Chen Fan bergerak keluar lima belas minit kemudian, begitu dia melewati ambang array, dia menelefon taksi untuk menjemputnya. Apa itu kebetulan atau tidak supir taksi yang dinaiki mereka sebentar tadi muncul kembali depannya lagi.
"Mau ke mana lagi, tuan?"supir itu yang merupakan warga pertenganan 50-an dengan ramah menyambut Chen Fan dengan senyuman mesra.
"Bawaku ke kediaman keluarga Wei"selesai mengatakan itu Chen Fan memejamkan matanya. Malas untuk berinteraksi dengan supir itu buat masa ini. Supir itu tidak bertanya lebih lanjut kerana tahu penumpangnya itu tidak dalam mood untuk mengobrol dengannya jadi dia menghidupkan enjin mobilnya dan mula memandu menuruni puncak gunung Yunwu ke kediaman keluarga Wei yang mengambil masa lima minit.
Selepas membayar tambang taksi dan melihat taksi tersebut meluncur laju di jalan lalu menghilang dari pandangan matanya, dia melihat Wei Ziqin sedang menunggunya depan pintu gerbang kediaman keluarga Wei yang separuh terbuka. Gadis itu menunggu di luar dengan cemberut besar.Gadis itu mengeluh;
"Master Chen, kabut di villamu menyebalkan. Aku bahkan tidak bisa menemukan jalan masuknya"
"Itu hanya sebuah array"Chen Fan berkata dengan ringan. Dia mengintip wajah Wei Ziqin dan tidak menemukan ketidaksenangan atau pembalasan. Dia berkata dengan terkejut, "Aku pikir keluarga Wei akan datang untuk menjemputku dengan parang atau pedang"
Wei Ziqin menutup mulutnya dan terkikik.
"Jangan khawatir. Aku tahu kamu telah mematahkan kaki sepupuku, tetapi dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Selama bertahun-tahun, dia telah merusak reputasi keluarga kita, dan jika bukan karena ayahnya yang terlalu protektif, aku akan mematahkan kakinya sendiri"
"Ketika kakek pertama kali mendengar berita tentang apa yang terjadi pada cucunya yang berharga, dia marah untuk sementara waktu. Namun, setelah lama berbicara dengan ayah aku, kakek sedang dalam suasana hati yang jauh lebih baik sekarang; jika tidak, dia tidak ingin melihat kamu" Wei Ziqin melirik Chen Fan.
"Master Chen begitu kuat sekarang sehingga kamu bahkan mungkin tidak peduli dengan reaksi keluarga Wei lagi"
"Dia(Wei Ziping) memintanya. Aku tidak pernah memberikan janji atau ancaman kosong sama sekali"Chen Fan berkata dengan tenang, namun, matanya dipenuhi dengan kesombongan.
Wei Ziqin memutar matanya, tapi dia tidak menyalahkan Chen Fan.Itu adalah kesalahan sepupunya sejak awal.
Chen Fan mengikuti Wei Ziqin ke halaman yang sunyi, ia merupakan taman buatan manusia yang dihiasi kolam ikan untuk bermain, pepohonan rendang yang telah dicantas dahan dan daunnya hingga dijadikan bentuk yang menarik dan sebuah tasik mini disertai dengan jambatan. Semuanya dibina dibelakang halaman bangunan tempat tinggal Pak Tua Wei.
"Master Chen, sudah lama tidak bertemu!"
Pak Tua Wei tersenyum dan berdiri untuk menyambut kedatangan Chen Fan. Kesehatannya jauh lebih baik daripada enam bulan lalu. Langkah kakinya lebih mantap dan membawa semangat sedemikian rupa sehingga hanya bisa berarti satu hal: lelaki tua itu akhirnya menyempurnakan kekuatan internal.
"Hei, sudah lama tidak bertemu"Chen Fan mengangguk dan kemudian melihat ke balik bahu pria tua itu. Selain Xiao Qi, pengawal pria tua itu, dia juga melihat seorang pria paruh baya mengenakan seragam militer berdiri tegak seperti pohon cemara yang tinggi.Wajahnya kaku dan acuh tak acuh, di bahunya, ia membawa tanda-tanda yang menampilkan empat bintang terjepit di antara dua pukulan horizontal. Sebuah lambang kehormatan bagi seorang tentera yang berjawatan tinggi.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk Anda, Tuan Wei?"Chen Fan bertanya dengan ringan setelah dia duduk.
"Hanya ingin mengobrol denganmu."Kata Pak Tua Wei sambil tersenyum."Itu baru enam bulan, dan kamu telah membuat nama untuk dirimu sendiri. Kamu sudah melupakan teman-teman lamamu, bukan?"
Chen Fan tersenyum tetapi tidak menanggapi. Dia bisa mengetahui kepahitan dalam suara Penatua Wei. Betapapun bernyaunya Wei Zipin, dia adalah cucu lelaki tua itu. Mematahkan kaki Wei Zipin sama dengan menampar wajah pria tua itu; suatu tindakan yang akan sangat mengurangi gengsi keluarga. Namun, karena Pak Tua Wei telah mengundangnya, itu berarti bahwa dia sudah mengatasinya.
"Apa yang bisa membuatnya memaafkan aku karena telah melukai cucunya?"Chen Fan tidak bisa membantu tetapi melihat ke Wei Changgeng di belakang pria tua itu.
Senyum Pak Tua Wei menghilang dari wajahnya; dia berkata dengan berat;
"Aku ingin bertanya padamu"
"Katakan"Chen Fan mengangguk.
Pria Tua Wei tetap diam, tapi dia menoleh ke atas bahunya dan memandang ke Wei Changgeng. Wei Changgeng mengangguk dan menatap Chen Fan dengan tajam.
"Master Chen, semua orang telah berbicara tentang kemampuan bela diri kamu, tentang betapa tak terkalahkannya kamu. Saya ingin tahu apakah rumor itu nyata?"
Chen Fan mengernyitkan alisnya, dan dia melihat ke Pak Tua Wei.Namun, pria tua itu mengabaikan pandangannya. Chen Fan merasa terhibur dengan pertunjukan yang mereka pakai untuknya. Dia menatap Wei Changgeng dan kemudian berkata, "Ya, itu benar. Tapi apa yang kamu maksud?"
"Bisakah kamu mendemonstrasikan?" Mata Wei Changgeng berkilau.
Chen Fan tersenyum.Dia berencana menunjukkan keluarga Wei sebuah tampilan kekuatan untuk mencegah mereka menyembunyikan niat untuk menyakitinya. Dia bertanya pada Wei Changgeng, "Apakah kamu membawa pistol?"
Wei Changgeng terkejut dan mengerutkan alisnya, "Apa hubungannya dengan demonstrasi nya?"
Chen Fan menunjuk ke dia dan kemudian menunjuk kembali pada dirinya sendiri."Cobalah senjatamu padaku"
"Apa?" Wei Changgeng berpikir telinganya telah mempermainkannya. Wei Ziqin dan Pak Tua Wei juga terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Aku berkata, coba senjatamu padaku"Chen Fan mengulangi.
"Sesuai keinginan kamu!" Wei Changgeng adalah pria yang tidak masuk akal.Dia akan menurut, jika menembak bocah itu adalah apa yang diperlukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Baiklah. Apakah kamu siap?"Wei Changgeng memegang pistol di kedua tangannya dan bertanya dengan berat.
"Lakukan"Chen Fan duduk diam dan berkata dengan bangga.
"Ayah!"Wei Ziqin tersentak.Bahkan Pak Tua Wei kehilangan kata-kata. Meskipun dia telah mendengar bahwa seorang Master Transcendent tidak takut dengan senjata modern, dia selalu percaya bahwa itu hanyalah dongeng.
Wei Changgeng menembak.Tiba-tiba percikan meletus di depan Chen Fan. Seolah-olah peluru itu mengenai sepotong logam. Ketika Wei Ziqin melihat lebih dekat, dia melihat Chen Fan telah menangkap peluru di tangannya, dan pria itu tidak terluka sama sekali.
