I Do Not Own The Characters.
All Characters belong to Hajime Isayama,
I Just Own my Story.
If you DO NOT like the pairing, It means you're in the wrong place.
Leave it as soon as possible without spreading HATE Comments
[!] Mature Content and Bunch of Typos [!]
"Mau kemana kau?"
Levi menghalau Mikasa yang akan pergi dengan membawa bunga warna-warni di keranjang rotan miliknya. Levi sudah bosan mengingatkan Mikasa untuk tidak keluar dari barak. Namun sepertinya Mikasa punya masalah dengan otaknya. Ia gampang sekali untuk melupakan nasihatnya.
Mungkin bukan itu maksud Mikasa. Hari ini para kadet tengah beristirahat, menikmati hari libur bulanan yang diberikan Erwin sebelum melakukan ekspedisi agar tubuh mereka tetap fit. Mikasa tipe orang yang pegal jika tidak melakukan sesuatu. Hari ini ia akan mengenang kematian Ayah dan Ibunya. Ini rutin dilakukan setiap tahun—secara diam-diam.
"Ke sungai."
"Untuk?"
"Mengingat mendiang Ayah dan Ibuku." Mikasa berbelok ke samping, melewati Levi begitu saja.
"Merepotkan." Levi menjadi bodyguard, lagi. Pekerjaan tambahan ini membuatnya kewalahan. Mengurus Mikasa lebih melelahkan.
"Aku tidak memintamu untuk ikut." Tanpa menoleh, Mikasa melewati jalan setapak menuju hutan. Suasananya cukup tenang, yang terdengar hanya suara burung dan binatang-binatang hutan.
"Aku yang bertanggungjawab disini, brat."
Levi menarik kakinya dengan malas, berjalan dibelakang Mikasa dengan gaya angkuhnya. Levi menyentuh pisau lipat di tangannya, memastikan ia tidak lupa membawanya. Hanya ini alat untuk berjaga-jaga. Mikasa tampak tidak membawa alat perlindungan sama sekali.
Setelah berjalan tanpa bercakap, samar-samar terdengar suara aliran air sungai. Tinggal melewati semak-semak, mereka akan sampai. Mikasa menyerobot masuk ke dalam semak-semak, meninggalkan Levi yang sibuk mengusir nyamuk.
Tiba di sungai, Mikasa menyimpan keranjang bunganya, mengambil air sungai dan meminumnya. Rasanya sangat segar, airnya juga jernih, Mikasa bisa melihat dasar sungai itu. Gemuruh air sungai memenuhi telinga Mikasa. Harmoni yang begitu menenangkan.
"Cepat lakukan apa yang ingin kau lakukan." Levi menggaruk lehernya yang memerah dan gatal.
Mikasa menggenggam keranjang yang penuh kelopak bunga, memejamkan mata dengan berbisik dalam hati.
Aku merindukan Ayah dan Ibu, seperti biasa. Aku harap kalian selalu bahagia. Hari ini aku tidak datang sendiri, mungkin kalian sudah tahu siapa pria dengan tampang menyebalkan disampingku ini. Maaf jika aku tidak meminta izin pada kalian untuk menikah di usia muda. Ini terjadi begitu saja. Aku berharap hidupku kedepannya juga bahagia, meski aku sendiri tidak tahu. Tapi, itu yang aku harapkan. Ayah, Ibu, putrimu ini akan belajar menikmati hidup. Mari bertemu lagi di kemudian hari, aku cinta kalian.
Selesai mengucapkan itu semua, Mikasa membuang kelopak-kelopak bunganya, membiarkan air sungai membawanya entah kemana. Mikasa berharap semua perkataannya di dengar mendiang Ayah dan Ibunya, dan semoga mereka tersenyum melihat Mikasa yang sekarang.
Levi mengikuti kelopak-kelopak bunga yang menjauh. Mendadak teringat pada Ibunya yang juga sudah lama meninggalkannya. Levi sama seperti Mikasa, ditinggalkan orangtuanya saat masih kecil. Selama itu juga Levi merindukan belaian hangat ibunya dan baru menyadari jika tangan Mikasa sehangat tangan ibunya, karena itu Levi menyukai sentuhan Mikasa.
"Ayo kembali ke barak." Ajak Levi.
"Kau duluan saja, aku akan mandi di sini."
"Erwin menyediakan kamar mandi di barak untuk di gunakan. Jangan konyol, ayo kita kembali."
