—10—

"Don't give up on me. Don't give up on us."


"Tetsuya…"

"Hm…"

Poni biru muda dirapikan dengan jari. Seijuurou menarik sedikit ujung helai rambut yang terlalu panjang lalu mengguntingnya hati-hati. Biasanya, ia akan membiarkan Takao melakukan ini untuknya. Tapi untuk Tetsuya, Seijuurou merasa tidak ingin meminta orang lain melakukannya. Biar ia saja yang menyentuh dan merawat setiap inci dari tubuh Tetsuya.

Tersenyum kecil, ia menatap Tetsuya dari pantulan cermin. "Pernah ada yang bilang rambutmu selembut bulu kucing?"

"Tidak. Dan jangan mengada-ada, Sei-kun." Tetsuya menggembungkan pipi, melirik pada refleksi Seijuurou. "Aku manusia. Bukan kucing."

"Sensitif sekali."

"Biar saja."

"Baiklah. Raja yang baik akan mengalah pada ratunya. Tetsuya, jangan cubit pinganggku atau guntingku akan meleset melukaimu."

Chihiro dan Reo mengawasi sambil bertukar tatap. Setidaknya Reo terlihat senang. Sudah dua tahun terakhir ini kondisi Seijuurou pulih dengan cepat. Seolah ada suntikan vitalitas tak kasat mata, ia kembali menjadi dirinya yang dulu, sebelum mewarisi kutukan dari Masaomi. Bahkan di momen-momen terburuknya sekalipun, karena keberadaan Tetsuya di sisinya, segalanya terasa jauh lebih mudah.

Istri tuan mereka itu benar-benar obat yang mujarab. Keberadaan yang magis karena dalam setiap kewajaran pada dirinya, ia justru menenangkan gelombang anomali yang selalu menyambangi Seijuurou.

Usai merapikan rambut yang memanjang tak beraturan, Seijuurou berinisiatif menyisiri helai-helai biru lembut itu. Sampai kini, meski sudah berulang kali ia terbangun di sisi Tetsuya, setiap kali melihat rambut istrinya itu dia harus menahan tawa. Lucu rasanya, melihat anak-anak rambut yang menolak patuh tertata di pagi hari. Padahal gaya tidur Tetsuya tidak seburuk itu.

"Sei-kun…"

"Ya?"

"Apakah kau bermimpi lagi?"

Satu hal yang mereka pelajari setelah hidup bersama satu sama lain; mereka sama-sama bisa menembus dimensi mimpi. Walau tak pernah bertemu langsung, baik Seijuurou maupun Tetsuya dapat berbicara dengan apa yang menitis dalam diri mereka melalui mimpi.

Sang naga terkadang curang. Lebih memilih menyambangi Tetsuya dan mengabaikan Seijuurou. Seijuurou menebak itu karena sang naga tahu, Tetsuya adalah satu-satunya kelemahannya.

"Tidak." Setelah sang naga mendapatkan apa yang ia mau, untuk kembali dipersatukan dengan kekasih hatinya, segalanya menjadi damai bagi Seijuurou.

Seijuurou mendadak merasa gelisah. Ia menatap lekat-lekat istrinya itu lagi melalui pantulan cermin. Mencoba membaca ekspresi yang setenang danau tanpa riak. "Kau memimpikan sesuatu, Tetsuya?"

Tetsuya menangguk.

"Mimpi apa?"

"Tentang seorang anak laki-laki. Dia… begitu mirip dengan Sei-kun. Sampai kukira dia adalah dirimu sewaktu kecil."

Ini buruk. Seijuurou tidak tahu kenapa, tapi rasanya sungguh tak nyaman membicarakan ini.

Sebaliknya, ekspresi Tetsuya berubah melembut. "Dia memanggilku 'mama'."

Bagi Tetsuya mungkin itu berita yang membahagiakan. Tapi tidak bagi Seijuurou. Seperti tersambar petir di hari yang tenang, Seijuurou panik.

Ini tidak boleh terjadi!

Pundak Tetsuya diguncang. "Tetsuya. Kau—jangan katakan padaku bahwa…"

Tetsuya menyentuh tangan Seijuurou di pundaknya, berusaha menenangkan suaminya itu. "Aku tahu. Dan asal kau tahu, Sei-kun. Tidak ada penyesalan dariku. Sama sekali."

"Tetsuya…"

"Sshh, Sei-kun…" Telunjuk Tetsuya menyentuh bibir Seijuurou. Isyarat agar suaminya fokus mendengarkannya saja alih-alih beradu argumen.

