Berbagai hidangan memenuhi meja kayu panjang yang terletak di tengah halaman. Di sekitarnya, pita-pita serta balon warna-warni mendekorasi ruangan. Cuaca yang cerah pada siang hari mendukung semaraknya pesta kecil-kecilan yang sebentar lagi akan dimulai.

Cagalli terlihat sumringah melihat persiapan perayaan ulang tahun Archangel sudah sembilan puluh persen terealisasi. Tinggal menunggu tamu datang, yaitu anak-anak alumni panti asuhan. Kalau Kira, bibi Caridad, dan anak-anak lain sudah berkumpul di halaman.

Sebuah motor sport melintas lalu terparkir di salah satu bentangan rumput hijau itu. Ada dua orang yang menaikinya. Walau tertutup helm, Cagalli mampu mengenali siapa sosok alumni Archangel yang pertama kali tiba.

Shinn dan Luna.

Luna turun lebih dulu setelah itu Shinn ikut turun. Keduanya membuka helm hampir bersamaan. Bibi Caridad langsung mendatangi mereka untuk memberikan pelukan hangat. Luna langsung menyambut pelukan itu, sedangkan Shinn terlihat ogah-ogahan. Namun akhirnya ia membiarkan sosok yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu mendekapnya.

"Selamat datang. Shinn, Luna," Wajah agak pucat itu terlihat senang. Pasangan itu langsung tersenyum menyapa.

"Halo, ibu,"

"Kalian tampak sehat," Ungkap Caridad. Mereka mengangguk berbarengan.

"Ibu sehat?" Tanya Luna

"Ya...aku sehat kok," Wajah pucat serta postur tubuh Caridad tak bisa menipu mereka.

"Ibu tambah kurus loh," Komentar Luna. Caridad hanya tersenyum canggung.

"Tidak. Memang seperti ini,"

"Benar loh, lalu lebih pucat. Apa ibu baik-baik saja?" Luna yang lebih aktif bertanya sedangkan Shinn menjadi sosok yang terus mengiyakan ucapan pacarnya itu.

"Baik-baik saja! Sudahlah kalian ayo bergabung dengan yang lain," Caridad beralih mendorong pelan pundak Luna dan Shin. Keduanya pasrah dibawa sang ibu asuh ke meja makan.

"Ada kue loh. Kalau lapar ambil saja," Sahut Caridad. "Ngomong-ngomong mana adikmu, Meyrin?" Ia seketika teringat pada sosok adik kandung Luna. Mereka memang terlihat jarang bersama. Luna malah selalu terlihat bersama Shin. Tapi tetap saja keduanya adalah saudara.

"Meyrin akan datang sama yang lain. Mereka akan menaiki bis ke sini lalu berjalan kaki," Jawab Luna.

"Wah, masih kompak semua ya…" Ungkap Caridad bahagia.

"Hei! Hibiki! Kenapa kau malah ke sini!" Seruan Shinn memotong percakapan itu. Shinn tak bisa menahan dirinya saat melihat sosok musuh bebuyutannya sejak kecil.

"Woah, Asuka!" Ejek Cagalli yang saat itu bersama Kira. Keduanya langsung menghampiri pemuda itu. "Berani juga kau datang setelah kalah duel dariku!"

"Tak ada hubungannya! Aku ingin bertemu dengan ibu dan penghuni panti asuhan! Kau orang asing pergi saja!"

"Bibi mengundangku tahu!" Balas Cagalli. Caridad, Luna, serta Kira hanya menjadi penonton dari perdebatan sengit itu, tanpa sedikitpun berniat melerainya. Malah, kalau Shinn dan Cagalli bertengkar, itu pertanda keakraban mereka.

"Dasar cewek jadi-jadian!"

"Dasar cowok madesu!" Balas Cagalli "Luna! Kau dan cowok madesu ini beneran jadian?" Pertanyaan Cagalli mengarah pada Luna. Gadis berambut merah itu hanya menunduk malu.

"Hei! Gak usah kepo sama hubungan orang deh!" Sergah Shinn. Cagalli tertawa mengejek.

