? Bagaimana dengan bayi itu?" bayangan Jongin kembali berkelana pada kejadian semalam. Dimana bajunya telah merah oleh darah milik Kyungsoo. Rintihan kesakitan dari mulut Kyungsoo selama berada diatas gendongannya pun, seolah masih terdengar jelas ditelinganya.

Jaejoong tersenyum tipis, setidaknya dalam hati Jongin masih terselip perasaan peduli memikirkan bagaimana nasib bayi mungil itu jika benar-benar kehilangan ibunya. "Tapi nyatanya Kyungsoo selamat. Ia sudah sadarkan diri dan baik-baik saja,"

"Ayah dan ibu mungkin menyuruhmu menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab. Tapi jika kau memang tidak ingin, kau tak harus melakukan itu. Pernikahan tak bisa dipaksakan. Kau bisa bertanggung jawab dengan cara yang lain. Dengan tidak membenci kehadirannya,"

Jongin menatap kakaknya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

"Kini kau telah menjadi seorang ayah, Jongin. Kenyataan itu sudah tak dapat dirubah, darahmu mengalir ditubuhnya." Perlahan Jaejoong mengusap lelehan airmata milik adiknya. Ia paham bahwa saat ini Jongin mengalami kebingungan. Tapi bagaimanapun juga, Jongin harus bertanggung jawab atas semua kesalahannya pada Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin terperanjat. Terbangun dengan bermandikan keringat.

Ia tidak tahu sudah berapa menit ia lewati karena tanpa sengaja tertidur. Niat awalnya ia berbaring hanya untuk menghindari perdebatan dengan Kyungsoo. Ia tak ingin pikiran Kyungsoo semakin terganggu dan mengakibatkan kesehatannya menurun yang dapat berpengaruh pada janinnya,

Perlahan ia bangkit, berniat membasuh wajahnya sebentar sebelum suara tangis lirih Kyungsoo menarik perhatiannya.

Ada apa lagi?

Dengan pelan Jongin menepuk pipi Kyungsoo, takut menyentuh luka diujung bibir berbentuk hati itu akibat tamparan keras darinya. "Kyungsoo?"

Tak mendapat tanggapan apapun, ditambah dengan tubuh Kyungsoo yang semakin bergerak gelisah makin membuatnya khawatir. Jongin tidak yakin Kyungsoo sedang merintih kesakitan atau justru sedang mengalami mimpi buruk.

"Hei, Kyungsoo?"

"T-tolong selamatkan bayiku,"

'Bayi?' Dalam hatinya Jongin bertanya-tanya.

"Kyungsoo!"

Tak hentinya Jongin menepuk kedua pipi Kyungsoo.

"Do Kyungsoo! Kau bisa mendengarku?"

Teriakan Jongin membuahkan hasil. Kyungsoo membuka kedua matanya.

"Jongin?"

"Kau baik-baik saja?"

"Kau disini?"

"Huh?" Jongin bingung tentu saja. Ia yang bertanya dengan khawatir justru kembali mendapat pertanyaan.

"Aku tidak tahu. Itu terasa sangat nyata. Aku melihat diriku‒maksudku Kyungsoo. Ada darah dimana-mana dan—"

Tanpa pikir panjang, Jongin segera menuangkan air pada gelas yang ada diatas nakas dan menyerahkannya pada Kyungsoo yang terlihat kacau. "Minumlah,"

Setelah menelan seteguk dan merasa sedikit tenang, Kyungsoo segera menjelaskan lagi apa yang baru saja dialaminya, "Kyungsoo. Aku melihatnya menangis, darah tercecer disela kakinya—"

"Kau hanya bermimpi buruk,"

"Kau juga disana. Kau yang membawanya ke rumah sakit. Dia terlihat merintih didalam gendonganmu. Aku melihatnya menolak untuk kau temani saat ia berada diruang bersalin." Kyungsoo menjelaskan dengan cukup detil, itu lebih dari sekedar mimpi buruk baginya. Semua terasa tampak nyata dimatanya.

Lain dengan Kyungsoo. Bagi Jongin, apa yang didengarnya dari mulut Kyungsoo seolah melengkapi sebagian mimpi yang juga ia alami beberapa saat lalu.

Ia ingat wajah Jongin yang kaku di depan kaca besar ruang bayi. Ditambah dengan kalimat yang diucapkan oleh Jongin, 'Kyungsoo tidak akan sekarat jika tidak mempertahankannya.'

Seketika tubuh Jongin menegang.