"Aku akan mempertahankan anak ini." Tangan Tetsuya yang lain menyentuh perutnya sendiri. Seijuurou tidak akan menyadari ada janin berkembang di sana apabila bukan Tetsuya sendiri yang mengakuinya.

Nada suara Seijuurou terdengar seperti tercekik. "Sudah berapa lama?"

"Mimpiku? Kurang lebih sebulan yang lalu."

Lemas. Seijuurou seolah kehilangan dunia tempatnya berpijak. Kakinya terasa seperti agar-agar. Jatuh terduduk, ia mengenggam tangan Tetsuya, menyandarkan dahi di pangkuannya.

"Kenapa?" Emosinya campur aduk. "Kenapa tidak sejak awal?"

"Kalau kukatakan sejak sebulan yang lalu, kau akan memanggil Nijimura-san atau Himuro-san. Dan mereka akan mengambil anak ini dariku." Tetsuya berujar mantap. diremasnya jari-jemari Seijuurou. "Aku menginginkan anak ini, Sei-kun."

"Tetsuya. Tolong."

Chihiro dan Reo baru pertama kali mendengar tuan mereka memohon. Ini hal baru yang seharusnya menarik, tapi nyatanya tidak demikian.

"Tolong. Jangan lakukan ini padaku."

Aku tidak siap. Kumohon. Jangan tinggalkan aku.

"Tapi ini bayi kita, Sei-kun."

"Aku lebih memilihmu, Tetsuya. Aku—!"

Plak!

Tamparan mendarat bersamaan di kedua pipi Seijuurou. Kemarahan nyata di bola mata biru muda milik Tetsuya.

"Aku akan marah padamu kalau kau bilang kau tidak menginginkan anak ini."

Seijuurou selalu mengira ia dan Tetsuya akan baik-baik saja. Mereka berdua memang terikat dalam hubungan yang tidak bisa dikatakan normal. Manusia setengah dewa dengan manusia biasa—reinkarnasi dari jiwa sang pengantin yang dikutuk untuk abadi mengembara. Pemuda awet muda yang merasakan hidup dua abad lamanya dengan pemuda lain yang awal tahun kemarin baru menginjak usia dua puluh enam. Dan mereka sama-sama laki-laki. Tak ada yang biasa tentang mereka.

Tapi Seijuurou mengira setidaknya semua deritanya terbayar dengan pasangannya kini. Mereka akan tua bersama. Ralat, dia akan menemani Tetsuya menua lalu menyusulnya ke liang kubur. Sebelumnya, itu terdengar seperti rencana yang sempurna.

Dia tidak mengira, kutukan pada garis keturunan mereka, bisa berdampak seperti ini pada Tetsuya.

Agaknya ia terlalu meremehkan Dewi Matahari. Dia seharusnya tahu, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk menghukum pendosa melawan hukum alam sekali lagi, dengan membiarkan Tetsuya memberikan keturunan langsung untuknya.

"Kalau kau bisa bertemu dia dalam mimpi, kau akan mencintainya juga, Sei-kun."

Persetan. Aku hanya mencintaimu saja, Tetsuya!

"Aku…"

"Jangan bantah aku."

"Tetsuya."

"Sei-kun. Kumohon." Tetsuya berujar sungguh-sungguh. "Aku menginginkan anak ini, anak kita."

Kali ini Seijuurou merasa marah mendengarnya. Apa bagi Tetsuya, bocah yang belum nyata jauh lebih penting dari dirinya? Ia tahu ia kenakaan. Tapi dia hanya menginginkan Tetsuya untuk ada di sampingnya.

Pertama kali dalam hidupnya, Seijuurou merasa menginginkan sesuatu sampai seperti ini. Dan sialnya, Tetsuya sangat keras kepala.

"Kau tidak ingin bersamaku, Tetsuya?"

Terperanjat. Tetsuya tidak mengerti mengapa inti topik berganti begini cepat. "Ap—Bukan,Sei-kun. Aku—"

"Kuberi waktu berpikir, Tetsuya." Seijuurou bangkit berdiri, memijat pelipis yang berdenyut. "Tolong pertimbangkan. Apa kau benar-benar mau meninggalkan aku."

Seijuurou keluar dengan membanting pintu.

.

.

"Apa papa membenci aku, mama?"

Tetsuya tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik tubuh mungil itu dalam pelukan, menyamankannya dalam pangkuan. Betapa ia menyayangi anak ini, anaknya dan Seijuurou. Tetsuya tidak akan membiarkan anak ini tahu bahwa Seijuurou mempertimbangkan untuk menyingkirkannya. Tidak akan.

"Tidak. Papa mencintaimu." Tetsuya mengecup rambut anak lelaki itu. "Seiya tidak usah takut. Papa hanya mencemaskan mama."

Ekspresi murung di wajah anak itu tidak serta merta terhapus usai mendengar penjelasan Tetsuya. Anak lelaki itu menyembunyikannya dengan cukup baik dengan menenggelamkan wajahnya di dada Tetsuya. Sayang, naluri Tetsuya sebagai seorang ibu membuatnya tidak bisa mengelak lagi.

"Seiya. Kau harus percaya pada mama. Oke?"

Kening mereka melekat. Seiya masih tampak tidak puas. Bibirnya mengerucut lucu. Gemas rasanya melihat anak berwajah identik dengan Seijuurou bertingkah semanis ini.

Tetsuya refleks mengecup kilat anaknya. "Mama tidak akan bohong pada Seiya."

Ia menatap Tetsuya lekat. Seolah bola mata biru langit Tetsuya lebih menarik dibanding dimensi bertabur bintang tempat mereka berada.

"Aku ingin bertemu papa."

Poni Seiya disisir lembut. Tetsuya mengecup dahi anaknya sayang. "Bisakah kau menemuinya? Papa juga tentu ingin berbincang denganmu."

"Uum." Seiya mengangguk. "Aku mau. Aku akan minta Ryu1-sama membawaku ke mimpi papa."

"Ryu-sama?"

Di dalam dimensi mimpi, angin seolah berhembus nyata. Tetsuya merinding.

"Ah!"

"Seiya, mau ke mana?"

Bocah kecil melarikan diri dari pangkuan ibunya dan mendaratkan tubuh pada pelukan seorang pria; sang naga. Tetsuya tidak tahu harus berkata apa.

Di dalam gelap, Tetsuya ditanggalkan seorang diri.

.

.

Tetsuya terbangun dengan mata terbelalak. Seiya dalam mimpinya begitu cepat menghilang usai memutuskan akan pergi menemui Seijuurou. Padahal Tetsuya belum puas memeluknya, menciuminya.

Ia masih butuh waktu lebih lama bersama dengan Seiya.

Di sampingnya, Seijuurou tertidur dengan napas teratur. Lengannya setia memeluk pinggang Tetsuya, seolah enggan melepaskan sang istri barang sebentar saja. Tetsuya sadar, akhir-akhir ini Seijuurou terlalu khawatir. Jika sebelumnya suaminya itu selalu berhati-hati, kini ia diperlakukan dengan lebih lembut lagi. Seolah tubuhnya disusun dari kaca dan kristal yang mudah pecah.

Dan akhir-akhir ini pula mereka sangat sering bertengkar. Tetsuya merasa perang dengan Seijuurou jauh lebih merepotkan dibanding pertikaian macam apapun yang pernah dialaminya. Padahal hanya adu argumen saja. Reo dan Chihiro mungkin sampai bosan mendengar mereka saling serang akhir-akhir ini.

Tetsuya—tetap saja—pada akhirnya selalu gagal marah terlalu lama pada Seijuurou. Tidak ketika Seijuuro akan tetap memeluknya lembut seusai pertengkaran mereka. Tetap akan bersikap lebih dewasa dan mengucapkan selamat malam dengan lembutnya sebelum ia jatuh tertidur.

Berbaring menyamping, Tetsuya memerhatikan wajah suaminya. Kantung matanya bertambah parah. Tampaknya akhir-akhir ini Seijuurou sulit tertidur nyenyak. Dia terlalu sibuk mengkhawatirkan Tetsuya sampai melupakan kondisinya sendiri. Jujur saja, Tetsuya pun agak marah soal itu.

Telunjuk Tetsuya menjawil kulit di celah antara dua alis Seijuurou.

"Jangan marah-marah terus."

Tak ada respon. Tetsuya menebak, Seiya kini sedang memberi salam pada ayahnya ini.

"Tolong jangan menyerah soal kami, Sei-kun."

.

.

"Sudah lama kita tidak bersua, bukan?"

Tawa merdu itu terdengar mengejek. Atau mungkin Seijuurou saja yang sekarang jadi lebih sensitif.

Seijuurou bersidekap. Tepat di waktu ketika ia sadar ia telah memasuki dimensi mimpi, ia tahu jatah hari-hari tenangnya sudah habis.

"Apa perlu kau bicara dengan memakai wajah seperti wajahku? Rasanya aneh sekali, seperti melihat cermin dengan wajahku namun jelek di rambut merah panjang itu." Sudah lama tidak bertemu, Seijuurou benci mengakui dia masih kesal melihat wajah yang sama dengannya itu memandangnya dengan 'sok' bijaksana. Seolah hanya dia yang bisa memahami Seijuurou.

