"Tidak."
"Apa?" alis Toneri terangkat sebelah, bertanya-tanya soal apa yang ingin Hinata katakan.
"Kurasa Naruto tak begitu. Dia memang terlihat menyebalkan bahkan dia selalu membuat masalah untukku tapi dia selalu melindungiku. Dia mencoba menjagaku dan dia selalu membantuku di saat aku dalam masalah." Begitulah Naruto dimata Hinata. Dia pembuat onar tapi dia juga selalu mencoba menjaga Hinata. Dia menyebalkan tapi dia sangat manis di mata Hinata.
"Karena itu aku harus memberinya pelajaran." Hinata tersenyum dan kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Toneri.
Langkahnya yang awalnya berjalan semakin cepat hingga akhirnya berlari menuju tempat di mana Naruto duduk.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
CREATURE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Creature by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 14
.
.
"Iitaaii!" Naruto terperanjak kaget ketika seseorang menjewer telinganya dari belakang membuyarkan semua lamunannya.
"Sampai kapan kau akan mengakui bahwa anak kecil menyebalkan itu adalah kau, hah?" siapa yang menjewer telinganya terlihat kesusahan karena pendek kakinya tapi ia tak mau melepaskan Naruto.
Tanpa sadar Naruto turun dari atas batu membuat Hinata lebih mudah menjewer daun telinganya.
"Kau yang mengataiku babi! Dasar Naruto baka! Baka!" geram Hinata menguatkan jewerannya. Tak dulu tak sekarang Naruto masih saja menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan lagi.
"Aaa! Sakit! Sakit bodoh!"
"Minta maaf, Naruto baka!"
"Iya iya maaf maaf!" Naruto melotot tajam ketika Hinata melepas telinganya dan menatap tajam. Ia penasaran darimana Hinata tahu bahwa lelaki kecil itu adalah dirinya? Ah pasti Toneri yang memberitahu dia.
"Apa hah?!" Hinata menantang.
"Dasar gila"
"KATAKAN SEKALI LAGI!" emosi Hinata terpancing, tak suka pada cara Naruto menatapnya.
"Dasa"
"Hahaha" tawaan kecil yang entah berasal dari mana menjeda acara melotot Hinata dan Naruto.
Itu Toneri, dia muncul dan berdiri di antara Naruto dan Hinata.
"Kalian ini manis sekali, sangat cocok menjadi kakak adik." Telapak tangan kanannya menepuk pucuk kepala Naruto sedangkan tangan yang lain membelai pucuk kepala Hinata.
"Cih! Aku tak mau punya kakak garang seperti dia." Hinata melotot.
"Aku juga tak mau punya adik menyebalkan tak tahu sopan santun seperti kau!" lagi-lagi mereka beradu tatapan tapi Toneri menghentikan kilat dari mata mereka.
"Hahaha yahh... Kalian akan tetap jadi kakak adik Hahaha." Toneri pergi dengan membawa kedua manusia tadi.
"Ayo pergi jalan-jalan."
"Aku bisa jalan sendiri." Tangan Toneri di punggung Naruto terus mendorong pelan agar mereka berjalan sejajar tanpa peduli komentar Naruto. Ia suka kebersamaan kalau saja ia tak memegang Naruto sekarang, Naruto akan segera menjauh.
"Aku ingin ke tempat Hinata." Sedangkan Hinata hanya menurut.
"Ah omong-omong aku hampir tak pernah ke Konoha." Itu benar. Toneri tak punya urusan di sana, itu mengapa ia tak pernah ke sana. Ia jadi penasaran pada tempat yang sempat adiknya tinggali.
"Aku dengar kalian bisa ke Planet Mars juga?" tanya Hinata yang tiba-tiba teringat pada perkataan Naruto kemarin.
"Itu sangat mudah!" jawab Toneri penuh dengan percaya diri. Ia bukannya sombong tapi ia bisa melakukan apa saja dengan mudah.
"Serius?!" mata Hinata terbelak karena terkejut. Ia terkejut karena Naruto berkata jujur.
"Iya hanya saja aku tak bisa membawamu karena kau bukan kaum kami. Haha."
Raut wajah Hinata langsung berubah menjadi malas. "Sama saja bohong."
"Tapi aku bisa melakukannya setelah kita menikah." Toneri menoleh ke arah Hinata tapi mengapa dia seperti tak mendengarkan apa kata Toneri tadi? Apakah dia berpura-pura?
"..."
"Hei, kau tak menjawab?"
"..."
"Hm Hinata."
"..." Naruto menahan senyuman lucu melihat wajah tertolak sang kakak yang menyedihkan.
.
.
.
.