"Tidak, aku merindukan mandi di sungai seperti ini. Terakhir kali aku melakukannya bersama Armin dan Eren, sudah lama sekali, kapan ya—"
Wajah Levi berubah padam, mendengar penuturan Mikasa yang membawanya ke dalam fantasi liar, "Kau mandi bersama mereka?" kalian pasti tahu apa yang disebut dengan mandi. Ya, kegiatan membersihkan diri dari keringat dan kotor. Tentu saja, telanjang dan ini yang ada dalam pikiran Levi.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Kau tidak sadar? Kau seorang wanita. Bagaimana bisa kau mandi bersama lawan jenismu."
"Aku mandi di balik batu besar, jangan berlebihan, saat kecil aku tahu apa itu rasa malu."
Sifat tempramen itu masih melekat dalam diri Levi. Levi masih saja gampang tersulut padahal Mikasa menilai perkataannya tidak ada yang salah.
Levi memilih berhenti untuk berdebat, mencari tempat teduh di bawah pohon rindang dan duduk dengan melipat tangannya, "Lakukan dengan cepat."
"Eh? Apa yang kau lakukan disana? Pulang saja. Aku akan baik-baik saja."
"Aku tidak pernah percaya dengan kata-kata terakhirmu."
Selain tidak ingin diganggu, Mikasa masih malu memperlihatkan tubuhnya di depan Levi. Rasanya tidak adil saja, Mikasa satu-satunya yang telanjang sementara Levi berpakaian lengkap.
"Aku sudah melihat semuanya, brat. Bahkan tahi lalat di dekat kemaluanmu saja aku tahu."
Levi menebak pikiran Mikasa tepat sasaran. Instingnya begitu kuat—atau Mikasa yang terlalu memperlihatkan kecanggungannya. Mikasa sebal mendengar perkataan Levi yang vulgar, ia memungut kerikil dan melemparnya pada Levi dengan kuat.
Levi meringis, kerikil itu mengenai sudut keningnya. Levi mengusap keningnya dan menemukan sedikit darah di telapak tangannya. Mikasa terkejut, berlari menuju Levi dengan wajah cemas. Mikasa tidak berniat melukai Levi. Mikasa tidak sengaja mengeluarkan semua kekuatannya.
"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Mikasa ragu untuk menyentuh kening Levi. Takut jika nanti menyakiti Levi lebih lagi.
"Kau benar-benar anak nakal." Levi mengeluarkan saputangannya, mengusap keningnya dan berjengit, kini saputangan bersihnya terkena noda darah.
"Itu akibat kau mengatakan hal yang tidak-tidak." Dalam keadaan seperti ini pun Mikasa masih membela diri.
"Itu benar adanya."
"Maafkan aku. Apa masih sakit?"
"Tidak jika kau menciumku."
Ekspresi wajah dan kata-katanya sangat tidak sinkron. Kata-katanya terdengar manja namun Levi mengucapkannya dengan datar, tanpa tenaga. Mikasa tidak tahu ia sedang menggodanya atau terkena gegar otak gara-gara sebuah kerikil. Mikasa tidak ingin salah paham.
Gemas sekali rasanya mengunci diri dalam sebuah kebimbangan. Levi tak kunjung mengatakan hal yang Mikasa inginkan. Terus-terusan seperti ini membuatnya jengah. Ikatan pernikahannya tidak cukup untuk menjelaskan hubungan mereka. Mikasa butuh kejelasan, karena kini semuanya berbeda. Berbeda dari hal sebelumnya, bahkan dari awal. Mikasa tidak mau menjadi korban disini, yang hanya akan mendapatkan sakit hati jika ternyata semua ini hanya terjadi begitu saja. Berbanding terbalik dengan ekspektasi Mikasa. Mikasa ingin berhenti sebelum dirinya jatuh lebih dalam.
"Kenapa kau seperti ini?" tenang, itu yang selalu dilakukan Mikasa.
"Apa maksudmu?"
Mikasa berdecak, mengambil keranjangnya yang tergeletak dan pergi meninggalkan Levi yang masih bersandar di pohon. Menjauh, satu-satunya keinginan Mikasa.
"Oi, brat."
Levi memasukkan saputangannya ke dalam saku, mengejar Mikasa di antara semak-semak gatal, "Apa lagi salahku kali ini?"
Mikasa ingin meledak—namun tidak mungkin, Mikasa mengeratkan genggamannya, menahannya dengan menekan gigi-giginya, "Tidak ada." Sangat sulit untuk menahan air matanya. Levi menyakiti hatinya lagi. Pria itu benar-benar tidak peka.
Aku mencintaimu, Mikasa.
Aku menyayangimu, Mikasa.
Aku jatuh hati padamu, Mikasa.
Salah satu dari ketiga kata itu yang ingin Mikasa dengar dari mulut Levi. Mengapa sangat sulit hanya untuk mengatakannya? Apa statusnya sebagai pria dingin memberatkannya? Jika itu benar, untuk apa selama ini Levi memperlakukan Mikasa berbeda saat berdua saja? Sengaja agar Mikasa terbuai dengan semuanya dan memberikan apa yang Levi inginkan?
Tidak, Mikasa menyalahkan dirinya. Niat awal ia masuk ke pasukan pengintai adalah untuk menjadi abdi Negara. Melindungi warga disini, mengikrarkan pengabdian hingga akhir hayatnya, bukan untuk mencari pendamping hidup atau mendapatkan cinta dari lawan jenis.
Dari awal saja Mikasa sudah salah, melupakan Eren dan Armin yang seharusnya menjadi prioritas dalam hidupnya. Levi merusak semuanya. Merusak jiwa dan raganya, bahkan merusak hatinya. Bisa-bisanya pria itu singgah di dalam hati Mikasa dan berdiam diri tanpa memberikan balasan.
"Kau menangis…" tahu-tahu Levi sudah ada didepan Mikasa, menghalangi langkahnya.
"Aku…menangis?" Mikasa mengusap air matanya, "Hanya kelilipan." Mikasa berdalih.
"Air mata sebanyak itu…kau kelilipan titan?"
Mikasa bersumpah akan membenturkan dirinya di tembok kamar jika tertawa mendengar lawakan garing Levi—padahal Levi bermaksud menghiburnya.
Mikasa mengepalkan tangannya, memukul dada Levi dengan menahan tawanya, "Sama sekali tidak lucu."
Levi meraih tangan Mikasa, menyisipkan jemarinya di antara jemari Mikasa. Ini yang dipelajari dari Erwin dan Hanji. Berpegangan tangan namun lebih romantis—katanya. Pertama kali bagi Levi memperlakukan wanita seperti ini, dirinya tidak yakin apa yang dilakukannya sudah benar atau belum. Seingatnya ini yang Erwin dan Hanji praktikkan waktu itu.
Levi tidak menyadari Mikasa yang semakin memerah, menenggelamkan sebagian wajahnya pada syal merah. Inilah wanita, baru diperlakukan romantis sedikit saja sudah langsung melupakan hal-hal yang membuatnya menangis tadi.
"Ayo kembali, jika tidak, Erwin akan menghukummu."
continuing in seconds, sips your tea first
Levi menyerah, melepaskan kaki-tangan Kenny setelah beberapa hari menahannya. Pria penjual daging itu tidak bisa memberikan informasi terkait dimana Kenny berada saat ini. Menurut pria itu ia hanya diberi perintah begitu saja saat berada dirumahnya oleh beberapa orang tak dikenal lalu mereka hilang begitu saja.
Sama seperti Nanaba yang tidak kunjung datang untuk sekadar memberikan informasi keberadaan Mikasa. Atau yang terburuk, Levi berpikir jika Nanaba ikut tertangkap oleh Kenny. Baik Levi dan yang lainnya belum mencurigai Nanaba, semua yang dilakukan Nanaba pada waktu itu menggiring kepada opini Levi bahwa dia orang yang baik.
Levi membanting cangkirnya, sudah 5 gelas teh yang disediakan oleh Petra diteguknya. Pikirannya kacau, pikiran negatif membayangi Levi, memberikan beban yang lebih terhadapnya. Erwin dan Hanji sendiri tidak bisa membantu banyak. Dengan kurangnya saksi dan bukti mereka tidak bisa mencari sebuah celah dari Kenny.
Levi tidak habis pikir, jika yang dituju adalah dirinya, mengapa harus Mikasa yang ditangkap? Mengapa mereka tidak mengajak dirinya untuk bertarung? Menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Lalu yang menang akan meminta sesuatu dari yang kalah, sesimple itu. Apa mereka sudah pesimis terlebih dahulu bahwa mereka tidak dapat mengalahkan Levi?—percayalah, Levi seoptimis ini untuk menang.