"Ini memang wajahku, Seijuurou. Jangan kurang ajar."

"Cih."

Di balik jubah kebesaran sang naga, Seijuurou melihat ada gundukan bergerak-gerak. Matanya menyipit curiga.

Sang naga tahu bahwa dalam diamnya, Seijuurou justru sedang meminta penjelasan.

"Ah ini…" Jubah tersibak.

Apa-apaan?

"Apa perlu membuat duplikat diriku satu lagi?"

Seijuurou diabaikan total. Pertanyaanya dianggap angin lalu. Sang naga berlutut, menatap anak lelaki kecil yang sebelumnya takut-takut keluar dari persembunyiannya di balik jubah panjang. Tangan mungil digenggam meyakinkan.

"Tak apa." Kepala berambut merah ditepuk-tepuk. "Bicaralah. Aku yakin dia akan mengerti."

"Um."

Sepasang mata cemerlang nan polos menatap Seijuurou. Bibir mungil menyapa, "Halo, papa."

Hening. Tidak ada yang bicara. Seijuurou tidak tahu harus bicara apa. Wajah bocah itu memang wajahnya, tapi kepribadiannya? Caranya membungkam Seijuurou hanya dengan sedikit aksi jelas khas Tetsuya.

"Kamu…"

"Perkenalkan." Ia menghampiri Seijuurou, meraih tangan yang jauh lebih besar dari miliknya itu dan menjabatnya mantap. "Aku Seiya. Mama yang memberiku nama itu."

.

.

Di luar dugaan, Seijuurou bangun dengan tenang. Tanpa keterkejutan. Tanpa kekagetan. Ia tidak tampak seperti habis bermpimpi panjang melelahkan.

"Sudah bangun?"

Tetsuya tidak jemu menatap proses bagaimana kelopak mata suaminya membuka perlahan. Dan bagaimana Seijuurou tetap memilih menatap langit-langit kosong meski ia sadar betul Tetsuya sedang memerhatikan dirinya.

"Hm."

"Sudah bertemu dia? Dengan Seiya?"

"Kau memberinya nama tanpa diskusi denganku."

Tetsuya melarikan ujung jarinya ke celah di antara kerah pakaian Seijuurou. "Kau masih tidak menyukainya kemarin? Kita baru saja bertengkar. Ingat?"

Seijuurou menarik Tetsuya dalam pelukan. Memeluk erat tubuh di atasnya. Tetsuya bergeming.

"Jadi bagaimana…?"

"Boleh kita hentikan pertengkaran kita? Aku tidak suka berlama-lama marah-marahan denganmu."

Tetsuya mengartikannya sebagai penerimaan Seijuurou terhadap Seiya. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, menatapi wajah Seijuurou berlama-lama sebelum menghadiahkan kecupan kilat.

"Terima kasih. Untuk tidak menyerah soal diriku. Soal kami."

"Soal 'kita', Tetsuya. Tolong jangan membuatku merasa tersisih dari keluargaku sendiri."

"Kau masih mau memisahkan diri dari kami kemarin." Tetsuya meletakan kepalanya di dada Seijuurou lagi. Dalam jarak sedemikian dekat, ia dapat mendengar irama detak jantung Seijuurou.

"Sekarang kau tahu kenapa aku tidak mau melepaskannya bukan?"

"Ya."

Suara manis yang memanggilnya 'Papa'. Tingkah menggemaskan dan kepolosannya.

"Seiya ya…" Seijuurou bergumam. "Nama yang bagus."

.

.

Banyak yang bilang ada kecantikan yang baru terpancar ketika kau menjadi seorang ibu. Seolah ada aura lain yang akan menyelimutimu dan membuatmu lebih istimewa dari biasanya. Sesuatu yang seolah memberitahu pada dunia bahwa dirimu istimewa. Karena dirimulah generasi-generasi baru yang membawa harapan boleh lahir di dunia.

Seijuurou selalu berpendapat pasangannya memang sedari awal diberkahi penampilan yang rupawan. Bahkan sebagai lelaki pun, Tetsuya tetap punya sisi indahnya sendiri. Mungkin bukan sesuatu yang umum dilihat orang banyak, tapi Seijuurou tahu itu. Ada kualitas dalam diri Tetsuya yang selalu menariknya seperti gravitasi menahan segala yang ada di muka bumi.