Dan jika itu benar seperti dugaannya. Maka yang dilihat Kyungsoo di dalam mimpinya memang bukanlah sekedar mimpi. Dan juga apa yang telah ia lihat. Itu semua adalah kilasan-kilasan kejadian pada masa dulu. Hari dimana Jongsoo terlahir.

Awal mula kebencian Jongin pada balita tak berdosa itu. Darah dagingnya sendiri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak ada yang tertidur setelah itu. Meski waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. Baik Kyungsoo dan Jongin seolah kehilangan rasa kantuk setelah mimpi yang mereka berdua alami.

"Jongin. Boleh aku bertanya?" suara Kyungsoo memecah keheningan. Matanya menatap lurus langit-langit kamar dari tempatnya berbaring.

"Hm,"

"Apakah kita sungguh akan bercerai?"

Jongin yang juga kembali berbaring diatas sofa terkejut. Ia sungguh tak mengharapkan pertanyaan itu secepat ini. Jongin terdiam. Hatinya mengalami kebimbangan.

"Tak apa jika kau tidak ingin membahasnya sekarang,"

Jongin tak pernah mencintai Kyungsoo jika ia boleh jujur. Rasanya sedikit mengerikan ia harus membesarkan seorang anak bersama seseorang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Jika itu benar, dan kau akan membawa Jongsoo. Apa aku masih bisa menemuinya? Meskipun aku membawa adiknya?" Kyungsoo memberanikan diri menatap manik sayu milik Jongin.

Tatapan mereka kini bersibobrok. Meski dengan jarak yang tidak dekat, Jongin masih mampu melihat sepasang mata bulat Kyungsoo hampir mengeluarkan air mata.

"Kyungsoo.."

"Saat aku tiba-tiba merindukannya, bolehkan aku menemuinya?"

Jongin bangkit untuk mendudukkan dirinya. Manik matanya menatap dalam mata Kyungsoo. "Apakah kemarin kau sangat tersiksa, Kyungsoo? Apa aku sudah sangat melukaimu?"

"Hm?" tanya Kyungsoo kembali.

"Saat aku memintamu pulang seorang diri tanpa Jongsoo. Apa kau menangis semalaman? Apa itu sangat menyakitkan untukmu, Kyungsoo?"

Kyungsoo mengangguk pelan dengan kepala menunduk. Tebakan Jongin tepat sasaran, "Aku mungkin miskin dan tidak memiliki apapun. Tapi baik Jongsoo dan calon adiknya, saat ini mereka adalah anak-anakku juga. Ijinkan aku membawa salah satu dari mereka. Mereka adalah anggota keluargaku, hanya mereka yang memiliki hubungan darah denganku,"

'Hidupnya tidak seperti kita, yang memiliki saudara banyak dan orangtua yang masih lengkap.'

Seketika Jongin teringat dengan salah satu ucapan kakaknya.

"Kau tidak harus melakukan itu. Kau ibunya, kau tak perlu memohon untuk bertemu putramu,"

Kyungsoo sedikit lega mendengar itu. Namun ia tak mau terlalu senang. Jongin tak menjelaskan apapun. Ia masih belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Bagaimana jika sebenarnya Jongin tetap ingin bercerai?

"Kita akan tetap seperti ini, Kyungsoo. Setidaknya demi anak-anak."

Jawaban yang dilayangkan Jongin seolah mampu menjawab segala ketakutan di benak Kyungsoo.

"Kau bersedia berkorban untuk mereka?"

"Berkorban?"

"Kau mengorbankan perasaanmu untuk terus bersamaku demi anak-anak. Aku menyadari kita tidak saling mencintai disini, aku juga tidak meminta lebih dari itu. Tapi apakah tidak menyakitkan bagimu?"

Perlahan Jongin meraih tangan kanan Kyungsoo untuk ia genggam, "Aku sudah bersumpah. Aku akan tetap disampingmu bersama anak-anak."

"Bahkan meski kita tidak saling mencintai. Aku yakin kasih sayang kita berdua terhadap anak-anak masih sama besarnya." Sambung Jongin dengan senyum yang merekah diwajahnya. Dan cukup mampu memancing Kyungsoo untuk ikut tersenyum.

Salah satu bebannya seolah terangkat.

Tak masalah meski hanya sementara. Kyungsoo sadar ia tak bisa memaksakan keadaan. Setidaknya sampai ia mampu menopang hidupnya dan calon bayinya.

Karena sesungguhnya, Kyungsoo-lah yang masih tidak siap untuk berpisah dengan Jongsoo, Jongin, dan juga keluarganya yang hangat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC