Day 12

Mpreg


Sweet Liquid

Malam itu seperti biasa. Chuuya menidurkan Fumiya di kamarnya dan bergabung dengan Dazai di atas kasur mereka. Menguap kecil, merenggangkan kedua tangan jauh ke atas langit, ia membuka jaket yang melapisi kaus putih.

"Chuuya?" Dazai yang keluar dari bilik kamar kecil menjeda kegiatan Chuuya menyusun bantal.

"Hm?"

"Kausmu basah." Chuuya mengernyit, agak tertegun sampai fokusnya turun dan melihat memang benar ada area lembab di bagian dada pakaiannya.

Chuuya terkekeh. Air susunya belakangan lebih deras karena Fumiya suka kehausan. Ia beranjak dari kasur menuju lemari pakaian. Segera melepas kain hingga tampak kedua puting merah muda yang meneteskan cairan putih.

Dazai terkesima.

"Chuuya?" Ia melangkah. Mendekati Chuuya yang mengobrak-abrik tumpukan pakaian kemudian memeluknya dari belakang.

"Aku tidak apa, ini sering terjadi bahkan pada carrier." Dazai mengapresiasi hal itu. Ia sangat mencintai istrinya yang mengabdi pada putra mereka sepenuh hati. Tapi Chuuya sangat menawan.

"Ah— Dazai!" Chuuya hampir menabrak kaca di hadapannya karena tiba tiba Dazai mencubit salah satu puncak dada yang seperti muara. "Jangan, sakit."

Sikut Chuuya melayang ke rusuk Dazai sebelum tangannya menyambar sebuah kaos tanpa lengan dan memakainya cepat. Naik di kasur dan hendak tidur, namun dengan kecepatan entah apa Dazai bisa menahannya.

"Fumiya sering menggigitnya?"

Chuuya terkesiap, "Dia belum punya gigi."

"Aku punya." Dazai mendekat, memeluk Chuuya. Tangannya merayap seduktif ke pinggul, merasuk dalam lembaran kain dan membelai kulit lembut sang istri. Naik tinggi mengeksplorasi. "Dan sakitnya akan nikmat."

Pipi Chuuya merona, karena ia sangat mengerti apa yang Dazai maksudkan. "Fumiya tidur di kamar sebelah. Hhnn..."

"Makanya kecilkan suaramu," Dazai tersenyum dengan kerjap yang dilakukan Chuuya ketika tangannya membelai lingkar merah muda di dada rata itu. Membuatnya sedikit begoyang dan berdenyut manja.

Dazai duduk di hadapan Chuuya, "Naikkan pakaianmu, Chuuya sayang." Ia meminta dan Chuuya menurut. Ia tarik ujung kaos ke atas hingga kembali tampak dadanya yang basah. "Manis sekali," Satu jemari menyentuh puncak paling ujung. Memancing lenguh dan raut indah. "Aku penasaran bagaimana rasanya."

"Hhn..." Chuuya hampir menjatuhkan sibakan kainnya karena Dazau tiba-tiba mengecup. "Ahh, Dazai.."

"Manis." Lenguh Chuuya menjadi sebuah tanda betapa bebas Dazai menghisap puncak itu. Merasakan susu yang menetes dan mencair. "Fumiya minum ini setiap hari, Chuuya?" Lirikan Chuuya malu-malu, mengangguk. "Dia pasti bahagia punya Ibu sepertimu.."

"Ehn.. Dazai jangan gigit.." Chuuya menahan kepala pemuda itu namun Dazai tidak berhenti malah menarik gigitannya. "Ah—"

"Fumiya tidak membuatmu mendesah seperti itu."

"Tentu saja hh..."

Dazai mengulas senyum. Menjilat segala jenis likuid di sekitar puncak sebelum kembali melahap dan menghisap. Membiarkan cairan Chuuya memenuhi mulutnya sebelum ia telan. "Chuuya manis sekali."

"Uh.. Kau sangat menyukainya, ya?" Ucapan itu sindiran tapi Dazai malah tertawa seakan setuju.

Ia mendorong Chuuya jatuh ke belakang tanpa perlawanan. Perlahan menurunkan karet celana di pinggang Chuuya hingga tampak sebuah ereksi yang sungai bergairah.

"Aku juga keras," Dazai memberi kode seakan meminta perizinan namun Chuuya tidak melakukan apa-apa dan hanya menanti. Menanti Dazai membuka celananya sendiri dan mengeluarkan benda yang katanya keras itu.

"Jangan kasar-kasar," ujar Chuuya.

"Chuuya kan suka yang kasar?"

"Tidak pernah!"

Tawa Dazai menjawab, ketika ia mulai memasuki Chuuya dengan kepemilikannya. Ada lenguh dan tarikan di ujung bantal, sapuan tangan Dazai di lutut Chuuya yang lembut dan kecupannya pada dahi.

"Sudah lama rasanya," Dazai mencium pipi sang istri, "Chuuya sempit."

Chuuya ingin mengatakan bahwa semua itu karena Dazai tidak melakukan pemanasan. Namun desakan yang terjadi membuat bungkam. Chuuya lebih memilih mengerang dan menikmati penyatuan.

"Ahh Dazai... Hn.."

Ketika Dazai mulai bergerak, Chuuya ikut menggerakkan pinggul tidak membiarkan suaminya bermain sendiri dan tidak membiarkan segala kenikmatan berlanjut tanpa partisipasi. "Lebih kuat. Ah.."

"Kupikir Chuuya meminta untuk lembut, hm?"

"Diam."

Sesuai permintaan Dazai melakukan tempo cepat. Membuat Chuuya terhentak dan memeluknya tengkuknya erat. Semakin lama sesak mendekati puncak. Dan akhirnya mereka keluar bersama. Dazai di dalam memenuhi, Chuuya di luar mengotori.

"Ah—" Chuuya merasa hangat di kedua dada karena puncak itu memuncratkan air susu. Membasahi tubuh putihnya yang menjadi semakin putih. "Hhnn..."

Dazai melepaskan tautan, melihat Chuuya dari atas. Bagaimana kakinya yang terbuka menampilkan liang bercumbu mesra. Atau lipatan kain di atas dada yang dihiasi dua bukit kecil merah muda yang keras nan basah.

"Ah. Aku senang kau seperti ini," Dazai membelai lagi liang itu. Mengundang lenguh Chuuya yang menjadi desahan ketika dua jarinya masuk. Mengaduk sisa semen di dalam sembari merasakan hangat rongga Chuuya.

"Ahh Dazai—" Chuuya memberanikan diri untuk menahan Dazai yang hendak menancapkan kembali miliknya di dalam. Karena Chuuya baru mengingat sebuah hal ketika kehangatan Dazai memenuhi perutnya. "Aku tidak pakai obat kontrasepsi apapun."

Sejenak Dazai mengerjap. Ia begitu bergairah sampai lupa mengambil sebungkus kondom di dalam laci. Namun ketika melihat wajah memerah Chuuya yang begitu ia sukai, Dazai menunduk.

Ia mendaratkan beberapa kecup di pipi Chuuya sebelum mengatakan, "Kurasa aku tidak keberatan membuat satu anak lagi."

Sweet Liquid

END