"Kau sendiri sama Kira gak ada perkembangannya. Lagian Kira mana mau sama cewek ambigu kayak kamu!" Cerocosan seorang Shinn Asuka membuat Cagalli tak berkutik. Ia langsung salah tingkah, apalagi melihat ekspresi heran Kira dan Bibi Caridad.

"Diam kau! Kami hanya teman!" Balas Cagalli sewot. Shinn menampakkan senyum kemenangannya sementara Luna berusaha menyembunyikan tawanya karena melihat reaksi Cagalli yang terlihat lucu.

"Sudahlah Shinn," Kini Kira yang angkat suara. Kontras dengan Cagalli yang mukanya sudah merah padam seperti kepiting rebus, raut wajah Kira terlihat biasa saja.

"Kami memang hanya teman,"

Jawaban Kira sama dengan Cagalli, namun makna dari kata-katanya sudah pasti berbeda. Walau dengan suara menghentak, kata-kata Cagalli bermakna hanya untuk menyembunyikan rasa malunya. Sedangkan Kira mengucapkannya dengan santai, namun maknanya lebih serius.

"Kak Shin! Kak Luna!" Teriakan Meyrin memutus percakapan mereka. Bibi Caridad langsung beralih menyambut kedatangan alumni Archangel lainnya. Meyrin-lah yang terlihat melangkah duluan, disusul oleh Stella, Auel, Rey, dan Sting. Terlihat sang ibu asuh memeluk hangat semuanya satu per satu seolah melepas rasa rindu yang amat dalam.

Shin, Luna, Kira, dan Cagalli menyusul sosok Caridad. Mereka juga menyapa alumni Archangel itu. Mendadak, suasana berubah ramai. Karena seluruh tamu sudah datang, acara ulang tahun Archangel bisa dimulai. Luna dan Meyrin mengatur anak-anak panti asuhan sementara Auel dan Sting bertindak sebagai MC. Mereka semua menikmati tiap momen yang berlangsung pada acara pesta sederhana itu.

Tiba saatnya acara penyerahan kado dari Kira untuk ibu tersayangnya. Sebenarnya ini adalah acara kejutan. Caridad sendiri bahkan sampai heran saat melihat anak-anak asuhnya membawa wanita itu ke sofa yang terletak di atas panggung lalu mendudukkannya.

"Kak Kira akan memberikan kado untuk ibu kita tercinta," Sambut Auel yang diamini oleh sesama MC, Sting.

"Ayo kak Kira. Mana kadonya? Bawa ke sini!" Balas Sting. Kira sedikit salah tingkah, namun ia tetap maju sambil membawa sebuah bungkusan seukuran genggaman tangan.

"Kadonya kecil banget. Kira-kira isinya apa?" Reaksi Auel sambil menilik benda yang dibawa Kira. Pemuda berambut coklat itu menyerahkannya pada sang ibu asuh.

"KIra… ini apa…?"

"Buka lah," Ungkap Kira sambil tersenyum. Caridad menerawang sebentar lalu membuka kertas pembungkusnya.

Caridad mengeluarkan isi hadiah itu. Sepasang matanya berbinar melihat perhiasan berupa kalung yang menjadi pemberian Kira. Pemuda itu berinisiatif mengambil kalung itu untuk memasangkannya langsung di leher ibu asuhnya.

Wanita itu terus saja mengarahkan pandangannya pada perhiasan itu. Jari-jarinya menelusur rantai serta liontin. Seketika, senyum haru pun mengembang. Ia menatap Kira yang berdiri di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Indah sekali. Terima kasih,"

Kira tersenyum. Anak-anak lainnya yang mengerubungi mereka memberikan aplaus. Caridad menghapus sedikit air matanya lalu tertawa gembira. Ia memeluk Kira dengan amat erat.

"Cagalli juga membantuku mencarikan," Ungkap Kira dalam dekapan ibu asuhnya. Mata Caridad langsung mengarah pada gadis yang berdiri di barisan depan. Gadis itu seketika tercenung lalu menunjuk dirinya sendiri. Luna yang berdiri di belakang Cagalli inisiatif mendorongnya agar gadis itu mau menghampiri ibu kepala Archangel itu.