"Levi, aku sudah menyuruh beberapa prajurit pilihanku untuk menyusuri sekitaran tkp. Bersabarlah, mereka akan melaporkan apapun hasilnya nanti." Hanji mencomot kukis dingin dihadapan Erwin. Baik Erwin maupun Levi sama sekali tidak berminat untuk mengisi perut mereka dengan makanan berat.
Levi beranjak dari kursinya, mengencangkan cravatnya dan memasang full body harnessnya. Sudah dipastikan Levi akan mencari Mikasa—lagi.
"Levi, kau sedang tidak tenang, diam dulu disini." Erwin memperingatkan.
Levi akan bertindak gegabah bila sedang berada dalam tekanan. Terakhir kali yang Erwin ingat, Levi tidak sengaja menusuk warga tak berdosa dengan 3D Manuvernya. Itu karena akan melupakan sekelilingnya, hanya fokus pada satu tujuan dan menyimpan dirinya dalam bahaya. Erwin tidak mau kehilangan Levi setelah mereka kehilangan Mikasa.
"Apa aku harus diam saja?" suara Levi mengintimidasi, acuh dengan tetap memasang alatnya dengan seksama.
"Setidaknya isi perutmu agar kau bertenaga." Hanji menasihati Levi.
"Satu-satunya pengisi tenagaku adalah wajah Kenny sialan itu. Aku akan membunuhnya jika menemukan setitik luka di tubuh Mikasa."
Sesangar itu ucapan Levi. Hanji dan Erwin tidak bisa menahannya lebih lagi. Marga Ackerman, selain kuat, mereka juga keras kepala. Erwin mulai memikirkan kesalahannya menikahkan mereka berdua. Mungkin ini tidak akan terjadi jika ia menikahkan Levi dengan Petra. Perbedaan karakter mereka akan saling melengkapi.
"Aku akan ikut serta." Tidak ada pilihan selain mengikuti jejak Levi. Erwin harus membayangi Levi.
"Tidak usah, aku akan berangkat sendiri. Kalian semua beristirahatlah."
Suara pedang tajam terdengar. Levi memastikan pedang-pedangnya menancap sempurna dipinggangnya. Levi mengetuk-ngetuk bootsnya, membenarkan letak kakinya di dalam.
"Aku pergi." Ujarnya seraya menutup pintu dengan keras.
continuing in seconds, sips your tea first
"Masuk." Kenny menurunkan kakinya yang sejak tadi berada di atas meja. Membuang cerutunya dan menginjaknya agar padam.
Ruangan ini begitu pengap, kotor dan penuh sarang laba-laba. Entah bagaimana Kenny menemukan rumah kosong yang sudah lama terbengkalai. Letaknya jauh dari pusat kota. Rumah ini dikelilingi hutan kecil. Hanya ada kira-kira 10 rumah yang berada di kawasan ini dengan satu sumur tua sebagai sumber air mereka.
Mikasa masuk bersamaan dengan Nanaba. Mikasa baru saja membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya dan memakai wewangian. Mikasa sangar segar meski beberapa luka dan lebam masih ada di wajahnya. Nanaba sudah mengobati Mikasa sebelumnya.
Mikasa berdiri dengan canggung, tidak tahu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya karena kini Kenny hanya tersenyum menyeringai ke arahnya.
"Mikasa Ackerman…" Kenny berpindah dari kursi dengan duduk dipinggiran mejanya. Jubahnya ia hempaskan hingga debu beterbangan, menggelitik hidung Mikasa dan Nanaba.
"Aku akan memberikan sebuah penawaran untukmu." Mikasa diam memperhatikan, berekspektasi dengan apa yang akan Kenny katakan selanjutnya.
"Aku akan melepaskanmu, dan sebagai gantinya bergabunglah denganku."
"Bukankah itu sama saja aku tidak dilepaskan?" percuma saja, Mikasa tidak mendapatkan apa yang ia ingin dengar. Kenny malah melemparkan sebuah lelucon untuknya.
"Kau tahu, kan, sekarang aku menangkapmu dibawah perintah pemerintahan?" Kenny memainkan pistolnya—untuk menggertak.
"Lalu?"
"Aku akan melepaskanmu dari sana dan sebagai gantinya kau bergabung denganku." Kenny meniup tempat keluar peluru apinya dan mengerjap pada Mikasa.