Namun kini, dia harus mengakui. Pesona Tetsuya menguat tanpa bisa ia tolak.

"Kau tampak sangat sehat." Seijuurou berkata seraya membantu Tetsuya melepaskan satu persatu pakaiannya. Tak lupa, ia mencuri kesempatan mendaratkan ciuman di punggung leher jenjang yang masih belum bersih dari sisa-sisa tanda kepemilikan; bukti betapa posesifnya seorang Akashi Seijuurou.

"Obat dari Himuro-san sangat bagus. Aku merasa segar."

"Baguslah."

"Aku sempat khawatir karena kau tidak mau makan apa-apa. Dan kini kita berganti peran, Tetsuya."

"Jika tidak ada Seiya dalam diriku, aku mungkin memang tidak akan tahu betapa nikmatnya minum darah Sei-kun itu. Anggap saja balas jasa."

Tetsuya membenamkan dirinya pada air dingin. Seijuurou menyusul cepat.

"Bagaimana lukamu, Sei-kun?"

"Aku baik-baik saja. Walau terlihat seperti ini, sama sekali tidak sakit."

"Aku khawatir padamu."

Dahi Tetsuya disentil. "Aku punya banyak waktu sampai Seiya dewasa nanti. Tenanglah."

Seijuurou memang kuat. Tetsuya kadang membenci hal itu. Membuat Seijuurou bergantung padanya mungkin termasuk salah satu pekerjaan tersulit di dunia—menurut Tetsuya.

Seijuurou membasuh Tetsuya lemah lembut. Namun refleks, gerakan tangannya terhenti ketika melewati daerah perut Tetsuya.

Di bulan ke lima kehamilannya, Tetsuya tidak tampak jauh berbeda dengan dirinya yang biasa. Tetap kurus. Tetap ringkih. Hanya terlihat sedikit mengalami penambahan massa, khusus di derah perut.

"Seiya anak yang manis. Dia tidak pernah macam-macam."

"Aku tahu."

"Baguslah kalau begitu."

"Apa ibu hamil memang harus jadi sesombong ini?" Seijuurou menertawakan kalimatnya sendiri. Mungkin ia menganggap serangannya pada Tetsuya itu lucu.

"Selera humormu jelek seperti biasanya, Sei-kun. Aku berharap Seiya tidak akan mewarisi itu."

Oke. Tetsuya benar-benar jadi sangat sensitif, setidaknya menurut Seijuurou. Dia menolak dikatai berselera humor jelek, walaupun yang melakukannya adalah Tetsuya sekalipun.

"Bicara tentang Seiya…"

"Apa lagi, Tetsuya?"

"Kau curang, Sei-kun." Tetsuya merajuk. "Kau bisa memilikinya untuk waktu yang lebih lama daripada aku. Tapi bahkan dalam mimpi pun kau masih mencuri waktuku bersamanya."

"Dia hanya suka bersamaku. Itu saja."

"Maksudmu dia tidak suka bersamaku?!"

Astaga. Tetsuya dalam masa kehamilan sungguh sulit dimengerti.

"Sei-kun sanga tidak so—!"

Seijuurou adalah pria untuk tindakan sekaligus seseorang yang sangat pandai menganalisis. Sekalipun yakin dirinya mampu berkata-kata manis untuk meredakan emosi istrinya, bertindak jauh lebih cepat dan akurat bukan?

"Kenapa menciumku?"

"Ingin saja. Tenanglah sedikit, Tetsuya. Seiya tidak akan suka kau marah-marah, oke?"

"Kapan terakhir kau melihat matahari, Sei?"

"Sebelum ulang tahunku yang ke dua puluh. Jika tidak salah ingat."

"Sei-kun." Tetsuya menyikut lengan Seijuurou. "Ingatanmu itu fantastis. Jadi kuanggap terakhir kali itu dua abad yang lalu."

"Istriku pintar sekali bukan?"

Kebiasaan baru mereka berdua adalah duduk berdua berdampingan. Seijuurou akan memeluknya dari belakang dan tanpa banyak bicara memberikan Tetsuya semua perhatian yang ia butuhkan.

Reo sering berpendapat bahwa mereka berdua manis sekali.

"Kau mau melihat matahari."

"Kuharap aku bisa." Kondisi Seijuurou belakangan tidak stabil. Semakin mendekati hari krusial kelahiran Seiya, rajah di punggungnya sesekali akan menyengatnya dengan rasa sakit. Tanpa peringatan dan tiba-tiba. Menyembunyikan kondisinya yang tidak stabil dari Tetsuya yang observan saja sudah cukup sulit. Tidak perlu menambah masalah dengan sengaja menunjukan diri di bawah cahaya.