"Ya tentu saja kau butuh semua ini!" bibir Hinata lelah karena terus mengatakan tidak dan tidak tapi lelaki ini sangat memaksa sekali. Dia membelikan Hinata pakaian dan perhiasan, ditambah harganya tak murah.
"Nii-san aku mau ini." Toneri menoleh ke arah gelang yang Naruto tunjuk di balik kaca bening.
"Ambillah, pilih semua yang kau suka." Jawabnya santai.
"Aku rasa sebaiknya kita pulang. Kau sudah membeli sangat banyak barang." Ucap Hinata cukup risih pada kantong belanjaan bertumpuk-tumpuk pada tangan kedua pengawal Toneri yang entah datang dari mana. Tapi yang lebih membuatnya penasaran adalah bagaimana bisa Toneri sekaya ini?!
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Hinata menatap tak paham pada pertanyaan Toneri.
"Kau menatapku seperti aku baru saja merampok sebuah bank dengan kekuatanku." Alis Toneri berkerut. Ia tak suka tatapan Hinata.
"Hahaha tidak tidak." Hinata terkekeh karena merasa malu. Mengapa dia bisa tahu apa yang Hinata pikirkan? "Aku hanya penasaran apa pekerjaanmu? Kau sangat kaya." Tanya Hinata yang tak bisa menahan rasa penasaranya.
"Oh, aku punya banyak perusahaan di negara ini."
"Iya?" Hinata tak percaya. "Tapi kau bilang"
"Tapi aku tak mengurusnya, orang-orangku yang melalukannya. Aku hanya terima uang." Dia tersenyum begitu bangga hanya saja Hinata terlihat ragu, jawaban Toneri seperti kebohongan di telinga Hinata.
"Hm" ingin sekali Toneri mencubit gemas kedua pipi chubby Hinata karena raut wajah tak percayanya tapi ia menahannya.
"Aku lelah. Ayo kita pulang." Jam sudah menunjuk pukul 21.46 hari sudah malam dan mall juga akan segera tutup. Toneri ingin pulang dan berendam di dalam air hangat.
"Tadi'kan sudah kuajak pulang. Huh!"
.
.
.
Tok
Tok
Tok
Lelaki itu sebenarnya tak tahu mengapa ia muncul di depan pintu kamar ini tapi ia datang.
Dia adalah Naruto mengetuk pintu kamar Hinata dan tak lama kemudian, Hinata membuka pintu itu.
"Apa kau lapar?" tanyanya setelah menyandar di ambang pintu.
"Hm sebenarnya aku lapar." Jawab Hinata beberapa menit kemudian. Toneri terlalu asyik berbelanja sampai lupa bahwa mereka semua belum makan malam dan sekarang dia pasti masih sibuk berendam di bak mandi, Hinata tak enak hati mengatakan bahwa dirinya lapar.
"Mau pergi keluar?"
"Apakah kau sudah minta izin? Toneri akan marah kalau kita pergi tanpa izin." Ini hanya tebakan Hinata tapi ia tak merasa tebakannya akan salah. Jam juga sudah menunjuk hampir jam sebelas malam setelah mereka tiba di rumah.
"Aku tak dengar dia melarangku keluar dan justru itulah bagian menariknya. Biarkan dia marah." Naruto terkekeh kecil. Rasanya menyenangkan mengerjai kakaknya itu. Anggap saja balas dendam karena sang kakak juga selalu mengerjainya.
"Tapi"
"Sssttt" tanpa mau menerima penolakan, Naruto mengambil lengan Hinata dan membawanya pergi.
.
.
"ACHOOO!" Toneri menyentuh hidungnya yang terasa sedikit tersumbat. Air di bak mandi cukup hangat untuk menghangatkan badannya tapi mengapa ia malah bersin?
"Hmm firasatku tak enak." Raut wajahnya malas.
.
.
.
.
"Waaaaaaaaaaaaaaahhh" Hinata tersenyum sangat manis, sangat lebar sangat indah tapi tempat yang membuatnya kagum ini jauh lebih indah. Bunga-bunga dengan banyak warna dan wangi di mana-mana. Pohon-pohon berjejer rapi dan kunang-kunang serta kupu-kupu terbang di atas kepalanya. Ada sungai di tak jauh di belakangnya dan airnya sangat bersih.
Hinata berputar dengan menatap ke atas untuk melihat kunang-kunang dan juga kupu-kupu. Ternyata langit malam tak kalah indah, bintang-bintang berhamburan dan malam ini mereka tampak sangat berkilau. Naruto membawanya ke tempat ini setelah mereka pergi makan malam. Tempat ini benar-benar sangat indah dan udara juga sangat segar, rasanya sangat sempurna. Ia tak pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya.