"Terima kasih, Cagalli. Kau sudah ku anggap sebagai anakku sendiri," Ungkap Caridad tulus. Cagalli tersenyum malu sambil mengusap belakang kepalanya.

"Terima kasih bibi,"

"Sini, aku peluk," Caridad melambaikan tangannya. Cagalli ber-eh kencang. Ia jarang sekali mendapat pelukan, apalagi di usianya yang sudah enam belas tahun ini. Rasanya amat canggung dan memalukan. Tapi, karena ini adalah momen istimewa, Cagalli pun mendekati Caridad lalu memeluknya.

Suasana mendadak berubah haru. Entah kenapa Cagalli malah tak bisa menahan air matanya. Tumpah ruah seketika cairan bening itu membasahi pipinya. Tentu saja, momen Cagalli menangis tersedu-sedu itu membuat penghuni Archangel, termasuk bibi Caridad heran.

"Bibi, Selalu sehat ya," Ungkap Cagalli di tengah isakannya. Caridad memandang lembut lalu mengusap ujung kepalanya.

"Kami semua menyayangi bibi,"

"Ah si cewek berandal bisa cengeng juga," Celetuk Shin di tengah suasana haru itu. Ia tak bisa menahan geli saat melihat musuh bebuyutannya menangis tersedu-sedu. Ucapan Shin seolah menabuh gendang perang. Cagalli memalingkan wajahnya pada sosok yang berdiri di samping Luna. Ia memandang bengis.

"Awas kau, Shin! Akan ku buat kau menangis juga!"


Acara pesta perayaan hari jadi Archangel yang terlaksana dengan meriah itu akhirnya harus berakhir menjelang sore. Seluruh partisipan pun meninggalkan lokasi setelah membereskan semua peralatan dan perabotan keperluan pesta. Para alumni berpisah dengan bibi Caridad untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Suasana haru tampak terasa saat bibi Caridad melepas kepergian mereka dengan pelukan. Luna dan Meyrin yang akan pindah ke PLANT menjadi dua sosok yang paling bersedih, bahkan sampai menitikkan air mata, karena mereka berdua akan berpisah jauh dengan teman-teman dan ibu asuhnya.

Setelah para alumni Archangel pergi, kini giliran Cagalli yang pamitan dengan bibi Caridad.

"Terima kasih, Caga sudah mau datang ke pesta kecil ini," Ujar Caridad pada sosok yang berhadapan dengannya. Cagalli sedikit tertawa mendengar ungkapan merendah itu.

"Pestanya besar dan meriah kok. Menyenangkan bibi," Sahut Cagalli. "Kalau begitu, sampai jumpa bibi," Cagalli melambaikan tangan disambut oleh lambaian dari wanita berbalut sweater tebal itu. Kira mendampingi Cagalli sepanjang halaman panti menuju ke tempat sepeda gadis itu terparkir. Baru beberapa langkah, Cagalli mendapati sang bibi sudah menghilang. Mungkin ia masuk ke pondok karena tak tahan dengan cuaca dingin senja hari ini.

Kira ikut menoleh lalu berujar "Akhir-akhir ini ibu selalu merasa cepat lelah," Kira memang hanya berbasa-basi menceritakan keadaan ibu asuhnya. Namun, ia tak menyangka kalau Cagalli akan sekuatir itu mendengarnya.

"Apa? Lalu apa dia baik-baik saja? Jangan-jangan bibi juga sebenarnya kurang enak badan ya selama mengikuti acara. Tapi dia memaksakan diri," Cerocos gadis itu. Kira bergeming menatapnya heran.

"Entah," Jawab Kira pelan.

"Kira!" Wajah Cagalli seperti orang panik. Ia menatap lekat-lekat sahabatnya lalu menepuk pundaknya. "Kumohon awasi bibi baik-baik ya. Jangan sampai ia terlalu kelelahan,"

Pernyataan itu tentu membuat Kira heran. Cagalli bukan tipe orang yang akan terlalu mengkhawatirkan keadaan orang lain.