"Dia melakukannya!"Wei Ziqin berseru kaget.
Pak Tua Wei menghela nafas lega. Dia juga merasa beruntung bahwa dia tidak bersikeras menampar kepala Chen Fan karena kecederaan yang dialami cucunya di banquet yang diadakan Yang Cao Hotel, dua hari lalu.
Senyum ceria terbentuk di wajah Wei Changgeng yang tegas dan kaku itu.
"Jadi rumor itu benar! Kamu memang sekuat yang mereka katakan" Wei Changgeng memberi hormat kepada Chen Fan dan berkata; "Master Chen, alasan saya mengundang Anda ke sini hari ini adalah untuk meminta Anda menjadi Kepala Inspektor Cang Dragon"
"Kepala Inspektor Cang Dragon?"
Chen Fan terkejut karena dia tidak tahu apa artinya.
Chen Fan akhirnya sepenuhnya mengerti apa itu Cang Dragon setelah penjelasan Wei Changgeng.
Di Cina, setiap unit militer memiliki tim disipliner, masing-masing terdiri dari lebih dari seribu orang. Unit Cang Dragon adalah elit yang dipilih dari unit penegakan hukum. Masing-masing dan setiap anggotanya adalah krim tanaman yang saling melengkapi. Mereka dilengkapi dengan senjata paling canggih, mereka menjalani pelatihan sistematis untuk mempersiapkan mereka untuk tugas yang paling sulit.
Karena risiko ekstrim yang terlibat dalam tugas-tugas mereka, tingkat kecelakaan mereka bisa setinggi 10%. Setiap anggota Cang Dragon adalah aset berharga bagi tim. Kepala Inspektor regu adalah perwira tertinggi dari Cang Dragon yang bertugas mengatur pelatihan dan memimpin pertempuran.
Dan Chen Fan dilantik sebagai Kepala Inspektor, Unit Cang Dragon.
Pada suatu malam yang sepi, dalam gudang tua yang terbengkalai, jauh di daerah terpencil dalam kota Si Shui, seorang bocah kecil bernafas tercungap-cungap memandang depannya. Penglihatannya kabur dan buram.
"Hiks...hik..mama...papa...XiaoYu takut...janganlah main lagi..."bocah kecil itu menangis teresak sambil memanggil kedua ibubapanya yang baring tidak jauh darinya. Mereka berdua terlihat sudah tidak bernyawa tetapi gerakan naik turun dada mereka menandakan mereka masih hidup walau dalam sekarat.
Darah segar membajiri wajah mereka berdua terutamanya di celah kelangkangan ibunya. Baju gaun dress bunga yang merupakan hadiah dari suami tercinta sudah koyak di robek oleh penculik mereka. Wanita itu sudah diperkosa secara bergilir-gilir hingga area privatenya robek dan menghasilkan darah segar yang tidak berhenti banyaknya. Walau dalam sekarat apabila mendengar erengan anaknya menangis wanita itu berusaha menyeret tubuh bahagian atasnya menuju ke anaknya. Dia mengambil keutungan ketika penculik mereka tiada di situ untuk ke sisi anaknya.
"B...Baby jangan menangis..mama ada di...uhuk!Di sini..."wanita tersebut memeluk erat anaknya yang menangis teresak ketakutan.
Melihat isterinya menyeret tubuhnya ke sisi anak mereka dengan meninggalkan bekas gesekan kakinya yang diseret di lantai dan disertai dengan darah segar, suaminya tidak mampu berbuat apa-apa selain melihat isterinya diperkosa oleh penculik mereka gara-gara kaki dan tangannya telah di potong dan di kerat dengan kejam. Dia hanya menangisi nasib keluarganya. Semuanya terjadi kerana dia, sekiranya dia tidak menyeret isteri dan anaknya dalam permasalahan keluarganya semua ini tidak akan terjadi. Dia terlalu buru-buru dan egois dan semua ini terjadi kerana dia.
