Daylight Daybook

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fiksi ini ditulis oleh Haruko3349 dengan mengambil prompt "Cottagecore"

(Words count: 982)

Warning : SabiMako! AU! Reincarnation.

No commercial profit taken.


.

Semilir angin bertiup lembut membelai helaian rambut persik dalam kabut tebal yang menyelimuti kegelapan. Binar cahaya rembulan tersembunyi di balik gumpalan awan di angkasa. Bersama aroma anyir dari beberapa bercak kemerahan pada permukaan tanah yang mendominasi penciuman.

Kaki melangkah cepat, mengayun sebilah katana yang berkilau cerah memantulkan cahaya. Dari balik topeng rubah putih, terukir bekas luka di pipi. Bara amarah tampak jelas pada sepasang mata lavender yang tersembunyi di balik kelopak.

Sabito memandang benci makhluk besar, bersyal otot kulit dengan mata merah nyalang yang sedang menggeram dan memukul ke segala arah.

Tubuh Sabito sudah sangat letih begitu pun gadis beryukata merah di atas sana yang masih sanggup melompat lincah, berusaha menebas tengkuk tebal yang terlindung di balik dekapan tangan. Akal sehatnya sudah hilang. Dan kaki terasa lumpuh, meski kuda-kuda pernapasan masih ia rapalkan bagai doa penyelamat.

Entah sampai berapa lama gadis bertopeng rubah itu akan bertahan. Sabito pun tak tahu. Namun saat tubuh itu melompat pasrah. Kilat amarah yang semula mendidih sampai ubun-ubun.

Perlahan mulai pudar bersama sorot rembulan yang mulai tersingkap. Bagai lampu panggung dengan seorang penonton tetap di bawah bayang pepohonan. Iblis itu tertawa seraya mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak Sabito pahami.

Walau tangannya sudah tak sanggup lagi mengayunkan pedang, setiap jengkal tubuhnya seakan remuk setelah menghantam pepohonan. Kini, ia tertidur di atas permukaan. Namun api dalam diri tak kunjung padam.

"Maafkan aku, Giyuu. Sepertinya teman baikmu ini tak bisa memenuhi janji," ujarnya lirih seraya tersenyum cerah penuh penyesalan.

Ia menarik napas dalam-dalam. Dipandangnya seorang gadis dalam rengkuhan tangan pucat, yang sudah tergulai lemas. Karena sejak tadi tubuhnya hanya dijadikan mainan hiburan sebelum akhirnya menjadi santapan pembuka.

Dengan langkah cepat, ribuan sayatan Sabito ukir di atas permukaan kulit, berharap gadis cantik itu dapat lepas dan melarikan diri dari jenggala jahanam. Namun hasilnya nihil.

Iblis itu masih berdiri tegap menertawakan ketidakmampuannya seiring dengan ribuan luka yang perlahan tertutup rapat. Sang iblis mengangkat Makomo yang masih menggeliat lemas. Bagai kelopak bunga mawar dalam genggaman, satu persatu anggota gerak itu ditarik hingga lepas dari tangkainya.

Air mata mengucur deras membasahi pipi bersama ribuan kelopak mawar merah yang jatuh ke permukaan tanah. Suara nyaring semakin terdengar bagai melodi pengiring maut yang paling menyakitkan. Sabito tak dapat berbuat banyak, saat tangan besar itu mencengkeram kuat puncak kepalanya.

Perlawanan terasa percuma, saat bilah katana yang sebelumnya menjadi pilar semangatnya untuk melawan. Kini telah patah menjadi dua bagian. Begitu pun harga dirinya sebagai seorang pria yang sudah hancur tak berbentuk.

"Ti-tidak, ja-jangan."

Tangan terulur berusaha meraih tubuh Makomo yang perlahan mulai merosot masuk ke dalam tubuh makhluk mengerikan itu.

Lantunan musik pilu masih jelas terdengar dalam gendang telinga. Saat taring tajam mulai menancap merobek permukaan kulit yang sudah tak utuh lagi. Rintihan panjang menjadi akhir saat kepalanya jatuh lemas tertelan ke dalam. Likuid merah kental keluar dari sudut bibir di balik lengan pucat.

"TIDAAK!"

Suara tenor terdengar nyaring seiring dengan rasa sakit yang teramat menghantam kepala. Kedua kakinya tak dapat lagi merasakan permukaan, hanya udara dingin yang tertiup kencang. Membuat seluruh sel dalam tubuhnya bergetar.