Mikasa menautkan alisnya, "Itu artinya…kau berkhianat?"
Kenny tertawa dengan keras, Mikasa sebal mendengarnya. Kenny berdiri di hadapan Mikasa dengan angkuh, mengangkat dagunya dan kembali menyeringai, "Sudah kukatakan aku tidak pernah ada di pihak manapun. Aku ketua dari Anti Personal Control Squad, dan visi misi kami adalah hidup sesuai keinginan kami. Urusan berkhianat atau tidak, aku bisa menuntaskannya dengan satu peluru apiku."
"Tentu saja aku tidak mau." Jawaban Mikasa mengecewakan Kenny.
"Kenapa? Kau masih mau hidup dibawah komando orang lain?"
"Bukan seperti itu—"
"Sadarlah, Nona Mikasa, hingga hari ini tidak ada satupun orang yang mencarimu. Kesampingkan teman-teman kadetmu, dan fokus pada Levi yang katanya adalah suamimu."
Nanaba bergeser kebelakang saat Kenny memutari tubuh Mikasa dengan kata-kata pencuci otaknya, "Levi orang yang kuat, orang-orang berkata seperti itu, harusnya ia bisa dengan mudah menemukanmu disini. Kau ingat goresan yang aku berikan di jendelamu? Ada angka yang menunjukkan koordinat lokasi ini. Jika Levi membaca buku militer, ia akan mengetahuinya dengan cepat. Ah tidak, kesampingkan itu, untuk apa ia mencari seseorang yang bahkan ia tidak cintai meski statusnya sudah menikah?"
Kalimat terakhirnya Kenny bisikkan tepat di telinga kanan Mikasa. Kenny tersenyum puas saat Mikasa mengepalkan tangannya. Itu artinya ia sukses menyulut amarah Mikasa dan Kenny harus menambahkan arang agar apinya semakin membesar.
"Untuk apa mencarimu saat kadet yang lain punya potensi untuk berada lebih diatasmu? Kehilangan satu kadet bukan masalah besar. Apalagi kau seorang wanita, yang seharusnya tidak perlu ikut dalam camp militer."
"Aku melakukan ini untuk melindungi warga dalam tembok." Mikasa menggeram, matanya tajam bagai duri, menyiratkan kebencian yang dalam terhadap Kenny.
"Lalu apa yang hingga kini kau dapatkan? Membunuh titan? Mereka masih berkeliaran, mau sampai kapan kau melakukannya? Mereka tidak ada habisnya. Yang ada, kalian hanya membuang-buang nyawa. Sudah berapa ribu jiwa yang melayang demi melindungi warga dalam tembok? Hingga kini belum ada hasil, kita masih terjebak di dalam sini."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Mikasa sudah tidak tahan, sedari tadi Kenny hanya berbelit-belit.
"Aku ingin dirimu ada di pihakku, berhadapan dengan para warga langsung dan mempunyai ikatan dengan mereka. Daripada seumur hidup mengejar titan itu tanpa bisa bersosialisasi dengan warga dalam tembok dan berakhir mati dalam perut titan. Menyedihkan."
"Lalu jika aku tidak mau?"
"Aku akan menyiksamu sampai mati." Kenny menekan pipi Mikasa dengan senapannya yang dingin. Memberi peringatan pada Mikasa jika suatu hari pelurunya bisa menghancurkan kepalanya.
"Untuk apa ia mencari seseorang yang bahkan ia tidak cintai meski statusnya sudah menikah?"
Benar, hingga saat ini Mikasa mendengar pernyataan cinta dari Levi. Dugaannya selama ini benar, Levi hanya menganggapnya sebagai sex-partner. Mikasa terlalu besar kepala.
"Sadarlah, Nona Mikasa, hingga hari ini tidak ada satupun orang yang mencarimu."
Kemana mereka? Padahal Mikasa mendapat kabar dari Nanaba jika ia memberitahu arah yang akan ia tuju pada Connie dan Sasha sebelum menyusul dirinya. Apa Sasha dan Connie terlalu panik hingga lupa akan hal ini? Mungkin saja. Tapi, apa paniknya sampai saat ini? Hingga Sasha dan Connie melupakan perkataan Nanaba?
"Untuk apa mencarimu saat kadet yang lain punya potensi untuk berada lebih diatasmu?"