Dia tidak perlu diingatkan bahwa kutukannya ini adalah karena sang naga menentang Dewi Matahari. Seperti pernyataan Testuya sebelumnya, ingatannya sangat fantastis.

"Atau temani aku saja."

Sebelum Seijuurou sempat menyahut, Chihiro menjawab dengan nada datar yang tidak menyenangkan. "Tidakkah anda tahu buruknya pengaruh sinar matahari untuk S—"

"Chihiro." Seijuurou mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Chihiro tidak melanjutkan kalimatnya. Shiku berambut perak memutar bola mata lalu berbalik. Seolah berkata 'Terserah kalian'.

"Aku mungkin tidak akan bisa menemanimu berjemur di bawah cahaya."

"Tidak apa. Perhatikan aku saja."

.

.

"Apa menurutmu, Seiya bisa melihat ini?"

Tetsuya berjalan pelan. Tangannya menyentuh semak hijau yang dipotong dengan begitu bergaya di halaman kuil. Seijuurou memerhatikan seraya berlindung di bawah bayang-bayang bangunan.

Rasanya menyenangkan bisa merasakan belai hangat mentari setelah sekian lama hanya tahu indahnya bulan. Merasakan langsung seperti ini benar-benar berbeda dengan hanya mengintip sedikit dari jendela kecil di kamar Seijuurou.

"Seiya akan bisa menikmati matahari sesudah ia lahir. Tidak perlu setakut itu."

Lengan kimono dikibaskan. Tetsuya bertanya serius. "Untuk berapa lama? Dua puluh tahun? Dua puluh lima tahun?"

"Kau mulai menyesal bersamaku, Tetsuya?"

Karena mungkin jika dia tidak bersama Seijuurou, Seiya akan tumbuh sebagai anak yang normal. Tetsuya tidak perlu khawatir akan adanya belenggu untuk putranya itu. Seiya akan menjalani kehidupan yang wajar, menyenangkan, dan mampu meraih mimpi-mimpinya tanpa harus ada di bawah jeruji tak kasat mata bernama 'kutukan'.

"Uum." Tetsuya menggeleng. Ia mengangkat tangannya, menutupi mata yang mulai merasa silau setelah sekian lama tidak melihat terang yang begitu nyata. "Memutuskan untuk bersamamu, itu satu-satunya yang tidak akan kusesali. Benar. Aku memikirkan Seiya. Tapi… Jika aku tidak bersamamu, dia tidak akan pernah ada. Betul?"

"Kenapa bicara berputar-putar? Kau biasanya selalu langsung mengatakan apa yang kau mau."

Wajah Tetsuya berubah malas. Ia menatap Seijuurou, menghampirinya dengan wajah kesal. Seijuurou tidak mengerti. Kenapa Tetsuya marah.

Pipinya ditangkup oleh sang istri. "Dengar. Aku tahu, semenjak Seiya ada dalam diriku, aku jadi lebih sensitif. Dan menyebalkan."

"…"

"Tapi aku tidak bermaksud begitu. Bicaraku mungkin berputar-putar tapi—"

"Tapi apa, Tetsuya?"

"Tidak bisakah kau membiarkan aku menyelesaikan kalimatku, Sei-kun? Intinya adalah aku mencintaimu dan juga Seiya. Dan aku mengkhawatirkan kalian! Itu saja."

Apa Seijuurou pernah bilang bahwa baik dirinya maupun Tetsuya jarang mengucap kata 'cinta'? Tidak. Baiklah. Mereka jarang sekali mengucapkannya. Dan itu yang selalu menjadikan kata itu tetap istimewa, selama apapun mereka sudah bersama.

.

.

"Besok ya?"

"Iya."

Tetsuya mempersiapkan sebuah ruangan untuk dirinya. Dengan sopan ia menolak tawaran Himuro dan juga Takao yang ingin membantunya.

Seiya adalah anaknya. Dan jika memang tidak ada dokter yang bisa menyelamatkannya, biar dia yang mempersiapkan penyambutan Seiya dengan baik.

Tidak perlu ada kepanikan. Tidak perlu ada keributan. Cukup asal ada Seijuurou dan dirinya.

Mereka bertiga mampu melakukan ini bersama-sama.

"Kau bisa biarkan Tatsuya membantumu. Kenapa menolak?"

"Apa bedanya dibantu atau tidak?" Tangan Tetsuya tidak berhenti bergerak. "Lebih baik aku sendiri saja. Jika memang harus terluka, biarkan saja Seiya yang melukaiku. Bukan pisau bedah atau apapun."