Pria pertengahan baya itu memejam matanya, tangisannya tidak berhenti sementara dia mengakhiri hidupnya dengan menggigit lidahnya. Dia tidak sanggup melihat keseksaan yang akan dialami oleh isteri dan anaknya lagi. Panggillah dia seorang pengecut kerana itu memang dia.
"FengYu, XiaoYu...maafkan aku..."
Kematian pria itu tidak di sedari oleh anak dan isterinya. FengYu, isteri pria itu sibuk memujuk anaknya untuk berhenti menangis tidak sedar penculik mereka sudah kembali ke dalam gudang itu dengan memegang objek yang tajam seperti parang dan machete. Kerana sudah puas dengan tubuh wanita itu mereka sudah tidak menganggap FengYu layak untuk di simpan lama-lama. Dia harus dibunuh. Anaknya juga. Kehadiran mereka akan merosakkan rancangan tuan mereka.
"Bitch!Kami sudah kembali!"jeritan pria dari pintu masuk gudang dan bunyi pintu di tendang dari luar menyebabkan FengYu dan anaknya, XiaoYu yang masih kecil menggigil ketakutan. "Mama..."
"Tidak apa-apa, baby...mama ada di sini melindungi kamu..."jari jemari FengYu menyeka air mata dari berterusan mengalir sementara anaknya di peluk dengan erat masuk ke dalam dakapannya.
"Hahaha!Kalian dengar itu?!Dia ingat dia boleh melindungi anak dia?!"bunyi tawa yang melecehkan mula terbit keluar dari bibir ketua penculik sehingga suaranya kedengaran kuat dalam gedung tua itu disertai dengan hilai tawa rakan subahatnya yang lain.
"Wahahahha!Bitch! Kalau kau ada kat sini pun, kalian anak beranak akan kami bunuh!"
FengYu memeluk erat anaknya mendengar mereka dengan kejam mentertawakan nasib mereka berdua anak beranak.
"Tolong...bunuhlah aku...tapi tolong jangan apa-apakan anak aku...aku memohon..."kaki ketua penculik di pegang erat, FengYu memaut kuat pada kakinya dan memohon balas kasihan untuk anaknya. Tidak apa untuk membunuhya tapi tolong jangan ngapain anaknya, babynya masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
"Bitch!Lepaskan kaki aku!"Sprang!Dengan berang ketua penculik menendang perut FengYu dengan kejam. Seteguk darah tersembur keluar dari mulut wanita itu sementara memegang perutnya bagi menahan sakit yang menyengat.
"Bitch, kau ni menyebalkan lah. Kau mahu melindungi bocah kecil ni?Baiklah, biar aku tunjukkan... tak semua kemahuan, kita mampu dapatkan...heheh...first anakmu akan aku bunuh"dengan seringai licik dan tatapan membunuh yang kuat terpancar di matanya, ketua penculik tersebut melirik bocah kecil yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Please don't!"FengYu meronta dibawah pegangan kuat dua penculik lain yang menahan wanita itu berlari ke anaknya dan melindunginya.
"Pegang dia kuat-kuat. Heheh...biar dia saksikan pembunuhan kejam yang akan terjadi kepada anaknya itu"Ketua penculik tersebut menjilat sisi tepi parangnya dengan teruja dan tidak sabaran.
FengYu dengan tidak berdaya melihat sang penculik menghampiri XiaoYu. Anak kecil itu menjadi semakin takut apabila mendapati cowok menakutkan itu mendekatinya. Wajah tembam nya yang merah kerana banyak menangis berubah pucat seolah kehilangan banyak darah.
"Minggir,jangan dekat!" XiaoYu kecil secara tidak sedar bergerak mundur ke belakang sehingga tubuhnya melanggar dinding.
"Brat, kau tidak dapat lari ke mana-mana"lengan pendek XiaoYu dicapai dan tubuhnya ditarik masuk ke dalam pelukannya dengan kasar.
"Wuuwu...mama...hiks...XiaoYu takut...XiaoYu tak mahu main lagi"sebagai anak kecil yang berusia 2 tahun lebih XiaoYu yang tidak memahami situasi bahaya yang bakal menimpanya berharap dapat kembali ke sisi ibunya dan mendapatkan kehangatan untuk memanaskan tubuhnya yang mula kesejukan. Dia mahukan mama cantiknya, bukan om jelek ini!