"Hah?" Dahi Kira mengernyit. Mendengar reaksi sahabatnya yang seperti orang bodoh, Cagalli langsung naik darah.

"Dengar tidak! Awasi bibi baik-baik!"

"Iya aku mengerti," Balas Kira sedikit kesal. "Kau kenapa sih? Tak biasanya jadi sepanik itu," Ungkap pemuda itu ketus. Cagalli langsung gelagapan. Ia sendiri baru sadar kalau ia sudah bertingkah berlebihan. Masalah bibi Caridad dan Archangel mungkin menjadi beban tersendiri di pikiran Cagalli dan membuat gadis itu paranoid.

"Kau baik-baik saja?" Nada bicara Kira kembali lembut setelah melihat wajah bingung sekaligus sedih dari sahabatnya. Entah kenapa, Kira mulai merasa kalau Cagalli mengetahui sesuatu yang tak ia ketahui berkaitan dengan ibu asuhnya itu.

"Kenapa memangnya? Ada apa dengan ibu?"

"T-Tidak…" Cagalli tergagap. Ia menggeleng samar untuk mengusir semua pemikiran buruk mengenai kondisi bibinya.

"Maaf. Aku hanya cemas karena bibi kan mengasuh banyak anak panti sendirian," Jelasnya sambil memaksakan diri tersenyum. Kira terdiam sejenak. Ucapan Cagalli memang ada benarnya. Ibu asuhnya selalu terlihat kuat dan ceria. Tapi, ia yakin kalau sebenarnya sang ibu banyak menanggung berbagai masalah terkait Archangel serta empat belas anak asuh di sana, termasuk Kira sendiri. Lagipula, ibunya itu juga tak semuda dulu. Fisiknya saja mulai terlihat ringkih, terlebih dengan mentalnya.

"Kau benar," Ungkap Kira serius sekaligus sedih. "Aku memang harus banyak mengawasinya. Aku juga takut ia terlalu kelelahan mengurus anak-anak panti asuhan,"

Cagalli ikut menatap sedih. Rasanya ia ingin sekali membeberkan semua masalah yang menimpa bibi Caridad dan Archangel itu. Ia tak ingin membohongi Kira lebih lama. Tapi, ia juga takut pemuda itu akan merasa lebih cemas darinya.

"Kira, kau sangat menyayangi ibumu ya?" Bisik Cagalli pelan. Mata pemuda itu sedikit berkaca-kaca. Senyum getirnya terkembang.

"Ya," Jawab Kira pelan "Aku menyayangi ibu. Amat menyayanginya," Ungkap Kira tulus "Aku ingin sekali bisa membahagiakannya...dan seluruh anak panti asuhan," Kira agak menunduk. Impiannya memang terlalu besar untuk bisa memberikan tempat lebih layak bagi keluarga besarnya itu sampai-sampai Kira sendiri ragu apakah bisa mewujudkannya atau tidak. Saat ini ia hanyalah seorang murid SMA biasa, tak memiliki kekayaan atau pengaruh. Di sekolah, ia juga hanya seorang ketua kelas yang terkadang dipandang sebelah mata oleh murid lain. Rasanya semakin mustahil anak sepertinya akan bisa sukses, bahkan walaupun ia sering juara umum. Kepintaran bagi seorang yang miskin seperti dirinya hanya menjadi sebuah kesia-siaan saja.

"Kira…." Panggilan Cagalli mengalihkan pemikirannya. Ia mendapati gadis itu menatapnya lekat-lekat seolah akan mengatakan sesuatu hal penting.

"Bisakah kau pikirkan lagi….rencana adopsi ayah," Ucap Cagalli perlahan. Kedua mata Kira sontak membulat lebar, karena Cagalli yang tadinya amat menentang rencana itu kini malah menyetujuinya.

"Maksudmu?" Kira masih belum percaya.