Jika dalam liang kuburnya, ia harus membawa bekas, yang ia izinkan ada di tubuhnya hanya luka pemberian Seijuurou dan Seiya—dua orang yang paling dicintainya.

"Tetsuya." Seijuurou menghentikan kesibukannya dengan cengkraman pada pergelangan tangan. "Untuk satu kali ini dengarkan aku."

"Aku selalu mendengarkanmu."

"Tidak. Kau selalu keras kepala."

"Aku bisa, Sei-kun. Percayalah padaku."

Berdecak kesal. Seijuurou melepaskan cengkraman tangannya. "Kau tidak rasional."

Tetsuya terdiam ketika pintu geser menutup.

.

.

Seijuurou termasuk orang yang pelit bicara. Chihiro selalu memuji tuannya untuk satu alasan itu. Tapi sekarang, semua tidak lagi berlaku.

"Kau bisa memberiku nasihat, Chihiro. Sekarang waktu yang tepat untuk menguliahiku."

Chihiro tidak suka percakapan kecil tidak bermakna. Itu satu hal. Tapi percakapan berat yang tidak membawa faedah pun sama saja dalam anggapannya. Ia tidak menyukainya.

Buku kuno usang—yang entah sudah dibaca berapa kali oleh sang shiki—ditutup.

"Saya tidak punya saran. Maaf."

Seijuurou tertawa mendengarnya. Tindakannya membuat Chihiro mengerenyitkan dahi heran. Apa tuannya mendadak gila? Tertawa padahal tidak ada yang lucu.

Stress yang mendera mungkin sudah mendorongnya terlalu jauh, menghimpit akal sehatnya sehingga kini gagal berfungsi.

"Besok." Seijuurou menatap tak fokus pada dinding kosong. "Aku akan kehilangan dia."

Keturunan naga akan lahir dengan merengut nyawa ibu mereka. Dan melanjutkan hidup setelah dewasa dengan merebut mata ayah mereka, mewarisi rantai kutukan yang entah di mana ujungnya.

"Dan aku akan mendapatkan Seiya. Entah beruntung atau sial. Tapi aku sepertinya tidak boleh memiliki semua yang aku mau sekaligus."

Terlebih, pilihannya berat. Sangat berat.

"Penderitaanya tidak akan berlangsung lama." Chihiro menimpali. Berdasarkan pengalaman, ribuan tahun menyaksikan proses lahirnya keturunan baru, dia tahu kematian Tetsuya akan menjadi sesuatu yang cepat.

"Aku tahu. Dan aku tidak tahu harus suka dengan fakta itu atau tidak."

.

.

Malam terakhir bersama Tetsuya. Seijuurou memeluk istrinya erat-erat dan memaksakan matanya terpejam. Tidak terlalu sulit. Tentu saja. Tertidur lelap ketika sang naga punya andil memanggilnya ke dimensi mimpi tentu sangat mudah.

Hanya dalam sekejap, ia berpindah. Ia mencari-cari. Perasaannya mengatakan bahwa hari ini, dia akan kembali menemukan Seiya dalam mimpinya.

"Dia tidak akan ingat apapun yang pernah kalian bicarakan."

Benar saja.

Menoleh, Seijuurou melihat sang naga dan anaknya. Mata Seijuurou melotot menyaksikan sang naga mengusap kepala Seiya yang kini tertidur di pangkuannya. Bersikap bahwa ialah ayah sesungguhnya dari Seiya.

"Hentikan itu. Dia anakku." Seijuurou berujar dengan nada tak suka.

"Posesif sekali." Sang naga tertawa lalu melanjutkan. "Kau mengingatkanku pada Masaomi. Kalian sangat mirip. Kuharap kau tetap sebaik ini setelah Seiya lahir ke dunia. Jangan sekaku ayahmu atau kau akan menyesal."

"Dia anakku." Seijuurou entah kenapa merasa marah. "Jangan perlakukan dia seolah dia darah dagingmu. Tidak saat aku tahu kau hanya ingin berpindah dari tubuhku ke tubuhnya."

Salah langkah. Tangan sang naga yang mengusap rambut Seiya berhenti bergerak.

"Jaga bicaramu, Seijuurou." Sang naga tidak kehilangan wibawanya. Ia bahkan cenderung mengabaikan Seijuurou. Seolah Seijuurou bukan keberadaan penting dan semestinya tidak melawannya.

"Kau… dan Seiya. Kalian keturunanku. Dan bukan mauku hidup di bawah kutukan ini."

.

.