XiaoYu mula meronta dalam pelukan kuat om jelek yang tidak dia sukai ini. "Lepasin!Mama!" Dia menghulurkan tangannya pada mamanya yang dipegang dua pria dewasa.
"Diam!"pipi mulus XiaoYu ditampar kuat hingga mukanya termiring ke tepi dan darah segar menempel di tepi sudut mulutnya. Di sebabkan terlalu terkejut XiaoYu mula kehilangan kata-kata dan membisu merasakan parang yang digenggam om jelek itu didekatkan pada lehernya yang halus. Dengan sekali tebasan saja nyawa XiaoYu akan melayang.
"Tidak!!"FengYu melaung kuat. Menatap parang ditangan ketua penculik mula bergerak sehinggakan menyentuh leher anak lakinya.
Zaaapp!!
"Aarrghh!!"
Kaget!!! Gedebuk!!!
"Aduh! Sialan!"
Seorang pria muda dengan rambut blonde alami jatuh dari tempat tidurnya ke lantai tapi masih menggulung dirinya di dalam selimut besarnya. Seperti ulat bulu. Dia tidak cukup senang dan menggosok pantatnya kemudian mengeluh.
"Aduh...apa-apaan sih. Mimpi tadi?Nightmare?" XiaoYu menggosok matanya kemudian meregangkan tubuhnya yang berbaring di lantai dan kembali naik ke atas ranjang semula. Dia menggunakan telapak tangannya untuk menyentuh dadanya dan memeriksa detak jantungnya. Masih berdebar kencang. Mimpi apa yang dialaminya sampai sekarang jantungnya laju, takut tidak tertahan?
"XiaoYu?"Pintu dikuak, Chen Fan berdiri depan pintu dan memasuki kamar tidurnya dan melihat Cheng Yu dalam keadaan memalukan.
"Chen Fan..."Muka XiaoYu merona, malu. Tertangkap basah sedang menggosok pantatnya dan itu dilihat Chen Fan yang kebetulan memasuki kamar tidurnya. Cheng Yu lekas turun dari ranjang tetapi di terlupa sebelah kakinya tidak boleh digunakan buat masa ini. Merasakan beban dan pedih di kaki kirinya, Cheng Yu terjatuh.
"Urgh...!"
Chen Fan tersentak. Dia yang berdiri di pintu kamar tadi entah bagaimana boleh muncul di samping Cheng Yu. Merangkul pinggang Cheng Yu sebelum cowok mugil itu terjatuh ke lantai, memalukan dirinya dan memparahkan lukanya.
Untuk seketika, masa yang berlalu seolah berhenti. Kedua mata saling bertatapan. Hembusan nafas Cheng Yu dileher Chen Fan seolah mengelitik hatinya, membuatnya merasa tidak nyaman tetapi tidak pula dia menolak Cheng Yu menjauh darinya. Malah jarak mereka semakin rapat, hidung mereka nyaris bersentuhan. Sekiranya tiada panggilan bibi Liu yang memanggil mereka dari lantai bawah untuk makan malam, sampai esok subuh juga mereka akan berdiri seperti itu.
"M...maaf..."Cheng Yu tidak tahan berdekatan dengan Chen Fan menolak pria tinggi itu menjauh darinya. Pipinya usah dikatakan lagi. Merah seperti tomat. Comel.
"Hm...m...mari kita turun makan?"Cheng Yu terbata mengajak Chen Fan untuk makan bersamanya. Permintaanya juga terdengar seperti persoalan saja.
"Hm.."Chen Fan tidak menyahut tetapi dia dengan gagah membopong tubuh Cheng Yu bridal style lagi, berjalan turun menuruni tangga bertingkat ke lantai bawah. Dia mengangkatnya dengan lembut seolah melayani seorang wanita. Tiada siapa tahu apa yang difikirkannya buat masa itu.