"Aku berharap kau mau menjadi bagian dari keluarga Hibiki," Suara Cagalli agak bergetar, entah karena takut entah karena sedih.

"Ini demi kebahagiaanmu dan bibi juga…"

"Aku mengerti, Caga. Tapi aku tetap tak bisa…" Kira lagi-lagi menolak mentah-mentah, bahkan saat Cagalli sudah memintanya dengan sungguh-sungguh.

"Kau tidak mempertimbangkannya lagi?"

Kira tersenyum lembut. Diusapnya ujung kepala gadis itu. "Aku amat senang dan berterima kasih atas niat baik kalian. Tapi, aku tetap tak bisa menerimanya," Ungkap Kira tenang, tanpa mengetahui kalau dalam hati Cagalli seperti ada badai besar.

"Kira… kumohon pertimbangkan lagi…" Cagalli tak tahu bagaimana membujuk seorang Kira agar mau setuju. "Demi kebaikanmu dan...Archangel,"

"Maaf Caga...tak bisa," Kali ini Kira terlihat lebih serius. Mungkin ia sedikit kesal dengan desakan gadis itu.

"Aku ingin tinggal dengan mereka," Ucap Kira. "Aku ingin membahagiakan mereka…"

"Kira…" Cagalli tak bisa melanjutkan ucapannya. Pikirannya buntu untuk mencari cara agar Kira mau setuju. Kira memang terlihat tenang dan kalem, namun kegigihan hatinya jauh melampaui Cagalli.

"Sudah ya. Aku tak ingin berdebat denganmu,"

Cagalli terdiam. Ia mengangguk pelan lalu membungkuk sedikit, seolah meminta maaf karena sudah membuat sahabatnya kesal oleh sikapnya. Setelah itu mereka saling membisu, bahkan sampai Cagalli sudah bersiap dengan sepedanya.

"Jya," Suara Cagalli rendah karena tak bersemangat, Kira tetap melepas sosok murung itu dengan senyuman.

"Sampai jumpa," Kira melambaikan tangannya. Cagalli tak membalas, hanya mengangguk pelan. Ia pun melajukan sepedanya meninggalkan lokasi.

Sepanjang jalan, Cagalli tak henti-hentinya memikirkan kejadian tadi. Ajakan seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya pun tetap tak bisa mengubah keputusan Kira. Segigih itu-kah impiannya untuk membahagiakan keluarganya di Archangel? Lalu, cara apa lagi yang harus Cagalli lakukan agar Kira mau setuju? Apakah dengan mengatakan kejadian yang sebenarnya?

Semua pertanyaan melintas di pikirannya, membuat Cagalli tak konsentrasi dalam melajukan sepedanya. Gadis itu bahkan mengabaikan lampu merah yang menyala di pertigaan. Ia tak berhenti, malah terus mengayuh sepedanya sampai ke tengah jalan raya.

Suara klakson mobil mengembalikan kesadarannya. Cagalli kaget lalu melihat ke sumber suara. Kurang dari satu meter di depannya ada sebuah mobil sport merah yang melaju dalam kecepatan tinggi. Cagalli memekik takut sekaligus kaget. Pada momen itu, ia seolah tak bisa bergerak sama sekali untuk menghindar. Gadis itu malah memejamkan matanya.

Bunyi rem yang amat kencang disusul bunyi tabrakan mengoyak kesunyian di sekitar. Cagalli tak merasakan benda besi itu menabrak dirinya, padahal ia yakin kalau tubuhnya pasti akan terlempar. Perlahan gadis itu membuka matanya dan menemukan dirinya masih dalam posisi yang sama. Apa ia salah lihat atau berhalusinasi? Pikir Cagalli sambil melayangkan pandang ke sekitar. Ia terkejut setengah mati saat melihat mobil sport mewah itu yang justru ringsek oleh pembatas jalan.

Asap mengepul keluar dari mesin depan. Mobil itu pasti menikung tajam untuk menghindari tabrakan dengan Cagalli, tapi malah beradu dengan pembatas jalan. Cagalli langsung menghambur ke lokasi mobil sport itu. Pikirannya kini membayangkan macam-macam mengenai kondisi sang pengemudi. jangan-jangan ia terluka parah. Atau mungkin bisa saja tubuhnya hancur karena tabrakan yang maha dahsyat itu.