KRAAAK...

Semuanya menjadi gelap. Sabito tak habis pikir dengan permainan takdir yang berjalan begitu kompleks. Bahkan, tanpa tubuh kasarnya. Sabito dapat melihat dengan jelas tubuh Makomo yang tertembus cahaya di atas dahan pohon.

Dulu saat mereka masih merasakan pijakan di atas tanah. Sabito tak pernah melihat sosok Makomo secara utuh. Hanya mata biru dengan sorot teduh, menggetarkan jantungnya yang tak lagi berdetak.

Tawa renyah sang gadis masih menjadi simfoni memabukkan. Tanpa sadar tangannya menarik tubuh kecil itu dalam pelukan hampa. Bila kelopak matanya masih mampu mengeluarkan air mata.

Mungkin ia sudah menangis dalam diam, seraya menenggelamkan kepala di antara belahan bahu kecil itu. Menyesap dalam-dalam aroma tubuh yang tak pernah ia hirup. Selain aroma bunga dari pepohonan.


.

Kegelapan masih mendominasi dengan aroma wangi dari permadani warna-warni.

"Sabito, Sabito."

Suara lembut terdengar bersama belaian hangat di permukaan pipi yang telah basah oleh aliran air di pelupuk mata. Tirai penutup iris lavender telah terbuka sepenuhnya.

Dedaunan hijau di atas dahan tampak menari-nari, menyambut kesadaran yang telah hadir. Di atasnya, seorang wanita dengan binar mata secerah hamparan laut–yang memantulkan cahaya mentari di kala menjunjung tinggi–sedang tersenyum hangat menghapus jejak air mata yang masih tersisa di permukaan wajah.

"Syukurlah kau sudah sadar Sabito. Maaf sudah mengganggu tidurmu, ku pikir kau mimpi buruk jadi ku bangunkan," ujarnya menyisir helaian rambut persik.

Sabito menghembuskan napas lega. Diraihnya tangan kecil itu, matanya memandang lekat cincin yang melingkar di jari manis Makomo. Kemudian mengecupnya penuh kasih sayang.

"Tidak ada, kau benar itu hanya mimpi buruk."

Mata sewarna aqua mengerjap bingung. Membuat ekspresi gadis itu tampak lebih manis. Sabito tersenyum, meraih wajah Makomo mendekat. Kemudian menyatukan kedua ujung hidung mereka.

"Kalau diperhatikan begini kau tampak lebih cantik Makomo."

Sabito tertawa kecil. Saat mata biru itu kian membesar karena terkejut. Dikecup lembut permukaan plum–yang menjadi candunya sejak awal pertemuan–sebagai penutup percakapan.

Makomo segera menepis kedua tangan yang membingkai wajahnya. Hawa panas menjalar sampai daun telinga. Makomo tak tahu harus berkata apa. Dengan salah satu tangan terangkat menutup mulut. Ia bangkit meninggalkan pria yang sudah tergelak di tempat.

Di atas permukaan tikar rajutan bambu. Sabito meraih kamera digital di atas gulungan syal bermotif. Kemudian pergi menyusul sang pendamping.

"Otou-san kemari, ini sangat cantik."

Sabito menghampiri seorang anak kecil yang serupa dengannya. Dengan rambut hitamnya yang berkibar tertiup angin, anak itu sedang berjongkok di antara hamparan bunga putih yang begitu rapuh bagaikan gumpalan kapas. Serpihan bunga terbang menjelajah, menjadi bibit baru di suatu tempat antah-berantah.

Tepat, di samping sang gadis kecil. Makomo tampak terkagum-kagum memegang topi rajutannya dan dress putih yang hampir terbang terbawa angin.

Sabito mengangkat kamera digital lalu mulai mengabadikan momen berharga ini. Iris lavender itu memandang keduanya dengan sebuah senyum simpul. Kini, ia tinggal menanti perjalanan cinta dari sang sahabat.

Berharap kaset yang ia berikan tempo lalu dapat membuat hubungan keduanya mekar seperti bunga di musim semi.

"Kuharap kau juga dapat merasakan kebahagian ini Giyuu."


FIN!


.

A/N: Heyaa terimakasih sudah membaca sampai sini. Kali ini saya membawakan kisah Sabito dan Makomo yang tak kalah manisnya, saya harap cerita ini dapat menghibur.

Salam hangat, Haruko.