Mikasa pernah mendengar Eren dan Armin yang berjanji akan menjadi kadet terkuat dan mengimbangi dirinya. Dalam beberapa minggu latihan, Mikasa mengakui itu. Eren dan Armin membuktikan janjinya. Saat itu, Mikasa merasa lega mendengarnya, karena dengan itu Mikasa bisa percaya pada kekuatan mereka dan tidak pernah mengkhawatirkan mereka lagi.
"Kehilangan satu kadet bukan masalah besar."
Ya, Mikasa mengakui itu. Setiap ekspedisi saja, Erwin dengan santai melihat pasukannya tewas. Kehilangan beberapa kadet sudah seperti hal biasa dalam pasukan pengintai. Erwin tinggal mencari lagi orang lain yang lebih muda, lebih kuat dan lebih siap. Bukan masalah besar. Dan kini Erwin hanya kehilangan satu, satu saja, apa yang harus dikhawatirkan?
Eren dan Armin sudah sangat kuat, Mikasa sudah tidak perlu ada disamping mereka lagi. Ada Reiner, Annie dan Ymir yang bisa menjadi kadet terkuat, Mikasa sudah tidak perlu ada disana lagi. Juga, sudah ada Petra di sisi Levi, Mikasa sudah tidak perlu menampakkan dirinya lagi.
Mikasa membenci pikirannya kali ini, berusaha sepositif mungkin untuk mempercayai semua orang di dalam pasukan pengintai. Mereka tidak seperti yang Kenny katakan. Mereka sedang mencarinya kali ini. Mikasa yakin. Tapi lagi-lagi bisikan setan hadir disana, membenarkan apa yang Kenny katakan. Kepercayaan diri Mikasa menurun kembali. Ia harus melakukan sesuatu.
Ting!
Kenny menyentil cangkirnya, "Waktumu habis, buat keputusan."
Mikasa menelan ludahnya, berharap rencananya kali ini akan membuahkan hasil, "Izinkan aku bertemu mereka, untuk yang terakhir kalinya."
Tanpa diduga, Kenny menyetujuinya dan memerintahkan Nanaba untuk mempersiapkan kereta untuk mereka. Juga menyuruh timnya untuk bersiap-siap pergi dari sini, lengkap dengan senjata mereka.
Selama perjalanan Mikasa tampak murung, memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya jika dua hal terjadi. Namun ia harus memantapkan hati, mempercayai mereka yang akan mengubah pendiriannya nanti. Paling buruk akan terjadi peperangan. Mikasa benci jika harus mengorbankan nyawa teman-temannya hanya untuk masalah hidupnya. Terdengar sangat egois. Nyawa mereka lebih berharga dibanding dirinya sendiri.
"Kita hampir sampai." Penggerak kereta kuda memperingatkan. Mikasa menarik nafas, sebentar lagi akan ada hal yang terjadi. Entah itu merugikan pasukan pengintai atau malah merugikan Kenny. Semoga saja dengan melihat semua orang disana, Mikasa berubah pikiran dan menentang Kenny. Kemungkinan ada beberapa peluru yang bersarang ditubuhnya saat Mikasa kabur dari Kenny, itu bukan masalah besar. Yang jelas, Mikasa sudah siap untuk…
Melihat Levi sedang berpelukan dengan seseorang di seberang sana? Apa ini benar-benar yang Mikasa inginkan? Jika dilihat lebih jelas lagi Levi sedang menepuk-nepuk kepala wanita, ya seorang wanita dan…tentu Petra. Dia adalah Petra Ral. Siapa lagi. Mikasa tersenyum kecut, Levi bermain-main dibelakangnya. Tidak, lagi pula tujuannya bukan Levi, tapi teman-temannya. Jangan biarkan Levi mengisi hati maupun pikirannya lagi saat ini. Mikasa sudah membenci pria itu.
"MIKASA?!"
Eren dan Armin berteriak, dengan kadet lainnya yang berlarian dibelakangnya. Levi menoleh menuju gerbang masuk—begitu juga Petra, Levi menjauhkan tubuh Petra dan memberi dirinya kesempatan untuk bertatapan dengan Mikasa, wanita yang dirindukannya. Tapi Levi harus kecewa karena Mikasa membalasnya dengan dingin, dan kemudian berpaling menuju para kadet yang berlari ke arahnya, mengacuhkan dirinya.
"Mikasa…"
End of the Chapter
Don't forget to sips your own tea before it's getting cold.