Tidak! Tidak boleh terjadi! Cagalli takut darah, terlebih mayat. Ia tak ingin semua bayangannya menjadi kenyataan.

Sebelum gadis itu sempat tiba di lokasi, pintu mobil sudah keburu terbuka paksa. Cagalli langsung jatuh terduduk karena ketakutan, kembali membayangkan sang pengemudi yang mendatanginya dengan tubuh penuh darah.

Di luar dugaan, sosok yang muncul tak menampakkan tanda-tanda terluka parah. Seorang pemuda mengenakan jaket kulit dan jeans, dengan rambut berwarna biru gelap melangkah tertatih. Ia menuju ke bagian depan mobil sportnya lalu memperhatikan kerusakan di sana. Sepertinya pemuda itu tak menyadari kehadiran Cagalli. Gadis itu memberanikan diri untuk bertanggung jawab. Ia pun berdiri lalu mendatangi si pemuda.

"Maaf," Suara Cagalli sukses membuat sosok ber-sunglass itu menoleh. Cagalli agak takut, terlebih ketika merasakan sorot mata serius di balik sunglassnya.

"Kau si pengendara sepeda bodoh itu ya?" Tunjuk pemuda itu. Cagalli sangat marah dipanggil bodoh oleh orang asing, tapi karena merasa insiden itu adalah kesalahannya, Cagalli pun menerima ejekan itu.

"Maafkan saya," Cagalli membungkuk dalam. "Maaf karena kecerobohan saya…" Cagalli tercekat. "Mungkin anda terluka. Akan saya antar ke klinik,"

Pemuda di depannya berkacak pinggang, menatap sinis gadis di depannya.

"Aku tak terluka. Mobil ini untung saja punya perlindungan maksimal kalau ada kecelakaan" Ucap pemuda itu. Cagalli merasa sedikit lega, tapi momen itu tak berlangsung lama.

"Tapi mobilku rusak nih. Kau harus menggantinya,"

"Eh?" Gadis itu mendongak. Ia melihat sang pemuda membuka sunglassnya, memperlihatkan sepasang mata hijaunya. Tatapan dinginnya menyorot Cagalli.

"Ganti rugi!"

"T-Tapi…" Cagalli gelagapan. Ia harus menerima konsekuensi lebih berat daripada membawa pemuda itu ke klinik untuk diobati. Mobil itu pasti barang mewah yang mungkin tak akan bisa terbeli dengan uang jajan satu tahunnya.

"Ganti rugi!" Pemuda itu terus mendesaknya "Atau mau ku proses hukum? Walau di sini hanya ada kita berdua, tetap saja ada cctv. Terlihat sekali kau yang salah karena menerobos lampu merah,"

"Eh...maaf tapi aku benar-benar tidak sengaja," Cagalli mengiba. Ia membungkuk lagi "Maafkan aku,"

"Jadi, kau tak bisa bertanggung jawab?"

"Maaf. Aku tak bisa menggantinya penuh," Cagalli berusaha menjelaskan. "Tapi, aku akan menggantinya semampuku…."

"Baiklah, 10 miliar XX," Mulut Cagalli menganga lebar saat mendengar harga fantastis itu. 10 miliar XX?.

"Kau mau memerasku ya?" Cagalli langsung melayangkan protes. Kini, ia tak terlihat seperti seorang gadis yang tengah memohon belas kasihan. Gadis itu berkacak pinggang sambil memelototi pemuda yang sepertinya berusia tak jauh darinya.

"Kau pikir aku tak tahu harga mobil sport?! Bilang saja kau memanfaatkan situasi untuk mendapat untung," Pemuda itu tetap tenang mendapat amukan dari Cagalli.