"Sei-kun…" Panggilan lembut.

"Hm…"

"Sei-kun."

Pipinya ditepuk-tepuk. Seijuurou mengerjapkan mata beberapa kali. Gelap perlahan mereda. Menjadi kesuraman yang sudah biasa.

Seijuurou dapat melihat wajah istrinya dengan baik sekalipun di dalam gelap. Cantik. Menarik. Andai dia tidak cukup waras, dia akan percaya saja divonis sudah mati dan kini berada di surga. Dan yang ada di depannya saat ini adalah malaikat penjaga.

Tapi di surga tidak akan ada istri yang memandanginya penuh kekhawatiran bukan?

"Kau menangis dalam tidurmu. Bermimpi buruk?"

Seijuurou tidak mengelak ketika Tetsuya mengusap jejak air mata di pipinya dengan ibu jari. Mata terpejam. Setitik air kembali meleleh, turun menodai bantal sehingga berbercak gelap. Seijuurou tidak tahu bagaimana menghentikannya.

Telapak tangan Tetsuya ditangkap. Seijuurou kembali menatapnya. "Kau juga menangis."

Bukankah mereka pasangan yang sangat kompak? Rasa sakit seolah terbagi sama rata. Derita dipukul sama beratnya.

"Tidak. Ini hanya… keringat."

"Dari mata? Kau kadang lucu sekali, Tetsuya."

"Sei!"

Percakapan mereka diinterupsi tawa Seijuurou. Yang terdengar sumbang dan kentara penuh kepalsuan. Tak bertahan lama. Hening. Semenit jeda terasa begitu lama.

Tetsuya menarik napas panjang. Penuh keyakinan, ia berkata, "aku sudah memutuskan."

Mata biru itu berkaca-kaca lagi. Ekspresi wajah Tetsuya tidak setenang kalimatnya. Ia bangkit dari pembaringannya. Menatap tak tentu arah. Selama bukan menatap mata Seijuurou.

Dia yakin benar dia tidak bisa menahan tangis bila kini berhadapan dari mata ke mata dengan suaminya itu.

Derita memang selalu sukses membuat manusia paling kalem sekalipun menjadi emosional. Karakter manusia ditempa dalam cara yang paling efektif dalam duka.

"Tapi ternyata memang sulit. Meninggalkan Sei-kun."

Seijuurou mendudukan diri. Menarik Tetsuya dalam pelukan hangat. Diciumnya bibir pucat sang istri. Lembut. Lama. Telapak tangan dingin mendorong punggung leher, meremas lembut helai rambut biru muda. Tetsuya mendongak, membiarkan Seijuurou mencium bibirnya sepuasnya. Selagi bisa. Selagi masih ada waktu yang tersisa.

Sentuhan itu seolah ingin mengatakan 'aku ingin selalu bisa mengingatmu dan aku ingin kau selalu mengingatku; di alam manapun kau berada'.

Tetsuya mendorong pundak Seijuurou ketika merasakan air matanya benar-benar akan mengalir deras. Tubuhnya gemetar.

"Menangis saja. Tidak apa-apa."

Tanggul pertahanan diri Tetsuya runtuh. Ia terisak sampai merasa sesak. Berbicara sendiri tak tentu arah seperti orang gila. Berkali-kali, bertubi-tubi, Seijuurou mendengar 'aku tak ingin meninggalkanmu, Sei'.

Seijuurou mencoba tenang. Sekalipun hatinya juga terasa seperti sedang diiris-iris.

Ia membiarkan Tetsuya memukul dadanya berulang kali untuk melepaskan segala sesak. Tak jemu menarik istrinya ke dalam pelukan lagi dan lagi ketika Tetsuya lepas kendali. Sabar menerima semua racauan Tetsuya.

"Aku sangat mencintaimu, Sei." Aku tak ingin meninggalkanmu. Aku ingin bersama-sama membesarkan Seiya denganmu. "Aku tidak ingin meninggalkanmu. Andai aku… aku…"

Berbicara menjadi sangat sulit sekarang ini. Terlebih ketika napas tersengal usai meraung panjang, menumpahkan jeritan hati.

Tapi Seijuurou mengerti betul segala tentang Tetsuya.

Tidak pernah perlu kata-kata. Seijuurou sudah memahaminya.

"Aku tahu, Tetsuya." Seijuurou mengecup dahi Tetsuya. Air mata yang menitik ke wajah Tetsuya menyuarakan kesedihannya."Aku tahu."

Malam itu, keduanya merayakan perpisahan.

.


1 Ryu: Nama bahasa Jepang yang artinya 'Naga'.