"..." mata Hinata teralih pada Naruto yang mengambil duduk di sebuah batu kecil dan Hinata menghampirinya, duduk di depannya di atas rumput hijau yang tergunting rapi. Naruto selalu memasang wajah datar, kadang wajah itu membuat Hinata ingin tahu apa yang tengah dia pikirkan.
"Apa kau sering ke sini?" tanya Hinata penasaran.
"Sering."
"Aahh pasti sendiri." Niatnya mengejek tapi.
"Dengan seorang perempuan." Kekehan kecil Hinata terhenti karena terkejut akan jawaban Naruto.
"Serius?" mau Hinata lihat dari bagian wajah manapun, Naruto tak tampak seperti bercanda tapi dengan siapa? Toneri bilang Naru
"Bercanda." Arrgg?! Mengapa Hinata malah bernafas lega setelah membeku beberapa saat?!
"Naruto baka! Kau buat aku kaget!" ia merasa bodoh sekali begitu mudah dikerjai.
Naruto terkekeh karena respon kesal Hinata. "Mengapa kau kaget?" pertanyaannya membuat Hinata terdiam.
"Bukan apa-apa hanya saja Toneri bilang kau tak punya teman. Kau selalu sendiri bagaimana mungkin kau datang dengan seorang perempuan?" selama bersamanya juga, Hinata tak pernah lihat Naruto ramah pada siapapun bahkan sekedar menatap saja, dia tampak tak sudi.
"Cih sok tahu." Naruto berdecih. "Sekarang buktinya aku datang denganmu." Tapi Toneri tak juga salah, Hinata adalah orang pertama yang pernah menemaninya dan juga Hinata adalah orang pertama yang selalu ingin ia ajak kemana-mana tapi tentu saja ia akan bersikap biasa saja.
"Hehe apakah aku adalah satu-satunya temanmu?" mata Hinata berkedip-kedip dan ia tersenyum penuh dengan makna.
Naruto hanya menatap dengan raut wajah malas. Hinata sengaja mengejeknya. "Aku hanya kasihan karena kau tak punya teman."
"Hei!" Hinata tersentak pada jawaban Naruto tapi setelah ia pikirkan Naruto tak sepenuhnya salah. Ia baru saja menyadarinya kalau ia juga tak punya teman.
"Kau ini jahat, pantas saja kau jomblo dan tak punya kawan." Bibir Hinata monyong, matanya menatap kesal Naruto tapi Naruto dengan santai menjawabnya.
"Berarti kau juga jahat karena kau jomblo dan tak punya kawan."
"Hei Naruto! Kasar sekali kau!" Naruto benar. Hinata baru saja menyadari betapa mirip mereka berdua tapi Hinata tak jahat! "Aku tak jahat, dan juga aku jomblo karena belum bertemu dengan tipeku." Mendapatkan pasangan yang ia mau itu bukanlah hal yang mudah dan juga ia masih cukup muda untuk buru-buru jatuh cinta.
"Kau pasti sangat pemilih sekali." Komentar Naruto karena tak mungkin gadis seperti Hinata tak ada yang menyukainya. Dia pasti menolak semua lelaki. Buktinya saja dia menolak Toneri.
"Tidak!" bantah Hinata cepat. Kedua telapak tangannya menyatu di depan dada dan ia sedikit menatap ke atas memikirkan tentang tipe ideal lelaki yang ia mau.
"Aku ingin pria baik hati, bertanggung jawab dan sangat menyayangiku lebih dari segalanya." Hanya itu yang bisa Hinata pikirkan. Kadang ia selalu berpikiran soal bagaimana kelak ketika ia menemukan seseorang yang sangat menyayanginya. Seperti apa rasanya? Ada kalanya ia merasa penasaran.
"Toneri." Senyum di bibir Hinata hilang seketika di saat ia menoleh tajam ke arah Naruto.
"Dia menculikku, itu tak bai"
"..." Hinata menahan nafas ketika ia merasa telapak tangan Naruto membelai lembut rambutnya. Apakah ada sesuatu di rambutnya?
Naruto menatapnya begitu datar tanpa bisa ia artikan tapi mengapa tatapan itu menghadirkan perasaan aneh di dadanya?
Mengapa matanya tak bisa lepas dari mata biru itu?
Dan dari semuanya yang ingin Hinata tahu adalah
Mengapa Naruto membelai rambutnya?
Apa maksudnya?
Mengapa tiba-tiba?
.
.
.
To be continue
Maaff lma bangat updatenya. Maaf juga kalau ga bagus tapi semoga bisa isi waktu luang
Byr bye