"Aku tak berniat mengambil untung," Ungkap pemuda itu. Reaksi overcool-nya membuat Cagalli semakin kesal. Kalau saja ia mampu meremas kepalanya, Cagalli sendiri masih takut mendapat masalah yang lebih besar lagi karena menghajar seseorang yang jauh lebih kaya darinya.

"Mobil ini hanya ada satu di dunia. Pesanan khusus untukku. Tak bisa dibeli sembarangan. Harganya lebih daripada nominal yang kusebutkan," Ungkapnya. Cagalli masih melotot. Entah kenapa ia malah menganggap kalau pemuda itu tengah pamer daripada berunding dengannya.

"Kalau barang langka, kenapa malah kau bawa jalan-jalan di tempat ini!?" Cagalli tak mau kalah. "Mau pamer?" Ucapannya menusuk, tapi sosok di depannya tetap tak tersulut amarah.

"Pamer atau tidak itu bukan urusanmu, gadis miskin! Sekarang kau mau ganti atau tidak?" Nada suaranya tenang namun kata-katanya lebih pedas, mampu membuat darah seorang Cagalli menggelegak.

"Tidak!"

"Ya sudah. Aku panggil polisi," Pemuda itu merogoh saku celananya lalu terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya. Cagalli memperhatikannya, menebak apakah sosok itu benar-benar akan memanggil polisi? Jantung Cagalli tak berhenti berdegup. Ia sebenarnya takut berhadapan dengan hukum. Bayangan pengadilan dan penjara muncul di pikirannya. Ia pasti akan mendapat tuntutan berat karena sudah menyebabkan mobil itu ringsek serta menolak untuk ganti rugi. Apalagi pemuda itu pasti dari keluarga berada yang bisa membayar pengacara mahal untuk memberinya hukuman berat.

"Hei…" Cagalli memanggil pelan dan ragu. Pemuda berambut sebahu itu mengabaikannya, masih sibuk dengan gawai miliknya.

"Hei!" Kali ini panggilan Cagalli lebih keras. Pemuda itu tampaknya pura-pura tak mendengar.

"Kumohon jangan panggil polisi!" Cagalli kembali mengiba. Sosok di depannya tetap tak bereaksi.

"Kumohon," Pinta Cagalli "Kalau 100 ribu XX aku masih bisa dengan uang bulananku," Cagalli kini memelas.

"Tunggu di sini!" Hanya itu respon sang pemuda menanggapi permohonannya. Cagalli membiarkan sosok itu sedikit menjauh darinya untuk melakukan panggilan via telepon. Gadis itu tampak gelisah, bahkan beberapa kali ia mengurut keningnya. Dari kejauhan, ia memperhatikan raut wajah pemuda itu tampak serius. Kemungkinan besar, ia tengah mengadukan perkaranya pada polisi. Cagalli hanya mampu mendesah pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya mampu menunggu proses hukum. Apa lebih baik ia menghubungi kedua orang tuanya?

Tidak! Ayahnya pasti akan sangat marah. Cagalli juga tak ingin membuat ibunya cemas. Jadi, ia memilih bungkam sampai benar-benar berada di kantor polisi. Pemuda itu sepertinya sudah selesai melakukan panggilan. Raut mukanya terlihat selalu tenang. Cagalli sendiri yang malah panik.

"Tunggu saja," Perintah pemuda itu dituruti oleh Cagalli. Ia menunggu bersama si pemuda di sebuah jalanan antah berantah. Keduanya saling diam. Pemuda itu tampak tenang memainkan gawainya. Cagalli memperhatikan tanpa berniat mengajaknya ngobrol. Lagipula, untuk apa bercakap-cakap dengan cowok menyebalkan itu? Yang ada ia malah semakin kesal.

Belum ada siapapun yang melintas. Bahkan, suasana semakin sepi ketika malam hari menjelang. Cagalli terus celingak celinguk sambil mengusap kedua lengannya. Hari ini ternyata ia mengalami nasib sial. Sudah panik, takut, ia malah kedinginan juga.

Lampu mobil menyoroti dua insan itu, seketika mengalihkan perhatian mereka. Cagalli tercengang melihat sebuah mobil yang lebih mewah dari mobil sport itu melintas lalu berhenti di depan mereka. Warnanya hitam dengan bodi panjang yang tampak elegan. Cagalli mengenalinya sebagai mobil limousine.

Pintu mobil bagian depan terbuka. Seorang pria berusia pertengahan tiga puluh yang mengenakan suit hitam tampak tergopoh mendatangi pemuda itu, Raut muka pria itu tampak cemas, kontras dengan si pemuda yang terlihat santai.

"Tuan Athrun, anda… baik-baik saja?" Pria itu menilik sosok yang tengah bersedekap itu dari ujung kepala hingga kaki. Ia tak mendapati luka sedikitpun pada tubuh majikannya padahal tadi ia mendapat kabar kalau sosok itu mengalami kecelakaan mobil.

"Aku baik-baik saja. Tapi, mobilku ringsek," Pemuda itu menunjuk mobilnya yang masih mengeluarkan asap.

"Kenapa bisa terjadi, tuan?" Si supir pribadi terlihat masih kuatir. Sosok yang dipanggil Athrun itu menghembuskan nafasnya kasar.

"Hanya mengantuk. Tanpa sadar aku menabrak pembatas mobil,"

"Aduh...lain kali anda harus hati-hati…" Si supir mengurut dadanya. Perhatiannya kini teralih pada seorang gadis berambut pirang yang berada di sisi tuan mudanya.

"Gadis ini…?"

"Entahlah, Aku tak kenal,"

Cagalli hanya menatap keduanya bolak-balik. Ia semakin bingung dengan ucapan serta tindakan pemuda bernama Athrun itu yang amat kontradiksi.

"Tolong urusi mobil itu ya. Setelah itu kau jual saja. Aku tak memerlukan barang rongsokan," Perintah Athrun langsung saja dipatuhi oleh supir pribadinya. Sang supir tampak sibuk menghubungi jasa derek sedangkan Athrun hanya diam mengawasi.

"Eh tunggu! Katanya kau mau panggil polisi?" Cagalli menggunakan kesempatan itu untuk bertanya. Pemuda itu menghadapinya masih dengan penuh santai.

"Tidak. Aku sudah cukup mengerjaimu. Lagipula aku sudah tahu kalau cewek semiskin dirimu tak akan mampu membayarnya sampai tujuh turunan sekalipun," Ungkapnya. Ia pun beralih pada si supir pribadi

"Kalau sudah beres antar aku pulang," Perintah Athrun. Sang supir mengiyakan lalu dengan sigap membukakannya pintu. Athrun masuk ke kursi penumpang. Pintu mobil mewah itu kembali menutup rapat, menyembunyikan si pemuda angkuh nan usil di dalamnya.

Mobil itu melaju begitu saja meninggalkan Cagalli. Mulut sang gadis ternganga sambil memperhatikan kepergian kendaraan berukuran panjang itu. Ia semakin tak mengerti jalan pikiran pemuda yang berbuat sampai sejauh itu semata-mata karena hanya ingin mengerjainya saja.

Mobil itu sudah menghilang dari pandangan. Saat itulah Cagalli tak bisa menahan kekesalannya. Ia pun berseru.

"Menyebalkan!"


A/N:

Untuk mata uang XX anggap aja kursnya rupiah ya.. Hehe... Author gak tau mata uang di gundam seed apa *digetok

Maaf ya kalo chapter kali ini agak panjang. Agak bingung juga mau potong scene-nya x'D

Akhirnya aku munculin tokoh Athrun sebagai peran utama terakhir dari fanfic ini. \o/ Untuk karakter, mohon maaf ya kalau agak OOC dari karakter aslinya di gundam. Mungkin dari kemunculan Athrun sudah ada yg bisa nebak kira2 ke mana author akan membawa nasib mereka berempat? Hoho…

Terima kasih sebelumnya untuk para reader yang udh baca maupun komen. Maaf y kalau updatenya gak tentu. Semoga masih menikmati jalan cerita fanfic ini. Sampai ketemu di chapter berikutnya